Jumat, 06 Agustus 2010

KOOR - Teater Lembaga

Lakon
KOOR
Kidung Orang-orang Rakus
Oleh Teater Lembaga

ADEGAN 1

Musik.Orang-orang berperut buncit bermunculan dalam aktivitas mereka, tenggelam dalam irama dan nyanyian gembira. hingga satu moment, gerakan mereka membeku. kurop, menyibak keramaian, bicara pada penonton.

KUROP
Koor? Kedengerannya aneh gak, sih? Tapi di sini, di negeri kami yang bernama Negri Durjanasia ini, anda boleh bilang kalo setiap kami semua adalah penganut koor yang taat. Karena koor adalah nilai luhur warisan para leluhur. Anda bisa buktikan semua itu dengan melihat bagaimana cara kami memelihara dan membuncitkan perut-perut kami. Karena perut buncit adalah lambang kegagahan kami, kewibawaan, kesuksesan, kesejahteraan dan kesempurnaan hidup kami. Jadi sudah sewajarnya kalo kami mengarahkan semua tindakan-tindakan kami- tanpa terkecuali, demi perut-perut buncit kami ini. Lantas, anda semua mungkin akan bertanya... bagaimana cara kami melestarikan koor yang luhur itu secara turun-temurun? Ahaa...inilah negeri kami, rumah kami...kami akan terus ada dan berkembang dalam...tradisi!

orang-orang yang tadi membeku dalam aktivitas mereka, tiba-tiba mencair kembali, menyanyi dan menari, riang.

ORANG-ORANG (Nyanyi)
Tradisi!...Koor!...Tradisi!...Koor!...Tradisi!... Koor! Lestarikanlah tradisi!...Koor!...

Purok masuk, sosoknya nampak paling kurus, penampilannya ganjil dibandingkan yang lain. purok celingukan, seperti orang linglung.

ORANG 1 (Nyanyi)
Dengan tradisi koor...kita tau kapan kita mesti tidur...

ORANG 2 (Nyanyi)
...kita tau kapan mesti bangun...

ORANG-ORANG (Nyanyi)
Tradisi!...Koor!...Tradisi!..Koor!...Makmur....!

ORANG-ORANG (Nyanyi)
Jangan jadi orang jujur...hidupnya nanti malah mundur!

ORANG-ORANG (Nyanyi)
Tau sama tau...itu jurus yang paling manjur!

PEREMPUAN 1 (Nyanyi)
Mau belanja di pasar, jangan cuma bawa uang...ajak saudara atau teman, biar bisa bersekongkolan...

PEJABAT 1 (Nyanyi)
Kedudukan tinggi, jadi mentri, atau polisi...cukup pake koneksi.

ANAK-ANAK KECIL (Nyanyi)
Umur tiga tahun kami mulai belajar curang...umur lima tahun belajar tipu-tipuan...

ANAK-ANAK REMAJA (Nyanyi)
Umur lima belas mulai praktek lapangan...curi-curi waktu...cari-cari kesempatan. Jilat sana-jilat sini...rebut kedudukan orang!

ORANG-ORANG (Nyanyi)
Itulah nilai luhur warisan para leluhur...

sekelompok orang-orang sedang melakukan transaksi di pasar dengan saling mencurangi. kurop hadir di antara mereka.

KUROP (Pada penonton)
Beginilah cara kami hidup dalam adab kesantunan yang terpelihara dengan baik. Dari generasi ke generasi. Saling menjegal satu sama lain, sikut sana-sikut sini, saling curang-mencurangi- dengan arif. Dan dengan begitu kebersamaan kami terus tumbuh, tercipta oleh satu kebutuhan yang sama...yaitu; kebutuhan membuncitkan perut pribadi!

Black Out


Gelap. Hanya sebulat cahaya menerangi wajah purok. purok tercekam sendirian. suara-suara berita tentang purok, sang koruptor terdengar dari berbagai siaran membuat suara dari berita itu menjadi saling bertumpuk. lampu follow masih menyorot wajah purok yang duduk di sebuah kursi dengan wajah yang pucat dan bibir yang bergetar. tiba-tiba terdengar suara ketukan palu menghentikan suara berita-berita tentang koruptor itu.

SUARA HAKIM
Terdakwa PUROK terbukti melakukan penggelapan uang sehingga negara mengalami kerugian sebesar 15 trilyun. Dan terdakwa Purok berhak atas hukuman 10 tahun penjara!

Lampu tiba-tiba terang semua. suasana pasar di negeri durjanasia, riuh oleh semua penduduk negeri yang semuanya berperut buncit.
purok masih duduk di kursinya memandangi sekeliling dengan rasa heran melihat berbagai kecurangan yang ada di pasar itu. seorang penjual mengusir purok dari bangkunya.

PENJUAL
Minggir! Kursi ini buat langganan saya. Enak aja maen dudukin!

PUROK
Maaf, maaf...

Seorang penjual beras sedang menempelkan besi pada timbangannya supaya jadi berat sebelah.

PENJUAL BERAS
Bagus. ( pada pembeli) Ayo, beras murah, beras murah....

seorang pemuda sudah selesai membeli sehelai kain selendang.

PENJUAL SELENDANG (Menamparkan uang ke selendang)
Laris manis, laris manis...

Si pemuda langsung mendekati pacarnya, memberikan kain itu dengan sikapnya yang romantis. si gadis tersenyum senang dan kaget melihat lipatan kain itu bolong. si gadis langsung menampar si pemuda dan langsung pergi. si pemuda memandang si penjual kain. si penjual kain nampak puas.

PENJUAL KAIN
Selendang sutra, selendang sutra...

Kecurangan terjadi di mana-mana. purok selalu merespon dan mencoba mencegah para pembeli untuk tidak belanja di situ. kurop, seorang petugas polisi, memperhatikan tingkahnya. Purok semakin kebingungan menghadapi keadaan negri yang menurutnya kacau balau. Kurop, terus mengamati tingkah purok yang semakin aneh.

KUROP
Hei, kamu! Sini!

Purok celingukan, bingung.

KUROP
Kamu! Iya! Kamu, sini!

PUROK
Saya pak?

KUROP
Iya, kamu! Kamu pikir saya ngomong sama malaikat?... Sini!

Purok tegang dan dengan terpaksa menghampiri Kurop.

KUROP
Kenapa badan kamu kurus?

PUROK
Hah? Ooo...(Menganehi keadaan sekeliling)

KUROP (Mengacungkan pentungan)
Kenapa badan kamu kurus?

PUROK (Takut)
Ii...iya, pak...Ee...eee…emang udah dari sononya, Pak…

KUROP
Kamu pasti bukan orang sini!

PUROK (Gugup)
Mmmm…ii...iya, pak.

KUROP
Darimana asal kamu?

PUROK
Endonesa.


KUROP
Oo…Endonesa. Tau, tau, tau. Pantes. Keliatan. Jelas!

PUROK
Apanya, pak?

KUROP
Gampang terhasut, bisanya cuma ngeluh, suka besar-besarin masalah, susah dimengerti!…Tapi saya kagum sama kamu dalam satu hal.

PUROK
Apa itu?

KUROP
Mimpinya selangit!

PUROK
Ah…bapak bercanda.

KUROP
Serius saya.

PUROK
Seberapa serius bapak menangani masalah?

KUROP
Tergantung. Masalah apa dulu?

PUROK
Kenapa kejahatan didiamkan? Pedagang curang itu juga. Itu kan masalah.

KUROP
Masalah? Curang? Kenapa memangnya? Bagus, kan?

PUROK
Hah! Aneh!

KUROP
Kamu yang aneh!

PUROK
Lho, kok saya?

KUROP
Ya, kamu. Kejahatan, kecurangan, ngakal-ngakalin orang, semua itu termasuk masalah yang baik. Justru kalau kamu tidak melakukan semua itu, kamu bisa ditangkap! Mau kamu ditangkap?

PUROK
Saya ditangkap justru karena saya gak ngelakuin kecurangan? Ah, bapak bercanda! Bapak mau mempermainkan saya, ya? Bapak pikir saya idiot?

KUROP
Kamu pikir kamu ada di mana? Endonesa? Ini negri Durjanasia.

PUROK
Durjanasia? (Pada diri sendiri) Durjanasia? Di mana ada Durjanasia, ya?

KUROP
Ah, payah!…Masak sama tetangga negara sendiri aja gak tau. Keterlaluan! Bisa mati konyol kamu di sini! Udah, sana pulang!…Pulang sana…pulang!...Pulang ke Endonesa!

PUROK
Tapi pak…

KUROP
Pulang! Daripada mati konyol?

PUROK
Mati konyol karena apa?

KUROP
Karena kamu kurus, Endonesa!

PUROK
Ah!...Memang saya kurus...saya akuin...tapi saya sehat walafiat, pak. Saya bisa jamin, saya bisa hidup di sini sampai 7 turunan- kalau saya mau!

KUROP
Kamu? 7 turunan? Gak mungkin!

PUROK
Saya punya uang di mana-mana.

KUROP
Di mana?

PUROK
Swises.

KUROP (Meremehkan)
Kamu yang bercanda sama saya. Mau mempermainkan saya? Saya ini penegak hukum di sini. Saya bisa penjarakan kamu kapan saja saya mau! Termasuk kebohongan kamu tadi.

PUROK
Kebohongan yang mana?

KUROP
Yang 7 turunan tadi! Dengan begitu kamu udah menghina Durjanasia! Kamu tidak tau kan Durjanasia? Tau gak sih Durjanasia itu apa? Wah, wah, wah...ayo, ikut!…Ikut!…Ikut!

PUROK
Kemana pak?

KUROP
Menjarain kamu!

PUROK (Shock)
Iii...iya, pak…kan itu…tadi kan yang...yang saya ucapkan tadi itu kan cuman pengandaian aja, pak…hanya perumpamaan. Seandainya, seumpama, misalkan- ya, maunya saya sih, gitu. Tapi…itu kan cuma istilah, pak. Tapi sumpah, pak…saya hanya gak ingin diusir dari negara bapak yang santun ini.

KUROP (Tersinggung)
Apa kamu bilang? Santun?

PUROK
Santun, pak.

KUROP
Sekali lagi kamu berani bilang begitu, saya pentung kepala kamu!

PUROK
Tapi santun kan pujian, pak. Bapak gak suka dipuji?

KUROP
Itu hinaan paling keji dan biadab!

PUROK
Lho, tapi itu...

KUROP
Udah, udah...cukup! Saya udah kehabisan akal buat ladenin kamu! Ayo, ikut! Orang kayak kamu emang pantesnya dikerangkeng supaya gak nyusahin orang!


PUROK
Waduh, pak…tapi...apa itu salah?

KUROP
Salah! Fatal! Kamu udah mencoreng dan mempermalukan wibawa bangsa saya! Dan hukumannya adalah penjara seumur hidup!

PUROK
Saya gak terima ini! Bapak sudah mempermainkan saya, mengintimidasi saya, memperlakukan saya seolah saya telah melakukan tindak kriminal! Saya juga bisa mengadukan bapak karena sudah berusaha mencemarkan nama baik saya!

KUROP (Terbahak)
Haha...dasar Endonesa! Endonesa…Endonesa… (Langsung paksa) Ayo, ayo!...Ayo, ikut saya! Daripada kamu ngoceh terus gak karuan kayak gitu! Karena semakin banyak yang kamu ocehin semakin banyak juga kesalahan yang bisa memberatkan hukuman kamu!

PUROK
Waduh, pak...tapi, pak…maap, maap...baik, oke. Saya akuin, saya salah. Maap, pak. Tapi saya mohon pengertian bapak...mm...maksud saya....tolong, urusan ini hanya sampai di sini aja. Mmm...maksud saya...kalo bapak gak keberatan....dan apabila bapak bersedia...apakah sudi kiranya bapak tunggu saya sebentar aja di sini...mmm...maksud saya...saya mau nyiapin dulu segala sesuatunya supaya urusan di antara kita bisa selese. Bentar ya, pak. (Bicara pada penonton) Pantas gak, ya...saya lakuin ini? Kalo di negri saya, sih...cara ini ampuh banget buat nyelesain masalah. Ah, coba dulu deh. (Mengambil segepok uang dari tasnya dan menaruh uangnya di pojokan, lalu kembali menghampiri KUROP) Pak... mmm...bapak liat pohon itu...batu! Di samping kiri batu…daun. Nah, yang di bawahnya itu untuk bapak!

KUROP (Menoyor kepala Purok dengan kesal)
Aduh! Pinter banget sih Kamu!

PUROK (Tersanjung)
Ah, bapak bisa aja…

KUROP
Duuuh...! Kamu bisa mikir gak, sih? Coba pikir! Pantesnya orang kayak kamu itu diapain, sih?

PUROK
Waduh...salah lagi saya ya, pak?

KUROP (Menggeram, habis kesabaran)
Gggrrr....

PUROK (Gemetar)
Maap, maap, pak...tapi bukan maksud saya begitu.

KUROP
Kalo bukan begitu apa lagi? Selain kamu mempermalukan saya, kamu udah menghina adab dan budaya bangsa ini!

PUROK
Ya, tapi...ini kan cuman sekedar cara...hanya cara. Nggak lebih buruk dari nipu kan, Pak? Kenapa saya harus dituduh sebagai penghina budaya bangsa?!

KUROP
Karena adab kesantunan di sini sudah terpelihara dengan baik sejak dari jaman nenek moyang! Kalo kamu melanggarnya berarti kamu telah memberaki nenek moyang saya! Dan saya gak akan diam saja melihat ada orang asing menodai nilai luhur warisan moyang saya! Saya akan hukum kamu seberat-beratnya atas perbuatan kamu ini! Kamu akan saya gantung sampe leher kamu putus! Ayo, ikut!

PUROK
Ampun, pak...tobaat! Tolong, jangan hukum saya karena kesalahpahaman ini. Jangan gantung saya, pak. Saya cuma orang asing bodoh yang gak tau apa-apa soal adab kesantunan negeri bapak yang...yang luhur ini. Moga-moga nenek moyang bapak juga mau memaafkan saya atas kelancangan saya ini. Tapi saya bener-bener gak tau mesti gimana lagi agar masalah di antara kita bisa selesai dengan baik. Dan soal yang di bawah daun itu...saya ikhlas, pak...itu memang untuk bapak. Walaupun cara saya itu bapak nilai telah mencoreng budaya bangsa...tapi sumpah, pak... cara itu cara yang terbaik dari yang saya tau.

KUROP (Sambil bergerak ke arah uang yang diletakan Purok) Ini...nih...walaupun kamu nyebelin...tapi kamu jago ngeles juga, ya. Itu salah satu lagi yang bikin saya suka sama kamu. Cukup licik! Dengan modal itu kamu bisa mulai hidup di negri ini. Ya, paling-paling cuma butuh waktu dan sedikit proses untuk jadi seperti saya. (Ngambil uang yang ditaruh Purok di bawah daun, menimang-nimang sebentar) Eh, sini!

PUROK
Saya?

KUROP
Iya, pinter! Sini!

Purok menghampiri kurop, mengeluarkan catatan.

KUROP
Nama kamu siapa?

PUROK
Purok, Pak.

KUROP
Lumayan. Keperluan?

PUROK (bingung)
Aaa..eee...tt...tamasya, Pak.

KUROP
Mmm...tamasya. Ada berapa ginian yang kamu bawa?

PUROK
Oh. Ya, cukuplah, Pak.

KUROP
Cukup buat apa aja? 7 turunan?

PUROK
O, enggak, Pak. Tadi itu kan cuman istilah aja. Ya, salah satunya...cukuplah buat nambahin bapak.

Purok memberikan uang segepok lagi, Kurop menerimanya, menghitung-hitung. tak lama kemudian muncul kadus.

KADUS
Ehem, Ehem..Ehemm....

KUROP
Wah, Pak Kadus. Abis belanja, Pak?

KADUS
Mmm. Gimana pendapatan hari ini?

KUROP
So Far So Goodlah, Pak.

KADUS
Good...good. (Melihat Purok) Siapa ini?

PUROK
Saya…saya…Purok, pak. (Mengulurkan tangan, ngajak salaman)

KADUS
Ngapain kamu di sini? Sana, sana! Gembel!

PUROK
Lho, tapi saya lagi ada urusan sama bapak ini, pak.

KUROP
Ah, urusan apa? Enggak. Yang mana?

PUROK
Batu, Pak. Yang di bawah daun...

KUROP
Daun yang mana?

PUROK
Yang saya tambahin barusan.

KADUS
Daun? Daun apaan, sih?

KUROP
Oh…enggak, pak. Cuma recehan. Gak penting.

KADUS
Oo...(Pada Purok) Bener, gak penting?

PUROK (Mau protes)
Mm...tapi dua gepok...(diplototin Kurop)...iya, iya. Bener, pak. Gak penting.

KADUS
Mencla-mencle kamu!! (Kepada Purok) Udah, sana kamu. Kami tidak terima orang-orang seperti kamu. Udah kurus, mencla-mencle lagi. Kamu bisa memperburuk wajah Durjanasia dan mengganggu stabilitas nasional. Sana! (Menarik Kurop ke sisi lain). Saya liat prestasi kamu tidak meningkat, Kurop. Perut kamu juga tidak bertambah besar. Ada apa sebenarnya?

KUROP
Begini, pak. Kemarin-kemarin saya agak kalah cepat dengan si Kurap dan teman-temannya. Tapi saya akan berusaha mengalahkan mereka di proyek berikutnya.

Purok bingung mendengar percakapan mereka.

KADUS
Ya, harus gitu. Apalagi si Kurap bakal dinobatkan jadi Warga Durjanasia paling berprestasi tahun ini.

KUROP
Wah, gawat! Emang proyek apaan aja yang dia dapat?

KADUS
Oo, banyak!… Aspal Jalan di selatan, Babat hutan, Iklan calon pejabat, export minyak mentah, terus...

KUROP
Wah, berapaan tuh pak?

KADUS
Buanyak!

KUROP
Pantas aja kalo dia bakal dinobatkan jadi tokoh paling berprestasi di negri ini.

KADUS
Ya, iyalah! Dia lebih licik dan berhati batu dibandingin kamu! Lha, kamu? Gampang kasihan! Gak tegaan! Masih doyan recehan! Padahal sebagai penegak hukum seharusnya kamu memberikan contoh yang baik dan bisa menjadi suri tauladan buat masyarakat. Payah kamu!

KUROP
Kan tadi saya bilang saya ingin menyaingi si Kurap.

KADUS
Dengan cara apa?

KUROP
Santunan Orang Miskin, Pak.

KADUS
Wah…oke, tuh. Berapaan?

KUROP
Walaupun cuma regional, pak…tapi, yaah...kalo diitung-itung bisa nyampe 17 triyunan kuriah lah, pak.

KADUS
Mmm...Good!…Kalo gitu, 50% jangan lupa kamu siapin buat saya.

KUROP
Bisa diatur, pak. Tapi 20% aja ya, pak. Ntar yang lain pasti minta bagian juga. Nanti saya dapet apa?

KADUS
Ya, diatur dong!…Katanya mau jadi tokoh masyarakat? (Pada Purok) Eh, Gembel! Liat ini! Kamu denger barusan, kan? Ini calon tokoh berprestasi berikutnya di negri ini. Kamu mesti banyak belajar dari orang-orang kayak dia!

PUROK
Oo, iya, iya, pak. Pasti, pasti.

KADUS
Pasti, pasti. Mencla-mencle kamu. (Kepada Kurop) Jangan Lupa yang 50%!…

kadus pergi.

KUROP
Waduh, nasib!…Proyek belom jalan, udah ilang 50%! (Lalu berjalan keluar)

Purok ternganga, lalu bicara pada penonton.

PUROK
Durjanasia? Walaupun saya baru pertama kali denger ada negri bernama Durjanasia, tapi dengernya saja udah bikin tentram hati saya. Yess! Sekarang saya udah gak perlu takut lagi sama kejaran aparat dari negeri saya. Karena dengan menjadi warga negara ini, saya akan terbebas dari dakwaan sebagai koruptor buronan. Ini, negri seperti ini yang saya cari. Saya bukan hanya dapat tempat sembunyi, tapi sekaligus saya mendapatkan kehidupan yang saya dambakan. Ah, kalo tau gini, gak perlu repot-repot nyamar jadi turis. Karena adab dan budaya curang sangat dijunjung tinggi di sini. Dan dengan ilmu dan pengalaman saya sebagai koruptor, saya yakin, saya bisa jadi warga Durjanasia yang baik. (melihat ke perutnya) Nah, tinggal ini yang perlu dipikirin. (Lalu tersenyum)

Transisi. Di belakang Purok sudah nampak orang-orang mengantri di departemen tenaga kerja. Purok melihat ke arah mereka.

PUROK
Nah! Dari sinilah saya akan mulai!

Adegan 2

Fade up
departemen tenaga kerja. Down right, meja petugas pengambilan nomer antrian. right centre, terdapat meja 1 surat rekomendasi. up center, kursi antrian yang tersusun dengan sangat rapi. left center, meja 2 petugas stempel. dan down left, pintu ke ruang lain.

Purok terus mengamati dan mempelajari situasi aktifitas yang sedang terjadi dan bergerak menepi, berdiri tidak jauh dari kerumunan orang–orang yang sedang mengantri.

Beberapa orang sedang bergerombol di dekat meja rekomendasi untuk mendapatkan surat rekomendasi.

Bebrapa yang lain sedang mengantri untuk mendapatkan stempel pengesahan dari petugas stempel.

PETUGAS ADMINISTRASI (mengabsen)
128..!

Kalbun maju ke depan meja, lalu duduk.

PETUGAS ADMINISTRASI
Nama?

KALBUN
Kalbun, Pak.

PETUGAS ADMINISTRASI
Lamaran kerja; Dinas Kesehatan. Posisi; Kepala Staf Bagian Keuangan. Sogokan?

KALBUN
5 Juta, Pak.

PETUGAS ADMINISTRASI
Good. Ini surat rekomendasinya. (Menunjuk ke meja 2) Stempel di sana.

KALBUN
Yes! Makasih, Pak.

Kalbun langsung bergegas mengantri di meja stempel, langsung nyelak ke antrian paling depan. di depannya, seorang wanita duduk di hadapan petugas.

PETUGAS ADMINISTRASI
129...!

SODID
Saya, Pak.

PETUGAS ADMINISTRASI (Berteriak)
Nyingkir! Saya gak terima sogokan ratusan ribu!

SODID
Tapi ini udah sesuai dengan lamarannya. Saya kan melamar kerjanya cuma jadi OB.

PETUGAS ADMINISTRASI
Mau OB, kek...biayanya sejuta dua ratus!

SODID
OB, pak...cuma OB. Masa sampe jutaan?

PETUGAS ADMINISTRASI
Kamu pikir gampang apa nyalurin kerja? (Memanggil) Satpam!...

dua orang satpam mendekat.

PETUGAS ADMINISTRASI
Setorin nih gembel ke polisi!

SODID
Bentar, Pak. Sogokan yang tadi...

SATPAM
Banyak cingcong! Ikut!

Kedua satpam itu menyeret sodid. Di meja stempel, judam yang ada di belakang kalbun tampak geram, ia lalu membalikan tubuh kalbun.

JUDAM
Heh, enak aja maen nyelak. Gua udah ngantri dari tadi, neh. Nomer antrian lo berapa?

KALBUN
Apa? Kenapa? Sogokan lo berapa?

JUDAM
2 juta.

KALBUN
Ya, udah. Lo di belakang gua. Sogokan gua 5 juta. Minggir, minggir, minggir. Sogokan seiprit aja mau di depan!

Purok yang dari tadi memperhatikan orang-orang di situ, tampak cerah seperti dapat ide melihat apa yang dilakukan kalbun.

PUROK
Ini yang paling asyik. Saya paling suka ambil jalur cepat.

Purok langsung bergegas menuju antrian stempel, langsung menyelak di tengah-tengah antrian itu.hursur yang berada di belakang purok tampak tersinggung karena diselak sama orang kurus.

HURSUR
Ehm...Ehm...

Purok hanya nengok, mengangguk dan tersenyum padanya kemudian mengantri kembali.

HURSUR
Ehm!...

PUROK (Mengangguk)
Pak...

HURSUR
Mau ambil posisi saya? 30 juta, mau?

PUROK (Terkejut)
Waduh!

HURSUR
Minggir!

Purok pun kemudian menyingkir ke belakangnya, tapi tetap tak ada celah untuknya. purok akhirnya berdiri paling belakang. purok berusaha kembali menyelak antrian, tapi semua orang yang antri menyingkirkan purok hingga ia terpelanting ke tempat asalnya.

PUROK
Gila! Gimana caranya saya bisa nembus?

Purok mengamati lagi situasi sekitar.

PETUGAS ADMINISTRASI
Nama dan alamat?

ABIDIN
Abidin. Kampung Pulo Tiud, no 313 Kelurahan Durjanasia Barat.

PETUGAS ADMINISTRASI
Berapa uang administrasi yang kamu siapkan?

ABIDIN
15 juta pak.

PETUGAS ADMINISTRASI
Baik. Kamu memberi diatas 10 juta, berarti masuk kategori 3. Ini kamu dapat nomer 51 dan tanda tangan disini.

ABIDIN
Terimakasih, pak.

PETUGAS ADMINISTRASI (Teriak)
Next!…

Siti bagiyatun tampak sedang merayu petugas stempel.

PETUGAS STEMPEL
Siti Bagiyatun...ini gimana? Kok, gak ditulis sogokannya?

SITI BAGIYATUN
Ah, bapak...malulah, pak. Masa kayak gini aja harus ditulis.

PETUGAS STEMPEL
Oh, harus. Untuk bukti. Kalo kamu gak nepatin janji gimana?

SITI BAGIYATUN
Tapi kan ini sogokannya laen.

PETUGAS STEMPEL
Saya ngerti. Saya tahu. Saya paham. Tapi kamu mau ngasih berapa malem? Itu kan harus ditulis. Ayo, berapa malem kamu mau sama saya?

SITI BAGIYATUN
Ah, Bapak...gituan mah gak usah pake ditulis segala. Yang penting kan kita bisa...oho-oho.

Siti Bagiyatun melakukan gerakan yang erotis, kemudian membelai petugas dengan mesra.

PETUGAS STEMPEL
Nggak bisa. Kamu harus tulis. Ini untuk bukti.

SITI BAGIYATUN
Oke. Berapa malem Bapak mau sama saya?

PETUGAS STEMPEL
Ya, kamu mau ngasih saya berapa malem?

SITI BAGIYATUN
Satu.

PETUGAS STEMPEL
Wah! Cuma semalam? Tambahin lagi, dong! Biar semuanya bisa lancar!

SITI BAGIYATUN (Menunjukan dadanya)
Bapak mau nyicip gak, nih? Kalo mau...dipercepat dong!...Jangan dilama-lamain kayak gini.

PETUGAS STEMPEL
Aduh, pusing saya! Ya, udah. Tapi...malam ini, ya!

SITI BAGIYATUN
Beres, Pak. Dateng aja jam delapanan. Mumpung laki saya nggak ada.

Siti Bagiyatun mulai membelai dagu petugas. petugas gemetaran sambil memberikan stempel. setelah menerima stempel, Siti Bagiyatun langsung pergi, sementara petugas masih gemetaran dengan mukanya yang mesum. tanpa sepengetahuannya, kalbun sudah duduk di depannya.

KALBUN
Pak...Pak...Pak...sadar, Pak.

Petugas stempel masih saja menghayal. kalbun tak sabar, ia langsung mengambil stempelnya petugas. petugas stempel baru sadar setelah terdengar stempel itu digebrakan oleh kalbun di mejanya.

PETUGAS STEMPEL (Latah)
Eh, kuntul-kuntul-kuntul...berani-beraninya kamu! Emang berapa sogokan kamu? Maen stempel aja!

Kalbun langsung mengacungkan uang segepok di muka petugas stempel.

KALBUN
Nih! Untuk kencan nanti malam. Kalo saya lulus, 50% gaji pertama saya buat Bapak.

PETUGAS STEMPEL
Oh...bagus, bagus, bagus. Kamu pasti lulus.

Kalbun bangkit dari tempat duduknya, menoleh ke judam yang ada di belakangnya lalu meledekinya. judam down, langsung duduk di depan petugas stempel.

Saam dan sariq tampak lebih fokus dari yang lainnya, berusaha mencari sasaran.

SAAM
Oke. Kalo gitu, deal. Saya bantu kamu, kamu bantu saya. Tinggal nyari sasaran.

SARIQ
Tenang aja. Ayam itu bakal datang sendiri.

Di meja stempel, tiba-tiba dudat yang baru nyampe dari meja rekomendasi langsung menyelak purok.

DUDAT
Minggir lo, gembel!

Purok hendak protes.

DUDAT
Apa? Mau protes? Emang sogokan kamu berapa? Kurus dekil kayak kamu itu nggak layak ada di sini. Sana, sana, sana...gembel!

PUROK
Eh, jangan main-main ya! Saya emang kurus tapi saya bukan gembel.

Tiba-tiba baal sudah ada di belakang purok. dia langsung mendorong purok hingga mental.

BAAL
Minggir. Gembel aja protes lo!

PUROK
Apa-apaan ini?

BAAL
Lo gak bakal bisa ngantri kalo nggak punya ini!

PUROK
Apaan, tuh?

BAAL
Ini, ginian! (Menunjukan Surat Rekomendasi). Udah, sana. Capek gua ladenin gembel.

PUROK
Duuuh...apaan ya, tadi?

Baal dan dudat langsung berdiri di antrian. sementara itu, purok yang berada di tengah panggung, merasa sudah mulai mengerti aturan mainnya.

PUROK
Ooo...surat rekomendasi. Rekomendasi apaan? Rekomendasi dari siapa? Aha...ketebelece, nih! Oke. Kalo aturan mainnya gitu, saya ikutin aturan mainnya. Saya bakal ikutin semuanya. Gak tau apa mereka siapa saya!

Purok langsung bergegas menuju orang yang bergerombol di meja administrasi.

PETUGAS ADMINISTRASI
Enak aja! Belom punya nomer antrian udah minta rekomendasi! Sana, ambil dulu nomor antriannya!

PUROK
Tanpa nomor antrian juga bisa kan, pak?

PETUGAS ADMINISTRASI
Oo, bisa, bisa. 100 juta. Mau?

PUROK
Busyet!

PETUGAS ADMINISTRASI
Itu baru buat ganti rugi orang-orang yang udah pada ngantri. Belom buat saya, belom buat waktu saya yang udah kamu rugikan sekarang ini. Jadi total 250 juta!

PUROK
Busyet!

PETUGAS ADMINISTRASI
Kalo gak mau busyet, ambil jalur normal. Itupun udah kena denda 50 juta.

PUROK
Denda? Denda apaan, pak?

PETUGAS ADMINISTRASI
Ya, buat denda waktu saya yang udah kamu rugikan sekarang. Cepat! Ayo, bayar...bentar lagi naik dua kali lipat, nih! Cepet! Satu, dua...

PUROK
Iya...iya, pak.

PETUGAS ADMINISTRASI
...tiga! 55 juta!

PUROK
Busyet!

PETUGAS ADMINISTRASI
Mau tambah busyet?

PUROK
Cukup, pak. Cukup!

PETUGAS ADMINISTRASI
Kalo gitu cepet bayar!

PUROK
Bayar administrasi?

PETUGAS ADMINISTRASI
Bayar denda, pinter!

PUROK
Tapi, pak...

PETUGAS ADMINISTRASI
60 juta!

PUROK
Iya, iya....

Purok langsung buru-buru mengeluarkan uangnya dan terpaksa bayar.

PETUGAS ADMINISTRASI
Nah, gitu! Sana, sekarang ambil nomer antriannya.

PUROK
Maap, pak. Tapi di mana ya pak, ngambilnya?

PETUGAS ADMINISTRASI
Pake nanya, lagi! Mau busyet lagi kamu! Sana ambil di laut!

PUROK (Menggerutu)
Busyet! Belom apa-apa udah lewat 60 juta!

SAAM (Jijik)
Makanya jadi gembel jangan belagu! Saya aja yang kaya susah dapet kerja, apalagi gembel.

PUROK
Apa kamu bilang?

SAAM
Udah gembel, budek lagi.

PUROK
Oke. Liat aja nanti. Saya memang kurus, tapi jiwa saya gemuk.

Saam dan sariq tertawa dan bergegas ke antrian stempel, Purok tidak sabar untuk mendaftar, memberanikan untuk menyelak para pengantri. sedangkan reaksi yang diberikan para pengantri hanya melihat aneh.

PUROK
Permisi. Saya mau daftar. Saya mau minta nomer antrian.

Petugas nomer antrian cuek tidak meladeni purok dan memandang aneh.

PETUGAS NOMER ANTRIAN (Teriak)
Next…

PUROK
Pak, pak...pak, saya di sini. Saya mau daftar dan saya juga bawa uang untuk daftar, sama seperti yang lain.

PETUGAS NOMER ANTRIAN (Teriak)
Next!…

PUROK
Pak. Saya memang bukan asli warga sini. Tapi saya sudah bertekad untuk bekerja di sini dan mengabdi pada negri ini!

PETUGAS NOMER ANTRIAN (Teriak)
Next!…

PUROK
Saya janji akan bekerja dengan giat dan banyak menghasilkan keuntungan yang akan bisa membanggakan negri ini. Ini pak uang administrasi saya… (memberikan 5 juta).

PETUGAS NOMER ANTRIAN (Teriak)
Next!…

PUROK
Lima juta, pak!

PETUGAS NOMER ANTRIAN (Teriak)
Next!…

PUROK
Sepuluh...sepuluh juta, pak!

PETUGAS NOMER ANTRIAN (Melemah)
Next…

PUROK
Lima belas, pak...lima belas juta!

PETUGAS NOMER ANTRIAN (Menoleh)
Hhhmmm?

PUROK
Lima belas juta!

PETUGAS NOMER ANTRIAN
Ya, cukuplah! Ini nomernya. Nama? Alamat?

PUROK (Kaget)
Sebentar, pak. Nomer 550? Kok, jauh sekali? Tadi perasaan, saya denger belom nyampe 130-an, deh. Kok, saya dapet nomer 550?

PETUGAS NOMER ANTRIAN
Ada daftar tarif untuk nomer! Uang administrasi yang kamu berikan masuk dalam rating 60-100, nomernya ratusan. Rating top ten, nomer antriannya puluhan, nah...kalo top five, nomer antriannya satuan. Paham? Ada minat?!

PUROK
Kalo top five, berapaan pak?

PETUGAS NOMER ANTRIAN
Ya, sesuai dengan sebutannyalah! Untuk dapet nomer satuan, harganya milyaran. Nomer puluhan, harganya ratusan jutaan. Nah, kalo nomer ratusan, yaaa... kayak kamu tadilah. Masih minat?

PUROK
Seperti tekad saya tadi, pak…saya...

PETUGAS NOMER ANTRIAN
Maunya yang berapaan?

PUROK
Waduh...berapa, ya? Mmmm...ada saran?

PETUGAS NOMER ANTRIAN
Lha, tekad kamu berapa? Udalah gak usah pake tekad-tekatan segala. Kalo gak mampu gak usah punya tekad. Yang ratusan aja, ya?

PUROK
Tolong jangan hina tekad saya, pak! Selain tekad saya juga punya uang!

PETUGAS NOMER ANTRIAN
Sudah jangan cerewet. Nama dan alamat ?

PUROK
Purok Bachir. Alamat...alamat...

PETUGAS NOMER ANTRIAN (Agak kesal)
Kamu tinggalnya di mana?

PUROK
Saya...saya...mmm...begini, pak. Kebetulan saya...saya belom punya tempat tinggal, pak.

PETUGAS NOMER ANTRIAN
Waduh! Ya, udah. Alamat ditulis GEMBEL aja.

PUROK
Kok, gembel pak? Saya emang kebetulan belom punya tempat tinggal. Tapi abis ini saya berniat mau nyari rumah dan...

PETUGAS NOMER ANTRIAN
Udah, udah...cukup! Kamu ini…udah jelek, gembel, bawel, sok bertekad dapet nomer top five!

PUROK
Tapi, pak...

PETUGAS NOMER ANTRIAN
Kamu gak punya tempat tinggal, kan?

PUROK
Iya, pak. Tapi saya...

PETUGAS NOMER ANTRIAN
Ya, udah. Terima. Tanda tangan di sini. Sana antri!

Purok melangkah ke posisi berikutnya yang sudah tampak banyak orang yang sedang menunggu panggilan.

ALITA
Eh…mahluk aneh, nomernya berapa?

PUROK
550.

ALITA
Kalo gitu jangan duduk di sini! Tuh, di deretan paling belakang. Nomer urutan besar mau duduk di depan. Sana, pindah!

PUROK
Bukannya duduknya bebas?

ALITA
Ini bangku top five!

PUROK
Oh..maaf. permisi.

Purok pun langsung pindah kederetan bangku paling belakang dan tampak hanya dia sendiri.
administrasi sedang asyik melayani kliennya.

PETUGAS ADMINISTRASI (Teriak)
Nomer 135!...

ABBE
Saya, pak. Ini biodata saya, ini surat lamaran saya.

PETUGAS ADMINISTRASI
Abbe Sanusius. Mau melamar sebagai kepala sekolah dasar. Benar?

ABBE
Benar pak. Saya baru saja dipecat sebagai guru dan saya sangat berambisi untuk menjadi kepala sekolah.

PETUGAS ADMINISTRASI
Hmm, Good! Harganya 35 juta.

ABBE
Waduh, bisa kurang gak pak ?

PETUGAS ADMINISTRASI
Ah, payah kamu…punya ambisi tapi gak mau rugi. Kamu punya dana berapa?

ABBE
Cuma 35 juta pak.

PETUGAS ADMINISTRASI
Waduh…berat itu. Itu Cuma harga untuk jadi guru dan uang sukses saja. Udah jadi guru aja lagi!

ABBE
Saya udah bosan jadi guru pak. Ayolah pak, tolong dibantu.

PETUGAS ADMINISTRASI
Maaf, tidak bisa. Udah harga mati.

ABBE
Tapi saya boleh milih jadi guru apa aja kan, pak?

PETUGAS ADMINISTRASI
Emang kamu mau jadi guru apa?

ABBE
Tata boga, pak.

PETUGAS ADMINISTRASI
Ok. Sebagai mantan guru, kamu dapat potongan harga 10%, jadi 28 juta. Tapi...karena kamu ada request khusus jadi biayanya ditambah 4 juta plus requestnya 3 juta, jadi totalnya 7 juta. Dan kamu tentu mau proses yang cepat, kan? Tinggal tambah 5 juta. Nah, pas kan 37 juta 200 rebu. Mau? Saya akan tanda tangan dan kamu tinggal ngurus stempel di sebelah dan menunggu panggilan. Next!

Musik. para petugas menyuarakan “next! next! next!” yang ritmik hingga menjadi musik yang bersahutan.
para pelamar bergerak secara mekanis mengikuti irama yang tercipta.

NYANYIAN
Kamu ingin kerja, kamu harus usaha...cari dana ini, kumpulkan dana itu...
lobby sana-sini...bayar semua koneksi.
Birokrasi...sungguh indah sekali!
Next! Next! Next!

PETUGAS ADMINISTRASI
Nomer 550!

PUROK
Ya, pak. Saya.

PETUGAS ADMINISTRASI (Kaget)
Kamu lagi. Mana nomernya?

PUROK
Ini, pak.

PETUGAS ADMINISTRASI
Surat lamaran?

PUROK
Surat lamaran? Maksud bapak?

PETUGAS ADMINISTRASI
Kamu mau kerja, kan?

PUROK
Iya, pak.

PETUGAS ADMINISTRASI
Mana surat lamarannya? Mau kerja apa dan jabatan apa?

PUROK
Harus ya, pak? Pake omongan aja bisa kan, pak?

PETUGAS ADMINISTRASI
Kamu ini mahluk paling pinter, ya! Kalo gak ada surat lamaran, mana bisa kamu kerja! Logika tetap dipake, dong!

PUROK
Begini pak. Gimana kalo saya pake omongan aja...dan untuk surat lamaran, saya percayakan pada bapak.

PETUGAS ADMINISTRASI
Enak aja kamu! Emang kamu berani bayar berapa untuk kepercayaan saya!

PUROK
Saya...begini, pak...

PARA PENGANTRI (Gaduh)
Pak…duuh! Kok, lama banget sih! Panjang nih antriannya.

Suara-suara para pengantri kian gaduh, lama-kelamaan terdengar rampak membentuk musik dan nyanyian.

NYANYIAN
Panjang...panjang sekali antriannya...
Antri...antri...Yang bayar paling kecil
Antrinya paling pinggir...dst, dst...

Dalam nyanyian, purok terpental-pental sampe bangkrut dan terpuruk.

PUROK
Kenapa nasib saya jadi sial begini? Seluruh uang yang ada di tas saya langsung ludes begitu aja. Ternyata uang adalah segalanya di negri ini. Untung simpanan saya masih aman di bank Swises. Dengan uang, saya bisa jadi apa aja di sini. Tinggal atur langkah...susun strategi...lalu masuk menyelusup ke zona strategis negeri ini. Mmm...dari situ saya akan mulai menancapkan akar saya. Lalu saya akan tumbuh, menjalar ke mana-mana, lalu berkibar-kibar...tak tergoyahkan! Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung! Hah...baru ngerti saya arti pepatah itu sekarang!

Black Out

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar