Jumat, 06 Agustus 2010

BARA -Samuel Beckett

Lakon pendek Samuel Beckett
BARA (Embers)

Laut hampir tak terdengar. Sepatu boot Henry di atas bebatuan/koral. Ia berhenti. Suara laut sedikit mengeras.
Henry: Terus (Laut. Suara lebih keras) terus! (Ia terus bergerak. Selama ia berjalan, sepatu boot di atas bebatuan) Stop! (Sepatu boot di atas bebatuan koral. Selama ia berjalan, laut lebih keras) Stop! (Ia berhenti, laut sedikit lebih keras) Turun! (Laut. Suara lebih keras) Turun! (Duduk merayap pada bebatuan, laut, meredam hening, terdengar saling menyusul ketika menunjukan tanda-tanda diam) siapa disampingku sekarang? (Diam). Tua, buta dan bodoh. (Diam) Ayahku bangun dari kubur, bersamaku. (Diam) Seperti masih hidup. (Diam) Memang, tidak sulit bangun dari kubur,hanya untuk bersamaku. Di tempat asing ini…. (Diam) bisakah mendengarku? (Diam). Hanya bersamaku. (Diam) Suara yang kau dengar itu laut. (Diam. Lebih keras)Kubilang suara yang kamu dengar itu laut, kita sedang duduk di pantai. Aku perlu bilang karena suaranya begitu aneh, tidak seperti suara laut, sehingga kalau kau tidak melihat sendiri, kamu tidak akan tahu apa tadi. (Diam) Kuku-kuku binatang! (Diam, lebih keras) Kuku-kuku binatang! (Suara kuku-kuku binatang berjalan di atas jalanan yang keras. Mereka cepat lenyap dari pendengaran. Diam) Lagi! (Kuku-kuku binatang seperti sebelumnya. Diam, gembira) Latihlah untuk tandai waktu! Ikat di halaman, pasang tapal besi di kaki, biarkan merentak sepanjang hari! Sepuluh ton gajah raksasa bangun dari kubur, pasangkan tapal besi dan biarkan berderap-derap turun ke bumi. (Diam) dengarkan! (Diam). Sekarang dengarkan cahaya, kamu selalu mencintai cahaya, selepas petang hari ketika seluruh pantai dalam bayangan dan laut menjauh dari daratan. (Diam) Kamu tidak akan pernah tinggal di sisi teluk ini, kamu sangat menyukai matahari di atas air untuk berenang malam hari. Bahkan sekali waktu terlalu sering kamu lakukan. (Diam) kamu tahu kami tak pernah menemukan tubuhmu, sehingga tak ada kepastian resmi dapat dipakai sebagai acuan. Mereka bilang tak ada bukti bahwa kamu tidak melarikan diri dari kami, hidup sehat dengan nama palsu di Argentina, misalnya, yang membuat Ibu sangat sedih. (Diam). Aku seperti kamu, tidak bisa jauh dari itu, tapi aku tak pernah nyemplung ke dalam. Tidak, kukira terakhir kali aku denganmu….(Diam) Itu pun hanya mendekat saja. (Diam).
Hari ini tenang, tapi aku sering mendnegar di atas di dalam rumah dan ketika berjalan-jalan di jalanan dan mulai mengoceh, oh cukup keras, tapi tak ada yang memperhatikan. (Diam). Sekarang aku pun ngoceh terus tidak peduli di mana. Sekali waktu aku eprgi ke Swiss, kupikir untuk menjauhkan diri dari setiap kutukan. Tapi selama di sana sepanjang waktu tak pernah berhenti. (Diam) Aku tak perlu orang lain, untuk diriku sendiri, cukup cerita-cerita saja. Ada satu cerita aneh tentang seorang lelaki tua bernama Bolton, tapi aku tak pernah selesai, aku tak pernah menyelesaikan salah satu dari kisahnya, aku tak pernah selesaikan apa pun, setiap hal berlangsung begitu selamanya. (Diam) Bolton. (Diam, lebih keras) Bolton! (Diam) Di sana di depan perapian (Diam) di depan perapian dengan seluruh daun penutup jendela…. Bukan, tirai, tirai, semua tirai tertutup dan cahaya, tak ada cahaya, hanya perapian, duduk di sana dalam…. Tidak, berdiri, berdiri di sana di atas karpet dalam gelap di depan perapian kedua lengan di atas dinding cerobong asap dan kepala di kedua lenganya berdiri di sana menunggu dalam gelap di depan perapian dalam baju kimono usang warna merah dan tak ada suara apapun dalam rumah kecuali suara api. (Diam). Berdiri di sana dalam kimono panjang, bunyi bel di pintu, ia ke jendela dan meilhat ke luar. Diantara tirai, bujang lapuk baik, sangat besar dan kuat, malam terang musim dingin, salju di mana-mana, dingin menggigit, dunia memutih, cabang-cabang pohon cedar sarat beban melengkung-lengkung dan ketika sebuah lengan ke atas, mengebel lagi ia mengenalinya. Holloway. (Lama diam) Ya, Holoway, mengenali Holloway, turun dan membukanya. Tak ada suara apapun dalam rumah, kecuali suara api. (Diam) Berdiri di sana dalam kimono panjang bunyi bel di pintu, ia ke jendela, dan melihat keluar, diantara tirai, bujang lapuk baik, sangat besar dan kuat, malam terang musim dingin, salju di mana-mana, dingin menggigit, dunia memutih, cabang-cabang pohon cedar sarat beban melengkung-lengkung dan ketika sebuah lengan ke atas, mengebel lagi ia mengenalinya. Holloway. (Diam, lama) Ya, Holloway, di luar semua hening, tak ada suara, mungkin hanya suara rantai anjing atau cabang yang mengerang, itu kalau kau berdiri di sana dan cukup lama mendengarkan, dunia memutih, Holloway dengan tas kecil hitam, tanpa suara, sangat dingin, purnama bulan kecil dan putih, jejak-jejak sepatu karet Holloway berliku, diantara sekumpulan bintang di utara, bintang Vega tamapak sangat hijau. (Diam) Vega sangat hijau. (Diam) lalu pembicaraan di atas tangga, bukan, di dalam kamar lalu diikuti pembicaraan di dalam kamar, Holloway: Bolton, sudah lewat tangah malam sekarang, kalau saja kau mau berbaik”—(Tak berlanjut) Bolton: Tolong! TOLONG!” Sunyi mencekam, tak ada suara, hanya perapian, seluruh arang, kini hangus terbakar, Holloway di atas karpet perapian mencoba mengangkat dan menghangatkan pantatnya, Bolton, dimana Bolton, tak ada lampu, hanya perapian, Bolton di jendela, punggung pada tirai, tangan memegang agak merentang , memandang keluar, dunia memutih, bahkan puncak menara, memutih hingga baling-baling, di luar kebiasaan, sunyi dalam rumah, tak ada suara hanya pperapian, tidak menyala, bara. (Diam) Bara (Diam) Bergeser, berpindah, tidak terlihat, suara mencekam, Holloway di atas karpet, bujang lapuk baik, enam kaki, tegap, kaki mengangkang, kedua tangan di belakang punggung memegang ujung jaket using MacFarlane. Bolton di jendela, sosok tua anggun dalam kimono tua warna merah, punggung pada tirai, tangan merentang memperlebar celah, melihat ke luar dunia memutih, persoalan besar, dunia memutih, tak ada suara. (Diam) Dengarkan! (Diam) tutup matamu dan dengarkan, apa menurutmu?(Diam, penuh semangat) Tetesan! Tetesan! (Suara tetesan, menguat dan cepat, tiba-tiba berhenti) Lagi! (Menetes lagi, mulai menguat) Tidak! (tetesan berhenti, diam) Ayah! (Diam, gelisah) Banyak cerita, cerita-cerita, bertahun bercerita, sampai kedinginan datang padaku, pada seseorang, untuk bersama-sama denganku, siapa saja, orang asing, untuk bicara, membayangkan ia mendengarku, tahun-tahun itu, dan kemudian sekarang, seseorang…. Yang mengenal diriku, di masa laluku, siapa saja, untuk bersamaku, membayangkan. (Diam) ia mendengarku, siapa aku sekarang (Diam) sama tidak baik, di sana juga tidak. (Diam) coba lagi (Diam) Dunia memutih, tanpa suara (Diam) Holloway. (Diam) Holloway bilang dia akan pergi, gila kalau ia tetap duduk di depan garangan hitam semalaman, tidak mengerti, memanggil seseorang, kawan lama, dalam dingin dan gelap, seorang kawam lama, kepentingan mendadak, membawa tas, lalu tak sepatah kata, tak ada penjelasan, tak ada penghangat, tak ada lampu, Bolton, “tolong, TOLONG!” Holloway, tak ada minum, tak ada makan, tak ada sambutan, kedinginan hingga tulang sumsum, menangkap kematian, tidak mengerti, perlakuan ganjil, kawan lama, ia katakana akan pamit, tidak bergerak, tidak ada suara, api sekarat, sinar putih dari jendela, suasana tegang, menggumam pada Tuhan tadi tak usah datang, tidak baik, api sekarat, sangat dingin, masalah besar, dunia memutih, tanpa suara, tidak baik (Diam) Tidak baik, tak mampu melakukan (Diam) Dengar! (Diam) Ayah! (Diam) Kamu tidak mengenalku sekarang, kamu akan kecewa aku dulu milikmu, tapi ayah memang sudah demikian sebelumnya. “Pecundang”, itulah kata terakhir kudengar darimu, pecundang. (Diam, menirukan suara ayahnya) “Kamu datang untuk berenang?” “Tidak!” “Ayo, ayolah”. “Tidak” (melotot, terpaku di depan pintu, membalik, melotot) “Pecundang, itulah kamu, pecundang!” (Kasar membanting pintu, diam) Lagi! (membanting, diam) Hidup yang terhempas bunyinya seperti itu! (Diam) Minta pada Tuhan. (Diam) Tak pernah bertemu Ada, atau pernahkah ayah, aku tak bisa mengingatnya, tak soal, tak ada satu pun yang mengenali dia sekarang (Diam) menurutmu apa yang membuat dia berbalik menentangku, anak kukira, kreasi kecil yang mengerikan, berharap pada Tuhan kami tak pernah memilikinya. Aku pernah berjalan-jalan dengannya di tanah lapang, Tuhan sangat mengerikan, dia tak mau melepaskan tanganku dan akus edang gila bicara. “Lari terus sekarang, Addie, dan lihat domba-domba!” (Menirukan suara addie) “Tidak ayah!”. “Pergi sekarang, pergilah!” (Sedih) “Tidak ayah!” (Kasar) “Pergilah kalau disuruh dan lihatlah domba-domba itu!” (addie meraung keras, diam) Ada juga bercakap-cakap dengannya, itu baru sesuatu, seperti itulah neraka, percakapan ringan sampai percakapan tentang indahnya masa silam yang sudah terlupa ketika kita sendiri bahkan berharap sudah mati. (Diam) Harga mentega lima puluh tahun lalu (Diam) Dan…. (Diam. dengan sungguh-sungguh jengkel) Harga mentega sekarang! (Diam) “Ayah!” (Diam) Capek bicara denganmu. (Diam) Selalu dengan cara yang sama, berjalan-jalan denganmu melintasi gunung-gunung, bicara dan bicara dan lalu tiba-tiba ibu dan rumah dalam kesedihan dan membisu pada setiap orang berminggu-minggu, menyebalkan, bangsat, lebih baik stop, lebih baik stop. (Diam lama) Ada (Diam, lebih keras) Ada!
Ada : (Suara rendah, jauh, untuk seterusnya) Ya
Henry : Sudah lama kamu di situ?
Ada : Lumayan (Diam sejenak) kenapa kamu berhenti, jangan hiraukan aku (Diam) Kamu mau aku pergi? (Diam) Di mana Addie? (Jeda)
Henry : Dengan guru musiknya. (Diam) hari ini kamu mau menjawabku?
Ada : Seharusnya kamu tidak duduk di atas batu, dingin, tidak baik untuk wasirmu. Angkat badanmu sampai kuselipkan selendang di bawah pantatmu. (Diam) Lebih baik?
Henry : Luar biasa. Luar biasa. (Diam) Apa kamu mau duduk di sampingku?
Ada : Ya (Tak terdengar ketika duduk) Begini? (Diam) atau kamu pilih begini? (Diam) Kamu tidak peduli. (Diam) Menurutku cukup dingin, mudah-mudahan kamu pakai celanan monyetmu yang putih dan panjang, Henry?
Henry : Yang terjadi adalah demikian, kupakai, lalu kucopot lagi, kupakai lalu kucopot lagi kupakai lagi lalu ku….
Ada : Kamu pakai sekarang?
Henry : Aku tidak tahu. (Diam) Kuku-kuku binatang! (Diam lebih keras) Kuku-kuku binatang (Suara kuku-kuku binatang berjalan di atas jalan yang keras. Mereka cepat menghilang) Lagi! (kuku-kuku kuda seperti sebelumnya. Diam)
Ada : Kamu dengar mereka?
Henry : Samar-samar.
Ada : Berderap-derap?
Henry : Tidak. (Diam). Bisakah kuda menandai waktu? (Diam)
Ada : Apa maksudmu?
Henry : (Jengkel) Bisakah kuda dengan empat kakinya dilatih berdiri diam dan menandai waktu?
Ada : Oh (Diam) Beberapa yang ada di khayalanku bisa. (Dia tertawa. Diam) tertawalah, Henry, tidak setiap hari aku melucu. (Diam) tertawalah, Henry lakukan untukku.
Henry : Kau memintaku tertawa?
Ada : Dulu, tertawamu sangat menawan, yang membuatku pertama kali tertarik padamu dan senyummu (Diam) Ayolah seperti dulu.
(Jeda) (Henry berusaha tertawa, gagal)
Henry : Mungkin harus kumulai dengan tersenyum. (Diam untuk tersenyum) Menarik untukmu? (Diam) Kucoba lagi sekarang (Tertawa panjang yang mengerikan) Ada yang menarik di sana?
Ada : Oh Henry!
(Jeda)
Henry : dengar itu! (Diam) bibir dan kuku. (Diam) Menjauhlah! Tak bisa kamu dapatkan dariku! Padang rumput savanna.
Ada : Tenang Henry.
Henry : Dan aku hidup diatas sekelilingnya! Oh, kenapa? Kewajiban professional? (Tertawa singkat) Alasan kesehatan? (Tertawa singkat) Ikatan keluarga? (tertawa singkat) seorang perempuan? (Tertawa diikuti Ada) Beberapa kenangan lama yang tak bisa kupaksa meninggalkan diriku? (Diam) coba dengar! Seperti apa?
Ada : Seperti suara lama yang biasa kudengar (Diam) Seperti waktu yang berbeda di tempat yang sama (Diam) Dulu keras, busanya datang terbang di atas kita. (Diam) Aneh, seharusnya keras (Diam) Dan tenang sekarang. (Jeda)
Henry : Ayo kita berdiri dan pergi.
Ada : Pergi? Kemana? Dan Addie? Dia akan sedih kalau datang dan mendapati kamu pergi tanpa dia (Diam) Apa maksudmu menjaga dia? (Ketukan cepat dari penggaris berbentuk silinder pada tubuh piano. Tidak stabil, naik turun, Addie memainkan not A Flat Mayor, awalnya kedua tangan bersama-sama, lalu sebaliknya. Diam)
Guru : (Dengan aksen Itali) Santa Sisilia!
Addie : Boleh aku memainkan laguku sekarang?
(Diam. Guru music mengetukan dua baris tempo Waltz dengan penggaris di atas tubuh piano, Addie memainkan pembukaan 2 balok Chopin Waltz ke 5 pada A flat mayor, guru music mengetuk tempo ringan dengan penggaris sementara dia memainkannya. Pada panduan nada pertama pada bass, bar 5, dia mainkan E bukan F, bergema pukulan penggaris pada tubuh piano, Addie berhenti bermain).
Guru : (Galak) Fa!
Addie : (Dengan nada sedih) Apa?
Guru : (Galak) Eff! Eff!
Addie : (Dengan nada sedih) Dimana?
Guru : (Galak) Aduh! (Ia memukul not) Fa!
(Diam. Addie mulai lagi, guru music mengetuk tempo ringan dengan penggaris, ketika dia sampai pada Bar 5 dia membuat kesalahan yang sama. Pukulan dahsyat penggaris di atas tubuh piano. Addie berhenti bermain, mulai meraung)
Guru : (Hingar-bingar) eff! Eff! (Ia memukul not) Eff!
(Pukulan not “Eff” dan raungan Addie memperjelas serangan dahsyat, kemudian tiba-tiba terputus).
(Jeda)
Ada : Hey kamu pendiam hari ini.
Henry : Tidak cukup menyeret dia kedunia, sekarangpun dia harus main piano.
Ada : Dia harus belajar. Dia akan pelajari itu—naik kuda.
(kuku-kuku binatang berjalan)
Guru : Sekarang Non! Siku masuk, non! Tangan ke bawah, non (kuku-kuku kuda berderap-derap) Sekarang non! Punggung tegak! Lutut masuk! (Kuku-kuku kuda lari meligas) Sekarang. Perut masuk non! Angkat dadu non! (kuku kuda menderap) Sekarang non! Mata lurus, non! (Addie mulai meraung) sekarang non! Sekarang non!.
Ada : Apa yang sedang kamu pikirkan? (Diam)
Aku tak pernah belajar, sampai kemudian terlambat. Seluruh hidupku aku menyesal.
Henry : Apa alasanmu waktu itu, aku lupa.
Ada : Oh….Geometri. sesuatu yang pasti kukira, kongkret dan solid (Diam) Pertama kongkret, lalu solid (Membatu ketika berdiri) kenapa kamu sendiri?
Henry : Kupikir aku akan coba mencapai sejauh tepian air (Diam menghela napas) Dan kembali (Diam) meregangkan tulang-tulangku yang sudah tua.
(Jeda)
Ada : Ya. Kenapa tidak? (Diam) jangan berdiri di sana dan hanya memikirkan saja. (Diam) jangan berdiri melotot di sana (Diam. Dia melangkah menuju laut. Sepatu boot di atas bebatuan, kurang lebih sepuluh langkah. Ia berhenti di tepi air. Diam. Laut lebih keras. Jauh) jangan basahi sepatu bootmu yang bagus.
(Jeda)
Henry : Jangan….jangan.
(laut tiba-tiba keras)
Ada : (Dua puluh tahun lebih muda, memohon) Jangan! Jangan!
Henry : (Dua puluh tahun lebih muda, mendesak) Sayang!
Ada : (Dua puluh tahun lebih muda. Lebih lemah) Jangan!
Henry : (Dua puluh tahun lebih muda. Gembira) Sayang!
(Laut keras. Ada menjerit, menangis, dan laut menegaskan. Terputus. Akhir dari kenangan. Diam. Laut tenang. Ia kembali keluar dari dasar pantai. Sepatu berat di atas batu. Berhenti. Diam, lau tenang dan redup)
Ada : Jangan berdiri bengong di sana. Duduklah (Diam, membatu ketika duduk) Di atas selendang (Diam) kamu takut kita bisa berhubungan? (Diam) Henry.
Henry : Ya
Ada : Seharusnya kamu pergi ke dokter karena ocehanmu semakin buruk, seperti apa jadinya untuk Addie? (Diam) Tahukah kamu apa yang pernah ditanyakan padaku semasa kecil? “Mama, kenapa ayah ngomong terus sepanjang waktu?” Dia mendengarkan di WC. Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Henry : Ayah! Addie (Diam) Sudah kubilang, bilang padanya aku sedang berdoa. (Diam) mengaum pada Tuhan dan pada orang-orang suci.
Ada : Sangat buruk untuk si anak. (Diam) Betapa bodoh mengatakan bahwa hal itu akan mencegahmu untuk mendengarkan, itu tidak mencegahmu untuk mendengarkan dan bahkan kalau pun iya, seharusnya kamu tidak mendengarkan, pasti ada yang tak beres dengan otakmu.
(Jeda)
Henry : Itulah! Seharusnya aku tidak mendengarkan itu!
Ada : Kupikir kamu tidak mendengarkan. Dan kalaupun iya, apa yang salah dengan itu, suara-suara indah damai menyenangkan menyejukan, kenapa kamu benci? (Diam) Dan kalau kamu tidak suka kenapa kamu tidak menjauh saja darinya? Kenapa kamu selalu dating ke sini? (Diam) Ada yang tak beres dengan otakmu, sebaiknya kamu temui Holloway, ia masih hidup bukan!?
(Jeda)
Henry : (Gaduh) benturan, aku mau benturan-bentura! Seperti ini (Dia meraba-raba pada batu, mengambil dua batu besar dan mulai memamerkan keduanya) Batu! (bunyi benturan) Batu! (benturan) batu! (Dan benturan diperjelas, putus. Diam. Ia melempar sebuah batu, terdengar suara jatuh) Itu kehidupan! (Ia melempar batu yang lain. Terdengar jatuh) Bukan yang ini….(Diam)…. Menelan begitu saja!
Ada : kenapa kehidupan? (Diam) Kenapa kehidupan Henry? (Diam) Ada seseorang di sana?
Henry : Tak seorang pun.
Ada : Aku pun mengira demikian. (Diam) Ketika kita ingin memiliki untuk diri sendiri, di sana selalu ada seseorang. Sekarang ketika hal itu tidak soal lagi, tempatnya sudah ditinggalkan.
Henry : Ya, dulu kamu selalu sangat sensitive bila terlihat dalam pembicaraan yang emnantang… asap sekecil bulu terbang di cakrawala, kamu rapikan bajumu dan kamu benamkan diri dalam media Koran (Diam) lubangnya masih di sana setelah sekian tahun. (Diam, lebih keras) Lubangnya masih di sana.
Ada : Lubang apa? Dunia penuh dengan lubang.
Henry : Dimana akhirnya kita melakukan untuk pertama kali.
Ada : Ah ya, kukira aku ingat. (Diam) tempatnya belum berubah.
Henry : Oh ya, sudah. Aku bisa melihatnya (Percaya diri) Ada kejujuran ketika terjadi (Diam) Berapa umur dia sekarang?
Ada : Aku sudah kehilangan angka waktu.
Henry : Duabelas? Tiga belas? (Diam) Empatbelas?
Ada : Sungguh aku tidak tahu lagi Henry.
Henry : Kita butuh waktu lama untuk memiliki dia. (Diam) Bertahun kita terus melakukannya berkali-kali. (Diam) Tapi kita berhasil pada akhirnya. (Diam, menghela napas) kita miliki dia pada akhirnya (Diam) Tak begitu buruk ketika kamu mengeluarkannya (Diam) Mungkin seharusnya aku sudah masuk ke dunia kapal dagang.
Ada : kamu tahu, hanya di atas permukaan saja. Di bawahnya setenang kuburan. Tanpa suara. Setiap hari, setiap malam tanpa suara.(Diam)
Henry : Sekarang aku berjalan-jalan dengan gramafon, tapi aku lupa hari ini.
Ada : Tidak masuk akal itu (Diam) tidak masuk akal mencoba melenyapkan (Diam) temui Holloway.
(Jeda)
Henry :Ayo kita pergi berdayung
Ada : Berdayung? Dan Addie? Dia akan sangat sedih jika dia dating dan mendapati dirimu pergi berdayung tanpa dia (Diam) baru saja kamu dengan siapa? (Diam) selain kamu ngomong denganku.
Henry : Aku mencoba bersama ayahku.
Ada : Oh (Diam) Untuk itu tak ada kesulitan.
Henry : maksudku aku coba mendapatkan dirinya untuk bersamaku (Diam) hari ini kamu kelihatan lebih kasar dari biasa, Ada (Diam) Aku tadi menanyakan padanya kalau-kalau ia pernah bertemu denganmu, aku tidak ingat.
Ada : Jadi?
Henry : Ia tidak jawab lagi.
Ada : Menurutku kamu sudah emmbuatnya bosan. (Diam) kamu membuatnya bosan semasa hidupnya dan sekarang pun ketika mati kamu juga membuatnya bosan (Diam) Saatnya bila ketika seorang tidak bisa bicara lagi denganmu (Diam) Akan tiba saatnya ketika sama sekali tak seorang pun mau bicara denganmu, bahkan orang asing sekalipun. (Diam) kamu akan sendirian dengan suaramu di dunia, tak akan ada suara lain selain suaramu sendiri. (Diam) Kamu dengar aku?
(Jeda)
Henry : Aku tidak ingat kalau kamu dulu bertemu dengannya.
Ada : Kamu tahu aku bertemu denganya.
Henry : Tidak, Ada. Aku tidak tahu. Maaf, aku sudah lupakan hampir setiap hal yang berhubungan denganmu.
Ada : Kamu tidak di sana. Hanya Ibumu dan saudara perempuanmu. Aku dating untuk menjemputmu, sesuai rencana. Kita akan pergi mandi bersama-sama.
(Jeda)
Henry :(Jengkel)Teruskan, teruskan! Kenapa orang selalu berhenti di tengah apa yang sedang diucapkan?
Ada : Tak ada yang tahu di mana kamu. Ranjangmu masih rapi. Mereka semua berteriak satu sama lain. Saudara perempuanmu bilang dia kan terjunkan diri ke jurang. Ayahmu berdiri dan pergi keluar, membanting pintu. Setelah itu aku cepat pergi dan melewatinya di jalan. Ia tidak melihatku, ia duduk di atas batu-batu melihat jauh ke laut. Aku tidak pernah lupa sosoknya. Dan kini hal itu menajdi biasa. Kadang kamu harus membiasakannya. Seakan ia sudah berubah jadi batu, mungkin hanya karena diamnya. Aku tidak pernah tahu.
(Jeda)
Henry : Lanjutkan! Lanjutkan! (Memohon) Teruskan, Ada. Setiap suku kata adalah suatu perolehan.
Ada : Hanya itu kukira. (Diam) Lanjutkan sekarang dengan Ayahmu dan kisah-kisahmu atau lakukan apa saja, jangan risaukan aku lagi.
Henry : Aku tidak bisa! (Diam) aku tidak bisa melakukannya lagi.
Ada : Beberapa saat lalu kamu telah melakukannya, sebelum kamu ngomong denganku.
Henry : (Dengan marah) Aku tak mampu melakukanya lagi sekarang, Ya Tuhan!
(Jeda)
Ada : Oke, kamu tahu apa yang kumaksud, ada beberapa perilaku karena sebab-sebab tertentu menetap terus di benak seseorang. Pembawaan kepala misalnya, membungkuk ketika orang mengira seharusnya tengadah dan seterusnya, atau tangan bergelantung di udara, seakan tanpa pemilik. Hal-hal semacam itu. tapi dengan ayahmu duduk di batu karang hari itu tidak seperti itu, tidak ada hal-hal kecil yang bisa kamu tunjuk dengan jarimu dan bilang, betapa ganjilnya dia! Tidak, aku tidak pernah bisa mengungkapkannya. Mungkin, seperti yang sudah kubilang, hanya diamnya yang luar biasa dari seluruh tubuhnya, seakan seluruh napas sudah meninggalkannya (Diam) Apa omong kosong ini memberi bantuan untukmu Hnery? (Diam) kalau kamu mau aku bisa coba dan lanjutkan sedikit. (Diam) Tidak? (Diam) lalu kupikir aku akan kembali.
Henry : Jangan dulu! Kamu tak perlu ngomong. Hanya mendengarkan. Bahkan itu pun tak perlu. Bersama saja denganku (Diam) Ada! (Diam, lebih keras) Ada! (Diam) Tuhan! (Diam) Kuku-kuku kuda! (Diam) (Diam, lebih keras) Kuku-kuku kuda! (Diam) Tuhan! (Jeda lama) Kemudian cepat-cepat pergi, melewati kamu di jalan, tak melihat Ada, memandang ke….(Diam) Tak mungkin memandangi laut (Diam) kecuali kamu keliling sisi yang lain (Diam) Apa kamu sudah keliling sisi karang terjal? (Diam) Ayah! (Diam) Tentu sudah kukira (Diam) Berdiri mengawasimu sejenak, lalu turun ke jalan menuju trem naik ke atas atap terbuka, dan duduk di depan. (Diam) Tiba-tiba merasa tidak enak dan turun lagi (Diam) kondektur “berubah pikiran non!?” Kembali pergi ke jalan, tak ada tanda-tanda darimu (Diam) sangat tidak menggembirakan dan tak enak, keluyuran sebentar, tak seorangpun di sekitar, angin dingin sebentar-sebentar, kembali turun ke jalan dan anik trem pulang ke rumah (Diam) Naik trem pulang ke rumah (Diam) “Bolton sayangku…” (Diam) “jika sekali suntikan yang kamu mau, Bolton, turunkan celanamu dan akan kuberikan sekali, aku ada operasi angkat kandungan” pukul Sembilan, maksudku anestesinya tentu saja (Diam) Api padam. Sangat dingin, dunia memutih, persoalan besar tak ada suara (Diam) Bolton mulai bermain-main dengan tirai, bukan, bergelantung, sulit digambarkan, menariknya kembali, tidak tak seperti mengikatnya jadi satu di depannya dan sinar bulan masuk membanjir, kemudian membiarkan lepas kembali, peristiwa-peristiwa dahsyat di atas karpet, dan gelap pekat dalam ruangan, putih, hitam, putih, hitam, Holloway “Atas nama kasih Tuhan, hentikan itu Bolton, kamu ingin menghabisi aku?” (Diam) hitam, putih, hitam, putih, hal-hal menyebalkan (Diam) lalu tiba-tiba Bolton menyalakan korek api, menyalakan lilin, memegang di atas kepalanya, berjalan keliling dan menatap mata Holloway dalam-dalam (Diam) Tak sepatah kata pun, hanya tatapan, mata biru tua, seperti kaca, pelupuk mata tipis, bulu mata hilang, seluruhnya berenang-renang, dan lilin bergetar di atas kepala (Diam) airmata? (Diam, tertawa panjang) Ya Tuhan, bukan! (Diam) Tak sepatah katapun, hanya tatapan, mata tua biru. Holloway, “Kalau mau peluru bilang saja dan biarkan aku pergi dari sini.” “kita pernah seperti ini sebelumnya, Bolton, jangan kamu minta aku… (Diam)…. Melaluinya lagi” (Diam) Bolton, “tolong!”(Diam) Tolong! (Diam) Tolonglah, Holloway! (Diam) lilin bergetar dan menetes-netes di seluruh ruangan, lebih rendah sekarang, lengan tua lelah, memindahkan ke tangan lain dan mengangkat tinggi lagi, begitulah, begitulah selalu pada malam hari, bara api dingin, dan pancaran sinarnya bergetar di genggaman tangan tuamu, dan bilang, tolong! Tolong! (Diam) Ada! (Diam) Ayah! (Diam, sejenak) Tuhan (Diam) kembali memegangnya tinggi-tinggi, dunia sia-sia, Holloway kebingungan, mata tenggelam, tak ingin bertanya lagi, hanya tatapan, Holloway menutup wajahnya, tak ada suara, dunia memutih, sangat dingin, pemandangan menakutkan, orang tua, masalah besar, tak baik—(Diam) Tuhan! (Diam, membatu ketika berdiri, laut lebih keras) Terus! (Berhenti, Sepatu di atas kerikil koral. Dia berhenti, di pinggir air. Berhenti. Laut lebih keras) Buku kecil (Diam) Malam ini…. (Diam) Tidak ngapa-ngapain (Diam) Besok… besok…sedot air pukul Sembilan,lalu tidak ngapa-ngapain.(Diam, penuh teka-teki)Sedot air pukul Sembilan? (Diam) Ah ya tempat pembuangan (Diam) Sabtu…. Tidak ngapa-ngapain. Minggu…. Minggu…. Seharian tidak ngapa-ngapain (Diam) tidak ngapa-ngapain sepanjang hari, tidak ngapa-ngapain. (Diam) seharian semalaman tidak ngapa-ngapain (Diam) Tidak ada suara.
THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar