Jumat, 06 Agustus 2010

TERDAMPAR -Slawomir Mrozek


(KEJADIAN INI MERUPAKAN DRAMA SATU BABAK DENGAN SET DEKOR YANG MENGGAMBARKAN SEBUAH GUNDUKAN KARANG DI TENGAH LAUTAN. TIGA ORANG YANG TERDAMPAR DENGAN PAKAIAN CELANA HITAM DAN BAJU PUTIH, LENGKAP DENGAN DASI YANG MASIH TERGANTUNG DI LEHERNYA SERTA SAPUTANGAN YANG MASIH MENONJOL DI SAKU JASNYA. KETIGANYA SEDANG DUDUK DI KURSI. DI SEBELAHNYA TERDAPAT PULA SEBUAH KOPOR YANG BESAR)

GENDUT : Saya lapar.

SEDANG : Sayapun ingin makan.

KURUS : Apakah persediaan makanan telah habis semua?

GENDUT : Seluruh makanan persediaan habis. Tak ada yang tersisa sedikitpun.

KURUS : Saya kira masih ada saus sedikit dan kacang buncis.

GENDUT : Tak ada lagi …

SEDANG : Saya hanya ingin makan sesuatu.

GENDUT : “Sesuatu?” Saudara2ku, kita harus melihat kenyataan. Apa yang kita inginkan sebenarnya merupakan …

KURUS : Kau katakan bahwa persediaan makanan telah habis. Lalu apa yang kau pikirkan?

GENDUT : Apa yang kita makan bukanlah “sesuatu”, tetapi seseorang …

SEDANG : (MELIHAT KE BELAKANG, KE KANAN DAN KE KIRI) Saya tak melihat …

KURUS : Sayapun tak melihat seseorang, kecuali … (TIBA2 BER-HENTI. PAUSE)

GENDUT : Kita harus makan salah seorang di antara kita.

KURUS : (SETUJU DENGAN CEPAT) Baiklah mari kita mulai.

GENDUT : Saudara2, kita bukanlah anak kecil. Ijinkanlah saya menyatakan bahwa kita semuanya tidak dapat serentak berkata: “marilah kita mulai.” Dalam situasi semacam ini, salah seorang di antara kita seharusnya berkata : “Sekiranya saudara tidak keberatan, silahkan saudara mengusulkan diri sendiri.”

SEDANG : Siapa?

KURUS : Siapa?

GENDUT : Itulah sebenarnya pertanyaan yang akan saya tanyakan. (KEMUDIAN TENANG) Saya menyarankan demi rasa kesetiaan dan rasa sopan santun yang baik.

SEDANG : (TIBA-TIBA MENUNJUK KE LANGIT, SEOLAH-OLAH MENUNJUK KE SUATU TEMPAT YANG MENARIK) Lihatlah ada burung camar. Seekor burung camar.

KURUS : Maafkan kalau saya mengatakan dengan terus terang, bahwa saya orang yang tamak. Saya selalu memikirkan diri sendiri. Bahkan ketika saya masih sekolah, saya biasa makan siang seorang diri, saya tak pernah membagi makanan saya dengan orang lain.

GENDUT : Alangkah tidak menyenangkan. Kalau dalam hal ini kita terpaksa harus melakukan dengan undian.

SEDANG : Baik.

KURUS : Itu pemecahan yang paling baik.

GENDUT : Kita akan ambil undian dengan cara sebagai berikut. Salah satu dari kalian menyatakan sebuah nomor. Kemudian seorang lagi akan memilih nomor lainnya. Akhirnya sayapun akan memilih nomor yang ketiga. Apabila jumlah ketiga nomor itu ganjil, maka undian jatuh pada saya. Saya boleh kalian makan. Tetapi, apabila jumlah nomor itu genap, salah satu dari kalian boleh dimakan. (PAUSE)

SEDANG : Tidak … Saya tidak suka cara-cara berjudi.

KURUS : Apa yang terjadi kalau sekiranya yang kau lakukan yang salah?

GENDUT : Terserahlah kalau kau tidak mempercayai aku.

SEDANG : Sebaiknya kita mencari jalan lain saja. Kita orang-orang yang berbudaya. Menarik undian adalah cara-cara sisa jaman dulu.

KURUS : Itu kepercayaan nonsen.

GENDUT : Baiklah. Kita dapat pula mengatur suatu pemilihan umum.

SEDANG : Ide yang baik. (KEPADA SIGENDUT) Saya usulkan, agar kau dan aku membentuk satu front dalam pemilihan. Itu akan memudahkan kampanye.

KURUS : Demokrasi sudah usang …

GENDUT : Tetapi sudah tidak ada jalan lain. Kalau kau lebih menyukai kediktatoran, maka saya akan berbahagia kalau dapat menciptakan kekuasaan tertinggi.

KURUS : Tidak. Persetan dengan tirani.

GENDUT : Kalau begitu pemilihan bebas saja.

SEDANG : Dengan kartu pemilih yang bebas dan rahasia.

KURUS : Dan tidak boleh membentuk satu front. Setiap calon harus berkampanye sendiri-sendiri dan terpisah.

GENDUT : (BERDIRI. MEMBUKA KOPOR DAN MEMBUKA TASNYA) Ini sebuah topi. Di dalamnya nanti kita masukkan kartu pemilih dengan nama sang calon.

KURUS : Saya tak punya pena untuk menulis.

SEDANG : Dengan senang hati akan saya pinjami.

GENDUT : (MENGAMBIL PENA DARI SAKUNYA) Ini penanya.

SEDANG : (MENGGOSOK-GOSOK TANGANNYA) Hore.......... Untuk pemilihan.

KURUS : Sebentar. Kalau kita akan mengatur pemilihan ini dengan cara orang yang berbudaya, kita tidak dapat meninggalkan cara kampanye sebelum pemilihan. Di mana-mana di negeri yang berbudaya kampanye harus mendahului pemilihan.

GENDUT : Kalau kau menghendaki …

SEDANG : Baiklah. Marilah kita lakukan secepatnya.

GENDUT : (BANGUN DARI KURSI KEMUDIAN BERDIRI DI TENGAH-TENGAH) Kampanye sekarang dimulai. Siapa yang akan mempelopori bicara?

SEDANG : (KEPADA SIKURUS) Bagaimana kalau kau dulu?

KURUS : Lebih baik saya bicara belakangan. Saya tak pernah menjadi orator yang baik.

GENDUT : Tetapi semua ini adalah usulmu.

SEDANG : Benar. Semua ide tentang pemilihan ini berasal darimu. Kau harus bicara yang pertama.

KURUS : Oh, tentu, kalau memang itu yang kalian kehendaki. (BERDIRI DI ATAS KURSINYA SEBAGAI DI ATAS MEMBAR. YANG DUA LAINNYA MENGATUR DIRI DI DEPANNYA. SIGENDUT MENGAMBIL SAPUTANGAN DARI BAJUNYA KEMUDIAN DIBUKA DAN BERTULISKAN: KITA INGIN MAKAN) hemmm…………Saudara-saudara…

SEDANG : (MEMOTONG) Janganlah kalian menyuap kami. Kita orang2 biasa.

GENDUT : Saya setuju sekali. Persetan dengan ide yang muluk. Yang kita maui adalah kebenaran.

KURUS : Kawan2, Sahabat2ku, kita berkumpul di sini……

SEDANG : (MEMOTONG) Ayo cepat, langsung kepokok persoalan.

GENDUT : Waktu kita terbatas.

KURUS : Kita berkumpul di sini untuk membicarakan persoalan yang mendesak tentang jatah makanan. Sahabat2ku, adalah suatu anggapan yang salah bagi kalian kalau menganggap saya sebagai calon. Saya mempunyai isteri dan anak. Sering kali di waktu senja, saya duduk di kebun menyaksikan anak saya bermain ayunan, isteri saya menyulam dan kami selalu berkumpul di malam hari. Saudara2, sahabat2ku. Dapatkah anda bayangkan suasana yang bahagia tersebut? Tidakkah anda terpesona?

SEDANG : Itu bukan alasan. Kalau itu merupakan soal yang dianggap baik oleh masyarakat, rasa haru tidak diperlukan lagi. Anak2mu bisa bermain sendiri.

GENDUT : Kalau dia main sendiri barangkali lebih baik.
KURUS : Sahabat2ku. Waktu aku masih anak-anak, aku mempunyai rencana bagus sekali untuk masa depanku. Tetapi kenyataannya, aku tidak bekerja keras untuk itu. Aku tak pernah melaksanakan impian tersebut. sekarang ini semua itu rasanya sudah terlambat. Tapi aku yakin bahwa semua ini dapat berubah. Aku tidak akan melalaikan tugas pekerjaanku lagi. Telah banyak kesukaran yang kualami, benar-benar saya kurang yakin pada diri sendiri, malas, tapi sekarang aku akan memperbaikinya, betul-betul aku bersumpah. Aku akan melatih keinginanku, memperbaiki tingkah laku, serta menambah pengetahuan yang kumiliki sehingga seluruh pekerjaan berada di tanganku. Aku ingin menjadi seseorang yang baik.

SEDANG : Keras sedikit!

KURUS : Aku ingin menjadi seseorang yang baik!

GENDUT : Tamak, memikirkan diri sendiri.

SEDANG : Yang kita inginkan makanan.

GENDUT : Mari kita sama-sama. Satu, dua, tiga……

GENDUT &
SEDANG : Yang kita inginkan makanan. Kita ingin makan.

KURUS : (PUTUS ASA. HAMPIR MENANGIS) Tidak, itu tidak baik…….............. betul-betul tidak baik……(TURUN DARI KOTAKAN)

SEDANG : (MENOLONG SIKURUS TURUN, KEMUDIAN SISEDANG NAIK SENDIRI) Sahabat-sahabatku yang suka makan........

GENDUT : Dengarkan. Dengarkan. (SIKURUS BERTEPUK TANGAN, TAPI KURANG SEMANGAT)

SEDANG : Saya bukanlah seorang ahli pidato dan saya tak hendak bicara lama. Bagi saya perbuatan lebih penting dari bicara. Bahkan sejak masa kanak-kanak saya sudah tertarik dalam hal masak-memasak, seni masak. Meskipun makanan yang saya senangi hanyalah sedikit – ya sungguh. Saya adalah orang yang kurang nafsu makan dan kukatakan terus terang makan saya hanyalah sedikit, seperlunya atau hampir boleh dikatakan tidak makan. Apa yang harus kukatakan? Saya tak perlu makan apa-apa. Dua tahun yang lalu barangkali saya makan sesuap nasi di sini atau di sana. Itu hanya dua atau tiga hari sekali. Tetapi sekarang, tidak sama sekali. Baru-baru ini sayapun makan bersama kalian dan makan saya sedikit. Tetapi meskipun begitu, mempersiapkan makanan adalah kegemaran dalam hidup saya. Sebagai seorang ahli masak, tidak ada yang lebih menggembirakan daripada menyaksikan dan menunggui orang makan masakan yang saya buat. Hanyalah itu balasan yang kuingini,……Kalau dapat saya tambahkan, saya ini ahli memasak daging. Bumbu yang saya gunakan tak ada bandingannya. Hanya itulah yang dapat saya katakan.

GENDUT : Bagus, jempol. (TEPUK TANGAN. SIKURUS DIAM SAJA, SEDIH. SISEDANG TURUN DARI KOTAKAN, KEMUDIAN SIGENDUT NAIK)

SEDANG : Horeee. (SIGENDUT BERHENTI SEBENTAR DENGAN TANGAN DI PINGGANG, DIPANDANGINYA SELURUH BAGIAN, SEOLAH-OLAH DI KELILINGI ORANG BANYAK)

GENDUT : (TIBA-TIBA TANGANNYA DIACUNGKAN KE DEPAN, SEPERTI AKAN MEMBERI WEJANGAN DALAM PIDATO SEORANG PEMIMPIN) Orang-orang yang lapar, Terimalah salamku untukmu.

SEDANG : (BERSEMANGAT) Horeee. Dengarkan, dengarkan.

GENDUT : (MENENANGKAN SISEDANG, DENGAN GERAKAN TANGANNYA SEPERTI SEORANG ATASAN KEPADA BAWAHANNYA) Pidato saya akan pendek sekali – sebagai perintah seorang prajurit. Pertama: saya tidak mau mempengaruhi pikiran dan pendapat kalian. Kalian harus menentukan sendiri. Saya hanya penyambung lidah kalian, apa yang saudara-saudara kehendaki, merupakan suatu pesan yang suci murni bagi saya dan akan saya laksanakan. Saya hanya makan apa yang akan diberikan kepada saya. Kedua: tidak dapat dipungkiri, saya memang orang yang sukar untuk dicernakan, maaf sukar dipengaruhi. Saya selalu lemah lembut, bertulang kuat serta berkulit tebal. Mempunyai backking yang kuat, oh maksudku tulang punggung yang kuat sekali meskipun kaki saya timpang. Saya tidak perlu malu-malu. Kenapa mesti saya sembunyikan? Ketiga: saya tidak ingin menjadi seorang provokator. Saya lebih suka bicara langsung. Sekiranya saya tidak terpilih, saya dengan gembira akan memberikan daging jatah saya. Daging-daging yang lunak yang saya peroleh, akan kuberikan pada kawan-kawanku semua. Dan saya akan senang menerima sisanya, asalkan lidahnya diberikan kepada saya. Sebab saya tidak mau menyerah pada kemauan lidah.

SEDANG : Bagus, jempol. Hidup pemimpin kita.

GENDUT : Cukup sekian. Hanya itu. Tak ada lagi ocehan, petuah atau filsafat yang akan saya sampaikan. Mari kita maju terus.

SEDANG : Bagus, bagus, dengarkan, dengarkan. Sekali lagi horeee. (SIGENDUT TURUN DARI KOTAKAN. SIKURUS DAN SISEDANG MENGGULUNG TANDA GAMBAR MEREKA)

GENDUT : (PADA SIKURUS) Apakah kau merasa puas?

KURUS : Kau sungguh hebat. Hanya……hanya itu……saya tak dapat makan daging yang lunak. Sayang, kurang baik untukku. Saya tak boleh makan daging. Sekiranya tak ada bedanya untukmu, maka saya me……

SEDANG : (BERDIRI TEGAK DI HADAPAN SIGENDUT) Bapak, ucapan selamat dari saya. Pidato Bapak sangat berkesan di dalam hatiku. Dalam soal lidah, saya benar-benar di pihak Bapak.

GENDUT : Ya, baiklah. Habislah sudah masa kampanye. Marilah kita adakan pemungutan suara.

KURUS : Sungguh-sungguh banyak terima kasih.

GENDUT : Terima kasih kembali. Apalagi yang dapat saya lakukan untuk anda saya selalu siap sedia. (GENDUT BERJALAN KESUDUT LAIN DARI RAKIT. KINI SIGENDUT DAN SISEDANG MENGISI KARTU-KARTU MEREKA. SEMENTARA ITU SIKURUS TERUS BERDIRI MEMBELAKANGI MEREKA SAMBIL MEMANDANG KE LAUT. KEMUDIAN PADA SAAT YANG BERSAMAAN MEREKA BERBALIK, BERJALAN KETENGAH RAKIT DAN MENARUH KARTU-KARU MEREKA DI ATAS TOPI) Kini kita akan menghitung suara.

SEDANG : Bagus sekali. Pemilihan ini tentunya akan mempertajam selera.

KURUS : Semoga anda lebih bijaksana. (SIGENDUT MENARUH TANGANNYA DI ATAS TOPI. KEMUDIAN MENGANGKAT KEPALANYA DAN MENATAP SIKURUS DENGAN TENANG. PAUSE AGAK LAMA) Ada apa? Apa yang telah terjadi?

SEDANG : Bagaimana hasilnya?

GENDUT : Saudara-saudara. Kita harus membatalkan pemilihan ini.

SEDANG : Mengapa? Aku lapar.

KURUS : Apakah kamu mencoba menyabot pemilihan kita yang bebas dan demokrasi?

GENDUT : Di atas topi ada empat kartu. Empat. (SEPERTI SEBELUMNYA SIGENDUT MEMANDANG SIKURUS DENGAN CURIGA. BEGITU JUGA SEDANG)

KURUS : (MERASA TAK BERSALAH) Saya bilang bahwa demokrasi telah usang.

SEDANG : Apa yang terjadi sekarang?

GENDUT : Inilah suatu krisis kabinet. Mungkinkah akan lebih mudah untuk menunjuk atau mengangkat seorang calon?

KURUS : Persis. Seperti yang kuduga. Tidak. Itu di luar pertanyaan.

SEDANG : Suatu pekerjaan yang paling buruk. Demokrasi tidak berjalan. Tirani tidak dapat diterima. Kita harus pikirkan sesuatu.

GENDUT : Dalam saat-saat seperti ini satu-satunya orang yang dapat menolong kita adalah seseorang yang berbakti dan terilhami yang mau menawarkan dirinya sendiri. Bila bentuk normal dari tingkah laku gagal. Sering petualang-petualanglah yang menyelamatkan keadaan. (MENYIAPKAN SEKALI LAGI UNTUK PIDATO) Kawan yang terhormat……

KURUS : Oh, tidak. Aku tak mau mendengarkan kamu.

SEDANG : Dengarkan dia.

GENDUT : Kawan yang terhormat. Kita tahu bahwa ciri-ciri khas sesuatu bakti terhadap tugas, kasih sesama dan ketaatan tidak dapat dibatalkan. Sejak saat pertemuan kita saya lihat bahwa dalam dirimu terdapat sesuatu yang berbeda dari kami. Saya tentu saja menunjuk kepada keluhuranmu yang asli, hasratmu yang teguh untuk membantu kebaikan, kesediaan untuk……Bukan begitu kawan?

SEDANG : (BEGITU INGIN) Selama hidupku belum pernah kujumpai orang sebaik dia.

GENDUT : Kami bahagia karena akhirnya masyarakat memberimu kesempatan untuk memenuhi keinginanmu yang murni, yaitu kerinduanmu untuk diingat oleh kita sebagai seorang yang sopan, taat, ramah, menyenangkan, berlimpah……

KURUS : Tidak. Saya tidak mau.

SEDANG : Apa? Kamu tidak mau maju secara sukarela?

KURUS : Tidak.

SEDANG : Itu hina sekali.

GENDUT : Apakah kamu akan mengkhianati kawan-kawanmu? Sungguh-sungguh kamu harus……

KURUS : Tidak.

GENDUT : Apakah kamu benar-benar menolak?

KURUS : Aku menolak secara mutlak.

SEDANG : Saya tak hendak bicara kepadamu lagi. Saya kira anda seorang terhormat, pahlawan dari rakit kita. tetapi ternyata anda telah berlaku sebagai seorang bangsat. Selamat tinggal. (PERGI DAN MEMBELAKANGI SIKURUS)

GENDUT : Kami sangat kecewa. Jelaslah bahwa kehormatan tiada artinya bagimu. Akan tetapi mungkin anda dapat menyerahkan suatu jalan keluar yang lain, bukan?

KURUS : (DENGAN KEYAKINAN BERTAMBAH) Ya, tentu saja. Satu-satunya jalan yang kuminta adalah keadilan. Keadilan dalam segala hal, tidak lebih tidak kurang.

GENDUT : Anda heran terhadapku?

KURUS : Mengapa?

GENDUT : Bagaimana anda dapat yakin bahwa keadilan tidak akan menentangmu, maksudnya terhadapmu. Terhadap engkau sebagai calon?

KURUS : Halnya amat sederhana. Hidupku begitu malang dan menyedihkan. Bahkan semasa kanak-kanak tak sesuatupun pernah terjadi padaku. Lingkungan menentangku sedemikian……

GENDUT : Nah, anda mengira bahwa keadilan yang universal itu akan mengganti ketidak bahagiaanmu hingga kini?

KURUS : Ya.

GENDUT : Itu suatu hal yang luar biasa, bahwa orang yang hanya mengeluh mengenai kekurangadilan adalah anasir-anasir yang tidak bertanggung jawab. Mereka menuntut keadilan, hanya karena mengharapkan keuntungan dari sukses orang lain.

KURUS : Tidak, aku tidak mengundurkan diri. Aku menyetujui apapun. Dengan syarat bahwa keputusan adil.
GENDUT : Kau maksudkan dengan syarat bahwa engkau tidak dimakan?

KURUS : Nah, kau menyindir. Keadilan pertama-tama, bukan?

GENDUT : Marilah duduk, tuan-tuan. Saya tahu ini sesuatu yang sukar, tetapi harus kita laksanakan.

SEDANG : Aku tak mau bicaranya kepadanya. (MEREKA MENGAMBIL TEMPAT SEPERTI PADA PERMULAAN)

GENDUT : (KEPADA SISEDANG) Kawan terhormat. Apakah ibumu masih hidup?

SEDANG : (RAGU-RAGU) Aku……aku tidak tahu. Saudara pimpinan……bagaimana tentang ibumu?

GENDUT : (MENENGADAH KELANGIT) Malang nasibku, aku telah menjadi anak yatim sejak kelahiranku. Oh ayah – ibuku yang malang.

SEDANG : (TERGESA-GESA) Itulah justru yang ingin kukatakan. Terus terang, aku tak punya ayah–ibu.

GENDUT : (KEPADA SIKURUS) Bagaimana dengan engkau?

KURUS : Aku punya ibu. Mulai saat ini ia bersedih dalam kesepian. Ibuku yang malang.

GENDUT : Jelaslah bagiku dari segi keadilan, persoalannya mudah saja. Sungguh-sungguhkah akan bertentangan dengan suara hatimu untuk menggangu seorang anak yatim? Bahkan orang-orang buaspun berpendapat bahwa menjadi yatim adalah salah satu dari kemalangan-kemalangan yang paling hebat. Tidak tuan-tuan, jika salah seorang dari kita sebagai anak yatim dimakan, hal itu akan merupakan suatu tamparan terhadap keadilan yang paling dasar. Bukanlah menjadi yatim sudah cukup menderita, hingga ada alasan untuk tidak usah dimakan.

KURUS : (DALAM KEBINGUNGAN) Tetapi……

GENDUT : Tidak, tuan yang terhormat. Sekarang persoalannya terang benderang seperti di siang hari. Anda punya seorang ibu, nasibmu ternyata lebih baik di bumi ini. Janganlah anda berpendapat bahwa kini tiba waktunya untuk membayar hutang moril kepada anak-anak yatim di dunia ini yang tidak pernah mengenal perhatian seorang ibu, kehangatan suasana rumah dan makanan yang berlimpah. Terutama karena kau katakan tadi bahwa ibumu masih sedih akan kematianmu.

KURUS : (DENGAN PUTUS ASA MENCARI JAWAB ATAS PERTANYAAN TERSEBUT) Aku tidak tahu, mungkin ibuku telah meninggal. Terakhir kali aku melihatnya, ia merasa sangat lemah. Telah bertahun-tahun aku tidak pulang kerumah.

GENDUT : Nah, kini anda bicara seperti kanak-kanak. Bagaimana dapat kita buktikan hal-hal seperti itu?

KURUS : Segala yang dapat kukatakan adalah bahwa ia merasa tak sehat. Waktu aku berangkat, begitu banyak pembicaraan tentang penyakit di dunia modern……

GENDUT : Khayalan-khayalan artistik!

SEDANG : Jangan bicarakan hal itu, kawan. Ada hal-hal yang lebih baik dilupakan saja.

GENDUT : Dan ingatkah kau akan sanak keluarga yang jauh, tiran keji yang mengambil keju untuk umpan pasangan tikus?

SEDANG : (MERINTIH) Impian-impian buruk masa silam. (GENDUT BERDIRI DENGAN TENANG DENGAN TANGAN TERENTANG DI MUKA SIKURUS, SEOLAH-OLAH BERKATA: ANDA LIHAT, TIDAK SATUPUN DAPAT KITA LAKUKAN)

KURUS : Maafkan, saya kira saya mendengar seseorang sedang bicara di lautan. (MENDENGARKAN)

GENDUT : Anda mengalihkan pembicaraan. Memang. Penderitaan manusiawi tidak menimbulkan keharusan dalam dirimu, tetapi sama semua: anak-anak egois dari ibu-ibu…… (TERDENGAR SUARA LEMAH DI LAUTAN)

SEDANG : (DENGAN MENUDUH) Ia menghabiskan masa kanak2nya dengan bermain-main.

GENDUT : Benar, dengan mainan dan boneka. (SUARA YANG SAMA. KALI INI LEBIH DEKAT)

SUARA : Tolong…… tolong……

KURUS : Tidak, aku tidak melakukan hal itu. Aha, aku sungguh2 mendengarnya saat itu.

SUARA : Tolong……

GENDUT : Ya, ada seseorang berenang ke arah kita. anak2 yatim selalu mendapat yang paling buruk dari nasib baik.

SEDANG : (BERDIRI DAN MELIHAT KELUAR) Mungkin seseorang membawa makanan, saudara ketua. Aku dapat melihat lebih jelas kini, ia hanya berenang dengan satu tangan. Tangan lain sedang memegang sesuatu. (GENDUT DAN KURUS JUGA BANGKIT DARI KURSI MEREKA DAN BERJALAN KE TEPI RAKIT DI MANA SEDANG BERADA)

KURUS : Ya, itu mungkin. Seorang petani dalam perjalanannya ke pasar jatuh ke dalam air bersama dengan babinya. Dan waktu berenang mempergunakan satu tangannya untuk menggantung babi, satu2-nya harta miliknya……

GENDUT : Itu dia, aku dapat melihatnya.

SEDANG : Seseorang memakai pakaian seragam.

SUARA : (SANGAT DEKAT) Tolong. (SEORANG TUKANG POS MEMANJAT NAIK DARI LAUT, DENGAN SERAGAM LENGKAP, PECI DAN DENGAN TAS KULITNYA TERGANTUNG PADA LEHERNYA. SEDANG MENGULUR-KAN TANGAN KEPADANYA DAN MENARIKNYA KE ATAS RAKIT)

TK. POS : Banyak terima kasih.

GENDUT : Apakah anda bawa makanan?

TK. POS : Sama sekali tidak. Aku dapat menahan diri. Aku tidak punya sesuatupun sejak makan pagi. (MEMPERHATIKAN KURUS) Astaga, kamu di sini. Ketepatan yang luar biasa.

GENDUT : (DENGAN CURIGA) Anda saling mengenal?

TK. POS : Ya, tentu saja. Selama sepuluh tahun aku biasa mengantar surat untuknya. Aku sendiri sama sekali tidak menduga akan bertemu anda di tengah2 lautan. Banyak hal yang telah berubah cepat, seperti yang kini terjadi. Aku membawa telegram untukmu.

KURUS : Telegram untukku?

TK. POS : Ya, waktu itu aku berjalan ke arah rumahmu. Di tepi pantai akan menyerahkan telegram ini, ketika sebuah gelombang menghanyutkanku. Untunglah aku pandai berenang. (MELIHAT DALAM TAS) Ini.

KURUS : (BERGERAK KE ARAH SALAH SATU SUDUT UNTUK MEMBUKA DAN MEMBACA TELEGRAMNYA) Permisi sebentar.

GENDUT : (DENGAN CURIGA, KEPADA TUKANG POS) Apakah seragammu asli?

TK. POS : Asli, hanya saja basah. Anda tahu karena kena air……

KURUS : Horeeeeee……

GENDUT : Apa yang terjadi?

KURUS : (SAMBIL MEMPERTIMBANGKAN SESUATU) Tuan2, aku mengalami kesusahan hebat. Ibuku telah meninggal dunia.

SEDANG : Astaga.

KURUS : Dan kembali ke pokok pembicaraan, ijinkan aku menyatakan bahwa kini aku seorang yatim seperti kamu dan karenanya kita harus membuka kembali diskusi dan sekali lagi mempertimbangkan mengenai hal bahwa salah seorang dari kita dimakan.

GENDUT : Aku protes. Itu tipu muslihat. Kamu telah merencanakan semuanya dengan tukang pos ini.

TK. POS : (DENGAN SIKAP SOMBONG) Anda menghina seorang petugas negara yang sedang melaksanakan tugasnya?

GENDUT : Berapa rupiah kau bayar dia? Saya kira kamu dulu teman sekelas.

KURUS : Tuduhanmu tidak beralasan sama sekali. Silahkan menanyai sendiri tukang pos ini, apakah aku bersekongkol dengan dia atau tidak?

GENDUT : Baik, akan kami tanyai dia. Jika dia bilang ya, jika ia memberi kesaksian adanya kejahatan, kami akan memakan kamu tanpa ijin untuk naik banding. Jika ia menyangkal, kami akan memakan tukang pos ini.

TK. POS : Apa2an pula ini dengan memakan aku segala? Aku baru saja datang.
GENDUT : Itulah alasannya. Kamu masih segar……dan pasti memenuhi selera.

SEDANG : Saudara ketua, apakah anda mempertimbangkan kami seharusnya memakan keduanya ini? Yang seorang digoreng dan lainnya dimakan dengan sayuran mentah atau buah2an rebus? Atau kita dapat menjajar atau menaruh yang satu di atas yang lainnya……

KURUS : (DENGAN PENGHARAPAN) Mungkin bahwa tukang pos ini bukan seorang anak yatim? Lihatlah kami bertiga ini, tiada rumah, ditinggalkan, terlantar……kami sebaiknya menanyai dia, bukan?!

GENDUT : (MASIH BERPIKIR MENGENAI MAKAN) Tidak, aku lebih suka membuat anggur dari yang satu ini. hanya bagaimana membuat anggur burgundy dari seorang tukang pos?

TK. POS : (PENUH KEINGINAN UNTUK GABUNGKAN) Ya, memang. Aku seorang tukang pos kelas satu, tetapi seorang hamba yang sangat miskin.

SEDANG : (KEPADA TUKANG POS) Jika engkau memberikan kesaksian palsu bahwa kita berkolusi, saya akan melaporkanmu ke Direktorat Pos dan Telegram.

TK. POS : Jangan khawatir. Aku telah mengabdi selama 30 tahun lebih tanpa cela.

GENDUT : Kita boroskan waktu saja. Apakah kamu bersekongkol dengan orang ini? Ya atau tidak? Jika jawabannya ya dan berita kematian ibunya ternyata palsu kami akan memberi ginjal dan barangkali juga bagian yang empuk lainnya. Akan tetapi jika keteranganmu benar, maka kami bertiga anak yatim ini akan memakanmu berdasarkan alasan sederhana bahwa engkau seorang tukang pos. kantor pos adala suatu lembaga umum dan karenanya harus mengabdi semua orang.

KURUS : Harap jangan merusak nama baikmu.

TK. POS : Hal itu tak perlu ditakutkan. Selama bertahun2 saya telah hidup sebagai tukang pos yang jujur, aku tak dapat disuap dengan ginjal.

GENDUT : Kami barangkali dapat memberimu lutut sebagai tambahan, tetapi kuperingatkan kamu bahwa itu semua tergantung dari sejauh mana kita mendapat kemajuan dalam soal ini.

TK. POS : Tidak, tuan. (SAMBIL MENUNJUK PAKAIAN SERAGAMNYA) Anda lihat seragam ini? Keluhuran dari seragam ini kuhargai lebih dari segala2nya. Selamat tinggal. (TERJUN KE DALAM AIR)

KURUS : Tidak, jangan pergi, jangan pergi. Katakan dulu kepada mereka ini bahwa aku tidak bersalah. Tunggu. (SAMBIL MELAMBAIKAN SURAT TELEGRAM) Nah, kawan2, anda lihat dari segi keadilan, keadilan kita adalah identik. Kita bertiga ini anak yatim.

GENDUT : (SECARA KEBETULAN PADA SEDANG) Maukah engkau menyiapkan makan. Semuanya yang diperlukan ada dalam koporku.

KURUS : Apa? Kawan2ku anak yatim, menyiapkan……

GENDUT : Anda lupa bahwa ada macam2 keadilan. Misalnya keadilan sejarah.

KURUS : Apa maksudmu?

SEDANG : (SEMENTARA ITU TELAH MEMBUKA KOPOR) Saudara ketua, apakah kita membutuhkan juri?

GENDUT : Suatu kenyataan bahwa kita bertiga tanpa orang tua tidaklah menempatkan kita pada taraf yang sama. Persoalan yang perlu dipertimbangkan: Siapakah orang tua kita?

KURUS : Astaga, mereka……lagi2 orang tua.

GENDUT : Hahaha. Dan siapakah ayahmu?

SEDANG : Bagaimana mengenai penggilingan adonan?

KURUS : Ayahku? Ia seorang pekerja kantor. Bagaimana tentang ayahmu?

TK. POS : (MUNCUL DARI LAUT, BERSANDAR PADA TEPI RAKIT) Maaf, saya lupa tanda terima. Segala pembicaraan mengenai makan orang, membuat hilang akal.

KURUS : Dimana aku harus tanda tangan?

TK. POS : Di sini. (KURUS MENANDATANGANI TANDA TERIMA) Selamat tinggal. (BERENANG PERGI)

GENDUT : Jadi ayahmu seorang pekerja kantor? Persis seperti kuharapkan. Anda tahu menjadi apakah ayahku?

KURUS : Tidak.

GENDUT : Ia seorang penenbang kayu sederhana yang buta huruf. Memang ayahnya tidak pernah punya ayah. Ibunya menggendong dia sebagai hasil kekhawatiran, kemiskinan, kesusahan yang berlebihan. Anda tahu sementara ayahmu mengisi formulir2 kantor sebagai budak aristokrasi, sambil duduk enaknya dalam kantor yang hangat, bersih, ayahku sedang menebang pohon2an untuk bahan kertas, sehingga ayahmu dapat mempunyai kertas untuk menulis pemberitahuan, untuk pemecatan2 yang kemudian ia kirimkan kepada ibu dari temanku di sini, yang tak pernah punya ayah. Kuharap anda merasa malu terhadap dirimu sendiri. (SEDANG MENGELUARKAN DARI KOPOR EBERAPA PERKAKAS DAPUR, YANG DILETAKKANNYA DI RAKIT. KINI IA MENGELUARKAN SEBUAH MESIN PENGIRIS, YANG DICOBANYA DENGAN MEMUTAR TANGKAINYA BEBERAPA KALI)

KURUS : (MENGERTI BETAPA SINDIRAN2 GENDUT MENGARAHKAN KEPADA PERCOBAAN UNTUK MEMPERTAHANKAN DIRI DENGAN UNGKAPAN YANG SAMA) Tetapi saya tak dapat berbuat apa2 mengenai hal itu.

GENDUT : Oleh sebab itu keadilan yang diputuskan sekarang bahwa engkau akan dimakan, disebut keadilan historis.

HAMBA : Yang Mulia. Yang Mulia.

GENDUT : Ya Tuhan, apa yang terjadi sekarang? (DI SISI PANJANG RAKIT NAMPAK KEPALA SEORANG TUA BUTLER YANG TELAH BERUBAN)

HAMBA : Yang Mulia, alangkah bahagianya aku dapat bertemu dengan Yang Mulia.

GENDUT : Apa katamu?

HAMBA : (HAMPIR MENANGIS KARENA EMOSI) Tidaklah Yang Mulia mengenalku? Tidak ingatkah Yang Mulia bagaimana saya mengajarmu menaiki kuda, tatkala Yang Mulia masih kanak2?

GENDUT : Pergi!!!

HAMBA : Betapa mengherankan bahwa mataku yang tua ini akan melihatmu sekali lagi, Yang Mulia. Semua orang di istana begitu khawatir. Tatkala terdengar berita bahwa kapal Yang Mulia tenggelam, aku tak dapat menahan diri lagi. Aku bilang pada diri sendiri, kemana ia pergi, aku pergi juga. Nasibnya adalah nasibku. Maka aku terjun ke laut dan sampai di sinilah aku sekarang. Alangkah bahagianya, oh?!

GENDUT : Silahkan meninggalkan rakit dan tenggelam.

HAMBA : Tentu Yang Mulia. Alangkah untungnya, betapa mengagumkan. (LENYAP)

KURUS : Jangan, jangan kawan baik, jangan tinggalkan kami. Datanglah kemari…… Ia telah tenggelam.

GENDUT : (DENGAN NADA SE-OLAH2 TAK TERJADI APA2) Seperti saya bilang, anda dapat melihat keadilan historis itu……

KURUS : (MENJADI GEMBIRA) Memang. Aku tahu bahwa anda biasa hidup di istana dan anda belajar naik kuda……

GENDUT : Kuda? Bahkan ayahku tak mampu membeli kuda yang paling jelekpun. Kamu berpikir tentang masa kanak2mu sendiri yang begitu hina.

KURUS : Kini berakhirlah sudah. Apakah anda mengatakan bahwa aku, aku yang pernah naik kuda?

GENDUT : Memang. Kamu mengatakannya sendiri tadi.

KURUS : Tidak, ini melampaui segala pengertian. Aku menyatakan sungguh2 aku tidak punya hubungan apapun dengan seekor kuda.

GENDUT : Lebih2 aku. Ayahku yang miskin bahkan tak mengenal kata “kuda”. Ia buta huruf.

SEDANG : (SELAMA INI MENYAKSIKAN ADEGAN TERSEBUT. BERDIRI DI ANTARA BERMACAM-MACAM ALAT DAPUR DENGAN SEBUAH PANCI DI TANGANNYA) Kuda kecil yang malang. Tak seorangpun menginginkannya. (KEPADA KURUS) Tidakkah anda punya rasa belas kasihan kepada binatang? Apapun yang terjadi memiliki dia adalah merupakan sisa-sisa paling bahagia dari masa kanak2mu.

KURUS : Tetapi seseorang tadi?
GENDUT : Seseorang mana? (KEPADA SEDANG) Kau, adakah kau melihat seseorang?

SEDANG : Tentu saja tidak.

GENDUT : Kawan, saya takut saya tidak bisa lagi mengatakan sesuatu kepadamu dalam diskusi ini. Anda menderita halusinasi.

SEDANG : Kau seorang gila.

GENDUT : Dan sekarang sebagai seorang yang tidak bertanggung jawab atas tindakan2nya alangkah baiknya bagimu untuk menyerahkan dirimu kepada orang2 yang tahu apa yang mereka kehendaki. Engkau harus dikeluarkan dari kehidupan masyarakat dan sesuatu yang paling baik bagi masyarakat ialah memakan kamu. (KEPADA SEDANG) Ataukah anda tidak keberatan menyiapkan makan?

SEDANG : Haruskah kukeluarkan sendok2 teh?

GENDUT : Tentu. Ini adalah makan siang yang khas. (SEDANG MENARUH SENDOK2 TEH)

SEDANG : Satu atau dua pisau?

GENDUT : Dua. (SEDANG MENARUH PISAU2)

SEDANG : Kain meja makan?

GENDUT : Memang segala sesuatu harus seperti adanya. Kita ini orang2 yang berbudaya. (SELAMA PERCAKAPAN TERSEBUT KURUS MUNDUR KE TEPI RAKIT. MENARIK SATU KURSI DI BELAKANGNYA DAN BERSEMBUNYI DI BALIKNYA. SEDANG MENARUH KAIN MEJA PUTIH MELINTANG DI TENGAH RAKIT DAN DENGAN HATI-HATI MENARUH DUA TEMPAT GENDUT BERHENTI MENGAWASI KURUS. MALAH IA MENGAWASI SEDANG DAN TIAP KALI MEMBUAT ISYARAT KEPADANYA MENGENAI DIMANA BERMACAM2 BARANG ITU HARUS DITARUH. SEGERA MEJA SELESAI DISIAPKAN, KURUS MENANTI MEREKA GEMETAR DARI BELAKANG KURSI)

KURUS : (DENGAN KETAKUTAN) Maaf, sebentar.

GENDUT : (TIDAK MEMPERHATIKANNYA) Geser pisau, garpu, sendok, sedikit ke kanan.

KURUS : Saya kira, saya harus bilang kepada anda…… bahwa aku sedang keracunan.

GENDUT : Tempat buah di tengah2.

KURUS : Saya sungguh2. saya tidak mau bilang kepadamu sebelumnya. Saya akan sangat tidak baik bagimu.

GENDUT : (MENGAMBIL SATU GARPU DAN MENGAMATINYA) Bersih ini.

KURUS : Aku tidak hendak membuat kesukaran. Aku tidak hendak menyakitimu. Aku suka makan enak dan aku tahu apakah akibat rakus pada seseorang. Jika aku tidak keracunan, aku takkan menghalang2i, aku berjanji. Tetapi karena demikian halnya, maka dengan jelas tugasku……

GENDUT : Marilah kita mulai.

KURUS : (MUNDUR MASIH LEBIH JAUH KE KANAN KE PINGGIR RAKIT) Aku tak bilang bahwa ini tak bisa disembuhkan. Tidak, yang harus anda lakukan adalah menunggu sebentar dan racun itu akan hilang. Satu atau dua hari istirahat dan aku akan sembuh dari keracunan. Aku akan berbaring di sini, di sudut sana agar tidak mengganggumu. Segera setelah aku tidak keracunan, aku akan bilang kepadamu. Aku tidak akan minta dimaafkan lagi. (SEDANG MASIH TERUS MEMPERTAJAM PISAU SECARA BERIRAMA. GENDUT MELIHAT SEKALI LAGI KE MEJA MENELENGKAN KEPALANYA, MEMPERTIMBANGKAN-NYA, BERJALAN KE KOPER, DAN MEMINDAHKAN DARI SITU BEBERAPA VAS BUNGA. IA MENARUH BUNGA2 DI DALAM VAS DAN MENARUH VAS TERSEBUT. DI ATAS “MEJA”. KEMUDIA IA MENGAMBIL BEBERAPA LANGKAH KE SAMPING DAN MEMERIKSA HASIL PEKERJAANNYA. HANYA KINI IA MERASA PUAS)

KURUS : (MENJADI MAKIN KURANG YAKIN AKAN DIRINYA) Nah, mungkin dua hari agak terlalu lama. Paling lama satu hari. Anda mengenal peribahasa: “Apa yang haru kamu makan hari ini, lebih baik kamu makan besok pagi”. – ha, ha, ha, (SEDANG MENCOBA TAJAMNYA PISAU DENGAN JARINYA) Aku kira beberapa jam akan cukup. Bahkan satu jam.

GENDUT : Kini waktunya akan mulai. (SEDANG MAJU SELANGKAH KE ARAH TEMPAT KURUS)

KURUS : (DENGAN TER-GESA2) Baik, baik. Aku setuju. Hanya perkenankan aku sedikit menasehatimu. Demi untuk kepentinganmu sendiri.

GENDUT : Tentang apa?

KURUS : Nasehat mengenai makanan enak. Nasehat yang benar2 to the point. Bukankah…… bukankah akan lebih baik jika aku menuci kakiku lebih dulu? (SEDANG MEMANDANG DENGAN MENYELIDIK KEPADA GENDUT)

GENDUT : Memang, aku tidak pernah berpikir tentang hal itu. (KEPADA SEDANG) Bagaimana menurutmu?

SEDANG : (RAGU2) Aku tak tahu…… mungkin ia agak kotor dan sedikit berpasir…… mungkin memang seharusnya ia dicuci.

KURUS : (DENGAN CEPAT MENYISINGKAN CELANANYA) Ya, ya. Anda benar sekali. Kesehatan adalah dasar dari suatu kehidupan yang sehat. (MENGGARUK KAKI) Bakteri tidak nampak oleh mata biasa dan aku dapat merasakan gatal karenanya.

GENDUT : Baik sekali. Kebersihan pribadi tidak pernah menyusahkan seseorang. Sebaliknya ia menentukan suatu hidup yang panjang dan sehat. Tunggu sebentar, akan kuambilkan handuk. (KURUS DUDUK PADA TEPI RAKIT DAN MENJUNTAIKAN KAKINYA KE LAUT. IA MENCUCI DAN MEMERCIK-MERCIK)

KURUS : Nah, kamu berdua telah benar2 memutuskan untuk…… untuk……

GENDUT : Saya kira hal itu sudah jelas bagi kita.

KURUS : Anda mengatakan tentang pengorbanan diri……

GENDUT : Ya, aku bilang bahwa pengorbanan diri adalah suatu cita2 mulia.
KURUS : (MENDENGARKAN DENGAN PERHATIAN) Ya? Ceritalah lebih banyak.

GENDUT : Saya kira tak ada sesuatupun yang dapat kutambahkan. Pengorbanan diri, kesediaan mempersembahkan diri.

KURUS : Ya, aku tahu semuanya itu benar.

GENDUT : (BERDIRI DI ATAS DI DEKATNYA DENGAN SEBUAH HANDUK) Mengertikah anda sekarang? Anda tak mau percaya kepadaku sebelumnya.

KURUS : Aku memang sangat mentah dan kurang pengalaman…… tetapi kini aku melihat ada sesuatu dalam kata2mu.

GENDUT : (DENGAN MEMBESARKAN HATI) Anda masih punya waktu untuk memperbaiki.

KURUS : Aku telah terlalu aib. Aku telah menolak semua pernyataan2mu.

GENDUT : Tetapi sungguh2 dalam lubuk hatimu, anda bukanlah orang yang sinis, menurut pertimbangan perasaan-muliaku, aku dapat melihat permulaan kemajuan. Bukankah kaki yang sebelah itu sudah cukup?

KURUS : Belum, aku harus mencuci sela2 jari. Jadi kembali ke pokok pembicaraan, aku harus bilang kepadamu bahwa dalam diriku, mulai saat ini bangkit manusia baru yang lebih baik. Eeemmm, ngomong-ngomong, apakah anda tidak keberatan menarik kembali pendapat itu?

GENDUT : (DENGAN TIDAK SABAR) Astaga.

KURUS : Tidak, tidak, memang begitulah. Jadi apa yang telah kubicarakan? Aha, manusia baru yang lebih baik? Memang, apabila sesuatu dimakan sebagai sesuatu kurban manusia biasa, tentu saja sangat berbeda apabila yang dimakan sebagai orang manusia baru yang lebih baik dan diluar dari penyerahannya sendiri. Dengan kata lain, dimakan dengan persetujuan batin sendiri dan ilham yang luhur. Anda berjanji kepadaku, bahwa segala sesuatu telah diputuskan, bukan?

GENDUT : Dengan segala hormat.

KURUS : Ha, buruk sekali. Baiklah…… apakah yang kukatakan? Aha, itu memberikan rasa puas kepada seseorang, suatu perasaan bebas dan merdeka……

GENDUT : Akhirnya anda mengerti pandangan kami. (KEPADA SEDANG) Kawan, coba sabunnya bawa kemari.

KURUS : (DENGAN GEMETAR) Karena anda seharusnya tak berpendapat bahwa aku hanyalah seorang budak.

GENDUT : Tetap terjamin, aku tidak akan berpendapat begitu tentang dirimu. Sebaliknya anda akan turun ke dalam perut kami – saya maksud ke dalam ingatan kami – sebagai seorang pahlawan, sebagai suatu mercu suar dari pembaktian yang tidak mencari untung. Saya kira kaki sebelah telah selesai, bukan?

KURUS : (BAHKAN LEBIH GEMETAR) Memang telah selesai. Kaki kanan telah selesai juga. Berikan handuk itu dan aku akan keluar dari air.

GENDUT : Tidak, saya kira sebaiknya kau cuci kaki kanan sedikit lagi……

KURUS : Baiklah.

GENDUT : Saya kira itu akan lebih baik.

KURUS : Ya, aku adalah orang pertama yang membuat keputusan agung ini. Aku adalah orang pertama yang bangkit untuk mengorbankan diri bagi orang2 lain……

SEDANG : (MEMANDANG KURUS DENGAN SIKAP MENGECAM) Kukira anda membutuhkan obat pembersih.

GENDUT : Tidak, tidak ada yang keliru mengenai obat pembersih. Kita dapat menunggu beberapa saat lagi.

KURUS : Tunggu?! Bukankah kawan2ku sudah kelaparan? (MENCOBA UNTUK BANGKIT, TETAPI SIGENDUT MENAHANNYA TETAP DUDUK)

GENDUT : Sebentar lagi kaki kananmu akan selesailah sudah.

KURUS : Kakiku rupanya begitu tak berarti, kini aku telah melihat sinar terang. Mereka mungkin sama kotornya.

GENDUT : (MENYERAHKAN HANDUK KEPADANYA) Baik, dan inilah handuknya. (KURUS BANGKIT DAN BERJALAN KE TENGAH2 RAKIT)

KURUS : Tuan2, terima kasih. Akhirnya aku telah menjadi manusia yang benar2. aku telah insyaf bahwa aku seorang manusia ideal.

GENDUT : Terima kasih kembali.

KURUS : Aku telah menginsyafi harga diriku. Meskipun demikian, bagaimana keadaan sebenarnya kita disini bertiga dan di antara mereka akulah satu2nya orang yang menyelamatkan dua orang lainnya. Aku ingin jika diinginkan sedikit berpidato mengenai soal kebebasan.

GENDUT : Panjangkah pidato itu?

KURUS : Tidak, hanya beberapa kata.

GENDUT : Baik, silahkan.

KURUS : (MENARIK SATU KURSI KE SISI RAKIT DAN NAIK KE ATASNYA. DENGAN CARA YANG SAMA SEPERTI PADA PIDATONYA PADA PERMULAAN ADEGAN) Kebebasan tidak berarti apa2. Hanyalah kebebasan yang benar yang mempunyai arti. Mengapa? Karena ia benar, dan karenanya ia lebih baik. Dalam hal apa sebenarnya kita harus mencari kebebasan yang benar? Marilah kita berpikir secara logis. Jika kebebasan benar tidak sama dengan kebebasan biasa, dimana kita akan menemukan kebebasan yang benar2 ini? Jawabnya sederhana: kebebasan benar hanya terdapat di tempat dimana tidak ada kebebasan biasa.
SEDANG : Saudara Pimpinan, dimana garamnya?

GENDUT : Jangan menggangu. Secara jujur, alangkah baiknya waktu untuk……. (DENGAN SANGAT TENANG) Di dasar koper.

KURUS : Dan karenanya aku telah memutuskan…… (SEDANG PERGI KE KOPER DAN MELIHAT KE DALAMNYA. LALU BER-GESA2 KE GENDUT)

KURUS : Dan karenanya aku memutuskan…… (IA MENGULANGI KATA2 INI DAN MELANJUTKAN MENGULANGINYA SEPERTI SEBUAH PIRINGAN HITAM, HANYA TIDAK MONOTON, TAPI MENG-INTERPRETASI-NYA DALAM CARA LAIN, SE-OLAH2 IA DENGAN PUTUS ASA MENCARI2 APA YANG AKAN DIKATAKAN)

SEDANG : (DENGAN BER-API2, AGAK BERBISIK TAPI SANGAT TERANG) Saudara Pimpinan, aku telah menemukan kaleng kacang panjang dan sosis.

GENDUT : Ssssssttttt. Sembunyikan cepat.

KURUS : Dan karenanya aku telah memutuskan……

SEDANG : Terus terang aku lebih suka kacang panjang. Apa pendapatmu, Sdr. Pimpinan?

GENDUT : Aku tidak suka kacang panjang. Dan meskipun begitu……

KURUS : Dan karenanya aku telah memutuskan……

SEDANG : Meskipun begitu apa?

GENDUT : (MENUNJUK KEPADA KURUS) Tidak lihatkah kau? Ia berbahagia sebagaimana ia adanya.



BLACK OUT. SELESAI.


1 komentar:

  1. Kalau boleh tahu, penerjemah naskah "Terdampar" itu siapa ya?

    BalasHapus