Jumat, 06 Agustus 2010

ALJABAR - Zak Sorga


ALJABAR
Naskah Karya Zak Sorga


Sebuah tempat. Lukisan-lukisan dan kanvas-kanvas bergantungan dan berserakan dimana-mana. Dua orang manusia sedang menghadap kanvas masing-masing, mereka sama-sama melukis. Orang II melukis dengan amat berat, tubuhnya, tangannya, jari-jemarinya tak bergerak sedikitpun, seolah dia memanggul dunia, tak bergeser. Orang I melukis dengan kegelisahan yang amat sangat kemudian lukisan itu ia robek-robek. Kemudian ia melukis lagi, dirobek-robek lagi, melukis lagi, dirobek lagi, diinjak-injak, dibanting, diumpat, diludahi, terus dan terus: melukis, merobek, membanting, menginjak, mengumpat, meludahi, sampai puncak, sampai puncak, dan kemudian:

1. ORANG I : Sekarang semuanya sudah klimaks.
2. ORANG II : Kita belum lagi mulai.
3. ORANG I : Sekarang semuanya sudah lampau.
4. ORANG II : Kita belum lagi mulai.
5. ORANG I : Sekarang semuanya sudah malam.
6. ORANG II : Kita belum lagi menemukan pagi.
7. ORANG I : Pagi tak akan pernah datang.
8. ORANG II : Matahari harus terbit.
9. ORANG I : Oh... aku hanya ingin tahu apa kegelisahan hanya milik kita berdua.
10. ORANG II : Sudah pasti tidak ada dunia lain kecuali dalam batin kita.
11. ORANG I : Melingkar-lingkar tanpa arah dan batas, sampai kapan?
12. ORANG II : Sepertinya tidak ada lagi yang bernafas di sini.
13. ORANG I : Seharusnya kita sudah berhenti dari dulu.
14. ORANG II : Kita tidak mungkin bisa berhenti.
15. ORANG I : Aku sudah macet.
16. ORANG II : Aku ingin sekali.
17. ORANG I : Tidak ada, harus ada.
18. ORANG II : Apa ini yang membuat sakit tengkorak kepalaku, dia bersarang di otak belakang. Membuat segalanya jadi lamban.
19. ORANG I : Ada dunia, ada tangan berkuku, tangan itu mencengkeram dunia sampai berdarah-darah. Diguncang-guncang, kita berdua terpelanting sampai di sini.
20. ORANG II : Kita masih di dunia.
21. ORANG I : Kita sudah ketinggalan, hari-hari telah melesat dan simpang-siur entah kemana.
22. ORANG II : Mana kamisku, mana jumatku, mana malam mingguku, mana pelacurku, mana agamaku, mana kelaminku? Semua berhamburan dalam omong kosong tentang hidup dan mati.
23. ORANG I : Mengais-ngais, mengunyah-ngunyah, melorong-lorong, membelit-belit, mana fikiranku? Campur aduk di sini, membatu.
24. ORANG II : Ayo kita melukis lagi. Kita lukis kegelisahan kita. Kita lukis risau kita. Kita lukis galau kita. Kita lukis kacau. Kecambah dimana-mana, jamur dimana-mana. Ayo kita lukis kehidupan, kita lukis kematian. Itu tugas kita sebagai manusia.
25. ORANG I : Mana mungkin?
26. ORANG II : Tahun ini harus jadi milik kita, mari kita rebut.
27. ORANG I : Kita tidak pernah punya tahun.
28. ORANG II : Makanya harus kita rebut.
29. ORANG I : Tidak! Selamat malam untukmu.
30. ORANG II : Semua ini harus menjadi pemikiran kita.
31. ORANG I : Justru itu. Dengan mengucapkan selamat malam berarti aku telah berpikir.
32. ORANG II : Telah?
33. ORANG I : Terus berpikir. Aku berpikir bagaimana caranya melupakan semuanya dan diam.
34. ORANG II : Kau tak mungkin bisa lupa.
35. ORANG I : Kenapa tidak? Aku toh bukan Tuhan.
36. ORANG II : Bagaimanapun juga kau tidak akan pernah bisa melupakan tugasmu.
37. ORANG I : Tugas? Apa maksudmu?
38. ORANG II : Tugas pelukis adalah melukis.
39. ORANG I : Aku bukan pelukis, aku terpaksa.
40. ORANG II : Tapi itukan yang membuatmu hidup.
41. ORANG I : Ya, karena aku tidak bisa melakukan apa-apa, tidak ada pilihan lain. Begitu aku lahir aku sudah dihadapkan kanvas-kanvas dan cat.
42. ORANG II : Mampuslah kita.
43. ORANG I : Membujurlah kita. Bosan! Jenuh! Beku! Mandul! Impoten! Lumpuh! Tidur yuk!
44. ORANG II : Ayo! (mereka berangkat mau tidur) Bagaimana kalau sebagai penghantar tidur, kita melukis lagi.
45. ORANG I : Aku lebih suka kalau kau mendongeng saja.
46. ORANG II : Iya, kita akan mendongeng lewat lukisan kita.
47. ORANG I : Ayo kalau begitu. Kita ciptakan dunia.
Mereka serentak melukis. Orang I melukis sambil berteriak terus tak berhenti, tak berhenti. Orang II melukis dengan kegelisahan tanpa suara.
48. ORANG I : (sambil melukis) Asap panas terkatung-katung di angkasa raya, bumi belum berbentuk dan gelap gulita menutup samudera raya. Lalu terang itu jadi, lalu siang itu terjadi, lalu malam itu jadi lalu pagi itu jadi lalu sore itu jadi, lalu embun lalu hari pertama lewat, lalu angin, lalu suara, lalu planet-planet, lalu batu-batu, lalu pasir, lalu kerikil, lalu duri, lalu karang, lalu hari yang kesekian kalinya itu lewat, lalu pedih, lalu perih, lalu resah, lalu kalah, lalu musnah, lalu punah, lalu bah. Bah! Ilalang, rumput-rumput, lalu burung-burung, lalu kupu-kupu, lalu kupu-kupu malam, germo, hidung, uap, senyap, penyakit, lalu kembali lagi pada mati, hari-hari mati, lalu terus, terus, kering, hijau, kuning, kering, ranggas, bakar, lalu panas, lalu dingin, lalu tumbuhan, lalu air, lalu uap, lalu awan, lalu kabut, lalu sepi, sungai, anak sungai, gunung, belut, laut, ikan, pohon, rumput, cacing, buaya, manusia, kepala, putus, darah, anjing. Kepala manusia, anjing kelaparan, kengerian, pengkhianatan, lalu pembunuhan pertama itu terjadi, tangis pertema itu berkumandang, benci pertama itu berkembang, kerisauan pertama itu berbiak, cemburu-cemburu, bunuh-bunuh, makan-makan-makan, lalu dunia beterbangan, lalu sepi itu menggelayuti, rindu, perih, batu, hujan, awan, tumbuh, lenguh, rengek, ringkik, lecut, kuda, anjing, belut, harimau, kucing, cacing, tengkorak, nyamuk, darah, nanah, busuk, dendam, sepi yang menahun, rindu batu, sungai lapar, laut lapar, mega lapar, udara lapar, batu lapar, siang lapar, sore lapar, malam lapar, pagi lapar, dunia lapar, semut lapar, harimau lapar, buaya lapar, matahari lapar, bulan lapar, bintang lapar, pulau-pulau lapar, danau-danau lapar, bulan lapar, terbit-tenggelam, matahari di sini, bulan di sini, bintang di sini. Jangan beranjak, jadi sudah. (sama-sama menaruh kanvas)
49. ORANG II : Hampir (sama-sama mengamati lukisan) apa yang kau kerjakan?
50. ORANG I : Penciptaan dunia, kau?
51. ORANG II : Menggambar peta perjalanan. Sekarang aku sampai pada batas dunia, di mana matahari tenggelam dalam laut-laut yang berlumpur hitam. (tukar-merukar lukisan)
52. ORANG I : Kau gambar diriku di sini?
53. ORANG II : Lihat saja, apa kau ada di situ.
54. ORANG I : Di sini semua gambar asap.
55. ORANG II : Di sini semua gambar anjing.
56. ORANG I : Gambar darah berceceran.
57. ORANG II : Apa kau tidak mendengar jeritan di situ?
58. ORANG I : Lolongan yang sangat panjang. Anjing kelaparan. Anjing itu menjilat-jilat kepala manusia, kepala itu dimakannya, diremukkan, dikunyah-kunyah. Oh? Mata itu meloncat keluar. Mata itu terbang berputar-putar menatap dunia, melayang-layang, mata itu berkedip-kedip minta tolong.
59. ORANG II : Seharusnya di sini ada perahu, inikan air? Bahkan laut, bahkan membuak, perahu Nuh pasti tenggelam di sini, juga kanaan, juga dzulkarnain yang diberkati itu, juga Picasso, Van Gogh, Descartes, Budha, Plato, Aristoteles, Caligula, Firaun, Muhammad, Isa .....semua terkubur di sini. Kenapa mata itu tidak kau hancurkan saja.
60. ORANG I : Itu adalah keinginannya sendiri.
61. ORANG II : Keinginan siapa?
62. ORANG I : Keinginan mata itu.
63. ORANG II : Dia masih bisa meneteskan air mata, dia menangis.
64. ORANG I : Kenapa hanya mata itu yang jadi perhatianmu? Di situ masih ada matahari, bulan, laut, bintang, air, angin, ...
65. ORANG II : Mata itu adalah mataku.
66. ORANG I : Itu adalah mata semua manusia.
67. ORANG II : Kepalaku dimakan anjing.
68. ORANG I : Kepala semua manusia.
69. ORANG II : Kamu jabarkan duniaku, aku jabarkan duniamu.
70. ORANG I : Aku jabarkan kemanusiaanmu, kamu jabarkan kemanusiaanku.
71. ORANG II : Kamu jabarkan mataku, aku jabarkan matamu.
72. ORANG I : Kamu jabarkan matahariku, bulanku, bintangku, palangiku, aku jabarkan lukamu. (mereka memeluk lukisan yang masih basah)
73. ORANG II : Dari mana datangnya bayangan menakutkan seperti ini.
74. ORANG I : Dari sejarah yang hilang.
75. ORANG II : Aku semakin takut.
76. ORANG I : Kita sudah tercerabut dari dunia ini.
77. ORANG II : Kita sudah tidak di sini.
78. ORANG I : Kita sudah di sana.
79. ORANG II : Kita sudah tidak dimana-mana.
80. ORANG I : Ada garis yang putus di sini.
Mereka merobek-robek lukisannya.
81. ORANG I : Kita buta.
82. ORANG II : Kita tuli.
83. ORANG I : Kita gagu.
84. ORANG II : Kita batu.
85. ORANG I : Kita bisu.
86. ORANG II : Kita kaku.
87. ORANG I : Kita lumpuh.
88. ORANG II : Kita mayat.
89. ORANG I : Kita mumi.
90. ORANG II : Habis!
91. ORANG I : Tak berjejak. (diam sejenak, loyo)
92. ORANG II : Kita tidak pernah bisa mengungkapkan isi hati kita.
93. ORANG I : Betapa sulitnya merumuskan pikiran.
94. ORANG II : Ayo, kita coba lagi.
95. ORANG I : Tidak ada gunanya.
96. ORANG II : Sebelum semuanya terkubur kita harus cepat bergerak.
97. ORANG I : Kita sudah terkubur sejak kelahiran kita.
98. ORANG II : Kita harus terus melukis.
99. ORANG I : Kita harus berhenti.
100. ORANG II : Kita akan pamerkan kulisan-lukisan kita ke kota-kota seperti dulu, kita akan melancong lagi. Kita akan kunjungi pulau-pulau, negara-negara, kita akan keliling dunia. Kita akan puas, kita akan tercatat.
101. ORANG I : Aku sekarang mulai berada antara tahu dan tidak tahu, aku telah dikhianati oleh diriku sendiri. Aku sekarang tidak bisa berbuat apa-apa, aku telah mandul, aku tidak punya kekuatan.
102. ORANG II : Kau harus mencoba terus, kau masih muda.
103. ORANG I : Aku sudah tidak mampu lagi.
104. ORANG II : Kau mampu, kau lihat karya-karya ini, semua menakjubkan.
105. ORANG I : Bohong. Ke mana larinya coretan-coretanku yang dulu, ke mana larinya tokoh-tokohku. Kita bukan pelukis, mari kita robek lukisan-lukisan kita. (mengambil lukisan dan merobek-robek)
106. ORANG II : Jangan. Kita akan pamerkan lukisan kita ke seluruh dunia. (orang I terus merobek lukisan)
107. ORANG I : Dunia tidak pernah melihat kita, ayo kita ciptakan dunia kita sendiri. Kita harus ciptakan dunia kita sendiri.
108. ORANG II : Kita harus terus melukis sebanyak-banyaknya.
109. ORANG I : Kita harus diam. Kita sudah tidak punya objek lagi.
110. ORANG II : Masih banyak yang belum kita baca.
111. ORANG I : Kita tidak punya objek lagi.
112. ORANG II : Masih banyak yang belum kita lihat.
113. ORANG I : Mana objekku.
114. ORANG II : Masih banyak yang belum kita kunyah.
115. ORANG I : Mana objekku.
116. ORANG II : Kita harus terus berjuang.
117. ORANG I : Kau tidak pernah bisa memahami keinginanku.
118. ORANG II : Kau yang tidak bisa.
119. ORANG I : Semuanya sudah punah. Tidak ada lagi yang harus diperjuangkan.
120. ORANG II : Jiwa kitalah yang harus kita perjuangkan. Kita tidak akan pernah bisa bangkit kalau terus saja berpusar pada fikiran-fikiran kita sendiri.
121. ORANG I : Maumu?
122. ORANG II : Coba lihatlah di pasar-pasar, begitu banyak kehidupan. Kita lahir dan kita bisa jadi apa saja di situ. Kita bisa memilih peran kita sendiri. Kenapa tidak kita coba. Kita bisa jadi pencopet, juragan, penipu, pejabat, germo, terserah apa yang kita maui.
123. ORANG I : Aku tidak memilih apa-apa. Aku akan ciptakan duniaku sendiri.
124. ORANG II : Dunia apalagi? Cepatlah bergerak sebelum kita tergilas oleh jaman.
125. ORANG I : Aku tidak peduli.
126. ORANG II : Kau tentu akan terus melukis, itukan dunia yang kau maksud. Ayo, pergilah ke pasar-pasar dan lukislah wajah orang-orang itu. Itu akan lebih berguna buat diri kita.
127. ORANG I : Aku tidak punya tempat.
128. ORANG II : Kau jangan menyiksa diri, dengan penjara-penjara pikiran itu akan lebih cepat membawamu ke arah maut. Marilah kita hidup sebagai orang kebanyakan, sebelum aku mati tentukan sikapmu, melukislah, melukislah.
129. ORANG I : Kota-kota, hutan-hutan, angin-angin, gunung-gunung, air-air, laut-laut, pasir-pasir, matahari-matahari, bulan-bulan, bintang-bintang, manusia-manusia, semuanya sudah tidak ada lagi. Kita sudah ketinggalan jauh, semuanya sudah berhenti.
130. ORANG II : Dunia masih berputar.
131. ORANG I : Kehidupan telah mati.
132. ORANG II : Matahari masih terbit.
133. ORANG I : Matahari telah terbakar oleh panasnya sendiri, dia jadi arang, dia jadi abu, dia berhamburan, dia menghilang, dia musnah!
134. ORANG II : Lantas apa maumu?
135. ORANG I : (diam)
136. ORANG II : Lantas apa maumu?
137. ORANG I : Ngeseks. Berilah aku seks.
138. ORANG II : Aku tidak mau.
139. ORANG I : Lakukan kalau kau ingin semua ini berlanjut.
140. ORANG II : Aku tidak bisa.
141. ORANG I : Kau harus bisa karena di sini tidak ada makhluk lain.
142. ORANG II : Aku tidak mampu. Aku sudah tua.
143. ORANG I : Cobalah. (mencoba, gagal, mencoba lagi) Teruslah berusaha, kalau tidak kau akan aku tinggalkan.
144. ORANG II : Aku tidak bisa.
145. ORANG I : Tak ada gunanya. (diam semua, orang II menangis)
146. ORANG II : Kau keterlaluan, kau telah mengungkit masa laluku. Ayo berdirilah di situ.
147. ORANG I : Untuk apa?
148. ORANG II : Berdirilah di sudut situ.
149. ORANG I : Untuk apa?
150. ORANG II : (mengancam) Lakukan saja, kau jadi modelku.
151. ORANG I : (menurut)
152. ORANG II : Sekarang lepaskan bajumu.
153. ORANG I : Tidak mau.
154. ORANG II : Ayo lepaskan bajumu. Juga celanamu.
155. ORANG I : (menuruti)
156. ORANG II : Dengan cara ini dulu aku pernah bisa.
157. ORANG I : Apa maksudmu?
158. ORANG II : Aku akan peragakan awal terjadinya manusia. Telanjanglah, telanjanglah (dia menyergap orang I, seolah memperkosanya. Mencoba, terus mencoba, orang I hanya diam, sampai akhirnya) Aku tidak bisa! Dengan cara inilah pelacur itu kulukis, aku diperkosa oleh pancaran seksualnya. Ya, seperti itulah dia duduk, aku menggelepar dan tak tahu apa yang terjadi. Paginya kulihat kamarku telah kosong, lukisan-lukisanku hilang bersama pelacur itu.
159. ORANG I : Sesalilah keberadaanmu, akan kulukis tentang penyaliban manusia.
160. ORANG II : Dengarlah ceritaku.
161. ORANG I : Tak ada gunanya.
162. ORANG II : Kau adalah rentetan dari kejadian itu.
163. ORANG I : Maksudmu?
164. ORANG II : Enam tahun kemudian, setelah aku lupa, pelacur itu kembali dengan bayi di pangkuannya, dia bilang bayi itu adalah anakku, aku marah, tapi kemarahan itu tiba-tiba hilang karena gairah seksku naik dan pelacur itu kuperkosa sampai mati. Sampai mati.
165. ORANG I : Aku tidak peduli siapa bayi itu.
166. ORANG II : Bayi itu adalah kamu.
167. ORANG I : Aku tidak peduli dari siapa aku dilahirkan, karena semua kejadian toh akan membawa akhir yang sama.
168. ORANG II : Maafkan, maafkan aku.
169. ORANG I : Diamlah.
170. ORANG II : Semua orang sibuk mempersiapkan nasibnya, sementara kau? Dari kecil kau hanya kubawa mondar-mandir dari pasar ke pasar untuk menjajakan lukisan.
171. ORANG I : Kita ini pasien-pasien tanpa dokter. Ajarilah aku bagaimana caranya bunuh diri, itu akan lebih baik.
172. ORANG II : Kau harus membunuhku.
173. ORANG I : Kaulah yang wajib membunuhku.
174. ORANG II : Tolong bunuhlah aku.
175. ORANG I : Tolong bunuhlah aku.
176. ORANG II : Aku tidak punya keberanian.
177. ORANG I : Aku juga tidak punya keberanian.
178. ORANG II : Pada akhirnya kita akan terus terkatung-katung.
(Diam semuanya. Untuk beberapa lamanya tidak ada kejadian apa-apa)
179. ORANG I : Mari kita robek-robek dunia.
180. ORANG II : Aku mendengar tulang-tulangku berderit-derit seperti daun pintu. Inikah awal dari yang paling awal itu?
181. ORANG I : Kita mati dan berubah jadi kepompong.
182. ORANG II : Marilah kita lukis wajah-wajah dunia. Semua harus diabadikan, semua harus dicatat.
183. ORANG I : Kita tidak akan pernah samapai. Kehidupan tidak akan cukup dengan waktu hanya seribu tahun bahkan satu juta tahun pun tidak. Manusia, yang katanya dilahirkan untuk membaca, bagaimana mungkin membaca kehidupan hanya dengan waktu enam puluh tahun.
184. ORANG II : Jangan kau kembalikan lagi aku pada momok itu.
185. ORANG I : Kita akan segera terlewat.
186. ORANG II : Ooo..., monolog risaumu. Berilah aku tidur.
187. ORANG I : Semua makhluk telah menentukan sikapnya masing-masing.
188. ORANG II : Tinggal kita yang ada di sini.
189. ORANG I : Menghitung rumus-rumus.
190. ORANG II : Mengalikan rumus-rumus.
191. ORANG I : Membongkar langit-langit, menikam langit. Meledaklah. Meraung!
192. ORANG II : Berhamburan dunia di sana, di sini, di situ, di jalan raya-jalan raya, supermarket-supermarket, terminal-terminal, night club-night club, pasar malam-pasar malam, sirkus. Semua ini tidak mempunyai hubungan dengan fungsi-fungsinya.
193. ORANG I : Kita tidak pernah terlibat sedikitpun, juga dengan hidup kita.
194. ORANG II : Kita hanya menonton.
195. ORANG I : Kita hanya dipermainkan
196. ORANG II : Kita tak pernah jadi subjek.
197. ORANG I : Seharusnya kita sama-sama punya hak.
198. ORANG II : Selamatkan aku dari sini.
199. ORANG I : Lepaskan dulu aku dari kemutlakan ini.
200. ORANG II : Lepaskan aku dari kaidah-kaidah ini.
201. ORANG I : Menginjak-injakku, mencekikku.
202. ORANG II : Aku tidak sanggup.
203. ORANG I : Ayo kita isi dunia dengan kata-kata, keluarkan ususmu, keluarkan tulang-tulangmu, keluarkan dagingmu, kuliti-kuliti, jantungmu keluarkan, keluarkan dan ikat dengan petasan, kemudian ledakkan seperti tatkala kita bermain dimasa kanak-kanak yang hilang.
204. ORANG II : (ketakutan) Diamlah! Kau lihat kanvas-kanvas itu bergerak, mereka minta nyawa, mereka minta hidup, mereka minta nafas, kita dikurung oleh kanvas-kanvas, kita terjebak disini. Tolonglah aku, aku lapar, aku haus, aku muak ... (tak ada jawaban) kenapa kau biarkan aku tenggelam dalam diamku yang gaduh ini.
205. ORANG I : Monster-monster itu dari mana datangnya, kita akan dilumat oleh zaman.
206. ORANG II : Kanvas-kanvas itu jadi monster, mereka memanggil kita. Kita harus lari, mereka minta dilukis, ayo kita lari ....
207. ORANG I : Kesimpangsiuran ini. Rancu. Segalanya rancu! Aku tidak bisa menjelaskan kata-kataku, pikiranku melintas-lintas, kita ini akan dibawa ke arah mana?
208. ORANG II : Kita tidak boleh salah pilih.
209. ORANG I : Mana kakiku, mana tanganku, mana kupingku, mana mataku, mana jantungku, mana kananku, mana kiriku, mana atasku, mana bawahku, mana-mana ....
210. ORANG II : Mana dunia, mana warna, cat-catku, catku mana? Mana merah, mana kuningku, mana hijauku, mana hitamku, mana putihku, mana dunia?
211. ORANG I : Mana akherat?
212. ORANG II : Kita harus hadir.
213. ORANG I : Tenggelam.
214. ORANG II : Agama? Agamamu apa?
215. ORANG I : Islam agamaku, Yesus nabiku. Mau apa kau?
216. ORANG II : Tuhanmu? Siapa Tuhanmu?
217. ORANG I : Allah Tuhanku. Maria tetanggaku. Mau apa kau?
218. ORANG II : Semua kemarilah akan kutuding-tuding matamu.
219. ORANG I : Jangan salahkan aku, jangan kau maki aku.
220. ORANG II : Kita akan dihukum.
221. ORANG I : Aku tidak mau.
222. ORANG II : Kita akan dirajam.
223. ORANG I : Aku tidak mau.
224. ORANG II : Kau mabuk ke-aku-an.
225. ORANG I : Kau mabuk diri sendiri.
226. ORANG II : Kau mabuk pertanyaan.
227. ORANG I : Kau mabuk jawaban.
228. ORANG II : Kau mabuk risau.
229. ORANG I : Kau mabuk bimbang.
230. ORANG II : Kau mabuk Karlmark.
231. ORANG I : Kau mabuk Israel.
232. ORANG II : Kau mabuk agama, kau mabuk Tuhan.
233. ORANG I : Kau mabuk kentut.
234. ORANG II : Akankah kita terus bertanya-tanya seperti ini. Bertahun-tahun kita hanya melewatkan waktu dengan mondar-mandir.
235. ORANG I : Buntu! Macet total! Aku pergi ke utara yang kutemui hanya benda-benda mati, aku pergi ke timur yang kutemui hanya udara, aku pergi ke selatan yang kutemui hanya angin, aku pergi ke barat yang kutemui hanya diri sendiri, dimana-mana hanya diriku sendiri. Dimana arah mata angin?
236. ORANG II : Tidak ada lagi kiblat.
237. ORANG I : Ayolah kita keluar dari sini.
238. ORANG II : (hanya diam)
239. ORANG I : Di sini pengap.
240. ORANG II : (diam)
241. ORANG I : Kenapa kau jadi dingin kepadaku? Dingin bagai batu-batu kubur.
242. ORANG II : Spermatozoa, indung telur, ovum ....
243. ORANG I : Apa yang ada dalam otakmu?
244. ORANG II : Ke sanalah larinya.
245. ORANG I : Ke mana?
246. ORANG II : Ke dalam kata-katamu.
247. ORANG I : Malam semakin larut.
248. ORANG II : Suara laut tak kedengaran dari sini.
249. ORANG I : Iya jauh. (Diam. Hanya dengkur nafasnya yang mengisi waktu. Beberapa saat lamanya)
250. ORANG II : Mari kita mencari hiburan, kita pergi ke taman-taman.
251. ORANG I : Tidak mau.
252. ORANG II : Mari kita ke museum.
253. ORANG I : Tidak, sudah tutup.
254. ORANG II : Kita pergi ke perpustakaan.
255. ORANG I : Tidak.
256. ORANG II : Kita pergi berenang.
257. ORANG I : Tidak.
258. ORANG II : Lantas kita?
259. ORANG I : Di sini saja.
260. ORANG II : Biasanya kau suka melihat perahu, ayo kita pergi ke laut. Seperti saat kau masih kecil, kita akan menggambar pemandangan di pasir. Kita akan mencari kerang, kemudian memancing sambil naik perahu. (diam saja) Ayo kita ke sana, kita akan melihat pelangi yang melengkung bagai naga meminum air laut.
261. ORANG I : Aku pernah mendengar, suatu saat nanti bulan akan bertabrakan dengan bumi lantas matahari membakarnya sampai hangus.
262. ORANG II : Lupakan saja itu ayo kita pergi ke laut.
263. ORANG I : Aku ingin tahu akhir dari semua ini. (mereka melukis) Sementara kita minum, sementara maut mengintai di tenggorokan kita. Sementara kita bernafas, sementara jerat melingkar di leher kita. Sementara kita bicara, sementara bisu membeku di mulut kita. (semakin cepat dia melukis) Sementara kita memandang sementara buta di kelopak kita, sementara kita tidur sementara maut mengintai di tikar kita, sementara kita sedang, sementara debu, sementara batu, sementara kabut, sementara lahar, sementara belerang. Kalau mau mampus, mampuslah! Kalau mau bangkit, bangkitlah! Kalau mau meledak, meledaklah! Kalau mau terbakar, terbakarlah! Kalau mau hangus, hanguslah! Hancur, hancurlah! Berkeping, kepinglah! Porak, porandalah! Berdarah, darahlah! Bernanah, nanahlah! Membusuk, membusuklah! Satu tambah satu sama dengan empat kalau aku mau. Satu tambah empat sama dengan nol kalau aku mau. Seribu dikurangi sama dengan dua belas kalau aku mau. Itu semua sah! Itu semua benar! Mau apa kau? Anjing, anjinglah! Babi, babilah! Geledeklah, halilintarlah! Kita lukis wajah kita. Hiruk-pikukku, simpang-siur, berantakan, porak-poranda, kita lukis kehancuran kita. Galau kita, rindu kita, pedih kita, sepi-mati kita. Kaku batu, kucing anjing, cacing kelingking, nungging. Tua, mata, mandek, mandul, mampet, dungu, tersesat, hutan belantara di mana-mana, belantara angan, belantara tahta, belantara tanda tanya. Akan kuberi hidup dia! Akan kuberi kata-kata dia! Akan kuberi nyawa dia! Jadilah! Maka jadilah!
264. ORANG II : Apa yang kau lukis?
265. ORANG I : Potret diri. Kau?
266. ORANG II : Sama.
267. ORANG I : Coba lihat. (Mereka tukar-menukar lukisan. Sama-sama kaget, kerena yang mereka hasilkan hanyalah kanvas-kanvas kosong)
268. ORANG II : Ayo kita mulai lagi
(Merekapun melukis lagi)
269. ORANG I : (kelihatan sangat muak pada dirinya sendiri) Aku tidak ada kemampuan.
270. ORANG II : Apa kita perlu ke laut?
271. ORANG I : Mari kita coba lagi.
(mereka melukis, kemudian mereka robek-robek, mereka melukis lagi, mereka robek-robek lagi, mereka melukis lagi)
272. ORANG II : (Setelah mati-matian berusaha. Bersama orang I) Jadi sudah!
273. ORANG I : Apa?
274. ORANG II : Potret diri, kau?
275. ORANG I : Sama.
(mereka tukar-menukar lukisan)
276. ORANG I : Ini gambar anjing.
277. ORANG II : Ini gambar tikus.
278. ORANG I : Apa? Itu Potret diriku.
279. ORANG II : Tapi ini gambar tikus.
280. ORANG I : Bangsat. Kita telah ditipu. Kau lihat ini gambar anjing.
281. ORANG II : Hah? (mereka robek-robek lukisan itu)
282. ORANG I : Mari kita temukan diri kita.
(Mereka melukis lagi)
283. ORANG I : Kenapa jadi asap?
284. ORANG II : Kenapa jadi debu?
(dirobek-robek lagi dan melukis lagi)
285. ORANG II : Kenapa jadi cacing?
286. ORANG I : Kenapa jadi bangsat?
(dirobek-robek lagi dan melukis lagi)
287. ORANG I : Bangsat! Anjing! (merobek-robek lukisan)
288. ORANG II : Setan alas! (merobek-robek lukisan)
(mereka melukis lagi dengan keringat yang bercucuran)
289. ORANG I : (setelah berjuang) Jadi sudah! Akhirnya aku bisa.
290. ORANG II : Mana? (saling memperlihatkan lukisan, sama-sama kaget) Itu diriku.
291. ORANG I : Itu diriku dan ini juga diriku. Kau salah menafsirkan dirimu sendiri.
292. ORANG II : Kau yang salah lihat. Sudah jelas ini diriku dan itu juga diriku.
293. ORANG I : Ini wajahku dan itu juga wajahku.
294. ORANG II : Tidak! Ini wajahku dan itu juga wajahku.
295. ORANG I : Siapa yang benar di antara kita?
296. ORANG II : Kau siapa? Dan aku siapa?
297. ORANG I : Kau buta! Yang kau lukis itu diriku.
298. ORANG II : Kau yang jereng, sudah jelas kau salah lukis dan salah lihat.
299. ORANG I : Aku melukis wajahku sendiri.
300. ORANG II : Aku juga
(mereka mengamati lukisan dengan lebih teliti. Mereka kecewa)
301. ORANG II : Kita tidak bisa menerjemahkan diri kita sendiri.
302. ORANG I : Kenapa ini terjadi.
303. ORANG II : Kenapa ini terjadi? Jawablah.
304. ORANG I : Jawablah.
305. ORANG II : Kenapa ini terjadi? Ayo jawablah.
306. ORANG I : Itu pertanyaanku, kau yang harus menjawab.
307. ORANG II : Kau yang harus menjawab.
308. ORANG I : Itu pertanyaanku.
309. ORANG II : Juga pertanyaanku.
310. ORANG I : Kau mementingkan diri sendiri.
311. ORANG II : Kau yang mementingkan diri sendiri.
312. ORANG I : Mari kita hancurkan saja. Kita bunuh.
313. ORANG II : Siapa?
314. ORANG I : Diri kita.
315. ORANG II : Mari.
(mereka saling mencekik, saling memukul. Tapi akhirnya, mereka hanya merobek-robek lukisan)
316. ORANG II : (tertawa) Kita sudah hancur.
317. ORANG I : Kita sudah mati.
(sama-sama tertawa)
318. ORANG II : Enak ya, sudah mati.
319. ORANG I : Cuma begini rasanya.
320. ORANG II : Coba (kemudian mencubit orang I) sakit?
321. ORANG I : Kita telah menjadi pembunuh yang sia-sia.
322. ORANG II : Sebuah pertanyaan pada dunia.
323. ORANG I : Otakku sudah beku.
324. ORANG II : Biarkanlah otakmu untuk terus berfikir.
325. ORANG I : Takut.
326. ORANG II : Akhirnya cepat sampai pada kesimpulan.
327. ORANG I : Dan kembali pada keraguan. Ini seperti penyaliban Yesus untuk kedua kalinya.
328. ORANG II : Hidup ini penuh dengan rangsangan-rangsangan.
329. ORANG I : Kita tidak harus mewujudkan semuanya.
330. ORANG II : Ayo kita mencoba lagi.
331. ORANG I : Ini adalah saat penentuan. Kita harus mendakwa diri kita.
332. ORANG II : Kita hakimi.
333. ORANG I : Ayo kita mulai.

(Dengan penuh gairah mereka mengambil kanvasnya masing-masing dan melukis. Gagal. Dibanting. Dirobek-robek. Ganti kanvas. Gagal. Dirobek. Ganti kanvas. Dirobek. Gagal. Dirobek. Melukis lagi dirobek lagi. Ganti lagi. Terus dan terus sampai kanvasnya habis, kemudian mereka melukis di tembok-tembok, baju-baju yang bergantungan, langit-langit, meja, lantai, kursi, sepatu, sandal, debu, semua benda yang ada di situ dibuatnya untuk melukis, dijadikan kanvas sampai habis semuanya. Mereka melukis membabi-buta, mereka histeris, mereka mondar-mandir, mereka berlari mencari kanvas, mencari objek )

ORANG I : (bersama orang II) Mana kanvasku, mana objekku, mana kanvasku, mana objekku, mana kanvasku, mana kanvasku, objekku, kanvasku mana, objekku mana, kanvasku mana, objekku mana, mana ... mana kanvasku ... mana, mana ... (mereka terus berputar-putar, berlari-lari) Mana tali gantungan, aku akan melukis tali gantungan, mana pisau aku akan melukis di pisau-pisau, mana salib, mana gantungan, mana kanvas, mana kanvas ... gantungan, salib, kanvas, objek...

(Mereka terus berputar-putar, gelisah, berlari, terus. Terus sampai histeris dan sampai akhirnya mereka bertabrakan. Berpelukan, saling raba dan sama-sama berkata:) Kau adalah kanvasku, kau adalah kanvasku .... Cat, mana cat ... mana pahat ... mana gergaji, palu ....
(mereka menjadikan tubuh yang lain adalah kanvasnya, mereka saling melukis, saling mengguyurkan cat, saling pahat-memahat tubuh yang lainnya sambil terus berteriak:) Kau kanvasku, kau objekku, kau kanvasku, kau objekku, kau patungku, kau karyaku ... kau objekku, kau objekku, kau objekku ....(terus dan tak ada habisnya)

LAMPU PADAM


2 komentar: