Sabtu, 31 Desember 2022

PRESIDEN KITA TERCINTA - Karya Agus Noor


Sinopsis :
Lakon ini berkisah tentang sebuah negeri republik yang sedang dilanda isu makar. Presiden dinyatakan menghilang. Ini membuat suasana negeri menjadi mencemaskan. Rasa tidak aman mendera. Ada kabar menyatakan Presiden ditahan dan diperlakukan tidak adil. Ada pula yang mengabarkan Presiden telah mati dieksekusi. Dalam situasi seperti itu, aparat keamanan segera memutuskan untuk mengadakan pemilihan presiden pengganti agar situasi negeri bisa terkendali. Keputusan aparat keamanan memunculkan reaksi baru. Banyak tokoh yang merasa paling pantas dan layak, ingin maju dalam pemilihan presiden pengganti. Seluruh rakyat diwajibkan untuk ikut dalam pemilihan presiden yang diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya itu.

Tentu saja, banyak tokoh ingin mengambil kesempatan dan keuntungan dalam proses pemilihan presiden. Bahkan ada yang menganggapnya sebagai “proyek demokrasi” yang bisa membawa keuntungan sebesar-besarnya.

Agar pemilihan presiden berlangsung adil, maka siapa pun berhak memilih dan dipilih. Semua orang secara konstitusional diwajibkan untuk tak hanya memilih, tapi juga wajib dipilih jadi presiden. Para tokoh politik kemudian menghimpun kelompok-kelompok yang saling bersaing. Situasi menjadi membingungkan rakyat ketika para tokoh itu merasa paling pantas untuk jadi presiden. Berbagai cara dilakukan untuk saling menjatuhkan dengan cara saling melaporkan, menyebar fitnah dan membuat berita-berita hoax.

Ternyata hal yang tak terduga muncul, yang terpilih justru seorang petani dari kampung yang sama sekali tak dikenal sebelumnya. Petani itu sendiri sama sekali tak berambisi menjadi pemimpin. Ia tak mengerti, kenapa rakyat memilihnya. Ia semula menolak, tetapi malah diancam dihukum karena dianggap melawan undang-undang bila ia tak mau menjadi presiden. Era kepemimpinan presiden terpilih pun dimulai. Ketika ia semakin dicintai rakyatnya, intrik politik malah membuatnya merasa asing di lingkaran kekuasaan.


Sekeping Koin Wasiat

Ada kain terjuntai, menandai halaman belakang Istana Kepresidenan. Pada kain itu, tampak silhuet bayangan Kolonel Kalawa Mepaki yang sedang berlatih pedang, bermain anggar, dengan gerakan yang lincah, meski kakinya pincang. Ia begitu gesit memainkan pedangnya, seakan bertarung dengan musuh yang tak kelihatan.

Tuan Pitaya Mentala mengawasi, berdiri di dekat Lalita Maningka yang duduk dibawah naungan payung – semacam payung kebesaran yang indah – yang dipegangi seorang prajurit. Prajurit pembawa payung ini, nantinya akan selalu mengambil posisi memayungi Lalita Maningka, kemana pun ia bergerak.


Tuan Pitaya Mentala, 
“Dasar bahlul… Setiap hari ente berlatih, seakan-akan setiap saat musuh akan menikam ente dari balik kegelapan…”

Kolonel Kalawa Mepaki, 
“Musuh selalu berbahaya, karena ia bahkan bisa menyamar sebagai orang yang paling dekat.”

Tuan Pitaya Mentala, 
“Tapi kan ane sohib ente. Tidak mungkinlah kalau ane…”

Tiba-tiba Kolonel Kalawa keluar dari balik kain itu, dan langsung mengarahkan ujung pedangnya tepat di depan wajah Tuan Mitaya, membuat Tuan Pitaya langsung menghentikan ucapannya.

Kolonel Kalawa Mepaki, 
“Kita lihat saja… Ambil pedang Anda, Tuan Pitaya…”

Tuan Pitaya Mentala mencoba bersikap tenang, mencoba menghindar.

Kolonel Kalawa Mepaki, 
“Ambil pedang Anda, Tuan Pitaya!”

Tuan Pitaya Mentala, 
“Aduuuh, ente berlebihan, Kolonel… Ane kira, tak perlulah main-main seperti ini… Mubazir… Ada hal-hal yang lebih bersifat konstitusional yang musti kita lakukan. Kita musti menjalankan amanat konstitusi…”

Terasa kalau Tuan Pitaya nampak sekali ingin berkelit, menunda pertarungan. Tetapi pada saat itulah, Lalita Maningka sudah menyodorkan pedang padanya…

Lalita Maningka, 
“Bersikaplah layaknya laki-laki terhormat, Tuan Pitaya…”

Mau tak mau Tuan Pitaya Mentala menerima pedang itu. Dan begitu Tuan Pitaya sudah memegang pedang, Kolonel Kalawa langsung melakukan serangan. Tapi rupanya Tuan Pitaya cukup mahir juga memainkan pertarungan. Ia menghindar, dan kemudian memberikan serangan. Begitulah, mereka terus memainkan pedang selama percakapan ini.

Kolonel Kalawa Mepaki, 
“Gerakan yang lumayan untuk seorang yang terlalu banyak berfikir…”

Tuan Pitaya Mentala, 
“Kekuatan senjata bukan pada tenaga, Kolonel. Pikiranlah yang menggerakkan senjata…”

Tampak Kolonel Kalawa terdesak.


Tuan Pitaya Mentala, 
“Bahkan pikiran bisa jauh lebih kuat dari senjata, Kolonel…”

Kolonel Kalawa Mepaki, 
“Tergantung siapa yang memegang senjata. Saya faham bagaimana memainkan senjata, bahkan ketika musuh-musuh saya mengira saya lemah…”

Dan mendadak dengan begitu piawai Kolonel Kalawa membalikkan keadaan hingga kini ia mendikde permainan Tuan Pitaya, mendesaknya, bahkan cenderung mengejeknya. Kini Tuan Pitaya kerepotan menghindar menangkis serangan, dan terdesak. Keduanya berhenti, dengan pedang saling bersilangan…

Tuan Pitaya Mentala, 
“Ente tidak lemah…hanya sering gegabah. Keadaan ini tidak cukup diatasi dengan senjata, Kolonel. Itulah sebabnya ente membutuhkan ane… Kekuatan dan pikiran, seperti dua sisi keping keberuntungan yang ente miliki…”

Kemudian kembali keduanya saling memainkan pedangnya. Tampak keduanya seimbang dalam permainan. Sampai kemudian keduanya terlihat serempak melakukan serangan mematikan. Ujung pedang Kolonel Kalawa tepat mengarah di leher Tuan Pitaya. Sedang ujung pedang Tuan petaya tepat berada seinci di dada Kolonel Kawala.

Kolonel Kalawa Mepaki, 
“Hati-hati leher Anda, Tuan Pitaya…”

Tuan Pitaya Mentala, 
“Hati-hati jantung ente…”

Lalita Maningka langsung bertepuk tangan menyaksikan akhir permainan itu.


Lalita Maningka, 
“Laki-laki memang selalu ingin membuktikan dirinya paling hebat. Tapi nasib dua orang hebat akan selalu mengenaskan dalam pertarungan… Keduanya bisa sama-sama mati konyol… Saya kira, ada hal-hal mendesak yang harus kita matangkan, selain bertingkah konyol seperti itu.”

Tuan Pitaya Mentala, 
“Itulah yang tadi ingin ane katakan pada Kolonel. Secara konstitusi kita musti secepatnya melakukan tindakan-tindakan yang bersifat konstitusional…”

Lalita Maningka, 
“Hentikan omong kosong soal konstitusi, Tuan Pitaya! Saya sama sekali tak percaya!”

Kolonel Kalawa Mepaki, 
menyela cepat, “Nyonya Lalita Maningka… Nada bicara Nyonya seakan-akan Nyonya yang memberi perintah di sini!!”

Lalita Maningka, 
“Syukurlah pendengaran Anda masih baik, Kolonel. Apakah Anda mengharap saya duduk manis melihat ini semua? Ingat, Kolonel, bagaimana pun saya adalah istri syah Presiden almarhum…”

Tuan Pitaya Mentala, 
“Dan secara konstitusi mewarisi tapuk kekuasaan tertinggi bila Presiden berhalangan secara tetap…”

Kolonel Kalawa Mepaki,
 “Nyonya Lalita tidak percaya pada konstitusi, Tuan Pitaya!”

Lalita Maningka, 
“Kalau yang ini saya percaya, Kolonel…”

Kolonel Kalawa Mepaki tampak geram, lantas mengeluarkan koin keberuntungannya. Melempar lalu tersenyum demi melihat isyarat dari keping keberuntungannya itu.

Kolonel Kalawa Mepaki, 
“Saya hanya percaya, kalau ini hari keberuntungan saya!”

Lalita Maningka, 
“Anda memang beruntung, Kolonel, karena saya tetap percaya pada Anda…”

Kolonel Kalawa Mepaki, 
“Kepercayaan Nyonya pada saya, tentu saya hargai. Tetapi yang jauh lebih penting adalah kepercayaan rakyat pada saya.”

Lalita Maningka, 
“Dan dengan apa Anda akan memperoleh kepercayaan rakyat itu? Seribu batalion pasukan Anda, barangkali bisa menakut-nakuti mereka. Tapi peluru yang Anda miliki tidak akan cukup untuk menghabisi jutaan rakyat bila mereka terus-terusan membangkang. Karna itulah Anda membutuhkan saya, Kolonel. Karna sayalah yang bisa menenangkan mereka. Mereka menghormati, bahkan memuja saya, sebagai Ibu Suri, sebagai Ibu Negara. Mereka tidak berbondong-bondong mengepung Istana ini, karena mereka tahu saya mendukung Anda.”

Tuan Pitaya Mentala, 
“Dan secara konstitusional, ane-lah yang membenarkan tindakan ente…”

Lalita Maningka, 
“Cukup, Tuan Pitaya. Saya tak mau dengar soal konstitusi!”

Tuan Pitaya Mentala, 
“Tapi tadi Nyonya percaya konstitusi…”

Lalita Maningka, 
“Yang ini saya tidak percaya!”

Dengan gayanya yang anggun, penuh kuasa, Lalita Maningka, mendekati Kolonel Kalawa.


Lalita Maningka, 
“Saya membiarkan suami saya terbunuh, karena saya yakin ini jalan terbaik bagi Republik ini. Sebagai Presiden dan suami, ia sudah tua. Ia sudah kehilangan arah. Kekuasaanya mulai rapuh… Ketika banyak kasuk-kusuk di kalangan Perwira, saya menaruh harapan besar pada kamu. Saat itu, aku yakin, kamu banteng muda yang dapat diandalkan. Maka, jari yang lembut ini pun diam-diam mulai melapangkan jalan buatmu. Apa kau tidak merasakan itu, Kolonel? Kamu, saat ini pasti masih menjadi Kopral ingusan, bila saya tak mengatur semuanya. Saya lakukan semua itu, Kolonel, karena saya pikir itu cara terbaik menyelamatkan negara ini dari perang saudara…”

Selama Nyonya Lalita Maningka bicara penuh aura kuasa seperti itu, Kolonel Kalawa Mepaki mencoba menutupi perasaannya dengan memain-mainkan koinnya. Melempar menangkap koin itu terus menerus.


Lalita Maningka, 
“Seperti Paman Gober, kamu boleh mempercayai koin keberuntunganmu. Tapi sayalah Evita Peron Republik ini. Yang membuat rakyat percaya pada mimpi. Harapan. Sayalah yang selalu tampil membagi-bagikan makanan, memberi pakaian gratis, memeluk bayi-bayi mereka yang busung lapar… Saya Ibu Negara yang mempesona mereka, Kolonel. Kalau Anda butuh kepercayaan rakyat, maka Anda membutuhkan kepercayaan saya!”

Tuan Pitaya Mentala, 
“Karna itulah, Kolonel…, mari kita bermusyawaroh tanpa su’udzon. Ada beberapa soal yang musti dibereskan. Berdasarkan konstitusi…”

Kolonel Kalawa Mepaki, 
“Langsung pada pokok perkara, Tuan Pitaya!!”

Tuan Pitaya Mentala, 
Oh, iya, iya… Langkah konstitusional pertama, ialah mengangkat beberapa Menteri…”

Tuan Pitaya menyerahkan selembar daftar pada Kolonel Kalawa.

Tuan Pitaya Mentala, 
“Ane sudah menyusunnya. Tingal ente paraf. Yang nomor wahid adalah Kementerian Sumber Daya Moral dan Agama. Ente jangan sampai salah pilih mengangkat Menteri ini…”

Lalita Maningka, 
“Siapa calonnya?”

Tuan Pitaya Mentala, 
“Sudah barang tentu, yang paling pantas menjadi Menteri Sumber Daya Moral dan Agama adalah sohib ane: Habib Utawi Kadosta. Dia pemimpin spiritual kondang, Ketua Front Pembela Agama, pemegang monopoli kebenaran, dan tercatat sebagai satu-satunya calon penghuni surga dari kota kita… Bagaimana, Kolonel…”

Kolonel Kalawa melempar koinnya, melihat apa yang keluar di koin itu.


Kolonel Kalawa Mepaki, 
“Setuju!”

Tuan Pitaya Mentala, 
“Yang kedua soal Menteri Pendidikan…”

Kolonel Kalawa Mepaki, 
“Tidak perlu ada Kementerian Pendidikan. Cuman ngabis-ngabisin anggaran!”

Tuan Pitaya Mentala, 
“Tapi secara konstitusi, kita memang wajib mengalokasikan 20 persen anggaran untuk pendidikan.”

Kolonel Kalawa Mepaki, 
“Tidak perduli konstitusi! Pokoknya hapus Kementrian Pendidikan! Saya lebih suka Kementrian Sosial…”

Tuan Pitaya Mentala, 
“Lho, justru Kementrian Sosial ini yang sudah dihapus oleh Presiden lama kita…”

Kolonel Kalawa Mepaki, 
“Kalau begitu, hidupkan lagi! Begitu saja kok repot!” Melemparkan koinnya, “Setuju!!”

Tuan Pitaya Mentala, 
“Nama-nama kandidat menteri dan pejabat lainnya, bisa ente simak di daftar itu…”

Kemudian Kolonel Kalawa Mepaki, 
menyebut beberapa nama, mengomentarinya bersama Tuan Pitaya Mentala. Di sinilah, adegan bisa bermain-main dengan menyebut nama-nama penonton yang hadir. Dan Kolonel Kalawa selalu melemparkan koinnya, dan berseru, “Setuju!”

Kolonel Kalawa Mepaki, 
“Sekarang, bagaimana dengan Kursi Nomer Satu…”

Tuan Pitaya Mentala, 
“Beradasarkan konstitusi, secepatnya kita musti melaksanakan Pemilu…”

Kolonel Kalawa Mepaki, 
mengeram marah, “Anda meragukan kemampuan saya, Tuan Pitaya?!”

Tuan Pitaya Mentala, 
“Haqul yakin, Kolonel, ene percaya ama ente. Tapi konstitusi Republik ini mengatakan kalo Negara ini musti menjadi Negara yang tampak demokratis. Ente musti mahfum itu… Apa kata dunia, kalau kita tidak menyelenggarakan Pemilu. Bisa dianggap junta militer Republik ini… Rakyat pasti bereaksi keras!”

Lalita Maningka, 
“Dan kita bisa kena embargo internasional, Kolonel…”

Kolonel Kalawa Mepaki, 
menatap penuh kecurigaan, “Saya mulai mencium bau pengkhiatan…

Tuan Pitaya Mentala, 
“Ente jalan salah faham, Kolonel… Ente-lah kunci semua ini. Tetapi ente juga mesti tabayun, bagaimana ente musti memakai kunci itu. Ane sama sekali tak tertarik ama Kursi Nomer Satu. Ane pikir, bukan siapa yang duduk yang terpenting. Tapi siapa yang mengendalikan yang duduk dikursi itu…”

Lalita Maningka, 
“Seperti permainan bayang-bayang, Kolonel…”

Tuan Pitaya Mentala, 
“Soheh! Soheh! Persis seperti itu…”

Tuan Pitaya Mentala mendekati Kolonel Kalawa Mepaki, dengan gaya diplomat ulung yang ingin memberikan pengertian.


Tuan Pitaya Mentala, 
“Dulu, semasa kecil, ane suka sekali bermain bayang-bayang…”

Tuan Pitaya lalu mulai memainkan tanggannya, seperti kanak-kanak yang bermain membuat bayang-bayang ditembok. Tangan Tuan Pitaya membuat gambaran burung yang terbang, kepala anjing, dan bermacam permainan bayang-bayang. Pada saat inilah, pada kain yang menjuntai itu, muncul bayang-bayang tangan Tuan Pitaya. Secara tekhnis, bayang-bayang pada kain itu bisa dimainkan oleh aktor pendukung atau kru panggung, dengan mengikuti gerak tangan Tuan Pitaya. Tetapi, bisa saja, secara komedis, sesekali bayangan pada layar itu justru berbeda dengan gerakan tangan Tuan Pitaya.

Tuan Pitaya Mentala, 
“Orang akan melihat gerak bayang-bayang itu, tetapi lupa, pada yang menggerakkannya. Bayang-bayang itu seperti hidup, padahal kitalah yang memainkan. Itulah kenapa seorang jagoan tembak bisa menembak lebih cepat dari bayangannya. Itulah ilusi bayangan, Kolonel! Kita mesti menciptakan ilusi itu. Memilih orang yang mau menjadi ilusi itu…”

Adegan permainan bayangan itu selesai…


Tuan Pitaya Mentala, 
“Itulah manfaat mengadakan Pemilu itu, Kolonel. Menciptakan ilusi, bahwa kita menjalankan demokrasi. Nanti, kita ciptakan sebayak mungkin partai. Biarkan setiap orang membikin partai. Partai besar, partai kecil, partai Impian Jaya Ancol… Nah, lalu biarkan setiap orang mencalonkan diri jadi Presiden. Kalau perlu, secara konstitusi kita tetapkan, bahwa wajib hukumnya bagia siapa pun untuk mencalonkan diri jadi Presiden. Mereka boleh menjadi calon idependen bagi dirinya sendiri. Biarkan setiap orang merasa yakin mampu jadi Presiden. Sudah pasti ini lebih banyak manfaatnya dari pada mudaratnya, Kolonel…”

Kolonel Kalawa menatap tajam Tuan Pitaya. Lalu dengan dingin mengarahkan ujung pedangnya ke wajah Tuan Pitaya, hingga Tuan Pitaya tampak kaget, tak menduga. Tapi mendadak Kolonel Kalawa Mepaki tertawa penuh kesenangan…

Kolonel Kalawa Mepaki, 
“Tidak percuma saya memelihara ular macam Anda, Tuan Pitaya…”

Pesta Para (Calon) Presiden


Musik kemeriahan membahana! Janur dan umbul-umbul menandai kemeriahan pesta. Kota bersolek. Orang-orang berbaris dan bernyanyi. Sementara Kolonel Kalawa Mepaki dan Tuan Pitaya Mentala menyaksikan semua kemerihan itu.

Barisan Warga yang Bernyanyi,

Demokrasi…demokrasi…
Ini Pesta Demokrasi
Demokrasi… demokrasi…
Bergabunglah bersama
mengubah keadaan
Ayo mendaftarlah
Menjadi Presiden yang mulia
Kita tak cuma memilih
Tapi juga berhak dipilih.
Daftarkan ayo daftarkan
Siapa saja boleh ikut serta
Menjadi Presiden kita tercinta
Siapa tahu nasib sedang mujur
Anda terpilih dan hidup makmur
Daftarkan ayo daftarkan
Dartarkan ayo segera…

Kolonel Kalawa Mepaki bersama Tuan Pitaya Mentala menyaksikan semua keramaian itu dari suatu tempat. Orang-orang riang bernyanyi, berbaris, larut dalam kegemberiraan perayaan. Beberapa serdadu tampak bertugas sebagai Panitia Penerimaan Pendaftaran itu. Sampai kemudian Tuan Pitaya Mentala, memberikan pidato sambutan…

Tuan Pitaya Mentala, 
“Saudara-saudara sebangsa setanah air. Sebagaimana diamanatkan konstitusi, setiap warga Negara berhak memilih dan dipilih jadi Presiden. Oleh karna itulah, siapa pun, baik yang merasa sehat mau pun tidak sehat jasmani dan rohaninya, wajib mendaftarkan dirinya. Yang tua, yang muda, ayo silahkan mencalonkan diri menjadi Presiden. Inilah saatnya ente-ente mengiklankan diri jadi pemimpin. Pendaftaran bisa secara langsung, atau lewat SMS. Tinggal ketik REG spasi PILPRES kirim ke Po Box 212. Keputusan pemenang bersifat mutlak, dan tidak bisa diganggu gugat. Barangsiapa yang tidak mencalonkan dan mendaftarkan dirinya menjadi Presiden, maka akan dianggap membanggkang dan merongrong stabilitas Negara. Nah, sekarang silakan ente-ente pada mendaftar. Mohon antri yang tertib, jangan rebutan kayak antri minyak atau sembako.”

Dengan iringan musik, orang-orang itu pun antri mendaftar. Para Serdadu yang menjadi Petugas Pendaftaran, mencatat, memeriksa mulut atau mata atau ketiak orang-orang yang mendaftar itu. Begitu selesai, orang itu langsung berjalan menuju ke arah dimana Kolonel Kalawa dan Tuan Pitaya berada. Tuan Pitaya mengamati calon di depannya itu dengan ketelitian juru taksir profesional pegadaian. Atau mengingatkan pada blantik sapi yang dengan teleti mengamati sapi yang hendak dibelinya. Sementara Kolenel Kalawa Mepaki langsung melemparkan koinnya, untuk memutuskan calon itu…

Kolonel Kalawa Mepaki, 
“Gagal!”

Lalu orang itu segera pergi, dan dilanjutkan giliran orang di belakangnya.

Kolonel Kalawa Mepaki, 
memainkan koinya, “Gagal!”

Dan orang itu pun segera pergi, dilanjutkan giliran orang di belakangnya.

Kolonel Kalawa Mepaki, 
memainkan koinya, “Gagal!”

Begitu seterusnya, Kolonel Kalawa selalu melemparkan koinnya dan berteriak, “Gagal!”, sementara orang-orang berbaris antri, hingga tampak seperti sebuah prosesi pemilihan dengan segala kelucuannya. Ada juga orang yang setelah dinyatakan gagal, kemudian balik kembali ikut antri.

Tapi mendadak orang-orang yang tengah antri itu menjadi ketakutan ketika muncul Awuk. Seperti anjing yang ingin diperhatikan, Awuk pun menggonggong ke arah antrian orang-orang itu…


Awuk, 
“Hai…Haik… Hai…Haik… Haik…”

Orang-orang mencoba menyingkir, menghindari Awuk setiapkali ia mendekat dan menyalak. Tuan Pitaya Mentala segera mencoba mengatasi keadaan.

Tuan Pitaya Mentala, 
mendekati Awuk, “Berdasarkan konstitusi, anjing dilarang ikut Pemilu! Pergi! Pergi!”

Tuan Pitaya Mentala segera menyambit Awuk dengan batu. Awuk melolong kesakitan. Dan segera, orang-orang pun ramai-ramai melempari Awuk hingga Awuk terbirit-birit ketakutan. Setalah itu kembali musik menghentak. Kembali orang-orang bernyanyi rampak.


Nyanyian Orang-orang,
Daftarkan ayo daftarkan
Siapa saja boleh ikut serta
Menjadi Presiden kita tercinta
Siapa tahu nasib sedang mujur
Anda terpilih dan hidup makmur
Daftarkan ayo daftarkan
Dartarkan ayo segera…
Kemudian sayup dan menghilang.

PELUKIS DAN WANITA - Adhy Pratama Irianto



Sinopsis :
Hidup adalah menunggu. Menunggu untuk tumbuh, menunggu untuk besar, menunggu untuk kaya, dan menunggu untuk mati. Hidup bagi sebagian orang, hidup hanya terisi dengan ngungkung di kantornya, ngalor-ngidul dijalanan, dan melototin layar monitornya, terus pulang, terus tidur, terus bangun lagi terus ngungkung lagi. Terlalu panjang penantian yang dirasakan bagi manusia untuk hidup, dan tak jarang yang bosan dengan monogamy dan hitam putih hidup itu. Naskah pelukis dan wanita hanya mengganti keadaan hidup yang menunggu, entah menunggu apa, menjadi seorang wanita yang menunggu pelukis untuk melukis dirinya. Sekian lama menunggu, yang didapatnya hanya kebosanan. Hingga ia lebih memilih untuk berhenti menunggu walaupun sebenarnya kalau ia masih punya sisa kesabaran sedikit lagi, wajahnya yang cantik akan terlukis di canvas yang ia bawa sendiri.


Adegan

Setting :
Dua buah karung kain hitam putih diletakkan di tengah-tengah panggung. Didalam tiap karung terletak seorang laki-laki. Agak jauh sedikit di dekat wing kanan depan panggung ada sebuah meja yang ditutup kain biru dan diatasnya duduk seorang wanita yang termenung. Di sudut wing kiri depan ada sebuah canvas lukisan tergantung.


Wanita
Sudah lama kunantikan kedatangan kalian, kemana kalian! Kalian tidak mengerti betapa sakitnya menunggu, kalian tidak pahamkah berapa lama waktu kuterbuang sia-sia hanya karena menunggu kalian yang tak juga menampakkan sedikitpun batang hidung kalian dihadapanku.
(pause)
(melihat jam ditangan)
bagaimana ini, matahari sudah tergelincir, kalian tak juga datang.

Pria 1

(Keluar dari karung perlahan-lahan memegang cat dan kuas, mimic wajahnya menunjukkan kalau ia adalah seorang yang bodoh) sudah lama menungguku, tuan putri?

Wanita
Iya, bahkan sudah hampir puas aku menunggu. Bahkan sudah hampir bosan. Dan bahkan sudah hampir gila aku menunggu kalian.

Pria 1
(terkejut) minta maaf putri (dengan nada yang diayun-ayunkan). Kan, belum terlalu lama putri menungguku.

Wanita
Belum terlalu lama !?, yang lama itu seperti apa menurutmu? Setahun, sewindu, satu decade atau satu abad!! Lihat! aku sudah duduk disini terlalu lama, bahkan canvas (menunjuk ke kanvas yang tergantung, diikuti dengan pandangan mata pria 1) yang kalian suruh aku bawakan sudah lapuk

Pria 1
(tertunduk) maaf tuan putri, tapi…

Wanita
Tapi apa? Lihat dandananku sudah mulai kacau, riasanku sudah mulai luntur.

Pria 1
Tapi aku hanya assistant, aku tak bisa melukis.

Wanita
Oh, begitu. Jadi mana temanmu atau bosmu itu?

Pria 1
Aku akan mencarinya, tuan putri duduk kembali manis-manis diatas situ, dan tunggu aku.
(Pria 1 out)

Wanita

Oh, berapa lama lagi aku harus menunggu! Sialan! Bodoh!(memaki kepada diri sendiri)

Pria 2
(keluar dari karung dengan raut muka sok, dan tak merasa bersalah)Sudah lama menunggu tuan putri (keluar dengan gaya flamboyant mendekati putri)
(pause, sambil menarik nafas panjang)

Bintang gemerlap, bulan menangis perih (menghadap kedepan) sudah siap dilukis tuan putri?(dengan cepat langsung duduk dihadapan Wanita)

Wanita
Sudah dari 600 menit yang lalu.

Pria 2
600 menit, berarti 10 jam, waw ! tuan putri rela menunggu 10 jam untuk kedatanganku, aku terharu.

Wanita
Jangan banyak bicara, dandananku sudah kacau, riasanku sudah luntur, tubuhku telah letih. Kalau kau membutuhkan kanvas, itu (menunjuk ke kanvas, diikuti dengan pandangan mata pria 2).

Pria 2
Baik, silahkan masuk pada pose yang telah kita sepakati kemarin.

Wanita
(tanpa bicara, dengan wajah yang menahan kesal berpose dengan posisi hampir tidur menghadap depan, dua kaki terlipat keatas sampai menyentuh panggul dan sikut tangan menopang tubuh agar tetap tegak.)

Pria 2
Tunggu, sebentar..

Wanita
(raut muka berubah bingung, tetapi tetap pada posisi)

Pria 2
Peralatan melukisku ada asistenku, kita harus menunggu kedatangannya.

Wanita
Ahhhhhhhhhhhhh!!!!!! ( setengah menjerit, merubah posisinya menjadi duduk biasa,dengan muka menahan kesal, pause)
Dia tadi sudah datang, jauh sebelum kedatanganmu, karena engkau belum datang, dia mencarimu!

Pria 2

Benarkah? (disambut anggukan perlahan wanita), kalau begitu, biarkan aku mencarinya (langsung berlari keluar dengan tergesa-gesa)

Wanita
(memandang dengan kosong kedepan)

Pria 1 in


Pria 1
Sudah kucari dia kemana-mana tuan putri, tapi dia tidak juga kelihatan. Dirumahnya, diwarung kopi tempat dia biasa, bahkan ditepi jembatan tempat dia sering mencari inspirasi.

Wanita
(turun dari meja, berdiri) yah jelas kalau kau tidak bertemu dengan dia (moving) dia dari tadi disini!

Pria 1
Apa!? Tidak mungkin, benar-benar tidak mungkin! Mana dia sekarang (pandangan berkeliling)

Wanita
Dia mencarimu! Bodoh!!

Pria 1
Benarkah!! Kalau begitu biarkan aku mencarinya (langsung keluar dengan berlari)

Wanita
Tidak usah…lah… le..bih.. ba..ik … kau …menunggu disini (gesture capek, sambil moving kembali ketempat duduknya)

Pria 2 in

Pria 2
(tertunduk dengan nafas yang tersengal-sengal matanya beradu pandangan dengan wanita yang memandangnya dengan heran) maaf putri, dimana aku harus mencarinya, segala tempat yang sering ia kunjungi aku datangi semua.

Wanita
Tuhan tolong aku, kalian benar-benar membuat aku gila, asistenmu tadi ada disini, dia juga mencarimu. Akhhhhhh..(memegang kepalanya)

Pria 2
Benarkah,, (langsung berlari keluar)

Wanita
Ouwhhh… baiklah, aku trauma, aku sudah hampir gila. Aku tidak akan mau dilukis lagi. Aku tidak mau lagi. (wanita mengamuk menendang kanvas dan mendorong mejanya sampai jatuh, kemudian dengan nafas yang naik turun dan mata yang melotot ia out)

Pria 1 dan pria 2 in.

Pria 2
(Berjalan mundur, menatap pria 1) Ah, kau selalu begitu, kalau dia marah bagaimana?

Pria 1
(terbengong dari tadi melihat keadaan sudah kacau balau) sepertinya dia sudah marah (tetap melihat ke panggung yang kacau)

Pria 2
(tetap menatap ke pria 1) kalau dia marah saja, masih bisa kita atasi, bagaimana kalau dia mengamuk?

Pria 1

Sepertinya dia sudah mengamuk.

Pria 2
Okelah, kalau mengamuk masih bisa kita tangani, kalau dia pergi bagaimana?

Pria 1
Sepertinya dia telah pergi.

Pria 2
(agak heran dengan arah mata pria 1 dan berbalik badan melihat kea rah pandangan pria 1) oh, Tuhan (memegang kedua kepalanya).


Selesai

PERHATIAN!
Bila Anda akan mementaskan naskah ini mohon untuk menghubungi penulis naskah untuk sekedar pemberitahuan.
Penulis: Adhy Pratama
Email: adhypratama_ibra@yahoo.com
Facebook: https://www.facebook.com/adhyra.irianto

PAGI BENING - Serafin dan Joaquin Alvarez Quintero



P a g i B e n i n g
( Drama Komedi Satu Babak dari tanah Spanyol )
Karya Serafin dan Joaquin Alvarez Quintero
Terjemahan Drs. Sapardi Joko Damono


T e m p a t K e j a d i a n
Madrid – Spanyol
Di suatu tempat – Taman terbuka
Di jaman ini juga


P e m a i n
Donna Laura : Wanita tua, berumur kira-kira 70 tahun. Masih nampak jelas bahwa dulunya cantik dan tindak tanduknya menunjukkan bahwa mentalnya juga baik.
Don Gonzalo : Lelaki tua, berumur kira-kira 70 tahun lebih. Agak congkak dan selalu tampak tidak sabaran
Petra : Gadis pembantu Laura
Juanito : Pemuda pembantu Gonzalo

( DONNA LAURA MASUK, BERPEGANGAN TANGAN PADA PETRA. TANGANNYA YAN LAIN MEMBAWA PAYUNG YANG JUGA UNTUK TONGKATNYA )

LAURA : 
Aku selalu merasa gembira sekali di sini. Syukur bangkuku tidak ditempati orang lain. Duhai, pagi yang cerah! Cerah sekali.

PETRA : 
Tapi matahari agak panas, Senora.

LAURA : 
Ya, kau masih duapuluh tahun (ia duduk di bangku belakang). Aku merasa lebih letih dari biasanya (melihat petra yang nampak tak sabar), pergilah kalau kau ingin ngobrol dengan tukang kebunmu itu!

PETRA : 
Dia bukan tukang kebunku, Senora, dia tukang kebun taman ini!

LAURA : 
Ia lebih tepat disebut milikmu daripada milik taman ini. Cari saja dia. Tapi jangan sampai terlalu jauh hingga tak kau dengar panggilanku.

PETRA : 
Saya sudah melihatnya di sana, menanti.

LAURA :
Pergilah, tapi jangan lebih dari sepuluh menit!

PETRA :
Baik, Senora (berjalan ke kanan)

LAURA :
Hei, nanti dulu!

PETRA :
Ada apa lagi, Senora?

LAURA :
Berikan remah-remah roti itu!

PETRA :
Ah, pelupa benar aku ini!

LAURA : 
(senyum) 
Aku tahu! Pikiranmu sudah lekat ke sana, heh, si tukang kebun itu!

PETRA :
Ini, Senora (mengeluarkan bungkusan roti. Keluar ke kanan)

LAURA :
Adios! (memandang ke arah pepohonan). Ha, mereka datang. Mereka tahu kapan mesti datang menemui aku (bangkit dan menyerahkan remah-remah roti). Ini buat yang putih, ini untuk yang coklat, dan ini untuk yang paling kecil tapi kenes. (tertawa dan duduk lagi memandang merpati yang sedang makan). Ah, merpati-merpati yang manis. Itu yang besar mesti lebih dulu, kentara dari kepalanya yang besar, dan itu … aduh , kenes benar. Hai, yang satu itu selesai mematuk terus terbang ke dahan. Bersunyi diri. Agaknya ia suka berfilsafat. Tapi dari mana saja mereka ini datang? Seperti kabar angin saja! Meluas dengan mudah. Ha, ha, jangan bertengkar. Masih banyak. Besok kubawakan yang lebih banyak lagi!

(don gonzalo dan juanito masuk dari kiri. Gonzalo bergantung sedikit pada juanito. Kakinya bengkak, agak di seret)

GONZALO :
Membuang-buang waktu melulu! Mereka itu suka benar bicara yang bukan-bukan.

JUANITO :
Duduk di sini sajalah, senior. Hanya ada seorang wanita.

(dona laura menengok dan mendengarkan)

GONZALO :
Tidak, Juanito. Aku mau tersendiri.

JUANITO :
Tapi tak ada .

GONZALO :
Yang di sana itu kan milikku!

JUANITO :
Tiga orang pendeta duduk di sana, Senior!

GONZALO :
Singkirkan saja mereka! … … … Sudah pergi!

JUANITO :
Tentu saja belum! Mereka tengah bercakap-cakap.

GONZALO :
Seperti merekat pada bangku saja mereka itu! Heh, tak ada harapan lagi, Juanito. Mari!

JUANITO : 
(menggandeng ke arah merpati-merpati)

LAURA : 
(marah). 
Awas hati-hati!

GONZALO :
Apa Senora berbicara dengan saya?

LAURA :
Ya, dengan tuan!

GONZALO :
Ada apa?

LAURA :
Tuan menakut-nakuti burung-burung merpati saya!

GONZALO :
Peduli apa burung-burung itu!

LAURA :
Apa, ha?

GONZALO :
Ini taman umum, Senora!

LAURA :
Tapi kenapa tadi tuan mengutuki pendeta-pendeta di sana itu?

GONZALO :
Senora, tapi kita belum pernah jumpa! Dan kenapa tadi Senora menegur saya? Ayo, juanito! (melangkah ke kanan)

LAURA :
Buruk amat perangai si tuan itu! Kenapa orang mesti jadi tolol dan pandir kalau sudah meningkat tua? (melihat ke kanan). Syukur. Ia tidak mendapat bangku! Itu, orang yang menakut-nakuti merpati-merpatiku. Ha, ia marah-marah. Ya, ayo, carilah bangku kalau kau dapat! Aduh, kasihan, ia menyeka keringat di dahi. Nah, itu dia kemari lagi. Debu-debu mengepul seperti kereta lewat! (juanito dan gonzalo masuk)

GONZALO :
Apa sudah pergi pendeta-pendeta yang ngobrol itu, Juan?

JUANITO :
Tentu saja belum, Senior?

GONZALO :
Walikota seharusnya lebih banyak menaruh bangku-bangku di sini! Terpaksa juga aku kini duduk bersama wanita tua itu!
(ia duduk di ujung bangku,memandang dengan iri kepada laura, dan memberi hormat dengan mengangkat topi). Selamat pagi.

LAURA :
Jadi tuan di sini lagi?

GONZALO :
Ku ulang lagi, kita kan belum pernah jumpa!

LAURA :
Saya toh cuma membalas salam tuan!

GONZALO :
“Selamat Pagi”, mestinya cukup dibalas dengan “selamat pagi” saja.

LAURA :
Tapi tuan seharusnya juga minta ijin untuk duduk di bangku saya ini.

GONZALO :
Ahai, bangku ini kan milik umum!

LAURA :
Kenapa bangku yang di san itu juga tuan katakan milik tuan, hah?

GONZALO :
Baik, baik! Sekian sajalah!
( pada dirinya sendiri ) Dasar perempuan tua! Patutnya dia di rumah saja, merenda atau menghitung tasbih.

LAURA :
Jangan mengoceh lagi. Aku juga tokh, tak akan pergi untuk sekedar menyenangkan hatimu!

GONZALO : 
(mengelap sepatunya dengan sapu tangan). 
Kalau disiram air sedikit tentu lebih baik. Tak berdebu lagi jadinya taman ini.

LAURA :
Apa tuan biasa menggunakan saputangan sebagai lap?

GONZALO :
Kenapa tidak?!

LAURA :
Apa tuan juga menggunakan lap sebagai sapu tangan?

GONZALO :
Hah? Nyonya kan tak punya hak untuk mengeritik saya!

LAURA :
Toh sekarang saya ini tetangga tuan!

GONZALO :
Juanito! Buku! Bosan mendengarkan nonsense macam itu!

LAURA :
Alangkah sopan santun tuan ini!

GONZALO :
Maaf saja nyonya. Tapi saya mengharap nyonya tidak bernapsu campur tangan urusan orang lain!

LAURA :
Saya memang biasa melahirkan pikiran-pikiran saya.

GONZALO :
Hhh, Juanito! Buku!

JUANITO :
Ini, tuan! (mengambil buku dari kantong, don gonzalo memandang dengki pada laura; gonzalo mengeluarkan kaca pembesar dan kacamata: membuka buku)

LAURA :
Oh, saya kira tuan mengeluarkan teleskop.

GONZALO :
Nyonya bicara lagi!

LAURA :
Tentunya penglihatan tuan masih baik sekali!!

GONZALO :
Jauh lebih baik dari penglihatan nyonya!

LAURA :
Ahai, tentu saja!

GONZALO :
Kalau tidak percaya, tanyakan saja kepada kelinci-kelinci dan burung-burung.

LAURA :
Artinya tuan suka berburu kelinci dan burung?

GONZALO :
Saya pemburu memang. Dan sekarang pun saya tengah berburu.

LAURA :
Ya, tentunya! Begitulah!

GONZALO :
Ya, Senora. Tiap Minggu saya menyandang bedil bersama anjing saya pergi ke Arazaca. Iseng-iseng berburu! Membunuh waktu!

LAURA :
Ya, membunuh waktu! Apa hanya waktu saja bisa tuan bunuh?

GONZALO :
Nyonya kira begitu? Saya bisa menunjukkan kepala beruang besar dikamar saya!

LAURA :
Dan saya juga bisa menunjukkan kepala singa di kamar tamu saya, meskipun saya bukan pemburu!

GONZALO :
Sudahlah nyonya, sudah! Saya mau membaca. Percakapan cukup! Ngomong putus!

LAURA :
Ha, tuan menyerah!

GONZALO :
Tapi saya mau ambil obat bersin dulu. (mengambil tempat obat). Nyonya mau? (memberikan obat itu)

LAURA :
Kalau cocok!

GONZALO :
Ini nomor satu! Nyonya tentu akan suka!

LAURA :
Memang biasanya akan menghilangkan pusing.

GONZALO :
Saya pun begitu.

LAURA :
Tuan suka bersin?

GONZALO :
Ya tiga kali.

LAURA :
Persis sama dengan saya! (setelah mengambil bubukan, keduanya bersin berganti-ganti masing-masing tiga kali).

GONZALO :
Ehaaaah, agak enakan sekarang.

LAURA :
Saya pun merasa enak sekarang.
(Ke Samping) Obat itu telah mendamaikan kami rupanya!

GONZALO :
Maaf, saya mau membaca keras. Tidak mengganggu kan?

LAURA :
Silahkan sekeras mungkin, tuan tidak menggangu saya lagi.

GONZALO : 
(membaca) 
“ Segala cinta itu menyakitkan hati
Tetapi bagaimana jugapun pedihnya
Cinta adalah sesuatu yang terbaik
Yang pernah kita miliki “
Nah, bait itu dari penyair Campoamor.

LAURA : 
 Ah!

GONZALO : (membaca) 
“ Anak-anak dari para bunda
Yang pernah kucinta
Menciumku sekarang
Seperti bayangan hampa “
Baris-baris ini agak lucu juga rasanya.

LAURA : (tertawa) 
Kukira juga begitu.

GONZALO : 
 Ada beberapa sajak bagus dalam buku ini. Dengar!
(membaca) 
“ Duapuluh tahun berlalu
Ia pun kembalilah “

LAURA : Cara tuan membaca dengan kaca pembesar itu sungguh agak menggelikan saya.

GONZALO : 
Jadi nyonya bisa membaca tanpa kaca pembesar?

LAURA : 
Tentu saja, tuan.

GONZALO :
Setua itu? Ahai, nyonya main-main saja!

LAURA :
Coba saya pinjam buku tuan itu!
(mengambil buku dan membacanya keras-keras)
“ Duapuluh tahun berlalu
Dan ia pun kembalilah
Masing-masing saling memandang,
Berkata :
Mungkinkah dia orangnya?
Ya Allah, dimana oranya itu? “

GONZALO :
Hebat! Saya iri hati pada penglihatan nyonya.

LAURA : (Kesamping) 
Hmm, saya hafal tiap kata syair itu.

GONZALO :
Saya gemar sekali puisi-puisi yang bagus. Sungguh gemar sekali. Bahkan ketika masih muda, kadang-kadang suka bersyair.

LAURA :
Sajak-sajak bagus juga?

GONZALO :
Ya, macam-macamlah. Saya dulu sahabat dari Exprosoda, Zorilla, Bocquer, dan penyair-penyair lain. Saya kenal Zorilla pertama kali di Amerika.

LAURA :
Eh, tuan pernah ke Amerika?

GONZALO :
Sering juga. Pertama kesana saya waktu umur 6 tahun.

LAURA :
Tentunya dulu tuan ikut Colombus.

GONZALO : (tertawa) 
Yah, tidak sejelek itu nasibku! Saya sudah tua, tapi belum pernah kenal Raja Ferdinand serta Ratu Isabella!
(keduanya tertawa). 
Saya juga teman Campoamor, berjumpa pertama kali di Valensia. Saya warga kota di sana.


LAURA :
Apa sungguh?

GONZALO :
Saya dibesarkan disana. Dan masa mudaku habis di kota itu. Apa nyonya pernah ke Valensia?

LAURA :
Pernah! Tiada jauh dari Valensia ada sebuah villa dan kalau masih berdiri sekarang, bisa mengembalikan kenangan-kenangan yang manis. Saya pernah tinggal beberapa musim di sana. Tapi sudah lama lampau. Villa itu dekat laut, tersembunyi antara pohon jeruk. Mereka menyebutnya … ah … lupa … o ya, Villa Maricella.

GONZALO :
Maricella?

LAURA :
Maricella. Apa tuan pernah mendengarnya?

GONZALO :
Tak asing lagi nama itu … ah, kita tambah tua tambah pelupa … di Villa itu dulu ada seorang wanita paling cantik yang pernah saya lihat dan saya kenal. Dan namanya … O ya, Laura Liorento!

LAURA : (kaget) 
Laura Liorento?

GONZALO :
Benar (mereka saling tatap)

LAURA : (sadar lagi) 
Ah, tak apa-apa, hanya mengingatkan saya pada teman karib saya.

GONZALO :
Aneh juga.

LAURA :
Memang aneh! Dia diberi sebutan “ Perawan Bagai Perak”.

GONZALO :
Tepat, “Perawan Bagai Perak”. Nama itulah yang terkenal di sana. Sekarang saya seperti melihatnya kembali di jendela di antara kembang mawar merah itu. Nyonya ingat jendela itu?

LAURA :
Ya, saya ingat itulah jendela kamarnya.

GONZALO :
Dulu dia suka berjam-jam di jendela.

LAURA : (melamun) 
Ya, memang dulu dia suka begitu.

GONZALO :
Dia gadis ideal. Manis bagai kembang lilia. Rambutnya hitam. Sungguh mengesankan sekali! Mengesankan sampai kapan saja. Tubuhnya ramping sempurna. Betapa Tuhan telah menciptakan keindahan seperti itu. Dia seperti impian saja.

LAURA : (ke samping) 
Jika seandainya tuan tahu bahwa impian itu ada di samping tuan, tuan akan sadar impian macam apa itu, heh?
(keras-keras) Dia adalah gadis yang malang yang gagal cinta.

GONZALO :
Betapa sedihnya (mereka saling memandang)

LAURA :
Tuan pernah mendengar kabarnya?

GONZALO :
Ya, pernah.

LAURA :
Nasib malang meminta yang lain.
(kesamping) Gonzalo!

GONZALO :
Si jago cinta cakap itu! Peristiwa cinta yang sama.

LAURA :
Ah, duel itu.

GONZALO :
Tepat, duel itu. Si Jago Cinta itu adalah … saudara sepupu saya. Saya juga sayang sekali kepadanya.

LAURA :
Oh ya, saudara sepupu. Seorang temanku menyurati saya dan bercerita tentang mereka. Dia … saudara sepupu tuan itu … tiap pagi lewat di depan jendelanya dengan naik kuda, dan melemparkan ke atas seberkas kembang yang segera disambut gadisnya.

GONZALO :
Dan tak lama kemudian, dia … saudara sepupu saya itu … lewat lagi untuk menerima kembang dari atas. Begitu?

LAURA :
Benar. Dan keluarga gadis itu ingin agar ia kawin dengan saudagar yang tidak ia cintai.

GONZALO :
Dan pada suatu malam, ketika saudara sepupuku tadi tengah menanti gadisnya menyanyi … di bawah jendela, lelaki itu muncul dengan tiba-tiba.

LAURA :
Dan menghina saudara tuan itu.

GONZALO :
Kemudian pertengkaran terjadi.

LAURA :
Dan kemudian … duel!

GONZALO :
Ya, waktu matahari terbit, di tepi pantai, dan si Saudagar itu luka-luka parah. Saudara sepupu saya itu harus bersembunyi dan kemudian melarikan diri.

LAURA :
Tuan rupanya mengetahui benar ceritanya.

GONZALO :
Nyonya pun begitu agaknya.

LAURA :
Saya katakan tadi, seorang teman telah menyurati saya.

GONZALO :
Saya pun diceritai oleh saudara sepupu saya.
(ke samping) Heh, inilah Laura itu! Tak salah!

LAURA : (ke samping) 
Kenapa menceritakan padanya? Dia tak curiga apa-apa.

GONZALO : (ke samping) 
Dia sama sekali tak bersalah.

LAURA :
Dan apakah tuan pula yang menasihati saudara tuan itu untuk melupakan Laura?

GONZALO :
Ooo, saudara sepupu saya tak pernah melupakannya.

LAURA :
Bagaimana begitu?

GONZALO :
Akan saya ceritakan segalanya kepada nyonya.
Anak muda – Don Gonzalo itu – bersembunyi di rumah saya, takut menanggung akibatnya yang buruk sehabis menang duel itu. Dari rumah saya ia terus lari ke Madrid. Ia kirim surat-surat kepada Laura, di antaranya sajak-sajak. Tapi tentunya surat-surat itu jatuh ke tangan orang tuanya. Buktinya tak ada balasan. Kemudian Gonzalo pergi ke Afrika, sebab cintanya telah gagal sama sekali, masuk tentara dan terbunuh di sebuah selokan sambil menyebut berulangkali nama Lauranya yang sangat tercinta.

LAURA : (ke samping) 
Dusta! Heh, dusta kotor belaka!

GONZALO : (ke samping) 
Saya tak bisa membunuh diriku lebih ngeri lagi.

LAURA :
Tuan tentunya telah ditumbangkan kesedihan yang sangat

GONZALO : 
Memang betul, nyonya. Dia seperti saudaraku sendiri. Dan saya kira tak lama kemudian, Laura telah melupakannya. Kembali bermain memburu kupu-kupu seperti biasanya. Tak pernah meratapinya.

LAURA :
Tidak, Senior. Sama sekali tidak!

GONZALO :
Biasanya perempuan memang begitu!

LAURA :
Kalaupun itu sudah sifat perempuan, “Perawan Bagai Perak” adalah terkecuali! Teman saya itu menanti berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun dan tak selembar suratpun tiba. Suatu senja ketika matahari terbenam, dia meninggalkan rumahnya dan dengan langkah tergesa menuju pantai tempat kekasihnya menjaga nama baiknya. Ia menuliskan namanya di pasir, lalu duduk di atas karang, memandang ke kaki langit. Ombak menyanyikan tembang duka yang kekal, dan menggapai batu karang di mana perawan itu duduk. Air pasang segera tiba dan menyapu gadis itu dari muka bumi.

GONZALO :
Ya Allah!

LAURA :
Para nelayan di situ sering menceritakan bahwa nama yang ditulis gadis itu lenyap ditelan air pasang.
(ke samping) Toh kamu tak tahu aku reka-reka sendiri cerita kematianku!

GONZALO : ( ke samping ) 
Dia berdusta lebih ngeri dari dustaku!

LAURA : 
Ah, Laura yang malang!

GONZALO :
Wahai Gonzalo yang malang!

LAURA : (ke samping) 
Aku takkan bercerita kepadanya bahwa aku kawin dua tahun kemudian setelah duel itu!

GONZALO : (ke samping) 
Aku takkan bercerita kepadanya bahwa dua bulan kemudian aku mengawini penari ballet dari Paris!

LAURA :
Nasib memang selalu aneh. Di sini, tuan dan saya, dua orang asing, bertemu secara kebetulan dan saling menceritakan kisah cinta yang sama dari dua teman lama yang telah bertahun lalu terjadi, seperti sudah akrab benar kita ini!

GONZALO : 
Ya, memang aneh. Padahal mula-mula kita bertemu tadi, kita bertengkar.

LAURA :
Tuan juga yang tadi mengganggu merpati-merpati saya.

GONZALO :
Memang agak kasar saya tadi.

LAURA :
Memang kasar. (ramah) Tuan datang lagi besok pagi?

GONZALO :
Tentu, asal pagi secerah ini. Dan takkan lagi mengganggu merpati-merpati itu, tapi saya akan membawa remah-remah roti besok.

LAURA :
Oh, terima kasih. Burung-burung selalu tahu berterimakasih. Hei! Mana pembantuku tadi? – Petra!

GONZALO : (melihat laura yang membelakang) 
Tidak! Tak akan kukatakan siapa aku ini sebenarnya. Aku sudah tua dan lemah. Biarlah dia mengangankan aku sebagai penunggang kuda tampan yang lewat di bawah jendelanya.

LAURA :
Nah, itu dia.

GONZALO :
Itu Juanito! Dia sedang bercanda dengan gadisnya! (mengisyarati)

LAURA : (memandang gonzalo yang membelakang) 
Tidak, aku sudah berubah tua. Lebih baik ia mengingatku sebagai gadis bermata hitam yang melempar bunga dari jendela.

(juanito dan petra masuk) Hei, Petra!

GONZALO : 
 Juanito, kau sedikit lambat.

PETRA : (kepada laura) 
Si tukang kebun memberikan bunga-bunga ini kepada Seniora.

LAURA :
Alangkah bagusnya. Terima kasih. Sedap benar baunya! (beberapa bunga gugur ke tanah)

GONZALO :
Ini semua sungguh menyenangkan, Senora!

LAURA :
Demikian juga saya, Senior!

GONZALO :
Sampai besok, nyonya!

LAURA :
Sampai besok, tuan!

GONZALO :
Agak panas hari ini!

LAURA :
Pagi yang cerah. Tuan besok pergi ke bangku tuan?

GONZALO :
Tidak, saya akan kemari saja. Itu kalau nyonya tidak berkeberatan.

LAURA :
Bangku ini selalu menanti tuan!

GONZALO :
Akan saya bawa remah-remah roti!

LAURA :
Besok pagi, jadilah!

GONZALO :
Besok pagi. (laura melangkah ke kanan berpegang pada petra. Gonzalo membungkuk susah payah memungut bunga yang jatuh tadi, dan laura menengok ketika itu)

LAURA :
Apa yang tuan kerjakan?

GONZALO :
Juanito, tunggu dong!

LAURA :
Tak salah, dialah Gonzalo!

GONZALO : (ke samping) 
Tak salah, dialah Laura!

(mereka masing-masing melambaikan tangan)

LAURA :
Mungkinkah dia itu benar orangnya?

GONZALO :
Ya Allah, diakah orangnya itu?

(keduanya tersenyum)


L a y a r  T u r u n

KEBENARAN YANG MEMBUNUH - Meong Purwanto


 
PEMAIN :
KAPTEN
FRATER
SIPIR I
SIPIR II
FIRDAUS
POLISI

NASKAH :
MEONG PURWANTO

SINOPSIS
Aku berkata yang sebenarnya, tanpa kesulitan apapun. Sebab kebenaran itu selalu mudah dan sederhana. Dan untuk sampai kepada kebenaran, berarti bahwa seseorang tidak lagi merasa takut mati.
Adalah kebenaran yang menakutkan ini mencegahku merasa takut kepada kekurangajaran pejabat dan penguasa lainnya. Dengan mudahnya aku meludahi muka – muka dan kata penuh kebohongan itu, meludahi surat – surat kabar yang penuh kebohongan itu.

PENJARA
KERAS DAN DINGIN
LONCENG PUKUL 12 MALAM
TERDENGAR LOLONGAN SEORANG PEREMPUAN

KAPTEN ( KEPALA PENJARA ) SEORANG SIPIR PEREMPUAN, DAN FRATER ADA DISANA


KAPTEN 
Saya belum pernah menjumpai orang seperti dia, di dalam maupun diluar penjara ini. Dia menolak semua pengunjung dan tidak mau berbicara dengan siapapun juga. Biasanya dia tidak menyentuh makanan sama sekali dan tetap tidak tidur sampai pagi hari. Suatu hari dia minta pena dan kertas, kemudian dia habiskan waktu berjam – jam lamanya dengan membungkuk di atas pena dan kertas itu tanpa bergerak. Saya tidak dapat mengatakan apakah dia menulis sebuah surat atau berbuat yang lainya. Barangkali dia tidak menulis apa-apa.

FRATER
Jadi demikian keadaanya.

KAPTEN
Ya … benar Frater, dan yang lebih mengherankan lagi sedikitpun dia tidak merasa bersalah bahkan terbesit rasa kebanggaan yang aneh.

SIPIR I
Kita akan menembaknya besok pagi. Apa gunanya Frater atau orang lain bagi dia ? biarkan saja dia !

FRATER
Aku sama sekali tidak berurusan dengan para penguasa baik di tempat ini maupun di tempat lain.

SIPIR I
Itulah yang selalu mereka katakan.

FRATER
Apa sebabnya kau naik pitam, seakan-akan akulah yang akan menembaknya besok pagi ? kau pikir dia itu tidak bersalah, bahwa dia tidak membunuh pejabat itu ?

SIPIR I
Pembunuh atau bukan, dia adalah seorang perempuan yang tidak bersalah, dan dia tidak perlu dihukum mati. Mereka itulah yang harus ditembak mati !

FRATER
Mereka ? siapa yang kau maksud dengan “ mereka “.

SIPIR II
Bagaimana mungkin bahwa hanya Frater sendiri saja yang tidak mengenal mereka itu ?

KAPTEN
Sipir, kau sangat tidak pantas berbicara seperti itu kepada Frater kita ini.

SIPIR I
Maaf, Kapten, tetapi kami hanya mengatakan apa yang kami tahu.

KAPTEN
Tetapi tidak kulihat sesuatu yang dapat kau jadikan alasan untuk memcurigai Frater.

SIPIR I
Siap Kapten !

KAPTEN
Sudahlah. Sekarang kalian pergilah kesana dan tanyailah perempuan itu, apakah dia mau bertemu dengan Frater ?

BARENG
Siap Kapten !

SIPIR MELANGKAH MENUJU LORONG ITU

KAPTEN
Maafkan mereka Frater, seluruh hidupnya hanya dihabiskan untuk membersihkan lantai gedung penjara ini. Hingga terkadang mereka tidak bisa memilih kata-kata yang santun.

FRATER
Dia tidak bersalah Kapten, sayalah yang seharusnya mengerti.

KAPTEN
Saya sudah menasehatinya setiap kali, bahwa mereka harus belajar menggunakan pikirannya, dan bukan melulu perasaannya.

FRATER
Dia perlu pelampiasan. Bukankah seluruh hidupnya dihabiskan melulu hanya untuk rutinitas kerja ? dengan memberinya kesempatan untuk menggunakan perasaannya, sedikit banyak mereka akan merasa sedikit terhibur.

KAPTEN
Ya … bukan cuma mereka sebenarnya, saya sendiripun sangat membutuhkan hiburan.

LONCENG PUKUL SATU MALAM

KAPTEN
Oh ... subuh nanti saya harus memberi aba – aba kepada para algojo untuk menarik picu, dan ... oh saya tak dapat membayangkannya.

FRATER
Saya mengerti, Kapten. Seringkali kita dipojokkan untuk menentukan salah satu pilihan di antara berbagai pilihan yang ada, yang sebenarnya sama – sama tidak nikmatnya. Bahkan seringkali pula kita dipaksa dalam situasi yang tanpa pilihan. Dan dalam kasus yang tengah Kapten hadapi ini, pilihan – pilihan itu sangat tipis jaraknya, dan kabur. Tetapi Kapten, sejarah telah membuktikan bahwa hanya mereka yang dapat menentukan salah satu pilihan tersebut dengan tepat dialah yang akan menjadi manusia terhormat.

KAPTEN
Dan Frater sendiri berdiri pada pilihan yang mana ?

FRATER
Profesi saya mengijinkan saya untuk tidak memilih salah satu pilihan diantara dua ujung pilihan yang saling bertentangan.

SIPIR MUNCUL LESU


FRATER
Bagaimana ? apakah dia …

SIPIR II ( Cuma menggeleng lesu )

FRATER
Apakah dia berkata kepadamu bahwa dia mengenaliku ?

SIPIR II
Tidak. Dia tidak mengatakan apa-apa tetapi dia mengenal anda.

FRATER
Bagaimana kau tahu bahwa dia mengenaliku ?

SIPIR II
Kami dapat membaca perasaannya.

FRATER
Perempuan macam apa dia ? sejak dia menolakku, apakah itu berarti bahwa dia adalah pribadi yang lebih baik daripada aku.

KAPTEN
Tetapi dia pun menolak untuk menandatangani Surat Permohonan kepada Presiden supaya melindunginya dari hukuman mati.

FRATER
Barangkali itu merupakan tanda bahwa dia lebih baik daripada Kepala Negara.

SIPIR II
Tak perlu risau Frater. Penolakannya untuk bertemu dengan anda bukan di tujukan kepada diri anda pribadi, tetapi kepada dunia dan setiap orang yang ada di dunia ini.

TERDENGAR LOLONGAN PEREMPUAN

FRATER
Suara apa itu, Kapten ?

KAPTEN
Seperti dari lorong yang jauh.

SIPIR I
Itu suara dari selnya.

FRATER
Santo Petrus !

KAPTEN
Sipir, coba kalian tengok asal suara itu !

SIPIR
Siap Kapten !

SIPIR MELANGKAH MENUJU LORONG ITU, SEBENTAR MUNCUL LAGI DENGAN BERLARI DAN BERTERIAK – TERIAK


BARENG
Frater ! Frater !

FRATER
Ada apa ? kenapa kau berlari – lari dan berteriak – teriak seperti anak kecil begini ?

SIPIR II
Frater ! bila Presiden secara pribadi menyuruh saya untuk minta anda datang menghadap kepadanya, kiranya saya tak akan hanyut oleh perasaan yang berlebihan seperti ini. Tetapi , Frater ... dia Frater perempuan itu.

FRATER
Dia ? kenapa dia ?

SIPIR I
Dia ... wanita itu ingin bertemu dengan anda.

KAPTEN
Biarkan dia bertemu dengan Frater, Sipir mari kita tinggalkan mereka.

BARENG
Siap Kapten !

ANGIN MATI
LONCENG PUKUL 2 DINI HARI
KAPTEN DAN SIPIR MENYINGKIR.
PEREMPUAN ITU MUNCUL DALAM KEMEGAHANNYA.
IA BERDIRI AGUNG DAN ALANGKAH ANGKUHNYA WAJAHNYA KUSUT DAN DINGIN.
MATANYA TEDUH DAN LIAR TUBUHNYA BAGAI PATUNG LILIN TAPI PERKASA.
IA MASIH TEGAK BERDIRI MENGALAHKAN PEMBAWA LAUTAN DAN GUNUNG – GUNUNG
FRATER SEDANG MENDAKI PUNCAK – PUNCAKNYA


FRATER
Apa yang ingin kau katakan padaku ?

FIRDAUS
Apa yang Frater inginkan dariku ?

FRATER
Tak ada.

FIRDAUS
Tak ada ? benar tak ada Frater ?

FRATER
Eee ... baiklah, aku hanya ingin menolongmu untuk menghadapi ( menghela nafas ).

FIRDAUS
Hentikan itu ! maaf, Frater. Aku hargai niat baik Frater, tetapi sejauh ini aku tidak membutuhkan pertolongan orang lain.

FRATER
Eee ... baik – baiklah. Kepala penjara ini meminta kehadiranku disini dan …

FIRDAUS
... untuk menolongku dalam menghadapi saat – saat terakhirku dan membantu mempersiapkan segala sesuatu yang aku perlukan sebelum mati. Bukankah begitu Frater ?

FRATER
Itu tidak ada salahnya bukan ? dan juga untuk memenuhi adat dari bangsa yang ber – Tuhan.

FIRDAUS
Aku tidak menyalahkan anda Frater. Tetapi lihatlah membujukku agar aku mau bertobat dan mohon pengampunan Tuhan atas segala kejahatan yang telah kulakukan, tetapi membiarkan mereka subuh nanti menarik picu dan membinasakan makhluk Tuhan lainnya. Anda namai tugas macam apa itu Frater ?

FRATER
Apakah kau mulai sarkastis terhadap profesiku ?

FIRDAUS
Aku tidak beranggapan demikian. Ya, barangkali aku hanya salah mengartikan peristiwa ini. Maafkan aku frater.

FRATER
Tidak, tidak, kau tidak bersalah. Cuma kau terlalu jujur, kau takut apa yang akan terjadi padamu subuh nanti. ( terharu )

FIRDAUS 
Adakah orang yang tidak takut mati ?

FRATER
Mungkin.

FIRDAUS
Mungkin ?

FRATER
Ya mungkin.

FIRDAUS
Jadi benar, aku adalah salah satu dari kemungkinan itu.

FRATER
Itu tak boleh terjadi padamu.

FIRDAUS
Kenapa ?

FRATER
Kau belum bertobat dan minta pengampunan Tuhan.

FIRDAUS
Tetapi aku tidak melihat perlunya bertobat.

FRATER
Kau telah membunuh pejabat itu dan kau telah melakukan kejahatan besar.

FIRDAUS
Apa yang dinamakan kejahatan, bukanlah kejahatan.

FRATER
Kau telah melakukan pembunuhan, tetapi kau menolak mengakuinya sebagai tindakan kejahatan, apa maksudmu ?

FIRDAUS
Karena aku punya alasan kenapa aku membunuh, dan meskipun pembunuhan itu tidak kurencanakan.

FRATER
Apa alasannya ?

FIRDAUS
Karena dia pantas mati !

FRATER
Tetapi urusan hidup dan mati bukanlah hakmu !

FIRDAUS
Ya aku tahu. Tetapi ketika aku membunuhnya, bukan aku yang melakukannya. Juga bukan pisau yang kuhujamkan ketubuhnya itu yang melakukannya. Melainkan ada sesuatu kekuatan lain dan itulah yang telah membunuhnya. Dan dia bernama KEBENARAN !

FRATER
Kebenaran ? kau tahu tentang kebenaran ?

FIRDAUS
Kebenaran yang membunuh !

FRATER
Santo Petrus.

MENDADAK HENING

FIRDAUS
Maafkan aku Frater. Frater kecewa menemuiku ?

FRATER
Tidak, tidak, anakku. Justru aku berbahagia.

FIRDAUS
Kenapa demikian ?

FRATER
Karena aku bertemu anak yang jujur dan manis.

FIRDAUS
Aku bukan orang baik.

FRATER
Tidak. Kau anak baik. Aku dapat melihatnya dari dalam matamu, kau anak baik dan lemah lembut.

FIRDAUS
Kulitku halus tetapi hatiku keras. Suaraku halus bukan karena lemah lembut, tetapi kehalusan watak yang kejam. Dan gigitanku mematikan. Tidak Frater, aku bukan orang baik.

FRATER
Seandainya kau tidak baik, tentu ada sebabnya. Setan telah membujukmu !

FIRDAUS
Aku tak pernah bertemu setan. Yang kutemui cuma ayah, paman, suamiku, para lelaki yang telah menampungku dan kawan – kawannya, dan para penguasa.

FRATER
Kau punya masa lalu, ceritakanlah !

FIRDAUS
Semuanya gelap.

FRATER
Bagaimana mulanya ?

LONCENG PUKUL 3 DINI HARI HENING KUSUT

FIRDAUS
Aku lari dari rumah ayah ketika aku baru menginjak remaja, setelah ia memperkosaku.

FRATER
Ayahmu ?

FIRDAUS
Bukan yang pertama kali.

FRATER
Santo Petrus.

FIRDAUS
Lalu aku minggat ke rumah paman yang akhirnya menjualku dengan imbalan mas kawin kepada seorang lelaki yang setiap hari memukuli muka dan tubuhku. Cuma lima hari aku bertahan dirumah suamiku itu.

FRATER
Lalu.

FIRDAUS
Aku lari kejalanan. Hidup di jalanan. Di tampung oleh lelaki – lelaki yang setiap hari memperkosaku atau menjualku kepada kawan – kawannya dengan harga murah. Terlempar dari germo yang satu ke germo yang lain dan dipekerjakan siang dan malam lebih dari sapi perahan. Tetapi kemudian aku memutuskan untuk menjadi pelacur tanpa harus terikat dengan siapapun. Dan kebetulan wajahku cantik, tubuhku padat berisi, hidup dengan otot serta mengisyaratkan nafsu, maka dalam waktu yang singkat aku menjadi pelacur kelas satu dan terpandang diantara lainnya sebab aku sering menyumbang panti asuhan atau proyek amal lainnya.

FRATER
Santo Petrus ! kau tidak berusaha untuk bekerja yang lebih baik, bekerja yang lebih terhormat ?

FIRDAUS
Pernah, sebagai karyawati rendahan di sebuah perusahaan besar. Tetapi akhirnya aku menyadari bahwa sebagai pelacur aku telah dipandang dengan lebih hormat dan dihargai lebih tinggi daripada semua karyawati atau pekerja perempuan lainnya. Aku tahu bahwa seorang karyawati lebih takut kehilangan nyawanya. Seorang karyawati takut kehilangan pekerjaannya sehingga rela diperlakukan sebagai pelacur oleh majikan mereka karena mereka tidak mengerti bahwa kehidupan seorang pelacur pada kenyataannya lebih baik daripada kehidupan mereka.

FRATER
Santo Petrus ! kau harus memohon ampunan anakku, jika bukan untuk pembunuhan yang telah kau lakukan, kau dapat memohon ampun untuk profesi yang telah kau jalani selama ini sebagai …

FIRDAUS
Pelacur ?

FRATER
Ya !

FIRDAUS
Dan apakah Frater bisa menyebutkan di antara berjuta profesi yang ada yang bukan pelacur ? Frater, kita semua adalah pelacur yang menjual diri dengan macam – macam nama dan harga !

FRATER
Santo Petrus !

FIRDAUS
Santo Petrus ! Frater, tidak sesaat pun aku ragu – ragu mengenai integritas dan kehormatan diri sendiri sebagai perempuan. Aku tahu bahwa profesiku telah diciptakan oleh lelaki. Lelaki memaksa perempuan menjual tubuh mereka dengan harga tertentu, dan bahwa tubuh yang paling murah dibayar adalah tubuh sang isteri. Semua perempuan adalah pelacur dalam satu atau lain bentuk.

FRATER
Santo Petrus ! Dengarlah, anakku dengarlah ! baik ayah, paman dan suamimu, serta lelaki-lelaki yang telah menampungmu maupun siapa saja dari kawan – kawannya, tidak menyadari hargamu, kerena kau gagal untuk memberikan nilai cukup tinggi kepada dirimu. Lelaki tidak tahu nilai seorang perempuan, anakku. Perempuan itulah yang menentukan nilai dirinya. Semakin tinggi kau menaruh harga bagi dirimu, semakin mereka menyadari hargamu sebenarnya. Dan kini lihatlah, semua yang telah kau lakukan ini hanyalah akibat dendammu pada ayah, paman, suamimu, dan kenyataan buruk masa lalumu !

FIRDAUS
Bukan ! Tetapi karena aku telah sadar mengenai kenyataan, mengenai kebenaran ! ( MENGGELEGAK ). Semua perempuan adalah korban penipuan ! lelaki memaksakan penipuan kepada perempuan, kemudian menghukum mereka karena telah tertipu. Menindas mereka ketingkat terbawah, dan menghukum mereka karena telah jatuh begitu rendah. Mengikat mereka dalam perkawinan, dan menghukum mereka dengan kerja kasar sepanjang umur mereka. Menghantam mereka dengan penghinaan atau dengan pukulan. Aku sadar, bahwa yang paling sedikit diperdayakan dari semua perempuan adalah pelacur.

TERDENGAR LOLONGAN PEREMPUAN
LONCENG PUKUL 4 DINI HARI
HENING


FIRDAUS
Anda lelah Frater ?

FRATER
Tidak, aku mendengarkan, dan menikmatinya.

FIRDAUS
Anda lelah. Baiklah. Inilah kisah terakhirku yang menyebabkanku terseret ke penjara ini dan dijatuhi hukuman mati. Suatu hari seorang pejabat tinggi yang berpangkat Jenderal datang kepadaku. Dia berkata bahwa seorang tokoh yang amat penting dari Negara tetangga datang pagi itu dan menemui Presiden dalam acara Kunjungan Kenegaraan. Dalam satu kesempatan ditengah acara jamuan makan siang Kepala Negara memberi tahu dan memperlihatkan fotoku kepada tamu tersebut. Maka tamu tersebut ingin memesanku.

FRATER
Lalu kau pergi kepadanya ?

FIRDAUS
Seorang pelacur selalu mengatakan “ ya ” dan kemudian menyebutkan harganya. Bila ingin mengatakan “ tidak ” dia berhenti menjadi pelacur. Dan aku bukanlah seorang pelacur dalam arti yang sepenuhnya, maka sewaktu –waktu aku mengatakan “ tidak ”.

FRATER
Kenapa “ tidak ” ?

FIRDAUS
Aku benci penguasa.

FRATER
Kenapa soalnya ?

FIRDAUS
Karena yang ada pada mereka hanyalah kerakusan dan kepribadian yang penuh distorsi.

FRATER
Hati – hati bicaramu.

FIRDAUS
Aku cukup waras.

FRATER
Tapi kau bicara tanpa bukti.

FIRDAUS
Bukti ? setiap hari aku melihatnya. Seorang penguasa yang memiliki pelayan perempuan dan selir sebanyak tentaranya. Juga seorang penguasa yang suka membunuh dan menyiksa orang. Penguasa yang ketiga suka makanan, uang dan menimbun kekayaan tanpa batas. Seorang penguasa yang lain adalah yang begitu mencinta dan mengampuni dirinya sendiri sehingga baginya tak ada orang lain. Dan yang terakhir adalah seorang penguasa yang selalu ketakutan akan berbagai komplotan dan persekongkolan, sehingga dia menghabiskan waktunya dengan mengacaukan fakta – fakta sejarah dan memcoba memperdaya rakyatnya.

FRATER
Eee ... itu bisa saja terjadi. Tetapi bukankah kau seorang, maaf pelacur. Jadi apakah kau tidak tergiur oleh uangnya ? beliau pasti sangat mungkin untuk membayarmu dengan harga yang melebihi harga termahalmu.

FIRDAUS
Bagaimana mungkin aku menyetujuinya ? yang dia perbuat hanyalah menghabiskan uang berjuta – juta yang dia ambil dari rakyatnya yang mati kelaparan untuk diberikan kepada pelacur. Aku menolak pergi ke lelaki macam itu. Negeri ini dapat mereka miliki, tetapi tubuhku adalah milikku pribadi.

FRATER
Lalu apa yang kau maui sebenarnya ?

FIRDAUS
Tak ada.

FRATER
Tetapi kenapa kau menolaknya ?

FIRDAUS
Karena aku tak mau pergi kepadanya.

FRATER
Ah … bagaimana kau ini ? pastilah pejabat itu Jenderal itu sangat marah dan tersinggung dengan sikapmu itu.

FIRDAUS
Ya benar dan aku tahu apa sebabnya. Aku tahu bahwa dia hanyalah menerima perintah, dan setiap perintah yang diberikan kepadanya telah dia nilai sebagai tugas nasional yang bersifat suci. Apakah dia membawaku ke penjara ataukah ke ranjang tamu penting itu, baginya sama saja. Dimana terkait soal nasional. Seorang pelacur dapat diberi pernghormatan tertinggi, dan pembunuhan dapat menjadi suatu perbuatan heroik. Aku tetap pada pendirianku “ tidak ”.

FRATER
Kau berkata seperti itu, sepertinya kau sama sekali tidak merasa takut kepadanya dan kepada kemungkinan terburuk dari apa yang dapat diperbuatnya.

FIRDAUS
Mula-mula ya. Tetapi ketika dia mulai mengancamku dan mengucapkan kata –kata kotor sambil mendekatiku, aku mulai takut juga. Terlebih ketika ia mulai merogoh sakunya mengeluarkan pisau dari dalamnya, aku merasa takut luar biasa. Rasa takut yang menguasaiku bertahun – tahun seperti ketika aku berhadapan dengan ayah, paman suamiku dan setiap lelaki yang pernah lewat dalam hidupku. Dan kini dia Jenderal itu tengah memanfaatkan rasa takutku. Dia terus maju mendesakku. Dia mencengkeram tubuhku. Lalu tiba – tiba aku mendorongnya terlempar kebelakang, dan pisau itu lepas dari tangannya serta jatuh tepat didepan kakiku. Aku memungutnya. Dan saat itulah aku melihat rasa takut dimatanya aku dapat membacanya. Aku telah menghancurkan semua topeng dan mengungkapkan apa yang terselubung di belakangnya. Aku angkat tanganku tinggi – tinggi dan pisau itu tergenggam dengan mantap. Lalu segalanya berjalan dengan cepat, sangat cepat !

FRATER
Santo Petrus ! jadi benar-benar kau telah membunuhnya. Kau seorang penjahat.

FIRDAUS
Aku seorang pembunuh, tetapi aku tidak melakukan kejahatan, sebab aku hanya membunuh penjahat.

FRATER
Tetapi beliau seorang pejabat tinggi, seorang Menteri dan seorang pahlawan. Beliau bukan penjahat.

FIRDAUS
Bagiku perbuatan Menteri dan Presidennya sekalian tidaklah lebih dari kejahatan.

FRATER
Santo Petrus ! kau benar-benar seorang penjahat.

FIRDAUS
Tak ada seorang perempuan yang dapat menjadi penjahat. Untuk menjadi penjahat hanyalah lelaki.

FRATER
Coba lihat, apa yang barusan kau katakan !

FIRDAUS
Aku mengatakan yang sebenarmya, dan kebenaran itu adalah liar dan berbahaya !

FRATER
Santo Petrus.

FRATER ROBOH
FIRDAUS MENGGELEGAK
TERDENGAR LOLONGAN PEREMPUAN
FIRDAUS PUN MELOLONG BAGAI SERIGALA MURKA

FIRDAUS
Aku tahu apa sebabnya kalian begitu takutnya kepadaku. Akulah satu – satunya perempuan yang telah membuka kedok kalian dan memperlihatkan muka kenyataan buruk kalian. Kalian menghukumku sampai mati bukan karena aku telah membunuh pejabat itu, Tetapi karena kalian takut untuk membiarkan aku hidup. Hidupku berarti kematian kalian, kematianku berarti hidup kalian. Aku telah menang atas keduanya, kehidupan dan kematian, karena aku tidak mengharapkan apa – apa dan tidak takut apa – apa. Sebab selama hidup adalah keinginan dan harapan, ketakutan kita yang memperbudak kita. Kebebasan yang kunikmati membuat kalian marah. Kalian ingin ada sesuatu yang kuharapkan dan kutakutkan, kemudian kalian akan memperbudakku lagi. Tidak !

TERDENGAR LOLONGAN PEREMPUAN
FIRDAUS PUN MELOLONG BAGAI SERIGALA
MENDADAK HENING
LONCENG PUKUL 5 PAGI


POLISI
Waktumu telah tiba. Untuk yang terakhir kali, sekali lagi, meskipun tipis ada harapan kau dibebaskan jika kau mengirim Surat Permohonan Pengampunan kepada Presisen dan minta maaf atas kejahatan yang telah kau lakukan.

FIRDAUS
Jika kau keluar lagi dan memasuki kehidupan yang menjadi milik kalian, aku tidak akan berhenti membunuh. Jadi apa gunanya aku menyampaikan permohonan pengampunan kepada Presiden.

POLISI
Itu artinya kau memilih mati ?

FIRDAUS
Setiap orang harus mati. Aku lebih suka mati karena kejahatan yang kulakukan daripada karena salah satu kejahatan yang kau lakukan.

MUNCUL KAPTEN, SIPIR DAN FRATER

KAPTEN
Bagaimana ?

POLISI
Dia tetap menolak Surat Permohonan Pengampunan itu, Kapten.

KAPTEN
Baiklah kalau begitu. Mari kita berangkat.

FRATER
Sebentar. Untuk yang terakhir kali, siapa namamu ?

FIRDAUS
Firdaus.

FRATER
Firdaus ?

KAPTEN
Mari kita berangkat !

MEREKA BERANGKAT
TIBA – TIBA DARI JAUH TERDENGAR SUARA TEMBAKAN
FRATER TERKESIAP
KAPTEN DAN SIPIR MUNCUL LAGI
KAPTEN TERHUYUNG BAGAI PUISI PURBA


FRATER
Kenapa Kapten ? ada apa ?

KAPTEN
Suaranya sekarang tak ada, tetapi terus menerus bergema di dalam telinga, bergetar dalam kepala, menggoncangkan segalanya, menyebarkan rasa takut, rasa takut dari kebenaran yang membunuh. Kekuatan kebenaran, sama liar, sama sederhananya, dan lembut seperti anak kecil yang belum belajar berdusta.

FRATER
Kita sudah berusaha Kapten.

KAPTEN
Ya, kita sudah berusaha. Mungkin, entahlah ( KEPADA SIPIR ) Sipir, rawatlah penjara ini baik – baik.

SIPIR II
Apa maksud Kapten ?

SIPIR I
Ya, apa yang anda maksud, Kapten ?

KAPTEN
Aku lelah, letih, aku mesti undur diri.

FRATER
Letih ?

KAPTEN
Dan malu. Permisi Frater dan kalian Sipir.
KAPTEN MELANGKAH PERGI
BARENG ( MEMBERI HORMAT ) 
Siap kapten !

KAPTEN BERHENTI. LALU MELANGKAH LAGI
SETELAH KAPTEN TAK TAMPAK, FRATER PUN MELANGKAH PERGI TANPA PAMIT PADA SIPIR


SIPIR II
Frater ? !

FRATER BERHENTI, TAPI TAK MENGUCAPKAN SEPATAH KATA PUN LALU MELANGKAH LAGI

SIPIR II ( SETELAH FRATER TAK TAMPAK ) 
baik Frater.

CAHAYA MEMADAM
HENING


FIRDAUS ( DALAM GELAP )
Aku bertanya yang sebenarnya, tanpa suatu kesulitan apapun. Sebab kebenaran itu selalu mudah dan sederhana. Dan dalam kesederhanaanya itu terletak kekuasaannya yang ganas. Dan untuk sampai kepada kebenaran berarti bahwa seseorang tidak lagi merasa takut mati. Karena kematian dan kebenaran adalah sama dalam hal bahwa keduanya mensyaratkan keberanian yang benar bila seseorang ingin sampai kepadanya. Kebenaran yang menakutkan ini telah memberiku kekuatan yang besar. Ia melindungiku dari rasa takut mati atau takut kehidupan, rasa lapar, ketelanjangan dan kehancuran. Adalah kebenaran yang menakutkan ini mencegahku merasa takut kepada kekurang ajaran pejabat itu dan para penguasa lainnya. Dengan mudahnya aku meludahi muka – muka dan kata penuh kebohongan itu, meludahi surat – surat kabar yang penuh kebohongan itu.

SUARA FIRDAUS MENDADAK LENYAP
SELURUH RUANGAN LENGANG BESERTA DIAM
HENING