Jumat, 06 Agustus 2010

ALJABAR - Zak Sorga


ALJABAR
Naskah Karya Zak Sorga


Sebuah tempat. Lukisan-lukisan dan kanvas-kanvas bergantungan dan berserakan dimana-mana. Dua orang manusia sedang menghadap kanvas masing-masing, mereka sama-sama melukis. Orang II melukis dengan amat berat, tubuhnya, tangannya, jari-jemarinya tak bergerak sedikitpun, seolah dia memanggul dunia, tak bergeser. Orang I melukis dengan kegelisahan yang amat sangat kemudian lukisan itu ia robek-robek. Kemudian ia melukis lagi, dirobek-robek lagi, melukis lagi, dirobek lagi, diinjak-injak, dibanting, diumpat, diludahi, terus dan terus: melukis, merobek, membanting, menginjak, mengumpat, meludahi, sampai puncak, sampai puncak, dan kemudian:

1. ORANG I : Sekarang semuanya sudah klimaks.
2. ORANG II : Kita belum lagi mulai.
3. ORANG I : Sekarang semuanya sudah lampau.
4. ORANG II : Kita belum lagi mulai.
5. ORANG I : Sekarang semuanya sudah malam.
6. ORANG II : Kita belum lagi menemukan pagi.
7. ORANG I : Pagi tak akan pernah datang.
8. ORANG II : Matahari harus terbit.
9. ORANG I : Oh... aku hanya ingin tahu apa kegelisahan hanya milik kita berdua.
10. ORANG II : Sudah pasti tidak ada dunia lain kecuali dalam batin kita.
11. ORANG I : Melingkar-lingkar tanpa arah dan batas, sampai kapan?
12. ORANG II : Sepertinya tidak ada lagi yang bernafas di sini.
13. ORANG I : Seharusnya kita sudah berhenti dari dulu.
14. ORANG II : Kita tidak mungkin bisa berhenti.
15. ORANG I : Aku sudah macet.
16. ORANG II : Aku ingin sekali.
17. ORANG I : Tidak ada, harus ada.
18. ORANG II : Apa ini yang membuat sakit tengkorak kepalaku, dia bersarang di otak belakang. Membuat segalanya jadi lamban.
19. ORANG I : Ada dunia, ada tangan berkuku, tangan itu mencengkeram dunia sampai berdarah-darah. Diguncang-guncang, kita berdua terpelanting sampai di sini.
20. ORANG II : Kita masih di dunia.
21. ORANG I : Kita sudah ketinggalan, hari-hari telah melesat dan simpang-siur entah kemana.
22. ORANG II : Mana kamisku, mana jumatku, mana malam mingguku, mana pelacurku, mana agamaku, mana kelaminku? Semua berhamburan dalam omong kosong tentang hidup dan mati.
23. ORANG I : Mengais-ngais, mengunyah-ngunyah, melorong-lorong, membelit-belit, mana fikiranku? Campur aduk di sini, membatu.
24. ORANG II : Ayo kita melukis lagi. Kita lukis kegelisahan kita. Kita lukis risau kita. Kita lukis galau kita. Kita lukis kacau. Kecambah dimana-mana, jamur dimana-mana. Ayo kita lukis kehidupan, kita lukis kematian. Itu tugas kita sebagai manusia.
25. ORANG I : Mana mungkin?
26. ORANG II : Tahun ini harus jadi milik kita, mari kita rebut.
27. ORANG I : Kita tidak pernah punya tahun.
28. ORANG II : Makanya harus kita rebut.
29. ORANG I : Tidak! Selamat malam untukmu.
30. ORANG II : Semua ini harus menjadi pemikiran kita.
31. ORANG I : Justru itu. Dengan mengucapkan selamat malam berarti aku telah berpikir.
32. ORANG II : Telah?
33. ORANG I : Terus berpikir. Aku berpikir bagaimana caranya melupakan semuanya dan diam.
34. ORANG II : Kau tak mungkin bisa lupa.
35. ORANG I : Kenapa tidak? Aku toh bukan Tuhan.
36. ORANG II : Bagaimanapun juga kau tidak akan pernah bisa melupakan tugasmu.
37. ORANG I : Tugas? Apa maksudmu?
38. ORANG II : Tugas pelukis adalah melukis.
39. ORANG I : Aku bukan pelukis, aku terpaksa.
40. ORANG II : Tapi itukan yang membuatmu hidup.
41. ORANG I : Ya, karena aku tidak bisa melakukan apa-apa, tidak ada pilihan lain. Begitu aku lahir aku sudah dihadapkan kanvas-kanvas dan cat.
42. ORANG II : Mampuslah kita.
43. ORANG I : Membujurlah kita. Bosan! Jenuh! Beku! Mandul! Impoten! Lumpuh! Tidur yuk!
44. ORANG II : Ayo! (mereka berangkat mau tidur) Bagaimana kalau sebagai penghantar tidur, kita melukis lagi.
45. ORANG I : Aku lebih suka kalau kau mendongeng saja.
46. ORANG II : Iya, kita akan mendongeng lewat lukisan kita.
47. ORANG I : Ayo kalau begitu. Kita ciptakan dunia.
Mereka serentak melukis. Orang I melukis sambil berteriak terus tak berhenti, tak berhenti. Orang II melukis dengan kegelisahan tanpa suara.
48. ORANG I : (sambil melukis) Asap panas terkatung-katung di angkasa raya, bumi belum berbentuk dan gelap gulita menutup samudera raya. Lalu terang itu jadi, lalu siang itu terjadi, lalu malam itu jadi lalu pagi itu jadi lalu sore itu jadi, lalu embun lalu hari pertama lewat, lalu angin, lalu suara, lalu planet-planet, lalu batu-batu, lalu pasir, lalu kerikil, lalu duri, lalu karang, lalu hari yang kesekian kalinya itu lewat, lalu pedih, lalu perih, lalu resah, lalu kalah, lalu musnah, lalu punah, lalu bah. Bah! Ilalang, rumput-rumput, lalu burung-burung, lalu kupu-kupu, lalu kupu-kupu malam, germo, hidung, uap, senyap, penyakit, lalu kembali lagi pada mati, hari-hari mati, lalu terus, terus, kering, hijau, kuning, kering, ranggas, bakar, lalu panas, lalu dingin, lalu tumbuhan, lalu air, lalu uap, lalu awan, lalu kabut, lalu sepi, sungai, anak sungai, gunung, belut, laut, ikan, pohon, rumput, cacing, buaya, manusia, kepala, putus, darah, anjing. Kepala manusia, anjing kelaparan, kengerian, pengkhianatan, lalu pembunuhan pertama itu terjadi, tangis pertema itu berkumandang, benci pertama itu berkembang, kerisauan pertama itu berbiak, cemburu-cemburu, bunuh-bunuh, makan-makan-makan, lalu dunia beterbangan, lalu sepi itu menggelayuti, rindu, perih, batu, hujan, awan, tumbuh, lenguh, rengek, ringkik, lecut, kuda, anjing, belut, harimau, kucing, cacing, tengkorak, nyamuk, darah, nanah, busuk, dendam, sepi yang menahun, rindu batu, sungai lapar, laut lapar, mega lapar, udara lapar, batu lapar, siang lapar, sore lapar, malam lapar, pagi lapar, dunia lapar, semut lapar, harimau lapar, buaya lapar, matahari lapar, bulan lapar, bintang lapar, pulau-pulau lapar, danau-danau lapar, bulan lapar, terbit-tenggelam, matahari di sini, bulan di sini, bintang di sini. Jangan beranjak, jadi sudah. (sama-sama menaruh kanvas)
49. ORANG II : Hampir (sama-sama mengamati lukisan) apa yang kau kerjakan?
50. ORANG I : Penciptaan dunia, kau?
51. ORANG II : Menggambar peta perjalanan. Sekarang aku sampai pada batas dunia, di mana matahari tenggelam dalam laut-laut yang berlumpur hitam. (tukar-merukar lukisan)
52. ORANG I : Kau gambar diriku di sini?
53. ORANG II : Lihat saja, apa kau ada di situ.
54. ORANG I : Di sini semua gambar asap.
55. ORANG II : Di sini semua gambar anjing.
56. ORANG I : Gambar darah berceceran.
57. ORANG II : Apa kau tidak mendengar jeritan di situ?
58. ORANG I : Lolongan yang sangat panjang. Anjing kelaparan. Anjing itu menjilat-jilat kepala manusia, kepala itu dimakannya, diremukkan, dikunyah-kunyah. Oh? Mata itu meloncat keluar. Mata itu terbang berputar-putar menatap dunia, melayang-layang, mata itu berkedip-kedip minta tolong.
59. ORANG II : Seharusnya di sini ada perahu, inikan air? Bahkan laut, bahkan membuak, perahu Nuh pasti tenggelam di sini, juga kanaan, juga dzulkarnain yang diberkati itu, juga Picasso, Van Gogh, Descartes, Budha, Plato, Aristoteles, Caligula, Firaun, Muhammad, Isa .....semua terkubur di sini. Kenapa mata itu tidak kau hancurkan saja.
60. ORANG I : Itu adalah keinginannya sendiri.
61. ORANG II : Keinginan siapa?
62. ORANG I : Keinginan mata itu.
63. ORANG II : Dia masih bisa meneteskan air mata, dia menangis.
64. ORANG I : Kenapa hanya mata itu yang jadi perhatianmu? Di situ masih ada matahari, bulan, laut, bintang, air, angin, ...
65. ORANG II : Mata itu adalah mataku.
66. ORANG I : Itu adalah mata semua manusia.
67. ORANG II : Kepalaku dimakan anjing.
68. ORANG I : Kepala semua manusia.
69. ORANG II : Kamu jabarkan duniaku, aku jabarkan duniamu.
70. ORANG I : Aku jabarkan kemanusiaanmu, kamu jabarkan kemanusiaanku.
71. ORANG II : Kamu jabarkan mataku, aku jabarkan matamu.
72. ORANG I : Kamu jabarkan matahariku, bulanku, bintangku, palangiku, aku jabarkan lukamu. (mereka memeluk lukisan yang masih basah)
73. ORANG II : Dari mana datangnya bayangan menakutkan seperti ini.
74. ORANG I : Dari sejarah yang hilang.
75. ORANG II : Aku semakin takut.
76. ORANG I : Kita sudah tercerabut dari dunia ini.
77. ORANG II : Kita sudah tidak di sini.
78. ORANG I : Kita sudah di sana.
79. ORANG II : Kita sudah tidak dimana-mana.
80. ORANG I : Ada garis yang putus di sini.
Mereka merobek-robek lukisannya.
81. ORANG I : Kita buta.
82. ORANG II : Kita tuli.
83. ORANG I : Kita gagu.
84. ORANG II : Kita batu.
85. ORANG I : Kita bisu.
86. ORANG II : Kita kaku.
87. ORANG I : Kita lumpuh.
88. ORANG II : Kita mayat.
89. ORANG I : Kita mumi.
90. ORANG II : Habis!
91. ORANG I : Tak berjejak. (diam sejenak, loyo)
92. ORANG II : Kita tidak pernah bisa mengungkapkan isi hati kita.
93. ORANG I : Betapa sulitnya merumuskan pikiran.
94. ORANG II : Ayo, kita coba lagi.
95. ORANG I : Tidak ada gunanya.
96. ORANG II : Sebelum semuanya terkubur kita harus cepat bergerak.
97. ORANG I : Kita sudah terkubur sejak kelahiran kita.
98. ORANG II : Kita harus terus melukis.
99. ORANG I : Kita harus berhenti.
100. ORANG II : Kita akan pamerkan kulisan-lukisan kita ke kota-kota seperti dulu, kita akan melancong lagi. Kita akan kunjungi pulau-pulau, negara-negara, kita akan keliling dunia. Kita akan puas, kita akan tercatat.
101. ORANG I : Aku sekarang mulai berada antara tahu dan tidak tahu, aku telah dikhianati oleh diriku sendiri. Aku sekarang tidak bisa berbuat apa-apa, aku telah mandul, aku tidak punya kekuatan.
102. ORANG II : Kau harus mencoba terus, kau masih muda.
103. ORANG I : Aku sudah tidak mampu lagi.
104. ORANG II : Kau mampu, kau lihat karya-karya ini, semua menakjubkan.
105. ORANG I : Bohong. Ke mana larinya coretan-coretanku yang dulu, ke mana larinya tokoh-tokohku. Kita bukan pelukis, mari kita robek lukisan-lukisan kita. (mengambil lukisan dan merobek-robek)
106. ORANG II : Jangan. Kita akan pamerkan lukisan kita ke seluruh dunia. (orang I terus merobek lukisan)
107. ORANG I : Dunia tidak pernah melihat kita, ayo kita ciptakan dunia kita sendiri. Kita harus ciptakan dunia kita sendiri.
108. ORANG II : Kita harus terus melukis sebanyak-banyaknya.
109. ORANG I : Kita harus diam. Kita sudah tidak punya objek lagi.
110. ORANG II : Masih banyak yang belum kita baca.
111. ORANG I : Kita tidak punya objek lagi.
112. ORANG II : Masih banyak yang belum kita lihat.
113. ORANG I : Mana objekku.
114. ORANG II : Masih banyak yang belum kita kunyah.
115. ORANG I : Mana objekku.
116. ORANG II : Kita harus terus berjuang.
117. ORANG I : Kau tidak pernah bisa memahami keinginanku.
118. ORANG II : Kau yang tidak bisa.
119. ORANG I : Semuanya sudah punah. Tidak ada lagi yang harus diperjuangkan.
120. ORANG II : Jiwa kitalah yang harus kita perjuangkan. Kita tidak akan pernah bisa bangkit kalau terus saja berpusar pada fikiran-fikiran kita sendiri.
121. ORANG I : Maumu?
122. ORANG II : Coba lihatlah di pasar-pasar, begitu banyak kehidupan. Kita lahir dan kita bisa jadi apa saja di situ. Kita bisa memilih peran kita sendiri. Kenapa tidak kita coba. Kita bisa jadi pencopet, juragan, penipu, pejabat, germo, terserah apa yang kita maui.
123. ORANG I : Aku tidak memilih apa-apa. Aku akan ciptakan duniaku sendiri.
124. ORANG II : Dunia apalagi? Cepatlah bergerak sebelum kita tergilas oleh jaman.
125. ORANG I : Aku tidak peduli.
126. ORANG II : Kau tentu akan terus melukis, itukan dunia yang kau maksud. Ayo, pergilah ke pasar-pasar dan lukislah wajah orang-orang itu. Itu akan lebih berguna buat diri kita.
127. ORANG I : Aku tidak punya tempat.
128. ORANG II : Kau jangan menyiksa diri, dengan penjara-penjara pikiran itu akan lebih cepat membawamu ke arah maut. Marilah kita hidup sebagai orang kebanyakan, sebelum aku mati tentukan sikapmu, melukislah, melukislah.
129. ORANG I : Kota-kota, hutan-hutan, angin-angin, gunung-gunung, air-air, laut-laut, pasir-pasir, matahari-matahari, bulan-bulan, bintang-bintang, manusia-manusia, semuanya sudah tidak ada lagi. Kita sudah ketinggalan jauh, semuanya sudah berhenti.
130. ORANG II : Dunia masih berputar.
131. ORANG I : Kehidupan telah mati.
132. ORANG II : Matahari masih terbit.
133. ORANG I : Matahari telah terbakar oleh panasnya sendiri, dia jadi arang, dia jadi abu, dia berhamburan, dia menghilang, dia musnah!
134. ORANG II : Lantas apa maumu?
135. ORANG I : (diam)
136. ORANG II : Lantas apa maumu?
137. ORANG I : Ngeseks. Berilah aku seks.
138. ORANG II : Aku tidak mau.
139. ORANG I : Lakukan kalau kau ingin semua ini berlanjut.
140. ORANG II : Aku tidak bisa.
141. ORANG I : Kau harus bisa karena di sini tidak ada makhluk lain.
142. ORANG II : Aku tidak mampu. Aku sudah tua.
143. ORANG I : Cobalah. (mencoba, gagal, mencoba lagi) Teruslah berusaha, kalau tidak kau akan aku tinggalkan.
144. ORANG II : Aku tidak bisa.
145. ORANG I : Tak ada gunanya. (diam semua, orang II menangis)
146. ORANG II : Kau keterlaluan, kau telah mengungkit masa laluku. Ayo berdirilah di situ.
147. ORANG I : Untuk apa?
148. ORANG II : Berdirilah di sudut situ.
149. ORANG I : Untuk apa?
150. ORANG II : (mengancam) Lakukan saja, kau jadi modelku.
151. ORANG I : (menurut)
152. ORANG II : Sekarang lepaskan bajumu.
153. ORANG I : Tidak mau.
154. ORANG II : Ayo lepaskan bajumu. Juga celanamu.
155. ORANG I : (menuruti)
156. ORANG II : Dengan cara ini dulu aku pernah bisa.
157. ORANG I : Apa maksudmu?
158. ORANG II : Aku akan peragakan awal terjadinya manusia. Telanjanglah, telanjanglah (dia menyergap orang I, seolah memperkosanya. Mencoba, terus mencoba, orang I hanya diam, sampai akhirnya) Aku tidak bisa! Dengan cara inilah pelacur itu kulukis, aku diperkosa oleh pancaran seksualnya. Ya, seperti itulah dia duduk, aku menggelepar dan tak tahu apa yang terjadi. Paginya kulihat kamarku telah kosong, lukisan-lukisanku hilang bersama pelacur itu.
159. ORANG I : Sesalilah keberadaanmu, akan kulukis tentang penyaliban manusia.
160. ORANG II : Dengarlah ceritaku.
161. ORANG I : Tak ada gunanya.
162. ORANG II : Kau adalah rentetan dari kejadian itu.
163. ORANG I : Maksudmu?
164. ORANG II : Enam tahun kemudian, setelah aku lupa, pelacur itu kembali dengan bayi di pangkuannya, dia bilang bayi itu adalah anakku, aku marah, tapi kemarahan itu tiba-tiba hilang karena gairah seksku naik dan pelacur itu kuperkosa sampai mati. Sampai mati.
165. ORANG I : Aku tidak peduli siapa bayi itu.
166. ORANG II : Bayi itu adalah kamu.
167. ORANG I : Aku tidak peduli dari siapa aku dilahirkan, karena semua kejadian toh akan membawa akhir yang sama.
168. ORANG II : Maafkan, maafkan aku.
169. ORANG I : Diamlah.
170. ORANG II : Semua orang sibuk mempersiapkan nasibnya, sementara kau? Dari kecil kau hanya kubawa mondar-mandir dari pasar ke pasar untuk menjajakan lukisan.
171. ORANG I : Kita ini pasien-pasien tanpa dokter. Ajarilah aku bagaimana caranya bunuh diri, itu akan lebih baik.
172. ORANG II : Kau harus membunuhku.
173. ORANG I : Kaulah yang wajib membunuhku.
174. ORANG II : Tolong bunuhlah aku.
175. ORANG I : Tolong bunuhlah aku.
176. ORANG II : Aku tidak punya keberanian.
177. ORANG I : Aku juga tidak punya keberanian.
178. ORANG II : Pada akhirnya kita akan terus terkatung-katung.
(Diam semuanya. Untuk beberapa lamanya tidak ada kejadian apa-apa)
179. ORANG I : Mari kita robek-robek dunia.
180. ORANG II : Aku mendengar tulang-tulangku berderit-derit seperti daun pintu. Inikah awal dari yang paling awal itu?
181. ORANG I : Kita mati dan berubah jadi kepompong.
182. ORANG II : Marilah kita lukis wajah-wajah dunia. Semua harus diabadikan, semua harus dicatat.
183. ORANG I : Kita tidak akan pernah samapai. Kehidupan tidak akan cukup dengan waktu hanya seribu tahun bahkan satu juta tahun pun tidak. Manusia, yang katanya dilahirkan untuk membaca, bagaimana mungkin membaca kehidupan hanya dengan waktu enam puluh tahun.
184. ORANG II : Jangan kau kembalikan lagi aku pada momok itu.
185. ORANG I : Kita akan segera terlewat.
186. ORANG II : Ooo..., monolog risaumu. Berilah aku tidur.
187. ORANG I : Semua makhluk telah menentukan sikapnya masing-masing.
188. ORANG II : Tinggal kita yang ada di sini.
189. ORANG I : Menghitung rumus-rumus.
190. ORANG II : Mengalikan rumus-rumus.
191. ORANG I : Membongkar langit-langit, menikam langit. Meledaklah. Meraung!
192. ORANG II : Berhamburan dunia di sana, di sini, di situ, di jalan raya-jalan raya, supermarket-supermarket, terminal-terminal, night club-night club, pasar malam-pasar malam, sirkus. Semua ini tidak mempunyai hubungan dengan fungsi-fungsinya.
193. ORANG I : Kita tidak pernah terlibat sedikitpun, juga dengan hidup kita.
194. ORANG II : Kita hanya menonton.
195. ORANG I : Kita hanya dipermainkan
196. ORANG II : Kita tak pernah jadi subjek.
197. ORANG I : Seharusnya kita sama-sama punya hak.
198. ORANG II : Selamatkan aku dari sini.
199. ORANG I : Lepaskan dulu aku dari kemutlakan ini.
200. ORANG II : Lepaskan aku dari kaidah-kaidah ini.
201. ORANG I : Menginjak-injakku, mencekikku.
202. ORANG II : Aku tidak sanggup.
203. ORANG I : Ayo kita isi dunia dengan kata-kata, keluarkan ususmu, keluarkan tulang-tulangmu, keluarkan dagingmu, kuliti-kuliti, jantungmu keluarkan, keluarkan dan ikat dengan petasan, kemudian ledakkan seperti tatkala kita bermain dimasa kanak-kanak yang hilang.
204. ORANG II : (ketakutan) Diamlah! Kau lihat kanvas-kanvas itu bergerak, mereka minta nyawa, mereka minta hidup, mereka minta nafas, kita dikurung oleh kanvas-kanvas, kita terjebak disini. Tolonglah aku, aku lapar, aku haus, aku muak ... (tak ada jawaban) kenapa kau biarkan aku tenggelam dalam diamku yang gaduh ini.
205. ORANG I : Monster-monster itu dari mana datangnya, kita akan dilumat oleh zaman.
206. ORANG II : Kanvas-kanvas itu jadi monster, mereka memanggil kita. Kita harus lari, mereka minta dilukis, ayo kita lari ....
207. ORANG I : Kesimpangsiuran ini. Rancu. Segalanya rancu! Aku tidak bisa menjelaskan kata-kataku, pikiranku melintas-lintas, kita ini akan dibawa ke arah mana?
208. ORANG II : Kita tidak boleh salah pilih.
209. ORANG I : Mana kakiku, mana tanganku, mana kupingku, mana mataku, mana jantungku, mana kananku, mana kiriku, mana atasku, mana bawahku, mana-mana ....
210. ORANG II : Mana dunia, mana warna, cat-catku, catku mana? Mana merah, mana kuningku, mana hijauku, mana hitamku, mana putihku, mana dunia?
211. ORANG I : Mana akherat?
212. ORANG II : Kita harus hadir.
213. ORANG I : Tenggelam.
214. ORANG II : Agama? Agamamu apa?
215. ORANG I : Islam agamaku, Yesus nabiku. Mau apa kau?
216. ORANG II : Tuhanmu? Siapa Tuhanmu?
217. ORANG I : Allah Tuhanku. Maria tetanggaku. Mau apa kau?
218. ORANG II : Semua kemarilah akan kutuding-tuding matamu.
219. ORANG I : Jangan salahkan aku, jangan kau maki aku.
220. ORANG II : Kita akan dihukum.
221. ORANG I : Aku tidak mau.
222. ORANG II : Kita akan dirajam.
223. ORANG I : Aku tidak mau.
224. ORANG II : Kau mabuk ke-aku-an.
225. ORANG I : Kau mabuk diri sendiri.
226. ORANG II : Kau mabuk pertanyaan.
227. ORANG I : Kau mabuk jawaban.
228. ORANG II : Kau mabuk risau.
229. ORANG I : Kau mabuk bimbang.
230. ORANG II : Kau mabuk Karlmark.
231. ORANG I : Kau mabuk Israel.
232. ORANG II : Kau mabuk agama, kau mabuk Tuhan.
233. ORANG I : Kau mabuk kentut.
234. ORANG II : Akankah kita terus bertanya-tanya seperti ini. Bertahun-tahun kita hanya melewatkan waktu dengan mondar-mandir.
235. ORANG I : Buntu! Macet total! Aku pergi ke utara yang kutemui hanya benda-benda mati, aku pergi ke timur yang kutemui hanya udara, aku pergi ke selatan yang kutemui hanya angin, aku pergi ke barat yang kutemui hanya diri sendiri, dimana-mana hanya diriku sendiri. Dimana arah mata angin?
236. ORANG II : Tidak ada lagi kiblat.
237. ORANG I : Ayolah kita keluar dari sini.
238. ORANG II : (hanya diam)
239. ORANG I : Di sini pengap.
240. ORANG II : (diam)
241. ORANG I : Kenapa kau jadi dingin kepadaku? Dingin bagai batu-batu kubur.
242. ORANG II : Spermatozoa, indung telur, ovum ....
243. ORANG I : Apa yang ada dalam otakmu?
244. ORANG II : Ke sanalah larinya.
245. ORANG I : Ke mana?
246. ORANG II : Ke dalam kata-katamu.
247. ORANG I : Malam semakin larut.
248. ORANG II : Suara laut tak kedengaran dari sini.
249. ORANG I : Iya jauh. (Diam. Hanya dengkur nafasnya yang mengisi waktu. Beberapa saat lamanya)
250. ORANG II : Mari kita mencari hiburan, kita pergi ke taman-taman.
251. ORANG I : Tidak mau.
252. ORANG II : Mari kita ke museum.
253. ORANG I : Tidak, sudah tutup.
254. ORANG II : Kita pergi ke perpustakaan.
255. ORANG I : Tidak.
256. ORANG II : Kita pergi berenang.
257. ORANG I : Tidak.
258. ORANG II : Lantas kita?
259. ORANG I : Di sini saja.
260. ORANG II : Biasanya kau suka melihat perahu, ayo kita pergi ke laut. Seperti saat kau masih kecil, kita akan menggambar pemandangan di pasir. Kita akan mencari kerang, kemudian memancing sambil naik perahu. (diam saja) Ayo kita ke sana, kita akan melihat pelangi yang melengkung bagai naga meminum air laut.
261. ORANG I : Aku pernah mendengar, suatu saat nanti bulan akan bertabrakan dengan bumi lantas matahari membakarnya sampai hangus.
262. ORANG II : Lupakan saja itu ayo kita pergi ke laut.
263. ORANG I : Aku ingin tahu akhir dari semua ini. (mereka melukis) Sementara kita minum, sementara maut mengintai di tenggorokan kita. Sementara kita bernafas, sementara jerat melingkar di leher kita. Sementara kita bicara, sementara bisu membeku di mulut kita. (semakin cepat dia melukis) Sementara kita memandang sementara buta di kelopak kita, sementara kita tidur sementara maut mengintai di tikar kita, sementara kita sedang, sementara debu, sementara batu, sementara kabut, sementara lahar, sementara belerang. Kalau mau mampus, mampuslah! Kalau mau bangkit, bangkitlah! Kalau mau meledak, meledaklah! Kalau mau terbakar, terbakarlah! Kalau mau hangus, hanguslah! Hancur, hancurlah! Berkeping, kepinglah! Porak, porandalah! Berdarah, darahlah! Bernanah, nanahlah! Membusuk, membusuklah! Satu tambah satu sama dengan empat kalau aku mau. Satu tambah empat sama dengan nol kalau aku mau. Seribu dikurangi sama dengan dua belas kalau aku mau. Itu semua sah! Itu semua benar! Mau apa kau? Anjing, anjinglah! Babi, babilah! Geledeklah, halilintarlah! Kita lukis wajah kita. Hiruk-pikukku, simpang-siur, berantakan, porak-poranda, kita lukis kehancuran kita. Galau kita, rindu kita, pedih kita, sepi-mati kita. Kaku batu, kucing anjing, cacing kelingking, nungging. Tua, mata, mandek, mandul, mampet, dungu, tersesat, hutan belantara di mana-mana, belantara angan, belantara tahta, belantara tanda tanya. Akan kuberi hidup dia! Akan kuberi kata-kata dia! Akan kuberi nyawa dia! Jadilah! Maka jadilah!
264. ORANG II : Apa yang kau lukis?
265. ORANG I : Potret diri. Kau?
266. ORANG II : Sama.
267. ORANG I : Coba lihat. (Mereka tukar-menukar lukisan. Sama-sama kaget, kerena yang mereka hasilkan hanyalah kanvas-kanvas kosong)
268. ORANG II : Ayo kita mulai lagi
(Merekapun melukis lagi)
269. ORANG I : (kelihatan sangat muak pada dirinya sendiri) Aku tidak ada kemampuan.
270. ORANG II : Apa kita perlu ke laut?
271. ORANG I : Mari kita coba lagi.
(mereka melukis, kemudian mereka robek-robek, mereka melukis lagi, mereka robek-robek lagi, mereka melukis lagi)
272. ORANG II : (Setelah mati-matian berusaha. Bersama orang I) Jadi sudah!
273. ORANG I : Apa?
274. ORANG II : Potret diri, kau?
275. ORANG I : Sama.
(mereka tukar-menukar lukisan)
276. ORANG I : Ini gambar anjing.
277. ORANG II : Ini gambar tikus.
278. ORANG I : Apa? Itu Potret diriku.
279. ORANG II : Tapi ini gambar tikus.
280. ORANG I : Bangsat. Kita telah ditipu. Kau lihat ini gambar anjing.
281. ORANG II : Hah? (mereka robek-robek lukisan itu)
282. ORANG I : Mari kita temukan diri kita.
(Mereka melukis lagi)
283. ORANG I : Kenapa jadi asap?
284. ORANG II : Kenapa jadi debu?
(dirobek-robek lagi dan melukis lagi)
285. ORANG II : Kenapa jadi cacing?
286. ORANG I : Kenapa jadi bangsat?
(dirobek-robek lagi dan melukis lagi)
287. ORANG I : Bangsat! Anjing! (merobek-robek lukisan)
288. ORANG II : Setan alas! (merobek-robek lukisan)
(mereka melukis lagi dengan keringat yang bercucuran)
289. ORANG I : (setelah berjuang) Jadi sudah! Akhirnya aku bisa.
290. ORANG II : Mana? (saling memperlihatkan lukisan, sama-sama kaget) Itu diriku.
291. ORANG I : Itu diriku dan ini juga diriku. Kau salah menafsirkan dirimu sendiri.
292. ORANG II : Kau yang salah lihat. Sudah jelas ini diriku dan itu juga diriku.
293. ORANG I : Ini wajahku dan itu juga wajahku.
294. ORANG II : Tidak! Ini wajahku dan itu juga wajahku.
295. ORANG I : Siapa yang benar di antara kita?
296. ORANG II : Kau siapa? Dan aku siapa?
297. ORANG I : Kau buta! Yang kau lukis itu diriku.
298. ORANG II : Kau yang jereng, sudah jelas kau salah lukis dan salah lihat.
299. ORANG I : Aku melukis wajahku sendiri.
300. ORANG II : Aku juga
(mereka mengamati lukisan dengan lebih teliti. Mereka kecewa)
301. ORANG II : Kita tidak bisa menerjemahkan diri kita sendiri.
302. ORANG I : Kenapa ini terjadi.
303. ORANG II : Kenapa ini terjadi? Jawablah.
304. ORANG I : Jawablah.
305. ORANG II : Kenapa ini terjadi? Ayo jawablah.
306. ORANG I : Itu pertanyaanku, kau yang harus menjawab.
307. ORANG II : Kau yang harus menjawab.
308. ORANG I : Itu pertanyaanku.
309. ORANG II : Juga pertanyaanku.
310. ORANG I : Kau mementingkan diri sendiri.
311. ORANG II : Kau yang mementingkan diri sendiri.
312. ORANG I : Mari kita hancurkan saja. Kita bunuh.
313. ORANG II : Siapa?
314. ORANG I : Diri kita.
315. ORANG II : Mari.
(mereka saling mencekik, saling memukul. Tapi akhirnya, mereka hanya merobek-robek lukisan)
316. ORANG II : (tertawa) Kita sudah hancur.
317. ORANG I : Kita sudah mati.
(sama-sama tertawa)
318. ORANG II : Enak ya, sudah mati.
319. ORANG I : Cuma begini rasanya.
320. ORANG II : Coba (kemudian mencubit orang I) sakit?
321. ORANG I : Kita telah menjadi pembunuh yang sia-sia.
322. ORANG II : Sebuah pertanyaan pada dunia.
323. ORANG I : Otakku sudah beku.
324. ORANG II : Biarkanlah otakmu untuk terus berfikir.
325. ORANG I : Takut.
326. ORANG II : Akhirnya cepat sampai pada kesimpulan.
327. ORANG I : Dan kembali pada keraguan. Ini seperti penyaliban Yesus untuk kedua kalinya.
328. ORANG II : Hidup ini penuh dengan rangsangan-rangsangan.
329. ORANG I : Kita tidak harus mewujudkan semuanya.
330. ORANG II : Ayo kita mencoba lagi.
331. ORANG I : Ini adalah saat penentuan. Kita harus mendakwa diri kita.
332. ORANG II : Kita hakimi.
333. ORANG I : Ayo kita mulai.

(Dengan penuh gairah mereka mengambil kanvasnya masing-masing dan melukis. Gagal. Dibanting. Dirobek-robek. Ganti kanvas. Gagal. Dirobek. Ganti kanvas. Dirobek. Gagal. Dirobek. Melukis lagi dirobek lagi. Ganti lagi. Terus dan terus sampai kanvasnya habis, kemudian mereka melukis di tembok-tembok, baju-baju yang bergantungan, langit-langit, meja, lantai, kursi, sepatu, sandal, debu, semua benda yang ada di situ dibuatnya untuk melukis, dijadikan kanvas sampai habis semuanya. Mereka melukis membabi-buta, mereka histeris, mereka mondar-mandir, mereka berlari mencari kanvas, mencari objek )

ORANG I : (bersama orang II) Mana kanvasku, mana objekku, mana kanvasku, mana objekku, mana kanvasku, mana kanvasku, objekku, kanvasku mana, objekku mana, kanvasku mana, objekku mana, mana ... mana kanvasku ... mana, mana ... (mereka terus berputar-putar, berlari-lari) Mana tali gantungan, aku akan melukis tali gantungan, mana pisau aku akan melukis di pisau-pisau, mana salib, mana gantungan, mana kanvas, mana kanvas ... gantungan, salib, kanvas, objek...

(Mereka terus berputar-putar, gelisah, berlari, terus. Terus sampai histeris dan sampai akhirnya mereka bertabrakan. Berpelukan, saling raba dan sama-sama berkata:) Kau adalah kanvasku, kau adalah kanvasku .... Cat, mana cat ... mana pahat ... mana gergaji, palu ....
(mereka menjadikan tubuh yang lain adalah kanvasnya, mereka saling melukis, saling mengguyurkan cat, saling pahat-memahat tubuh yang lainnya sambil terus berteriak:) Kau kanvasku, kau objekku, kau kanvasku, kau objekku, kau patungku, kau karyaku ... kau objekku, kau objekku, kau objekku ....(terus dan tak ada habisnya)

LAMPU PADAM


WEK WEK - Iwan Simatupang



WEKWEK
karya Iwan Simatupang

ADEGAN I
SEKELOMPOK BEBEK MEMASUKI PANGGUNG

Petruk: Sejauh mata memandang, sawah luas terbentang, tapi tidak sebidang tanah pun milikku. Padi aku yang tanam, juga aku yang ketam. Tapi tidak segenggam milikku. Bebek tiga puluh ekor, semuanya tukang bertelor. Tapi tidak juga sebutir adalah milikku. Badan hanya sebatang, hampir-hampir telanjang. Hanya itu saja milikku.

ADEGAN II
BAGONG DAN PENGAWALNYA MEMASUKI PANGGUNG

Bagong: Aku orang berada, apa-apa ada. Juga buah dada, itulah beta. Sawah berhektar-hektar, pohon berakar-akar, rumah berkamar-kamar, itulah nyatanya. Kambing berekor-ekor, bebek bertelor-telor, celana berkolor-kolor, film berteknik kolor. Perut buncit ada, mata melotot ada, pelayan ada, pokoknya serba ada.

ADEGAN III
GARENG DAN EMPAT KAWANNYA MEMASUKI PANGGUNG

Gareng: Badannya langsing, matanya juling, otaknya bening. That’s me!
Tipu menipu, adu mengadu, ijazah palsu, that’s me!
Gugat menggugat, sikat menyikat, lidah bersilat, that’s me!
Profesiku pokrol bambu, siapa yang tidak tahu, that’s me!

ADEGAN IV

Semar: Saya jadi lurah sejaak awal sejarah, sudaah lama kepingin berhenti tapi tak adaa yang mau mengganti. Sudah bosan, jemu, capek, lelah. Otot kendor, mata kabur, mau mundur dengan teratur, mau ngaso di atas kasur.
Saya kembung bukan karena busung, mata berair bukan karena banjir, tapi karena menjadi tong sampah. Serobotan tanah, pak lurah. Curi air sawah, pak lurah. Beras susah, pak lurah.
Semua masalah, pak lurah, tapi kalau rejeki melimpah, pak lurah…tak usah…payah.

ADEGAN V
BAGONG DAN PENGAWALNYA MEMASUKI PANGGUNG

Bagong: Jaman ini jaman edan, tidak ikut edan tidak kebagian.
Di terminal calo berkuasa, dia tentukan penumpang naik apa.
Di dunia film broker merajalela, dia tentukan sutradara bikin apa.
Di sini, itu si Petruk sialan, datang merangkak meminta pekerjaan.
Aku suruh ngangon bebek tiga puluh ekor, tiap minggu harus antar lima puluh ekor.
Malah dia tentukan berapa harus setor. Sungguh-sungguh kurang telor.
Sekali aku datang mengontrol, bebeknya hilang dua ekor.
Waktu ditanya, dia menjawab “dimakan burung kondor”
Di sini tak ada burung kondor. Dia yang kondor.
Dia datang melolong minta tolong, sudah ditolong, ee…dia nyolong.
Orang seperti ini harus dipukuli, sayangnya aku tak berani.
Lagipula aku tidak mau mengotori tanganku, dengan menyentuh tubuhnya yang kotor dan bau. Aku tidak mau main hakim sendiri, apa gunanya pak lurah digaji.

ADEGAN VI
SEKELOMPOK BEBEK MEMASUKI PANGGUNG

Petruk Orang sudah melarat ditimpa cialat, telor sudah dimakan masih juga digugat.
Padahal yang bertelor tidak peduli, apa mau dimakan atau dicuri.
Pokoknya aku tiap minggu sudah setor, sekitar lima puluh telor.
Waktu menyebrang jalan, datang motor, bebek kabur, satu ketubruk dan mati konyol.
Sekarang aku harus menghadap pak lurah mempertanggung jawabkan apa yang sudah aku lakukan. Menurut versi Bagong dongkolan, siapa menolongku, siapa membantuku?

Gareng Apa masalahmu, menangis tersedu-sedu
Apa persoalan,merengek tersedan-sedan
Jangan takut, aku bukan polisi
Bukan maut, juga bukan polusi.

Petruk Begitu mulutnya dibuka, mendadak hilanglah duka
Permisi, mohon bertanya, kok mau menyapa saya?

Gareng Aku sedih melihat orang susah. Aku murka melihat orang marah.
Aku membantu orang kejepit, kena urusan berbelit-belit.

Petruk Ikan dicita, ulampun tiba. Janda dicinta sebab kaya raya.
Bapak mau menolong saya yang lagi bingung kena perkara?

Gareng Aku diturunkan ke bumi ini dengan suatu misi.
Membantu orang yang kena perkara, baik yang perdata maupun pidana
Pilih mana, bagi saya sama saja.

Petruk Anu pak, ini urusan telor dan bebek.

Gareng Ah, telor dan bebek. Bukan telor dan ayam?
Di sini telor, di sana telor, sama-sama telor
Di sini bebek, di sana ayam, bagiku sama saja.

Petruk Ya, tapi saya melarat pak.

Gareng Ya, saya juga melarat, karenanya harus bekerjasama yang erat.
Segala sesuatu dikerjakan dengan mufakat.
Misalnya saja tentang honorku, biar bagaimanapun aku ini pokrol bambu
Kamu harus hargai profesiku.

Petruk Bapak harus sadari profesi saya, yang tidak menghasilkan apa-apa.
Harta karun tidak ada, yang ada cemeti dan celana.
Ambil saja cemeti, biar nanti saya cari lagi.
Jangan ambil celana, nanti saya celaka
Menambah lagi perkara, perkara pusaka dewata.

Gareng Ini bukan perkara cemeti atau celana
Tapi urusan telor dan bebek. Jelas urusan telor dan bebek
Telor dan bebek, tor-tor, wek-wek.

Petruk Tor-tor, wek-wek? Maksudnya ha?

Gareng Ssst! Jangan keras-keras.

MEREKA SALING BERBISIK, KEMUDIAN TERTAWA TERBAHAK-BAHAK, RAHASIA, MENGANDUNG ARTI NAKAL

ADEGAN VII

SEMAR DAN BAGONG MENUJU PETRUK DAN GARENG

Semar Sudah di pikir masak-masak?

Bagong Sudah. Malah hampir busuk.

Semar Kalau di pikir-pikir berapalah rugimu?

Bagong Ini bagi saya memang bukanlah persoalan untung rugi. Ini soal kepercayaan saya yang di lukai. Muka saya di ludahi. Sudah di tolong masih mencuri. Saya kurang baik apa? Masih saja orang bilang saya pelit, medit, bakhil.

Semar Penghisap, pemeras, penggencet, penyedot, pengepres.

Bagong Ya, semua yang tidak beres.

Semar Kalau dia mengakui, apa tindakan mu?

Bagong Dia harus bayar kerugianku.

Semar Kalau dia tidak dapat?

Bagong Apa boleh buat, pecat.

Semar Lantas apa nasibnya?

Bagong Ini urusannya, urusan pak lurah.

Semar Kalau ia tidak mengaku bersalah?

Bagong Pak lurah atur supaya ia menyerah. Nanti saya atur agar padi pak lurah bertambah.

Semar Saya sudah menjadi lurah sejak awal sejarah. Jangan omongamu membuat saya marah.

Bagong Maaf pak lurah. Maksud saya sama sekali tidak mempengaruhi hanya si Entong anak bapak kemarin kepingin motor.

Semar Kalau dia kepingian, tentu dia ngomong sama saya.

Bagong Dia kemarin pesan motor apa saja.

Semar Mau tutup mulut tidak? Mau aku depak?

Bagong Maksud saya….

DATANG PETRUK DAN GARENG

Gareng Eh, pak lurah. Selamat pagi, selamat ketemu lagi. Apa kabar pak cukong? Masih suka membagong.

Bagong Pokrol busuk, awas. Jangan sembarangan ngomong.

Semar Perkara apa yang kita hadapi, hina menghina atau curi mencuri?

Bagong Maaf pak lurah. Dia yang mulai.

Semar Gareng, apakau jadi pembela?

Gareng Betul. Pembela dan kuasa penuh.

Bagong Maksudnya, kalau kalah perkara saudara masuk penjara?

Gareng Saya kira, yang akan kalah itu saudara.

Semar Baik, kita mulai. Orang mau bicara hanya dengan seijin saya.

Bagong Setuju.

Gareng Kalau maunya pak lurah begitu.

Petruk Bb-bb

Semar Bagaimana kau petruk?

Bagong Penggugat, terdakwa, tertuduh, tersangka.

Semar Kalau mau bicara harus seijin saya.

Bagong Maaf, pak lurah. Bagaimana petruk?

PETRUK DIAM SAJA.

Semar Jawab petruk.

Gareng Maaf pak lurah.

Semar Pembela?

Gareng Boleh saya bicara?

Semar Silahkan.

Gareng Sebelum saya minta maaf bagi klien dan pasien saya. Klien, karena ia minta saya sebagai pembelanya dan kuasa usahanya. Pasien, karena ia minta saya menjadi dokternya. Keterangan dan penjelasannya; sewaktu ia datang kepada saya yaitu pada hari kamis legi yang lalu, tanggal 32 september 1999, getaran pada jam 10. 30 menit, 6 detik, 7 detik, 8 detik, 9 detik ricther. Udara 240 C, curah hujan 25 cm, naga di selatan, singa di utara, bintang venus berada di….

Bagong Pak lurah saya protes.

Semar Kenapa?

Bagong Urusan apa itu si Venus? Sebentar lagi si Wati, si Inah, si anu…

Semar Protes di terima, pembela….fakta yang langsung berhubungan dengan fenomena dan sebaiknya yang berkaitan dengan perkara.

Gareng Walau hak saya di kurangi…. tak apalah. Saudara petruk ini datang pada saya, di kantor saya di kaki enam depan pasar, sebelah kiri toko sepeda, seblah kanan warung tegal, bersebrangan dengan pompa minyak goreng. Menceritakan kepada saya musibah yang menimpa dirinya yang di sebabkan oleh telor bebek dan bapak bagong. Dengan suara dingin bergetar kedinginan. Pak lurah ia datang berlari langsung sawah yang kehujanan lebat dingin sekali. Mengamankan bebek-bebek dan telor-telor yang menjadi tanggungannya, mendadak banjir dari kali, kilat menyambar dari langit. Dua bebek di bawa banjir….

Bagong Astaga, telornya?

Gareng Sepuluh butir disambar petir, hancur berantakan.

Bagong Telor-telorku….

Semar Benar ini semua terjadi?

Petruk Ia…wek…wek…wek

Semar Jawab yang benar.

Petruk Wek…wek…wek…wek.

Semar Jangan main-main.

Gareng Wek…wek. Maaf pak lurah. Selesai dia menceritakan pengalamannya yang mengerikan itu, ia jatuh pingsan. Badannya mengigil, keringatnya mengalir, mukanya pucat, ia mengeluh. Wek…wek…waktu sadar, terlanjur suara yang bisa ia keluarkan hanya wek, selain wek tak ada wok…wok. Seperti pak lurah dengar tadi. Ia sedih sekali, saya ikut sedih dan berjanji padanya akan menyembuhkannya. Jadi kalau ia menjawab dengan wek…wek, maafkanlah ia.

Semar Bagaimana Petruk?

Petruk Wekwek….

Bagong Pak lurah, ini saya kira satu permainan yang licik, akal-akalan si pokrol bambu, pokrol tipu, pokrol….

Gareng Pak lurah, ini saya adukan cukong Bagong, karena telah menghina saya di depan umum. Pak lurah mendengar sendiri dari moncong Bagong….

Bagong Pak lurah, saya adukan pokrol itu menghina saya menyebut mulut saya dengan moncong….

Semar Saya catat, saya sudah catat. Gareng menghina Bagong, Bagong menghina Gareng. Skor, satu lawan satu. Draw, remis. Sama kuat, selesai. Saya peringatkan, jangan ada yang nyeleweng lagi. Kita lagi membicarakan perkara Petruk dengan bebek dan telornya Bagong.

Gareng Saya tidak punya urusan dengan telornya bagong.

Bagong Telor saya jangan dibawa-bawa.

Gareng Memangnya kau taruh di rumah?

Semar Lama-lama hilang kesabaran saya. Tekanan darah saya naik. Kita lagi membicarakan soal wek-wek.

Bagong Pak lurah, ini bukan perkara wekwek.

Gareng Tak ada kaitannya dengan wek-wek? Lantas mengapa Petruk sekarang hanya bisa bilang wek-wek? Ya kenapa? Karena ia ingat ada bebek yang dibawa air bah, karena ia cinta sama bebek asuhannya, karena ia merasa sepenuhnya bertanggung jawab atas keselamatan bebek yang berbunyi wek-wek itu.
Karena ia saban hari saban malam mendengar hanya suara wek-wek, hingga suara wek-wek menjadi obsesi, otaknya penuh suara Wek-wek, syarafnya diganggu oleh wek-wek, pita suaranya tersetem pada nada wek-wek. Dia hanya akan bisa ber wek-wek sampai akhir hayatnya. Bahkan kuburnya nanti akan berbunyi wek-wek. Daan doa untuk arwahnya harus berbunyi wek-wek. Dan kita sekarang harus membicarakan ini dengan bahasa wek-wek.

Bagong Saya protes, tidak bisa. Saya belum belajar bahasa wek-wek. Kenapa harus berwek-wek, wok-wok. Wek-wek apa wok-wok.

Semar Itu terlalu ekstrem, kalau kita harus menyelesaikan perkara ini dengan bahasa wek-wek, maka terpaksa perkara ini harus ditunda untuk waktu yang tidak ditentukan. Sampai kita semua telah mahir ber wek-wek.

Petruk Wek…wek..wek.

Semar Apa maunya?

Gareng Kasihanilah saya. Saya tidak bersalah.

Bagong Bohong. Dia telah mencuri tiga belas telur dan tiga ekor bebek.

Petruk Wek..wekwek….

Gareng Tidak salah

Bagong Salah

Petruk Wek-wek

Gareng Tidak

Bagong Salah

Semar Wekwek…

Gareng Ya wekwek…

Bagong Apa wek-wek?

Petruk Wek…wek…wek…

Semar Wek…wek.

Bagong Wek…wek.

Gareng Wek…wek.

Semar Diam, wekwek. Sudah jadi bebek semuanya.

Petruk Wek…wek.

Gareng Kalau dulu ia tidak dipaksa harus hidup berhari-hari dengan bebek. Dia jadi begitu
karena Bagong.

Bagong Dia datang kepada saya minta pekerjaan. Yang lowong hanya ngangon bebek. Dia terima pekerjaan itu, saya tidak paksa.

Semar Apa keadaan yang harus dipersalahkan?Bagong, berapa ekor yang dia harus jaga? Dan berapa telor harus dia setor?

Bagong Bebek tiga puluh ekor.

Gareng Kelaminnya

Bagong Kelamin? Jangan hina saya ya, jelas saya laki-laki.

Gareng Saya tidak tanya kelaminmu. Kelamin bebek?

Bagong Tiga puluh ekor betina semua.

Semar Berapa telor yang harus dia setor?

Bagong Lima puluh butir seminggu, bebek menelor tiga hari sekali, seminggu dia menelor dua kali. Tiga puluh bebek bertelor selama seminggu enam puluh, saya minta setorin lima puluh, yang sepuluh buat upah si Petruk. Kan cukup. Sepuluh kali seribu kan sepuluh ribu seminggu?.

Semar Sepuluh ribu seminggu, bisa hidupkah dengan uang itu? Beras, bisakah dia penuhi setoran itu?

Bagong Tidak pernah. Mula-mula Cuma empat puluh, makin lama makin berkurang.

Petruk Wekwek…

Semar Apa maksudnya?

Gareng Tiga puluh ekor bebek, betina semua. Tidak ada jantannya. Bagaimana bisa bertelor pak lurah? Ini jelas contoh pemaksaan kemauan dan penghisapan di luar batas kemanusiaan dan kebinatangan,

Bagong Nyatanya, mula-mula bebek itu bertelor.

Gareng Itu karena kau beli dan serahkan. Lebih-lebih dia baru bergaul dengan bebek jantan. Kemudian….

Bagong Nyatanya dia masih bertelor.

Gareng itu jasanya si Petruk.

Semar Hei, kau boleh menipu kami, tapi tipuan ini tidak berlaku. Masa Petruk berhubungan dengan bebek?

Bagong Biarkan saja, asal bebek yang bertelor.

Gareng Kenapa kau tidak gauli saja sendiri bebek-bebek itu? Pak lurah, maksud saya tidak seperti yang pak lurah bayangkan. Karena Petruk diam-diam pinjam bebek jantan dari tukang angon lainnya. Dan mebiarkan si jantan itu menggauli bebek betina maka masih ada telor yang bisa dipungut. Biar nafsu kebinatangan pejantan itu luar biasa, tetapi ia tidak menggauli seluruh bebek betina itu.

Semar Kalau begitu si Petruk berjasa besar. Berjasa terhadap bebek betina itu dan berjasa terhadapmu Bagong.

Petruk Wekwekwek…

Semar Apa katanya?

Gareng Dasar orang tidak tahu terima kasih. Tidak tahu menghargai jasa orang.

Semar bagaimana bagong?

Bagong Ya… bebek yang dua dimana?

Gareng Ya dibawa banjir.

Bagong Bukan itu, sebelumnya? Pasti dijual.

Gareng Menurut Petruk, yang satu disambar alap-alap. Yang lain dimakan anjing.

Bagong Bohong. Percuma punya bebek. Hilang melulu, beri telor tidak. Percuma punya tukang angon.

Petruk Wekwek…

Bagong Apa lagi?

Gareng Tiap kali pinjam penjantan, dia harus bayar dua telor.

Bagong Pemeras

Gareng Siapa?

Bagong Itu yang pinjamkan pejantan.

Gareng kau bisa bilang irang itu pemeras!? Lantas kau maunya pinjam gratis gitu?

Semar Nah, perkaranya sudah jelas, Bagong nampaknya kau yang kalah. Betul Petruk kurang dapat menepati janjinya tetapi itu karena keadaan yang kau ciptakan sendiri. Kau tidak bisa memecat ia, dan kalau kau mau bebekmu bertelor, belilah barang tiga pejantan. Dan kau mesti bayar dukun yang mengobati si Petruk.

Bagong Saya tidak mau mengatakan pak lurah berat sebelah. Tapi…ongkos dukunnya berapa?

Gareng Lima puluh ribu rupiah

BAGONG BAYAR SELEMBAR LIMA PULUH RIBUAN

Bagong Rugi-rugi…(pergi)

Semar Gareng, cari dukun yang baik, biar Petruk lekas sembuh.

Gareng Tentu saya akan usahakan.

Petruk Wekwek…

Semar Ya, wekwek…

ADEGAN VIII
GARENG DAN PETRUK

Gareng (tertawa)hahahaha…..

Petruk (tertawa) wekwekwekwek….

Gareng Bagi uangnya. Nah kau selembar, aku selembar

Petruk Wekwek…

Gareng Nah, sekarang mana dua bebek yang dibawa banjir?

Petruk Wekwekwekwek….

Gareng Ayo, jangan main-main lagi. Sandiwaranya sudah selesai

Petruk (menunjukan tenggorokannya) wekwek….

Gareng Janjimu bagaimana? Mana imbalanku?

Petruk (menunjuk uang di tangan Gareng) wekwek… (pergi)

Gareng Wah si Petruk bodoh tapi lihay, lihay tapi bodoh. Aku pokrol bambu kena tipu.

ADEGAN IX
SEMAR DAN PETRUK

Semar (tertawa) Saya jadi lurah sejak awal sejarah…

Petruk Hehehehe….pak lurah, amaf sudah berbohong.

Semar Bebek yang dibawa banjir dan telor yang sambar petir.

Petruk (tertawa) benar pak lurah. Saya lupa…wekwek….

Semar (mengggelengkan kepala) saya jadi lurah….



TAMAT

Sumber: http://kertascoratcoret.blogspot.com


TERDAMPAR -Slawomir Mrozek


(KEJADIAN INI MERUPAKAN DRAMA SATU BABAK DENGAN SET DEKOR YANG MENGGAMBARKAN SEBUAH GUNDUKAN KARANG DI TENGAH LAUTAN. TIGA ORANG YANG TERDAMPAR DENGAN PAKAIAN CELANA HITAM DAN BAJU PUTIH, LENGKAP DENGAN DASI YANG MASIH TERGANTUNG DI LEHERNYA SERTA SAPUTANGAN YANG MASIH MENONJOL DI SAKU JASNYA. KETIGANYA SEDANG DUDUK DI KURSI. DI SEBELAHNYA TERDAPAT PULA SEBUAH KOPOR YANG BESAR)

GENDUT : Saya lapar.

SEDANG : Sayapun ingin makan.

KURUS : Apakah persediaan makanan telah habis semua?

GENDUT : Seluruh makanan persediaan habis. Tak ada yang tersisa sedikitpun.

KURUS : Saya kira masih ada saus sedikit dan kacang buncis.

GENDUT : Tak ada lagi …

SEDANG : Saya hanya ingin makan sesuatu.

GENDUT : “Sesuatu?” Saudara2ku, kita harus melihat kenyataan. Apa yang kita inginkan sebenarnya merupakan …

KURUS : Kau katakan bahwa persediaan makanan telah habis. Lalu apa yang kau pikirkan?

GENDUT : Apa yang kita makan bukanlah “sesuatu”, tetapi seseorang …

SEDANG : (MELIHAT KE BELAKANG, KE KANAN DAN KE KIRI) Saya tak melihat …

KURUS : Sayapun tak melihat seseorang, kecuali … (TIBA2 BER-HENTI. PAUSE)

GENDUT : Kita harus makan salah seorang di antara kita.

KURUS : (SETUJU DENGAN CEPAT) Baiklah mari kita mulai.

GENDUT : Saudara2, kita bukanlah anak kecil. Ijinkanlah saya menyatakan bahwa kita semuanya tidak dapat serentak berkata: “marilah kita mulai.” Dalam situasi semacam ini, salah seorang di antara kita seharusnya berkata : “Sekiranya saudara tidak keberatan, silahkan saudara mengusulkan diri sendiri.”

SEDANG : Siapa?

KURUS : Siapa?

GENDUT : Itulah sebenarnya pertanyaan yang akan saya tanyakan. (KEMUDIAN TENANG) Saya menyarankan demi rasa kesetiaan dan rasa sopan santun yang baik.

SEDANG : (TIBA-TIBA MENUNJUK KE LANGIT, SEOLAH-OLAH MENUNJUK KE SUATU TEMPAT YANG MENARIK) Lihatlah ada burung camar. Seekor burung camar.

KURUS : Maafkan kalau saya mengatakan dengan terus terang, bahwa saya orang yang tamak. Saya selalu memikirkan diri sendiri. Bahkan ketika saya masih sekolah, saya biasa makan siang seorang diri, saya tak pernah membagi makanan saya dengan orang lain.

GENDUT : Alangkah tidak menyenangkan. Kalau dalam hal ini kita terpaksa harus melakukan dengan undian.

SEDANG : Baik.

KURUS : Itu pemecahan yang paling baik.

GENDUT : Kita akan ambil undian dengan cara sebagai berikut. Salah satu dari kalian menyatakan sebuah nomor. Kemudian seorang lagi akan memilih nomor lainnya. Akhirnya sayapun akan memilih nomor yang ketiga. Apabila jumlah ketiga nomor itu ganjil, maka undian jatuh pada saya. Saya boleh kalian makan. Tetapi, apabila jumlah nomor itu genap, salah satu dari kalian boleh dimakan. (PAUSE)

SEDANG : Tidak … Saya tidak suka cara-cara berjudi.

KURUS : Apa yang terjadi kalau sekiranya yang kau lakukan yang salah?

GENDUT : Terserahlah kalau kau tidak mempercayai aku.

SEDANG : Sebaiknya kita mencari jalan lain saja. Kita orang-orang yang berbudaya. Menarik undian adalah cara-cara sisa jaman dulu.

KURUS : Itu kepercayaan nonsen.

GENDUT : Baiklah. Kita dapat pula mengatur suatu pemilihan umum.

SEDANG : Ide yang baik. (KEPADA SIGENDUT) Saya usulkan, agar kau dan aku membentuk satu front dalam pemilihan. Itu akan memudahkan kampanye.

KURUS : Demokrasi sudah usang …

GENDUT : Tetapi sudah tidak ada jalan lain. Kalau kau lebih menyukai kediktatoran, maka saya akan berbahagia kalau dapat menciptakan kekuasaan tertinggi.

KURUS : Tidak. Persetan dengan tirani.

GENDUT : Kalau begitu pemilihan bebas saja.

SEDANG : Dengan kartu pemilih yang bebas dan rahasia.

KURUS : Dan tidak boleh membentuk satu front. Setiap calon harus berkampanye sendiri-sendiri dan terpisah.

GENDUT : (BERDIRI. MEMBUKA KOPOR DAN MEMBUKA TASNYA) Ini sebuah topi. Di dalamnya nanti kita masukkan kartu pemilih dengan nama sang calon.

KURUS : Saya tak punya pena untuk menulis.

SEDANG : Dengan senang hati akan saya pinjami.

GENDUT : (MENGAMBIL PENA DARI SAKUNYA) Ini penanya.

SEDANG : (MENGGOSOK-GOSOK TANGANNYA) Hore.......... Untuk pemilihan.

KURUS : Sebentar. Kalau kita akan mengatur pemilihan ini dengan cara orang yang berbudaya, kita tidak dapat meninggalkan cara kampanye sebelum pemilihan. Di mana-mana di negeri yang berbudaya kampanye harus mendahului pemilihan.

GENDUT : Kalau kau menghendaki …

SEDANG : Baiklah. Marilah kita lakukan secepatnya.

GENDUT : (BANGUN DARI KURSI KEMUDIAN BERDIRI DI TENGAH-TENGAH) Kampanye sekarang dimulai. Siapa yang akan mempelopori bicara?

SEDANG : (KEPADA SIKURUS) Bagaimana kalau kau dulu?

KURUS : Lebih baik saya bicara belakangan. Saya tak pernah menjadi orator yang baik.

GENDUT : Tetapi semua ini adalah usulmu.

SEDANG : Benar. Semua ide tentang pemilihan ini berasal darimu. Kau harus bicara yang pertama.

KURUS : Oh, tentu, kalau memang itu yang kalian kehendaki. (BERDIRI DI ATAS KURSINYA SEBAGAI DI ATAS MEMBAR. YANG DUA LAINNYA MENGATUR DIRI DI DEPANNYA. SIGENDUT MENGAMBIL SAPUTANGAN DARI BAJUNYA KEMUDIAN DIBUKA DAN BERTULISKAN: KITA INGIN MAKAN) hemmm…………Saudara-saudara…

SEDANG : (MEMOTONG) Janganlah kalian menyuap kami. Kita orang2 biasa.

GENDUT : Saya setuju sekali. Persetan dengan ide yang muluk. Yang kita maui adalah kebenaran.

KURUS : Kawan2, Sahabat2ku, kita berkumpul di sini……

SEDANG : (MEMOTONG) Ayo cepat, langsung kepokok persoalan.

GENDUT : Waktu kita terbatas.

KURUS : Kita berkumpul di sini untuk membicarakan persoalan yang mendesak tentang jatah makanan. Sahabat2ku, adalah suatu anggapan yang salah bagi kalian kalau menganggap saya sebagai calon. Saya mempunyai isteri dan anak. Sering kali di waktu senja, saya duduk di kebun menyaksikan anak saya bermain ayunan, isteri saya menyulam dan kami selalu berkumpul di malam hari. Saudara2, sahabat2ku. Dapatkah anda bayangkan suasana yang bahagia tersebut? Tidakkah anda terpesona?

SEDANG : Itu bukan alasan. Kalau itu merupakan soal yang dianggap baik oleh masyarakat, rasa haru tidak diperlukan lagi. Anak2mu bisa bermain sendiri.

GENDUT : Kalau dia main sendiri barangkali lebih baik.
KURUS : Sahabat2ku. Waktu aku masih anak-anak, aku mempunyai rencana bagus sekali untuk masa depanku. Tetapi kenyataannya, aku tidak bekerja keras untuk itu. Aku tak pernah melaksanakan impian tersebut. sekarang ini semua itu rasanya sudah terlambat. Tapi aku yakin bahwa semua ini dapat berubah. Aku tidak akan melalaikan tugas pekerjaanku lagi. Telah banyak kesukaran yang kualami, benar-benar saya kurang yakin pada diri sendiri, malas, tapi sekarang aku akan memperbaikinya, betul-betul aku bersumpah. Aku akan melatih keinginanku, memperbaiki tingkah laku, serta menambah pengetahuan yang kumiliki sehingga seluruh pekerjaan berada di tanganku. Aku ingin menjadi seseorang yang baik.

SEDANG : Keras sedikit!

KURUS : Aku ingin menjadi seseorang yang baik!

GENDUT : Tamak, memikirkan diri sendiri.

SEDANG : Yang kita inginkan makanan.

GENDUT : Mari kita sama-sama. Satu, dua, tiga……

GENDUT &
SEDANG : Yang kita inginkan makanan. Kita ingin makan.

KURUS : (PUTUS ASA. HAMPIR MENANGIS) Tidak, itu tidak baik…….............. betul-betul tidak baik……(TURUN DARI KOTAKAN)

SEDANG : (MENOLONG SIKURUS TURUN, KEMUDIAN SISEDANG NAIK SENDIRI) Sahabat-sahabatku yang suka makan........

GENDUT : Dengarkan. Dengarkan. (SIKURUS BERTEPUK TANGAN, TAPI KURANG SEMANGAT)

SEDANG : Saya bukanlah seorang ahli pidato dan saya tak hendak bicara lama. Bagi saya perbuatan lebih penting dari bicara. Bahkan sejak masa kanak-kanak saya sudah tertarik dalam hal masak-memasak, seni masak. Meskipun makanan yang saya senangi hanyalah sedikit – ya sungguh. Saya adalah orang yang kurang nafsu makan dan kukatakan terus terang makan saya hanyalah sedikit, seperlunya atau hampir boleh dikatakan tidak makan. Apa yang harus kukatakan? Saya tak perlu makan apa-apa. Dua tahun yang lalu barangkali saya makan sesuap nasi di sini atau di sana. Itu hanya dua atau tiga hari sekali. Tetapi sekarang, tidak sama sekali. Baru-baru ini sayapun makan bersama kalian dan makan saya sedikit. Tetapi meskipun begitu, mempersiapkan makanan adalah kegemaran dalam hidup saya. Sebagai seorang ahli masak, tidak ada yang lebih menggembirakan daripada menyaksikan dan menunggui orang makan masakan yang saya buat. Hanyalah itu balasan yang kuingini,……Kalau dapat saya tambahkan, saya ini ahli memasak daging. Bumbu yang saya gunakan tak ada bandingannya. Hanya itulah yang dapat saya katakan.

GENDUT : Bagus, jempol. (TEPUK TANGAN. SIKURUS DIAM SAJA, SEDIH. SISEDANG TURUN DARI KOTAKAN, KEMUDIAN SIGENDUT NAIK)

SEDANG : Horeee. (SIGENDUT BERHENTI SEBENTAR DENGAN TANGAN DI PINGGANG, DIPANDANGINYA SELURUH BAGIAN, SEOLAH-OLAH DI KELILINGI ORANG BANYAK)

GENDUT : (TIBA-TIBA TANGANNYA DIACUNGKAN KE DEPAN, SEPERTI AKAN MEMBERI WEJANGAN DALAM PIDATO SEORANG PEMIMPIN) Orang-orang yang lapar, Terimalah salamku untukmu.

SEDANG : (BERSEMANGAT) Horeee. Dengarkan, dengarkan.

GENDUT : (MENENANGKAN SISEDANG, DENGAN GERAKAN TANGANNYA SEPERTI SEORANG ATASAN KEPADA BAWAHANNYA) Pidato saya akan pendek sekali – sebagai perintah seorang prajurit. Pertama: saya tidak mau mempengaruhi pikiran dan pendapat kalian. Kalian harus menentukan sendiri. Saya hanya penyambung lidah kalian, apa yang saudara-saudara kehendaki, merupakan suatu pesan yang suci murni bagi saya dan akan saya laksanakan. Saya hanya makan apa yang akan diberikan kepada saya. Kedua: tidak dapat dipungkiri, saya memang orang yang sukar untuk dicernakan, maaf sukar dipengaruhi. Saya selalu lemah lembut, bertulang kuat serta berkulit tebal. Mempunyai backking yang kuat, oh maksudku tulang punggung yang kuat sekali meskipun kaki saya timpang. Saya tidak perlu malu-malu. Kenapa mesti saya sembunyikan? Ketiga: saya tidak ingin menjadi seorang provokator. Saya lebih suka bicara langsung. Sekiranya saya tidak terpilih, saya dengan gembira akan memberikan daging jatah saya. Daging-daging yang lunak yang saya peroleh, akan kuberikan pada kawan-kawanku semua. Dan saya akan senang menerima sisanya, asalkan lidahnya diberikan kepada saya. Sebab saya tidak mau menyerah pada kemauan lidah.

SEDANG : Bagus, jempol. Hidup pemimpin kita.

GENDUT : Cukup sekian. Hanya itu. Tak ada lagi ocehan, petuah atau filsafat yang akan saya sampaikan. Mari kita maju terus.

SEDANG : Bagus, bagus, dengarkan, dengarkan. Sekali lagi horeee. (SIGENDUT TURUN DARI KOTAKAN. SIKURUS DAN SISEDANG MENGGULUNG TANDA GAMBAR MEREKA)

GENDUT : (PADA SIKURUS) Apakah kau merasa puas?

KURUS : Kau sungguh hebat. Hanya……hanya itu……saya tak dapat makan daging yang lunak. Sayang, kurang baik untukku. Saya tak boleh makan daging. Sekiranya tak ada bedanya untukmu, maka saya me……

SEDANG : (BERDIRI TEGAK DI HADAPAN SIGENDUT) Bapak, ucapan selamat dari saya. Pidato Bapak sangat berkesan di dalam hatiku. Dalam soal lidah, saya benar-benar di pihak Bapak.

GENDUT : Ya, baiklah. Habislah sudah masa kampanye. Marilah kita adakan pemungutan suara.

KURUS : Sungguh-sungguh banyak terima kasih.

GENDUT : Terima kasih kembali. Apalagi yang dapat saya lakukan untuk anda saya selalu siap sedia. (GENDUT BERJALAN KESUDUT LAIN DARI RAKIT. KINI SIGENDUT DAN SISEDANG MENGISI KARTU-KARTU MEREKA. SEMENTARA ITU SIKURUS TERUS BERDIRI MEMBELAKANGI MEREKA SAMBIL MEMANDANG KE LAUT. KEMUDIAN PADA SAAT YANG BERSAMAAN MEREKA BERBALIK, BERJALAN KETENGAH RAKIT DAN MENARUH KARTU-KARU MEREKA DI ATAS TOPI) Kini kita akan menghitung suara.

SEDANG : Bagus sekali. Pemilihan ini tentunya akan mempertajam selera.

KURUS : Semoga anda lebih bijaksana. (SIGENDUT MENARUH TANGANNYA DI ATAS TOPI. KEMUDIAN MENGANGKAT KEPALANYA DAN MENATAP SIKURUS DENGAN TENANG. PAUSE AGAK LAMA) Ada apa? Apa yang telah terjadi?

SEDANG : Bagaimana hasilnya?

GENDUT : Saudara-saudara. Kita harus membatalkan pemilihan ini.

SEDANG : Mengapa? Aku lapar.

KURUS : Apakah kamu mencoba menyabot pemilihan kita yang bebas dan demokrasi?

GENDUT : Di atas topi ada empat kartu. Empat. (SEPERTI SEBELUMNYA SIGENDUT MEMANDANG SIKURUS DENGAN CURIGA. BEGITU JUGA SEDANG)

KURUS : (MERASA TAK BERSALAH) Saya bilang bahwa demokrasi telah usang.

SEDANG : Apa yang terjadi sekarang?

GENDUT : Inilah suatu krisis kabinet. Mungkinkah akan lebih mudah untuk menunjuk atau mengangkat seorang calon?

KURUS : Persis. Seperti yang kuduga. Tidak. Itu di luar pertanyaan.

SEDANG : Suatu pekerjaan yang paling buruk. Demokrasi tidak berjalan. Tirani tidak dapat diterima. Kita harus pikirkan sesuatu.

GENDUT : Dalam saat-saat seperti ini satu-satunya orang yang dapat menolong kita adalah seseorang yang berbakti dan terilhami yang mau menawarkan dirinya sendiri. Bila bentuk normal dari tingkah laku gagal. Sering petualang-petualanglah yang menyelamatkan keadaan. (MENYIAPKAN SEKALI LAGI UNTUK PIDATO) Kawan yang terhormat……

KURUS : Oh, tidak. Aku tak mau mendengarkan kamu.

SEDANG : Dengarkan dia.

GENDUT : Kawan yang terhormat. Kita tahu bahwa ciri-ciri khas sesuatu bakti terhadap tugas, kasih sesama dan ketaatan tidak dapat dibatalkan. Sejak saat pertemuan kita saya lihat bahwa dalam dirimu terdapat sesuatu yang berbeda dari kami. Saya tentu saja menunjuk kepada keluhuranmu yang asli, hasratmu yang teguh untuk membantu kebaikan, kesediaan untuk……Bukan begitu kawan?

SEDANG : (BEGITU INGIN) Selama hidupku belum pernah kujumpai orang sebaik dia.

GENDUT : Kami bahagia karena akhirnya masyarakat memberimu kesempatan untuk memenuhi keinginanmu yang murni, yaitu kerinduanmu untuk diingat oleh kita sebagai seorang yang sopan, taat, ramah, menyenangkan, berlimpah……

KURUS : Tidak. Saya tidak mau.

SEDANG : Apa? Kamu tidak mau maju secara sukarela?

KURUS : Tidak.

SEDANG : Itu hina sekali.

GENDUT : Apakah kamu akan mengkhianati kawan-kawanmu? Sungguh-sungguh kamu harus……

KURUS : Tidak.

GENDUT : Apakah kamu benar-benar menolak?

KURUS : Aku menolak secara mutlak.

SEDANG : Saya tak hendak bicara kepadamu lagi. Saya kira anda seorang terhormat, pahlawan dari rakit kita. tetapi ternyata anda telah berlaku sebagai seorang bangsat. Selamat tinggal. (PERGI DAN MEMBELAKANGI SIKURUS)

GENDUT : Kami sangat kecewa. Jelaslah bahwa kehormatan tiada artinya bagimu. Akan tetapi mungkin anda dapat menyerahkan suatu jalan keluar yang lain, bukan?

KURUS : (DENGAN KEYAKINAN BERTAMBAH) Ya, tentu saja. Satu-satunya jalan yang kuminta adalah keadilan. Keadilan dalam segala hal, tidak lebih tidak kurang.

GENDUT : Anda heran terhadapku?

KURUS : Mengapa?

GENDUT : Bagaimana anda dapat yakin bahwa keadilan tidak akan menentangmu, maksudnya terhadapmu. Terhadap engkau sebagai calon?

KURUS : Halnya amat sederhana. Hidupku begitu malang dan menyedihkan. Bahkan semasa kanak-kanak tak sesuatupun pernah terjadi padaku. Lingkungan menentangku sedemikian……

GENDUT : Nah, anda mengira bahwa keadilan yang universal itu akan mengganti ketidak bahagiaanmu hingga kini?

KURUS : Ya.

GENDUT : Itu suatu hal yang luar biasa, bahwa orang yang hanya mengeluh mengenai kekurangadilan adalah anasir-anasir yang tidak bertanggung jawab. Mereka menuntut keadilan, hanya karena mengharapkan keuntungan dari sukses orang lain.

KURUS : Tidak, aku tidak mengundurkan diri. Aku menyetujui apapun. Dengan syarat bahwa keputusan adil.
GENDUT : Kau maksudkan dengan syarat bahwa engkau tidak dimakan?

KURUS : Nah, kau menyindir. Keadilan pertama-tama, bukan?

GENDUT : Marilah duduk, tuan-tuan. Saya tahu ini sesuatu yang sukar, tetapi harus kita laksanakan.

SEDANG : Aku tak mau bicaranya kepadanya. (MEREKA MENGAMBIL TEMPAT SEPERTI PADA PERMULAAN)

GENDUT : (KEPADA SISEDANG) Kawan terhormat. Apakah ibumu masih hidup?

SEDANG : (RAGU-RAGU) Aku……aku tidak tahu. Saudara pimpinan……bagaimana tentang ibumu?

GENDUT : (MENENGADAH KELANGIT) Malang nasibku, aku telah menjadi anak yatim sejak kelahiranku. Oh ayah – ibuku yang malang.

SEDANG : (TERGESA-GESA) Itulah justru yang ingin kukatakan. Terus terang, aku tak punya ayah–ibu.

GENDUT : (KEPADA SIKURUS) Bagaimana dengan engkau?

KURUS : Aku punya ibu. Mulai saat ini ia bersedih dalam kesepian. Ibuku yang malang.

GENDUT : Jelaslah bagiku dari segi keadilan, persoalannya mudah saja. Sungguh-sungguhkah akan bertentangan dengan suara hatimu untuk menggangu seorang anak yatim? Bahkan orang-orang buaspun berpendapat bahwa menjadi yatim adalah salah satu dari kemalangan-kemalangan yang paling hebat. Tidak tuan-tuan, jika salah seorang dari kita sebagai anak yatim dimakan, hal itu akan merupakan suatu tamparan terhadap keadilan yang paling dasar. Bukanlah menjadi yatim sudah cukup menderita, hingga ada alasan untuk tidak usah dimakan.

KURUS : (DALAM KEBINGUNGAN) Tetapi……

GENDUT : Tidak, tuan yang terhormat. Sekarang persoalannya terang benderang seperti di siang hari. Anda punya seorang ibu, nasibmu ternyata lebih baik di bumi ini. Janganlah anda berpendapat bahwa kini tiba waktunya untuk membayar hutang moril kepada anak-anak yatim di dunia ini yang tidak pernah mengenal perhatian seorang ibu, kehangatan suasana rumah dan makanan yang berlimpah. Terutama karena kau katakan tadi bahwa ibumu masih sedih akan kematianmu.

KURUS : (DENGAN PUTUS ASA MENCARI JAWAB ATAS PERTANYAAN TERSEBUT) Aku tidak tahu, mungkin ibuku telah meninggal. Terakhir kali aku melihatnya, ia merasa sangat lemah. Telah bertahun-tahun aku tidak pulang kerumah.

GENDUT : Nah, kini anda bicara seperti kanak-kanak. Bagaimana dapat kita buktikan hal-hal seperti itu?

KURUS : Segala yang dapat kukatakan adalah bahwa ia merasa tak sehat. Waktu aku berangkat, begitu banyak pembicaraan tentang penyakit di dunia modern……

GENDUT : Khayalan-khayalan artistik!

SEDANG : Jangan bicarakan hal itu, kawan. Ada hal-hal yang lebih baik dilupakan saja.

GENDUT : Dan ingatkah kau akan sanak keluarga yang jauh, tiran keji yang mengambil keju untuk umpan pasangan tikus?

SEDANG : (MERINTIH) Impian-impian buruk masa silam. (GENDUT BERDIRI DENGAN TENANG DENGAN TANGAN TERENTANG DI MUKA SIKURUS, SEOLAH-OLAH BERKATA: ANDA LIHAT, TIDAK SATUPUN DAPAT KITA LAKUKAN)

KURUS : Maafkan, saya kira saya mendengar seseorang sedang bicara di lautan. (MENDENGARKAN)

GENDUT : Anda mengalihkan pembicaraan. Memang. Penderitaan manusiawi tidak menimbulkan keharusan dalam dirimu, tetapi sama semua: anak-anak egois dari ibu-ibu…… (TERDENGAR SUARA LEMAH DI LAUTAN)

SEDANG : (DENGAN MENUDUH) Ia menghabiskan masa kanak2nya dengan bermain-main.

GENDUT : Benar, dengan mainan dan boneka. (SUARA YANG SAMA. KALI INI LEBIH DEKAT)

SUARA : Tolong…… tolong……

KURUS : Tidak, aku tidak melakukan hal itu. Aha, aku sungguh2 mendengarnya saat itu.

SUARA : Tolong……

GENDUT : Ya, ada seseorang berenang ke arah kita. anak2 yatim selalu mendapat yang paling buruk dari nasib baik.

SEDANG : (BERDIRI DAN MELIHAT KELUAR) Mungkin seseorang membawa makanan, saudara ketua. Aku dapat melihat lebih jelas kini, ia hanya berenang dengan satu tangan. Tangan lain sedang memegang sesuatu. (GENDUT DAN KURUS JUGA BANGKIT DARI KURSI MEREKA DAN BERJALAN KE TEPI RAKIT DI MANA SEDANG BERADA)

KURUS : Ya, itu mungkin. Seorang petani dalam perjalanannya ke pasar jatuh ke dalam air bersama dengan babinya. Dan waktu berenang mempergunakan satu tangannya untuk menggantung babi, satu2-nya harta miliknya……

GENDUT : Itu dia, aku dapat melihatnya.

SEDANG : Seseorang memakai pakaian seragam.

SUARA : (SANGAT DEKAT) Tolong. (SEORANG TUKANG POS MEMANJAT NAIK DARI LAUT, DENGAN SERAGAM LENGKAP, PECI DAN DENGAN TAS KULITNYA TERGANTUNG PADA LEHERNYA. SEDANG MENGULUR-KAN TANGAN KEPADANYA DAN MENARIKNYA KE ATAS RAKIT)

TK. POS : Banyak terima kasih.

GENDUT : Apakah anda bawa makanan?

TK. POS : Sama sekali tidak. Aku dapat menahan diri. Aku tidak punya sesuatupun sejak makan pagi. (MEMPERHATIKAN KURUS) Astaga, kamu di sini. Ketepatan yang luar biasa.

GENDUT : (DENGAN CURIGA) Anda saling mengenal?

TK. POS : Ya, tentu saja. Selama sepuluh tahun aku biasa mengantar surat untuknya. Aku sendiri sama sekali tidak menduga akan bertemu anda di tengah2 lautan. Banyak hal yang telah berubah cepat, seperti yang kini terjadi. Aku membawa telegram untukmu.

KURUS : Telegram untukku?

TK. POS : Ya, waktu itu aku berjalan ke arah rumahmu. Di tepi pantai akan menyerahkan telegram ini, ketika sebuah gelombang menghanyutkanku. Untunglah aku pandai berenang. (MELIHAT DALAM TAS) Ini.

KURUS : (BERGERAK KE ARAH SALAH SATU SUDUT UNTUK MEMBUKA DAN MEMBACA TELEGRAMNYA) Permisi sebentar.

GENDUT : (DENGAN CURIGA, KEPADA TUKANG POS) Apakah seragammu asli?

TK. POS : Asli, hanya saja basah. Anda tahu karena kena air……

KURUS : Horeeeeee……

GENDUT : Apa yang terjadi?

KURUS : (SAMBIL MEMPERTIMBANGKAN SESUATU) Tuan2, aku mengalami kesusahan hebat. Ibuku telah meninggal dunia.

SEDANG : Astaga.

KURUS : Dan kembali ke pokok pembicaraan, ijinkan aku menyatakan bahwa kini aku seorang yatim seperti kamu dan karenanya kita harus membuka kembali diskusi dan sekali lagi mempertimbangkan mengenai hal bahwa salah seorang dari kita dimakan.

GENDUT : Aku protes. Itu tipu muslihat. Kamu telah merencanakan semuanya dengan tukang pos ini.

TK. POS : (DENGAN SIKAP SOMBONG) Anda menghina seorang petugas negara yang sedang melaksanakan tugasnya?

GENDUT : Berapa rupiah kau bayar dia? Saya kira kamu dulu teman sekelas.

KURUS : Tuduhanmu tidak beralasan sama sekali. Silahkan menanyai sendiri tukang pos ini, apakah aku bersekongkol dengan dia atau tidak?

GENDUT : Baik, akan kami tanyai dia. Jika dia bilang ya, jika ia memberi kesaksian adanya kejahatan, kami akan memakan kamu tanpa ijin untuk naik banding. Jika ia menyangkal, kami akan memakan tukang pos ini.

TK. POS : Apa2an pula ini dengan memakan aku segala? Aku baru saja datang.
GENDUT : Itulah alasannya. Kamu masih segar……dan pasti memenuhi selera.

SEDANG : Saudara ketua, apakah anda mempertimbangkan kami seharusnya memakan keduanya ini? Yang seorang digoreng dan lainnya dimakan dengan sayuran mentah atau buah2an rebus? Atau kita dapat menjajar atau menaruh yang satu di atas yang lainnya……

KURUS : (DENGAN PENGHARAPAN) Mungkin bahwa tukang pos ini bukan seorang anak yatim? Lihatlah kami bertiga ini, tiada rumah, ditinggalkan, terlantar……kami sebaiknya menanyai dia, bukan?!

GENDUT : (MASIH BERPIKIR MENGENAI MAKAN) Tidak, aku lebih suka membuat anggur dari yang satu ini. hanya bagaimana membuat anggur burgundy dari seorang tukang pos?

TK. POS : (PENUH KEINGINAN UNTUK GABUNGKAN) Ya, memang. Aku seorang tukang pos kelas satu, tetapi seorang hamba yang sangat miskin.

SEDANG : (KEPADA TUKANG POS) Jika engkau memberikan kesaksian palsu bahwa kita berkolusi, saya akan melaporkanmu ke Direktorat Pos dan Telegram.

TK. POS : Jangan khawatir. Aku telah mengabdi selama 30 tahun lebih tanpa cela.

GENDUT : Kita boroskan waktu saja. Apakah kamu bersekongkol dengan orang ini? Ya atau tidak? Jika jawabannya ya dan berita kematian ibunya ternyata palsu kami akan memberi ginjal dan barangkali juga bagian yang empuk lainnya. Akan tetapi jika keteranganmu benar, maka kami bertiga anak yatim ini akan memakanmu berdasarkan alasan sederhana bahwa engkau seorang tukang pos. kantor pos adala suatu lembaga umum dan karenanya harus mengabdi semua orang.

KURUS : Harap jangan merusak nama baikmu.

TK. POS : Hal itu tak perlu ditakutkan. Selama bertahun2 saya telah hidup sebagai tukang pos yang jujur, aku tak dapat disuap dengan ginjal.

GENDUT : Kami barangkali dapat memberimu lutut sebagai tambahan, tetapi kuperingatkan kamu bahwa itu semua tergantung dari sejauh mana kita mendapat kemajuan dalam soal ini.

TK. POS : Tidak, tuan. (SAMBIL MENUNJUK PAKAIAN SERAGAMNYA) Anda lihat seragam ini? Keluhuran dari seragam ini kuhargai lebih dari segala2nya. Selamat tinggal. (TERJUN KE DALAM AIR)

KURUS : Tidak, jangan pergi, jangan pergi. Katakan dulu kepada mereka ini bahwa aku tidak bersalah. Tunggu. (SAMBIL MELAMBAIKAN SURAT TELEGRAM) Nah, kawan2, anda lihat dari segi keadilan, keadilan kita adalah identik. Kita bertiga ini anak yatim.

GENDUT : (SECARA KEBETULAN PADA SEDANG) Maukah engkau menyiapkan makan. Semuanya yang diperlukan ada dalam koporku.

KURUS : Apa? Kawan2ku anak yatim, menyiapkan……

GENDUT : Anda lupa bahwa ada macam2 keadilan. Misalnya keadilan sejarah.

KURUS : Apa maksudmu?

SEDANG : (SEMENTARA ITU TELAH MEMBUKA KOPOR) Saudara ketua, apakah kita membutuhkan juri?

GENDUT : Suatu kenyataan bahwa kita bertiga tanpa orang tua tidaklah menempatkan kita pada taraf yang sama. Persoalan yang perlu dipertimbangkan: Siapakah orang tua kita?

KURUS : Astaga, mereka……lagi2 orang tua.

GENDUT : Hahaha. Dan siapakah ayahmu?

SEDANG : Bagaimana mengenai penggilingan adonan?

KURUS : Ayahku? Ia seorang pekerja kantor. Bagaimana tentang ayahmu?

TK. POS : (MUNCUL DARI LAUT, BERSANDAR PADA TEPI RAKIT) Maaf, saya lupa tanda terima. Segala pembicaraan mengenai makan orang, membuat hilang akal.

KURUS : Dimana aku harus tanda tangan?

TK. POS : Di sini. (KURUS MENANDATANGANI TANDA TERIMA) Selamat tinggal. (BERENANG PERGI)

GENDUT : Jadi ayahmu seorang pekerja kantor? Persis seperti kuharapkan. Anda tahu menjadi apakah ayahku?

KURUS : Tidak.

GENDUT : Ia seorang penenbang kayu sederhana yang buta huruf. Memang ayahnya tidak pernah punya ayah. Ibunya menggendong dia sebagai hasil kekhawatiran, kemiskinan, kesusahan yang berlebihan. Anda tahu sementara ayahmu mengisi formulir2 kantor sebagai budak aristokrasi, sambil duduk enaknya dalam kantor yang hangat, bersih, ayahku sedang menebang pohon2an untuk bahan kertas, sehingga ayahmu dapat mempunyai kertas untuk menulis pemberitahuan, untuk pemecatan2 yang kemudian ia kirimkan kepada ibu dari temanku di sini, yang tak pernah punya ayah. Kuharap anda merasa malu terhadap dirimu sendiri. (SEDANG MENGELUARKAN DARI KOPOR EBERAPA PERKAKAS DAPUR, YANG DILETAKKANNYA DI RAKIT. KINI IA MENGELUARKAN SEBUAH MESIN PENGIRIS, YANG DICOBANYA DENGAN MEMUTAR TANGKAINYA BEBERAPA KALI)

KURUS : (MENGERTI BETAPA SINDIRAN2 GENDUT MENGARAHKAN KEPADA PERCOBAAN UNTUK MEMPERTAHANKAN DIRI DENGAN UNGKAPAN YANG SAMA) Tetapi saya tak dapat berbuat apa2 mengenai hal itu.

GENDUT : Oleh sebab itu keadilan yang diputuskan sekarang bahwa engkau akan dimakan, disebut keadilan historis.

HAMBA : Yang Mulia. Yang Mulia.

GENDUT : Ya Tuhan, apa yang terjadi sekarang? (DI SISI PANJANG RAKIT NAMPAK KEPALA SEORANG TUA BUTLER YANG TELAH BERUBAN)

HAMBA : Yang Mulia, alangkah bahagianya aku dapat bertemu dengan Yang Mulia.

GENDUT : Apa katamu?

HAMBA : (HAMPIR MENANGIS KARENA EMOSI) Tidaklah Yang Mulia mengenalku? Tidak ingatkah Yang Mulia bagaimana saya mengajarmu menaiki kuda, tatkala Yang Mulia masih kanak2?

GENDUT : Pergi!!!

HAMBA : Betapa mengherankan bahwa mataku yang tua ini akan melihatmu sekali lagi, Yang Mulia. Semua orang di istana begitu khawatir. Tatkala terdengar berita bahwa kapal Yang Mulia tenggelam, aku tak dapat menahan diri lagi. Aku bilang pada diri sendiri, kemana ia pergi, aku pergi juga. Nasibnya adalah nasibku. Maka aku terjun ke laut dan sampai di sinilah aku sekarang. Alangkah bahagianya, oh?!

GENDUT : Silahkan meninggalkan rakit dan tenggelam.

HAMBA : Tentu Yang Mulia. Alangkah untungnya, betapa mengagumkan. (LENYAP)

KURUS : Jangan, jangan kawan baik, jangan tinggalkan kami. Datanglah kemari…… Ia telah tenggelam.

GENDUT : (DENGAN NADA SE-OLAH2 TAK TERJADI APA2) Seperti saya bilang, anda dapat melihat keadilan historis itu……

KURUS : (MENJADI GEMBIRA) Memang. Aku tahu bahwa anda biasa hidup di istana dan anda belajar naik kuda……

GENDUT : Kuda? Bahkan ayahku tak mampu membeli kuda yang paling jelekpun. Kamu berpikir tentang masa kanak2mu sendiri yang begitu hina.

KURUS : Kini berakhirlah sudah. Apakah anda mengatakan bahwa aku, aku yang pernah naik kuda?

GENDUT : Memang. Kamu mengatakannya sendiri tadi.

KURUS : Tidak, ini melampaui segala pengertian. Aku menyatakan sungguh2 aku tidak punya hubungan apapun dengan seekor kuda.

GENDUT : Lebih2 aku. Ayahku yang miskin bahkan tak mengenal kata “kuda”. Ia buta huruf.

SEDANG : (SELAMA INI MENYAKSIKAN ADEGAN TERSEBUT. BERDIRI DI ANTARA BERMACAM-MACAM ALAT DAPUR DENGAN SEBUAH PANCI DI TANGANNYA) Kuda kecil yang malang. Tak seorangpun menginginkannya. (KEPADA KURUS) Tidakkah anda punya rasa belas kasihan kepada binatang? Apapun yang terjadi memiliki dia adalah merupakan sisa-sisa paling bahagia dari masa kanak2mu.

KURUS : Tetapi seseorang tadi?
GENDUT : Seseorang mana? (KEPADA SEDANG) Kau, adakah kau melihat seseorang?

SEDANG : Tentu saja tidak.

GENDUT : Kawan, saya takut saya tidak bisa lagi mengatakan sesuatu kepadamu dalam diskusi ini. Anda menderita halusinasi.

SEDANG : Kau seorang gila.

GENDUT : Dan sekarang sebagai seorang yang tidak bertanggung jawab atas tindakan2nya alangkah baiknya bagimu untuk menyerahkan dirimu kepada orang2 yang tahu apa yang mereka kehendaki. Engkau harus dikeluarkan dari kehidupan masyarakat dan sesuatu yang paling baik bagi masyarakat ialah memakan kamu. (KEPADA SEDANG) Ataukah anda tidak keberatan menyiapkan makan?

SEDANG : Haruskah kukeluarkan sendok2 teh?

GENDUT : Tentu. Ini adalah makan siang yang khas. (SEDANG MENARUH SENDOK2 TEH)

SEDANG : Satu atau dua pisau?

GENDUT : Dua. (SEDANG MENARUH PISAU2)

SEDANG : Kain meja makan?

GENDUT : Memang segala sesuatu harus seperti adanya. Kita ini orang2 yang berbudaya. (SELAMA PERCAKAPAN TERSEBUT KURUS MUNDUR KE TEPI RAKIT. MENARIK SATU KURSI DI BELAKANGNYA DAN BERSEMBUNYI DI BALIKNYA. SEDANG MENARUH KAIN MEJA PUTIH MELINTANG DI TENGAH RAKIT DAN DENGAN HATI-HATI MENARUH DUA TEMPAT GENDUT BERHENTI MENGAWASI KURUS. MALAH IA MENGAWASI SEDANG DAN TIAP KALI MEMBUAT ISYARAT KEPADANYA MENGENAI DIMANA BERMACAM2 BARANG ITU HARUS DITARUH. SEGERA MEJA SELESAI DISIAPKAN, KURUS MENANTI MEREKA GEMETAR DARI BELAKANG KURSI)

KURUS : (DENGAN KETAKUTAN) Maaf, sebentar.

GENDUT : (TIDAK MEMPERHATIKANNYA) Geser pisau, garpu, sendok, sedikit ke kanan.

KURUS : Saya kira, saya harus bilang kepada anda…… bahwa aku sedang keracunan.

GENDUT : Tempat buah di tengah2.

KURUS : Saya sungguh2. saya tidak mau bilang kepadamu sebelumnya. Saya akan sangat tidak baik bagimu.

GENDUT : (MENGAMBIL SATU GARPU DAN MENGAMATINYA) Bersih ini.

KURUS : Aku tidak hendak membuat kesukaran. Aku tidak hendak menyakitimu. Aku suka makan enak dan aku tahu apakah akibat rakus pada seseorang. Jika aku tidak keracunan, aku takkan menghalang2i, aku berjanji. Tetapi karena demikian halnya, maka dengan jelas tugasku……

GENDUT : Marilah kita mulai.

KURUS : (MUNDUR MASIH LEBIH JAUH KE KANAN KE PINGGIR RAKIT) Aku tak bilang bahwa ini tak bisa disembuhkan. Tidak, yang harus anda lakukan adalah menunggu sebentar dan racun itu akan hilang. Satu atau dua hari istirahat dan aku akan sembuh dari keracunan. Aku akan berbaring di sini, di sudut sana agar tidak mengganggumu. Segera setelah aku tidak keracunan, aku akan bilang kepadamu. Aku tidak akan minta dimaafkan lagi. (SEDANG MASIH TERUS MEMPERTAJAM PISAU SECARA BERIRAMA. GENDUT MELIHAT SEKALI LAGI KE MEJA MENELENGKAN KEPALANYA, MEMPERTIMBANGKAN-NYA, BERJALAN KE KOPER, DAN MEMINDAHKAN DARI SITU BEBERAPA VAS BUNGA. IA MENARUH BUNGA2 DI DALAM VAS DAN MENARUH VAS TERSEBUT. DI ATAS “MEJA”. KEMUDIA IA MENGAMBIL BEBERAPA LANGKAH KE SAMPING DAN MEMERIKSA HASIL PEKERJAANNYA. HANYA KINI IA MERASA PUAS)

KURUS : (MENJADI MAKIN KURANG YAKIN AKAN DIRINYA) Nah, mungkin dua hari agak terlalu lama. Paling lama satu hari. Anda mengenal peribahasa: “Apa yang haru kamu makan hari ini, lebih baik kamu makan besok pagi”. – ha, ha, ha, (SEDANG MENCOBA TAJAMNYA PISAU DENGAN JARINYA) Aku kira beberapa jam akan cukup. Bahkan satu jam.

GENDUT : Kini waktunya akan mulai. (SEDANG MAJU SELANGKAH KE ARAH TEMPAT KURUS)

KURUS : (DENGAN TER-GESA2) Baik, baik. Aku setuju. Hanya perkenankan aku sedikit menasehatimu. Demi untuk kepentinganmu sendiri.

GENDUT : Tentang apa?

KURUS : Nasehat mengenai makanan enak. Nasehat yang benar2 to the point. Bukankah…… bukankah akan lebih baik jika aku menuci kakiku lebih dulu? (SEDANG MEMANDANG DENGAN MENYELIDIK KEPADA GENDUT)

GENDUT : Memang, aku tidak pernah berpikir tentang hal itu. (KEPADA SEDANG) Bagaimana menurutmu?

SEDANG : (RAGU2) Aku tak tahu…… mungkin ia agak kotor dan sedikit berpasir…… mungkin memang seharusnya ia dicuci.

KURUS : (DENGAN CEPAT MENYISINGKAN CELANANYA) Ya, ya. Anda benar sekali. Kesehatan adalah dasar dari suatu kehidupan yang sehat. (MENGGARUK KAKI) Bakteri tidak nampak oleh mata biasa dan aku dapat merasakan gatal karenanya.

GENDUT : Baik sekali. Kebersihan pribadi tidak pernah menyusahkan seseorang. Sebaliknya ia menentukan suatu hidup yang panjang dan sehat. Tunggu sebentar, akan kuambilkan handuk. (KURUS DUDUK PADA TEPI RAKIT DAN MENJUNTAIKAN KAKINYA KE LAUT. IA MENCUCI DAN MEMERCIK-MERCIK)

KURUS : Nah, kamu berdua telah benar2 memutuskan untuk…… untuk……

GENDUT : Saya kira hal itu sudah jelas bagi kita.

KURUS : Anda mengatakan tentang pengorbanan diri……

GENDUT : Ya, aku bilang bahwa pengorbanan diri adalah suatu cita2 mulia.
KURUS : (MENDENGARKAN DENGAN PERHATIAN) Ya? Ceritalah lebih banyak.

GENDUT : Saya kira tak ada sesuatupun yang dapat kutambahkan. Pengorbanan diri, kesediaan mempersembahkan diri.

KURUS : Ya, aku tahu semuanya itu benar.

GENDUT : (BERDIRI DI ATAS DI DEKATNYA DENGAN SEBUAH HANDUK) Mengertikah anda sekarang? Anda tak mau percaya kepadaku sebelumnya.

KURUS : Aku memang sangat mentah dan kurang pengalaman…… tetapi kini aku melihat ada sesuatu dalam kata2mu.

GENDUT : (DENGAN MEMBESARKAN HATI) Anda masih punya waktu untuk memperbaiki.

KURUS : Aku telah terlalu aib. Aku telah menolak semua pernyataan2mu.

GENDUT : Tetapi sungguh2 dalam lubuk hatimu, anda bukanlah orang yang sinis, menurut pertimbangan perasaan-muliaku, aku dapat melihat permulaan kemajuan. Bukankah kaki yang sebelah itu sudah cukup?

KURUS : Belum, aku harus mencuci sela2 jari. Jadi kembali ke pokok pembicaraan, aku harus bilang kepadamu bahwa dalam diriku, mulai saat ini bangkit manusia baru yang lebih baik. Eeemmm, ngomong-ngomong, apakah anda tidak keberatan menarik kembali pendapat itu?

GENDUT : (DENGAN TIDAK SABAR) Astaga.

KURUS : Tidak, tidak, memang begitulah. Jadi apa yang telah kubicarakan? Aha, manusia baru yang lebih baik? Memang, apabila sesuatu dimakan sebagai sesuatu kurban manusia biasa, tentu saja sangat berbeda apabila yang dimakan sebagai orang manusia baru yang lebih baik dan diluar dari penyerahannya sendiri. Dengan kata lain, dimakan dengan persetujuan batin sendiri dan ilham yang luhur. Anda berjanji kepadaku, bahwa segala sesuatu telah diputuskan, bukan?

GENDUT : Dengan segala hormat.

KURUS : Ha, buruk sekali. Baiklah…… apakah yang kukatakan? Aha, itu memberikan rasa puas kepada seseorang, suatu perasaan bebas dan merdeka……

GENDUT : Akhirnya anda mengerti pandangan kami. (KEPADA SEDANG) Kawan, coba sabunnya bawa kemari.

KURUS : (DENGAN GEMETAR) Karena anda seharusnya tak berpendapat bahwa aku hanyalah seorang budak.

GENDUT : Tetap terjamin, aku tidak akan berpendapat begitu tentang dirimu. Sebaliknya anda akan turun ke dalam perut kami – saya maksud ke dalam ingatan kami – sebagai seorang pahlawan, sebagai suatu mercu suar dari pembaktian yang tidak mencari untung. Saya kira kaki sebelah telah selesai, bukan?

KURUS : (BAHKAN LEBIH GEMETAR) Memang telah selesai. Kaki kanan telah selesai juga. Berikan handuk itu dan aku akan keluar dari air.

GENDUT : Tidak, saya kira sebaiknya kau cuci kaki kanan sedikit lagi……

KURUS : Baiklah.

GENDUT : Saya kira itu akan lebih baik.

KURUS : Ya, aku adalah orang pertama yang membuat keputusan agung ini. Aku adalah orang pertama yang bangkit untuk mengorbankan diri bagi orang2 lain……

SEDANG : (MEMANDANG KURUS DENGAN SIKAP MENGECAM) Kukira anda membutuhkan obat pembersih.

GENDUT : Tidak, tidak ada yang keliru mengenai obat pembersih. Kita dapat menunggu beberapa saat lagi.

KURUS : Tunggu?! Bukankah kawan2ku sudah kelaparan? (MENCOBA UNTUK BANGKIT, TETAPI SIGENDUT MENAHANNYA TETAP DUDUK)

GENDUT : Sebentar lagi kaki kananmu akan selesailah sudah.

KURUS : Kakiku rupanya begitu tak berarti, kini aku telah melihat sinar terang. Mereka mungkin sama kotornya.

GENDUT : (MENYERAHKAN HANDUK KEPADANYA) Baik, dan inilah handuknya. (KURUS BANGKIT DAN BERJALAN KE TENGAH2 RAKIT)

KURUS : Tuan2, terima kasih. Akhirnya aku telah menjadi manusia yang benar2. aku telah insyaf bahwa aku seorang manusia ideal.

GENDUT : Terima kasih kembali.

KURUS : Aku telah menginsyafi harga diriku. Meskipun demikian, bagaimana keadaan sebenarnya kita disini bertiga dan di antara mereka akulah satu2nya orang yang menyelamatkan dua orang lainnya. Aku ingin jika diinginkan sedikit berpidato mengenai soal kebebasan.

GENDUT : Panjangkah pidato itu?

KURUS : Tidak, hanya beberapa kata.

GENDUT : Baik, silahkan.

KURUS : (MENARIK SATU KURSI KE SISI RAKIT DAN NAIK KE ATASNYA. DENGAN CARA YANG SAMA SEPERTI PADA PIDATONYA PADA PERMULAAN ADEGAN) Kebebasan tidak berarti apa2. Hanyalah kebebasan yang benar yang mempunyai arti. Mengapa? Karena ia benar, dan karenanya ia lebih baik. Dalam hal apa sebenarnya kita harus mencari kebebasan yang benar? Marilah kita berpikir secara logis. Jika kebebasan benar tidak sama dengan kebebasan biasa, dimana kita akan menemukan kebebasan yang benar2 ini? Jawabnya sederhana: kebebasan benar hanya terdapat di tempat dimana tidak ada kebebasan biasa.
SEDANG : Saudara Pimpinan, dimana garamnya?

GENDUT : Jangan menggangu. Secara jujur, alangkah baiknya waktu untuk……. (DENGAN SANGAT TENANG) Di dasar koper.

KURUS : Dan karenanya aku telah memutuskan…… (SEDANG PERGI KE KOPER DAN MELIHAT KE DALAMNYA. LALU BER-GESA2 KE GENDUT)

KURUS : Dan karenanya aku memutuskan…… (IA MENGULANGI KATA2 INI DAN MELANJUTKAN MENGULANGINYA SEPERTI SEBUAH PIRINGAN HITAM, HANYA TIDAK MONOTON, TAPI MENG-INTERPRETASI-NYA DALAM CARA LAIN, SE-OLAH2 IA DENGAN PUTUS ASA MENCARI2 APA YANG AKAN DIKATAKAN)

SEDANG : (DENGAN BER-API2, AGAK BERBISIK TAPI SANGAT TERANG) Saudara Pimpinan, aku telah menemukan kaleng kacang panjang dan sosis.

GENDUT : Ssssssttttt. Sembunyikan cepat.

KURUS : Dan karenanya aku telah memutuskan……

SEDANG : Terus terang aku lebih suka kacang panjang. Apa pendapatmu, Sdr. Pimpinan?

GENDUT : Aku tidak suka kacang panjang. Dan meskipun begitu……

KURUS : Dan karenanya aku telah memutuskan……

SEDANG : Meskipun begitu apa?

GENDUT : (MENUNJUK KEPADA KURUS) Tidak lihatkah kau? Ia berbahagia sebagaimana ia adanya.



BLACK OUT. SELESAI.


TEMPAT ISTIRAHAT -David Campton



(DI PEKUBURAN UMUM, TERDENGAR SUARA-SUARA BURUNG. DERU RIBUT KENDARAAN DI KEJAUHAN. SEPASANG ORANG TUA SEDANG DUDUK DI BANGKU. HARI SUDAH SORE).

Nenek : Jadi jauh.

Kakek : Jadi lebih jauh.

Nenek : Aku gembira bisa duduk di sini. Bagaimanapun, kebaikan merekalah menempatkan bangku di sini, dimana kita bisa bebas melihat bunga.

Kakek : Apa yang akan kita makan nanti malam?

Nenek : Sudah bertahun-tahun.

Kakek : Kukira aku mulai lapar.

Nenek : Maret, Juli, September. Sudah September lagi. Tak banyak di kota besar, dimana kau bisa bebas melihat bunga, kecuali di pasar bunga atau di toko-toko. Tapi kau tak dapat duduk-duduk di sana. Aku gembira kita bisa ke sini pulang belanja. Di sini bisa duduk-duduk sambil memandangi bunga-bunga, di pekuburan ini.

Kakek : Tak dapat lama-lama.

Nenek : Kita beruntung mendapatkan pekuburan di tengah perjalanan pulang.

Kakek : Beruntung?

Nenek : Sungguh tenteram di sini.

Kakek : Tak lama bedug akan berbunyi dan adzan akan berkumandang. Hari sudah maghrib. Kita akan pulang. (HENING, MAU PERGI) Kita harus pulang kalau sudah maghrib. (HENING) Hari akan jadi gelap. Kita harus di rumah (HENING) Makan malam.

Nenek : Tak ada tempat yang lebih tenteram daripada dalam kuburan.

Kakek : Tak dapat lagi menaiki pagar, seperti biasanya dulu.

Nenek : Nisan-nisan dari batu marmer.

Kakek : Kau dengan nisan-nisanmu.

Nenek : Sebuah nisan dipahat dengan ayat-ayat suci.

Kakek : (MELIHAT PADA KERANJANG BELANJAAN) Apa di keranjang itu?

Nenek : Pahatan yang halus, pada batu marmer putih.

Kakek : Ada sesuatu dalam keranjang itu yang tak kuketahui apa.

Nenek : Di atasnya diberi atap dari seng. Tiang-tiangnya dari besi. Sungguh aman berada di bawah atap yang kokoh.
Kakek : Kulihat kau memungut sesuatu tadi. Aku melihatnya dengan sudut pandangku ketika di muka penjual, kau selipkan sesuatu ke dalam keranjang.

Nenek : Nisan yang indah. Satu dua jambangan porselin dengan bunga-bunga dahlia. Tetapi ada sesuatu yang khusus dengan badan kuburan yang terbuat dari marmer putih itu. Ukiran halus seorang ahli. (IA MEMUKUL TANGAN SI KAKEK DARI KERANJANG) Jangan menggerayangi keranjangku!
Kakek : Dendeng?

Nenek : Bukan.

Kakek : Atau pindang?

Nenek : Matanya kayak mata elang saja.

Kakek : Pindang tongkol?

Nenek : Jika mau tahu, sepotong pindang bandeng.

Kakek : Pindang bandeng ya?

Nenek : Sudah lama kita tak makan bandeng.

Kakek : Aku suka bandeng.

Nenek : Itulah sebabnya kuambil itu. Kukatakan pada diriku sendiri: sore Sabtu ini kita akan makan dengan lauk yang layak. Kita akan makan sambel petai dan sayur lodeh.

Kakek : Dan pindang bandeng.

Nenek : Ya, ada sesuatu yang istimewa dengan kubuan itu. Marmer putih yang memantulkan cahaya matahari.

Kakek : Sebentar lagi akan terbenam.

Nenek : Tenteram. Kau tak dapat temukan yang lebih menyenangkan. Dimana-mana tempat teratur. Lihatlah sekelompok bunga-bunga di sana. Anggrek.

Kakek : Anggrek pada kuburan? Tentu nantinya mereka akan meletakkan setampir nasi tumpeng.

Nenek : Anggrek!

Kakek : Nah, kini kau tahu, kuburan siapa itu, kan?

Nenek : Aku tak menyangka kalau ada orang yang memasang bunga anggrek.

Kakek : Itu kuburan Mas Parto, Kasir Pegadaian.

Nenek : Mas Parto? Apa ia mati?

Kakek : Mereka baru saja menguburnya.

Nenek : Mas Parto, Yah. Buat lelaki tak jadi soal benar umur itu. Baru saja ia melewati usia sembilan puluh.

Kakek : Selama hidupnya, ia telah mengenyam madu kehidupan. Segala bentuk kesenangan; dari arak, perempuan, dan perjudian, segala. Ia punya cara yang jelas.

Nenek : Uang mengalir seperti air. Anggrek. Dikubur bersama dengan kuburan isterinya.

Kakek : Setelah limapuluh tahun bersama, baru di situlah mereka bersanding tanpa bertengkar lagi.

Nenek : Aku tak tahu, ketika hendak memesan nisan, apakah mereka akan mencantumkan huruf-huruf yang berbunyi: Mas Parto dan Isteri. Dalam mautpun mereka tak terpisahkan.
Kakek : Sudahlah…

Nenek : “Dalam maut”…

Kakek : Jangan mulai lagi.

Nenek : Aku tahu, apa-apa saja yang akan dikatakan orang tentang dia.

Kakek : Harusnya kita tak berhenti di sini. Setiap kali kau akan selalu terpaku.

Nenek : Di mana mereka akan mengubur kita, heh?

Kakek : Hari begini sudah terlambat untuk berfikir begitu. Sudah hampir waktunya buat makan malam.

Nenek : Di mana mereka akan mengubur kita? Dalam sebuah lubang yang hina dan terasing.

Kakek : Cobalah berfikir tentang yang lain. Berfikirlah tentang pindang bandeng.

Nenek : Tak heran kalau di pinggir jalan kereta api. Di suatu tempat dimana tak pernah dikunjungi seorangpun. Dan mereka akan mengubur kau di dalam sebuah lubang buruk lainnya. Pada lubangmu sendiri. Kita akan terpisah.

Kakek : Jika kita berdua sudah mati, apalagi yang hendak dipikirkan?

Nenek : Dikubur bersama orang-orang asing. Sungguh tak pantas. Aku bahkan tak sempat berfikir akan mendapatkan hiasan yang layak. Tak banyak yang kumaui. Sebuah batu nisan yang sederhana, untuk memberitahu siapa yang terkubur di dalamnya.

Kakek : Kita tak mampu membiayai penguburan kita sendiri. Bahkan buat membiayai menggali lubangnya, kita tidak mampu.

Nenek : Aku suka kuburan marmer yang megah.

Kakek : Biayanya begitu banyak.

Nenek : Sebuah nisan yang besar diukir begitu indahnya.

Kakek : Beratus-ratus ribu. Kita tidak punya beratus-ratus ribu.

Nenek : Dan pada nisan itu ditulis : Pamujo dan Norma, dalam maut mereka tak terpisahkan. Tapi mereka akan memisahkan kita. (HENING) Jika kita punya uang, kita bisa bersama-sama selalu, selama-lamanya, sampai akhir zaman.

Kakek : Kita tidak mempunyai uang. Kita tak pernah mempunyainya. (HENING)

Nenek : Salah siapa itu?

Kakek : Itu cerita lama, sayang. Biarlah berlalu.

Nenek : Jika kau seorang milioner, kau bisa membeli kuburan sendiri yang terbuat dari batu marmer putih. Kau dapat membeli pemakaman keluarga sendiri. Jika kau seorang milioner.

Kakek : Aku tidak pernah ditakdirkan jadi milioner.

Nenek : Mas Parto menumpuk uang. Otaknya tidak seperempat cerdas otakmu, tapi ia menumpuk uang. Tanpa pertolongan isterinya. Ekonomi? Ia tak mengerti arti kata itu. Tapi di sana mereka terbaring bersama ditutupi bunga anggrek, tinggal menunggu batu nisannya saja.
Kakek : Aku tak dapat mencari uang.

Nenek : Sudah kukatakan. Berkali-kali sudah kukatakan bagaimana. Kau tak mau mencari uang. Itulah kesukarannya.

Kakek : Aku bekas seorang pembuat sepatu, kubikin sepatu.

Nenek : Seharusnya kau mudah mencari uang.

Kakek : Dalam bertahun-tahun kita nikah, tak pernah kakimu beralas.

Nenek : Seharusnya kau jadi tukang daging. Jual daging banyak dapat uang. Berapa harganya sepotong limpa, dan yang bagaimana yang bisa mengalirkan uang. Kita bisa menghemat, hari demi hari. Aku sudah bisa jadi seorang milioner, jika sekiranya kau menjadi seorang penjual daging.

Kakek : Aku tak bisa membayangkan jadi sesuatu selain jadi tukang sepatu.

Nenek : Jika dulu kau mau menurut saranku, kau sekarang sudah jadi milioner.

Kakek : Aku tak tahu kau ingin jadi milioner. Kukira kau hanya menggoda.

Nenek : Menggoda! (HENING)

Kakek : Kau telah mengawini lelaki yang salah.

Nenek : Aku melakukan kewajibanku mendorong kau, kau katakan itu menggoda.

Kakek : Kau harus mengawini lelaki yang pintar cari uang. Seperti Mas Parto. Aku tak punya bakat untuk berbuat begitu, maka akan sia-sia saja meski kucoba. Tapi aku menjalaninya bersama kau. Tiap lebaran kubelikan kau pakaian, dan segala macam yang bisa kucapai dengan uangku. Jika kau menghendaki orang yang pandai memberi uang, seharusnya kau kawin dengan orang lain.

Nenek : Jika kau tak mau aku mendorongmu, mengapa dulu kau minta aku jadi isterimu?

Kakek : Semua yang kau pikirkan, adalah batu nisan, itulah.

Nenek : Apalagi yang bisa kita pikirkan?

Kakek : Aku.

Nenek : Kau bahkan tak punya batu nisan sendiri.

Kakek : Aku tidak mau bicara tentang batu nisan.

Nenek : Lalu apa yang sedang kau pikirkan?

Kakek : Aku.

Nenek : Kau.

Kakek : Kau katakan aku telah menyia-nyiakan seluruh waktuku.

Nenek : Apa lagi yang telah kau lakukan dengan waktumu? (TERDENGAR SUARA BEDUG DIPUKUL DI KEJAUHAN. OBROLAN MEREKA TERHENTI)

Nenek : Senja telah datang.

Kakek : Selalu datang setiap hari. (HENING) Tak bisakah kau melupakannya?

Nenek : Semakin dingin.

Kakek : Pegang tanganku. (KAKEK MEMEGANG TANGAN NENEK)

Nenek : Suara bedug itu.

Kakek : Nanti jangan lewat ke sini lagi. (TERDENGAR SUARA ADZAN)

Nenek : Adzan.

Kakek : Waktunya sembahyang.

Nenek : Kita pergi. (HENING) Mari.

Kakek : Kukira sudah terlambat menghendaki jadi milioner sekarang. (HENING)

Nenek : Ada pindang bandeng buat malam.

Kakek : Bandeng, eh?

Nenek : Dan sambel petai dan sayur lodeh.
(MEREKA MENGGOTONG KERANJANG BELANJAAN MEREKA DAN PERGI. NENEK MENGHENTIKAN LANGKAHNYA, MEMANDANG KE ARAH TUMPUKAN BUNGA-BUNGA)

Nenek : Anggrek!

Kakek : Kau tak dapat makan bandeng kalau nasinya dingin. (PERLAHAN KAKEK MENDORONGNYA LAGI)

Nenek : Tidak. Tak ada yang dapat melebihi pindang bandeng dan sepiring nasi hangat.

MEREKA PERGI. FADE BLACK OUT.

– S E L E S A I –