Jumat, 06 Agustus 2010

GRAVITO - Akhudiat

GRAVITO
KARYA : AKHUDIAT

SEORANG LIMBO MENCARI SEORANG AYESHA (GONG 3X)
LAKI-LAKI I : Kata orang, Limbo kemarin lewat depan rumah kamu.
LAKI-LAKI II : Tidak Limbo membeli roti di kedai roti dibungkus kertas bekas surat cinta.
LAKI-LAKI : Amboi, Limbo pidato amat galaknya di teater gedongan.
LAKI-LAKI : Limbo bersepatu amat baunya, tetapi rambut amat (….missing text…)
: Limbo jadi presiden republik berpikir bebas kelak.
LAKI-LAKI I : Dia sudah jadi presiden dikalangan kamu.
: Pernah membajak kapal.
: Benar juga perawan, lho.
: Sering mimpi dia.
: Jadi Tuhan.
: Hmmmm betul juga mimpi jadi banci.
: Segala sekolah pernah diinjak.
: Sampai kepala guru kepala.
: Segala pantat pernah dipandang.
: Termasuk pantat mertua seorang kawan.
: Dan jika berjalan selalu dekat di dinding penuh tulisan : cakar, coret-moret, gambar2, tangan2 nakal, kepala runyam, mulut2 gatal.
: Hei, bukan pesan, ralat! Tontonan.
: Kata orang lagi :
Limbo barangkali bukan orang, entahlah, barangkali (…missing text…) nasi dikepala yang pernah, yang pernah dengar Limbo.
: Kata orang pula :
Nah, karena kamu sudah baca Limbo ini, mau tidak mau harus kamu jelaskan pada yang belum tahu siapa Limbo, apa Limbo, penjelasan tidak mesti pidato atau jual koyo atau agitari atau diskusi atau pameran, atau teka-teki atau…… kamu berdiri dimana saja sudah merupakan penjelasan yang sah, dan teatermu sah, teater instink, naluri, alamiah, tanpa pretense dan saat ini Limbo memanggil Ayesha.

------------------------------------oooooOOOooooo---------------------------------

LIMBO : Ayesha, Ayeshaaaaaaaaaaaaaaaaa
KOOR PEREMPUAN : Bets-syyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyy
LIMBO : Limbo disini.
KOOR LAKI-LAKI : Rick Corona.
LIMBO : Di mana kau
KOOR PEREMPUAN : Di mana kau
LIMBO : Ayesha
KOOR PEREMPUAN : Betsy
LIMBO : Limbo di sini
KOOR LAKI-LAKI : Rick Corona
LIMBO : Di mana kau Ayesha.
KOOR PEREMPUAN : Di mana kau Betsy
(PAUSE)
LIMBO : Limmmmmmmmbo
KOOR LAKI-LAKI : Riiiiiiiiiiick Co
LIMBO : Ayesha
KOOR PEREMPUAN : Betsy
(LIMBO MENGAMBIL DUA BUAH BATU)
LIMBO : Limbo di sini
KOOR LAKI-LAKI : Rick Corona
LIMBO : Limbo
KOOR LAKI-LAKI : Rick Co
(LIMBO MELEMPAR ARAH SUARA KOOR DENGAN SATU BATU)
LIMBO : Limbo di sini
KOOR LAKI-LAKI : (DIAM)
LIMBO : Di mana kau Ayesha
KOOR PEREMPUAN : (DIAM)
(PAUSE)
------------------------------------oooooOOOooooo---------------------------------

Limbo menulis di dinding putih latar belakang : Limbo…. Ayesha (DLL). Lalu Limbo makan roti sambil membaca bekas surat cinta. Surat cinta dari kang Leman, tukang becak yang sering parkir di pojok jalan kepada pacarnya, dik Situn, bedinde baru rumah loji dekat pojok jalan itu. Surat itu ikut terbuang ke bak sampah digaet oleh kolektor puntung dan kertas itu lalu dijual kepada mbok2 agen barang loakan, dari mbok itu dioper ke kedai roti, tukang roti membungkus roti Limbo dengan surat itu, Limbo membaca.
------------------------------------oooooOOOooooo---------------------------------
Latar belakang muncul satu bentuk perempuan. LIMBO menoleh seolah merasa diperhatikan si bentuk. Limbo mendekati bentuk yang di matanya sebagai Ayesha. Bentuk itu memang perempuan. Limbo pasti, itu Ayesha.
Tiba-tiba bentuk itu mengangkat tangannya berjumlah puluhan sekaligus. Limbo menghadapi perempuan tangan puluhan. Limbo takut dan gejolak birahi. Limbo membayangkan bergumul peri2, cumi2, atau peri gurita dalam dongeng lama dalam laut. Takut dan birahi mana yang dipilih. Limbo adalah kebimbangan panjang. Perempuan tangan puluhan adalah kebetinaan dan sekaligus Chauvinis.
------------------------------------oooooOOOooooo---------------------------------
Muncul di latar belakang dari sisi lain satu bentuk laki2. tangannyajuga puluhan, angkat sekaligus. Lelaki tangan puluhan adalah laki2 jantan yang terlalu kelaki-lakian dan banditis. Kedua bentuk mengancam Limbo dari dua arah. Limbo yang malang.
Muncul di pojok lain. Ia begitu sendiri tanpa embel-embel.
LAKI-LAKI I : Kata orang :
Ayesha kemarin sudah lain dengan Ayesha hari ini.
: Tidak, Ayesha di mana-mana adalah satu Ayesha, tidak ada duanya. Demikian ujar sang klise.
: Amboi, hampir persis cetakan kue yang sekali cetak lantas dibuang.
: Ayesha berambut amat panjangnya, dan telanjang amat tertutupnya.
: Ia mimpi jadi bulan
: Ia mimpi jadi bulan-bulanan.
: Ia mimipi jadi piala bergilir.
: Cinderelakah ia?
Ia bangun di padang rumput pada awal musim bunga milik petani tua yang setia, yang punya cerita kancil, monyet macan, ular kelinci, sepatu biru dan pangeran istana Platina. Tak jelas nama sang pangeran.
: Pak tua hanya menyarankan lewat sajalah dekat2 dinding penuh coretan morat-marit. Siapa tahu itu dinding istana Platina dan panggili dia dengan suara melengking begini :
AYESHA : Limboooooooooooo!
KOOR PEREMPUAN : Rick Co
AYESHA : Limbo
KOOR PEREMPUAN : Rick Co
AYESHA : Limboooooooooooo!
KOOR PEREMPUAN : Rick Co-Rick Co-Rick Co-Rick Co
AYESHA : Aku Ayesha
KOOR PEREMPUAN : Kau Betsy
AYESHA : Ayesha
KOOR LAKI-LAKI : Betsy
(KOOR PEREMPUAN MENGIRING LIMBO KELUAR)
(KOOR LAKI-LAKI JEJER WAYANG DILATAR BELAKANG MENUTUP TULISAN2 LIMBO)
AYESHA : Limbo!
KOOR LAKI-LAKI : (BERSAHUTAN)
Hai
Hallo
Kabar baik?
Hey kamu
Tabi ya
Banyak baik baik
Banyak baik, ya.
AYESHA BINGUNG MANA LIMBO MANA YANG BUKAN, AYESHA MENYIBAK JEJAK BAYANGAN MELIHAT JELAS TULISAN LIMBO DAN AYESHA.
AYESHA : Di mana kalian sembunyikan Limbo?
KOOR LAKI-LAKI : (BERBALIK MEMBELAKANGI AYESHA)
AYESHA : Mana Limbo, mana Limbo, mana Limbo?
KOOR LAKI-LAKI : (DIAM)
AYESHA : Kalian semua Limbo?
KOOR LAKI-LAKI : (DIAM)
AYESHA : Hey, Limbo-limbo
KOOR LAKI-LAKI : (DIAM)
AYESHA : Atau kalian robot2 Limbo? Cuma bisa omong kaya beo. Itupun lebih baik daripada melempem kaya ape busuk.
KOOR LAKI-LAKI : (DIAM)
AYESHA : Robot Limbo memang persis beo Limbo.
Tidak lebih baik sedikitpun dari satu Limbo.
KOOR LAKI-LAKI : (BERBALIK MENGHADAP AYESHA)
LAKI-LAKI I : Limbo yang baik ialah Limbo yang diam. Tak punya omong yang tak perlu.
LAKI-LAKI II : Satu Limbo memang lebih baik dari Limbo-Limbo. Tapi Limbo-Limbo tak kurang jelasnya dari satu Limbo.
LAKI-LAKI III : Limbo ialah gambaran persis satu dan banyak
LAKI-LAKI IV : Gambaran persis luar dan dalam.
LAKI-LAKI I : Gambaran persis omong dan diam.
KOOR LAKI-LAKI : Gambaran persis hidup dan hidup.
AYESHA : Di mana beda Limbo dan Limbo-Limbo?
LAKI-LAKI II : Kau ulang2 soal yang sama.
AYESHA : Limbo dan Limbo-Limbo harus berbeda bagiku.
Bagi mimpiku
Bagi imajinasiku
Bagi harapanku
Bagi Ayeshaku.
LAKI-LAKI II : Harus berbedakah Ayesha dan Ayeshaku?
AYESHA : Pertanyaan yang tidak jelas.
LAKI-LAKI II : Harus berbedakah Ayesha dan Ayeshamu?
AYESHA : Tentu saja tidak.
LAKI-LAKI II : Juga Limbo dan Limbo-Limbo?
AYESHA : Bagus (menunjuk satu arah) nah, itu Limbo.
(LIMBO SEDANG DIKERUBUTI KOOR PEREMPUAN)
AYESHA : Itu Limbo?
KOOR LAKI-LAKI : Ya.
AYESHA : Apa-apaan Limbo?
KOOR LAKI-LAKI : Dia terserang demam birahi!
AYESHA : Birahi?
KOOR LAKI-LAKI : Dia nyaris keluar!
AYESHA : Di tengah-tengah betina?
KOOR LAKI-LAKI : Mereka dayang2
AYESHA : Seperti cerita lama keraton?
KOOR LAKI-LAKI : Mereka bidadari.
AYESHA : Seperti ceri sorga kitab suci?
LAKI-LAKI I : Mereka hostess, karena sorga Indonesia. Seperti, nite club, steambath, bus malam, kereta senja, atau kemah2 malam pantai Bina Ria, atau biro2 urusan pelancong, dengan biaya enam gelas bir.
AYESHA : Kenapa harus enam gelas?
LAKI-LAKI I : Cebok dong, bau!
AYESHA : Itu sorga kalian.
LAKI-LAKI I : Sorga mana yang wangi?
KOOR LAKI-LAKI : Coba sebutkan!
AYESHA : Sorga……
KOOR LAKI-LAKI : (MENYANYI)
Sorga yang jauh, neraka yang jauh
Kenapa kesana segala tujuan
Kenapa kesana segala akhirnya
Kenapa kesana segala pengharapan
Sedang yang dekat kau bikin melarat
Sedang yang dekat kau bikin sekarat
Sorga yang jauh, neraka yang jauh
Konon!
KOOR PEREMPUAN : (MENYANYI)
Sorga yang dekat, neraka yang dekat
Hanya sejengkal dari tanganmu
Kenapa kau palingkan biji matamu
Kenapa kau katupkan gigi lakimu
Kenapa, kenapa?
Hey, hey, hey!
KOOR PEREMPUAN : (MENARI TARI BIDADARI DALAM GUA DARI BABAD ARJUNA BERTAPA)
LIMBO : (NGERI, TAKUT DAN BIRAHI) Ayesha!........
AYESHA : (mendengar jelas panggilan Limbo dari dalam gua) Limbo.
LIMBO DAN AYESHA SALING MENCARI JEJAK DENGAN KOMPAS GEMA SUARA, KELUAR DAN TURUN NAIK, TIMBUL TENGGELAM, TENGGELAM DI GANG-GANG SEMPIT MELINGKAR-LINGKAR DALAM BANGUNAN, BINGUNG, LABIRINTH.
KOOR LAKI2 & PEREMP : SEBAGAI LABIRINTH
LIMBO DAN AYESHA HAMPIR BERTEMU KEDUANYA DITANGKAP OLEH KOOR DAN MATA MEREKA DITUTUP. LIMBO DAN AYESHA MENJADI BUTA DAN GELAP.
KOOR : (PENJELMAAN SENSASI)
LIMBO : (MEMEGANG SATU TUBUH LELAKI YANG DIKIRANYA AYESHA)
AYESHA : (MEMEGANG SATU TUBUH PEREMPUAN YANG DIKIRANYA LIMBO)
LIMBO : Ayeshaku
AYESHA : Limboku
LIMBO : Segala yang hitam persis asalku
AYESHA : Segala yang persis perut ibuku
LIMBO : Aku ngendon dalam rahim
AYESHA : Aku kerasan sebagai janin.
LIMBO : Kurindukan darah dan susu tanpa pisah
AYESHA : Kuhirup cinta dan benci tanpa katup
LIMBO : Aku sel yang cair
AYESHA : Barangkali tak sengaja berbuah
LIMBO : Aku ruh dekat kursi TUHAN
AYESHA : Dan kudengar malaikat berbisik iri kepadaku
LIMBO : Aku turun di lembah subur
AYESHA : Meluncur bagai bunga-bunga angin.
LIMBO : Ditiup ke dalam rahim
AYESHA : Ngendon sebagai janin
LIMBO : Hitam adalah surga
AYESHA : Gelap hampir sempurna.
KOOR : (MENYANYI SYAHDU, GUMAM LAGU NOSTALGIA CINTA)
LIMBO : (MENCIUM AYESHA KHAYAL)
AYESHA : (DICIUM LIMBO KHAYAL)
AYESHA KHAYAL MEMBUKA TUTUP MATA LIMBO
LIMBO KHAYAL MEMBUKA TUTUP MATA AYESHA
KOOR : TERTAWA!
LAKI-LAKI I : Bercinta dalam gelap memang nikmat, seperti kucing di kedai daging.
PEREMPUAN I : Bercinta dalam gelap harus lihai biarpun menggigit bibir sumur.
KOOR : TERTAWA
AYESHA DAN LIMBO : (TERSIPU-SIPU)
KOOR : (MEMBIKIN RITMA DENGAN TEPUK TANGAN DAN BENTAKAN KAKI)
LIMBO : (TERGERAK OLEH KEKUATAN MAGIS SUARA TERSEBUT)
AYESHA : (IDEM)
PUNCAKNYA SEMUA REBAH SEPERTI BUAH2 MATANG JATUH DARI POHON TINGGI.
------------------------------------oooooOOOooooo---------------------------------
(PAUSE)
LIMBO : Ayesha…….
AYESHA : Limbo…….
LIMBO : MERANGKAK KE DINDING
AYESHA : MERANGKAK KE TEPI LAIN
KOOR : MERANGKAK MUNDUR, EXIT.
LIMBO : (BERDIRI MENGHADAP DINDING)
AYESHA : (IDEM)
AYESHA DAN LIMBO : (SALING MENDEKAT HENDAK MEMPERTEMUKAN TANGAN MEREKA)
KOOR : TIBA2 BERMUNCULAN MEMBAWA POSTER, GAMBAR, DENGAN SEGALA CORAK MEMBATALKAN LIMBO & AYESHA YANG (…missing text…)
AYESHA & LIMBO : TIMBUL TENGGELAM DI SELA-SELA POSTER, RUMBAI2, LEMBARAN KERTAS, HINGGA KEHILANGAN JEJAK DAN TERSESAT JALAN.
LIMBO : MEMANDANG SESUATU TEMPAT ITULAH TITIK AYESHA
AYESHA : IDEM
LIMBO & AYESHA : Dari arah yang berlawanan berjalan di awang dengan rombongan masing-masing.
LIMBO : Aku pernah berlayar dalam sukmaku
Hampir sempurna lorong diriku
Jatuh dan bangun bukan impian
Haripun lewat tanpa jadwal
AYESHA : Yang purbakala
Yang akan datang
Tanpa jarak aku bergerak
Aku bergerak
LIMBO : Sudah kuduga pasti datangnya
Tapi tak kuharap ini lambangnya
Sejuta tahun, sejuta tahun
Barangkali satu detik
Aku mencari bukan menunggu
AYESHA : Awal musim bunga
Awal musim rontok
Sepatu di ujung bulan
Cinderelakah aku
Wahai pangeran montok.
LIMBO : Inangku lengkap
Dayang-dayang selusin kamar
Istana musim panas, istana musim hujan, istana khatulistiwa. Kapan di ranjang bukan Cuma bantal dan guling?
AYESHA : Hai, hai……………..!
LIMBO : Amboi, amboi……....!
KOOR : Hayyyaaaaaaaaaaaaaaaaaa!
KEDUA ROMBONGAN BERHADAPAN DI TENGAH JALAN.
AYESHA : (KOMANDO KEPADA ROMBONGANNYA) Stooop!
LIMBO : Hey! Jangan menghadang jalanku
LIMBO : Huh galaknya
AYESHA : Apa kamu bilang?
LIMBO : Galak mbak yu!
AYESHA : Kau kira bakul jamu, lihat tampangmu dulu, monyong!
LIMBO : (MELONCAT-LONCAT DAN BERSUARA SEPERTI KERA)
AYESHA : (MENJERIT KETAKUTAN)
LIMBO : Untung tak kau bilang macam, bisa runyam kan.
AYESHA : Hey, macan!
LIMBO : (BERBALIK MENGAUM DAN POSISI MAU MENERKAM)
AYESHA : (MENGACUNGKAN BEDIL KAYU)
LIMBO : (KAGET! ANGKAT TANGAN TERTAWA)
(PAUSE)
AYESHA : Mentang-mentang laki-laki, nama kamu siapa?
LIMBO : (MENGELUARKAN GULUNGAN KERTAS) Ajudan bacakan!
AJUDAN : Nama dalam kurung dirahasiakan. Alamat di jalan nomor sekian. Jabatan, putra mahkota yang tidak pasti karena sang raja maunya seumur hidup dan tidak mati-mati.
Segala sekolah pernah diinjak sampai kepala guru. Hobby, biasa orang muda. Pengalaman biasa, titik dua satu, naik turun gunung dan lembah. Dua, berdebat mati-matian dengan sang raja soal demokrasi. Tiga, membajak dalam kurung kapal terbang sepuluh kali kapal laut lima kali, mobil berkali-kali becak berkali-kali dengan resiko babak belur dikeroyok dan….. dan…. membajak perawan. Empat, mimpi jadi Tuhan. Pengalaman penting : lahir dari rahim ibu dan lapangan dunia yang sudah tua dan brengsek, tapi enggan berdamai. Sialan cita2 jadi presiden tahun dua ribu keanggotaan non parpol, non golkar, non golput, non geng, non komunis dalam kurung kiri lima atau kiri baru, non CIA. Titik dua Vralioka, ejaan baru vralika. Sekian tanda tangan dirahasiakan.
AYESHA : (TEPUK TANGAN) yahut, yahut, yahut mek! Cocok buat calon suami saya, cita2ku sejak lahir jadi first lady tapi tugasku enggak mau cumagunting pita (KETAWA)
LIMBO : Omong-omong what is your name baby?
AYESHA : Hey! Monyet coro londo!
LIMBO : Sialan!
KOOR AYESHA : (TERTAWA)
AYESHA : Kamu memang sialan. Kulitnya hitam ngomongnya bule.
LIMBO : Engga kita kan jamannya international.
AYESHA : We lha, kujur monyet import
KOOR AYESHA : Kujur minyak angin internasional cap monyet import (KETAWA)
LIMBO : Betul aku memang diimport dari negri yang jauh, negri RUH! Lebih tinggi dari negri malaikat.
AYESHA : Pakai importir?
LIMBO : Pakai dong. TUHAN
AYESHA : Ya illaaa hebaaaat!
LIMBO : Itulah kehebatan makhluk Tuhan yang (….missing text…)
AYESHA : Kamu bangga?
LIMBO : Tidak perlu dikatakan. Cukup dirasakan, dan (…missing text….). suatu pengalaman penting jika ada yang bilang hidup di dunia sia-sia. Orang linglung! monyet lebih baik dari kepalan kepalanya.
(PAUSE)
LIMBO : Ah tak usah kita debatkan cara kusir, karena hal yang ada karena kita nyatakan ada. Yang penting……. Nama kamu siapa?
AYESHA : Tanya-tanya nama, melamar apa? Sudah tutup pendaftaran.
LIMBO : Biasa, pintu tutup tapi sogok boleh masuk, okey..???
AYESHA : Aku bilang tutup, tutuuuuuuooooop!
LIMBO : We, la jujur nona ini anti sogok!
KOOR AYESHA : Ini nona baru, ini baru nona………
KOOR LIMBO : Anti sogok? Tapi betul anti gosok? We la kujur….
KOOR AYESHA : Heeeee……. Tukang gosok……
KOOR LIMBO : Tapi, kita pinter nggosok, enak…enak…
KOOR AYESHA : Cabul, cabul….!
KOOR LIMBO : Nasi kembul kipas angin. (MENYANYI) bilang cabul taunya kepingin. Enak…enak…
KOOR AYESHA : Kipas angin merek nasional
Nggak kepingin kalian binal
Binal-binal, tahu engga….
KOOR LIMBO : Merek nasional bikinan Jepang
Biarin binal engga gampang
Angel-angel…….
LIMBO & AYESHA MENYINGKIR KE BELAKANG TERSAMA OLEH KOOR, SEJOLI DAN MAIN
KOOR AYESHA : Bikinan Jepang bekas rongsokan
Gampang engga gampang
Bau rombengan (menutup hidung)
KOOR LIMBO : Bekas rongsokan importer haji Sukri
Biar rombengan
Tidak kaya Ayesha (ngomong) : anak petani
Lahir dari jumbleng, muncul di ladang rumput
Awal musim bunga, sepatu engga punya, bilang
Dicuri bulan, we lha kujur…..mau jadi istri pangeran
Nampang, nampang………
KOOR AYESYA : Hidup pangeran… Monyet!
KOOR LIMBO : Jangan sembarangan dia ahli filsafat!
KOOR AYESYA : Filsafat……. Monyet!
KOOR LIMBO : Kakek moyangmu juga monyet.
KOOR AYESYA : Siapa bilang?
KOOR LIMBO : Embah bilang kakekmu Darwin.
KOOR AYESYA : Kita engga kenal!
KOOR LIMBO : Kenal engga kenal, buktinya: kalian punya ekor!
KOOR AYESYA : Mana, mana, mana? (memperlihatkan pantat)
KOOR LIMBO : Tuh…. Ekornya di depan!
KOOR AYESYA : (BERBALIK) Darwin cabul!
KOOR LIMBO : Ekor….. ekor…..
KOOR AYESYA : Porno…. Porno…..
KOOR LIMBO : Ekor-ekor…. Bukti Lagi?
(Laki-laki dari rombongan Ayesha seorang berteriak)
: Ayesha bilang… dicuri limbo…..
KOOR AYESYA : Bangsawan-bangsawan pencuri!
(Perempuan dari rombongan Limbo seorang berteriak)
: Hey Limbo bilang… dicuri ayesha…
KOOR LIMBO : Petani-petani pencuri!
KOOR AYESYA : Ayesha….
KOOR LIMBO : Limbo….
KOOR : (MENCARI PEMIMPIN MEREKA)
Ayesha…
Limbo…
(ANTARA CELAH LAKI-LAKI MEREKA TAMPAK LIMBO DAN AYESHA SEDANG ASYIK MEMADU KASIH)
KOOR : (Berhenti serentak, tertegun, melihat kedua Ayesha Limbo lupa daratan dan eviroment)
POSE TABLEAU
LIMBO : (Berdiri menggendong Ayesha ke tengah koor)
Hadirin dan hadirat kami akan kawin hari ini.
LAKI LAKI I : Edaaaan! Kenal baru enampuluh seken sudah keburu kawin, gawat… gawat… gawat….
PEREMPUAN I : Aku tak sudi Ayesha keburu kawin.
POSE
AYESHA : Saudara-saudaraku benar aku di lamar, dan kuterima.
KOOR : Haaaaa……..
LIMBO : Inilah perjalanan pengantin, dan sudah ketemu jodohku, pegawai-pegawai ketemu jodoh di kantoran, guru-guru ketemu jodoh muridnya sendiri, penjudi-penjudi main cinta di kamar rolet, hostess menggaet cinta kantong langganan
Dewi jumpa Sukarno di lobby hotel
Sakera menguntit Marlena di kebun tebu.
Kakekku jumpa nenek ketika main gobak sodor,
Petuah beliau: Tresna jalaran saka kulina.
LIMBO & AYESHA : Dan limbo figure jalanan, melamar Ayesha di trotoar (Berpegangan tangan berkasih mesra gaya tunil dardanela)
LIMBO : Demi Tuhan ditanganNYA segala cinta bersumber. Ayo, ke penghulu Ayesha butuh restu.
AYESHA : Juga ke Pastur untuk Limbo, beliau akur kita bersyukur.
KOOR : Wahai Tuhan nan budiman kami pengantin, kami calon pengantin,kami cucu Hawa dan Adam bukan kelinci percobaan.
LAKI LAKI I : Barisan ke penghulu…. Siaaaap, Maju jalan!
(LIMBO &AYESHA BERDIRI PALING DEPAN)
DI DEPAN KANTOR PENGHULU:
Koor : Assalamu’alaikum
KYAI : (BELUM MUNCUL)
KOOR : Assalmu’alaikum
KYAI : (BELUM MUNCUL)
KOOR : Assalamu’alaikum
Assalamu’alaikum
KYAI : (BARU MUNCUL / NAMPAK BARU TURUN DARI TIKAR SEMBAHYANG)
Astagfirullah…….
Kalian mau apa? Demonstrasi? Kalian mengganggu orang-orang sholat magrib, anak-anak siapa kalian ini ha?
Masya Allah… (BERDOA)
Ya, Robbi, sudah begitu rebutnya dunia ini, tidak kenal waktu, tidak kenal panggilan sholatmu.
Ya, Robbi, tunjukkan anak-anak ini ke jalan yang lempeng jalan yang kau beri nikmat.
KOOR : (SYAHDU) Amiiin.
KYAI : (KHOTBAH)
Semoga kalian adalah anak-anak muda, sebagaimana disabdakan Kanjeng Nabi Muhammad bahwa: Pada hari kiamat kita memperoleh syafaat antara lain ialah segolongan pemuda yang hati mereka senantiasa bergantung kepada masjid. Semoga kalianlah segolongan pemuda itu, anak-anakku.
KOOR : Amiiiin!
KYAI : (MENGUSAP WAJAH DENGAN KEDUA TANGAN SEBAGAI KEBIASAAN SETELAH DOA)
Nah, anak-anakku kembalilah pulang, hari ini rembang malam
Ayah ibumu menunggu dengan hati tak kunjung tentram.
LAKI LAKI I : Kyai, kami memang punya rumah, teapi ayah ibu tak tidak pernah singgah, Cuma jongos babu yang ramah tamah, karena uang kami melimpah ruah.
Lalu kemana kami harus pulang
Selain begadang di jalan-jalan.
KYAI : Oh, anakku, malang, kalau demikian hal, kalian bergadanglah di Masjid tempat malaikat membawa berkat.
LAKI LAKI I : Terima kasih kyai, tetapi sebelum ke masjid, kami mohon kyai berkenan di hati.
KYAI : Oh, tentu, tentu anakku. Apa gerangan?
LAKI-LAKI I : Ini Kyai, (MENYERAHKAN LIMBO DAN AYESHA)
Limbo dan Ayesha mau kawin!
Demi Tuhan, restu kyai sebagai penghulu kami harapkan.
KYAI : Sebentar anak-anak manis (MASUK, KELUAR MEMBAWA BUKU BESAR)
Nama?
AYESHA : (MAJU) Ayesha.
KYAI : Binti?
AYESHA : Pak tua.
KYAI : Nama ayahmu siapa?
AYESHA : Pak tua saya panggil sehari-hari begitu.
KYAI : Benar manis itu barangkali julukan, tentu punya nama lengkap yang sebenarnya.
AYESHA : Saya kurang tahu.
KYAI : Baiklah (MENULIS), status: Perawan, Janda, atau….
AYESHA : Perawan.
KOOR : Tirrrrrrrrrrr.
KYAI : Terima kasih (KEPADA LIMBO) calon suami.
LIMBO : Ya, bapak.
KYAI : Nama?
LIMBO : Limbo.
KYAI : Bin?
LIMBO : Bin, bin, bin…
KYAI : Iya, bin siapa? Nama ayahanda?
LIMBO : Oh sang raja
KYAI : Namanya?
LIMBO : Kami di rumah panggil beliau sang raja
KYAI : Ibumu? Sang Ratu?
LIMBO : (MENGANGGUK)
KYAI : Status: Lajang, duda atau….?
LIMBO : Bujangan Bapak.
KYAI : (KEPADA AYESHA) ayahmu mana Ayesha?
AYESHA : Di hutan Kyai sedang sibuk membuka ladang baru.
KYAI : Kalian kawin lari
AYESHA : Tidak Kyai, Pak Tua sudah beri izin pada Ayesha sejak Ayesha bayi.
KYAI : Walimu di sini?
AYESHA : Wali hakim, Kyai saja.
KYAI : Baiklah…
(KEPADA LIMBO) Limbo calon pengantin laki-laki silahkan membaca sahadat sebagai pernyataan engkau seorang muslim.
LIMBO : (TEGANG, BINGUNG)
AYESHA : (MENYELA) Calon suami saya Katolik, Kyai.
KYAI : (TERBELALAK) Ya Robbi, kamu sendiri Ayesha?
AYESHA : Muslimat Kyai, saya murid ngaji nyai Siti.
KYAI : Ini tidak bisa jadi, Ayesha. Kau kan sudah paham, seorang muslimat dilarang menikah dan dinikahi laki-laki kafir.
AYESHA : Keliru Kyai, dia bukan kafir ahli kitab.
KYAI : Sama saja.
AYESHA : Beda, kyai.
KYAI : Maksud saya, baik dia kafir atau ahli kitab dilarang menikahi muslimat, ini hokum Tuhan. Kecuali kalau dia masuk Islam.
AYESHA : Kami tetap dalam keyakinan maing-masing.
KYAI : Nah, jika demikian Ayesha, tidak bisa jadi. Dilarang.
AYESHA : Tetapi kenapa seorang laki-laki Islam boleh kawin dengan wanita bukan Islam.
KYAI : Itu sudah ketentuan kitab suci.
AYESHA : Saya tidak mengerti kyai.
KYAI : Agama bukan pengertian yang selalu harus bisa dimengerti, cukup di yakini, Iman namanya.
AYESHA : Apakah iman sama dengan keyakinan sempit? Kyai
KYAI : Iman ialah menyatakan sah pasrah manuia kepada Al Khaliq.
AYESHA : Tetapi Tuhan tidak menyempitkan gerak bebas manusia, makhluk yang dikarunia keistimewaan. Al Aql. Akal pikiran dengan segala manifestasinya.
KYAI : Al Aql dibatasi oleh An Naql. Wahyu Tuhan dan sabda Rosul.
AYESHA : Justru itulah Kyai. An Naql kita tafsirkan dengan kemampuan akal keduanya saling isi mengisi. An Naql diturunkan kepada manusia karena manusia memiliki Aql. Diberikan kepada setiap kepala sebagai tafsir dan memahami An Naql. Al Khaliq berbicara kepada makhluk dengan bahasa yang dipahami makhluk, dan bukan mengada-ada, tidak boleh ada jurang Ignorance. Kejahilan Kyai.
KYAI : Oh, Ayesha, Ayesha… kedatangan kalian kemari bukan untuk berdebat soal ini dan itu. Kalian datang untuk kawin, titik. Dan saya pegawai negeri urusan kawin mengawinkan, menolak permohonan kalian kecuali Limbo….
AYESHA : Limbo seorang katolik yang saleh. Saya terkesan oleh jiwa agamanya dan dinamisnya. Itulah calon suami yang cocok untuk bagi Ayesha. Perduli dia agamanya apa.
KYAI : Kau liberal Ayesha.
AYESHA : Dan muslimat, Kyai.
KYAI : Kalau begitu…, maaf, saya tidak bisa mengizinkan, selamat malam (akan exit)
KOOR : Wassalmualaikum.
KYAI : (BERBALIK)
KOOR : (SUDAH MENINGGALKAN TEMPAT KYAI)
KYAI : (EXIT)
AYESHA : Ayo ke gereja pasturmu, Limbo!
LAKI-LAKI I : (KOMANDO BARISAN) Barisan mau ke patur… Siaaap!
KOOR : (SIAP-SIAP LIMBO DAN AYESHA DIPANGGIL BEBERAPA ORANG)
LAKI-LAKI I : Majuuuu…. Jalan!
KOOR : (BERGERAK)
--------ooooOOOoooo--------

DEPAN PINTU GEREJA
KOOR : Rama Pastur, Rama Pastur
Damai kerajaan Sorga
Damai Kerajaan Langit
Damai semoga di bumi
Perang ialah iblis pedagang bedil, dor, dor, dor, mampuslah kau!
PASTUR : (MELONGOK DI SELA PINTU)
KOOR : Hidup Rama Pastur!!!
PASTUR : (MUNCUL MENGANGKAT TANGAN BERDOA)
Yesus Kristus, Raja diraja
Inilah ammal …. Dan Kabil
Putera-putera Adam yang saling bertikam
PASTUR : Junjungan segala raja
Gerejamu terlalu sempit menampung mereka
Yang terlahir dari dosa dan dosa
Roh Kudus
Datanglah menghampiri hati mereka
Hembuskan angin yaman kebun zaitun sorga
Amien…..
KOOR : Amieeeen.
PASTUR : Selamat malam anak-anak muda.
KOOR : Banyak tabik Rama Pastur.
PASTUR : Ada kabar?
KOOR : BAnyak dan baik-baik.
PASTUR : Demikianlah hendaknya senantiasa.
KOOR : Amieeen.
PASTUR : Ada keperluan?
LIMBO : (MAJU) Penting sekali, Rama. Perihal kami sendiri dan calon istri kami.
PASTUR : Oh, mendesak rupanya.
LIMBO : Begitulah Rama. (MENGATUR CAKAP)
Eh, begini Rama, eh saya. Limbo, eh berkehendak kawin dengan Ayesha, sudah saya lamar dan Ayesha menerima.
PASTUR : Aye…
LIMBO : Ayesha.
PASTUR : Aye-sha? Yang mana?
AYESHA : (MAJU) Saya, Pastur…..
PASTUR : Oh, kalian anak-anak manis bagai dua merpati di puncak Kathedral. Dari sarang yang lama, kembali juga ke sarang yang sama. Duhai kalian Nasrani teguh….
KOOR : Amieeeen.
PASTUR : Aye-sha, betul engkau menerima lamaran pemuda Limbo?
AYESHA : Betul Pastur dengan ikhlas hati.
PASTUR : Engkau rela jadi istrinya?
AYESHA : Rela, Pastur.
PASTUR : Anak Limbo, engkau menerima Ayesha jadi istrimu, dan engkau menerima jadi suami Ayesha?
LIMBO : Dengan sepenuh hati.
PASTUR : Engkau Katholik?
LIMBO : Katholik!
PASTUR : Bersumpah demi kristus!
LIMBO : Saya sumpah.
PASTUR : Engkau Ayesha?
AYESHA : Saya Pastur.
PASTUR : Engkau Katholik?
AYESHA : (PAUSE) Bukan, saya muslimat.
PASTUR : Ha?!
AYESHA : ISLAM.
PASTUR : Lalu engkau akan mengikuti suami?
AYESHA : Saya ikut Limbo sebagai suami saya, tetapi…
LIMBO : (MENYELA) Rama Pastur, kami tetap memeluk keyakinan masing-masing.
PASTUR : Saya berkati kalian demi Kristus dan gereja.
Kalian hendaknya jadi dua nasrani yang patuh.
LIMBO : Saya patuh Rama, itulah sebabnya saya ke gereja memohon berkat.
PASTUR : Tidak boleh jadi, calon istrimu belum menyatakan diri sebagai Nasrani.
LIMBO : Pastur, saya sudah dewasa. Iman aya kepada gereja tidak pernah goyah. Berkatilah saya sebagai suami Ayesha.
PASTUR : Saya keberatan istrimu diluar berkatku. Ia tidak bisa kuberi tolong.
LIMBO : Rama Pastur apakah ia di luar kasih Tuhan?
PASTUR : Tuhan ALLAH melimpahkan kasihNYA kepada segala penjuru bumi dan kita menebarluaskannya lewat mimbar gereja. Mereka harus kita tuntun ke dalam rumah Tuhan.
LIMBO : Rama Pastur, saya menghormati Ayesha karena teguh menjalankan Islamnya. Saya hendak merumuskan toleransi bukan sekadar basa-basi, jamuan diskusi, tetapi langsung praktek sehari-hari.
PASTUR : Saya bukan ahli diskusi, Limbo, maaf.
LIMBO : Sayapun bukan tukang khotbah, rama. Tapi sudah kadung cinta Ayesha.
KOOR : Rama Pastur, kami datang dengan damai, untuk mohon berkat bagi cinta Limbo dan Ayesha agar selamat dunia akherat.
PASTUR : Terima kasih, anak-anakku
Sayang saatnya tidak tepat
Saya mesti kembali berdoa dalam khalwat
Selamat malam.
KOOR : Rama Pastur, Rama Pastur
Damai kerajaan sorga, Damai kerajaan langit
Damai semoga di bumi
Perang ialah iblis bau mesiu dor, dor, dor, ciuuuuus….
PASTUR : (EXIT)
KOOR : (MENINGGALKAN HALAMAN GEREJA)
LAKI-LAKI III : Ah, kita memang selalu tidak cocok bulan.
PEREMPUAN III : Karena tak sudi jadi kambing kebiri.
LIMBO : Karena kita adalah kambing-kambing manis
Makan hati, makan nasi, makan rem
Dan kita kaya, apa saja dapat kita beli.
Apa saja kita jual, dan tetap kaya.
LIMBO : Karena kita adalah kambing menyusu. Gemuk, manis, tidak kurang darah. Kita bisa minta apa saja.
AYESHA : Dan orang tua, orang tua, hrap jangan melihat dengan melotot nan curiga, kita anak-anakmu yang nanti jadi pengasuh-pengasuhmu, okey….
PEREMPUAN I : Kita adalah kambing-kambing manis, dari kemah Rasul Ibrahim.
LAKI-LAKI I : Maaf Tuhan!
Terkadang kita tak sempat ke masjid, tak sempat ke gereja. Seharian terguncang musik underground, sampai tulang berutu.
Namun Tuhan
Kita tetap berdoa dalam irama gentayangan.
Itulah tangan-tangan yang berusaha menggapaimu.
LIMBO : Demi Tuhan di tanganNYA segala cinta bersumber.
LIMBO & AYESHA : Kita tidak stop di sini atau berputus asa, jalan teramat panjang buat mimpi teramat singkat.
LIMBO : Ayo kawan kita teruskan.
KOOR : Limbo kemana pula?
LIMBO : (AGAK BENGONG)
AYESHA : Kemana Limbo?
LIMBO : Ke kantor gubernur, eh bukan ke kantor pencatatan sipil
Bergerlijstand
KOOR : Jam berapa Limbo, sudah malam.
LIMBO : Kita tunggu smpai besok.
KOOR : Besok hari minggu tuan? Stand pada libur dan tidur.
LIMBO : Oh nasib.
AYESHA : Bagaimana hari senin?
LIMBO : Aku khawatir bunga merah di dadaku sudah padam.
AYESHA : Tak usah keburu.
KOOR : Kita khawatir kalian melompati pagar kurang yakin
LIMBO & AYESHA : Oh, jalan buntu.
PAUSE
(TIBA-TIBA DATANG SESEORANG)
PAWANG : Cinta memang empedu campur madu, memabukkan. Cinta ialah penyakit pelit, dan konyolnya sisakit tak perlu dokter atau obat. Tetapi dukun atau jimat, barangkali cinta soal kwalat.
Aku ada akal.
Demi cinta kalian aku turun tangan.
KOOR : Ho, mau jadi pastur?
Ho, mau jadi Kyai?
PAWANG : Bukan pastur bukan kyai, berkat dan restu pasti dijamin aman kalian kawin.
KOOR : Ho, kawin gelap! (KETAWA)
PAWANG : Kawin jelas, terang benderang, ayo kelapangan
KOOR : (OGAH-OGAHAN TAPI KEPINGIN TAHU)
PAWANG : Pakai syarat: bawa arang kwalitet no. 1, bara api, kemenyan, dupa wangi, lilin dan segala macam sesajen. Lengkap bisa didapat di toko Cina, ayo kawan.
KOOR : (BERGERAK KELAPANGAN)
LIMBO DAN AYESHA : (TIDAK PATAH SEMANGAT TAPI LESU)
--------ooooooOOOOOoooooo----------
KE LAPANGAN
Koor : (DUDUK MELINGKAR SIKAP SEMEDI)
LIMBO &AYEDSHA : (DI TENGAH-TENGAH)
PAWANG : (MENGATUR UPACARA)
“HONG WILAHING BAWONO SEGOLO LANGGENG”
KOOR : Hong wilahing bawono segolo langgeng
PAWANG : Demi cinta yang tak dapat dibendung, demi cinta yang kadung terujung.
KOOR : Hong wilahing bawono segolo langgeng
PAWANG : Demi cinta yang kebelet. Tegakah kalian dewa dewi asmara di swarga loka melihat proses ini jadi mapet.
KOOR : Hong wilahing bawono segolo langgeng
PAWANG : Duhai, dewa dewi pusaka nusantara, turunlah barang sekejap ke mayapada.
KOOR : Hong wilahing bawono segolo langgeng
PAWANG : sengaja tidak kuundang dewa dewi asmara yang lain dari negeri lain. Tidak dewi Aprodite, aku enggan sok Yunani, tambahan ia suka telanjang dan pamer gituan.
Tidak dewi Apollo, proyek nasa Cape Kenedy bisa kalang kabut.
Tidak dewi Venus, maha dewa Zeus di Olimpia, entar gledeg dengan kilat satu juta kilowatt. Tidak dewa Shubidu dari kuil Romawi, aku engga doyan spaghetti.
Tidak Qoir dan Laila dari padang pasir Arabia, aku engga tahan bau unta.
Tidak juga dewa dewi produksi-produksi film India, soalnya perutku gampang mual nonton martabak.
KOOR : Hong wilahing bawono segolo langgeng
PAWANG : Dunia dewa dewi asmara, pusaka nuantara
Dewi ratih nan jelita, dewa Kamajaya nan perkasa.
Turunlah barang sekejap ke mayapada. Lapangan rumput balai kota.
Dewi Ratih nan jelita, dewa Kamajaya nan perkasa.
KOOR : Hong wilahing bawono segolo langgeng
PAWANG : (MENAMBAH DUPA DAN KEMENYAN)
DEWI RATIH DAN KAMAJAYA TURUN DARI KAYANGAN KE TEMPAT PERMAINAN LEWAT KEPULAN ASAP.
KOOR : (SEDANG ASYIK MENGULANG MANTERA)
PAWANG : (MATAK AJI KONSENTRASI)
DEWI RATIH : DUH, Tuan pawing dikau ganggu kemesraan dan cuti panjang di swargaloka. Apa gerangan yang mesti kami lakukan?
KAMAJAYA : Duhai, tuan pawing kami sedang memetik bunga perawan yang bergetar sarinya disungut kumbang laying. Tiba-tiba panggilan tuan yang gemuruh, separuh pekak kami turun lewat cerobong. Segala perintah tuan kami sandang.
KOOR : Hong wilahing bawono segolo langgeng
PAWANG : (MENGANGKAT KEPALA MENATAP RATIH DAN KAMAJAYA) Terima kasih, terima kasih atas kesediaanmu Ratih dan Kamajaya.
KAMAJAYA : Seribu syukur dari kami, bapak tua.
Sempat juga kami menikmati kota ini yang emakin sibuk dan bercahaya. Kami di panggil Walikota?
PAWANG : Bukan, Walikota sedang sibuk menyusun Repelita. Tidak ada waktu buat kalian.
DEWI RATIH : Apa itu Repelita?
PAWANG : Itu soal pembangunan dunia, bukan untuk swargaloka dan dewa dewa. Kalian cukup nonton saja.
KAMAJAYA : Dan itu semua tontonan apa?
PAWANG : Untuk itulah kalian kupanggil.
KAMAJAYA : (KEPADA RATIH) Dimas, kita akan nonton anak-anak muda, manis-manis, ayu-ayu kaya dimas, dan ganteng-ganteng kaya aku. Mereka pesta dance in the street.
DEWI RATIH : Apa itu pesta dansen indestriiit kakang mas?
KAMAJAYA : Itu who tari serampangan kayak……
(MEMBISIK: SUGRIWA DAN SUBALI ALIAS MONYET-MONYET)
DEWI RATIH : (TERTAWA) Bau mulutnya jengkol sorga skepsils made in England, kurang lebih.
PAWANG : Aku Cuma sedikit minta tolong, ini Limbo dan Ayesha mau kawin bukan tanpa nikah, berkatilah calon pengantin ini. Restu kalian lebih manjur dari jimat wali.
DEWI RATIH : Lucu banget bapak tua ini.
Tuan lebih kuasa daripada kami, kami cuma lambang puti kirana dari jenggala. Kakangmas Kamajaya lambang Prabu Kameswara titisan dewa kama yang terbakar api batara Syiwa. Sedangkan tuan adalah pawing di bumi dan di swargaloka.
PAWANG : Bukan begitu maksudnya Ratih.
Kalian Ratih dan KAmajaya lambing asmara tak punah-punah. Sekian lakon cerita telah kalian lambangkan dengan sempurna. Membikin iri hati suralaya.
Dengan wejangan kalian Limbo dan AYESHA jadi lambing cinta di dunia ini sekaligus metafisika.
PAWANG : Bukan lantaran Pastur atau Kyai
Tetapi langsung makna puisi.
Segala kitab suci tanpa puisi, keringkaya KUHP dan sejenisnya. Demikian saya kutip dari buku seorang penyair, essayis, wartawan, pemenang anugerah seni Republik Indonesia tahun 1972, Gunawan Muhammad, yang berjudul Potret seorang penyair muda sebagai simalin Kundang.
Nah Limbo dan Ayesha ilahkan berdiri. Kamajaya dan Ratih padulah mereka dengan hakekat cinta,…..
KOOR : (GUMAM LAGU UPACARA WEJANGAN)
KAMA & RATIH : (MEMADU CALON PENGANTIN)
PAWANG : (MENGEPULKAN ASAP TAMBAH TEBAL)
KOOR : (MAKIN SAHDU DAN MEMERAS HARU)
KAMA & RATIH : (TIBA-TIBA LENYAP)
LIMBO & AYESHA : (MENJELMA MENJADI PENGANTIN SEMPURNA)
PAWANG : (KEMBALI KE SELA-SELA KOOR)
KOOR : Selamat datang pengantin baru.
LIMBO & AYESHA : Selamat kepingin calon-calon.
LAKI-LAKI I : Ayo pesta kita rayakan.
KOOR : Setuju, setuju! Selamat Limbo, selamat Ayesha.
LIMBO & AYESHA : (BERUNDING DENGAN KOOR, MERENCANAKAN PESTA)

---------- SEMUA EXIT ------------
PESTA KAWIN
LAKI-LAKI I : (BERKELILING MEMBAWA GONG KECIL KESEGENAP PENJURU)
Perhatian ! Perhatian !
Attention ! Attention ! (CARA PERANCIS)
Diumumkan dengan hormat nan sangat, pesta kawin tuan Limbo anak raja en nona Ayesha binti pak tua malam ini juga. Dengan segala adat istiadat dan embel-embel plus minus lainnya maka pesta kawin ini untuk pertama kalinya di dunia barat dan timur, utara dan selatan, maupun di gugus bintang maupun planet-planet lainnya sejagad raya, dirayakan dengan cara yang tidak ketinggalan jaman yaitu:
Demam pawai dan sponsor-sponsoran, maaf kepada televisi republic mana saja, terpaksa kita bersaing demi tutup menutup …. Dan parasponsor pesta kawin Limbo dan Ayesha tercantum sebgai berikut:
(MEMBAWA DAFTAR SPONSOR, SETELAH ITU KEMBALI KE KOOR, LALU MEMIMPIN ARAK-ARAKAN)
KOOR : (MENGARAK PENGANTIN)
LIMBO & AYESHA : (SETELAH DI ARAK BERKELILING DUDUK DI PELAMINAN).
LIMBO &AYESHA : (MEMIMPIN MELANTAI)
SELESAI SATU LAGU LIMBO DAN AYESHA BERJALAN KE KAMAR PENGANTIN YANG BERTIRAI TEMBUS PANDANG.
KOOR : (MENYANYIKAN SELAMAT BUKA TIRAI)
LIMBO & AYESHA : (MELAMBAIKAN TANGAN)
Koor : (MENYANYI DAN MELAMBAI)
LIMBO & AYESHA : (MENYIBAK TIRAI, TABLEU… EXIT)
KOOR : (DI TENGAH NYANYI DAN TIRAI)
Selamat buka tirai perawan tingting
Selamat bergadanglah di ranjang yang reyot
Selamat tidur nyenyak semalam suntuk.
Hei, mana mungkin bisa tidur, goblog (TERTAWA)
Perhatian jangan terlalu banyak anak, KB bisa buyar
Mana mungkin berhasil, listrik sering gelap-gelapan
Hoooooo !!!!!
Jangan lupa sikat gigi, hey, hey, hey, entar… (KETAWA)
Gigi yang mana?
Selamet pecah duren !
Selamat, Mek.

-------------THE END---------------





Yogyakarta, Februari 2007
Diketik ulang oleh Studio Teater PPPG Kesenian Yogyakarta


Tidak ada komentar:

Posting Komentar