Jumat, 06 Agustus 2010

CANNIBALOGY

Cannibalogy
DRAMATIS
PERSONAE

Suman
Suhar
Ki Butho
Ageng Rais
Sinta Salim
Landless





BABAK I
Fragmen 1
Lewat tengah malam. Kuburan desa pinggiran Mojokuto. Sebuah makam sedang digali. Dari tengah kampung, sayup-sayup terdengar gamelan mengiringi adegan perang pada pertunjukan wayang. Dari liang makam nampak sosok kepala plontos sedang menggaruk tanah dengan kedua tangannya. Dengus nafas dan suara gagak saling menimpal. Angin kencang.
Seonggok jasad dikeluarkan dari liang. Sosok kepala plontos memanggul jasad ke bahunya. Gerakannya sigap. Keringat mengkilat dari bidang dadanya. Kulitnya coklat keruh. Hitam matanya.
Suman :
Guru, syaratnya sudah dapat. Ini baru yang kelima. Ya,.....harus tambah dua lagi. Ilmuku hampir sampai. Semua syarat akan kupenuhi, guru. Hah, aku lapar. Aku bosan melarat. Aku minta kaya! Aku ingin kebal dari senjata. Gusti, paringono kuat slamet!
Suara gamelan perang meninggi. Suman berjalan tergesa ke timur, menembus gelap. Kuburan sesaat senyap. Bias api obor menyorot ke areal makam. Muncul dua orang tentara desa, Kuro dan Sentolo.
Sentolo :
Bajingan. Kuburan mbah Sirep ada yang bongkar.
Kuro :
Baru mati tiga hari. Mayatnya lenyap.
Sentolo :
Pukul kentongan!
Suara kentongan saling bersambut. Belasan orang saling memintas. Api obor saling berkelebat. Kemarahan penduduk meletus.
Fragmen 2
Tengah hari. Di tengah pasar yang sudah usai, sebuah tegalan terbuka, desa Pring. Suhar menumpuk semua barang kelontong jualannya, memantik api ke jerami kering, lalu membakarnya. Di depan barang-barang kelontong yang terbakar itu, seorang ibu terisak sambil bersimpuh.
Mbok Tirah :
O...Nang... Wetonmu iku Seloso Kliwon. Kamu cocoknya ya berdagang. Itu sudah garis hidupmu. O...alah, kok sekarang semuanya malah kamu obong. Sing eling tho Nang...nang...
Suhar :
(Wajahnya mengeras, tapi sikapnya mantap)
Mbok Tirah, aku sudah bangkrut. Nasibku sempit di sini. Kampung ini sepertinya menolakku.
Mbok Tirah :
Jangan putus asa. Gusti Allah sing dhuwe kuasa. Pergi ke desa lain,Suhar. Coba lagi. Pasti laku daganganmu. Bapakmu dulu juga begini. Tapi ndak pernah sampai ngobong. Rejeki harus disyukuri. Gusti Allah ora sare.
Suhar :
Mbok, aku memang mau pergi. Ke Solo. Aku mau bertapa di Bengawan Solo.
Mbok Tirah :
Bertapa ? Siapa yang menyuruhmu, nang ?
Suhar :
Suhar mau cari wangsit. Suhar mau berjuang. Pamit,mbok.
(Mencium tangan Mbok Tirah. Berangkat dengan gembolannya)
Mbok Tirah :
Suhar, kamu sudah memanggil api. Api itu menular. Jangan memanggil api, Suhar. (Menyiramkan air ke tumpukan barang hangus)
Fragmen 3
Hari yang lain. Dekat hutan. Selewat subuh. Gubuk tua. Suman sedang membakar daging. Asap mengepul. Belasan orang bersenjata tajam mengendap-endap mendekatinya dari arah belakang. Segera orang-orang merangseknya.
Massa :
Bunuh! Bunuh!!
Suman :
(Membalik, sorot matanyamenantang . Mulutnya masih mengunyah keratan daging hangus. Suaranya tenang, berjalan mendekati orang-orang)
Mau coba ?
Massa :
Bunuh! Bunuh!!
(Dari arah belakang, Kuro menerjang dan meringkus Suman. Sentolo menyudahinya dengan pukulan keras batang kayu ke kepala Suman. Suman rubuh. Massa bersorak. Pukulan bertubi ke tubuh Suman. Muncul Daeng, dalam seragam hitam prajurit)
Daeng :
Cukup!
Sentolo :
Ini orangnya, Daeng.
Daeng :
Mana mayatnya ?
Kuro :
Lihat sendiri. Dagingnya sudah dibikin sate. Lainnya sedang direbus. Lihat di lehernya. Itu masih daging korban juga. Malah dibikin kalung. Orang ini gemblung, Daeng.
Sentolo :
Matanya melotot terus. Seperti burung hantu. Nantang dia. Ada setan di dagingnya. Kamu ini manusia apa binatang ?!
(Sentolo menampar Suman. Meludahinya)
Daeng :
Cukup! Makamkan kembali tulang-tulang Mbah Sirep. Bawa orang ini ke pendopo. Mas Ageng akan memutuskan nasibnya. Malam ini!
(Belulang Mbah Sirep dikumpulkan dalam tampah, lalu diusung. Yang lain mengikat dan menandu Suman laiknya seekor babi hasil buruan. Bersorak-sorai mereka menggiringnya ke arah utara. Sepotong mars)

Fragmen 4
Hari yang lain. Malam belum tua. Sebuah kelokan di tepi Bengawan Solo. Cahaya bulan meronai wajah pepohonan. Rumput tinggi. Suara serangga malam.
Suhar :
Ini tempatnya. Mirip seperti mimpiku. Alam akan memberi tanda-tanda.Takdir baruku mulai dari sini. (Memungut sesuatu dari hampar batu) Apa ini? (Membaca judul majalah) Playboy. (Membuka halaman, nafasnya mendadak terengah)
Cahaya tajam seperti kilat menyambar jidat Suhar. Tubuhnya tersungkur ke hampar batu. Muncul sosok kurus kecil, kepalanya berkuluk hijau tua, mengenakan baju batik berlapis-lapis. Di tangannya terhunus keris yang masih mengepulkan asap.
Ki Butho :
Aku penunggu Bengawan Solo.
Suhar :
Saya datang Ki Butho. Saya minta ijin eyang, saya mau...

Ki Butho :
Sudah kubaca maksudmu. Romanmu bagus,cah. Tapi jiwamu belum bersih, Suhar.
Suhar :
Mohon saya dibersihkan, Ki.
Ki Butho :
Kamu sedia syaratnya ?
Suhar :
Ada, Ki. Kemenyan, cerutu, beras hitam, air kembang, daun kelor, darah ayam cemani.
Ki Butho :
Masih kurang.
Suhar :
Bisa saya penuhi, Ki.
Ki Butho :
Satu kerbau betina yang masih perawan. Dan edisi terbaru majalah yang kau pegang itu.
Suhar :
Yang dua itu, saya belum sedia, Ki. Saya juga belum paham kaitannya dengan maksud saya.
Ki Butho :
Suhar, Suhar. Kamu ini mau tapa brata, minta berkah kekayaan dan kemulyaan. Tapi apa yang kamu bawa?! Cuma kemenyan dan sebotol darah ayam. Lainnya cuma tetek bengek murahan. Penuhi semua syaratnya. Baru aku bisa membimbingmu membaca rencana alam untuk kamu.
Suhar :
Saya orang miskin, Ki.
Ki Butho :
Kamu masih miskin, ya. Tapi menurut penerawanganku, takdirmu akan membaik. Syarat kerbau bisa kau tunda. Tapi tidak untuk yang satu ini.
Suhar :
Apa yang mesti saya perbuat, Ki ?
Ki Butho :
(Menempelkan ujung keris ke kepala Suhar) Kau dan aku akan mengikat sebuah perjanjian. Setiap kali nasibmu membaik, kau harus kembali ke Bengawan Solo. Memberi makan sungai besar ini. Bukan dengan darah ayam, Suhar. Kau harus memberi makan Bengawan Solo dengan darah segar yang sesungguhnya. Satu kepala baru untuk setiap kali alam mengangkatmu ke derajat lebih tinggi. (Nada suaranya berubah, tekanan dan ancaman ) Sanggup ?
Suhar :
Saya belum paham...
Ki Butho :
Pada waktunya kau akan paham. Darah !( Dengan ujung kerisnya Ki Butho mengoleskan darah ayam cemani ke kening Suhar. Sisanya dikucurkan melingkar di sekeliling mezbah batu, dimana Suhar bersimpuh ) Cerutu ! (Suhar menyodorkan cerutu.Ki Butho ambil cerutu, lalu menyalakannya. Terbatuk) Ah, cerutu murah. Kau boleh mulai semedi malam ini. Tempat ini sudah aku lindungi.
Suhar :
(Mengasongkan majalah) Playboy ini ....
Ki Butho :
Oo, kau perlu itu untuk menemanimu bersemedi. Banyak godaan yang mesti sampeyan atasi. Ki Butho akan kirim lebih banyak. Aku punya koleksi lengkap. Ingat, Suhar. Bengawan Solo senang darah perempuan. Duduk, dan mulailah membaca. Ucapkan permintaanmu. Kerisku, Sang Hyang Legi, akan menilai kekuatanmu.
Suhar :
Sendhiko, eyang. (Tapa bersila di atas batu ceper. Di pangkuannya, majalah Playboy terbuka)
Ki Butho meloloskan semua pakaiannya. Nampak seluruh tubuh kurusnya dipenuhi tatto dan banyak kerutan bekas parut. Tembang yang khidmat mengalun. Ki Butho menerjunkan dirinya ke Bengawan Solo. Langit serentak merah. Di cakrawala, sosok Ki Butho menjelma siluet hitam . Lalu sejumlah bayangan tubuh perempuan mengelilingi, merangkulinya. Gelak yang nikmat meledak, lalu surut perlahan. Suara mantra mengalir berlapis-lapis. Siluet hitam mengganda, saling berkelebat di atas tubuh Suhar. Suara yang bergelombang dengan pantulan gema memberi perintah : Bacalah!! Tubuh Suhar berguncang, bergetar. Musik jathilan menerobos.

Fragmen I. 5
Hari yang lain. Siang hari. Lapangan terbuka sebelum pendopo Mojokuto.Tiga pemain jathilan, dengan pakaian sorban dan jubah putih menunggang kuda gebyok. Kepala kuda berbentuk kepala plontos, serupa kepala Suman, tapi dengan mulut menganga dan bergigi serigala. Pemain jathilan memecut kepala plontos itu. Semakin kuat pecutan, semakin atraktif gerakan pemainnya. Di belakangnya nampak tubuh Suman, yang digotong serupa babi buruan. Tinggal cawat menutupi tubuh Suman. Penduduk Mojokuto memainkan musik dari pukulan bambu dan besi. Arak-arakan itu sampai ke depan pendopo. Daeng naik ke lantai pendopo, memasuki pintu, lalu sesaat ke luar lagi, mendatangi massa.
Daeng :
Mas Ageng, pemimpin Mojokuto, sedia menerima kalian.
Massa :
Adili pemakan mayat ini!
Mas Ageng muncul. Sosoknya pendek, berkulit hitam, alisnya setebal kumisnya. Tubuhnya berisi. Di bahunya menclok seekor iguana, yang selalu dielusnya. Mas Ageng masih mengunyah sirihnya. Sinta Salim,selir Mas Ageng, seorang perempuan peranakan, membawakan tempolong.
Mas Ageng :
Mana orangnya ?
Daeng :
( Kepada Kuro dan Sentolo) Lepaskan talinya!
Suman digelandang ke depan Mas Ageng. Didudukkan di atas tanah. Mas Ageng memandanginya sesaat. Alis Suman setebal rambut alis dirinya.
Mas Ageng :
Kamu senang daging ?
Suman :
Tidak suka.
Mas Ageng :
Tapi kau membongkar kuburan dan makan mayatnya ?
Suman :
Karena aku miskin.
Massa :
Walah, alasan...penclas saja lehernya. Penggal!! Satu mayat bayar satu mayat!! Wis, ngono wae!
Daeng :
Tenang!...
Mas Ageng :
Apa agamamu ?

Suman :
Sehari-hari, aku Islam. Tuhanku satu.
Massa :
Wah,...ngaku-ngaku. Raimu kethek! Binatang kamu itu! Sadis!
(Massa merangsek hendak memukul Suman. Daeng melindungi)
Daeng :
Mundur! Mas Ageng masih bicara. Kuro, amankan!
Kuro :
(Dengan gaya sok berwibawa) Silen, please.....
Penduduk 1 :
Opo iku silen...
Penduduk 2 :
Sebentar lagi makan siang
Penduduk 3 :
O, den Mas Ageng atine apik yo
Penduduk 4 :
Dia ngerti kebutuhan rakyat.
Massa :
Kita dukung dia. Kita dengarkan dia. Dia pemimpin kita.
Kuro :
(Dengan gaya makin berwibawa) Silen, sileeen, please....
Penduduk 1 :
Silen maneh, silen maneh. Opo karepe ?

Penduduk 2 :
(Yakin)Makan siangnya dua kali!
Massa :
Ho, bener tho?...hahaha...apik tenan. Hidup Mas Ageng! Hidup Mas Ageng! Makan besar kita hari ini...
Suman :
(Matanya menangkap sesuatu yang melata di atas tanah. Dengan gerakan gesit, seekor kadal ditangkapnya. Giginya menggigit dan memotes kepala kadal. Kepala kadal dikantungi, lalu Suman mengunyah bagian tubuh kadal itu mentah-mentah. Semua orang terdiam, tercekat. Menutup mulut, menahan mual. Suman mengunyah tenang) Aku lapar.
Mas Ageng :
Tak ada orang yang makan seperti cara kamu makan
Suman :
Aku miskin. Tapi aku mesti hidup.
Mas Ageng :
Hidup seperti itu bikin orang muntah.
Suman :
Hidup aku pemberian Tuhanku yang satu. Yang aku bela hanya hidup, bukan apa yang aku makan. Di tanah, di langit, di air, aku harus mencari apa yang bisa kumakan. Di air kotor, di tanah busuk sekalipun, aku bisa menemukan makananku.
Mas Ageng :
Kamu pernah sakit ?
Suman :
Karena apa yang kumakan ? Tidak, tuan. Aku tidak melayani rasa sakit! Aku biarkan sakit datang, kalau dia mau datang. Itu memberiku pelajaran untuk bertahan. Kalau aku bertahan, aku bisa membela tanah yang kupijak! Itu sikapku sebagai manusia.
Mas Ageng :
Manusia tidak makan manusia.
Suman :
Maaf, tuan. Aku makan mayat untuk alasan lain.
Massa :
Pasti itu ilmu hitam, den Mas. Kami ingin orang ini mati. Atau diusir jauh dari tanah Mojokuto. Serahkan orang ini pada kami, den Mas. Kami akan menghukum dia. Kami sanggup!
Kuro :
Silen please…
Penduduk 1:
Weleh, ono silen maneh.
Penduduk 2 :
Makanya, kita tenang saja. Makan siangnya jadi tiga kali.
Mas Ageng :
(Suaranya berubah meninggi dan tegas) Suman, kenapa mayat mbah Sirep kamu makan ?!
Suman :
(Berlutut di depan kaki Mas Ageng)Saya ingin kaya, tuan. Dan saya ingin kebal dari senjata. Saya ingin jadi prajurit. Maju perang. Membela tanah yang kupijak.
Sentolo :
( Merenggut kepala Suman. Menempelkan golok ke leher Suman) Bohong!! Ngawur!! Gemblung!! Hukum dia, den Mas. Penclas lehernya! Biar dia nyahok! Beri aku perintah, den Mas.
Mas Ageng :
Suman, kalau kulitmu benar kebal senjata, akan kuijinkan golok Sentolo membuktikannya.
Massa :
Yeaah! Buktikan! Buktikan sekarang!
Suman :
Ilmuku belum sampai situ, tuan. Orang-orang ini sudah menangkapku.
Sentolo :
(Meminta perintah) Den Mas, ....
Suman :
Jika sekarang tuan ijinkan golok ini menebas leherku, teruskan, tuan. Aku tidak melayani rasa sakit. Kalau hari ini harus menjadi hari kematianku, Suman hanya menyesal, sedikit sekali baktiku untuk tanah Mojokuto.
Sentolo :
(Mendesak Mas Ageng) Den Mas,.....
Mas Ageng :
(Mengambil golok dari tangan Sentolo. Dengan isyarat tangan meminta Sentolo mundur. Meminta pada Daeng)
Daeng, baringkan.
(Daeng menelentangkan tubuh Suman di atas sebatang gebok pisang. Mas Ageng menempelkan ujung golok ke dada Suman)
Orang-orang Mojokuto, dengarkan keputusanku. Orang ini miskin. Begitu juga pikirannya. Dia tidak hormat pada jasad orang mati, karena dia merasa harus bertahan hidup. Tak ada orang lain memberinya jalan keluar. Dia mencari jalan keluar di dunia orang mati. Pikirannya menjadi bagian dari kematian itu juga. Tapi orang ini berkeras hati ingin hidup. Kalau dia mau hidup, dia harus berpikir seperti orang hidup. Dia harus patuh pada hukum.
Penduduk :
Den Mas, tegakkan keadilan Mojokuto. Hukum dia! Perbuatannya bisa menular!
Mas Ageng :
(Mas Ageng menekankan ujung golok lebih keras ke dada Suman. Suman menahan nafas. Penduduk bersorak )
Perbuatannya patut dihukum. Ya!! Tapi orang-orang Mojokuto, dengarkan keputusanku. Di dunia orang hidup, menghukum bukan menyakiti. Juga bukan untuk menghabisi. Menghukum itu, menyembuhkan.
Suman, kau dihukum, supaya kau sembuh. Supaya kau patuh di dunia orang hidup,dan hormat di dunia orang mati. Kau dihukum untuk hidup. Maka, kau harus bekerja merawat seluruh makam di tanah Mojokuto, dan menjaganya seperti kau menjaga kehidupanmu sendiri. Itulah baktimu untuk tanah Mojokuto. Sekali saja kau langgar ini, berarti kau gagal untuk sembuh. Dan kalau kau gagal sembuh, maka tanganku sendirilah yang akan menjadi hukum untuk hidupmu!
(Dengan sepenuh tenaga, Mas Ageng menancapkan golok ke batang gebok pisang. Golok tegak terpasak. Cairan semerah darah meleleh dari lapisan gebok. Orang-orang takjub. Suman bersimpuh di kaki Mas Ageng)
Setelah itu terdengar letusan meriam. Suara kepanikan awalnya sayup lalu makin menegas. Perintah untuk mengungsi dan embikan hewan ternak berbaur, dengan suara letusan senjata yang terdengar makin kerap. Sejumlah penduduk tergopoh, berduyun mencari perlindungan di sekitar pendopo. Suasana serentak kalut. Daeng melindungi Mas Ageng.
Kebo muncul, terluka tembak di bahunya.
Daeng :
Kebo, apa terjadi ?
Kebo :
Mojokuto diserang. Rumah-rumah dibakar.
Mas Ageng :
Siapa mereka ?
Kebo :
Dari laut utara datangnya. Lusinan kapal besi, dengan bendera merah biru merapat ke pantai. Syahbandar melaporkan, mereka cuma kapal dagang pembeli rempah. Tapi mereka tidak seperti pedagang.
Mas Ageng :
Kapal besi ?
Kebo :
Dengan senjata meriam, dan pasukan berseragam. Badan mereka tinggi, berkulit putih, dengan topi lancip bersurai. Mereka menyisir gudang rempah, dan membongkar paksa pintu-pintunya. Rempah-rempah dijarah. Pasukanku yang melawan, mereka tembak. Penduduk ditawan. Mereka bersiap menuju kemari, dengan kuda, dan meriam.
Mas Ageng :
Siapa pemimpinnya ?!
Kebo :
Landless. Panglima Landless. Pasukannya menyebut nyebut nama itu sambil bernyanyi, menendang penduduk dan membakar gudang gudang yang sudah mereka kuras isinya.
Terdengar lagi dentuman meriam. Lalu suara pasukan berkuda, makin menegas. Mars yang bergelora.
Daeng :
Kita akan melawan!
Mas Ageng :
Daeng, siapkan seluruh pasukanmu, dan siaga di gerbang timur. Kebo, kau akan menahan setan putih itu bersama pasukan Murod, di gerbang barat. Perintahkan penduduk mengungsi ke tepi hutan. Aku sendiri yang akan menjaga pendopo. Laksanakan segera!
Daeng :
Segera! Kebo, kita akan melawan. (Berlari ke timur)
Kebo :
Sampai darah terakhir! (Berlari ke Barat)
(Letusan senjata makin kerap. Gerombolan penduduk berlarian. Sesaat sepi, tanpa suara. Suman masih bersimpuh.)
Mas Ageng :
Suman.....
Suman :
(Menegakkan wajahnya) Akan kujaga seluruh makam. Akan kurawat yang hidup, dan yang mati.
Mas Ageng :
(Menatap dalam pada Suman. Membebatkan kain hijau ke lengan Suman) Bela...Mojokuto. ( Mas Ageng masuk ke pendopo)
Suman :
(Mencabut golok yang tertancap di gebok pisang. Menyilangkan di dadanya. Mata hitamnya berkilat.Suaranya rendah dan dalam)
Bela...Mojokuto.
Sinta Salim :
(Menyodorkan buntalan pada Suman) Makanan untukmu. Bawalah!
Suman :
Terima kasih, Nyai.
Sinta Salim menarik kain panjangnya, lalu ujungnya diselipkan ke pinggang. Dia memasang busur dan anak panah.
Sinta Salim :
(Berteriak nyaring) Cantrik Dalem! Bela Mojokuto!
Dari arah lain masuk belasan perempuan, siap dengan panah dan busur. Sinta Salim berjalan ke luar pendopo, diikuti belasan perempuan itu.
Suman berjalan pasti ke timur. Beberapa tubuh terluka terguling diantara langkahnya. Suman tetap berjalan ke timur. Lembayung meremang di cakrawala, diantara kepulan asap di kejauhan.
Dua orang perempuan tua, dengan gembolan besar di punggungnya, berjalan mendekati gebok pisang. Susah payah menegakkan gebok itu sebagai tiang pasak di depan pendopo, diiringi sayup-sayup gamelan tari bedhoyo. Efek tembakan senjata berangsur menghancurkan dan memburaikan tiang gebok itu. Kedua perempuan itu tetap memeluk dan menegakkan geboknya.
Di latar belakang, layar putih menggambarkan adegan penaklukan Mojokuto oleh pasukan Landless, dalam kilasan kilasan siluet. Sesudah itu irama dan siluet beralih digantikan kemeriahan suasana pesta di sebuah societet.













BABAK II
Fragmen II. 1
Masa setelah penaklukan Mojokuto. Pagi hari. Bekas pendopo Mojokuto, yang dijadikan markas Landless. Sebuah meja dan kursi bergaya Eropa. Layar besar di dinding belakang, menggambarkan peta Jawa. Hoffmann, asisten pribadi Landless sedang menyiapkan bahan presentasi.
Suara riuh yang hangat dari luar markas. Muncul Landless dan belasan pasukannya. Semuanya mengenakan pakaian sepakbola berwarna oranye, tapi sepatunya bergaya sepatu serdadu. Landless melemparkan bola kaki, Hoffman sigap menangkapnya. Bekas lumpur masih nampak di pakaian Landless dan pasukannya.
Landless :
Tak ada lapangan bagus di Mojokuto. Tanahnya lembek, banyak lumpur, seperti pribuminya.
Pasukan 1 :
Tapi tuan terlalu perkasa. Tiga gol dalam 20 menit.
Pasukan 2 :
Luar biasa. Bahkan si Johan Cruiff bukan tandingan tuan.
Landless :
Hmmh, dimanapun itu, di tanah yang ingin kudatangi, aku selalu membuat gol, bukan? Meriam-meriam Landless selalu unggul di seluruh Jawa yang lembek ini!
Pasukan :
Jayalah Landless!
Landless :
Minumanku, Hoffmann! Cheers...
Pasukan :
Cheers.....
Hoffmann :
Ada telegram dari Batavia.
Landless :
Bacakan!
Hoffmann :
Yang Mulia tuan Landless. Batavia dibanjiri pendatang. Mereka jual perhiasan, sutra dan candu. Pasar gelap makin ramai. Orang pribumi dan pendatang bangun rumah gelap sepanjang Ciliwung. Buang hajat di situ juga. Malaria merajalela. Pendatang sering bikin onar. Penjara penuh. Kramat Tunggak ramai. Mohon petunjuk. Komisaris Abeng.
Landless :
Hmm....terlalu rinci, terlalu risau. Jawabanku Hoffmann ,...(Hoffmann menuliskan apa yang diucapkan) Perluas Kramat Tunggak. Bikin sensus untuk pendatang. Usir semua laki-laki yang bersunat. Kapalkan sampai Selat Sunda, en karamkan di sana.Tempatkan pedagang yang berjanggut di daerah malaria. Biarkan tanpa obat. Ijinkan orang Tionghwa berdagang di luar benteng. Ijinkan mereka berjudi. Tarik pajak. En...Hoffmann, ganti komisaris itu dalam dua pekan.
Hoffmann :
Perintah dijalankan.
Landless :
(Melihat peta di dinding belakang) Hoffmann, apa nama sungai besar itu ?
Hoffmann :
Orang Mojokuto menyebutnya Kali Solo.
Landless :
Kali Solo ? Dan merah airnya ?

Hoffmann :
Itu darah orang pribumi, meneer. Kita banyak tumpas pasukan Ageng di sana. Tapi orang Bugis, Canton dan Bengal, sekarang datang lagi buat berdagang.
Landless :
Hmm, aku tertarik. Kali Solo...merah airnya. Dan Landless akan bikin Jawa bergembira!! Hoffmann, segera bangun banyak penginapan sepanjang Kali Solo. Ambil banyak perempuan muda dari Dermayon en Surabaya. Bebaskan pajak untuk pedagang. Tapi biarkan mereka membayar perempuan-perempuan melayu itu dengan harga pantas. Kali Solo akan tetap merah.
Pasukan 1 :
Lokalisasi...meneer ?
Landless :
Yummy, yummy.....
Pasukan 2 :
Pasukan Olanda perlu hibur diri juga, meneer
Landless :
Yap! Tapi kita orang tidak mau seneng-seneng di daerah bau amis itu. En kerna Landless mau bangun ini pendopo jadi gedung opera ! Kita kasi conto orang-orang biadab itu bagaimana menikmati kegembiraan Eropa.
Pasukan :
Cheers....
Landless :
Cheers....Jaya Olanda!
Pasukan :
Jayalah Landless!!
Landless :
Bersihkan dirimu pasukan. Kita akan makan siang segera. (Pasukan keluar) Hoffmann, ada kabar soal Ageng ?
Hoffmann :
Informan kita kasi petunjuk, dia kabur ke Celebes.
Landless :
(Membaca telegram Komisaris Abeng) Hmm, aku punya firasat lain. Cari dia di Batavia. Diantara pedagang-pedagang pribumi. Orang ini pintar, Hoffmann.
Hoffmann :
Perintah dijalankan.
(Lampu ruangan tiba-tiba mati. Terdengar gerutu dari ruangan lain. Pasukan yang belum selesai mandi, keluar dengan handuk-handuk kuning, dan tubuh yang masih bersabun. Kikuk dan gusar)
Pasukan :
Listrik mati.
Hoffmann :
(Melihat ke jendela) Orang-orang pribumi curi kabel kita lagi.
Landless :
(Marah) Inlander!!! (Mengambil senapan panjangnya, menembak membabi buta ke luar jendela. Suara gonggongan anjing penjaga terdengar dari luar ruangan)

Fragmen II. 2
Hari yang lain. Menjelang sore. Hutan jati di pelosok Mojokuto. Suman dan belasan pasukan Mojokuto bersembunyi dan bertahan. Suman terluka pundaknya. Beberapa orang memegang senjata laras panjang hasil rampasan. Terdengar suara ranting patah. Suman mengangkat goloknya. Suara serangga hutan menajamkan ketegangan.
Suman :
(Kepada pasukannya) Siaga! Tembak kalau aku perintah. (Memberi kode dengan isyarat tangannya)Mundur. Menyebar. Sembunyi.
Dua sosok muncul dari balik semak. Suhar memapah Ki Butho yang kelihatan sakit. Ki Butho melihat sekitar, mengamati tanda-tanda.
Ki Butho :
Ini wilayah Jatiabang. Hutan paling wingit di Mojokuto.
Suhar :
Cukup aman di sini ?
Ki Butho :
Untuk sementara kita minta perlindungan pemimpin Mojokuto.
Suman muncul dengan pasukannya. Mengurung Suhar dan Ki Butho.
Suman :
Mojokuto sudah dirampas. Cuma kami yang bertahan. Kalau kalian musuh, tempur denganku.
Ki Butho :
Kami minta perlindungan. Kami akan patuh.
Suman :
Ki sanak, datang dari mana ?
Suhar :
Euu, kami dari...Blambangan.
Ki Butho :
Tanah di sana juga dirampas. Rumah kami dibakar. Kami minta perlindungan Mojokuto.
Suman :
Mojokuto sudah tak ada. Sekarang, setiap jengkal tanah yang aku pijak, dan sejengkal yang akan kurebut kembali, di sanalah Mojokuto.
Suhar :
Ijinkan kami berjuang bersamamu. Namaku Suhar. Dan ini Ki Butho...eu..
Ki Butho :
(Memotong) Aku ayahnya. Aku sudah tua, nak. Nasibku cuma tergantung padamu. Dalam sisa umurku ini, tak banyak yang aku harapkan. Aku hanya ingin mati diantara orang-orang yang sedang berjuang.
Suman :
Ki, aku ini tak pernah sekolah. Tak pandai aku menilai ucapan orang. Tapi kalau niatmu baik, aku terima kalian sebagai teman. (Menunjuk suatu arah) Malam ini, tidurlah di gubuk dekat pohon randu.
Muncul Sinta Salim. Perempuan muda, berkulit putih, bermata lancip. Suhar terpesona. Ki Butho tercengang. Hening beberapa saat.
Suman :
Ki sanak, ini dik Sinta Salim. Selir Mas Ageng, sejak awal ikut kami, masuk hutan melintasi sungai, berjuang bersama, membela Mojokuto.
Sinta Salim:
Cuma ada air dan sedikit ubi. Silakan. Semoga nyenyak tidurnya.
Suhar :
(Sambil menerima air dan ubi, matanya tak berkedip memandang Sinta) Terima kasih.
Ki Butho :
Matur nuwun, cah ayu. Kami permisi. ( Suhar dan Ki Butho menuju gubuknya)


Sinta Salim :
Suman, karena gubukmu dipakai untuk tamu, tidurlah di beranda gubukku. Aku akan tidur lebih malam. Aku buatkan panah baru.
Suman :
Terima kasih, dik. Aku tidur di sini saja.
Sinta Salim :
Baik. Kuambilkan air untukmu. (Sinta Salim menuju gubuknya)
Suman :
(Perintah kepada pasukannya) Pasang perangkap, isi senjata, periksa perbatasan menuju sungai. Kalau ada banyak jejak kaki, lapor padaku. Aku ada di sini.
Pasukan :
Inggih...inggih
Suman :
(Memanggil pembantunya) Kerpo, tidurlah dekat gubukku. Dan pasang telingamu. Sarungmu aku pinjam.
Kerpo :
Baik. (Menyerahkan sarung kumalnya. Pergi sambil bernyanyi) Ing ning tawang ana lintang...... cah ayu....
Suman :
(Meminta Kerpo untuk berhenti) Kerpo....
Kerpo :
(Sambil ngeloyor pergi) Ah,sampeyan iki, ndak pernah ada romantisnya.
Sinta Salim muncul membawa sekendi air. Tersenyum. Sepasang saputangan bersulam terselip di ikat pinggangnya.

Sinta Salim :
Kamu jarang senyum. Memikirkan sesuatu ?
Suman :
Benar, dik. Memikirkan Mas Ageng, Mojokuto dan adik juga.
Sinta Salim :
Mas Ageng pasti selamat dalam pelariannya. Dia pernah sekolah di luar negeri. Pandai membaca mana kawan mana lawan. Mas Ageng dan kamu itu mirip. Alis kalian serupa.
Suman :
Aku buruk rupa, dik.
Sinta Salim :
Tapi hatimu tidak. Kamu berjuang untuk Mojokuto, dan menyelamatkan aku dari komplotan Landless. (Mengeluarkan sapu tangannya) Suman, aku menyulam sepasang sapu tangan. Simpanlah satu di tanganmu.
Sinta Salim :
Kenapa, dik ? Aku...aku tidak bisa romantis.
Sinta Salim :
Jangan ge-er. Ini bukan soal asmara. Berjanjilah untuk menyimpannya. Kelak, jika ada yang mengirimkan salah satu saputangan ini, itu tandanya dia ada dalam kesulitan yang sangat. Maka, sesulit apapun keadaannya, aku pasti akan datang menolongmu, dan sebesar apapun bahayanya, kau akan datang menolongku.
Suman :
Kalau ini bukan soal asmara, lalu ini soal apa, dik Sinta ?
Sinta Salim :
Ini soal tekad untuk tidak menyerah. Untuk saling memperkuat kepercayaan. Untuk saling menambatkan pegangan. Sejak Mas Ageng harus lari, aku hanya seorang perempuan, terlunta tanpa perlindungan, di tengah kecamuk perang. Kulitku putih, mataku sipit. Tanpa Mas Ageng, aku tak bisa lagi berlindung di balik keningratannya. Aku kembali seorang perempuan peranakan. Sama seperti perempuan-perempuan lain di gubuk-gubuk kotor Batavia. Dan komplotan setan putih itu tentu akan menganggap aku tak lebih sebagai daging mainan. Tapi kamu menjaga aku. Menjaga dagingku. Menjaga kehormatanku. Semua ini lebih besar dari asmara. Karena aku tidak jatuh demi tubuhmu, aku tertarik daya hatimu. Simpan sapu tangan ini, Suman. Janji ini akan kuat, untukku dan untukmu.
Suman :
(Menerima sapu tangan) Dik Sinta Salim, bicara adik panjang dan rumit. Suman tidak sekolah. Tidak bisa bergaya bahasa. Agak mumet jadinya. Tapi wajah adik, suara adik, tatapan adik, lebih sampai dari bahasa adik. Suman tangkap semuanya, dan Suman simpan di mata Suman. Suman mau jaga, sampai mata ini terkatup, dan nafas aku berhenti. Aku akan datang menolongmu.
Sinta Salim :
Oh, aku lega sekarang. Besok panah barumu siap. Pamit. (Sinta undur)
Suman :
Terima kasih, dik. (Mata Suman melihat sesuatu yang bergerak di bawah rumput. Dengan sigap seekor ular tertangkap di tangannya. Dengan reflek , Suman hendak menggigitnya)
Sinta Salim :
(Mendehem) Kebiasaan lama...sukar dilupakan ?
Suman :
(Gugup. Gagap)Euu, ... ular ini...cuma kesasar, dik. Aku mau...mau menunjukkan jalan yang benar. (Melepaskan ular) Wis, mlayu....mlayu...
Sinta Salim :
Hati-hati, Suman.

Suman :
Ya, dik. Tentu. Selamat malam.
Suman sendirian. Bersiap tidur. Bingung menyimpan sapu tangan. Awalnya dimasukkan ke balik pakaiannya. Lalu dikempit diantara pahanya. Kemudian ditempelkan di dahinya. Dilipat, disimpan di mulutnya. Akhirnya, dia putuskan untuk ditalikan di leher sebagai kalung. Suman tertidur. Mencoba tidur.
Asap kehijauan mengepul dari sela-sela pohon. Semakin besar dan pekat. Lalu sosok sosok siluet bermunculan dari baliknya. Mula-mula samar, lalu makin tegas. Suman gelisah dalam tidurnya. Raungan satwa bersahutan.

Fragmen II. 3
Malam hari. Hutan Jati, persembunyian pasukan Suman. Kepulan asap hijau kini bercampur dengan bias sinar bulan yang kebiruan. Angin kencang. Dari tabir asap, Suhar dan Ki Butho nampak berayun-ayun di gantungan akar pohon, mirip sepasang pemain trapeze yang sedang berakrobat. Sebagian wajah keduanya ditutupi kedok. Pakaiannya berkamuflase ranting dan dedaunan. Keduanya nampak sedang merencanakan sesuatu. Suara keduanya terdengar bergema.
Suhar :
Aku mau perempuan itu.
Ki Butho :
Kamu akan dapat.
Suhar :
Pisahkan dia.
Ki Butho :
Hahaa.... itu mudah.
Suhar :
Sandingkan aku !.
Ki Butho :
Hoho...Belum saatnya. Ojo kesusu...ojo kesusu
Suhar :
Harus kumiliki! Harus kumiliki!
Ki Butho :
Keras kepala! Endhasmu watu!
Suhar :
Apa yang ingin kumiliki, harus kumiliki.
Ki Butho :
Hanya bisa kamu miliki lewat tanganku.
Suhar :
Perempuan itu takdirku
Ki Butho :
Perempuan ini istimewa. Pamornya lebih bercahaya dari cahayamu. Perempuan ini akan memberi jalan untuk mengubah derajatmu. Alam sedang membuka gerbang. Kita akan membawanya sebagai umpan ke Mojokuto, demi kekayaan....
Suhar :
Demi kekuasaan...
Ki Butho :
Demi Jawa!
Suhar :
Maka jadilah! Nyatalah!
Ki Butho :
(Mengucapkan mantra)Legine madu legine urip. Abange geni ngobong ati. Ati wadhon kesirep madu. Ababe metu jabange turu...turu...turu!! (Suara mantra itu terus bergema laiknya alun yang saling melapis, bertebar di pohon-pohon, memenuhi udara. Malam bersihir)
Kini, diantara ayunan Suhar dan Ki Butho, menyembul ayunan lain. Sosok tubuh perempuan tertelungkup lemah, seperti tertidur. Di tangannya tergenggam beberapa anak panah yang patah tangkainya. Anak panah yang patah itu berjatuhan ke tanah.
Derap pasukan berkuda menembus kabut. Suara letusan senjata menerobos dari sela pepohonan. Tubuh perempuan yang berayun, lenyap disaput kabut. Sosok Suhar dan Ki Butho juga lenyap. Di sambung gema gelak tawa bersambungan. Suman terlonjak, terbangun dari tidurnya. Kokok ayam menyambut pagi.
Pasukan Suman menghambur melingkari Suman. Salah seorang melaporkan.
Linggar :
Kerpo tak nampak. Gubukmu kosong. Tamu yang menginap menghilang. Pasti melarikan diri.
Dari arah lain, muncul seorang lain melaporkan.
Suto :
Suman...gubuk Nyi Mas kosong. Pintu terkunci, tapi jendelanya terbuka. Tak mungkin Nyi Mas bersekongkol melarikan diri.
Linggar :
Dan Kerpo bukan pengkhianat! Apa jawabmu, Suman ?
Suman :
(Mengambil anak patah yang patah) Aku kira aku bermimpi. Ternyata semua nyata. Musuh menyelinap dan menikam. Tapi kemana larinya, sudah kubaca. Berjagalah terus! Hancurkan semua gubuk! Samarkan semua jejak. Pagi ini kita lintasi sungai.
Linggar :
Kita kemana ?
Suman :
Kita tembus Solo. Lalu masuk Mojokuto! Sinta Salim kita selamatkan. Apapun taruhannya!
Pasukan :
Inggih...Inggih...
Kicau burung. Matahari pagi mengusapkan kehangatan. Pasukan Suman meninggalkan hutan. Pukulan simbal yang bertenaga. Lalu berganti dengan suara piano mengiringi sebuah aria dalam vokal seorang soprano.

Fragmen II. 4
Hari yang lain. Malam hari. Bekas pendopo Mojokuto, yang telah berubah menjadi gedung opera. Acara peresmian gedung sedang berlangsung. Lampion warna merah, putih dan biru meramaikan suasana. Landless dan pasukannya dalam balutan tuxedo hitam, berbaur bersama anggota societet di serambi gedung, menikmati nomor pertunjukan. Seorang soprano hampir menyelesaikan aria yang dibawakannya. Lalu tepuk tangan yang meriah dan panjang menyudahinya. Landless tampil ke mimbar.

Landless :
Malam ini, kita bikin Jawa bersuka ! Mojokuto tinggal sejarah. Sekarang, Opera Minerva adalah mercusuar baru kekuasaan di Jawa. Kitalah lokomotif peradaban. En apa yang kita bangun, akan jadi kaki untuk semua kebudayaan. Jaya Olanda !
Tetamu :
Jayalah Landless!
Landless :
Untuk Ratu, Kemakmuran dan umur panjang. Cheers....
Tetamu :
Cheers.....
Suara terompet peringatan. Hoffmann masuk tergesa, langsung menghampiri Landless. Membisikkan hal yang penting. Landless memerintahkan sesuatu pada Hoffmann dengan isyarat.
Hoffmann :
(Kepada para tamu) Meneer Landless mempersilakan anda menyantap makan malam di ruang bundar. Nikmati ! (Para tamu menuju ruangan lain)
Landless : (Kepada Hoffmann) Tunjukkan!
Hoffmann : (Kepada serdadu yang berjaga) Bawa mereka mendekat!
Ki Butho masuk. Di belakangnya, Suhar menggendong tubuh Sinta Salim di bahunya.
Landless :
Well, Butho. Aku harap ini penting.
Ki Butho :
Lebih dari penting, meneer. Ini berharga. (Kepada Suhar) Dudukkan di kursi. (Sinta Salim masih terbius)
Landless :
(Memperhatikan roman Sinta Salim. Mengangkat bahunya) Well, cuma seorang Tionghwa.
Ki Butho :
Dia selirnya mas Ageng, meneer. Bersembunyi di pedalaman Mojokuto. Untuk mendapatkannya, Ki Butho dan Suhar sudah bertempur dengan gerombolan pribumi yang melindunginya. Dia masih terbius ramuanku.



Landless :
Selir mas Ageng! Hmmm.....(Berpikir sejenak. Tersenyum) Bravo! Hoffmann, ambil fotonya. Sebarkan di seluruh Batavia. Si Ageng pasti muncul, seperti tikus butuh makan.
Hoffmann :
Brilian!
Landless :
Butho, kapan dia akan pulih ?
Ki Butho :
Sebelum tengah malam. Beri air jeruk nipis dan sedikit garam.
Landless :
(Pada Hoffmann) Bawa dia. Beri kamar dan pelayan. Tempatkan penjaga di depan pintu.
Hoffmann :
(Pada penjaga rumah) Minke, rawat tamu ini. Pulihkan dia. (Sinta Salim dibawa pergi oleh dua pelayan wanita, dikawal Minke)
Landless :
Well...Butho, kamu pandai bekerja sama. Uang lagi ?!
Ki Butho :
Ah, meneer, kalau uang, kami sudah cukup. Ijinkan kami berbakti pada tuan.
Landless :
Berbakti, he ?
Ki Butho :
(Kepada Suhar) Bicaralah!

Suhar :
Tuan Landless, kami ingin daripada kemajuan. Kami ingin para petani bertanam padi yang baik. Kami ingin para petani bisa menjual daripada hasil panen ke semua pelosok. Untuk itu, kami ingin belajar daripada ilmu Olanda yang unggul itu.
Landless :
Well, Suhar. Kerjamu baik menangani lokalisasi Kali Solo. Tapi, mampukah kamu pimpin banyak orang ?
Ki Butho :
Orang-orang sepanjang Kali Solo adalah binaanku, meneer. Mereka petani dan kuli yang tekun. Dilatih sedikit saja, mereka sanggup jadi soldadu. Dan Suhar, dia kaderku nomor satu. Dia muda, kuat, putera daerah pula. Saya berani jamin, dia pandai memimpin.
Landless :
Well, bagus. Butho, aku akan kasi kamu kerja besar, he.
Ki Butho :
Kami siap mengabdi.
Landless :
Landless akan bikin seluruh Jawa jadi kota. Tidak ada lagi itu kampung, yang becek en tanpa ojek.Transportasi akan lancar. Dan apa rencanaku ? Landless akan bangun jalan, yang panjang dan kuat, dari Bantam di barat sampai Banyuwangi di timur. Dan apa tugasmu ? Butho, kamulah pemimpin proyeknya. Sediakan aku kuli-kuli yang rajin dan patuh. Dan kau boleh hukum mereka yang bikin onar.
Ki Butho :
Rencana yang luar biasa. Saya siap, meneer.
Landless :
Dan untuk kamu, Suhar. Kau kumpulkan seluruh orang-orang muda yang sehat. Mereka akan jadi pasukan pribumi, untuk menjaga kelancaran proyek trans Jawa. En Kolonel Hoffmann akan kasi dia punya ilmu militer untuk kamu semua. Pasukanmu boleh pegang senjata atas ijinku. En kamu bisa tumpas itu kerusuhan-kerusuhan para inlander, atas nama keamanan negara. Aku akan teken surat perintah untuk kamu sebagai komandan divisi Jawa. Sekarang awal bulan Maret. En Hoffmann, kapan surat perintahnya kelar ?
Hoffmann :
Tanggal 11 Maret.
Landless :
Well... Suhar, mulai 11 Maret, kau resmi panglima. Kamu boleh tumpas habis semua gerombolan pengacau keamanan zonder pengadilan. En jalan pos terpanjang harus lahir di Jawa. En akan kuberi nama PosLandless straat. Kerja baik, upahmu baik. Bersumpahlah Suhar. (Landless menjabat tangan Suhar. Suhar bersimpuh di depan Landless)
Suhar :
Demi Landless. Akan kujunjung tugas ini demi kemajuan Jawa. Dan kemuliaan daripada tahta Olanda.
Landless :
Bagus. Sekarang, biarkan aku nikmati daripada makan malamku. (Landless menuju ruangan lain, diikuti Hoffmann)
Ki Butho dan Suhar berjalan ke sudut gedung.
Ki Butho :
Kau lihat, betapa berharganya umpan yang kita pasang ?
Suhar :
Luar biasa.
Ki Butho :
Kau seorang komandan sekarang. Dengan surat perintah langsung dari tahta Olanda. Kau rasakan itu ? Perubahan yang besar ini ?

Suhar :
Luar biasa. Alam memberiku takdir yang luar biasa.
Ki Butho :
Dan kita harus kembali ke Bengawan Solo segera.
Suhar :
Benar.
Ki Butho :
( Diucapkan dengan penuh makna, campuran antara magi dan ancaman) Satu kepala baru untuk setiap kali alam mengangkatmu ke derajat lebih tinggi ! Siapa korbannya ?
Suhar :
(Berpikir, menimbang, mantap) Sarwo!
Ki Butho :
Sarwo.... Sarwo mana?
Suhar :
Juru tulis lokalisasi.
Ki Butho :
Dia tangan kananmu! Pilihan yang aneh. Kita berangkat.
Ki Butho dan Suhar berjalan tergesa ke timur. Dari sebuah sisi gedung yang agak gelap, muncul mengendap-endap Kerpo, yang mengamati seluruh kejadian.
Kerpo :
Sudah kudengar semua pembicaraan. Nyi Mas ditawan di gedung ini. Dia kembali ke rumahnya, tapi bukan lagi rumahnya. Aku harus cari cara untuk ketemu Nyi Mas. Kerpo pasti bisa!
(Kerpo menyingkir dari areal gedung, dan dia menyamar sebagai tukang pemijat buta. Sambil berjalan Kerpo membunyikan kaleng peraga profesinya, sambil menawarkan jasa pijatnya dalam lengking yang khas)
Dari ruangan lain masih terdengar musik yang meriah dan tepuk tangan para tamu. Sesaat terdengar terompet tanda pergantian tugas jaga. Lampion-lampion perlahan meredup. Dan gedung menggelap.

Fragmen II. 5
Hari yang lain. Siang hari. Markas Suhar. Suhar mengisap cerutu, berkacamata hitam, dan mengenakan seragam militer. Suhar mengempit tongkat komando. Asistennya masuk melaporkan keadaan.
Solih :
Mayat-mayat sudah diangkat dari lubang.Tujuh orang. Korban diiris-iris. Mereka masih hidup waktu dikubur paksa di sumur kering. Orang-orang terbaik yang kita punya.
Suhar :
Ya..ya. Itu kerjaan BTI. Pengacau! Mereka komplotan si Suman juga. Makamkan semuanya dengan baik. Kasih gelar sebagai pahlawan revolusi. Biar rakyat seneng.
Solih :
Harus kita tangkap gembongnya.
Suhar :
Pasti. Aidil dan Untung. Kejar mereka sampai Madiun.
Solih :
Tangkap hidup atau mati ?
Suhar :
(Tenang. Tersenyum) Tembak saja. Paling adil buat gerombolan.
Terdengar suara pasukan berkuda. Suhar mematikan cerutunya. Membuka kacamata hitamnya. Landless dan Hoffmann masuk. Di belakangnya, dua serdadu menyeret seorang tahanan bercambang.
Suhar :
Tuan Landless. Tanpa kabar tuan datang.
Landless :
Well, darurat. Suhar, ini antek gerombolan. Pasukan Olanda menangkapnya di sekitar Malang. Orang ini pandai bikin bom. En dia orang sudah bikir hancur benteng selatan markas Olanda. Kenapa orang begini bisa masuk Mojokuto, dan bikin gempar! Mestinya dia orang bisa kamu cegah, he! Dia orang tak mau bicara.
Suhar :
Serahkan pada kami, tuan. Laporannya akan saya kirim.
Landless :
(Tertawa) Ne, Suhar. Terlalu banyak laporan di atas meja. Landless mau sedikit hiburan. Tembak kepala orang ini di depanku. (Landless melepaskan pengaman senjata pistolnya. Lalu senjata itu diserahkan ke tangan Suhar)
Tahanan :
(Berusaha berontak, dan bicara dengan cepat) Kafir!! Kalian semua orang kafir!! Ingatlah siksa Tuhan untukmu, hei kafir! Neraka panas dan pedih!! Tanah-tanah kami kalian rebut. Penduduk Jawa kalian ajari mabuk dan berzina! Perempuan-perempuannya, kalian jadikan sundal! Dan lelakinya yang bodoh kalian suap jadi serdadu boneka! Jatuhlah azab Tuhan untuk kalian! Di lahar paling panas, daging-daging kalian yang haram, akan dipanggang! Selamanya!!!
Suhar :
(Menarik pelatuk pistol. Pistol meletus. Tahanan rubuh dengan kepala hancur. Sepi sesaat. Suhar membersihkan ujung pistol dengan sapu tangannya, lalu diserahkan pistol itu kepada Daendels. Tanpa bicara)

Landless :
(Bertepuk tangan) Bravo!...Bravo! Pertunjukan bagus. Timing yang tepat. Suhar, pandai kamu membuat drama. Well, amankan terus trans Jawa, Suhar. Dan kalau semua lancar, kamu tidak hanya berwenang di Jawa. Kamu juga akan berwenang atas Sumatera, Celebes dan Papua.
Suhar :
Saya akan jaga daripada kesetiaan saya.
Landless :
(Tertawa. Melepaskan satu tembakan ke udara) Janjiku janji mesiu. Siapa bikin khianat, meledaklah kepalanya ! En, Hoffmann, cukup hiburanku hari ini. Aku harus latihan menari serimpi. (Kepada Suhar)Kalian punya seni memang tinggi!
Suhar :
Selamat bersenang-senang, tuan. (Memberi hormat pada Landless)
Landless, Hoffmann dan pasukannya meninggalkan ruangan. Terdengar derap suara kaki kuda, menjauh.
Solih :
Harus kuapakan mayat ini ?
Suhar :
(Serius) Solih, aku minta kau membawanya ke Kali Solo. Sembunyikan dalam gerobak sayuran dan palawija. Temui Ki Butho. Dari sana, Ki Butho akan menanganinya. Dan kamu Solih, pantang untuk kamu bertanya. (Suhar mengenakan kembali kacamata hitamnya)
Solih :
(Mengangguk. Memanggil rekannya) Amir, Yusuf....
Amir dan Yusuf muncul . Keduanya berseragam khaki, celana pendek.


Solih :
Angkat ini ke gerobak. Bungkus dengan tikar. Di atasnya timbun sayuran dan palawija. Kita ke Solo, sekarang!
Amir dan Yusuf mengangkat jasad tahanan ke luar ruangan, diikuti Solih. Suhar menyalakan cerutu.
Suhar :
(Bicara pada dirinya) Satu kepala baru, setiap kali alam mengangkatmu ke derajat lebih tinggi. Kepalanya sedang kukirim, Ki...(Menghembuskan asap cerutunya dengan nikmat) Sumatera, Celebes, Papua. Akhirnya, kakiku akan menjejak di nusantara. (Ruangan perlahan menggelap)

Fragmen II. 6
Malam hari. Di serambi gedung Opera Minerva. Nampak beberapa kostum tari dan props lainnya, bergeletakan di lantai. Latihan menari nampaknya baru saja usai. Sinta Salim tampak sedang membereskan kostum-kostum itu. Dua serdadu Olanda sedang menghabiskan minuman. Tidak terlalu acuh mengawasi Sinta Salim.
Sinta Salim mengawasi sekitar. Menatap ke arah pintu pagar yang terbuka.Dia melihat kesempatan untuk melarikan diri. Dengan berjingkat, Sinta Salim mendekati pagar. Tapi kakinya terantuk batu, dan terjatuh dia. Mengaduh kesakitan. Serdadu siaga untuk menembak, dan mengurung Sinta Salim. Landless muncul mengenakan pakaian dalam. Sinta Salim terduduk tak berdaya.
Kerpo, yang menyamar sebagai tukang pijat, muncul di luar pagar, sambil menjajakan jasanya.
Serdadu 1:
Nyai mau melintas pagar, meneer.
Serdadu 2 :
Kelihatannya, mau kabur, meneer.

Landless :
(Pada Sinta Salim) Berdiri!
Sinta Salim :
(Berusaha berdiri. Mengaduh) Tak bisa. Kakiku sakit.
Serdadu 2 :
Kelihatannya, terkilir, meneer.
Kerpo :
Jaat......Pijaaat...... Punggung sakit....kaki pegal....salah otot...jat.....pijaaat....
Landless :
(Melihat Kerpo. Perintah kepada serdadu 1) Panggil !
Serdadu 1 :
(Kepada Kerpo) Hei, pijat. Kemari. Dekat. Meneer besar panggil kamu.
Landless :
(Kepada Kerpo) Kamu pandai pijat ?
Kerpo :
Tentu, tuan. Pijat, urut, membetulkan otot, itu pekerjaanku.
Landless :
(Melemparkan koin pada Kerpo) Bagus! Urut kaki nyai! (Kepada Sinta Salim) Nyai segera masuk kamar, selesai urut. (Kepada serdadu) En kamu orang, awasi pagar luar! (Landless menuju kamarnya)
Serdadu 1,2 :
Siap, meneer. (Keduanya menuju garis luar pagar, berjaga, membelakangi Sinta Salim dan Kerpo)
Kerpo :
(Membuka tutup kepalanya. Berbisik ) Nyai....
Sinta Salim :
(Terkejut dan senang, dengan suara tertahan) Kerpo....
Kerpo :
(Memberi isyarat, menempelkan telunjuk ke bibirnya, lalu mulai mengurut kaki Sinta Salim. Dalam suara rendah) Saya akan bantu Nyai...
Sinta Salim :
(Mengangguk, mengerti, lalu mengeluarkan saputangan bersulam dari balik ikatan kainnya,memberikan saputangan itu kepada Kerpo. berbisik) Suman.....Suman....
Kerpo :
(Hati hati menyimpan saputangan ke balik pakaiannya. Dalam suara rendah) Bertahanlah...Nyai ( Cahaya perlahan menggelap)

Fragmen II. 7
Hari yang lain. Pagi hari. Markas persembunyian pasukan Suman. Pasukannya bertambah banyak. Sebagian pasukan nampak sedang berlatih simulasi perang fisik, dipimpin Linggar. Di tanah yang lebih tinggi, nampak Suman berada di tengah lingkaran dikelilingi pasukan lain, sedang menorehkan sesuatu di atas tanah, menggambar peta dengan tangkai pohon, menyiapkan sebuah rencana.
Suto, masih berada di depan unggun yang masih berasap, membaca buku tanpa jilid. Beberapa saat , kegiatan berlatih usai, dan pasukan bubar untuk mandi ke sungai. Suman mendekati Suto.
Suman :
Suto, sejak malam kamu terus membaca. Mandilah!
Suto :
Kisahnya menarik.

Suman :
Kisah apa ?
Suto :
Kukira , ini tentang kesetiaan dan pengabdian. Mau baca ?
Suman :
Ndak...ndak. Sekolahku rendah. Ringkasnya bagaimana ?
Suto :
Begini. Ada raja raksasa, rakus dan jumawa. Dia menculik isteri seorang raja. Ditawan di istananya. Wanita itu berhasil diselamatkan oleh pasukan kera. Pasukan kera berjuang gagah perkasa, tanpa imbal jasa. Kembalilah si wanita pada suaminya. Wanita itu bernama Sinta.
Suman :
Sinta ?
Suto :
Namanya seperti Nyi mas. Nyai hilang diculik orang juga.
Suman :
Kita akan selamatkan dia, Suto! Nyai akan selamat! (Mengeluarkan saputangan dari kantung kain kecil di pinggangnya. Menarik nafas panjang) Kitalah pasukan kera itu. Kita akan kembalikan Nyai pada suaminya.
Dari suatu arah, sebuah benda dilemparkan. Tepat jatuh diantara Suman dan Suto. Suman menghunus goloknya. Suto mengambil benda yang dilemparkan.
Suman :
Linggar ! Linggar! Kamu di sana ?!
Suto :
(Membuka bungkusan yang dibungkus daun jati kering. Segulung tembakau rajang. Membaui, mengenali)
Ini tembakaunya. Kerpo....Kerpo....
Kerpo muncul dari balik pohon.
Kerpo :
Aku kembali. ( Suto memeluk Kerpo. Kerpo memeluk Suman) Maafkan aku. Aku salah. Aku tidak ijin tinggalkan pasukan.
Suman :
Sing penting awakmu slamet. Kemana kamu ?
Kerpo :
Aku mengikuti orang yang menculik Nyai. Aku tahu dimana Nyai ditawan.
Suman :
Dik Sinta masih hidup ?
Kerpo :
Nyai sehat. Nyai di Mojokuto, kembali ke rumahnya. Tapi bukan rumahnya lagi. Si Landless mengurung Nyai. (Mengeluarkan saputangan bersulam) Dia titip ini untuk kamu, Suman.
Suman :
(Menerima saputangan. Disatukan dengan saputangan serupa yang dipegangnya) Aku paham. Aku paham. Gusti, paringono slamet.
Linggar dan pasukan lainnya muncul. Linggar memeluk Kerpo, begitu juga anggota yang lain. Suto membagikan tembakau ke seluruh pasukan.
Suman :
Linggar, siapkan terus pasukan dan perbekalan. Kita segera berangkat. Mencari jalan masuk kota!
Linggar :
Seperti rencana ?

Suman :
(Berpikir sejenak. Mengambil buku yang dibaca Suto. Menimbang) Ya ! Kita akan masuk Mojokuto. Membebaskan Nyai. Meneguhkan kesetiaan kita untuk Jawa. Tapi aku minta semua senjata disamarkan. Kita akan bermain. (Suman mengoleskan bubuk putih ke wajahnya)
Linggar :
Pasukan kusiapkan! (Kepada pasukan) Dulur, rapet barise. Siap!
Suman :
Suto, aku dengar kamu pandai menari ?
Suto :
Sebelum Mojokuto dirampas, aku pemain wayang orang di pendopo. Dan si Kerpo ini, ahli dia main gendang.
Kerpo :
Kalau kami berdua tampil, penonton semaput karena kagum.
Suman :
Apik. Iki jalan apik. Kita akan bermain. Kita akan bebaskan Nyai, dengan seni. Kita akan bebarang. Itu satu-satunya jalan aman menembus Mojokuto.
Suto dan Kerpo bergabung bersama pasukan. Pasukan kembali mengolah raga, tapi kini gerakannya berangsur berganti menjadi gerak tari. Di bawah arahan Suto dan Kerpo, gerakannya menjadi semakin lincah, cekatan dan berisi. Suman ikut bergabung menari. Suara gamelan terdengar mengiringi. Hutan menjadi riang.





BABAK III
Fragmen III. 1
Hari yang lain. Malam hari. Pertunjukan sedang berlangsung di gedung Opera Minerva. Nampak belasan perempuan berambut blonda mengenakan kostum serimpi, dan secara rampak mereka menari gaya bedhaya. Gerakannya kaku dan tidak alus, tapi cukup bersungguh-sungguh. Orkestra terdiri dari dua formasi. Penabuh gamelan, dalam kostum pribumi. Di sisi lain, pemain orchestra dalam seragam formal Eropa. Musik merupakan harmonisasi antara perkusi Timur dan Barat.
Lalu muncul Landless dalam kostum raja Rahwana. Gerakannya kuat, bertenaga, namun liar dan sekenanya. Landless nampak mabuk. Rahwana itu membuat gerakan merampas para putri. Putri-putri blonda itu mengelak, dikejar dengan jenaka, lalu akhirnya menyerah di pangkuan Rahwana dengan manja. Penonton bertepuk tangan dengan riuh, dan saling mendentingkan gelas gelas minumannya.
Di sebuah kursi, yang dijaga dua orang pengawal, Sinta Salim duduk dalam balutan kain putih. Sedih romannya.Hoffmann muncul, dalam pakaian priyayi Jawa, lalu mengumumkan.
Hoffmann :
Malam ini, Opera Minerva makin bercahaya. Barat dan Timur telah disatukan. Kebudayaan telah diperbarui, dan peradaban baru sedang kita nyalakan. Tuan Besar Landless telah menunjukkan kemampuannya yang luar biasa dalam menyerap tradisi Jawa. Dan lihatlah bagaimana gadis-gadis Olanda merebut hati sang raja, dalam gerak gemulai penuh eksotika. Tapi itu belum semua. Belum semua! Tugas kebudayaan kita masih panjang. Kita harus mendidik mereka yang masih biadab dan bersahaja. Supaya mereka ikut jadi bagian keunggulan Olanda raya. Dan kini lihatlah dunia timur yang magis dan puitis. Ciri kebudayaan yang masih kembang kempis. Kami persembahkan untuk anda : Kera Kera belajar membaca.
Muncul puluhan penari pribumi berkostum kera. Gerakannya lincah, atraktif, lucu. Setiap kera membawa sebuah pinsil besar , mereka berebut dan saling sikut. Para putri Olanda bertindak sebagai guru yang mengajari membaca. Sedang raja Rahwana akan memecut setiap kera yang salah mengeja kata. Pada adegan ini, seluruh penonton tergelak, menyaksikan kera yang disiksa.
Kera-kera berkelojot, meminta ampun di kaki Rahwana. Pada saat itu, gending sontak berubah menjadi gending perang. Dan sosok kera putih yang perkasa mencelat dari ketinggian. Penonton terkesiap melihat spektakel yang tidak terduga. Kera putih segera memimpin kera lainnya. Dan dalam sebuah komando yang sigap, pinsil pinsil besar dikelupas bungkusnya, dan kini setiap kera bersenjata sangkur panjang yang tajam berkilat. Penonton menahan nafas. Musik berhenti. Landless terengah.
Kera putih memimpin menuju kursi Rahwana. Dan dengan gerakan tusukan yang indah, sangkurnya menembus jantung Landless. Landless meregang nyawa. Penonton gempar, berhamburan mencari selamat. Tapi pasukan kera segera menumpas mereka dengan sangkurnya. Seluruh pasukan Olanda putus nyawanya. Opera Minerva amis baunya.
Kera putih membuka kedoknya. Demikian juga kera-kera lainnya. Mereka adalah Suman dan pasukan yang menyamar.
Sinta Salim :
Suman....terima kasih.
Suman :
Nyai, kuteguhkan janjiku! Sekarang Nyai bebas, dan tanah Mojokuto pecah rantainya.
Pasukan :
Akuuur!! Akuuur!! Rahwana tiwas, kita bebas!
Suman :
(Pada pasukannya) Dulur, malam ini akan kita kenang sebagai malam untuk kesetiaan nyali dan keberanian seni. Dulur, lepaskan samaran. Pergilah menyebar, sampai kita bertemu di Alas Puputan. Dik Sinta, kita temukan jalan pulang! Mari!
Suman, Sinta Salim dan seluruh pasukannya mundur dari areal pertempuran. Langit memerah. Suara gagak melintas di langit. Lampion lampion serentak mati.
Fragmen III. 2
Hari yang lain. Siang hari. Markas Suhar dan pasukannya. Suhar mondar mandir di ruangannya. Ki Butho nampak sedang memberinya sejumlah pertimbangan. Dia jengkel dan marah.
Ki Butho :
Bencana! Bencana! Kita terjepit, Suhar. Dijepit dua musuh. Dan keduanya seperti membuang berak di muka kita. Ratu Olanda murka karena kematian Landless. Proyek trans Jawa ludas, dan kita terlilit getahnya. Seluruh hutang bank si bule Landless diwariskan pada kita. Mau bayar dengan apa, kita ? Bencana! Ini bencana! Dan si Suman, makin bercokol di Alas Puputan. Bayangannya terus mengancam pasukan kita dari setiap sisi hutan. Seperti kelelawar lapar dia menyergap. Dan setiap malam menjadi upacara kematian. Bencana!
Suhar :
(Berubah tenang) Ki, pasukanku masih kuat. Dan aku sanggup membakar habis Alas Puputan. Suman bisa kutaklukkan! Ratu Olanda akan kasih kepercayaan daripada kita lagi. Jangan kuatir soal hutang bank. Aku pemegang saham mayoritas. Direksinya bisa kuganti setiap saat. Kalau uang segar masih kurang, pulau-pulau terpencil bisa kita jual. Banyak bule gendheng mau punya daripada surga di hutan tanpa penghuni. Sumatera, Celebes dan Papua, bisa kuamankan. Semuanya sudah jadi zona militerisasi. Kita dapat dukungan senjata dari negeri Amenglika. Intel-intelnya tersebar di seluruh jawatan. Semuanya akan aman dan terkendali. Cuma tinggal satu permintaanku. Ki, jadikan Suhar penguasa nusantara.
Ki Butho :
Bengawan Solo belum memberiku tanda.
Suhar :
(Terkekeh) Ki, itu cara daripada berpikir lama. Kita harus pakai cara hitung yang lebih realistis. Aku bisa kuasai ini nusantara, kalau Sinta Salim bisa kumiliki. Aku sudah telusuri daripada silsilah keluarganya. Sinta Salim itu keluarga dari super-taipan. Keluarganya kuasai hampir delapan puluh prosen jaringan bisnis Asia. Bayangken, Ki. Kalau Sinta Salim di tanganku, kita bahkan bisa bangun Bengawan Solo menjadi kali bertingkat. Pasar modern di tingkat atas, makam pahlawan di bawahnya. Atau seluruh Mojokuto bisa kita ubah jadi Kramat tunggaknya Asia. Itu cepat sekali menaikkan devisa daripada negara. Atau Batavia kita penuhi dengan kuli-kuli peranakan, untuk bangun tiruan great wall atau taman mini nusantara, dengan upah paksa.
Ki Butho :
(Terkekeh) Kamu ini kejem, tapi lucu, Suhar.
Suhar :
Aku belajar dari perubahanku selama ini. Yang masuk akal itu cuma satu prosen dari seratus prosen kemungkinan. Kekuasaan itu memang lucu. Tapi waktu kita menjalanken yang tidak mungkin, ndak boleh kita tersenyum.
Ki Butho :
(Mendekap bahu Suhar dari belakang. Serius. Kejam) Rebut kembali Sinta. Bumi hanguskan Alas Puputan. Telanjangi Suman. Dia akan mati dengan sengsara. Setiap pelacur di Mojokuto akan merajamnya. Seluruh tetelan daging dan jeroannya akan berceceran sepanjang Bantam hingga Banyuwangi. Itu akan jadi peringatan untuk siapapun yang menentang kekuasaanmu.
Suhar :
Akan kujalankan! Dan sumpahku : Pantang aku tersenyum, sebelum Sinta dan nusantara kupersatukan.
Petir menyambar di siang itu. Langit serentak meredup. Awan hitam bergulung. Suara hujan yang sungguh lebat terdengar dari luar ruangan. Angin yang hebat menghempas-hempas daun pintu. Ki Butho dan Suhar mengenakan kacamata hitamnya. Cahaya perlahan menggelap.

Fragmen III. 3
Alas Puputan. Penaklukan pasukan Suman, dalam sebuah koreografi. Barisan serdadu berseragam lengkap berderap melintas, dalam formasi menyerbu. Dari arah yang berseberangan, bergulingan puluhan tubuh berkomprang , dadanya dalam lilitan jerami berapi. Terdengar letusan letusan besar meriam yang ditembakkan. Cakrawala memerah. Tubuh tubuh dalam lilitan jerami terhempas, dalam formasi ambruk satu persatu, menjadi gundukan tubuh. Suhar muncul dari tengah pasukan berseragam.
Suhar :
(Bicara sambil menginjak gundukan tubuh) Alas Puputan obong! Tumpas sudah semua gerombolan. Kita kembali ke Kali Solo. Rayakan kemenangan!
Pasukan Suhar :
Jayalah Suhar!
Solih :
Suman kita tangkap. Perempuannya juga.
Suhar :
Wanita itu urusanku. Borgol si Suman. Aku mau semua sundal Kali Solo merajamnya.
Solih :
Percayakan padaku.
Muncul seorang berkulit putih, berjas, membawa notes tebal. Di belakangnya militer berkulit putih pula, berbintang tiga. Suhar segera mendekati kedua orang itu. Melalui gerak isyarat, tampak kedua orang itu sedang menjelaskan dan mengintruksikan hal yang penting. Suhar hanya manggut-manggut. Lalu serdadu berkulit putih memberi perintah pada pasukan Suhar.
Jenderal Kulit Putih :
Move....move....
Diiringi mars yang penuh semangat, pasukan Suhar membawa Suman, diborgol kedua kaki dan tangannya, persis seperti dulu orang orang Mojokuto meringkusnya seperti babi hasil buruan. Di belakangnya, duduk di kursi yang digotong serupa tandu, badan dan kaki Sinta terikat lilitan kain hitam, kedua matanya dibebat kain hitam pula. Pasukan berarak meninggalkan Alas Puputan. Tubuh-tubuh bergeletakan. Tercium bau hangus yang tajam.
Beberapa saat setelah pasukan Suhar berlalu, muncul Mbok Tirah, dengan gembolan besar di punggungnya, barang-barang kelontong yang dulu pernah dibakar Suhar. MBok Tirah membaui tanah dan pohon yang terbakar.
Mbok Tirah :
Api lagi. Ini lebih besar. Lebih menular. Suhar, pernah kamu ke sini? Aku mau kembalikan barang-barangmu, nang. Dia minta air, nang. Sirami air. Barangmu panas, nang. Suhar, pernah kamu ke sini? Tapi dimana kamu ?
Mbok Tirah berjalan lagi, menyusur sepanjang tanah Alas Puputan yang terbakar itu.

Fragmen III. 4
Hari yang lain. Malam hari . Kali Solo. Markas Suhar dan sekaligus areal lokalisasi. Di sebuah tiang, di tanah yang agak tinggi, Suman terikat. Sendiri dalam remang. Suman berpakaian kera putih, dengan rias wajah yang belepotan. Di latar depan, tampak wanita dan pria berpasangan, sedang berbincang genit dan cekikikan. Mereka adalah PSK Kali Solo dan pelanggannya. Dari arah lain, tiga empat perempuan dengan dandanan dan rias yang mencolok, dalam balutan kain kebaya ketat, mendekati Suman yang terikat, mencoba menggoda dan mengejeknya.
Perempuan 1 :
Plesir, mas. Cobain kita kita.
Perempuan 2 :
Ho..oh, jangan perang melulu. (Sambil membusungkan dadanya) Nih, di sini ada perang yang lain lho. (Yang lain mengikik)

Perempuan 3 :
Saestu, mas. Kita ini wong cilik. Rejekinya kecil. Mbok sekali-sekali dipake. Kasih persen yang gede. Iyo tho mas?! Cobain kita ya.
Perempuan 4 :
(Mengambil kuluk yang dipakai Suhar,mengelus kepala Suhar yang plontos)Wealah, kepala atasnya besar. Licin. Kepala bawahnya gimana ya?
Perempuan 1 :
(Mengelus buntut kera, yang terlilit di pinggang Suman) Ee, apa jeng ndak lihat. Kepalanya yo pasti melilit dan panjang. Seperti buntutnya! (Yang lain mengikik lagi)
Perempuan 2 :
(Bergerak erotis di hadapan Suman) Ayo dong mas. Daging-daging kita akan mengobarkan semangat perjuangan.
Suman :
(Tenang. Mata tajam) Aku makan daging mentah. Daging seperti dagingmu!
Perempuan 3 :
Opo? Kamu makan orang?
Perempuan 4:
Hi, nggilani. Kethek iki mangan wong! (Memanggil yang lain) Hei, konco, ono kethek mangane wong. (Yang lain nimbrung)
Yang nimbrung 1:
Ojo cedhak-cedhak!
Yang nimbrung 2 :
Orang ini gembongnya gerombolan.

Yang nimbrung 3 :
Timpuk aja! Lempari batu! Boleh kok. Begitu kata orang militer.
Seluruhnya mulai melempari Suman dengan batu. Suman terdiam. Orang orang berlalu.
Suman :
(Menatap mereka yang pergi) Mereka tidak bodoh. Terbiasa dibodohi.

Fragmen III. 5
Tempat yang sama. Hanya sejumlah payung besar ditempatkan di beberapa tempat. Pada dua payung yang ditempatkan pada undakan lebih tinggi, masing-masing ditempatkan sebuah kursi besar dengan ornamen ukiran tradisional. Diantara dua payung itulah, nampak Suman masih terikat.
Dari sisi kiri, muncul Suhar, dalam seragam militer, diikuti oleh Solih, Amir, Yusuf dan belasan pasukannya, yang berseragam pula. Dari sisi kanan, berkain-kebaya hitam longgar, berkerudung hitam, muncul Sinta Salim, diapit oleh beberapa anggota militer wanita juga. Sinta Salim didudukkan di kursi yang berpayung. Mata Sinta Salim lekat menatap Suman. Suman menatapnya juga.
Suhar :
(Kepada Sinta Salim) Saya akan menikahimu. Ini bukan pilihan.
Sinta Salim :
Bebaskan Suman.
Suhar :
(Memandang kepada Solih, Amir,Yusuf. Ketiganya menggeleng) Tidak bisa kupenuhi. Dia akan kembali masuk hutan, memberontak lagi.
Sinta Salim :
Kamu lemah. Pengecut. Aku berhak mendapatkan yang lebih baik.
Suhar :
Ini bukan pilihan, Sinta Salim. Sama sekali tak ada pilihan.
Empat orang serdadu menggotong tandu terbuka. Di atasnya terbujur Ki Butho, menderita dan kesakitan dengan hebat.
Serdadu 1 :
Ki Butho sakit.
Serdadu 2 :
Tiba tiba sekali.
Suhar :
(Mendekati Ki Butho. Memeriksa. Gelisah) Ki, Ki...apa terjadi ?!
Ki Butho :
(Nafasnya tinggal satu-satu. Tangannya yang gemetar mengacungkan kerisnya, Sang Hyang Legi) Harus... sekarang. Bengawan Solo... minta mandi. Satu....kepala lagi, Suhar. Kalau tidak...aku mati!!
Suhar :
Mohon tidak sekarang, Ki. Ini harusnya hari pernikahanku.
Ki Butho :
Suhar! Sudah kulipatgandakan kekayaan dan kekuasaan. Untuk kamu. Dan sekarang kau biarkan aku...mati? (Ki Butho sekarat)
Suhar :
Ki, bilang! Apa yang mesti ?! Nyawa siapa mesti kuambil ?!
Ki Butho :
Si Suman...cuma dia yang pantas. Nyawaku tinggal serenggut lagi. Bengawan Solo minta mandi. Darah Suman! Darah Suman gantinya!
Sinta Salim :
Tipu daya! Jangan bunuh Suman! Aku akan mati bersamanya!
Ki Butho :
(Meregang nyawa)
Solih :
(Memeriksa jantung Ki Butho. Bicara pada Suhar) Jantungnya berhenti! Lakukan sesuatu! Lakukan!
Suhar :
(Kepada Amir dan Yusuf. Sangat gugup. Menunjuk pada Suman) Baringkan ke air! (Amir dan Yusuf menarik tubuh Suman, dibaringkan ke tepi air. Suhar mengambil kapak besar)
Suman :
Gusti...ampuni mereka. Mereka tidak tahu. Gelap hatinya. Ampuni...gusti. Nyai...bela Mojokuto! Tanganku tak sampai!
Sinta Salim :
Suman!! Jangan lemah!! (Serdadu wanita menahan Sinta. Sinta berontak. Meraung) Tidak!!
Solih :
(Menangis) Ki Butho tidak bergerak!! Suhar, lakukan!!!
Suhar :
Hiiaaah.....!!!!(Marah! Geram. Gugup. Suhar menebas leher Suman dengan kapak besarnya, dari tempat yang lebih rendah, sehingga penonton hanya melihat ayunan kapak besar itu dari sisi punggung Suhar. Sinta Salim terkulai. Beberapa detik tanpa gerak, tanpa suara)
Ki Butho masih terkapar. Tiba-tiba dadanya mengembang. Lalu mulutnya terbuka, dan gumpalan-gumpalan hijau sebesar kelereng termuntahkan dari mulutnya. Lalu asap kehijauan seperti mengepul dari seluruh pori-pori tubuhnya. Ki Butho bangkit. Cerah wajahnya. Keris Sang Hyang Legi dimasukkan ke sarungnya. Suhar memburu Ki Butho. Wajah Suhar bertabur percik darah korbannya.

Suhar :
(Berlutut di depan kaki Ki Butho) Hampir saja. Ketiwasan. Maafkan saya, eyang.
Ki Butho :
Kamu sudah belajar, Suhar. Bimbang dan ragu, itu racun kekuasaan. Sekarang, selesaikan pernikahanmu! (Membersihkan wajah Suhar)
Sinta Salim :
(Siuman. Melihat tubuh Suman yang telah jadi mayat. Sikapnya berubah tegas, penuh nyali) Hanya satu syarat untuk perkawinan ini, Suhar. Dan hanya kuminta sekali. Kau menolak, aku mati.
Suhar :
Katakan.
Sinta Salim :
(Membuka kebayanya, tampak seluruh perutnya dilekati lilitan bom) Syaratku satu : Apa yang telah kau hinakan, itulah yang akan kau telan. Maka, kau harus makan daging Suman di depan mataku. Tujuh kerat daging mentah, yang masih berdarah. Dan satu dentum meriam untuk setiap kerat yang kau makan. Itu mas kawin yang kuminta! Kau menolak, segera kutarik pemicu. Dagingku pasti hancur, dan kepahitanmu abadi!
Suhar :
(Menoleh ke arah Ki Butho, minta pertimbangan)
Ki Butho :
(Enteng. Mengangkat kedua bahunya, tersenyum menguji nyali Suhar) Bimbang dan ragu, itu racun kekuasaan.
Suhar :
(Tenang, tersenyum, mantap) Nyatalah! Jadilah! Maka demi alam yang telah memberiku jalan, apa yang kau ucapkan, itulah yang akan jadi kenyataan. (Kepada pasukan) Siapkan meriam! Nyalakan api!
BABAK IV
Fragmen IV. 1
Hari yang lain. Malam hari. Tepi Bengawan Solo. Gamelan dibunyikan. Perempuan-perempuan tua bersimpuh di tanah.Tentara berseragam menjaga seluruh penjuru. Di bagian belakang, perapian besar telah disiapkan. Mayat Suman terbujur di atas meja beralas daun pisang, tepat di depan perapian. Bagian kepala dan pinggang ke bawah tertutup kain hijau tua. Di depan meja itu, sebuah kursi bernuansa emas. Di tengah depan, sepasang kursi pengantin. Di kursi sebelah kiri, Sinta Salim duduk tertunduk, berbusana hitam keemasan. Suhar muncul dalam pakaian raja Jawa, diiringi Ki Butho, berpakaian serba merah tua. Djono, Amir dan Yusuf, berseragam militer lengkap, menjaga di belakang. Girsang, sang penghulu, muncul mendekati perapian, mengumumkan.
Girsang :
Atas nama Negara, saya, Girsang sarjana hukum, selaku saksi resmi pernikahan. Mempelai pria akan mempersembahkan mas kawinnya, disaksikan mempelai wanita. Acara persembahan mas kawin ini dinyatakan tertutup. Para juru potret, juru kamera, pewarta lokal dan utusan luar negeri, akan menerima salinan berita dari sumber resmi. Kepada panitia pernikahan, segeralah dilaksanakan.
Diiringi bunyi gamelan, Sinta Salim diiringkan oleh tiga tentara, menuju meja mayat Suman. Ki Butho menggeser kursi di depan meja, menyilakan Suhar untuk duduk. Suhar duduk. Djono memberikan pisau dan garpu kepada Suhar. Suhar mulai mengerat mas kawinnya. Mantap dan tenang. Penonton hanya menyaksikan punggung Suhar, dan gerakan kedua tangannya, saat melahap. Terdengar dentuman meriam, setiap kali Suhar berhasil mengunyah dan menelan. Wajah Sinta Salim memerah, matanya berair, dan tangisnya tumpah, setiap terdengar dentuman. Setelah dentuman yang ketujuh, Suhar bangkit, tersenyum. Ki Butho memberikan sapu tangan putih. Suhar menyeka tepi bibirnya yang masih dilengketi bercak darah. Sinta Salim ambruk di tepi meja. Djono menutup badan mayat dengan kain putih. Tembang yang lirih terdengar.


Suhar :
Sinta Salim, mas kawin sudah saya penuhi. Ini hari daripada pernikahan yang menjadi takdir kita.
Girsang :
Mempelai wanita wajib menyampaikan kesediaan dan sumpah setia.
Suhar :
(Kepada Sinta Salim) Ucapkan.
Sinta Salim :
Aku akan setia pada tanah ini. Tanah yang tidak melahirkanku, tapi mengikat batinku.
Girsang :
Ucapkan sumpah pada suami, bukan kepada tanah yang mati.
Suhar :
(Kepada Sinta Salim) Ucapkan!
Sinta Salim :
Mulutku akan bicara seperti yang diminta. Tapi ijinkan aku mencuci mulutku yang kotor ini. Aku mau minum dari air Kali Solo, dan membasuh badanku dengan air keramatnya. Maka akan bersih badanku, dan sempurnalah ucap setiaku.
Suhar :
(Berpaling ke arah Ki Butho. Ki Butho mengangguk tanda setuju)
Sinta Salim :
Berikan padaku, perempuan-perempuan Mojokuto ini, menemaniku membersihkan diri. Jauhkan tentara dariku.
Suhar :
(Mengangguk pada Girsang, tanda setuju)
Girsang :
Mempelai wanita akan bersihkan diri, sebelum ucapkan janji. Akad nikah setelah ini!
Diiringi bunyi gamelan, delapan perempuan tua bangkit, mengiringi Sinta Salim menuju tepi Bengawan Solo. Suhar memberi isyarat pada Amir dan Yusuf untuk mengikuti. Amir dan Yusuf berjalan lambat mengikuti rombongan Sinta Salim.
Suhar :
Ki, bagaimana kalau saya ikut mandi ?
Ki Butho :
Ndak sopan! Ojo kesusu. Semua ada saatnya.
Girsang :
(Bicara sendiri) Di tempatku, perempuan tak mandi tak apalah. Yang penting, harus pandai dia meracik tuak.
Dari arah tepi kali, tiba-tiba terdengar jeritan. Perempuan-perempuan tua merangkak sambil menangis mendekati perapian.
Ki Butho :
Ada apa ?!
Perempuan 1 :
Gusti...ketiwasan...ketiwasan.
Perempuan 2 :
Nyai nyilem kali, badannya tak kembali.
Suhar :
Dia tenggelam ?!
Perempuan 3 :
Ndak tahu, den. Ndak tahu kami.
Perempuan 4 :
Tangannya mau kami tarik. Tapi air deras. Yang tinggal cuma selendang.
Ki Butho :
Dia tidak tenggelam. Sinta mau mengorbankan dirinya. Ambil dia, Suhar!
Suhar :
Ki, saya...saya tak bisa berenang.
Ki Butho :
Kampret! Selalu aku yang harus tangani. Minggir! (Kepada Girsang) Hei, temani aku! (Ki Butho dan Girsang berlari menuju tepi kali. Suhar, Djono, Amir dan Yusuf berlari mengikuti)
Suhar :
Djono, kerahkan nelayan dan orang sekitar. Umumkan hadiah besar! Sinta harus kembali!
Djono :
Segera! (Berlari menuju pasukan)
Suhar :
Amir, Yusuf. Tak boleh ada yang tahu berita ini! Kontrol surat kabar!
Amir :
Perempuan-perempuan ini bisa kasih informasi. Kita apakan ?
Suhar :
Hemmh! Mereka pantas jadi tumbal untuk kesialan ini. Habisi!
Amir :
(Perintah kepada perempuan-perempuan tua) Ayo,mbok, ke kali!
Suhar :
(Mendekati mayat Suman) Kamu pasti sudah rencanakan semua ini! Kalian sekongkol! (Suhar membalikkan meja. Mayat Suman terbakar)
Bersamaan dengan itu, terdengar rentetan letusan senapan. Erangan perempuan-perempuan tua, meregang nyawa. Lalu, di latar belakang, tampak letusan dahsyat dari tengah kali. Suhar terperanjat. Djono datang tergopoh.
Djono :
Bom meledak dari tengah kali. Banyak nelayan jadi korban. Penduduk menemukan pakaian Sinta Salim dan serpihan daging.
Suhar :
Ki Butho ??
Djono :
Dia tak kembali.
Suhar :
(Lemah) O, ancur tenan. Ucul kabeh...Ki, saya tak bisa berdiri tanpa kakimu. Alam menutup gerbangnya untukku. Pernikahanku tanpa restu. Alam sedang melawanku. Sekarang saya sendiri. Lemah kakiku. Ah, harus kurebut lagi! Kekuasaan itu semua, atau tidak sama sekali!
Penduduk mengangkat mayat wanita-wanita tua di punggungnya.

Fragmen IV. 2
Hari yang lain. Di sebuah gua, bernama gua Semar, di daerah dataran tinggi. Suhar sedang bersemedi di atas batu. Djono menyalakan dupa. Bersamaan dengan itu, bias cahaya merah dan kepul asap kekuningan menguasai seluruh kawasan gua. Terdengar suara senjata-senjata diletuskan, pertempuran menuju akhirnya, dan dari arah Barat gelora kemenangan terdengar. Amir dan Yusuf berlari tanpa senjata dan seragam berlumpur, bersimpuh di depan Suhar.
Amir :
Serangan gerilya dari Barat. Mojokuto sudah mereka rebut.

Yusuf :
Mereka punya mesiu. Dan tentara-tentara berkuluk putih menyergap pasukan kita dari setiap perbatasan. Seluruh komandan ambil langkah menyerah.
Suhar :
Dimana yang lain ?
Amir :
Lari. Mati. Banyak yang ditawan.
Suhar :
Siapa gerombolan itu ?
Yusuf :
Mereka bergerak dari Batavia. Mereka menyebut-nyebut satu nama.
Suhar :
Siapa ?!
Yusuf :
Ageng Rais.
Suhar :
Si Ageng ?
Amir :
Benar. Bekas pemimpin Mojokuto yang lari. Selama pelarian itu dia menyamar dengan nama Rais. Berdagang perhiasan di Batavia. Menggalang kekuatan dengan pedagang peranakan. Sekarang dia kembali.
Yusuf :
Dengan pasukan sangat besar. Dia didukung logistik dan strategi dari tentara peranakan.
Amir :
Tentara peranakan itu punya rencana sendiri.
Suhar :
Rencana apa ?
Yusuf :
Maaf. Mereka mau bebaskan Sinta Salim dari tangan anda.
Suhar :
Terlambat. Sudah terlambat! Djono, apa yang mesti ?!
Djono :
Serahkan diri. Minta perlindungan, sesuai undang-undang.
Suhar :
(Tenang) Tidak! Tidak akan saya serahkan daripada diri saya, dan kehormatan saya. Sebagai prajurit, saya tidak akan mundur, atau menyerah. Ini tidak sesuai dengan Sapta Marga. Tentara itu mengabdi, sampai mati.
Djono :
Kita kesulitan uang. Harga harga mahal. Orang-orang muda jadi musuhmu, menghinamu. Menurunkan dan membakar gambar-gambarmu. Penduduk miskin menjarah kota. Membunuh siapa saja, yang tidak serupa. Tentara bingung. Amenglika cuci tangan. Zaman sedang berubah. Kita tak punya pilihan.
Tiba-tiba melesat cahaya hijau yang sangat terang, meninggalkan pintu gua.
Suhar :
(Menatap Djono) Djono....
Djono :
(Menatap langit. Memahami) Ya. Itu cahaya wahyu. Pergi ke Barat.
Suhar :
Tapi aku di sini.
Djono :
Dia sudah pergi ke Barat.
Suhar :
Lalu kita ?
Djono :
Kita sudah selesai, Suhar.
Pasukan yang dipimpin Daeng, tiba-tiba masuk menyerbu gua. Moncong-moncong senjata diarahkan pada Suhar dan kelompoknya.
Daeng :
Ageng Rais, pemimpin Mojokuto, menahan anda.
Suhar :
Saya bukan penjahat. Saya penyelamat Jawa. Maka sekarang, saya umumkan : Saya menyatakan berhenti sebagai pembangun Mojokuto. Saya menyatakan berhenti, dan melepaskan seluruh mandat. Dari dulu, saya tak pernah kepingin pekerjaan ini. Saya ini jiwa petani!
Daeng :
(Kepada pasukannya) Bawa mereka!

Fragmen IV. 3
Hari yang lain. Siang hari. Di depan pendopo Mojokuto. Penduduk berkumpul. Sebuah pemakaman sudah dilakukan. Nampak Ageng Rais menancapkan nisan kayu, bertuliskan nama Suman, di atas gundukan tanah merah.


Ageng Rais :
Penduduk Mojokuto, sudah kita kebumikan jasadnya dengan cara yang baik. Hanya sampai di sini kita akan menuntun perjalanannya. Suman, jasadmu bersatu kini dengan tanah yang telah kau bela. Orang ini telah makan apa saja untuk hidup. Tapi hidupnya bukan sekadar untuk makan. Pernah kudengar, dia memakan mayat. Tapi, sekarang kutegaskan, Suman, tak pernah memakan manusia. Dia tak pernah memakan hak orang yang hidup. Hari ini, kita memakamkannya bukan sebagai pahlawan. Kita sedang memakamkan seorang pembela kehidupan. Hidupnya keras, sekeras kematiannya. Semoga tanah Mojokuto menerima kepulanganmu. Istirahatlah, Suman.
Daeng dan pasukannya membawa masuk Suhar. Kedua tangannya diikat tali, dan tali itu diikatkan juga ke pinggangnya.
Daeng :
Kami menangkapnya di gua Semar. Yang paling akhir, setelah semua komandannya menyerah.
Ageng Rais :
Siapa kamu ?
Suhar :
Seluruh negeri kenal saya.
Seluruh penduduk :
Hoooiii....hukum mati! Itu pantas untuk penyamun negeri!
Ageng Rais :
Semua penduduk Mojokuto ingin menghukummu.
Suhar :
Tidak semua! Cuma mereka yang tidak mengerti terima kasih.
Ageng Rais :
(Kepada penduduk yang kumpul) Penduduk Mojokuto, siapakah dia ?
Penduduk 1 :
Banyak keluarga kami dibunuh, karena perintahnya.
Daeng :
Majulah ke depan, kalau kalian berani bersaksi!
Penduduk 2 :
Saya Tjokrodihardjo dari kecamatan Singosari. Anak lelaki saya ditangkap, diikatkan ke jip dan diseret di belakangnya hingga mati.
Penduduk 3 :
Aku bersaksi untuk Umi Kalsum dari desa Lawang. Dia diminta menanggalkan semua pakaian, lalu tali diikatkan ke lehernya, dan perempuan ini dijerat sampai mati.
Penduduk 4 :
Saya melaporkan nasibnya mas Suranto, kepala sekolah di Pare. Istrinya sedang hamil sembilan bulan. Yang laki dipenggal, istri dan bayinya dicincang. Tak ada yang berani menolong kelima anak mereka yang masih kecil-kecil, karena kami diancam.
Penduduk 5 :
Sungai Brantas mampet akibat mayat-mayat. Tubuh tanpa kepala merintangi sungai-sungai di Semarang. Dan kepala-kepala manusia berjejer di atas pagar kayu sepanjang jalan di Solo.
Penduduk 1 :
Ratusan ribu orang mati mengerikan. Itu dari perintahnya.
Ageng Rais :
Dan apa perintahnya ?
Penduduk 1 :
Untuk pembersihan, keamanan dan pembangunan Mojokuto.

Ageng Rais :
(Kepada Suhar) Seluruh Mojokuto memang mengenalmu.
Suhar :
(Tenang)Fitnah. Tuduhan keji. Omongan penuh bumbu. Bohong semua. Saya ini orang beragama. Tak mungkin kasih perintah biadab seperti itu. Orang Mojokuto, tidakkah kalian lihat daripada yang sudah saya bangun untuk kamu ? Jalan dimana-mana, gedung sekolah, rumah ibadah, pertanian yang makmur, minyak murah, dan negeri yang aman. Jutaan orang sudah hidup lebih baik di Mojokuto.
Ageng Rais :
Bisakah kamu bahagia melihat ini semua ?
Suhar :
Saya hanya bahagia melihat sawah yang subur.
Ageng Rais :
Sesudah semua kekuasaan yang kau nikmati ?
Suhar :
Saya hanya ingin jadi petani.
Ageng Rais :
Anda ini ingin jadi petani setelah membinasakan ribuan petani ?
Suhar :
Jer basuki mawa bea.
Ageng Rais :
Kamu memberi hidup, dan meminta mereka menjual kekebasannya padamu. Dan kebebasan itu tak bisa mereka beli kembali, kecuali dengan nyawanya sendiri. Itulah yang sudah kau perbuat kepada penduduk Mojokuto. Suhar, kepada yang hidup kamu bisa bersaksi. Tetapi kepada yang telah mati, kamu harus menggali. Inilah penebusan yang harus kamu jalani : Kau akan menggali lubang, menjadi parit panjang, selebar tubuhmu saat terlentang. Kau akan menggali dari pusar Banyuwangi, terus ke barat sampai Bantam Kulon. Itulah yang akan kau lakukan dengan jiwa petanimu, sampai nafasmu yang terakhir kali. Dari parit yang kau gali, sepanjang jalan pos yang berliku ini, kau akan menggali untuk mengingat sejarahmu kembali. Menentukan akhirmu sendiri! Beri dia perbekalan.
Daeng :
(Memberikan sekop dan pacul baru kepada Suhar) Ini barang inventaris negara. Rawatlah dengan baik. (Kepada pasukannya) Bawalah ke ladangnya. (Dua orang membawa Suhar pergi)
Ageng Rais :
Penduduk Mojokuto, berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian. Setiap pemimpin akan menggali kelemahannya sendiri, saat menukar impian sebagai kenyataan. Memaksakan pernyataan menjadi akhir semua impian. Berjagalah! Telah kuberikan kembali Mojokuto pada kalian. Tapi, tidak semua akan kembali.
Penduduk tabur bunga, lalu mengambil sejumput tanah dari makam Suman, dan berlalu. Ageng Rais menangkupkan sepasang saputangan.

Fragmen IV. 4
Hari yang lain. Malam hari. Sebuah kelokan di pinggir jalan pos. Suhar sedang menggali parit, sudah sedalam pinggangnya. Agak jauh di belakangnya, dua pasukan Ageng Rais mengawasi pekerjaan Suhar. Mbok Tirah, dengan gembolan barang kelontong hangus di punggungnya, menemani Suhar. Jalanan sepi dan gelap, berlatar belakang hutan. Mbok Tirah menerangi parit yang digali Suhar dengan lampu senthir di tangan.
Suhar :
Mbok, kok belum tidur ?
Mbok Tirah :
Kamu juga belum.
Suhar :
Aku masih harus kerja.
Mbok Tirah :
Si mbok juga.
Suhar :
Si mbok kerja apa ?
Mbok Tirah :
Lha, nuthuti kamu, nang. Ngikuti kamu, sudah sampai mana proyek besarmu ini.
Suhar :
Hampir tujuh ratus hari tanah Jawa saya gali. Kira-kira sudah sampai mana ya mbok ?
Mbok Tirah :
Ini baru gunung Wates, nang.
Suhar :
Aku harus sampai Bantam Kulon.
Mbok Tirah :
Sudah dekat. Kira-kira dua bukit lagi, sampai kita di Bantam Kulon.
Suhar :
Saya tidak kenal tanah itu.
Mbok Tirah :
Terus saja ke Barat, nang.
Suhar :
Ada apa di barat sana ?

Mbok Tirah :
Angin. Hutan. Tanah subur. Impian lagi.
Suhar :
Saya letih, mbok.
Mbok Tirah :
Ya sudah, slonjoran dulu.
Suhar :
(Menguap) Sudah deket ke Bantam Kulon ya mbok ?
Mbok Tirah :
He..eh
Suhar :
(Hampir tertidur) Bulan apa kita sampai di barat ?
Mbok Tirah :
Yo, kira-kira...bulan Mei, nang
Suhar :
(Telentang badannya menatap langit) Bulan...Mei...
Mbok Tirah :
He..eh. (Bicara sendiri) May be yes, may be no.
Suhar :
(Setengah tertidur) Mbok, saya mau mati di Kali Solo. Itu tanahku. Dulu, saya ingat betul lagunya. Sekarang…ah, aku tak kuat, mbok.
Terdengar dengkur Suhar. Mbok Tirah tersenyum, lalu meniup lampu senthir-nya. Seluruh jalan meredup dan gelap. Penjaga ikut tertidur. Masih terdengar suara Mbok Tirah menyanyi lirih, dalam gelap.

Mbok Tirah :
Bengawan Solo riwayatmu dulu
Para soldadu slalu terkubur peluru
Mata airmu dari kalbu
Terkurung nafsu seribu
Darah mengalir sampai jauh
Akhirnya melahapmu....

Fragmen IV. 5
Nyanyian Mbok Tirah berangsur berganti dengan suara gamelan. Dan tampaklah kemudian, di sebuah bangsal yang lebar dan bersih, belasan perwira, dengan seragam lengkap, sedang menarikan gaya alusan. Selendang kuning yang mencolok terbelit diantara pinggang para perwira itu, memberi kontras dengan seragamnya yang serba hijau.
Para perwira itu awalnya hanya tampak punggung, dengan gerakan lambat dan terkontrol, menggambarkan sikap alus. Lalu barisan itu terbelah ke sisi kiri dan kanan. Dari celah belahan itu, dengan punggung telanjang, tampak sosok pelatihnya. Tubuhnya penuh dengan tattoo dan parut bekas luka, dengan selendang berwarna merah tua.
Para perwira membalikkan tubuhnya dengan gerakan yang masih halus. Kini tampaklah semua wajahnya, berkerut dalam dan sangat tua. Tapi senyum tersungging dari wajah wajah keriput itu.
Terdengar suara pelatihnya menyampaikan pesan.
Suara pelatih :
Haluskan budi dengan tari. Capai pekerti dengan melodi. Revolusi akan tumbuh dari jiwa yang penuh rasa seni.
Suara gamelan menguat. Dan kini sang pelatih membalikkan punggung, menampakkan wajahnya. Penonton melihat kembali seringai Ki Butho sebelum panggung berangsur menggelap. [ ]TAMAT.

Cannibalogy

S E L E S A I OKTOBER-NOPEMBER 2008 @Hak Cipta pada pengarang. Hak Cipta Dilindungi Undang Undang










BenJon
Komplek Griya Bandung Asri I Blok D no 176/177 Bandung 40288
Telp/Faks : 022 7500692 Mobile : 0818200206
e-mail : benjon@bdg.centrin.net.id



Tidak ada komentar:

Posting Komentar