Sabtu, 09 Juli 2022

MALAM JAHANAM - Motinggo Boesje


Sinopsis
Di sebuah perkampungan nelayan, tinggallah Mat Kontan beserta istri (Paijah) dan anaknya (Mat Kontan Kecil). Soleman, teman dekat Mat Kontan, tinggal di seberang rumah mereka. Suatu malam, Paijah menunggu suaminya yang belum juga pulang. Ia mengkhawatirkan anaknya yang sedang sakit. Akhirnya, Mat Kontan pulang membawa seekor burung. Saat mengobrol dengan Soleman di teras rumahnya, dia menyombongkan burung perkututnya yang baru, juga istri dan anaknya. Soleman yang tidak tahan mendengarnya mengungkit-ungkit ketakutan Mat Kontan ketika nyawanya hampir melayang karena terperosok ke dalam pasir. Mat Kontan yang ketakutan rahasianya dibongkar langsung berbaik-baik pada Soleman.

Tak lama kemudian, Mat Kontan mulai menyombongkan diri lagi. Dia juga menuduh Soleman iri karena dia mempunyai istri yang cantik dan seorang anak. Soleman bahkan dianggap takut menyentuh perempuan karena sampai sekarang belum juga beristri.

Mat Kontan masuk untuk melihat burung beo kesayangannya tapi tidak menemukannya. Utai, seorang warga kampung itu yang setengah pandir, mengaku pernah melihat bangkai burung tersebut di dekat sumur dengan leher tergorok. Mat Kontan yang jadi marah besar mengajak Utai menemaninya ke tukang nujum untuk mengetahui siapa pembunuhnya.

Paijah yang ketakutan bertanya pada Soleman apa yang sebaiknya ia katakan bila ditanya oleh Mat Kontan nanti. Ternyata, Solemanlah yang membunuh burung beo kesayangan Mat Kontan agar perselingkuhannya dengan Paijah tidak ketahuan. Soleman berjanji akan melindungi Paijah.

Mat Kontan segera pulang karena tukang nujum yang hendak ditemuinya sudah meninggal. Dia pun marah-marah pada Paijah, bertanya siapa yang membunuh burung beonya. Paijah balas mengungkapkan kekesalannya pada Mat Kontan yang tidak pernah memikirkan dan menyayangi dirinya dan anaknya tapi selalu membangga-banggakan mereka pada semua orang.

Awalnya, Soleman membela Paijah dari amarah Mat Kontan. Lama-lama Soleman diam saja. Paijah kecewa pada Soleman dan mengaku sebagai pembunuh burung beo Mat Kontan. Soleman pun mengaku bahwa dialah pembunuh burung beo Mat Kontan dan bahwa dialah ayah dari anak Paijah, anak yang selama ini Mat Kontan bangga-banggakan sebagai anaknya.

Mat Kontan marah dan mengangkat goloknya. Soleman membuat Mat Kontan takut lagi dengan mengingatkannya tentang saat dia terperosok ke dalam pasir. Mat Kontan pergi dan menyerahkan Paijah serta anaknya pada Soleman.

Soleman menyusul Mat Kontan yang dikiranya hendak bunuh diri. Ternyata, Mat Kontan dan Utai sudah menunggu untuk membunuhnya. Soleman berhasil meloloskan diri dan pergi ke stasiun kereta api. Utai mati karena ditendang oleh Soleman.

Mat Kontan kembali ke rumahnya dan masih mau hidup dengan Paijah serta anak Soleman. Dia bahkan mulai memerhatikan anak itu dan pergi memanggil dukun untuk mengobati penyakitnya. Sayangnya, malam itu juga si bayi meninggal dunia.


MALAM JAHANAM 
Karya : Motinggo Boesje

DIPINGGIRAN LAUT KOTA KAMI, PARA NELAYAN TAMPAK SELALU GEMBIRA MESKIPUN MISKIN. RUMAH MEREKA TERDIRI DARI GUBUK, TIANG BAMBU BERATAP DAUN KELAPA. SUARA MEREKA YANG KERAS DAN GURAUAN KASAR MEREKA, SEOLAH MENGESANKAN BAHWA MEREKA KURANG AJAR. BEGITU PULA PAKAIAN MEREKA, YANG LELAKI BERCELANA KATOK DAN BERBAJU KAOS HITAM DENANG GOLOK DIIKAT DI PINGGANG.

KAIN SARUNG TERSELEMPANG, BERKOPIAH DAN MATA YANG TAJAM MENGESANKAN DARAH YANG KERAS.

PERERMPUAN DISINI BERBICARA PEDAS, PENUH GAIRAH DAN PAHIT. PAKAIAN MEREKA MENCOLOK DI TUBUH PADATNYA, MENCOLOK SEPERTI KETAWANYA YANG KERAS, SAMBIL BIBIR BERGINCU ITU MELEMPARKAN SENYUM YANG SEOLAH-OLAH KURANG AJAR.

TETAPI BETAPUN SEBENARNYA, MEREKA, SEPERTI DIMANA-MANA MEMPUNYAI JUGA KELEMBUTAN HATI DAN KETULUSAN, BIARPUN MUNGKIN KETULUSAN YANG AGAK BODOH.

MALAM INI SEMUA ITU TERJADI.

I
MALAM INI, PERKAMPUNGAN NELAYAN ITU, DIRUMAH MAT KONTAN DAN SOLEMAN TAMPAK SEPI. BARANGKALI HAMPIR SEISI KAMPUNG MELIHAT UBRUK, SEBAB BUNYI UBRUK DISEBELAH TIMUR BEGITU SAYU MENIKAM-NIKAM.

HANYA UJUNG ATAP DAN TONGGAK BAMBU RUMAH SOLEMAN SAJA YANG TAMPAK DIKIRI. DEKAT TONGGAK BAMBU ITU TERGANTUNG SEBUAH LENTERA YANG DIOMBANG-AMBING ANGIN BARAT. ADA SEBUAH BANGKU DIBAWAH LENTERA ITU, BIASA DIPAKAI OLEH SOLEMAN UNTUK DUDUK-DUDUK, TAPI MALAM INI BANGKU ITU KOSONG.

RUMAH YANG DIHADAPAN RUMAH SOLEMAN ITULAH RUMAHNYA MAT KONTAN, SEORANG YANG TERKENAL SOMBONG DI KAMPUNG ITU. PINTU RUMAHNYA TERTUTUP. BIASANYA, DISEBELAH KANAN PINTU ITU IA DUDUK DI SEBUAH BANGKU BAMBU PANJANG. DENGAN MENAIKI BANGKU ITU IA SERING BERSIUL MEMPERMAINKAN PERKUTUTNYA DI DALAM SANGKAR YANG TERGANTUNG PADA UJUNG ATAP. DIKIRI PINTU ADA BEBERAPA PELEPAH KELAPA TERONGGOK. SEBUAH TIANG JEMURAN DI DEPAN RUMAH MASIH DISANGKUTI PAKAIAN, PERLAHAN TERHEMBUS OLEH BIAS YANG BERHEMBUS DARI BALIK RUMAHNYA BERSAMA KERTAS-KERTAS.

DI KEJAUHAN KELAM, SAMAR BUNTUT PERAHU, BEBERAPA TIANG TEMALI PERAHU MENGABUR. SUNYI MAKIN TERTEKAN KARENA SUARA UBRUK DI KEJAUHAN ITU SEMAKIN MENGERAS.

II
TIBA-TIBA SUNYI ITU DIPECAHKAN OLEH SUARA TERTAWA PENDEK GELI DARI SI UTAI SETENGAH PANDIR YANG BARU KELUAR DARI PINTU RUMAH MAT KONTAN. IA TERUS BERLARI DAN BERSEMBUNYI DI DEKAT POJOKAN RUMAH SOLEMAN. TERTAWANYA TERTINGGAL DI SANA. TAK LAMA SESUDAH ITU KELUAR PAIJAH ISTRI MAT KONTAN BERTERIAK SAMBIL MENCARI-CARI.

PAIJAH : Kurang ajar! Kurang ajar! Kurang ajar, si Utai sinting!

MATANYA MELIHAT JEMURAN DAN MENGAMBIL SATU PERSATU JEMURAN ITU, TETAPI IA MASIH JUGA MENCARI-CARI SI UTAI. KETAWA SI UTAI MELEDAK

UTAI : Ampun! Ampun!

MUNCUL DARI PERSEMBUNYIANNYA SAMBIL MENGGARUK KEPALA

PAIJAH : Babi! (tapi kemudian tertawa lucu). Ayo bawa pakaian si kecil ini ke jemuran! Eh, edan! Eh, ke jemuran (latah), Eh, bukan! Ke dalam!

UTAI : Saya kira saya mau dipukul tadi! (mengambil pakaian) Saya sudah panas dingin (sambil tertawa ia masuk)

PAIJAH BERJALAN MENUJU BANGKU DI MUKA RUMAHNYA, DUDUK, BERNAFAS LEGA. TAK LAMA KEMUDIAN KELUAR UTAI TERTAWA GELI.

UTAI : Si kecil tidur lagi biarpun kepalanya panas. (tak dihiraukan), He, kau anggap batu saja mulut saya ya?

PAIJAH : (dengan nada mengambang) Sudah malam belum pulang.

UTAI : Siapa?

PAIJAH : Mat Kontan!

UTAI : Dia itu orang paling repot di kampung kita. Tidak? Tidak ha?

PAIJAH : Dari pagi belum pulang.

UTAI : He eh! Dari pagi saya belum merokok sebab dia nggak ada. Kemana sih dia?

PAIJAH : Mestinya beli burung ke Kalianda! (melengos ke gantungan sangkar di samping). Nggak cukup satu dua. (diam sebentar) kalau tidak, mestinya pergi taruhan. Kalau tidak 

UTAI : (melihat sesuatu terbang) Kalau tidak, menangkap kumbang

MELOMPAT DAN BERPUTAR-PUTAR DI HALAMAN SAMBIL TANGANNYA MENANGKAP SESUATU TAPI TIDAK KENA-KENA

PAIJAH : Bangsat. orang omong benar dia main-main.

UTAI : (kecewa karena tidak mendapatkan). Apa tadi mpok? Apa?

PAIJAH : Si Kontan, lakiku. Mat Kontan.

SUARA TANGIS BAYI DI DALAM MENGAGETKAN PAIJAH

PAIJAH :Duuuuh! Si Kontan kecil nangis lagi, tuh! Kau sih ribut tertawa saja!

PAIJAH MASUK. UTAI KECEWA, PERGI PERLAHAN KE SUDUT RUMAH MENGAMBIL PELEPAH DAUN KELAPA. BERJINGKAT DIA PERGI, MENGHILANG DI BALIK KELAM DALAM SIUL SINTINGNYA.

III
SOLEMAN MUNCUL DARI RUMAHNYA. IA TAHU KEMANA UTAI PERGI. KEMUDIAN IA MELIHAT SEKELILING. IA DUDUK-DUDUK DI BANGKUNYA DENGAN LUTUT MENUTUP MUKANYA, TAPI ASAP ROKOK MENGEPUL DARI BALIK LUTUT ITU. KINI MATANYA MENATAP KE PINTU RUMAH MAT KONTAN LAMA-LAMA SAMBIL MEMBETULKAN SARUNG YANG MELINGKARI LEHERNYA. SEBENTAR-BENTAR KOPIAHNYA DITEKAN-TEKAN, TAPI KEMUDIAN MENOLEH MENDENGAR SUARA DIKEJAUHAN. SUARA ITU ADALAH SUARA TUKANG PIJAT, SEORANG BUTA YANG SERING MELINTAS SAMBIL MENYERET KALENG BEKAS SUSU. BARU KEMUDIAN IA MUNCUL DISAMPING RUMAH MAT KONTAN, TAPI TAK BEGITU JELAS KARENA DISANA AGAK GELAP.

TUKANG PIJAT : (aneh dan spesifik sekali) Jaaaaat.........pi, jaaaaat....pi

BERULANG-ULANG DAN MEMBUAT KESAL SOLEMAN KARENA BUNYI KALENGNYA MEMBUAT BERISIK

SOLEMAN : Hei ! Sudah berapa kali dibilang, jangan kelewat keras kalau lewat disini!

TUKANG PIJAT : Hee, kau Leman ? Ngak melihat pertunjukan ubruk?

SOLEMAN : Ngak. Pergi sana!

TUKANG PIJAT KEMBALI DENGAN SUARA KHASNYA PERGI MENGHILANG SOLEMAN BERNAFAS LEGA DAN MENGELUARKAN PISANG DARI KANTONGNYA. TAPI...

UTAI : (datang dengan ketawa pendeknya yang menjengkelkan) Man. Bagi Man.

SOLEMAN : Ini satu lagi biang keladi. Pergi sana!

UTAI : (memperhatikan dengan sedih kulit pisang yang dibuang). Kalau begitu, bagi dong rokoknya!

SOLEMAN :(mengambil rokok kreteknya dan melemparkan sebatang) Pergi sana! Nanti kutendang kau!

UTAI : (setelah memungut rokok) Terimakasih pak.

IA PUN MENGHILANG, PAIJAH MUNCUL DI PINTU RUMAHNYA

PAIJAH : Ada apa Man?

SOLEMAN : Jahanam betul mereka!

PAIJAH DUDUK DI BANGKUNYA. SOLEMAN MEMANDANG PAIJAH, TAPI PAIJAH MENGHINDARI PANDANGAN ITU DENGAN MELIHAT KEARAH KEGELAPAN. SUARA KERETA API DARI JAUH SEMAKIN DEKAT, LALU MELINTAS DERUNYA DIBALIK RUMAH SOLEMAN, DISINI PANDANGAN MEREKA BERTEMU

SOLEMAN : (masih memandangi paijah, memasang rokok dan berkata acuh tak acuh) Kau ngak keluar malam ini Jah?

PAIJAH : (terkejut, membalas pandangan). Ngak.

SOLEMAN : Begini gelap malamnya.

PAIJAH : Ya, gelap. Hati saya juga ikut gelap.

SOLEMAN : Kau susah Jah!

PAIJAH : Tahu sendiri saja! Ya, memang saya susah, Man.

SOLEMAN : Kau dengar suara ubruk di sana?

PAIJAH : (angguk). Kudengar. Kau ngak pergi?

SOLEMAN : Ngak! Capek! Semalam suntuk saya dan lakimu main empat satu. (melihat paijah murung). Kau murung benar!

PAIJAH : mSi Kecil sakit. Kontan belum pulang. Panas saja badannya seharian ini!

SOLEMAN : Ngak dibawa ke dukun!.

PAIJAH : Dukun! Dan punya laki yang asik dengan perkutut, kepala haji, beo dan kutilang? Mana bisa jadi!

SOLEMAN : Tiap hari kau mengumpat begitu.

SUARA TANGIS BAYI MENYEBABKAN PAIJAH TERKEJUT BEGITU JUGA SOLEMAN. PAIJAH MASUK RUMAH DAN DIIKUTI OLEH SOLEMAN, DI KEJAUHAN TERDENGAR TAWA MAT KONTAN. SOLEMAN KELUAR, LEWAT SAMPING RUMAH DAN MENGHILANG).

IV
DENGAN MEMBAWA SANGKAR BURUNG MAT KONTAN TERTAWA KESENANGAN. SETIBA DI DEPAN RUMAH SOLEMAN, IA BERHENTI.

MAT KONTAN : Hei, Man! Kau masih tidur ha? (karena tidak dijawab ia ketawa lagi) Kalah cuma lima puluh kok susah! (menuju sangkar burung perkutut yang bergantung dan bersiul menirukan burung itu). Hiphooo (mengambil sangkar dan melihat sekeliling) Sudah hampir malam nih! Kau musti tidur, tut. Sekarang kau sudah kucarikan bini. Nih! (ia menunjukkan sangkar yang baru dibawa). jah? (ia ketawa lagi). Paijah?

KARENA TAK DIJAWAB MAKA IA MASUK RUMAH, TAPI KEMUDIAN IA KELUAR KEMBALI DAN DUDUK DI BANGKU BAMBU SAMBIL MENGGARUK KUDIS KAKINYA. MATANYA SILAU KENA SOROT BATERI DARI TEMPAT KELAM

MAT KONTAN : Siapa itu! Siapa itu!

SOLEMAN : (muncul mendekat dan mempermainkan cahaya senternya). Baru pulang Tan?

MAT KONTAN : ( tertawa gembira dan melompat). Kau tahu?

SOLEMAN : Apa? Burung lagi?

MAT KONTAN : (meledak tertawanya). Ha! Bagaimana kau bisa menebak? Darimana kau tahu itu?

SOLEMAN : (duduk). Saya kira kau tadi ngobrol dengan haji Asan di tikungan gudang lelang. Betul ngak? Ha?

MAT KONTAN : Ha, kali ini kau salah tebak! Matamu sudah lamur barangkali! Bukan haji Asan, tapi Pak Pijat! Tapi itu tidak penting Man. Kau tahu perkutut yang kubawa tadi? Itu adalah perkutut yang paling mahal harganya di dunia. Uang ikan yang kita dapat kemarin dari borongan itu, saya belikan semua buat perkutut. Dan kekalahan kau yang berjumlah lima puluh itu buat ongkos mobil. (memandang soleman terdiam disangkanya tak memperhatikan) Ha? Kau tak percaya ha? Mau liha? Mau lihat?

SOLEMAN : Percaya sih percaya. Tapi anakmu, si kecil, sakit kan?

MAT KONTAN : Persetan si kecil! (sadar) O, anakku! Maksud saya tadi persetan penyakit. Mudah-mudahan ia lekas sembuh!

SOLEMAN : Kalau sembuh. Kalau tidak sembuh bagaimana?

MAT KONTAN : Ha ? Maksudmu..............mati?

SOLEMAN (MENGANGGUK)

MAT KONTAN : Kau kira si kecil bisa mati? Mat Kontan kecil bisa mati, begitu?

SOLEMAN : Sedang Nabi bisa mati?

MAT KONTAN : Jangan takuti saya Man. Itu satu-satunya kebanggaan saya disamping burung dan bini saya Paijah. Saya telah terlanjur berdo’a pada Tuhan agar Cuma dikaruniai satu anak. Kalau si kecil mati tentu hilanglah kebanggan saya sepotong.

SOLEMAN TERTAWA MENGEJEK

MAT KONTAN : Kau mengejek saya ya?

SOLEMAN : Bukan mengejek, tapi kau ngak kasihan sama satu nyawa?

MAT KONTAN : Ya kasihan!

SOLEMAN : Kau ngak kasihan sama binimu?

MAT KONTAN : Ya kasihan!

SOLEMAN : Dari tadi ia tunggu kau datang.

MAT KONTAN : Benar? Masa! Ah, tak usah repot-repot perkara perempuan.

SOLEMAN : Kau terlalu mengutamakan burung daripada binimu dan si kecil.

MAT KONTAN : Memang!

SOLEMAN : Memang. Kau tidak bangga punya bini cantik ha?

MAT KONTAN : Bangga? Sudah saya bilang tadi saya bangga. Saya kan sudah lama ngak ke kota Agung? Tadi saya ke sana. Saya bilang bahwa saya sudah punya anak satu sekarang. Anak, yang keluar dari rahim bini saya yang cantik.

SOLEMAN : Tapi kebangggaan itu tak pernah terasa oleh binimu.

MAT KONTAN : (memanggil) Paijah, Paijah!

PAIJAH : (muncul). Ada apa?

MAT KONTAN :Saya akan mengatakan kepadamu bahwa saya tadi ke kota Agung dan bertemu dengan kawan-kawan lama.Saya bilang, bahwa kau sudah punya anak sekarang.

PAIJAH : Tapi sudah itu kau terus cari burung.

MAT KONTAN : (salah kira). Ha, Ijah!

PAIJAH : Tanpa memikirkan kami.

MAT KONTAN : Hah? Ah masuklah kau! Tidak mengerti urusan lelaki. Masuklah. Kami mau ngobrol.

PAIJAH MASUK

MAT KONTAN : Biniku memang manis.

SOLEMAN : (hanya mengangguk)

MAT KONTAN : Kau tahu apa yang terjadi sesudah saya bilang bahwa saya sekarang sudah punya anak? (diam sebentar, kemudian tertawa). Mereka yang dulu sering mengejek saya sebagai lelaki mandul jadi konyol.

SOLEMAN : (mempermainkan ujung kakinya, lalu malas memperhatikan mat kontan). Saya pulang dulu. Pintu belum dikunci.

MAT KONTAN :Nanti dulu. Hei, kan kita ada nih?

SOLEMAN TETAP PERGI KERUMAHNYA. DEPAN PINTU RUMAHNYA IA BERDIRI, SEPERTI ADA YANG DIPIKIRKANNYA. TIBA-TIBA.

MAT KONTAN : Man! (soleman tak menoleh). Kau ngak enak mendengar saya ngomong sekarang ya? Kalau kau mau diganti kembali uang kekayaanmu kemarin. Baiklah!

SOLEMAN : Sesuatu yang sudah kita serahkan, sukar untuk ditarik kembali.

MAT KONTAN : Apa maksudmu? Apa maksudmu Man?

SOLEMAN : Ya, sesuatu yang sudah kau punyai sekarang, biar bagaimanapun, bukan milik saya lagi.

MAT KONTAN :Saya tak mengerti Man.

SOLEMAN : Memang kau tak pernah mengerti.

MAT KONTAN : Ha? Saya tak pernah mengerti? Saya pikir, sayalah orang yang paling mengerti tentang sesuatunya di dunia ini.

MAT KONTAN LALU PERGI KETENGAH HALAMAN, LALU MELIHAT KE LAUT DAN BERKATA SAMBIL MENUNJUK-NUNJUK.

MAT KONTAN :Saya mengerti angin, ikan, burung, wayang dan agama.

SOLEMAN : Kau juga mengerti tentang pasir? Pasir boblos?

MAT KONTA MERASA SESUATU, SEHINGGA IA TERSENTAK. DENGAN CEPAT IA MELOMPAT KE SOLEMAN, KETIKA MUKANYA TIBA-TIBA DISENTUH TRAGEDI SEHINGGA IA BERKERINGAT . DIDEKAPNYA KAWANYA ITU.

MAT KONTAN : (takut). Jangan bilang tentang itu, Man. Saya paling takut kalau kau bilang perkara itu. (melepaskan). O, aku takut kalau kau ulangi cerita lama itu. Saya adalah orang yang kepingin panjang umur, Man. He, kau masih ingat peristiwa itu, Man?

SOLEMAN : Masih.

MAT KONTAN : Kau masih ingat bagaimana saya kejeblos dalam pasir dan berteriak minta tolong ketika hampir mati?

SOLEMAN : (mengangguk)

MAT KONTAN : Saya harap sungguh, hal itu jangan kau ceritakan lagi.

MAT KONTAN KEMBALI KE PEKARANGAN RUMAHNYA, DUDUK DIBANGKU, LAMA TERMENUNG KARENA TAKUT.

MAT KONTAN : Man. Sini Man.

SOLEMAN :Saya sudah bosan dengan cerita itu-itu juga. (tapi kemudian ia mendatangi mat kontan).

MAT KONTAN : Sungguh, Man. Saya kepingin hidup panjang umur. Kepingin melihat si Kontan kecil yang jadi milik saya satu-satunya. Semoga nanti persis seperti saya sifatnya.

SOLEMAN : Kalau sifatnya seperti saya bagaimana?

MAT KONTAN : (terdiam terperangah bernafas berat). Itu tentu saja tak mungkin. Sedang namanya saja sudah persis seperti saya. Kau dengar? Kontan kecil! Si Kontan keci!!

SOLEMAN : Sudah pekak kuping saya mendengar lagakmu.

MAT KONTAN : Biar!

SOLEMAN :Mulai malam ini jangan ceritakan lagi tentang anakmu itu. Ceritakanlah yang lain.

MAT KONTAN : Kalau begitu cerita saya, saya tukar. Apa ya?

SOLEMAN PERGI KETEMPAT JAUH YANG AGAK GELAP. MEMPERMAINKAN KERIKIL DAN MELEMPARKANNYA JAUH-JAUH.

MAT KONTAN : (lembut) Man. (soleman tak menyahut). He, Man (tak menyahut). Man. Kau iri pada saya Man? Kau iri kalau saya begitu bahagia punya istri dan anak?

SOLEMAN : Tidak. Tidak iri.

MAT KONTAN : Jadi kenapa kau benci kalau saya cerita tentang si kontan kecil?

SOLEMAN : Buat apa saya iri padamu. Kau juga sering membohongi diri sendiri. Ya, kau juga sering berlagak.

MAT KONTAN : Pasti! Pasti kau iri pada saya. Kau iri karena saya punya bini yang cantik. Seorang anak lagi yang bakal cinta pada perkutut bapaknya. Kau juga iri barangkali, sebab kalau kita main taruhan empat satu kau selalu saja kalah.

SOLEMAN KEMBALI MENDEKATI MAT KONTAN. MULANYA MAT KONTAN TAKUT TAPI SETELAH DILIHATNYA SOLEMAN TERTAWA IA HERAN. APALAGI DILIHATNYA SOLEMAN DUDUK DI BANGKUNYA DAN MAIN KERIKIL.

SOLEMAN : Ceritalah lebih banyak, Tan. Biar saya tuli.

MAT KONTAN : Jadi kalau begitu kau masih senang pada saya? Kalau begitu tebakan saya salah kali ini. Belum pernah saya menebak salah tentang dri seseorang selama ini. (DUDUK). Bagaimana saya akan menceritakan lebih lanjut tentang bini saya, ha?

SOLEMAN HANYA MENGANGGUK-ANGGUK KETIKA MAT KONTAN TERTAWA LEBAR

MAT KONTAN : Bagaimana bini saya!?

SOLEMAN : Cuma satu jawabanya, cantik!

MAT KONTAN : Bagus! Lagi! Lagi!

SOLEMAN : Mengairahkan!

MAT KONTAN Betuuuuuul, betul. Dan saya sekarang kepingin membelikan dia baju rok. (mengeluarkan uang dari kantong). Ini. Tadi saya menang judi.

SOLEMAN : Apa? Rok. Baju rok Sanghai kata orang itu?

MAT KONTAN : Iya! Saya lihat bini si Sadu, Si Johari dan Si Hidayat pada pakai rok model Cina sekarang. Bini Bastari sudah beranak tiga malah pakai itu.

SOLEMAN : Tapi binimu lebih bagus pakai kebaya sempit begitu.

MAT KONTAN : Kau tahu apa tentang perempuan. Buktinya kau belum punya bini sampai sekarang. Itu sudah kuno, bung.

SOLEMAN :Kuno dan tidak kuno bukan pada pakaian.

MAT KONTAN : A-ha! Persetan! Tapi kenapa kau bilang mesti berkebaya.

SOLEMAN : Pakai kebaya itu gulung kainnya sempit. Jadi bisa menggiurkan jejaka-jejaka.

MAT KONTAN : Jadi kalau begitu kau juga senang dan tergiur jika melihat bini saya memakai pakaian sempit-sempit?

SOLEMAN MENGANGGUK

MAT KONTAN : (terperangah sebentar, kemudian tertawa). Ha ! Saya senang! Saya memang senang kalau orang tergiur sampai keluar ludahnya barang sebatok kalau melihat bini saya.

SOLEMAN : Jadi kalau ada orang cinta pada binimu kau juga senang. Ha!

MAT KONTAN : Senang! Sebab itu berarti juga orang akan cinta pada saya. Bahkan saya akan potong rambutnya pendek-pendek seperti bini si Asnin! Bajunya belang-belang kuning seperti macan tutul. Itu tandanya kita sudah jaman modern. Ah, kau tahu apa tentang arti ngomong Belanda itu!

SOLEMAN : Memang enak punya bini.

MAT KONTAN : He, orang lelaki yang ngak mau berbini itu tandanya belum lelaki. Paling-paling tak berani sama perempuan. Kau tahu kambing kebiri saya yang mati? Ia mati karena kesepian! Kau lama-lama bisa jadi seperti kambing kebiri saya itu.

SOLEMAN : Kalau anakmu seperti kambing nanti bagaimana?

MAT KONTAN : Mana bisa? Karena bapaknya Raja Perkutut, anaknya tentu Raja Kutilang setidaknya. Tak mungkin seperti kambing. Si Kontan kecil adalah anakku. Bukan anakmu!

SOLEMAN : Jangan ulang lagi perkara Kontan kecil. Ceritalah tentang perkutut atau beo.

MAT KONTAN : (ingat sesuatu) Aih, saya sudah linglung sekarang. Saya sudah dua hari ini lupa sama beo saya!

SOLEMAN KAGET MENDENGAR INI, IA PERHATIKAN MAT KONTAN, TAKUT.

V
MAT KONTAN MASUK RUMAHNYA. DALAM RUMAH KEDENGARAN RIBUT-RIBUT DENGAN SUARA BANTAHAN PAIJAH. SOLEMAN MASUK RUMAHNYA, MENGUNCI PINTU. KETIKA KELUAR, BERPAPASAN DENGAN SI UTAI SINTING. SOLEMAN HILANG DALAM GELAP. MAT KONTAN KELUAR DENGAN TANGAN HAMPA.

MAT KONTAN : Man, Man. (matanya tertuju ke rumah soleman). Man! Beo saya hilang, Man.

UTAI : (Tertawa)

MAT KONTAN : Diam!

UTAI : ( Tertawa Lagi)

MAT KONTAN : Diam, kataku diam! (ia mengambil pelepah kelapa akan memukul anak itu).

UTAI : Ampuuuuuun. Ampuuuun!

MAT KONTAN :Kenapa kau tertawa ha?

UTAI : Jadi burung beo mamang terbang?

MAT KONTAN : Ya.

UTAI : Saya melihatnya kemarin dekat sumur.

MAT KONTAN : Diam! Jangan ngomong gila! Ini sungguh!

UTAI : Saya juga sungguh!

MAT KONTAN : Apa katamu tadi? Melihat burung saya? Beo saya dekat sumur? Ia terbang kearah sumur di belakang itu?

UTAI : ( mengangguk dan tertawa pendek).

MAT KONTAN : Jangan tertawa dulu. Hayo kita cari.

UTAI : Ngak bakal ketemu mang.

MAT KONTAN : Kau permainkan diri saya ya? Ha? (mau memukul).

UTAI :Sabar, mang. Sungguh, saya berani taruhan, ngak bakal ketemu.

MAT KONTAN : Kenapa coba, kenapa?

UTAI : Sudah mati dia, mang.

MAT KONTAN : Mati? Ayo kita cari bangkainya! Biar saya ambil lampu senter (akan pergi tapi kemudian terhenti).

UTAI : (tertawa). Tulang bakainyapun tak bakal ketemu. Mubajir susah-susah mencari.

MAT KONTAN : Apa? Apa kau bilang! Mubajir? Akan saya kubur dia.

UTAI : Ya, mubajir. Ia sudah dibawa anjing Pak Rusli kemarin.

MAT KONTAN : (mengancam dengan memegang leher baju utai). Utai jangan cari gara-gara! Gua hajar nanti lu! Betul yang ini apa bohong?

UTAI : Berani sumpah Qur’an! Saya betul.

MAT KONTAN : Kalau begitu. (dengan sedih), Kau betul Utai. Kalau begitu anjing si Rusli itu yang perlu dipentung. (tapi tiba-tiba melengos melihat Paijah muncul).

PAIJAH MUNCUL DENGAN MUKA KESAL

PAIJAH : Perkara Beo saja ributnya sampai ke gunung Krakatau. Anaknya tak pernah dipikirkan.

MAT KONTAN : Diam kau!

PAIJAH : Apa? Diam? Kalau anak itu mati bagaimana?

MAT KONTAN : Itu bukan anak saya.

PAIJAH : (menirukan). Itu bukan anak saya, tapi di warung kau sibuk membanggakannya.

MAT KONTAN : (sadar kembali). Ha! Memang anak saya. Memang! Memang ia saya banggakan di mana saja. Tapi kau juga ikut memikirkan masalah burung ini?!

PAIJAH : Emoh!

PAIJAH MASUK.

UTAI : (tertawa menirukan). Emoh!

MAT KONTAN : Bagaimana Beo-ku?

UTAI : Lehernya berdarah!

MAT KONTAN : Leher Beo-ku berdarah? Iya?

UTAI : (tertawa melingkar–lingkarkan badannya).

MAT KONTAN : Soleman mana? Soleman mana?

UTAI : Mau apa sama dia?

MAT KONTAN : Kita ajak ia ke tukang nujum.

UTAI : Kenapa burung mati mesti di nujum?

MAT KONTAN : Ya, mesti. Mana si Leman. He, geblek! Mana dia ha?

UTAI : Buat apa sih dinujum? Mau ditanya masuk sorga atau neraka?

MAT KONTAN : Diam, setan! Kita mau nujum siapa yang memotong lehernya. Kalau kedapatan akan kubunuh dia! (memanggil soleman).

PAIJAH KELUAR MENJENGUK DENGAN CEMAS.

MAT KONTAN : Pergi berjudi dia barangkali.

UTAI : Kalau begitu kita pergi berdua saja.

MEREKA BERDUA PERGI MENGHILANG DALAM KELAM.

VI
PAIJAH MERASA LEGA LALU IA MASUK KE DALAM. IA KELUAR MENUJU RUMAH SOLEMAN

PAIJAH : Man! Leman

TAPI SETELAH SADAR PINTU DI KUNCI, BERLARI KE SAMPING DAN DUDUK DI BANGKU. PAIJAH KAGET AKAN CAHAYA SENTER KE MUKANYA, IA BERDIRI DAN SEDIKIT GEMBIRA IA BERJALAN MENGHAMPIRI SOLEMAN DI HALAMAN. SOLEMAN MENGAJAK PAIJAH DUDUK DI BANGKU RUMAHNYA, SEDANG IA MASIH MEMPERMAINKAN CAHAYA SENTER KE PINTU RUMAH MAT KONTAN.

SOLEMAN : Kenapa mukamu pucat?

PAIJAH : Saya cari kau tadi Man.

SOLEMAN : Laki-mu pergi?

PAIJAH : Ya, ke tempat nujum.

SOLEMAN : Begitu jauh, ada dua kilo setengah, kan?

PAIJAH : Ah, betul-betul edan dia. (berdiri membelakangi). Betul-betul edan dia, tidak mengerti perasaan perempuan.

SOLEMAN : Kalau saya laki-mu tentu saya mengerti.

PAIJAH : (tiba-tiba membalik). Man!

SOLEMAN : Apa? (menyenter muka paijah).

PAIJAH : Saya takut tadi, Man. Saya dengar ia mau bunuh orang. Dan kau dicarinya Man.

SOLEMAN : Ia nggak berani pada saya. Apalagi mau bunuh!

PAIJAH : Tapi ini betul-betul Man. Burungnya, beo itu-mati!

SOLEMAN : (kaget) Lalu? (ia berdiri dan melihat kesamping rumahnya, ada kecemasan di dalam dirinya kalau-kalau mat kontan datang. dari jauh soleman bersuara, tangannya menyenter tubuh paijah). Lalu bagaimana?

PAIJAH : Burung itu mati. Kau tahu kan beo itu? Yang sering kau permainkan kalau kau kerumah saya?

SOLEMAN : (datang mendekati paijah) Lalu?

PAIJAH : Lehernya berdarah. Dan ia akan bunuh siapa saja yang memotong leher burungnya itu (dengan mata mengharap) Man.

SOLEMAN : (dengan pandangan penuh gairah). Apa?

PAIJAH : Saya takut.

SOLEMAN : (senyum bergairah). Takut apa?

PAIJAH : Takut sama lakiku. Jika ia menuduh saya yang membunuh bagaimana?

SOLEMAN : Kau merasa memotong leher itu apa tidak? (dilihatnya paijah menggeleng). Nah, ngak usah kuatir.

PAIJAH : api Mat Kontan sering kalap.

SOLEMAN : (memegang bahu paijah dan mendudukan di bangku. ia memasang rokok setelah menenangkan paijah). Biar bagaimanapun ia marah, ia takkan bunuh kau. Sebab kau salah satu kebanggaan dia. Jadi biar bagaimanapun salah kau, ia akan memaafkan.

PAIJAH : ( menangis terisak)

SOLEMAN He, jangan seperti si kecil nangis. Kau malah harus mendiamkan anakmu yang nangis, kan? (tangan membelai rambut paijah).

PAIJAH : (Paijah lari melompat, tapi diburu dan tangannya ditarik soleman, ia membimbing paijah ke bangku rumahnya)

SOLEMAN : Kau jang kuatir. Nanti aku yang membela kau.

PAIJAH : Tapi saya takut dengan goloknya. (melihat muka soleman dan berkata setengah menangis) Sungguh!

SOLEMAN : Ah, percayalah. Seiris bawangpun ia tak berani melukaimu!

PAIJAH : Jadi apa kataku bila ia menanyai saya?

SOLEMAN : (Soleman cuma tercenung berfikir. dengan mempermainkan senter ia pergi ke tempat yang jauh kelam. suara ubruk mengeras. Paijah Setengah marah, agak menjerit).

PAIJAH : Kau diam!

SOLEMAN : Ya, karena itu juga suatu hal yang sulit.

PAIJAH : Tapi katamu tadi gampang.

SOLEMAN : Gampang buatku, karena saya lelaki!

PAIJAH : Carilah jalanya sebelum ia kembali!

SOLEMAN : Jalan satu-satunya, karena saya lelaki ialah: menghadapinya sebagai lelaki!

PAIJAH : Apa? Apa maksudmu?

SOLEMAN : Kalau kau disentuh saja, akan saya sentuh pula dia. Kalau kau dilukainya, akan saya lukai dia! Dan kalau kau di bunuhnya, akan saya bunuh dia (berjalan pelan mendekati paijah)

PAIJAH :Jangan Man. Kita akan buyar, malu dan di usir dari sini.

SOLEMAN : Ya, terpaksa begitu. Sebab saya bukan penakut. Saya jantan. Dan saya punya sejarah turun-temurun.

PAIJAH : Sejarah turun-temurun?

SOLEMAN :Ya. (terduduk) Ayah saya jahanamnya juga seperti saya ini. Ia jahanam, biarpun ibu saya syah untuk bininya. Tapi ini tak usah saya ceritakan Jah!

PAIJAH : Ceritakan, Man. Yang satu ini.

SOLEMAN : Saya akan mengutuk karenanya!

PAIJAH : Ceritakanlah, Man. Kenapa?

SOLEMAN : (memandang paijah dengan aneh) Karena perempuan ia mati. Karena perempuan ia jahanam. Tapi aku akui, ia lelaki tulen.

PAIJAH : (jadi gelisah)

SOLEMAN : Lelaki tulen juga bisa mati karena takut. Ia takut menghadang pucuk senapan, sehingga ia mati membelakangi! Dan ketika ia lari itu ia ditembak. Ia ditembak, sebab bini orang yang dijahanaminya itu ialah bini polisi. Tapi saya sudah besar ketika itu dan dapat membayangkan membalas dendam. Kenapa ia akhirnya takut? Saya tak mengerti kenapa si pemberani bisa takut kemudian. Tapi, betapun, ia lelaki tulen, Jah. Lelaki tulen dengan darahnya yang benar-benar merah.

PAIJAH : (lembut karena takut). Kau juga takut Man?

SOLEMAN : Cukup bapak saya saja! Sayat tidak akan. Saya adalah kelanjutan dia, karena ia mewariskan saya!

PAIJAH : Kau akan bunuh Mat Kontan?

SOLEMAN : Belum pasti. Tapi saya ingat pepatah seorang Padang. Kau kenal Angku Buyung? (Paijah mengangguk). Ialah yang menceritakan pepatah itu dan meresap pada diri saya.

PAIJAH : Apa katanya, Man?

SOLEMAN : Musuh pantang dicari, tapi jika datang pantang kau elakkan. Saya tidak akan memusuhi Mat Kontan. Tapi jika Mat Kontan akan menyerang saya, saya pantang lari, bahkan membalas.

PAIJAH : Jangan Man!

SOLEMAN : Pasti dia tak berani membacok saya!

PAIJAH : Kalau kau memang tak apa! Tapi saya, perempuan lemah ini, bagaimana bisa jadi?

SOLEMAN : Kau jangan takut. Karena lelaki bersifat melindungi. Lelaki seperti kata bapak saya: harus berdarah tajam yang mengalirkan warisannya melewati siapa saja yang rela!

PAIJAH : (lembut) Kenapa kau tak kawin saja, Man?

SOLEMAN :Kawin cuma satu tanggungan, menyebabkan kita berotak dua. Ya saya tahu kemudian, bahwa ibu saya juga sejahanam ayah saya karena ia rela dijahanami lelaki lain. Saya takut kawin, karena saya kwatir jika istri saya dijahanami lelaki lain.

(Soleman pergi ke rumahnya, tapi Paijah mengikutinya)

Kau di situ saja menjelang ia datang. Saya di sini (menunjuk bangkunya).

PAIJAH : Saya takut, Man.

SOLEMAN : Disana saja kata saya!

BENTAKAN SOLEMAN INI MENYEBABKAN PAIJAH TAKUT DAN KEMBALI KE BANGKUNYA

PAIJAH : (setelah mengeluh dan memandangi soleman yang terpekur ) Man. (soleman muak). Man, kau dengar suara saya? Kau dengar suara saya? (soleman tetap menunduk). Saya menyesal sekarang, Man!

SOLEMAN : (kaget dan mengangkat kepalanya) Menyesal?

PAIJAH : Ya, menyesal.

SOLEMAN : Ulangi!

PAIJAH : Menyesal, karena begini jadinya. Nanti akan terbuka juga rahasia kita. Tapi tak apa! Saya kepingin punya anak, dan anak itu telah saya dapatkan.

SOLEMAN : (berdiri) Kenapa kau menyesal? (paijah hanya menghapus air matanya). Jah! Anak itu takkan saya ambil. Jah.(Soleman mendekati perempuan itu. tapi tangis paijah semakin menjadi. Soleman pergi ke gelap malam. perlahan)

PAIJAH :Saya ingat, Jah. Macam begitu tangismu dulu mengisak meminta kepada saya. Sekarang kalau menyesal. Buat apa kita menyesal. Saya juga tak pernah menyesal harus jadi jahanam kapiran begini. Ya, tidak karena dalam diri manusia, betapun kecilnya, ada jahanamnya. Cuma saja ada yang tak sempat dan tak sanggup menjalankan. Dan kita adalah orang yang kebetulan sanggup. Kenapa kita menyesal, Jah? (Tiba-tiba ia membalikkan badan setelah keduanya berdiam lama. soleman mendekati paijah dan duduk disampingya. Setelah menyenter sekeliling)

SOLEMAN : Begitu sepi semuanya. Alangkah enaknya jika beginian terus, dunia ini ada kita berdua saja!

PAIJAH : ( hanya memandangi wajah soleman)

SOLEMAN : Kau kwatir pada hari matimu bila maut tiba?

PAIJAH :( hanya menganggukkan kepala)

SOLEMAN : Mungkin saya juga, Jah. Sekarang saya lebih baik mengaku saja (mereka kini saling pandang). Saya juga punya takut. (DIAM) Mungkin juga Nabi. Tapi Jah, saya bunuh beo itu, karena binatang jahanam itu telah menyiksa saya!

PAIJAH : (terkejut mendengar berita itu) Apa? Kau bunuh? Kau yang memotong lehernya?

SOLEMAN : Ya. Kau ingat Jah? Kau ingat, bahwa ketika saya mengganggumu, ketika si kecil masih berumur sebulan? Kau bilang: “Jangan ganggu saya. Man! Jangan ganggu saya!”, dan perkataan itu diulangi oleh beo itu. Dua hari yan lalu, ketika saya pegang tanganmu dan kau bilang : “Jangan ganggu saya”, beo keparat itu mengulangi lagi. (setelah menelan nafas). Karena itu ia saya potong lehernya. Saya potong dan saya lempar ke dekat sumurmu.

PAIJAH : Kita bisa celaka!

SOLEMAN : Akan saya hadapi semua yang menantang, Jah! (setelah merasa ngeri, ia bersuara menghadap paijah dengan gemetar). Biar bagaimanapun saya akan menghadapi maut!

PAIJAH ( menangis)

SOLEMAN : Kenapa jadi menangis, hah? Saya hanya akan mengabulkan apa yang kau minta dulu dan telah saya beri. Anak itu telah lahir. Kalau saya mati karena lahirnya dia, itu berarti saya akan bernasib sama dengan bapak saya. Tapi semoga cucu bapak akan meneruskannya, sebab perjuangan kakeknya belum selesai.

PAIJAH : Tidak, Man! Si kecil tidak akan.

SOLEMAN : Itu mungkin jalan menyimpang dari kemauan saya.

PAIJAH : Cukup kita saja yang jadi jahanam terkutuk.

SOLEMAN :Ya, karena sekarang kau sudah menyesal, sih.

PAIJAH :(setelah berfikir sebentar, tiba-tiba ia kaget). Man!

SOLEMAN :Apa?

PAIJAH :Sebentar lagi tentu mereka datang. Man, saya takut Man!

SOLEMAN :Tenang saja. Tenang saja.

PAIJAH :Kalau saya dipaksa bagaimana?

SOLEMAN :Bilang saja saya yang membunuhnya. Saya, Soleman.

PAIJAHS :aya nggak mau, Man!

SOLEMAN :Kenapa? Kenapa he?

PAIJAH : (lembut pelan) Saya nggak mau. Ada orang mati karena saya, dan orang itu kau.

SOLEMAN :Kalau saya mati itu bukan karena kau. Itu juga karena saya ikut berjahanam!

PAIJAH :(menangis terisak) Tidak, Man. Tidak bisa, Man.

SUARA BAYI DI DALAM MENGEJUTKAN MEREKA.

SOLEMAN : Mintalah doa restu di ubun anak itu.

PAIJAH : Putuskan dulu yang ini! Jika ia minta keterangan kenapa Soleman membunuhnya, bagaimana?

SOLEMAN :Pertanyaan itu tidak saya bolehkan kau menjawabnya. Pertanyaan itu hanya untuk saya. Dan saya akan menjawabnya. Pergilah masuk! Anak itu rupanya tambah sakit.

VII
PAIJAH MASUK, TINGGAL SOLEMAN YANG GELISAH LALU MEROKOK, TAPI ROKOK ITU BARU DIHISAP LALU DIMATIKANNYA. IA PERMAINKAN SENTERNYA KARENA GELISAH, LALU PERGI MENUJU KEJAUHAN, MELEMPARKAN BATU LALU KEMBALI LAGI. PAIJAH KELUAR SEBENTAR TAPI MASUK LAGI SEBAB DARI JAUH TAWA UTAI SUDAH DIDENGAR. TAK LAMA KEMUDIAN MAT KONTAN DAN UTAI TIBA DI HALAMAN

UTAI TERTAWA.

MAT KONTAND :iam! Orang kesusahan, kamu tertawa! (tiba-tiba matanya melihat soleman).

SOLEMAN : Dari mana?

MAT KONTAN : (mendekati mengabarkan berita sedih) Man, burungku beo yang kubeli seribu itu mati.

UTAI LARI MENGEJAR SERANGGA YANG TERBANG, MENCOBA MENANGKAPNYA TAPI TAK BERHASIL TERUS MEMBURU.

SOLEMAN : Sebaiknya jangan pikirkan yang sudah mati itu.

MAT KONTAN : Apa? Jangan dipikirkan? Apa kau kira saya ini gila ha?

SOLEMAN : Siapa tahu Tan nanti ada saja rejeki numpuk, kau beli yang lebih mahal.

MAT KONTAN : Apa kau kira beo semacam itu ada tandingannya di pojok dunia ini? Dua tahun saya memeliharanya?! Sekarang barangkali lebih dari harga mobil dokter Ajad yang mungil itu.

SOLEMAN : Kau selamanya selalu merasa selalu yang paling, yang paling. Sehingga kau sendiri jadi pangling!

MAT KONTAN : Jangan coba-coba hina saya ya! (kepada utai). Hei. Berhenti main gila itu! Saya bisa tambah gila. Ayo berhenti! (utai duduk di bangku rumah mat kontan).

MAT KONTAN : Sedang anak gila itu (menunjuk utai). Dia bisa pikir dan sedih atas kematian beo-ku. He, Utai. Kau kan sedih ya.

UTAI : Ya!

MAT KONTAN : (mengambil rokok dan melemparkannya) Kau memang jempolan.

UTAI : (Utai mengambil rokok dan minta api lalu duduk ditempatnya semula

MAT KONTAN : (kepada soleman) Otakmu dimana sekarang. Dimana ha?

SOLEMAN : Saya cuma menganjurkan. Tapi sedih sih ya ikut sedih!

MAT KONTAN : Betul? Betul sedih? (tertawa senang). Kemana kau tadi tidak nongol ketika saya cari agar bersama ke tukang nujum! (bernafas karena tak dijawab). Saya kira malam ini paling jahanam dalam hidup saya.

SOLEMAN : Belum tentu.

MAT KONTAN : Siapa bilang belum tentu? Tukang nujum yang biasa meramalkan nasib saya itu sudah mati pula empat hari yang lalu (melihat utai yang mempermainkan rokok dibangkunya). Hei, jangan dibakar bangku bagus itu! Panggil mpok Ijah!

UTAI : (Utai masuk ke dalam dan keluar kembali bersama paijah. paijah memandang pada soleman, soleman mengatakan sesuatu dalam pandangannya) Hei Jah! Siapa kiramu yang memotong leher burungku!

PAIJAH : (menggeleng) Mana saya bisa tahu?

MAT KONTAN : (menirukan) Mana saya bisa tahu? (menghardik) Atau kau sendiri ya? Iya? (berdiri menyebabkan paijah takut) Kau potong mau dimakan? Di sate? Begitu? (mendekati) Jawab!

SOLEMAN : (Soleman berdiri semua pandangan tercekam disini) Ayo jawab!

SOLEMAN : Dia sakit tuh Mat! Tuh mukanya kan pucat. Barangkali........

MAT KONTAN : Jangan urus urusan orang lain, Leman. Nanti saya ikut mata gelap pada kau! (sadar melihat paijah menangis).

PAIJAH MASUK DIIKUTI MAT KONTAN. UTAI, SETELAH DIISYARATKAN SOLEMAN IKUT MASUK. SOLEMAN BERDIRI DI PINTU DAN GELISAH

SUARA PAIJAH : Buat apa burung itu untuk saya. Si bayi lebih penting.

SUARA MAT KONTAN : e, jangan ngotot! Jawab dulu siapa yang bunuh.

KEMUDIAN TERDENGAR TANGIS PAIJAH, TANGIS BAYI DAN SUARA MAT KONTAN YANG TIDAK TENTU

SUARA PAIJAH : Kalau tidak, bunuh saja saya, nih sama golok!

SUARA MAT KONTAN : Ee, jangan main-main sama saya ya? Saya ini Mat Kontan. Setiap orang punya utang harus dibayar dengan kontan. Jawab!

SUARA PAIJAH :Saya tidak tahu!

MAT KONTAN :Bangsat! O Tuhan! Bilanglah oleh-Mu ya Nabi Adam, siapa yang sebiadab ini membunuh burung saya. O Nabi Yakub. Bini saya juga bangsat dan bodoh! Kenapa dunia ini makin tolol Tuhanku?

PAIJAH : Kalau kau paksa juga saya akan minggat!

PAIJAH KELUAR MENGGENDONG BAYI YANG MENANGIS. LARI KE BANGKU DAN DUDUK SETENGAH TAKUT. MAT KONTAN MENYUSUL

MAT KONTAN : Jangan kau lari. Awas!

VIII
PAIJAH DUDUK DAN MEMBELAI KEPALA ANAKNYA YANG TETAP MENANGIS. SOLEMAN MEMPERHATIKAN MAT KONTAN YANG TAMBAH GUGUP. MAT KONTAN MEMANDANGI SOLEMAN, MATANYA SEPERTI MEMINTA SESUATU. SOLEMAN MENANTANG MATA MAT KONTAN DENGAN PANDANGAN JANTAN

MAT KONTAN : Apa yang akan ku lakukan.

SOLEMAN : Lakukanlah semaumu. Itu urusan kau!

MAT KONTAN : (kepada Paijah) Ya ayo pergi kalau kau betul-betul mau minggat. Kemana kau bisa minggat, coba kemana?

PAIJAH : (tetap tunduk menangis) Ke rumah pamanku.

MAT KONTAN : (mengejek) Ke rumah pamanku. Pamanmu adalah orang yang paling miskin di dunia, tahu! Bukankah?

PAIJAH : Tapi saya harus kesana!

MAT KONTAN : Pergilah! Pergilah sana! Tapi anak itu jangan kau bawa. Anak itu adalah anak saya tahu!

PAIJAH : Bukan! Ia adalah anak saya yang pasti, sebab ia keluar dari rahim saya sendiri.

MAT KONTAN : Apa katamu, apa?

PAIJAH : Ya! Untuk dia ini saya pernah berkorban segalanya!

MAT KONTAN : (akan masuk berdiri di pintu) Kalau begitu kau memang harus jadi korban
(tapi matanya melihat pada soleman. Paijah jadi takut, lalu melihat pada soleman tapi mata soleman tertuju pada mat kontan). Ia telah membinasakan hati saya! Man! Ini harus saya balas Soleman.

SOLEMAN HANYA MEMANDANGINYA

MAT KONTAN : (berteriak) Jawablah saya, Leman!

UNTAI : (tapi ia lemas menantang mata jantan itu, sehingga ia terkulai, terjatuh didepan pintu. Utai tertawa melihat itu. Mat Kontan bangkit, marah) Hai! Kau mau kubunuh ya? Ya?

MAT KONTAN : (akan mengejar utai, tapi anak itu lari menghilang. Mat Kontan lemas) Kalian semua ini jahanam.

SOLEMAN : Saya jangan kau ikut-ikutkan Mat!

MAT KONTAN : (kepada paijah) Kau telah menyedihkan hati saya. Kau adalah bini saya jadi kau juga harus bertanggung jawab atas burung kesayangan saya karena saya juga sayang padamu.

PAIJAH : (setelah memandangi soleman) tapi kau juga laki saya, tapi sayangmu Cuma di mulut. Jadi kau bukan laki saya.

MAT KONTAN : Bilang sekali lagi bahwa saya ini bukan lakimu!

PAIJAH : (membelai kepala anaknya yang menangis). Kau tak pernah memikirkan anak saya ini. Tapi dimana saja kau banggakan ia!

MAT KONTAN : (berubah lalu mendekati anaknya) tapi ia belum begitu sakit. Seluruh anak kecil dikampung kita ini memang sedang musim sakit. (Mat Kontan jadi letih, lalu melepaskan napas panjang ia berkata-kata sesuatu tapi tak jelas) Man! Burung itu baru beberapa waktu yang lalu bisa ngomong dengan jelas. Kau tahu apa yang dibilangnya ketika masih hidup? Ketika saya dekati, ia bilang,” Jangan cubit saya! Jangan cubit saya!” Kenapa burung bisa berkata seperti manusia?

SOLEMAN : (melihat si anak tambah menangis,. lalu mendekat dan memegang kepala anak itu) Mari saya gendong anak ini Jah!

MAT KONTAN : (kaget berdiri) Jangan sentuh anak itu! Itu anak saya.

SOLEMAN : (tidak jadi mengambil). Baiklah! Itu sudah kepunyaan kau sekarang. Tapi saya ingin bertanggung jawab atas nyawanya.

MAT KONTAN : Apa kau punya hak atas nyawanya?

SOLEMAN : Biar bagaimanapun, ia adalah anak manusia bukan anak burung.

MAT KONTAN : Diam kau babi! Diam kau sebelum saya hantam!

SOLEMAN : Sekarang, apa yang akan kau lakukan sebagai lelaki, sebagai bapak, sebagai Mat Kontan yang selalu membayar kontan?

MAT KONTAN : Cari dulu siapa pembunuh burung saya. Ia juga harus dihajar dengan kepal tinju ini (mengacungkan tinjunya).

SOLEMAN : Kau tak kan berani. (melihat Paijah, Paijah takut).

MAT KONTAN : Apa? Apa kau bilang barusan?

SOLEMAN : Kau tak kan berani sebab kau pengecut paling besar di dunia Tuhan ini!

MAT KONTAN : Kalau saja ahli nujum itu belum mati (heran ia melihat soleman yang pergi begitu saja ke rumahnya). He, dengar! Kalau saja saya tahu, saya akan hajar dia! (melihat pada paijah dan mengancam). Kau juga! Malam ini juga harus kau tunjukkan padaku siapa pembunuhnya!

PAIJAH : (melihat anaknya yang menangis) Saya tak mau!

PAIJAH PERGI MASUK RUMAH, MAT KONTAN MENYUSUL. SOLEMAN MASUK DALAM RUMAHNYA BURU-BURU, LALU KELUAR KEMBALI MENYARUNGKAN GOLOKNYA DI BALIK SARUNGNYA, AGAR TAK TAMPAK. SOLEMAN MENDENGAR DI BALIK PINTU RUMAH MAT KONTAN, PERTENGKARAN YANG TERJADI DI DALAM. SOLEMAN JADI HERAN, MELIHAT PAIJAH YANG TIBA-TIBA MELONCAT KELUAR DAN MENDEKAP PADANYA

MAT KONTAN : (mengancam) Lepaskan dekapan itu!

PAIJAH : (terus mendekap). Man, tolong lindungi saya Man!

MAT KONTAN : Ayo lepaskan sebelum kuambil golok!

PAIJAH : (melihat soleman yang diam saja, jadi geram) Man, kau diam saja!

SOLEMAN HANYA MENANTANG MATA MAT KONTAN DENGAN DADA YANG SESAK

MAT KONTAN : Kau juga harus melepaskan dia! He, Soleman (jadi geram melihat Soleman) Lepaskan dia! Dia bukan binimu!

PAIJAH : (mengguncang Soleman) Jawab. Jawab Man!

KETIKA SOLEMAN DIAM SAJA, PAIJAH MELUDAHI MUKA LELAKI ITU. LALU IA MELEPASKAN DEKAPANNYA DENGAN SANGAT BENCI DAN DIA BERLARI KE BANGKU RUMAH SOLEMAN

MAT KONTAN : (pada Paijah) Paijah! Jangan kau lari kesana. Jangan kau lari kesana! Jangan kau berteduh di bawah atap rumah lelaki yang bukan lakimu.

PAIJAH : (bergayut pada sandaran bangku) Leman pengecut! Jawablah si Kontan itu Man!

SOLEMAN TETAP BUNGKAM, MAT KONTAN MENDEKATINYA BIARPUN HATINYA TAKUT SEKALI

MAT KONTAN : Jadi kau tahu ya, siap yang membunuh beo saya ha?

SOLEMAN : (memandang ke wajh paijah)

PAIJAH : Jawablah Man, sebelum kau dicincangnya!

SOLEMAN (MEMANDANG MAT KONTAN SEHINGGA MAT KONTAN MUNDUR. KETIGANYA SALING PANDANG DENGAN LIAR. KETIGANYA SALING BENCI.

MAT KONTAN : (akan masuk kerumah dan mengancam keduanya) Kalau begitu akan saya ambil golok. Akan saya bunuh kalian keduanya bila tak ada yang mengaku!

PAIJAH : Mat Kontan lakiku (setelah dilihat mat kontan, ia memandang soleman mengejek) Saya bunuh burungmu itu.

MAT KONTAN : (melangkah) Kenapa burung saya kau bunuh?

PAIJAH : Karena ia selalu mengejek saya!

MAT KONTAN : (heran berjalan mendekati) Dia mengejek kau? Ha?

PAIJAH : Dia mengejek saya dengan perkataan itu, jangan cubit saya! Jangan cubit saya! (sambil melihat soleman).

MAT KONTAN : (makin mendekati paijah).

PAIJAH : Hancurkan diri saya! Coba! (lalu menangkup bangku).

IX
SOLEMAN HANYA MEMANDANGI SAJA, SEDIKITPUN IA TAK MELANGKAH. PAIJAH BANGKIT DAN MEMANDANGNYA GARANG

PAIJAH : Hai lelaki pengecut! Bukankah kau bilang, berjanji akan melindungi saya ha? Kau diam saja sekarang kayak tunggul!

MAT KONTAN HERAN MEMANDANG SOLEMAN

SOLEMAN : (baru kemudian berjalan selangkah) Saya hanya kepingin melihat melihat kau takut. Juga kepingin melihat Mat Kontan takut. Dan juga kepingin merasakan kalau saya takut, seperti yang bapak saya alami!\

PAIJAH : Kau takut ya?

SOLEMAN : Saya kepingin melihat Mat Kontan menyentuhmu seujung kumis nyamuk. Melukaimu barang seiris bawang. Tapi rupanya ia tak berani.

PAIJAH : Jangan kau bikin gara-gara memanasi dia, Soleman keparat. Akuilah dulu perbuatan kau!

MAT KONTAN : (pada paijah) Jadi Soleman tahu siapa yang bunuh burungku?

PAIJAH : Ya, ia yang tahu!

MAT KONTAN : Tapi kenapa kau yang mengaku ha? (giginya gemeretak).

PAIJAH : Karena saya kasihan melihat dia begitu pengecut tadi.

MENDENGAR INI SOLEMAN JADI GERAM, LALU BERTERIAK

SOLEMAN : Sayalah yang membunuh burung beo itu! (berjalan lambat mendekati Mat Kontan. Mat Kontan memandangi agak takut) Sayalah yang melakukannya!

MAT KONTAN : (berputar mengambil tempat dekat rumahnya) Jadi kenapakau bunuh dia? Kau iri pada saya ya?

SOLEMAN : Ya, saya iri!

MAT KONTAN : Memang benar tebakan saya tadi.

SOLEMAN : Ya! Saya iri pada semua yang kau punyai. Pada uangmu, pada binimu, pada anakmu, pada burungmu. Dan pada kesombongan kamu!

MAT KONTAN : Memang kau jahanam!

SOLEMAN : Memang saya jahanam. Tapi kau juga jahanam (dan membalikan badan kearah paijah) Kau juga jahanam. Dan burung itu juga jahanam! (lambat) dan anak yang menangis itu juga jahanam.

MAT KONTAN : Kenapa kau hina anak saya ha?

SOLEMAN : Ia bukan anakmu!

MAT KONTAN : Apa katamu?

PAIJAH : Soleman!

SOLEMAN : Sekarang kau jangan banyak omong. Jah, malam ini malam yang menentukan kita semuanya. Ya, si Kontan kecil itu memang bukan anakmu, Mat!

MAT KONTAN : Anak siapa coba?

SOLEMAN BERJALAN LAMBAT MENUJU KETEMPAT KELAM, SUARANYA SEPAROH MENGAMBANG

SOLEMAN : Saya percaya, kau sendiri belum yakin selama ini bahwa ia itu anakmu. Kau sering menebarkan berita setelah anakmu lahir kemana saja untuk menutupi hal itu. Hal, bahwa sebenarnya kau bukan lelaki. (membalik badan dengan cepat). Dan itu menyakitkan hati saya, sebab kesombongan yang satu ini bukan kau punya dengan syah. Dan saya juga tidak bisa mempunyainya dengan syah. Sebab surat nikah ada di tangan kau, Kontan. (Soleman lalu duduk di bangku mat kontan) Bangku ini juga jahanam! Karena Paijah sering duduk di sini terkadang sampai malam. Dan saya duduk di sana (menunjuk bangkunya) Kami saling memandang (kepada kontan). Kenapa kau sering tak di rumah, Tan? Itu juga perbuatan yang jahanam.

MAT KONTAN : Sekarang jawab saja dengan pendek, jangan bikin saya botak. Anak itu anak siapa?

SOLEMAN BERDIRI

PAIJAH : (setengah menangis) Jangan kau bilang Man!

SOLEMAN : (berjalan mendekati kontan dengan pandangan yang mencekam pada paijah) Akan saya jawab. Kau rela? (pendek lambat) Anak itu anak saya dari darah daging saya!

MAT KONTAN : Biadab kalian!

IA BERLARI KE PINTU RUMAHNYA, TAPI TERHENTI MENDENGAR ANAK MENANGIS

PAIJAH : Anakku mau dibacoknya! (melompat, tapi tertelungkup)

SOLEMAN : (membiarkan semua ini berlalu) Kau berteriak minta tolong, di pantai pasir Boblos. Kau ingat itu, Tan? (suaranya lembut) Kau minta satu ujung napas agar kau hidup panjang.

MAT KONTAN MENDENGAR HAL INI JADI KUYU, MUKANYA BERPELUH. SEPERTI TERSENTAK DARI MIMPI, IA LEMPAR GOLOKNYA DAN MELOMPAT MEMELUK SOLEMAN

MAT KONTAN : Man! Sudah kubilang, jangan ceritakan hal itu. Saya kepingin panjang umur.

PAIJAH (BANGKIT DARI PINGSANYA, TERHUYUNG MENUJU BANGKU)

SOLEMAN : Tak jadi kau bunuh saya?

MAT KONTAN : Tidak tahu. O, Man! Kalau tidak tentu saya sudah mati sekarang ini dalam tanah. Saya kelelep di pasir dan tak dapat melihat dunia merdeka ini.

SOLEMAN : Tapi saya tak rela selesai seperti ini.

MAT KONTAN : (berkata sesuatu tak jelas) Ia menuju ke pintu, lalu di pintu ia terhenti. Suaranya mengambang untuk soleman dan paijah. Mat Kontan mengambil golok, menyarungkannya). Kalian tak usah saya bunuh. Karena banyak lagi perempuan di dunia ini (setengah menangis) Leman! Ambillah paijah biniku itu karena kau telah merampasnya. (kepada paijah) Paijah! Ambillah soleman karena sahabat saya itu telah merampasmu!

(Mat Kontan akan masuk ke rumah, tapi tak jadi) Tak usahlah, tak usahlah pamit pada si kecil. Karena dia bukan darah daging, bukan anak saya. (berteriak sedih). Ambillah oleh kalian! Telah kalian rampas seluruh kepunyaan saya!

XI
SEPERTI ANAK KECIL MAT KONTA MENGHAPUS AIR MATANYA DENGAN SARUNGNYA. INGUSNYA KELUAR DAN IA MEMBERSIHKAN INGUS ITU DENGAN BERKATA SESUATU YANG TAK JELAS. JALANNYA BONGKOK, BERHENTI IA DI TEMPAT KELAM.

MAT KONTAN : Saya akan pulang ke kampung kelahiran saya. Malam ini juga.

HILANGLAH MAT KONTAN, UTAI YANG MUNCUL DISUDUT RUMAH MAT KONTAN HANYA TERDUDUK MEMPERMAINKAN PASIR. IA TAK DILIHAT OLEH PAIJAH MAUPUN SOLEMAN. SOLEMAN MEMBANTING GOLOKNYA

PAIJAH : Man. (Soleman tak menjawab dan duduk di bangku rumahnya) Man..............

SOLEMAN : (seperti menyesal, tapi tiba-tiba tersentak sehingga paijah kaget). Barangkali ia bunuh diri, Jah! Saya akan susul..............

PAIJAH :Jangan tinggalkan saya! (memeluk soleman) Jangan tinggalkan saya Man!

utai tiba-tiba berdiri dan tertawa pendek. kedua mereka terkejut sehingga dekapan itu lepas. utai segera lari ke arah mat kontan pergi

PAIJAH : (menahan soleman) Jangan Man!

SOLEMAN : Ia sahabat saya, Jah. Saya tak mau biarkan dia mati begituan. Saya pulangkan dia pada kau, karena kau bukan hak saya yang syah!

PAIJAH : Leman! Jangan kau tinggalkan saya dan anak kita!

SOLEMAN : (mendengar suara tangis bayi). Jah.......

PAIJAH : Anak itu sebaiknya kita bawa ke dukun.

SOLEMAN : Bawa ke Pak Mangun.

MEREKA MASUK KEDALAM PINTU RUMAH PAIJAH, BAYI ITU MASIH MENANGIS

XII
SOLEMAN MUNCUL KEMBALI DAN KELUAR, TERDENGAN SUARA TAWA DARI KEGELAPAN. MAT KONTAN DENGAN GOLOKNYA BERSAMA UTAI. KETIKA MAKIN DEKAT SOLEMAN MELIHATNYA DENGAN GELISAH DAN GUGUP MEMANDANG GOLOK YANG TADI DIBANTINGNYA KE TANAH

MAT KONTAN : (tertawa) Ha! Kau kira saya mau begitu saja meniyerahkan bini saya buat kamu? Hei, ajudan kecil bagaimana?

UTAI : Terus! Pukul saja!

MAT KONTAN : Kau kira siapa saya? Kau kira bisa ke Jawa begini malam? Kau kira kapan saya pulang ibu bapak saya tidak akan membawa anak bini? Kau kira saya juga tak kepingin senang dengan keluarga?

UTAI : Terus! Bacok saja!

MAT KONTAN : Nanti dulu Tai! Biar kita lihat dia ketakutan.

UTAI : Jangan biarkan dia lari.

MAT KONTAN : Hadang sana (kepada soleman) saya ke pantai spesial mengasah golok Cibatu ini buat diasah di kepalamu yang penuh najis itu! Dan saya melaporkan bahwa kau berpelukan dengan Paijah, huh!

SOLEMAN MELIHAT UTAI MENGAMBIL GOLOK YANG DI TANAH. PAIJAH MUNCUL DI PINTU TAPI MASUK KEMBALI. SEMUA MENDENGAR SUARA KERETA APAI MENDERU MAKIN MENDEKAT. SOLEMAN MENCARI KELUAR. TIBA-TIBA IA SUDAH MELOMPAT SAJA KESAMPING UATAI DAN MENGHILANG. UTAI MEMBURU DISUSUL OLEH MAT KONTAN, KETIGANYA TELAH TERTELAN GELAM MALAM.

XIII
PAIJAH YANG MUNCUL DIPINTU MENAHANTANGISNYA. KEPALA ANAKNYA TERUS DIUSAPNYA BIARPUN SI ANAK TERUS MENANGIS. SUARA UBRUK DI KEJAUHAN MAKIN KERAS, TAPI KEMUDIAN SEPI KETIKA TAWA MAT KONTA SEMAKIN MENDEKAT. PAIJAH MENCOBA MENABAHKAN KETAKUTANNYA

MAT KONTAN : (nafasnya masih terengah) Jah!

PAIJAH : (heran) Tan! Jangan bunuh kami, Tan!

MAT KONTAN : (menggeleng) Bodoh saya kalau membunuh kau dan anak ini (didekapnya bininya) Jah! (ia menangis) Kau tahu Jah? Kau tahu si Utai patah lehernya?

PAIJAH : Ha?

MAT KONTAN : Ia ditendang soleman jahanam itu ketika Utai menangkapnya. Tapi Soleman selamat sampai ke gerbong kereta api. Jahanam itu selamat. Saya sempat memukul kepalanya dua kali, Jah. Ia selamat, Ia lolos, Jah. Tapi pikirannya akan selalu diburu!

(bayi menangis) Bawa ke dalam nanti masuk angin lagi!

(Paijah heran memandangi mat kontan) Kenapa kau lihat saya seperti itu? Apa saya ini macan?

PAIJAH : Si Utai, Tan.

MAT KONTAN :Apa boleh buat dia mati. Kalau hidup tentu ia akan menyebarkan berita kerusuhan kita ini. Kita mesti rahasiakan ini, Jah!

XIV
DARI JAUH KALENG SUSU TUKANG PIJAT JELAS MENDEKAT. IA MUNCUL KETIKA PAIJAH MEMBAWA BAYINYA MASUK

MAT KONTAN : Jangan bikin ribut! Anak saya makin sakit!

TUKANG PIJAT : Tan! Kau dicari-cari orang, Tan. Si Utai mati kau tahu?

MAT KONTAN : Ssssst! Jangan berisik. Saya mau pergi mencari dukun.

TUKANG PIJAT : Kabarnya Soleman berkelahi dengan kamu tadi ya? Soal apa?

MAT KONTAN : (makin jauh akan pergi) Dia mencuri burung saya dan uang saya. Ssssst. Jangan berisik...........(menghilang)

TUKANG PIJAT : Punya anak satu kayak selusin saja. Kontaaaaaan, Kontaaaan

IA TERCENUNG MELIHAT MAT KONTAN MAKIN JAUH

XV
TANGIS BAYI YANG MAKIN MENINGGI MENYEBABKAN TUKANG PIJAT ITU MENDEKAT. TAPI KEMUDIAN TANGIS ITU TERHENTI DI DALAM PUNCAKNYA. TERDENGAR RAUNG PEREMPUAN DI DALAM. KEMUDIAN PINTU TERHEMPAS KELUARLAH PAIJAH DALAM RAMBUT KUSUT MASAI. HAMPIR MENABRAK TUKANG PIJAT. TANGIS PAIJAH TERDEKAM KE DADANYA. BERHENTI IA MENANGIS DARI TEMPAT KELAM ITU. LAMBAT IA BERJALAN MENUJU TUKANG PIJAT, SETENGAH BERTERIAK.

PAIJAH : .......Pak! Anakku mati Pak!

SITUA BELUM SEMPAT BERTANYA, PEREMPUAN ITU MELARIKAN DIRI KE ARAH MAT KONTAN TELAH MENGHILANG.

*****SELESAI*****

AYAHKU PULANG - Usmar Ismail



Sinopsis
Naskah drama berjudul Ayahku Pulang ini, berkisah tentang seorang ayah yang bernama Raden Saleh tega meninggalkan istri dan anak-anaknya yang masih kecil demi mengejar harta. Saat Raden Saleh pergi, keadaan rumah pun masih miskin. Anak pertamanya bernama Gunarto, saat itu masih berumur 8 tahun, anak keduanya bernama Maimun yang saat itu juga masih balita, sedangkan anak ketiganya, Mintarsih saat itu masih dalam kandungan sang ibu. Sang ayah pergi merantau untuk bekerja di Singapura. Setelah sukses di sana, kemudian ia menikah dengan seorang janda yang kaya.

Suatu saat api membakar habis tokonya, ia menanggung kerugian besar. Investasi yang ia lakukan pun gagal, akhirnya ia pun terlunta-lunta. Kini usianya telah tua dan ia memilih untuk kembali ke keluarganya yang lama.
Dua puluh tahun sudah berlalu, Gunarto kini sudah dewasa dan menjadi tulang punggung keluarganya. Gunarto bekerja di pabrik tenun, wataknya keras karena beratnya perjuangan hidup yang harus ia lalui tanpa kasih sayang dan didikan seorang ayah. Maimun juga sudah memiliki pekerjaan, sedangkan Mintarsih bekerja dengan menerima jahitan.

Saat itu keluarganya sangat bahagia tanpa seorang ayah yang menemani kehidupan mereka. Pada malam hari Raya Idul Fitri, saat Gunarto pulang kerja. Gunarto menemukan ibunya yang sedang melamun, teringat kejadian dua puluh tahun yang lalu, di malam yang sama sang ayah telah meninggalkan mereka. Kenangan itu membuat luka lama di hati Gunarto kembali terbuka. Ia memilih tidak membicarakan hal itu dan mencoba mengalihkan pembicaraan. Maimun kemudian pulang dan membawa kabar bahwa tetangga mereka melihat seorang laki-laki tua yang mirip dengan ayah mereka. Tak lama kemudian, Mintarsih pun pulang dan juga berkata bahwa ia melihat ada seorang lelaki tua di seberang jalan yang sedang melihat kearah rumah mereka.

Beberapa saat kemudian, seorang laki-laki tua menghampiri rumah mereka. Ibu langsung mengenali orang tua itu sebagai suaminya yang telah lama pergi meninggalkan mereka. Maimun dan Mintarsih yang tidak mengerti permasalahan yang dulu pernah terjadi, langsung saja menerima orang itu sebagai ayah mereka. Lain halnya dengan Gunarto yang masih memiliki rasa dendam yang mendalam pada ayahnya, ia tidak sudi menerimanya kembali di rumah mereka.

Ibu menyuruh laki-laki tua itu untuk masuk ke dalam rumah dan menyuruh Maimun mengambilkan minuman. Ayah pun melihat Gunarto yang kini sudah dewasa. Lalu ayahnya meceritakan kehidupannya sewaktu di Singapura, dia mempunyai istri, tetapi kemudian tokonya terbakar habis dan sekarang kehidupannya menjadi terlunta-lunta. Gunarto pun marah, sifat angkuhnya yang menurun dari sang ayah pun muncul dan ia mencaci-maki ayahnya. Mengingatkan ayah, ibu dan adik-adiknya tentang kesalahan yang telah diperbuat ayahnya di masa lalu, serta mengingatkan perjuangannya sebagai tulang punggung keluarga. Sang ayah menyesal dan akhirnya memilih untuk pergi karena tidak ingin mengganggu kedamaian keluarganya.

Ibu hanya bisa menangis menahan kepedihan dan penderitaan yang dialaminya lagi, ditinggalkan suaminya di saat malam hari raya Idul Fitri. Maimun dan Mintarsih menyesalkan perilaku Gunarto yang tidak mau menerima kembali ayah mereka, karena bagaimanapun juga mereka tetap darah dagingnya. Maimun akhirnya bertekad untuk menentang kakaknya dan pergi untuk memanggil ayahnya kembali pulang. Tetapi Maimun hanya menemukan baju dan peci ayahnya saja di pinggir jembatan. Ternyata sang ayah bunuh diri dengan melompat dari atas jembatan ke dalam sungai.

Akhirnya Maimun membawa topi dan baju sang ayah ke rumah. Saat itulah Gunarto terkejut dan sangat menyesali perlakuannya terhadap sang ayah. Gunarto pun pergi berlari untuk mengejar ayahnya ke jembatan,
Gunarto mencari ayahnya dan memanggil-manggil nama ayahnya. Usaha Gunarto pun tidak membuahkan hasil, kini yang tersisa hanyalah penyesalan yang mendalam di hati Gunarto.


AYAHKU PULANG 
Karya : Usmar Ismail

1. RADEN SALEH Ayah.
2. T I N A Ibu / Isteri Raden Saleh.
3. GUNARTO Anak laki-laki tertua Raden Saleh dan Tina.
4. MAIMUN Adik laki-laki Gunarto / anak kedua Raden Saleh dan Tina.
5. MINTARSIH Adik perempuan Gunarto dan Maimun / anak bungsu Raden Saleh dan Tina.


PANGGUNG MENGGAMBARKAN SEBUAH RUANGAN DALAM DARI SEBUAH RUMAH YANG SANGAT SEDERHANA DENGAN SEBUAH JENDELA AGAK TUA. DIKIRI KANAN RUANGAN TERDAPAT PINTU. DISEBELAH KIRI RUANGAN TERDAPAT SATU SET KURSI DAN MEJA YANG AGAK TUA, DISEBELAH KANAN TERDAPAT SEBUAH MEJA MAKAN KECIL DENGAN EMPAT BUAH KURSINYA, TAMPAK CANGKIR TEH, KUE-KUE DAN PERALATAN LAINNYA DIATAS MEJA. SUARA ADZAN DI LATAR BELAKANG MENUNJUKKAN SAAT BERBUKA PUASA.

SEBELUM LAYAR DIANGKAT SEBAIKNYA TERLEBIH DAHULU SUDAH TERDENGAR SUARA BEDUK BERSAHUT-SAHUTAN DIIRINGI SUARA TAKBIR BEBERAPA KALI SEBAGAI TANDA KALAU ESOK ADALAH HARI RAYA IDUL FITRI. SUARA BEDUG DAN TAKBIR SEBAIKNYA TERUS TERDENGAR DARI MULAI LAYAR DIANGKAT/SANDIWARA DIMULAI SAMPAI AKHIR PERTUNJUKKAN INI. KETIKA SANDIWARA DIMULAI/LAYAR PANGGUNG DIANGKAT, TAMPAK IBU SEDANG DUDUK DIKURSI DEKAT JENDELA. EKSPRESINYA KELIHATAN SEDIH DAN HARU MENDENGAR SUARA BEDUK DAN TAKBIRAN YANG BERSAHUT-SAHUTAN ITU. KEMUDIAN MASUK KEPANGGUNG GUNARTO.

GUNARTO (Memandang Ibu Lalu Bicara Dengan Suara Sesal)
Ibu masih berfikir lagi...

I B U (Bicara Tanpa Melihat Gunarto)
Malam Hari Raya Narto. Dengarlah suara bedug itu bersahut-sahutan.

(Gunarto Lalu Bergerak Mendekati Pintu)

Pada malam hari raya seperti inilah Ayahmu pergi dengan tidak meninggalkan sepatah katapun.

GUNARTO (Agak Kesal)
Ayah......

I B U
Keesokan harinya Hari Raya, selesai shollat ku ampuni dosanya...

GUNARTO
Kenapa masih Ibu ingat lagi masa yang lampau itu? Mengingat orang yang sudah tidak ingat lagi kepada kita?

I B U (Memandang Gunarto)
Aku merasa bahwa ia masih ingat kepada kita.

GUNARTO (Bergerak Ke Meja Makan)
Mintarsih kemana, Bu?

I B U
Mintarsih keluar tadi mengantarkan jahitan, Narto.

GUNARTO (Heran)
Mintarsih masih juga mengambil upah jahitan, Bu? Bukankah seharusnya ia tidak usah lagi membanting tulang sekarang?

I B U
Biarlah Narto. Karena kalau ia sudah kawin nanti, kepandaiannya itu tidak sia-sia nanti.

GUNARTO (Bergerak Mendekati Ibu,Lalu Bicara Dengan Lembut)
Sebenarnya Ibu mau mengatakan kalau penghasilanku tidak cukup untuk membiayai makan kita sekeluarga kan, Bu? (Diam Sejenak. Pause) Bagaimana dengan lamaran itu, Bu?

I B U
Mintarsih nampaknya belum mau bersuami, Narto..Tapi dari fihak orang tua anak lelaki itu terus mendesak Ibu saja..

GUNARTO
Apa salahnya, Bu? Mereka uangnya banyak!

I B U
Ah... uang, Narto??

GUNARTO (Sadar Karena Tadi Berbicara Salah)
Maaf Bu... bukan maksud aku mau menjual adik sendiri..

(Lalu Bicara Dengan Dirinya Sendiri)

Ah... aku jadi mata duitan.... yah mungkin karena hidup yang penuh penderitaan ini...

I B U (Menerawang)
Ayahmu seorang hartawan yang mempunyai tanah dan kekayaan yang sangat banyak, mewah diwaktu kami kawin dulu. Tetapi kemudian... seperti pokok yang ditiup angin kencang...buahnya gugur..karena......

(Suasana Sejenak Hening, Penuh Tekanan Bathin, Suara Ibu Lemah Tertekan)


Uang Narto! Tidak Narto, tidak...aku tidak mau terkena dua kali, aku tidak mau adikmu bersuamikan seorang Hartawan, tidak...cukuplah aku saja sendiri. biarlah ia hidup sederhana Mintarsih mestilah bersuamikan orang yang berbudi tinggi, mesti, mesti...

GUNARTO (Coba Menghibur Ibu)
Tapi kalau bisa kedua-duanya sekaligus,Bu? Ada harta ada budi.

I B U
Dimanalah dicari,Narto? Adik kau Mintarsih hanyalah seorang gadis biasa. Apalagi sekarang ini keadaan kita susah? Kita tidak punya uang dirumah? Sebentar hari lagi uang simpananku yang terakhirpun akan habis pula.

GUNARTO (Diam Berfikir, Kemudian Kesal)
Semua ini adalah karena ulah Ayah! Hingga Mintarsih harus menderita pula! Sejak kecil Mintarsih sudah merasakan pahit getirnya kehidupan. Tapi kita harus mengatasi kesulitan ini,Bu! Harus! Ini kewajibanku sebagai abangnya, aku harus lebih keras lagi berusaha!

(Hening Sejenak Pause. Lalu Bicara Kepada Dirinya Sendiri)

Kalau saja aku punya uang sejuta saja....

I B U
Buat perkawinan Mintarsih, lima ratus ribu rupiah saja sudah cukup,Narto.
(Ibu Coba Tersenyum)
Sesudah Mintarsih nanti, datanglah giliranmu Narto...

GUNARTO (Kaget)
Aku kawin,Bu?? Belum bisa aku memikirkan kesenangan untuk diriku sendiri sekarang ini, Bu. Sebelum saudara-saudaraku senang dan Ibu ikut mengecap kebahagiaan atas jerih payahku nanti Bu.

SUARA BEDUG DAN TAKBIR TERDENGAR LEBIH KERAS SEDIKIT.

I B U
Aku sudah merasa bahagia kalau kau bahagia, Narto. Karena nasibku bersuami tidak baik benar.
(Kembali Fikirannya Menerawang)
Dan kata orang bahagia itu akan turun kepada anaknya.

(Pause Lalu Terdengar Suara Bedug Takbir Lebih Keras Lagi. Ibu Mulai Bicara Lagi)

Malam hari raya sewaktu ia pergi itu, tak tahu aku apa yang mesti aku kerjakan? Tetapi ....

(KEMBALI SEDIH DAN HARU)

GUNARTO (Tampak Kesal Lalu Mengalihkan Pembicaraan)
Maimun lambat benar pulang hari ini, Bu?

I B U
Barangkali banyak yang harus dikerjakannya? Karena katanya mungkin bulan depan dia naik gaji.

GUNARTO
Betul bu itu? Maimun memang pintar, otaknya encer. Tapi karena kita tak punya uang kita tak bisa membiayai sekolahnya lebih lanjut lagi. Tapi kalau ia mau bekerja keras, tentu ia akan menjadi orang yang berharga di masyarakat!

I B U (Agak Mengoda)
Narto...siapa gadis yang sering ku lihat bersepeda bersamamu?

GUNARTO (Kaget. Gugup)
Ah...dia itu cuma teman sekerja, Bu.

I B U
Tapi Ibu rasa pantas sekali dia buat kau, Narto. Meskipun Ibu rasa dia bukanlah orang yang rendah seperti kita derajatnya. Tapi kalau kau suka ....

GUNARTO (Memotong Bicara Ibu)
Ah... buat apa memikirkan kawin sekarang, Bu? Mungkin kalau sepuluh tahun lagi nanti kalau sudah beres.

I B U
Tapi kalau Mintarsih nanti sudah kawin, kau mesti juga Narto? Kau kan lebih tua.
(Diam Sebentar Lalu Terkenang)
Waktu Ayahmu pergi pada malam hari raya itu... ku peluk kalian anak-anakku semuanya.. hilang akalku....

GUNARTO
Sudahlah Bu. Buat apa mengulang kaji lama?

MASUK MAIMUN. DIA TAMPAK KELIHATAN SENANG.

MAIMUN (Setelah Meletakkan Tas Kerjanya Lalu Bicara)
Lama menunggu, Bu? Bang?

GUNARTO
Ah tidak...

I B U
Agak lambat hari ini, Mun? Dimana kau berbuka puasa tadi?

MAIMUN
Kerja lembur, Bu. Tadi aku berbuka puasa bersama teman dikantor. Tapi biarlah, buat perkawinan Mintarsih nanti. Eh, mana dia Bu?

I B U
Mengantarkan jahitan..

MAIMUN (Menghampiri Gunarto Lalu Duduk Disebelahnya)
Bang, ada kabar aneh, nih! Tadi pagi aku berjumpa dengan seorang tua yang serupa benar dengan Ayah?

GUNARTO (Tampak Tak Terlalu Mendengarkan)
Oh, begitu?

MAIMUN
Waktu Pak Tirto berbelanja disentral, tiba-tiba ia berhadapan dengan seorang tua kira-kira berumur enam puluh tahun. Ia kaget juga?! Karena orang tua itu seperti yang pernah dikenalnya? Katanya orang tua itu serupa benar dengan Raden Saleh. Tapi kemudian orang itu menyingkirkan diri lalu menghilang dikerumunan orang banyak!

GUNARTO
Ah, tidak mungkin dia ada disini....

I B U (Setelah Diam Sebentar)
Aku kira juga dia sudah meninggal dunia atau keluar negeri. Sudah dua puluh tahun semenjak dia pergi pada malam hari raya seperti ini.

MAIMUN
Ada orang mengatakan dia ada Singapur, Bu?

I B U
Tapi itu sudah sepuluh tahun yang lalu. Waktu itu kata orang dia mempunyai toko yang sangat besar disana. Dan kata orang juga yang pernah melihat, hidupnya sangat mewah.

GUNARTO (Kesal)
Ya! Tapi anaknya makan lumpur!

I B U (Seperti Tidak Mendengar Gunarto)
Tapi kemudian tak ada lagi sama sekali kabar apapun tentang Ayahmu. Apalagi sesudah perang sekarang ini, dimana kita dapat bertanya?

MAIMUN
Bagaimana rupa Ayah yang sebenarnya, Bu?

I B U
Waktu ia masih muda, ia tak suka belajar. Tidak seperti kau. Ia lebih suka berfoya-foya. Ayahmu pada masa itu sangat disegani orang. Ia suka meminjamkan uang kesana kemari. Dan itulah....

GUNARTO (Kesal Lalu Mengalihkan Pembicaraan)
Selama hari raya ini berapa hari kau libur, Mun?

MAIMUN
Dua hari, Bang.

I B U
Oh ya! Hampir lupa masih ada makanan yang belum Ibu taruh dimeja.

(IBU LALU MASUK KEDALAM)

GUNARTO (Setelah Diam Sebentar)
Pak Tirto bertemu dengan orang tua itu kapan, Mun?

MAIMUN
Kemarin sore, Bang. Kira-kira jam setengah tujuh.

GUNARTO
Bagaimana pakaiannya?

MAIMUN
Tak begitu bagus lagi katanya. Pakaiannya sudah compang-camping dan kopiahnya sudah hampir putih.

GUNARTO (Acuh Saja)
Oh begitu?

MAIMUN
Kau masih ingat rupa Ayah, Bang?

GUNARTO (Cepat)
Tidak ingat lagi aku.

MAIMUN
Semestinya abang ingat, karena umur abang waktu itu sudah delapan tahun. Sedangkan aku saja masih ingat, walaupun samar-samar.

MAIMUN (Agak Kesal)
Tidak ingat lagi aku. Sudah lama aku paksa diriku untuk melupakannya.

MAIMUN (Terus Bicara)
Pak Tirto banyak cari tanya tentang Ayah.

IBU KELUAR KEMBALI MEMBAWA MAKANAN LALU BERGABUNG LAGI DENGAN MEREKA.

I B U
Ya, kata orang Ayahmu seorang yang baik hati. (MENERAWANG) Jika ia berada disini sekarang dirumah ini, besok hari raya, tentu ia bisa bersenang-senang dengan anak-anaknya...

GUNARTO (Mengalihkan Pembicaraan)
Eh, Mintarsih seharusnya sudah pulang sekarang.. jam berapa sekarang ini?

MAIMUN
Bang Narto. Ada kabar aneh lagi nih! Tadi pagi aku berkenalan dengan orang India. Dia mengajarkan aku bahasa Urdu, dan aku memberikan pelajaran bahasa Indonesia kepada dia!

GUNARTO
Baguslah itu. Kau memang harus mengumpulkan ilmu sebanyak-banyaknya. Supaya nanti kau dapat banggakan kalau kau bisa jadi orang yang sangat berguna bagi masyarakat! Jangan seperti aku ini, hanya lulusan sekolah rendah. Aku tidak pernah merasakan atau bisa lebih tinggi lagi, karena aku tidak punya Ayah. Tidak ada orang yang mau membantu aku. Tapi kau Maimun, yang sekolah cukup tinggi, bekerjalah sekuat tenagamu! Aku percaya kau pasti bisa memenuhi tuntutan zaman sekarang ini!

MASUK MINTARSIH SEORANG ANAK GADIS YANG TAMPAK RIANG. IA MEMBAWA SESUATU YANG TAMPAKNYA UNTUK KEPERLUAN HARI RAYA BESOK.

MINTARSIH
Ah.... sudah berbuka puasa semuanya?

I B U
Tadi kami menunggu kau, tapi lama benar?
(Mintarsih Bergerak Mendekati Jendela Lalu Melongokkan Kepalanya Melihat Keluar)
Makanlah. Apa yang kau lihat diluar?

MINTARSIH
Waktu saya lewat disitu tadi...
(Menoleh Melihat Gunarto Yang Tampak Acuh Saja)
Bang Narto... dengarlah dulu..

GUNARTO (Tenang)
Ya, aku dengar.

MINTARSIH
Ada orang tua diujung jalan ini. Dari jembatan sana melihat-lihat kearah rumah kita. Nampaknya seperti seorang pengemis.

(Semua DiaM)

Yah... kenapa semua jadi diam?

GUNARTO TERTUNDUK MEMBISU

MAIMUN (Dengan Cepat)
Orang tua?? bagaimana rupanya?

MINTARSIH
Hari agak gelap. Jadi tidak begitu jelas kelihatannya... tapi orangnya....

TINGGI ATAU PENDEK TERGANTUNG PEMERAN. SUARA BEDUG AGAK KERAS TERDENGAR.

MAIMUN (Bangkit Dari Duduknya Lalu Melihat Ke Jendela)
Coba ku lihat!

KEMUDIAN MAIMUN KELUAR TAK LAMA MASUK KEMBALI, LALU MELONGOKKAN KEPALANYA KE JENDELA LAGI


GUNARTO (Menoleh Sedikit Kepada Maimun)
Siapa Mun?

MAIMUN
Tak ada orang kelihatannya?!

DUDUK KEMBALI

I B U (tampak sedih)
Malam hari raya seperti ini ia berlalu dulu itu...

(Terkenang)

Mungkin ....

GUNARTO (agak kesal)
Ah Bu, lupakan sajalah apa yang sudah berlalu itu.

SUARA BEDUG DAN TAKBIRAN TERDENGAR AGAK JELAS KETIKA SUASANA HENING, SAMBIL MENUNGGU DIALOG.

I B U
Waktu kami masih sama-sama muda, kami sangat berkasih-kasihan. Sejelek-jelek Ayahmu, banyak juga kenangan-kenangan di masa itu yang tak dapat Ibu lupakan. Nak, mungkin ia kembali juga?

SUARA BEDUG DAN TAKBIRAN MAKIN SAYUP-SAYUP LALU TERDENGAR SUARA ORANG MEMBERI SALAM DARI PINTU LUAR.


R. SALEH
Assalamualaikum, assalamualaikum... apa disini rumahnya Nyonya Saleh?

I B U
Astagfirullah! Seperti suara Ayahmu, nak? Ayahmu pulang, nak!

IBU BERGERAK MENDEKATI PINTU RUMAH LALU MEMBUKA PINTU LEBIH LEBAR. DAN NAMPAK RADEN SALEH BERDIRI DIHADAPANNYA. SUASANA JADI HENING TIBA-TIBA. HANYA TERDENGAR SUARA BEDUG DAN TAKBIRAN YANG SAYUP-SAYUP NAMUN JELAS TERDENGAR.


R. SALEH (setelah lama berpandangan)
Tina? Engkau Tina??

I B U (agak gugup)
Saleh? Engkau Saleh?? Engkau banyak berubah, Saleh.

R. SALEH (tersenyum malu)
Ya. Ya aku berubah, Tina. Dua puluh tahun perceraian merubah wajahku.
(KEMUDIAN MEMANDANGI ANAK-ANAKNYA SATU PERSATU)
Dan ini tentunya anak-anak kita semua?

I B U
Ya, memang ini adalah anak-anakmu semua. Sudah lebih besar dari Ayahnya. Mari duduk, dan pandangilah mereka...

R. SALEH (ragu)
Apa? Aku boleh duduk, Tina?

MINTARSIH MENARIK KURSI UNTUK MEMPERSILAHKAN RADEN SALEH DUDUK.

I B U
Tentu saja boleh. Mari....
(Menuntun raden saleh sampai ke kursi)
Ayahmu pulang, Nak.

MAIMUN (gembira lalu berlutut dihadapan raden saleh)
Ayah, aku Maimun.

R. SALEH
Maimun? Engkau sudah besar sekarang, Nak. Waktu aku pergi dulu, engkau masih kecil sekali. Kakimu masih lemah, belum dapat berdiri.
(Diam sebentar lalu melihat mintarsih)
Dan Nona ini, siapa?

MINTARSIH
Saya Mintarsih, Ayah.

(LALU MENCIUM TANGAN AYAHNYA)

R. SALEH
Ya, ya... Mintarsih. Aku dengardari jauh bahwa aku mendapat seorang anak lagi. Seorang putri.
(Memandang wajah mintarsih)

Engkau cantik, Mintarsih. Seperti Ibumu dimasa muda.
(Ibu tersipu malu)
Aku senang sekali. Tak tahu apa yang harus ku lakukan?

I B U
Aku sendiri tidak tahu dimana aku harus memulai berbicara? Anak-anak semuanya sudah besar seperti ini. Aku kira inilah bahagia yang paling besar.

R. SALEH (tersenyum pahit)
Ya, rupanya anak-anak dapat juga besar walaupun tidak dengan Ayahnya.

I B U
Mereka semua sudah jadi orang pandai sekarang. Gunarto bekerja diperusahaan tenun. Dan Maimun tak pernah tinggal kelas selama bersekolah. Tiap kali keluar sebagai yang pertama dalam ujian. Sekarang mereka sudah mempunyai penghasilan masing-masing. Dan Mintarsih dia ini membantu aku menjahit.

MINTARSIH (malu)
Ah, Ibu.

R. SALEH (sambil batuk-batuk)
Sepuluh tahun aku menjadi seorang saudagar besar disingapur. Aku menjadi kepala perusahaan dengan pegawai berpuluh-puluh orang. Tapi malang bagiku, toko itu habis terbakar. Lalu seolah-olah seperti masih belum puas menyeret aku kelembah kehancuran, saham-saham yang ku beli merosot semua nilainya sehabis perang ini. Sesudah itu semua segala yang kukerjakan tak ada lagi yang sempurna. Sementara aku sudah mulai tua. lalu tempat tinggalku, keluargaku, anak isteriku tergambar kembali didepan mata dan jiwaku. Kalian seperti mengharapkan kasihku.

(Batuk-batuk. Lalu memandang gunarto)

Maukah engkau memberikan air segelas buat ku Gunarto? Hanya engkau yang tidak....

I B U (gelisah serba salah)
Narto, Ayahmu yang berbicara itu. Mestinya engkau gembira, nak. Sudah semestinya Ayah berjumpa kembali dengan anak-anaknya yang sudah sekian lama tidak bertemu.

R. SALEH
Kalau Narto tak mau, engkaulah Maimun. Maukah kau memberikan Ayah air segelas?

MAIMUN
Baik, Ayah.

MAIMUN BERGERAK HENDAK MENGAMBILKAN AIR MINUM, TAPI NIATNYA TERHENTI OLEH TEGURAN KERAS GUNARTO.


GUNARTO
Maimun! Kapan kau mempunyai seorang Ayah!

I B U
Gunarto!
(SEDIH, GELISAH DAN MULAI MENANGIS)

GUNARTO (bicara perlahan tapi pahit)
Kami tidak mempunyai Ayah, Bu. Kapan kami mempunyai seorang Ayah?

I B U (agak keras tapi tertahan)
Gunarto! Apa katamu itu!

GUNARTO
Kami tidak mempunyai seorang Ayah kataku. Kalau kami mempunyai Ayah, lalu apa perlunya kami membanting tulang selama ini? Jadi budak orang! Waktu aku berumur delapan tahun, aku dan Ibu hampir saja terjun kedalam laut, untung Ibu cepat sadar. Dan jika kami mempunyai Ayah, lalu apa perlunya aku menjadi anak suruhan waktu aku berumur sepuluh tahun? Kami tidak mempunyai seorang Ayah. Kami besar dalam keadaan sengsara. Rasa gembira didalam hati sedikitpun tidak ada. Dan kau Maimun,. Lupakah engkau waktu menangis disekolah rendah dulu? Karena kau tidak bisa membeli kelereng seperti kawan-kawanmu yang lain. Dan kau pergi kesekolah dengan pakaian yang sudah robek dan tambalan sana-sini? Itu semua terjadi karena kita tidak mempunyai seorang Ayah! Kalau kita punya seorang Ayah, lalu kenapa hidup kita melarat selama ini!

IBU DAN MINTARSIH MULAI MENANGIS DAN MAIMUN MERASA SEDIH.

MAIMUN
Tapi bang, Narto. Ibu saja sudah memaafkannya. Kenapa kita tidak?

GUNARTO (sikapnya dingin, namun keras)
Ibu seorang perempuan. Waktu aku kecil dulu, aku pernah menangis dipangkuan Ibu karena lapar, dingin dan penyakitan, dan Ibu selalu bilang “Ini semua adalah kesalahan Ayahmu, Ayahmu yang harus disalahkan.” Lalu kemudian aku jadi budak suruhan orang! Dan Ibu jadi babu mencuci pakaian kotor orang lain! Tapi aku berusaha bekerja sekuat tenagaku! Aku buktikan kalau aku dapat memberi makan keluargaku! Aku berteriak kepada dunia, aku tidak butuh pertolongan orang lain! Yah.. orang yang meninggalkan anak dan isterinya dalam keadaan sengsara. Tapi aku sanggup menjadi orang yang berharga, meskipun aku tidak mengenal kasih sayang seorarng ayah! Waktu aku berumur delapan belas tahun, tak lain yang selalu terbayang dan terlihat diruang mataku hanya gambaran Ayahku yang telah sesat! Ia melarikan diri dengan seorang perempuan asing yang lalu menyeretnya kedalam lembah kedurjanaan! Lupa ia kepada anak dan isterinya! Juga lupa ia kepada kewajibannya karena nafsunya telah membawanya kepintu neraka! Hutangnya yang ditinggalkan kepada kita bertimbun-timbun! Sampai-sampai buku tabunganku yang disimpan oleh Ibu ikut hilang juga bersama Ayah yang minggat itu! Yah, masa kecil kita sungguh-sungguh sangat tersiksa. Maka jika memang kita mempunyai Ayah, maka Ayah itulah musuhku yang sebesar-besarnya!!

I B U
Gunarto!

(MINTARSIH DAN IBU MENANGIS)

MAIMUN
Bang!

MINTARSIH
Bang!

(KALAU MUNGKIN DIALOG MEREKA BERTIGA TADI DIUCAPKAN BERBARENGAN)

MAIMUN (dengan suara agak sedih)
Tapi, Bang. Lihat Ayah sudah seperti ini sekarang. Ia sudah tua bang Narto.

GUNARTO
Maimun, sering benar kau ucapkan kalimat “Ayah” kepada orang yang tidak berarti ini? Cuma karena ada seorang tua yang masuk kerumah ini dan ia mengatakan kalau ia Ayah kita, lalu kau sebut pula ia Ayah kita? Padahal dia tidak kita kenal. Sama sekali tidak Maimun. Coba kau perhatikan apakah kau benar-benar bisa merasakan kalau kau sedang berhadapan dengan Ayah mu?

MAIMUN
Bang Narto, kita adalah darah dagingnya. Bagaimanapun buruknya kelakuan dia kita tetap anaknya yang harus merawatnya.

GUNARTO
Jadi maksudmu ini adalah kewajiban kita? Sesudah ia melepaskan hawa nafsunya dimana-mana, lalu sekarang ia kembali lagi kesini karena sudah tua dan kita harus memeliharanya? Huh, enak betul!

I B U (bingung, serba-salah)
Gunarto, sampai hati benar kau berkata begitu terhadap Ayahmu. Ayah kandungmu.

GUNARTO (cepat)
Ayah kandung? Memang Gunarto yang dulu pernah punya Ayah, tapi dia sudah meninggal dunia dua puluh tahun yang lalu. Dan Gunarto yang sekarang adalah Gunarto yang dibentuk oleh Gunarto sendiri! aku tidak pernah berhutang budi kepada siapapun diatas dunia ini. Aku merdeka, semerdeka merdekanya, Bu!

SUARA BEDUG DAN TAKBIR BERSAHUT-SAHUTAN DIIRINGI SUARA TANGIS IBU DAN MINTARSIH.

R. SALEH (diantara batuknya)
Aku memang berdosa dulu itu. Aku mengaku. Dan itulah sebabnya aku kembali pada hari ini. Pada hari tuaku untuk memperbaiki kesalahan dan dosaku. Tapi ternyata sekarang.... yah, benar katamu Narto. Aku seorang tua dan aku tidak bermaksud untuk mendorong-dorongkan diri agar diterima dimana tempat yang aku tidak dikehendaki.

(Berfikir,sementara maimun tertunduk diam dan mintarsih menangis dipelukan ibunya)

Baiklah aku akan pergi. Tapi tahukah kau Narto, bagaimana sedih rasa hatiku. Aku yang pernah dihormati, orang kaya yang memiliki uang berjuta-juta banyaknya, sekarang diusir sebagai pengemis oleh seorang anak kandungnya sendiri.... tapi biarlah sedalam apapun aku terjerumus kedalam kesengsaraan, aku tidak akan mengganggu kalian lagi.
(BERDIRI HENDAK PERGI, TETAP BATUK-BATUK)

MAIMUN (menahan)
Tunggu dulu, Ayah! Jika Bang Narto tidak mau menerima Ayah, akulah yang menerima Ayah. Aku tidak perduli apa yang terjadi!

GUNARTO
Maimun! Apa pernah kau menerima pertolongan dari orang tua seperti ini? Aku pernah menerima tamparan dan tendangan juga pukulan dari dia dulu! Tapi sebiji djarahpun, tak pernah aku menerima apa-apa dari dia!

MAIMUN
Jangan begitu keras, Bang Narto.

GUNARTO (marah, dengan cepat)
Jangan kau membela dia! Ingat, siapa yang membesarkan kau! Kau lupa! Akulah yang membiayaimu selama ini dari penghasilanku sebagai kuli dan kacung suruhan! Ayahmu yang sebenar-benarnya adalah aku!

MINTARSIH
Engkau menyakiti hati Ibu, Bang.
(SAMBIL TERSEDU-SEDU)

GUNARTO
Kau ikut pula membela-bela dia! Sedangkan untuk kau, aku juga yang bertindak menjadi Ayahmu selama ini! Baiklah, peliharalah orang itu jika memang kalian cinta kepadanya! Mungkin kau tidak merasakan dulu pahit getirnya hidup karena kita tidak punya seorang Ayah. Tapi sudahlah, demi kebahagiaan saudara-saudaraku, jangan sampai menderita seperti aku ini.

IBU DAN MINTARSIH TERUS MENANGIS. SEMENTARA MAIMUN DIAM KAKU. SUARA BEDUG DAN TAKBIR TERUS BERSAHUT-SAHUTAN. LALU TERDENGAR SUARA GEMURUH PETIR DAN HUJANPUN TURUN.


R. SALEH
Aku mengerti... bagiku tidak ada jalan untuk kembali. Jika aku kembali aku hanya mengganggu kedamaian dan kebahagiaan anakku saja. Biarlah aku pergi. Inilah jalan yang terbaik. Tidak ada jalan untuk kembali.

RADEN SALEH BERGERAK PERLAHAN SAMBIL BATUK-BATUK, SEMENTARA MAIMUN MENGIKUTI DARI BELAKANG.


MAIMUN
Ayah, apa Ayah punya uang? Ayah sudah makan?

MINTARSIH (dengan air mata tangisan)
Kemana Ayah akan pergi sekarang?

R. SALEH
Tepi jalan atau dalam sungai. Aku cuma seorang pengemis sekarang. Seharusnya memang aku malu untuk masuk kedalam rumah ini yang kutinggalkan dulu. Aku sudah tua lemah dan sadar, langkahku terayun kembali. Yah, sudah tiga hari aku berdiri didepan sana, tapi aku malu tak sanggup sebenarnya untuk masuk kesini. Aku sudah tua, dan ....

RADEN SALEH MEMANDANGI ANAK-ANAKNYA SATU PERSATU LALU KELUAR DENGAN PERLAHAN SAMBIL BATUK-BATUK. BERJALAN LEMAH DIIRINGI SUARA BEDUG DAN TAKBIRAN YANG SAYUP-SAYUP MASIH TERDENGAR, SEMENTARA HUJAN MULAI TURUN DENGAN DERAS.

I B U (sambil menangis)
Malam hari raya dia pergi dan datang untuk pergi kembali. Seperti gelombang yang dimainkan oleh angin topan. Demikianlah nasib Ibu, Nak.

MINTARSIH (sambil menangis menghampiri gunarto, lalu bergerak kedekat jendela)
Bang.... bagaimanakah Abang? Tidak dapatkah Abang memaafkan Ayah? Besok hari raya, sudah semestinya kita saling memaafkan. Abang tidak kasihan? Kemana dia akan pergi setua itu?

HUJAN SEMAKIN DERAS.

MAIMUN (kesal)
Tidak ada rasa belas kasihan. Tidak ada rasa tanggung jawab terhadap adik-adiknya yang tidak berAyah lagi.

MINTARSIH
Dalam hujan lebat seperti ini, Abang suruh dia pergi. Dia Ayah kita Bang. Ayah kita sendiri!

GUNARTO (memandang adiknya)
Janganlah kalian lihat aku sebagai terdakwa. Mengapa kalian menyalahkan aku saja? Aku sudah hilangkan semua rasa itu! Sekarang kalian harus pilih, dia atau aku!!

MAIMUN (tiba-tiba bangkit marahnya)
Tidak! Aku akan panggil kembali Ayahku pulang! Aku tidak perduli apa yang Abang mau lakukan? Kalau perlu bunuh saja aku kalau Abang mau! Aku akan panggil Ayahku! Ayahku pulang! Ayahku mesti pulang!

MAIMUN LARI KELUAR RUMAH. SEMENTARA HUJAN MAKIN LEBAT DIIRINGI SUARA BEDUG DAN TAKBIRAN SAYUP-SAYUP TERDENGAR.

GUNARTO
Maimun kembali!

GUNARTO CEPAT HENDAK MENYUSUL MAIMUN TAPI TIDAK JADI LALU PERLAHAN-LAHAN DUDUK KEMBALI. IBU DAN MINTARSIH MENANGIS. SUASANA HENING SEJENAK HANYA TERDENGAR SUARA BEDUG DAN TAKBIRAN SERTA GEMURUH HUJAN. TAK BERAPA LAMA TAMPAK MAIMUN MASUK KEMBALI. NAMUN IA HANYA MEMBAWA PAKAIAN DAN KOPIAH AYAHNYA SAJA. MAIMUN KELIHATAN MENANGIS.

MINTARSIH
Mana Ayah, Bang?

I B U
Mana Ayahmu?

MAIMUN
Tidak aku lihat. Hanya kopiah dan bajunya saja yang kudapati....

GUNARTO
Maimun, dimana kau dapatkan baju dan kopiah itu?

MAIMUN
Dibawah lampu dekat jembatan...

GUNARTO
Lalu Ayah? Bagaimana dengan Ayah? Dimana Ayah?

MAIMUN
Aku tidak tahu....

GUNARTO (kaget. Sadar)
Jadi, jadi Ayah meloncat kedalam sungai!!

I B U (menjerit)
Gunarto....!!!

GUNARTO (berbicara sendiri sambil memeggang pakaian dan kopiah ayahnya. Tampak menyesal)
Dia tak tahan menerima penghinaan dariku. Dia yang biasa dihormati orang, dan dia yang angkuh, yah, angkuh seperti diriku juga.... Ayahku. Aku telah membunuh Ayahku. Ayahku sendiri. Ayahku pulang, Ayahku pulang......

GUNARTO BERTERIAK MEMANGGIL-MANGGIL AYAHNYA LALU LARI KELUAR RUMAH DAN TERUS BERTERIAK-TERIAK SEPERTI ORANG GILA. IBU MINTARSIH DAN MAIMUN BERBARENGAN BERTERIAK MEMANGGIL GUNARTO “GUNARTO....!!” SUARA BEDUG BERSAHUT-SAHUTAN DIIRINGI TAKBIR. SEMENTARA HUJAN MASIH SAJA TURUN DENGAN DERASNYA. LAMPU PANGGUNG PERLAHAN-LAHAN MATI LALU LAYAR TURUN.

*****S E L E S A I*****

ROBOHNYA SURAU KAMI - A.A Navis



ROBOHNYA SURAU KAMI

Karya : A.A NAZIV
Sutradara : Ahmed el Hasby

CAST :
Irvan
Alfian
Deny
Hafiz
Kiky
Aidil
Bagas
Wali
Mala
Ulong
Tia 1
Tia 2
Bela
Dhani
Widia
Nisa
Fitra


STAF PRODUKSI
:
Produksi : TEATER REMAL, 2019
Pimp. Produksi : MIRZA
Supervisor : AZWAR
Penata Pentas : RIAN SASKA
Penata Cahaya : FAISAL
Penata Make-Up : LISA AMANDA DAMANIK, RIZKI JULIANI, RAHMA
Penata Busana : PUPUT, LULY
Penata Musik : BUDI ARMAN
Musik : ALDI, FIKAR, HAFIZI

Sinopsis
Drama Robohnya Surau Kami ini menceritakan suatu tempat dimana ada sebuah surau tua yang nyaris ambruk. Kemudian datanglah seseorang ke sana dengan keikhlasan hatinya dan izin dari masyarakat setempat untuk menjadi garin atau penjaga surau tersebut, dan hingga kini surau tersebut masih tegak berdiri.

Meskipun kakek atau garin dapat hidup karena sedekah orang lain, tetapi ada hal pokok yang membuatnya dapat bertahan, yaitu dia mau bekerja sebagai pengasah pisau. Dari pekerjaannya inilah dia dapat mengais rejeki, apakah itu berupa uang, makanan, kue-kue, atau rokok. Kehidupan kakek ini sangat monoton. Dia hanya mengasah pisau, menerima imbalan, membersihkan dan merawat surau, beribadah di surau, dan bekerja hanya untuk keperluannya sendiri. Hasil pekerjaannya itu tidak untuk orang lain, apalagi untuk anak dan istrinya yang tidak pernah terpikirkan.

Suatu ketika datanglah Ajo Sidi untuk berbincang-bincang dengan penjaga surau itu. Ajo sidi adalah seorang pembual yang datang kepada kakek penjaga surau sebelum kakek penjaga surau itu meninggal. Lalu, keduanya terlibat dalam sebuah perbincangan.

Pada perbincangan itu, Ajo sidi mengisahkan tentang kejadian Haji Saleh di akhirat ketika dia dimasukkan ke dalam neraka. Haji Saleh tidak menerimanya karena Haji Saleh merasa dia adalah seorang yang rajin beribadah. Tak sekalipun Haji Saleh meninggalkan kewajiban Tuhan. Bahkan setiap waktunya hanya untuk menyembah Tuhan.

Kemudian Haji Saleh datang menuntut kepada Tuhan atas semua apa yang dia kerjakan. Ternyata apa yang dikerjakan itu justru salah. Haji Saleh tidak seharusnya hanya mementingkan dirinya sendiri untuk beribadah dan sembahyang setiap waktunya demi masuk surga dan melupakan kewajibannya kepada anak dan isrtinya sehingga jatuh dalam kemelaratan. Itu yang membuat Haji Saleh dimasukkan ke dalam neraka. Padahal di dunia ini hidup berkaum, bersaudara, tetapi Haji Saleh tidak memedulikan mereka sedikit pun.

Sepulangnya berbincang dengan Ajo Sidi, penjaga surau itu murung, sedih, dan kesal. Dia merasakan apa yang diceritakan Ajo Sidi itu sebuah ejekan dan sindiran untuk dirinya. Dia memang tidak pernah mengingat anak dan istrinya, tetapi dia pun tidak pernah memikirkan hidupnya sendiri sebab memang tak ingin kaya atau membuat rumah. Segala kehidupannya lahir batin diserahkannya kepada Tuhan. Dia tak berusaha menyusahkan orang lain atau membunuh seekor lalat pun. Dia senantiasa bersujud, bersyukur, memuji, dan berdoa kepada Tuhan.Kakek penjaga surau begitu memikirkan hal itu dengan segala perasaannya. Akhirnya, dia tertekan dan tidak kuat memikirkan hal itu. Kemudian dia lebih memilih jalan pintas untuk menjemput kematiannya dengan cara menggorok lehernya dengan pisau cukur.

Kematiannya sungguh mengenaskan dan mengejutkan masyarakat sekitar. Semua orang berusaha mengurus jenazahnya dan menguburnya, kecuali satu orang saja yang tidak begitu peduli atas kematian sang kakek penjaga surau. Dialah Ajo Sidi, yang pada saat semua orang mengantar jenazah penjaga surau, dia tetap pergi bekerja. Ajo Sidi yang mengetahui kematian kakek hanya berpesan kepada istrinya untuk membelikan kain kafan tujuh lapis untuk kakek, lalu dia pergi bekerja.

Seperti rumah yang ditinggal penghuninya, surau yang dulunya digunakan untuk beribadah itu kini hanya dipakai untuk sekadar bermain anak-anak. Tidak ada lagi panggilan adzan, sholat berjamaah, dan lantunan ayat-ayat suci Al-quran. Bahkan jika ada ibu-ibu yang membutuhkan kayu bakar, tak segan-segan mengambil salah satu bagian dari tiang-tiang surau yang mulai lapuk dan hampir roboh. Tak ada lagi yang mau peduli terhadap surau tempat beribadah itu. Itulah pemandangan yang bisa dilihat dari surau seorang kakek setelah dia meninggal.


ROBOHNYA SURAU KAMI
Karya : A.A Navis

SEJENAK MUSIK BERGEMURUH.

PERLAHAN TERDENGAR GESEKAN BIOLA ATAU LANTUNAN SERULING DIBARENGI GEMERCIK AIR DAN DESIR ANGIN.

SAYUP-SAYUP TERDENGAR KUMANDANG ADZAN SUBUH. ORANG-ORANG MUNCUL DARI BERBAGAI ARAH, BERBARIS DI PANGGUNG SEPERTI MAU MELAKUKAN SHALAT.

ADZAN USAI SESEORANG MELAPALKAN DOA SETELAH ADZAN, LALU ORANG-ORANG MENDENDANGKAN LAGU ” AL-ITIRAF “.

PEMBACA DOA 1
Ya Allah, ya Tuhan kami jangan Engkau jadikan kami condong pada kesesatan Sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami,dan karuniailah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkau Maha Pemberi ( QS. Al-Imran 8 )

PEMBACA DOA 2
Ya Allah, ya Tuhan kami, Engkau masukan malam pada siang, Engkau masukan siang pada malam dan Engkau mengeluarkan yang hidup dari yang mati,Engkau mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan Engkau memberi rizki kepada siapa yang Engkau kehendaki dengan tidak terkira. ( QS. Al-Imran 27 )

PEMBACA DOA 3
Ya Allah yang mempunya kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki., Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebijakan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. ( Al-Imran 26 )

TIBA-TIBA SEORANG PEREMPUAN MUNCUL DAN MENANGIS SEPERTI ANAK KECIL.

SEORANG PEREMPUAN
Kini kakek itu sudah tidak ada lagi. Ia sudah meninggal. Dan tinggalah surau itu tanpa penjaganya. Sekarang hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kesucian yang bakal roboh. Orang-orang itu semakin masa bodoh. Dan biang kebodohan itu ialah sebuah dongeng yang tidak dapat disangkal kebenarannya.

PIMPINAN PENTAS
Hei,hei,hei ! Berhenti ! Apa-apaan sih kamu ? Orang lain berdoa ini malahan menangisi yang tidak jelas. Sudah, tidak baik banyak bersedih hati. Yang sudah berpulang biarlah pulang dengan tenang, kita-kita yang akan mengikutinya nanti, dari sekarang lebih baik mempersiapkan bekal kepulangan kita itu. Agar nanti tidak tersesat atau masuk ke tempat yang tidak kita sukai. Sekarang lebih baik memperbaiki hidup daripada meratapi yang sudah mati. Sudah ya,jangan menangis lagi malu tuh sama orang-orang. Oh ya, penonton. Selamat berjumpa dengan kami. Maaf tadi saya memotong dulu. Pertunjukan sebenarnya belum dimulai.

SEORANG PEREMPUAN
Loh,loh. Yang barusan adegan apa ?

PIMPINAN PENTAS
Itu baru sambutan awal dan doa.

SEORANG PEREMPUAN
Jadi belum,ya ?

PIMPINAN PENTAS
Belum.

ORANG-ORANG
Huhhhh.

PIMPINAN PENTAS
Sudah, sudah ! Sekarang kalian duduk dulu yang rapi….Maaf pemirsa, barusan itu kesalah pahaman. Begini…eeeh.. tapi sekali lagi saya menghaturkan mohom maaf. Anu…eeh.. sebelum cerita dimulai, saya ingin sekali menyampaikan sepatah kata pada anda semua. Kenapa saya ingin sekali berkata-kata ? Tentu, karena saya kuatir setelah pertunjukan ini tiba-tiba ada gelombang protes besar-besaran. Maklumlah zaman reformasi. Jadi, sebelum cerita ini kami lanjutkan, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila nanti ada kelancangan-kelancangan yang tidak berkenan dihati para pemirsa. Ini cerita bukan cerita sesungguhnya, tapi dongeng yang kebenarannya sangat bisa diragukan. Dongeng adalah dongeng. Dongeng bukan kenyataan, walau kadang ada nyatanya. Agar lebih jelasnya silahkan simak dengan hati yang lapang.begitu saja dari saya. Ayo anak-anak lanjutkan dongengannya, tapi jangan pakai tangis-tangisan lagi kesannya seperti telenovela. Siapa tadi yang nangis ?

ORANG-ORANG
Dia pak.

PIMPINAN PENTAS
Oh kamu. Awas ! Jangan pakai nangis lagi, ya ! Ayo mulai.

TIBA-TIBA EMPAT ORANG PEREMPUAN MUNCUL DENGAN JERITAN DAN TANGISAN.

PEREMPUAN SATU
Tapi kakek itu sudah tidak ada lagi sekarang. Ia sudah meninggal. Dan tinggal surau itu tanpa penjaganya, hingga anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain, memainkan apa yang disukai mereka. Perempuan yang kehabisan kayu bakar seing mencopoti papan dinding lantai di malam hari.

PEREMPUAN DUA
Jika kalian datang sekarang,hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kesucian yang bakal roboh.

PEREMPUAN TIGA
Dan kecerobohan itu kian hari kian cepat berlangsungnya. Secepat anak-anak berlari di dalamnya, secepat perempuan mencopoti pekayuannya.

PEREMPUAN EMPAT
Dan terutama ialah sifat masa bodoh manusia sekarang,yang tak hendak memelihara apa yang tidak dijaganya lagi.

PIMPINAN PENTAS
Aduh, aduh, aduh, aduh ! Sudah saya bilang jangan pakai sedih-sedihan, malahan makin banyak yang bersedih. Bagaimana kalian ini ? Hei ! Negeri kita ini sedang bersedih.jangan ditambah-tambah lagi kesedihannya.Sudah, sudah ! Lebih baik sekarang kalian bernyanyi. Mau enggak ?

ORANG-ORANG
Mauuuu.

PIMPINAN PENTAS
Bagus. Bagaimana musik, siap ?

PEMUSIK
Siap bos. Nyanyi apa ?

PIMPINAN PENTAS
Katanya siap. Lagunya anu.. eh.. ” Ajo Sidi “. Mulai.

ORANG-ORANG BERNYANYI.

Ajo Sidi oh Ajo Sidi
Pendongeng dari sebrang sana
Tak henti-henti berceloteh
Hingga orang terpana bualannya
Ajo Sidi oh Ajo Sidi
Kerjaannya sidir menyindir
Mejerat hati tiap orang
Jadi sumber ejekannya

PIMPINAN PENTAS MEMBERHENTIKAN ORANG-ORANG YANG SEDANG ASIK BERYANYI DAN MENARI. ORANG-ORANG GUSAR, TAPI SEMUANYA DAPAT DITERTIBKAN.

SAYUP-SAYUP TERDENGAR SUARA SERULING DIBARENGI GESEKAN BIOLA, GEMERCIK AIR DAN DESIR ANGIN . SEORANG KAKEK SEDANG TERMANGU SAMBIL MEMENGANG PISAU CUKUR.

LAKI-LAKI
Assalamualaikum… assalamualaikum… assalamualaikum. Biasanya kakek gembira menerima kedatanganku, karena aku suka memberinya uang, tapi sekali ini begitu muram.Tidak pernah aku melihat kakek begitu durja dan belum pernah salamku tak disahutinya seperti saat ini.

LAKI-LAKI ITU MENGAMBIL SALAH SATU PISAU CUKUR YANG TERGELETAK DI SAMPING SI KAKEK.

LAKI-LAKI
Pisau siapa, Kek ?

KAKEK
Ajo Sidi !

LAKI-LAKI
Ajo Sidi ? ( KAKEK TIDAK MENYAHUT. HENING SEJENAK ) Apa Ajo Sidi telah membuat bualan tentang Kakek ?

KAKEK
Siapa ?

LAKI-LAKI
Ajo Sidi.

KAKEK
Kurang ajar dia.

LAKI-LAKI
Kenapa, Kek ?

KAKEK
Mudah-mudahan pisau cukur ini, yang kuasah tajam-tajam ini, menggorok tenggorokannya.

LAKI-LAKI
Kakek marah ?

KAKEK
Marah ? Ya, kalau aku masih muda, tapi aku sudah tua. Orang tua menahan ragam. Sudah lama aku tidak marah-marah lagi. Takut kalau imanku rusak karenanya, ibadahku rusak karenanya. Sudah begitu lama aku berbuat baik, beribadah, bertawakal kepada Allah. Sudah begitu lama aku menyerahkan diri kepadaNya. Dan Allah akan mengasihi orang yang sabar dan tawakal.


LAKI-LAKI
Bagaimana katanya, Kek ? ( KAKEK DIAM SAJA. BERAT HATI BICARA ). Bagaimana katanya, Kek ?

KAKEK
Kau kenal padaku, bukan ? Sedari kecilkau aku sudah di sini. Sedari muda, bukan ? Kau tahu apa yang aku lakukan semua, bukan ? Terkutuklah perbuatanku ? Dikutuki Tuhan kah semua pekerjaanku ? (DIAM SEJENAK) Sedari muda aku di sini, bukan ? Tak kuingat punya istri, punya anak, penya keluarga seperti orang lain, tahu ? Tak kupikirkan hidupku sendiri. Aku tidak ingin cari kaya, bikin rumah. Segala kehidupanku,lahir batin, kuserahkan pada Allah subhanahu wata’ala. Tak pernah aku menyusahkan orang lain. Lalat seekor enggan membunuhnya. Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. Umpan neraka. Marahkah Tuhan kalau itu yang kulakukan, sangkamu ? Akan dikutukiNya aku kalau selama hidupku aku mengabdi kepadaNya ? Tak kupikirkan hari esok,karena aku yakin Allah itu ada dan pengasih penyang kepada umatNya yang tawakal. Aku bangun pagi-pagi. Aku bersuci. Aku pukul beduk, membangunkan setiap waktu. Aku puji-puji Dia. Aku baca kitabNya. Apa salah pekerjaanku itu ? Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk.

LAKI-LAKI
Ia katakan Kakek begitu ?

KAKEK
Ia tidak mengatakan aku terkutuk. Tapi begitulah kira-kira.

LAKI-LAKI
Ajo Sidi memang kurang ajar. Apa lagi yang dikatakan Ajo Sidi, Kek ?

KAKEK
Pada suatu waktu dia bicara padaku. Dia bialang.

MUSIK BERGEMURUH.

AJO SIDI
Di akhirat Allah memeriksa orang-orang yang sudah berpulang. Para malaikat bertugas di sampingNya. Ditangan mereka tergenggam daftar dosa dan pahala manusia. Bigitu banyak orang yang diperiksa. Maklumlah di mana-mana ada perang. Dan diantara orang-orang yang diperiksa itu ada seorang yang di dunia dinamai Haji Saleh. Haji Saleh itu tersenyum-senyum saja, karena ia sudah begitu yakin akan dimasukan ke surga. Ketika dilihatnya orang-orang yang masuk neraka, bibirnya menyunggingkan senyuman ejekan. Dan ketika ia melihat orang yang masuk surga, ia melambaikan tangannya,seolah hendak mengatakan “sampai ketemu nanti “. Begitu tak habis-habisnya orang yang berantri, begitu panjangnya. Susut di muka bertambah di belakang. Akhirnya sampai giliran Haji Saleh.

MUSIK BERGEMA, ANGIN BERGEMURUH.

SUARA
Engkau siapa?

HAJI SALEH
Aku Saleh. Karena aku sudah ke mekah Haji Saleh namaku. Tuan ini siapa ?

SUARA
Jangan banyak bertanya. Apa kerjamu di dunia ?

HAJI SALEH
Aku menyembah Tuhan.

SUARA
Lain ?

HAJI SALEH
Setiap hari, setiap malam, bahkan setiap masa aku menyebut-nyebut nama-Nya.

SUARA
Lain ?

HAJI SALEH
Segala larangan-Nya kuhentikan. Tidak pernah aku berbuat jahat, walau dunia seluruhnya penuh oleh dosa-dosa yang dibisikan iblis laknat itu.

SUARA
Lain ?

HAJI SALEH
Tak ada pekerjaanku selain beribadat padaNya, menyebut-nyebut namaNya. Bahkan ketika aku sakit namaNya menjadi buah bibirku juga. Dan aku selalu berdoa, mendoakan kemurahan hatiNya untuk nginsafkan umatNya.

SUARA
Lain ?

LAMPU MENYINARI AJO SIDI YANG MELANJUTKAN DONGENGANNYA.

AJO SIDI
Haji saleh tak dapat menjawab lagi. Ia telah menceritakan segalanya yang ia kerjakan. Tapi ia insaf, bahwa pertanyaan yang dilontakan bukan asal bertanya saja, tentu ada lagi yang dikatakannya. Ia termenung dan menekurkan kepalanya. Hawa panas api neraka tiba-tiba menghembus ketubuh Haji Saleh. Dan ia menangis. Tapi setiap airmatanya mengalir, di isap kering oleh hawa panas neraka itu.

MUSIK BERGEMA. HAJI SALEH MENGIGIL KETAKUTAN. ORANG-ORANG BERGERAK SEPERTI JOMBI.

SUARA
Lain lagi ?

HAJI SALEH
Sudah saya ceritakan semuanya. Oh, Tuhan yang Maha Besar, lagi pengasih dan penyayang, Adil dan Maha Tahu.

SUARA
Tidak ada lagi ?

HAJI SALEH
Oh, o, oo, aku selalu membaca kitabNya.

SUARA
Lain ?

HAJI SALEH
Sudah kuceritakan semuanya. Tapi kalau ada yang aku lupa aku mengatakannya, aku pun bersyukur karena yang maha tahu itu Tuhan.

SUARA
Sungguh tidak ada lagi yang kau kerjakan di dunia selain yang kau ceritakan tadi ?

HAJI SALEH
Ya, itulah semuanya.

SUARA
Maksud kamu ?

MUSIK BERGEMURUH.

AJO SIDI
Haji saleh tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi. Dan malaikat dengan sigapnya menjewer Haji Saleh ke neraka. Haji Saleh tidak mengerti mengapa ia dibawa ke neraka. Ia tidak mengerti apa yang dikehendaki Tuhan daripadanya dan ia percaya Tuhan tidak silap.

PENDONGENG 1
Alangkah tercengangnya Haji Saleh, karena di neraka itu banyak teman-temannya di dunia terpanggang hangus, merintih kesakitan. Dan ia tak tambah mengerti dengan keadaan dirinya, karena yang dilihatnya di neraka itu tidak kurang ibadahnya dari diri dia sendiri. Bahkan ada salah seorang yang telah sampai empat belas kali ke mekah dan bergelar Syekh pula.

PENDONGENG 2
Lalu haji Saleh mendekati mereka, dan bertanya pada mereka kenapa berada di neraka semuanya. Tapi sebagaimana haji Saelah orang-orang out pun tak mengerti juga.

SEMUA ORANG BERISTIGFAR.

HAJI SALEH
Bagaimana ini ? Bukankah kita disuruhNya taat beribadah, teguh beriman ? Dan itu semua telah kita kerjakan selelama hidup kita. Tapi kita kini dimasukan ke dalam neraka.

TOKOH LAIN
Ya kami juga heran. Tengoklah itu orang-orang senegeri dengan kita semua, dan tak kurang ketaatannya beribadat.

HAJI SALEH
Ini sungguh tidak adil.

ORANG-ORANG
Memang tidak adil.

HAJI SALEH
Kita harus mengingatkan Dia, kalau-kalau Ia silap memasukan kita ke neraka ini.

ORANG-ORANG
Benar, benar, benar.

TOKOH LAIN 2
Kalau dia tidak mau mengakui kesilafanNya, bagaimana ?

HAJI SALEH
Kita protes. Kita resolusikan.

TOKOH LAIN 3
Apa kita revolusikan juga ?

HAJI SALEH
Itu tergantung kepada keadaan. Yang penting sekarang, mari kita berdemontrasi mengadapNya.

TOKOH LAIN
Cocok sekali. Di dunia dulu dengan demontrasi saja, banyak yang kita peroleh.

ORANG-ORANG
Setuju, setuju, setuju.

SEMUA ORANG BERGERAK. MUSIK BERGEMURUH.

HAJI SALEH
Oh, Tuhan kami Yang Maha Besar. Kami menghadapMu. Ini adalah umatMu yang paling taat beribadat, yang pang taat menyembahMu. Kamilah orang-orang yang selalu menyebut NamaMu, memuji-muji kebesaranMu, mempropagandakan keadilanMu, dan lain-lainnya. KitabMu kami hapal di luar kepala kami. Tidak sesat sedikitpun kami membacanya. Akan tetapi Tuhanku Yang Maha Kuasa, setelah Engkau kami panggil kemari, Engkau masukan kami ke neraka. Maka sebelum terjadi hal-hal yang tidak diingini, di sini, atas nama orang-orang yang cinta kepadaMu, kami menuntut agar hukuman yang Kau jatuhkan kepada kami ditinjau kembali dan memasukan kami ke surga sebagaimana yang Engkau janjikan dalam kitabMu…. Mari kita menghadap Dia.

ORANG-ORANG BERGERAK SEPERTI AKAN DEMONTRASI.

SUARA
Kalian mau apa lagi.

HAJI SALEH
Kami ingin bertemu Tuhan.

SUARA
Tidak bisa.

HAJI SALEH
Harus ini sangat penting. Ini menyangkut nasib kami.

SUARA
Kamu mesti tahu. Tuhan telah menugaskan aku untuk menuntut kalian.

HAJI SALEH
Kamu ini sebenarnya siapa ?

SUARA
Tadi kan sudah kukatakan, aku adalah dirimu sendiri dan kalian semua.

HAJI SALEH
Aku tidak peduli…

SUARA
Sudah jangan banyak cingcong. Sekarang aku bertanya lagi pada kalian. Kalian di dunia tinggal di mana ?

HAJI SALEH
Kami ini adalah umat Tuhan yang tinggal di Indonesia.

SUARA
Oh, di negeri yang tanahnya subur itu ?

HAJI SALEH
Ya, benar.

SUARA
Tanah yang kaya raya, penuh dengan logam, minyak dan berbagai bahan tambang lainnya, bukan ?

ORANG-ORANG
Benar, benar, itulah negeri kami.

SUARA
Di negeri yang tanahnya begitu subur, hingga tanaman tumbuh tanpa di tanam ?

ORANG-ORANG
Benar, benar itulah negeri kami.

SUARA
Di negeri di mana penduduknya sendiri meralat ?

ORANG-ORANG
Ya, Ya, itu negeri kami.

SUARA
Negeri yang di perbudak orang lain ?

TOKOH LAIN

Ya sungguh laknat penjajah itu.

SUARA
Dan hasil tanahmu, mereka yang mengeruknya, dan diangkutnya, dijarah, bukan ?

TOKOH LAIN 2
Benar. Hingga kami tidak mendapat apa-apa lagi. Sungguh laknat mereka itu.

SUARA
Di negeri yang selalu kacau itu, hingga kamu dan kamu selalu berkelahi, sedang hasil tanahmu orang lain juga yang mengambilnya, bukan ?

HAJI SALEH
Benar. Tapi bagi kami soal harta benda itu tidak mau tahu. Yang penting bagi kami ialah menyembah dan memuji Tuhan.

SUARA
Engkau rela tetap meralat, bukan ?

ORANG-ORANG
Benar kami rela sekali.

SUARA
Karena kerelaanmu itu, anak cucumu tetap juga meralat, bukan ?

TOKOH LAIN
Sungguhpun anak cucu kami meralat, tapi mereka semua pintar mengaji. Alkitab mereka hapal di luar kepala.

SUARA
Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semuanya. Sedang harta bendamu kau biarkan orang lain mengagambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antar kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Tuhan beri negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedangkan Tuhan menyuruh engkau beramal disamping beribadah. Bagaimana engkau bisa beramal kalau engkau miskin. Engkau kira Tuhan suka pujian, mabuk disembah saja. Tidak ! Karena itu kamu semua masuk neraka dan di letakan di keraknya.

ORANG-ORANG TIDAK BERGERAK APA-APA LAGI. MEREKA TERMANGU, TAPI HAJI SALEH MASIH SAJA TIDAK PUAS.

HAJI SALEH
Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami menyembah Tuhan di dunia ?

SUARA
Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau telah mementingkan diri sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat bersembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaumu sendiri, melupakan kehidupan anak istrimu sendiri, sehingga mereka itu kocar-kacir selamanya. Itulah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egois. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak memperdulikan mereka sedikitpun.

MUSIK TERDENGAR MEMILUKAN. TERDENGAR SESEORANG BERTERIAK. SAYUP-SAYUP SESEORANG SEDANG MENGAJI.

SESEORANG
Bunuh diri. Ada yang bunuh diri.

ORANG-ORANG
Di mana ?

SESEORANG
Di surau. Ia menggorok lehernya dengan sebilah pisau cukur.

ORANG-ORANG
Astagfirulahal’adzim.

ORANG-ORANG BERGERAK.

PEREMPUAN
Mas. Mas. Mas. Apa tidak menjenguk ?

LAKI-LAKI
Siapa yang meninggal ?

PEREMPUAN
Kakek.

LAKI-LAKI
Kakek ?

PEREMPUAN
Ya, tadi subuh kakek kedapatan mati di suraunya dalam keadaan yang mengerikan sekali. Ia menggorok lehernya dengan pisau cukur.

LAKI-LAKI
Astagfirulahal’adzim. Ini pasti gara-gara Ajo Sidi.

SEMUA DIAM.

PIMPINAN PENTAS

Ternyata kita tidak bisa lepas dari kenyataan. Hidup dan mati bukanlah milik kita. Kita di sini hanya mengembara dan kita semua akan kembali. Kematian memang menyedikan, tapi yangpiling menyedihkan jika kerja keras kita hasilnya sia-sia.

MUSIK BERGEMURUH.

*****TAMAT*****

PETANG DI TAMAN - Iwan Simatupang



Sinopsis
Naskah drama Petang di Taman karya Iwan Simatupang ini menceritakan tentang pertemuan empat orang manusia dengan latar belakang yang berbeda-beda di sebuah taman. Mereka tidak saling mengenal, tetapi taman adalah publik, sehingga semua orang merasa bebas untuk masuk ke dalam suatu obrolan. Di dalam pertemuan tersebut ada seorang pria yang sedang diam ditaman, ada seorang kakek yang kehilangan minah, ada seorang pria penjual balon yang memiliki hobi terhadap balon, dan ada seorang wanita yang memiliki anak tapi bukan nyonya.

Setiap karakter memiliki latar belakang yang berbeda, seperti penjual balon yang balonnya di curi kemudian menangis dan menolak ketika balon tersebut dibeli. Ketika ditanya bahwa balon itu adalah hobinya untuk mencintai balon. Lalu seorang wanita yang memilik anak tetapi bukan nyonya, yang meminta balo tersebut tetapi dipecahkan oleh seorang kakek, kemudian lelaki separuh baya marah karena sikap kakek tersebut, sehingga terjadilah pertengkaran. Tetapi pada akhirnya penjual balon, wanita , dan kakek pulang satu persatu.


PETANG DI TAMAN
karya Iwan Simatupang

Peran:

Orang Tua (OT)
Laki-laki Separuh Baya (LSB)
Penjual Balon (PB)
Wanita (W)

Setting: sebuah taman, dalam jangka waktu kurang lebih satu jam, terus-menerus

(Taman. Bangku. OT masuk, batuk-batuk, duduk di bangku. Masuk LSB, duduk di bangku)

LSB : Mau hujan

OT : Apa?

LSB : Hari mau hujan. Langit mendung

OT : Ini musim hujan?

LSB : Bukan. Musim kemarau

OT : Di musim kemarau, hujan tak turun

LSB : Kata siapa?

(Bunyi guruh)

OT : Ini bulan apa?

LSB : Entah

OT : Kalau begitu, saya benar. Ini musim hujan

LSB : Bulan apa kini rupanya

OT : Entah

LSB : Kalau begitu, saya benar. Ini musim kemarau

OT : Salah seorang dari kita mesti benar

LSB : Kalau begitu, saya kalah. Ini musim hujan

OT : Tidak, tidak.! Yang lebih tua mesti tahu diri, dan mau mengalah. Ini musim kemarau.

OT : Tidak! Tidak! Yang lebih muda mesti tahu menghormati yang lebih tua. Ini musim hujan.

(Bunyi guruh)

OT : Kita sama-sama salah.

LSB : Maksudmu, bukan musim hujan, dan bukan pula musim kemarau?

OT : Habis, mau apa lagi?

LSB : Beginilah, kalau kita gila hormat

OT : Maumu bagaimana?

LSB : Ah, kita boleh lebih kasar sedikit

OT : Lantas?

LSB : Akan lebih jelas, musim apa sebenarnya kini.

OT : Dan kalau sudah bertambah jelas?

LSB : (diam)

OT : (merenung) Dan kalau segala-galanya sudah bertambah jelas, maka kitapun sudah saling bengkak-bengkak, karena barusan saja telah cakar-cakaran. Dan siapa tahu, salah satu dari kita tewas pula dalam cakar-cakaran itu. Atau, kita berdua. Dan ini semua, hanya karena kita telah mencoba mengambil sikap yang agak kasar terhadap sesama kita. (tiba-tiba marah). Bah, persetan dengan musim! Dengan segala musim!

(Bunyi guruh. Tak berapa lama kemudian, masuk PB. Balonnya beraneka warna )

OT : (kepada PB) Silakan duduk.

PB : (bimbang masih saja berdiri)

OT : Ayo, silakan duduk! (menepi di bangku)

LSB : Tentu saja dia menjadi ragu-ragu bapak buat

OT : Kenapa?

LSB : Pakai silakan segala! Ini kan taman! (tiba-tiba marah). Dia duduk kalau dia mau duduk, dan dia tidak duduk kalau dia memang tak mau duduk. Habis perkara! Bah! (melihat dengan geramnya kepada PB)

PB : (duduk)

LSB : (masih marah) Mengapa kau duduk?

PB : Eh ....... saya mau duduk

OT : (tiba-tiba tertawa terpingkal-pingkal)

LSB : (sangat marah) Mengapa bapak tertawa?

OT : (dalam tertawa) Karena ...... saya mau tertawa ..... (terbahak-bahak)

(Bunyi guruh. Angin berhembus. Balon-balon kena hembus. Sebuah mau terlepas. Dengan cepat PB menangkapnya. LSB menerkam balon itu, ingin supaya ia lepas, terbang ke udara. PB dan LSB bergumul. Balon-balon lainnya kini lepas semua dari tangan PB, terbang ke udara. Sebuah balon itu dapat tertangkap oleh OT, yang kemudian bermain-main gembira, kekanak-kanakan dengannya)

LSB : (lepas dari pergulatan dengan PB berdiri, nafasnya satu-satu)

PB : (duduk di tanah, menangis)

OT : (masih dengan gembiranya bermain-main dengan balon tadi)

LSB : (kepada PB) Mengapa ...... hei, mengapa kau menangis?

PB : (tak menyahut, terus duduk di tanah, menangis)

LSB : (timbul marahnya) Hei! Mengapa kau menangis?

OT : (sambil terus bermain-main dengan balon) Karena dia memang mau menangis

PB : (tiba-tiba) Bukan! Bukan karena itu.

OT + LSB = (tercengang)

LSB : Kalau begitu kau menangis karena apa?

PB : Karena balon-balon saya terbang

OT : (mengerti) Ooooo! Dia pedagang yang merasa dirugikan

LSB : Oooo, itu! (merogoh dompoetnya dari saku belakangnya). Nah ini sekedar pengganti kerugianmu!

PB : (berdiri) Tidak! (duduk di bangku tangisnya menjadi) Saya tak mau dibayar.

OT + LSB = (serempak) Tak mau?

PB : (menggelengkan kepalanya)

LSB : Mengapa?

PB : Saya lebih suka balon

LSB : (tak mengerti) Tapi kau kan penjualnya?

PB : Itu hanya alasan saya saja untuk memegang-megang balon. Saya pencinta balon

LSB : Apa-apaan ini?

OT : Mengapa merasa aneh? Dia pencinta balon, titik. Seperti juga orang lain pencinta harmonika, pencinta mobil balap, pencinta perempuan-perempuan cantik. Apa yang aneh dari semuanya?

LSB : (masih belum habis herannya). Jadi kau sebenarnya bukan penjual balon?

OT : (kepada PB). Ini terima balonmu kembali.

PB : Tidak. Bapak pegang sajalah terus

OT : (heran) Saya pegang terus?

PB : Karena saya lihat, bahwa bapak juga menyukainya. Saya suka melihat orang yang suka

OT : (tertawa kecil). Ah, ini bukan lagi kesukaan namanya, tapi kenangan. Kenangan kepada dulu. Tidak, nak. Sebaiknya bila kau sudi menerima kembali balon ini

PB : Saya tak sudi dan tak berhak menerima kenangan orang. (menolak balon)

(Masuk W, mendorong kereta orok)

W : (menggapai ke arah balon). Berilah kepada saya, kalau tak seorang yang menghendakinya.

OT : (tiba-tiba memecahkan balon itu, lalu melihat geli kepada W)

LSB : (sangat marah). Mengapa bapak pecahkan?

OT : Karena saya mau memang mau memecahkannya. Jelas? (tertawa)

LSB : Jahanam! Orang tua keparat! (menerkam OT)

W : (melerai). Sudah, sudah! Jangan berkelahi hanya karena itu. Bukan itu maksud saya tadi dengan meminta balon itu.

LSB : Lepas! Lepaskan saya! Biar saya hajar dia dulu!

W : Jangan! Jangan! (menangis)

LSB : (kesal melihat W menangis). Ah, ir mata lagi! Persetan! Mengapa nyonya datang ke mari?

W : (tiba-tiba sangat marah). Siapa bilang saya nyonya?

LSB : O, baik, baik! Jadi nyonya bukan nyonya. Kalau begitu, nyonya apa? Nona barangkali?

W : (gugup). Ti ........... (menangis)

OT : Ahaaaa! Nyonya bukan, nona pun bukan ......... Ahaaaaa! (tertawa)

PB : Sungguh kasar. Sungguh biadab kalian! (menuntun W supaya duduk di bangku). Sudahlah, bu! Jangan hiraukan mereka. Sebaiknya ibu lekas-lekas saja pergi dari sini, sebelum mereka menghina ibu lebih parah lagi nanti. Pergilah!

OT : (kepada PB) Ahaaa, pergi dengan kau? Ahaaa! Akhirnya sang putri bertemu dengan sang pangerannya di tengah sebuah taman. Dan .....ahaaa! Si anak pun akhirnya bertemu dengan ayahnya ........(terbahak-bahak)

PB : (tiba-tiba menyadari makna kata-kata OT). Siapa bilang saya ........ (melihat silih berganti kepada OT, W, dan ke dalam kereta orok bayi). Tidak! Tidak! Saya bukan ..........

OT : (cepat-cepat nyeletuk). Bukan apanya, nak?

PB : (kepada OT). Bapak mau menuduh saya?

LSB : Menuduh apa, bung? Kau tampaknya begitu bernafsu berbincang tentang suatu tuduhan yang sebenarnya tak ada. Kemudian kau tampaknya begitu bernafsu menolak tuduhan itu. Ingat! Tuduhan yang tak ada itu, hingga ......... (tertawa) saya kini benar-benar mulai curiga dan benar-benar menuduh kau tentang sesuatu yang dengan terus-terang saja kukatakan belum jelas bagiku sendiri.

PB : (bingung). Tidak! Tidak!

W : (dengan bernafsu sekali datang mendekat kepada PB, memperhatikan wajahnya dengan sangat teliti)

PB : (semakin gugup oleh sikap W). Tidak! Tidak! Bukan saya! (mencoba menutupi mukanya dengan kedua tangannya)

W : (geram). Ayo! Buka tanganmua, aku mau melihat kau! Ayo! (merenggutkan tangan PB dari mukanya)

PB : Tidak! Bukan saya! Bukan saya!

W : Jahanam! Ayo, buka tanganmu kataku! Buka, bukaaaa!

PB : Bukan saya! Bukan saya!

W : Kurang ajar! Kau telah lari, ha! Lari, dan kau tinggalkan aku sendirian dengan seluruh keadaan ke dalam mana kau campakkan aku dengan perbuatanmu. Aku sendirian harus menaggungkan semuanya. Aku seorang wanita, sendirian! Bah! (merenggutkan dengan sangat kuatnya kedua tangan PB dari mukanya). Ayo, bukaaaa!

PB : Bukan saya! Bukan saya! Saya cuma berbuat sekali saja!

OT : (nyeletuk). Itu, kan sudah cukup, tolol!

LSB : (membantah OT). Belum tentu. Menurut ilmu kedokteran modern ....

W : Ayo, buka tanganmu! (kepada OT dan LSB). Tolonglah saya, tuan-tuan!

LSB : Bukan saya tak mau menolong. Tapi saya secara prinsipil tak sudi ikut-ikut campur dalam urusan yang bukan urusan saya

W : (kepada OT). Ayo, pak tolonglah saya.

OT : Saya orang tua

LSB : Bah! Apa pula maksudmu dengan kalimat datar serupa itu: “Saya orang tua”. Semua kami melihat bahwa bapak memang orang tua, dan sedikit pun tak ada memperlihatkan tanda-tanda bahwa bapak adalah kebalikan dari ucapan itu.

OT : Katakanlah saya hanya ingin mempertegas kedudukan saya dalam peristiwa yang sedang kita hadapi ini, yakni: Ketuaan saya melarang saya terlibat sedikitpun di dalamnya. Dan kalau kalian tanyakan bagaimana pendirian saya dalam peristiwa kalian yang sedikit rumit ini, maka jawab saya: Saya pro kalian berdua, lepas dari pertanyaan apakah benar atau tidak peristiwa itu benar-benar terjadi. Tegasnya: saya pro setiap kejadian beginian.

LSB : Kata-kata hanya kata-kata yang muluk-muluk! Sedang yang diminta sekarang ini dari bapak adalah “perbuatan”

OT : Kata-kata saya yang mengemukakan pendirian saya, itu adalah perbuatan saya!

LSB : Bagus! Bagus! Berkata-katalah terus, dan persaksikanlah betapa kedua mereka ini sebentar lagi bakal saling telan-menelan. (maju menolong W merenggutkan kedua tangan PB dari mukanya)

PB : (sangat dahsyatnya). Bukan saya! Bukan saya! Sungguh mati, saya cuma melakukannya sekali, tak lebih ......

OT : (geli) ........ dan tak kurang!

LSB : Diam bangsat! Cuma sekali ......... itu kan sudah cukup? Maumu berapa kali, ha? Serakah! Jadi, kau mengaku sekarang?

W : (histeris). Aku ............ aku ditinggalkannya, dan dia menghilang, meninggalkan aku menghadapi semua akibatnya. (buas). Ayo, buka tanganmu!

LSB : (sangat dahsyatnya). Buka! Buka!

(Setelah bergumul sebentar, LSB berhasil merenggutkan terbuka kedua belah tangan PB dari wajahnya, sedang kedua tangannya terus dikepit oleh LSB ke belakang punggungnya)

PB : Bukan saya! Bukan saya .........

W : (maju dekat sekali melihat ke wajah PB). Bangsat! Laki-laki jahanam! Kurangajj ...... (tiba-tiba memekik). Bukan! Bukan! Ya, Tuhan. Bukan, bukan dia ...........

LSB + OT = (serempak). Bukan dia?!

W : Bukan ...... (pingsan, tapi cepat-cepat dipegang OT)

PB : (terus meraung-raung putus asa). Bukan saya! Cuma sekali! Cuma sekali!

LSB : (gemas melepaskan kedua tangan PB). Huh, bukan kau .........

PB : Bukan, bukan, bukan sayaaaa! Cuma sekaliiiiiii ...........

OT : (repot mengipasi W yang pada saat itu sudah dibaringkannya di bangku). Sudah, cukup! Biar kau telah melakukannya lebih dari sekali sekali, sekarang ini soal itu sudah tak penting lagi. Ayo, mari, daripada kau nberteriak-teriak tak berguna begitu, lebih baik kau (melihat kepada LSB) kalian, menolong saya dengan dia ini (terus mengipasi W)

LSB : Menolong bagaimana?

OT : (sangat kesal). Ya, menolong dengan melakukan apa yang lazimnya dilakukan pada setiap orang yang pingsan seperti ini.

LSB : Saya merasa agak segan

OT : Segan? Kenapa?

LSB : Dia, eh ......... perempuan

OT : ..............dan kau laki-laki. Bah! Lagi-lagi ucapan cemplang. Semua orang melihat bahwa dia ini memang wanita dan kau memang laki-laki. Lalu, mau apa?

LSB : Maksud saya, saya ......... eh, segan bersentuhan dengan tubuh wanita

OT : Apa? Apa-apaan ini! Ayo, lupakan kelaki-lakianmu dan tolong aku

LSB : Saya adalah jenis laki-laki yang bila bersentuhan dengan tubuh wanita bisa saja terus ........

OT : (cepat-cepat memotong). Saya tahu, saya tahu. Tapi, laki-laki mana yang tidak?

LSB : O, jadi bapak juga menganut prinsip yang sama?

OT : (sangat tercengang). Prinsip?! Ah, kata siapa ini soal prinsip. Aku malah lebih cenderung menyebutnya sebagai penyakit. Ah, persetan dengan semuanya. Bukankah tiap prinsip adalah penyakit juga? Dan sekarang ku minta dengan hormat padamu: hentikan kesukaanmu yang agak berlebih-lebihan pada dan dengan kata-kata itu. Sadarlah, bahwa dalam peristiwa seperti ini yang sangat segera dibutuhkan adalah perbuatan, tindakan cepat. Dan tindakan cepat di sini adalah menolong aku berbuat sesuatu dengan wanita pingsan ini.

LSB : Kalau aku tak salah, dengan orang pingsan ---- entah dia perempuan, entah dia laki-laki --- kita tak dapat berbuat apa-apa selain menantikan pingsannya lewat lewat dengan sendirinya.

OT : Ya, ya. Tapi bagaimana bila pingsannya tak bakal lewat?

LSB : Dalam hal demikian; maka dalam artinya yang sesungguhnya, kita telah berhadapan lagi dengan seorang wanita pingsan, tapi ........

OT : (sangat takut). Tapi, apa?

LSB : Ya, bisa saja: dengan wanita yang ..........

OT : (sangat takut). Yang ...............?

(Orok dalam kereta orok menangis)

W : (mendengar oroknya menangis, W tiba-tiba berdiri lalu cepat-cepat menuju ke kereta). Anakku! Anakku! (berusaha menyruh diam oroknya dengan cara menggoyang-goyangkan sedikit kereta orok). Kalian telah membuat dia bangun! Bah! Laki-laki kasar kalian semua! (suara orok menangis terus)

OT + LSB + PB = (saling berpandangan)

W : Sungguh laki-laki kasar, kasar ....................(kepada oroknya dalam kereta). Ssst, ssst, ssst .......... diamlah nak, diam. Laki-laki semuanya sama saja, kasar tanpa kecuali (menangis)

LSB : Stop! Stop! Stop dengan air matamu, mau kau?

(Orok dalam kereta orok tambah kuat menangis)

LSB : (mau menyerbu ke kereta orok). Stop menangis! Stoooooooop!

W : (mencegah LSB). Jangan, jangan apa-apakan anakku!

PB : (berhasil menahan LSB). Apa-apaan ini? Kau mau membunuh orok ini barangkali! Gila, benar-benar telah gila engkau!

LSB : (dalam rangkulan kasar dari PB). Sudah kukatakan: stop! Berhenti! Jangan menangis! Jangan lagi ada yang menangis .............. Aku tak kuat melihatnya .................... Tak kuat .................... (menangis tersedu-sedu)

(OT, W, dan PB melihat terharu kepada LSB yang mencoba menindas isak-tangisnya. Mereka terharu, iba. Dan di antara isaknya, LSB mengisakkan: janganlah ........lagi ada yang menangis......... Aku tak kuat .............. tak kuat melihatnya ................)

PB : (kepada W). Sebaiknya ibu pergi saja sekarang

OT : Ya, kau sebenarnya telah menyebutkan kata yang setepat-tepatnya yakni: ibu. (kepada W). Ya, sebaiknya ibu pergi saja.

W : (agak gugup). Ibu ............Saya ibu ............ (melihat kepada bayinya di dalam kereta). Baik, baik, saya kira juga lebih baik bila saya pergi.

OT : Nah, bagus. Dan jagalah dia (melihat ke dalam kereta) baik-baik. Dia (OT lalu berdiri di samping W melihat kepada orok dalam kereta) sungguh manis, anak yang sehat. (menggelitik-gelitik orok dalam kereta. Kedengaran suara orok tertawa-tawa)

PB : (berdiri di samping OT dan W, ikut melihat lucu kepada orok dalam kereta orok)

LSB : (berhenti dari isaknya, dan juga pelan-pelan pergi berdiri di samping OT, W dan PB melihat dengan tersenyum kepada orok dalam kereta orok)

OT : (terus menggitik-gitik si orok yang terus tertawa-tawa geli). Nah dengar tuh, hujan bakal datang. Lekaslah ibu pulang.

PB : Nanti dia (menunjuk ke dalam kereta) basah, bisa sakit

LSB : Kalau ibu berjalan cukup cepat, ibu masih bisa kering sampai di rumah

W : Baiklah. (melihat terharu kepada ketiganya). Terima kasih banyak kawan-kawan! Berkat kalian bertiga, aku telah menemui diriku kembali. Pertemuan dengan kalian ini tak akan mudah dapat kulupakan. (menjabat tangan PB). Maafkanlah aku, aku telah menempatkan saudara tadi dalam kedudukan yang sangat memalukan. (menjabat tangan LSB, kemudian tangan OT). Harap saudara-saudara sudi memaafkan aku. Dan semoga kita saling bertemu lagi. (pergi, lenyap dari pentas)

OT + LSB + PB = Sampai bertemu lagi, bu ....... (kemudian mereka berpandangan penuh arti)

(Bunyi guruh)

LSB : Langit telah gelap benar. Hari mau hujan

OT : (jenaka) Kata siapa?

LSB : Alaaa, mau main pencak dengan kata-kata lagi?

OT : Siapa yang mau main kata-kata? Lihat, tuh, langit justru mulai terang

OT + LSB + PB = (sama-sama melihat ke langit)

PB : Sungguh ajaib! Langit benar-benar mulai terang sekarang

LSB : (heran). Dan guruh yang barusan?

OT : (tambah jenaka). Ya, tetap guruh. Soalnya sekarang adalah, bahwa guruh yang barusan saja kita dengar itu sedikit pun tak mempunyai sangkut-paut apa-apa dengan hujan. Hujan tak bakal turun, jelas?

LSB : Sungguh saya tak memahaminya lagi. (geleng-geleng kepala, duduk di bangku)

PB : Dan saya, sekiranya ditanyakan secara jujur kepada saya, sedikit pun saya tak memahami persoalan apa sebenarnya yang ada antara kalian berdua. (duduk di bangku. Memungut balon yang dipecahkan OT dari tanah, meniup sobekan-sobekannya menjadi balon-balon kecil)

OT : Itulah celaka dari tiap taman. Setiap orang yang datang atau lewat di taman menganggap dirinya merdeka untuk mencampuri setiap pembicaraan. Ya, setiap kehidupan yang kebetulan sedang terjadi di situ.

LSB : Habis, ini kan taman! Ini adalah tempat terbuka untuk umum. Di setiap tempat umum, ada pembicaraan umum. Oleh sebab itu setiap orang boleh saja terus ikut berbicara. Demi pendapat umum! Kalau bapak mau punya pendapat pendapat sendiri, yah..... janganlah datang ke taman!

OT : Lalu saya harus ke mana?

LSB : Ke mana saja asal jangan ke taman

OT : Kau enak saja bicara. Ke mana saja! (sedih, pilu). Saya tak dapat ke mana-mana

LSB : Mengapa?

OT : (tiba-tiba menangis). Tak ada seorang pun yang menginginkan saya. Seorang pun tidak

LSB : Anak-anak bapak?

OT : Delapan orang. Tapi, tak seorang pun dari mereka menyukai saya.

LSB : Terlalu! Dan istri bapak bagaimana?

OT : (tiba-tiba meraung). Minah! Minah!

PB : (pada saat itu ia telah siap membuat beberapa balon-balonan kecil dari sobekan balon-balonnya tadi). Siapa Minah?

LSB : Sssst, ibu ........ maksud saya: istri bapak kita ini

PB : (terperanjat) I-b-u?

LSB : Sssst, ibu ........ maksud saya: istri bapak kita ini

PB : O, katakan begitu dari tadi, dong. Hhh, saya benar-benar dibikin kaget oleh kata “ibu” itu tadi .......... Eh, mengapa ibu, eh, istri bapak kita ini rupanya?

LSB : Sssst, jangan keras-keras. Saya sendiri belum tahu

OT : (meraung-raung). Minah! Minah!

LSB : Apakah Minah istri bapak?

OT : Minah, Minah, mengapa kau tinggalkan aku?

LSB : (kepada PB). O, jadi Minah memang istrinya, dan rupa-rupanya dia minggat

OT : Minah, Minah, mengapa kau tinggalkan aku, setelah kita hidup bahagia delapan tahun?

LSB : Wah, delapan tahun. Kalau begitu, dia tiap tahun dapat seorang anak

PB : Hebat juga si Minah, eh, istri bapak kita ini, maksud saya

LSB : Hebat? Itu kau katakan hebat? Huh, begitu rupanya tanggapanmu tentang manusia dan kemanusiaan, ya? Itu tafsiranmu rupanya tentang wanita, ya? Aku menyebutnya: iseng! Manusia lelaki yang tak punya fantasi, lalu merongrong tubuh manusia perempuan.

PB : Merongrong gimana, ah! Kalau si perempuan tidak mau dirongrong, saya kira seluruh persoalan dan filsafat iseng itu tak akan pernah ada

LSB : Ah, kau tahu apa! Seolah-olah filsafat iseng itu hanya filsafat ranjang dan hormon yang berlebihan saja. Seandainya bapak kita yang terhormat ini punya fantasi sedikit, maka apa yang hendak ku katakan adalah: alangkah baiknya, seandainya selama delapan tahun dia berumah tangga dengan istrinya yang bernama Minah itu, dia cukup membuat anak dua orang saja dan enam buah novel misalnya

PB : Ahaaa! Kau seorang pengarang rupanya. Pengarang gagal, yang lalu terdampar ke taman untuk menganalisa peristiwa-peristiwa kecil sebagai hiburan untuk melupakan kegagalanmu itu.

LSB : Tahu apa pula kau tentang makna sebenarnya dari kegagalan? Betapa banyak kejadian, bahwa kegagalan itu merupakan penampikan yang paling prinsipil terhadap karya yang punya mutu kepalang tanggung. Dan kau jangan lupa: tak ada yang lebih dapat merasakan arti berhasil selain orang yang telah mengalami kegagalan.

OT : Minah! O, Minah! Telah ku cari kau ke mana-mana. Di mana kau, o, Minah

LSB : Apa dia tak ada di rumah salah seorang anak bapak yang delapan itu?

OT : Tidak!

PB : Apa bapak sudah pasang iklan di koran?

LSB : Soal-soal seperti ini tak layak diiklankan.

PB : Banyak saya baca iklan-iklan demikian. Seperti yang saya baca pagi tadi di salah satu koran, berbunyi: ADINDA NUR! KEMBALILAH KEPADA KAKANDA. PINTU RUMAH KAKANDA SELALU TERBUKA LEBAR UNTUK KAU. KAKANDA TELAH MAAFKAN SEMUANYA

LSB : (marah). Laki-laki bubur, bah! Setelah istrinya yang bernama Nur itu berbuat jahanam dengan laki-laki lain, kemudian lari karena ketahuan berbuat begitu, nah --- sekarang sang suamiberwatak daun pisang pembungkus itu mau mengambil sikap seorang pahlawan dari roman-roman abad pertengahan. Dan sikap ini dipertontonkannya kepada kita, masyarakat dari abad ke-20 ini, melalui media komunikasi yang paling murah dan paling vulgar: suratkabar. Bah!

PB : Vulgar? Melalui iklan suratkabar adalah cara yang paling praktis. Dan jangan lupa, bukan suami si Nur saja yang telah berbuat begitu

LSB : Pers abadke-20 ini akan lebih tertolong, apabila mereka menolak iklan-iklan bergaya suami si Nur ini. Dan tahukah kita, berapa lagi berkeliaran lelaki macam suami si Nur ini di luar kantor surat-suratkabar? Bayangkan, seandainya orang yang senasib dengan dengan suami si Nur ini berbuat hal yang sama.

OT : (nyeletuk). Saya juga telah menyuruh siarkan kehilangan Minah melalui radio

LSB : Ck,ck. Hebat. Dan bagaimana hasilnya?

OT : Nol

LSB : Seperti yang kuduga. Ck,ck,ck

OT : (kembali meraung-raung). Minah! O, Minaaaah!

LSB : (dengan sikap yang sangat menyangsikan). Tunggu dulu, pak! Minah ini sebenarnya siapa?

OT : (suara datar). Kucing betina saya. Kucing yang saya sayangi

LSB + PB = Kkk-ucing?!

OT : Dia senantiasa pulang pulang kembali. Tapi kali ini, dia telah menghilang lebih dari seminggu. (meraung). Minah! Minah!

LSB : (kesal sekali). Kucing! Dan istri bapak sendiri di mana?

OT : Ada di rumah

LSB : Di rumah?! Rumah siapa?

OT : Rumah saya, sudah tentu

LSB : Ah, rupanya bapak mau mempermainkan kami. Kata bapak tadi, bapak tak bisa ke mana-mana. Tak seorang pun menyukai bapak.

OT : Benar. Sebenar-benarnya. Dan istri saya juga tak menyukai saya

LSB : Kenapa?

OST : Dia istri saya yang kedua. Dia hanya menginginkan harta saya saja. Setelah harta saya habis dijualnya untuk dibelikannya barang-barang yang di hadapan notaris diakuinya sebagai miliknya sendiri, lalu saya tak ingin lagi dia lihat, katanya.

LSB : Lalu siapa yang ingin dilihatnya sekarang?

OT : Laki-laki lain, lebih muda, lebih gagah

LSB : Hm, tentu, tentu. Masak dia bakal mencari laki-laki yang jauh lebih tua dan lebih buruk dari bapak. Dan kini, di mana laki-laki lebih muda dan gagah ini sekarang?

OT : Di rumah saya, sudah tentu.

LSB : Hm, ya, sudah tentu, sudah tentu.

OT : Dia sudah menggantikan kedudukansaya dalam artinya yang menyeluruh

LSB : Hm, tentu, tentu. Kecuali sikat gigi bapak saja saya kira yang tak ikut dia ambil alih

OT : Juga sikat gigi saya

LSB : Wah, laki-laki yang sungguh hebat. Sungguh hebat! Juga sikat gigi! Dan lalu, bapak kini tidur di mana?

OT : Di rumah saya itu juga, tapi di gudangnya. Sebelah kamar babu, dan bersama Minah

LSB : Kalau boleh saya mengajukan pertanyaan terakhir: Istri bapak yang pertama di mana sekarang?

OT : Mati delapam tahun yang lalu

LSB : Namanya?

OT : Minah (tiba-tiba dia meraung kembali). Minah! Minah!

LSB : (termangu-mangu, mengerti kini duduk perkara yang sebenarnya)

PB : (geram). Bah! (memecahkan balon-balon kecil itu semuanya satu-persatu)

LSB : (kepada PB). Hei, hei! Mengapa kau?

PB : (sangat marahnya. Sebuah balon-balonan kecil rupanya sulit benar dipecahkan dengan tangannya. Dengan sangat marahnya balon-balonan kecil itu ditaruhnya di tanah, lalu diinjak-injak dengan gemasnya). Bah! (ia pergi lenyap dari pentas)

(Di kejauhan terdengar lonceng gereja, menandakan pukul enam petang)


LSB : (setelah diam hening sejenak). Hari telah petang, pak. Pulanglah ke rumah. Itu lebih baik, bagi kau dan bagiku

OT : (pilu). Pulang ke rumah mana, nak?

LSB : Ke gudang apekmu, sebelah kamar babumu

OT : Tanpa Minah?

LSB : (pilu sekali) Tanpa Minah. Minah kedua-duanya ........

OT : (menangis terisak-isak kecil). Tak dapat aku, nak. Tak dapat. Dan pula aku tak mau

LSB : Pulanglah, pak. Taman ini diadakan kotapraja untuk dapat sekedarnya menghibur warga kotanya yang letih, yang risau. Apa pula kata mereka nanti di koran, bila esok pagi mereka dapati bapak di sini mati kedinginan?

OT : Mati adalah lebih baik bagiku dalam keadaanku seperti sekarang ini.Minah tak ada lagi. Minah .........

LSB : Benar, dan aku pun sependapat dengan bapak. Hanya kematian bapak dalam gudang apek itu akan lebih menyamankan kotapraja daripada di sini

OT : Mati di taman lebih indah

LSB : (tertawa). Indah, ya .......... bagi para pencinta roman picisan, yang menyukai judul-judul seperti, “Mati di Tengah Taman”, atau “Taman Maut”. Pulanglah, pak. Nantikanlah dengan tawakal di gudang apekmu yang penuh cecunguk dan tikus itu hari penghabisanmu. Sungguh sangat menyedihkan! Tapi, sayang sekali .............. jalan lain memang tak ada lagi bagi bapak.

OT : (merenung). Cecunguk, tikus ........

LSB : ...........dan kesepian

OT : Dan kau, nak. Bagaimana dengan kau sendiri?

LSB : (tersenyum). Tak lebih baik sedikit pun dari bapak. Habis, kita mau berbuat apa lagi? Seperti kata penjual balon tadi: aku mencoba menjadikan kegagalanku suatu barang tontonan idah di taman. Bapak lihat kembang itu? Di sana? Bagus, bukan? Dan bapak baca tulisan di papan yang ditancapkan oleh kotapraja di hadapannya? “DILARANG MEMETIK BUNGA” ............... (tersenyum)

OT : Ya, kau pengarang dan kau mahir benar membenamkan deritamu di balik kata-kata yang sewaktu-waktu dapat kau hamburkan. Tapi, bagaimana, nak, dengan kesunyianmu? Ikutlah saya ke gudang apek saya. Agar ada teman saya. Dan, agar ada teman anak.

LSB : Terima kasih, pak. Kebersamaan kita seperti sekarang yang bapak gambarkan itu lebih parah lagi daripada kesendirian kita masing-masing.

OT : Naluri saya --- dan ingat ini naluri orang tua, lho --- berkata, keadaan anak tak jauh bedanya dari keadaan saya

LSB : Saya tak akan membantahnya. Tapi, telah saya katakan: usia yang lebih muda ada pada saya. Kemungkinan-kemungkinan dari kesepian saya jauh lebih banyak.

OT : Artinya anak tak mau ikut saya?

LSB : Selamat malam, pak. (menyalam dengan sangat mesranya OT). Siapa tahu, besok kita bertemu lagi.

OT : Besok?

LSB : Ya, besok. Mengapa bapak sangsi akan hari esok?

OT : Dengan keadaan kita seperti sekarang ini?

LSB : Justru karena keadaan kita seperti inilah!!

OT : (tertawa sayu). Tidak, tidak! Aku tak mau bertemu kau lagi. (tersenyum). Selamat malam, nak. Mudah-mudahan tidurmu nyenyak --- di mana saja kau tidur malam ini. (sambil batuk-batuk pergi pelan-pelan, lenyap dari pentas)

(LSB menaikan leher bajunya. Bangku dibersihkannya dengan tangannya. Semua gerak-geriknya menandakan ia mau tidur malam itu, seperti juga malam-malam, dan malam-malam yang akan datang lagi, di bangku itu ......)

LSB : (melihat ke langit). Syukurlah, hujan tak bakal turun. Atau ......... mudah-mudahan hujan tak bakal turun malam ini. Tidur di bawah jembatan, dengan udara kotanya yang bertumpuk di situ, membuat bengekku makin menjadi.(ia melihat sekeliling, kalau-kalau ada orang yang datang. Kemudian ia merebahkan diri di bangku itu. Suara binatang-binatang malam mulai terdengar. Angin menghembus, dedaunan di taman itu gemersah. Di kejauhan terdengar suara-suara mobil lewat, anjing menyalak, kemudian suara kereta api yang lewat sangat jauh, jauh sekali. Tak berapa lama kemudian, kedengaran suara seorang pria dan seorang wanita, tertawa-tawa genit, semakin mendekat. Masuklah ke pentas sepasang muda-mudi berpegangan tangan erat sekali)

GADIS : (melihat LSb tergolek di bangku). Ssst, ada orang

LSB : (tergelak tiba-tiba). Ya, ya. Bangku ini sudah ada orangnya. (dia duduk di bangku). Tapi ini, kan, taman. Di sana ada bangku kosong (tertawa). Ke sanalah kalian. Saya tak akan melihat, sungguh ....... (tergelak). Lagi pula saya sangat mengantuk

GADIS + PEMUDA = (malu)

LSB : Ayo, pergilah ke sana. Jangan sia-siakan kesempatan, selagi kalian masih muda (tergelak). Saya benar-benar tak akan melihat. Lagi pula saya amat letih, amat mengantuk .......

GADIS + PEMUDA = (setelah ragu-ragu sebentar, pergi ke arah yang ditunjuk oleh LSB)

LSB : (tertawa mengerti. Sejenak ia ikuti mereka dengan matanya. Kemudian ia rebahkan kembali tubuhnya di bangku itu). Lagi pula ....... saya amat mengantuk ....... amat letih .......... letih ...... (suara binatang-binatang malam semakin kentara. Angin berhembus. Di kejauhan seekor anjing menyalak, dan suara kereta yang lewat .......)

LAYAR TURUN PELAN-PELAN

*****SELESAI*****