Jumat, 06 Januari 2023

AKU vs AYAHKU - Budi Ros


 
Drama Remaja
PEMBUKA

GONG DUA BERBUNYI.
PARA PEMAIN MUNCUL DARI PINTU MASUK AUDITORIUM, MENUJU PANGGUNG. SEMUA MENYAPA PENONTON DENGAN RAMAH : “ SELAMAT MALAM SEMUA, SELAMAT DATANG … APA KABAR ?. ”
SESAMPAI DI PANGGUNG, PARA PEMAIN MENATA SET DAN PERALATAN LAINNYA. BAGUS, PEMIMPIN MEREKA, MEMBERI KOMANDO BAGAIMANA SET DAN PERALATAN HARUS DI TATA.
KEMUDIAN DARI SALAH SATU SISI PANGGUNG MUNCUL MENEJER PANGGUNG, YANG MEMBERI TAHU BAHWA KOMANDO BAGUS TERNYATA SALAH. SET DAN SEMUA PERALATAN KEMUDIAN DI TATA ULANG SEPERTI PETUNJUK MENEJER PANGGUNG.
SEMUA PEMAIN TURUT AKTIF MENYIAPKAN PERALATAN.
MENEJER PANGGUNG DIBANTU BAGUS SESEKALI MENGECEK APAKAH SEMUA PERALATAN DITEMPATKAN PADA TEMPATNYA ATAU TIDAK.

MEREKA MEMERIKSA DARI BEBERAPA SUDUT, KEMUDIAN BEBERAPA KALI MELIHAT ARLOJINYA, DAN KETIKA MENYADARI SUDAH WAKTUNYA PERTUNJUKAN DIMULAI, MENEJER PANGGUNG BERTANYA PADA PARA PEMAIN


MENEJER PANGGUNG :
Bagaimana, sudah siap ?

PARA PEMAIN :
Belummm …

MENEJER PANGGUNG :
Oke, cepat sedikit kalau begitu.

LALU MENEJER PANGGUNG BERUNDING DENGAN BAGUS. KEMUDIAN MEREKA SEPAKAT, BAGUS MEMULAI PERTUNJUKAN SEMENTARA PANGGUNG DISIAPKAN.
MENEJER PANGGUNG TURUN TANGAN LANGSUNG MEMBANTU PERSIAPAN, IKUT MENGANGKAT SET DAN PERALATAN, BAGUS MEMULAI PERTUNJUKAN.


BAGUS : ( BICARA PADA PENONTON )
Ternyata repot sekali membuat pementasan teater. Tapi jangan kuatir, apa pun yang terjadi pertunjukan akan tetap jalan. Selesai tidak selesai panggung ini ditata, kami akan tetap main. Sebab kami berlatih sudah sangat lama, sekitar 6 bulan. Kami sudah banyak kehilangan waktu, tenaga, dan tentu saja biaya. Sia-sia sekali kalau kami tidak jadi main gara-gara panggung belum beres. Kami pun merasa berdosa pada Anda semua. Jadi jangan kuatir, kami pasti main. Malam ini kami akan membawakan lakon berjudul MARNI versus Ayah, lakon yang sederhana tapi seru. Seru di sini bukan saja ramai, tapi punya arti lain, yaitu Sedikit Ruwet. Ini lakon tentang pertentangan anak muda dan orang tua, pertentangan pop dan klasik, tradisi dan modern. Pertentangan yang sebetulnya tidak perlu ada. Tapi begitulah, nyatanya pertentangan semacam ini selalu ada, dari waktu ke waktu. Dan gara-gara pertentangan ini, kita semua sering kehabisan waktu. Cinta, kata orang bisa menjadi jawaban semua masalah. Tapi dalam kasus ini, cinta mengakibatkan banyak masalah.
Lihat, apa yang terjadi dengan Marni, tokoh utama lakon ini. Marni !

MARNI : ( MENDEKAT )
Ya …

BAGUS :
Lho, kok cengegesan ? Kamu kan ceritanya lagi patah hati.

MARNI :
Kan belum mulai ?

BAGUS :
Oh, ya. Tapi ini sudah waktunya mulai. Siap dong, aktris harus siap sebelum mulai.

MARNI :
Tapi panggungnya juga belum siap.

BAGUS :
Lho, belum siap juga ? Ya ampun, lama betul. He, menejer panggung, masih lama ?

MENEJER PANGGUNG :
Sebentar lagi. Ngomong aja dulu.

BAGUS :
Eee .. sudah berbusa begini. Bisa keburu pulang nanti penontonnya.

MARNI :
Ya … jangan dong. Para penonton, mohon jangan pulang dulu ya ? Betul, ya ? Kan belum nonton Marni akting. Nanti ada door prize-nya lho.

BAGUS :
Ngawur. Door prize, memangnya infotainment. Sudah, sudah, sana siap-siap.
( MARNI PERGI )
Maaf. Itu tadi pemeran Marni. Dia ceritanya patah hati melulu. Karena setiap kali Marni jatuh cinta, atau ada pemuda jatuh cinta padanya, babenya selalu melarang. Dan anehnya, sang babe selalu punya alasan yang sama: aku sayang sama kamu NAK, jadi aku harus menjagamu. Gile, memangnya cinta itu kejahatan. Atau jangan-jangan babe si Marni ngidam jadi sekuriti.

MARJUKI :
He, ngomongin gue lu ? Sompret kamu. Berani-beraninya.

BAGUS :
Siapa ngomongin ? Ini perkenalan tokoh, namanya.

MARJUKI :
Pakai diperkenalkan segala. Memangnya saya tidak bisa memperkenalkan sendiri tokoh yang saya mainkan ?

BAGUS :
Bisa, bisa. Justru ini untuk membantu situ. Supaya penonton lebih jelas, Marjuki itu tokoh macam apa. Soalnya akting situ pas-pasan.

MARJUKI :
Sembarangan ! Saya aktor. Main saya dijamin bagus. Dalam lakon ini Marjuki pun tokoh penting, jelas karakternya. Tidak perlu diperkenalkan.

BAGUS :
Tetap perlu diperkenalkan, kawan. Jangan kata Marjuki, capres juga perlu perkenalan, perlu kampanye. Kalau tidak, nggak akan dapat dukungan publik. Malah ada capres yang bikin buku dulu sebelum mencalonkan diri. Mereka membangun imej yang hebat-hebat tentang dirinya. Padahal, begitu jadi presiden, sami mawon.

MARJUKI :
Sudah jangan ngelantur.

BAGUS :
Saya bukan ngelantur, saya bicara fakta. Eh, tahu tidak bedanya capres dengan aktor ?

MARJUKI :
Tahu. Mereka harus sama-sama jago akting.

BAGUS :
Pinter. Sekarang bedanya aktor dengan Presiden ?

MARJUKI :
Aktor menjalankan amanat lakon. Presiden menjalankan amanat rakyat.

BAGUS :
Betul. Terus ? Kenyataannya, presiden menjalankan amanat rakyat tidak ?

MARJUKI :
Itu pertanyaan saya juga. Sudah ah, kamu ngelantur lagi.

BAGUS :
Ini juga bagian dari amanat. Kita semua masing-masing punya tugas, misi atau amanat. Marjuki, dalam lakon ini punya tugas sebagai tokoh antagonis atau si jahat. Dalam kehidupan nyata, orang tua seperti Marjuki, tidak boleh begitu. Orang tua harus ngemong anak. Harus mengerti kemauan anak. Bukan main larang. Apalagi dalam urusan cinta.

BAGUS : ( MENYANYI )
CINTA ADALAH ANUGERAH ALAM
ANUGERAH SANG PENCIPTA
JANGAN COBA DIKEKANG
APALAGI DILARANG

BIARKAN CINTA TUMBUH
MENGIKUTI ATURAN ALAM
BIARKAN ANAK MERDEKA
MEMILIH JALAN

( PARA PEMAIN SUDAH SELESAI MENATA PANGGUNG KEMUDIAN IKUT MENYANYI )

TAPI PARA ORANG TUA
SELALU PUNYA SENJATA
DAN KAMI TERKAPAR TAK BERDAYA

“ JANGAN INI JANGAN ITU ”, KATA MEREKA SELALU

( SEMUA PEMAIN UNDUR DIRI, KECUALI MARNI DAN AYAHNYA )

LAMPU BERUBAH


ADEGAN SATU

BERANDA DEPAN RUMAH MARJUKI. SIANG.
SETELAH MENGGAMBARI SELURUH TEMBOK RUMAH, MARNI MENGGAMBARI LANTAI. ITULAH UNGKAPAN PROTES MARNI KEPADA SANG AYAH, SEBAB SELALU DILARANG PACARAN.
SEBELUMNYA, MARNI PROTES DENGAN CARA MOGOK BICARA SEMINGGU. SEBELUMNYA LAGI, IA MOGOK MAKAN DAN TIDAK KELUAR KAMAR 3 HARI TIGA MALAM.
MARJUKI BARU DATANG DARI KELURAHAN, KAGET MELIHAT AKSI MARNI.

MARJUKI :
Ya, ampun. Protes model apa lagi ini Marni ? Masa, seluruh rumah digambari begini ? Aduh … aduuhh … gambar apa pula ini ? ( MEMANDANG LEBIH SEKSAMA ) Ya ampun, Marni .. Marni … saya pikir protes kamu sudah cukup. Tujuh hari mogok bicara, 3 hari 3 malam mogok makan dan tidak keluar kamar, eh masih ada lagi. Seluruh rumah digambari begini. Lukisan abstrak lagi. Soal protes dengan cara yang lain-lain itu, okelah. Ayah bisa terima. Tapi lukisan abstrak ini, saya keberatan. Melukis itu ada aturannya. Pertama orang harus melukis realisme, surealisme, kemudian yang lain-lainnya, baru abstrak.

MARNI :
Itu kuno.

MARJUKI :
Apa salahnya kuno kalau baik ?

MARNI :
Apa salahnya modern kalau juga baik ?

MARJUKI :
Sudahlah Marni, jangan ajak ayah berdebat. Capek.

MARNI :
Marni juga capek, makanya kemaren seminggu diam.

MARJUKI :
Marni, sekali lagi ayah tegaskan. Ayah tidak melarang kamu pacaran. Ayah hanya tidak setuju dengan caramu. Kamu pacaran tidak kenal waktu. Pagi, siang, sore, malam. Itu satu. Kedua, ayah ingin kamu benar-benar memilih pemuda yang cocok.

MARNI :
Itu sama saja dengan melarang.

MARJUKI :
Lain, Marni. Beda.

MARNI :
Sama !

MARJUKI :
Mmm … berdebat lagi.

MARNI :
Dulu, ayah melarang Marni dekat sama Ongky. “ Jangan yang beda agama ” kata ayah. Lalu Marni dekat sama Taufik, ayah juga melarang. “ Jangan dengan anak pejabat. Miskin tidak pantas, kaya disangka KKN ” begitu. Sekarang, Marni dekat sama Anto, jelas dia anak baik, se-iman, bukan anak pejabat. Apa lagi ? Apa ayah tidak ada kata lain selain “ jangan ” ?

MARJUKI :
Siapa rela punya anak pacaran sama pengangguran ?

MARNI :
Siapa bilang dia pengangguran ? Dia sekolah ayah.

MARJUKI :
Kalau sekolah ngapain tiap pagi mondar-mandir naik motor ?

MARNI :
Pagi dia ngojek.

MARJUKI :
Kapan sekolahnya ?

MARNI :
Anto Masuk siang.

MARJUKI :
Kalau sekolah siang kenapa malam-malam sering datang ke sini ? Habis sekolah mustinya pulang ke rumah, bukan main ke sini.

MARNI :
Malam dia narik angkot ayah. Kalau lagi sepi, atau angkotnya dibawa orang lain baru main. Kan tidak tiap malam Anto ke sini ?

MARJUKI :
O, supir tembak ? Ampun Marni, apa yang bisa diharap dari tukang ojek dan sopir tembak ?

MARNI :
Jangan kuatir. Dia punya cita-cita tinggi, punya platform !

MARJUKI :
Syarat yang diperlukan sebagai calon suami adalah hidup mapan, punya pekerjaan tetap, penghasilan cukup, dan sayang sama kamu.

MARNI :
Itu pendapat kuno.

MARJUKI :
Biar kuno kalau baik apa salahnya ?

MARNI :
Biar modern kalau baik juga apa salahnya ?

MARJUKI :
Jangan mengajak berdebat Marni. Capek !

MARNI :
Saya juga capek dan tidak ada waktu. Masih banyak yang harus Marni kerjakan. Seluruh rumah harus saya lukis. Tapi catnya kurang. Permisi dulu. Saya mau beli cat. ( PERGI )

MARJUKI :
Duh, aduh … ( MENYANYI )
Ampun … ampun …
Sungguh-sungguh minta ampun
Punya anak gadis puber semata wayang
Repotnya bukan kepalang
Mau diKASIH keBebasan
Takut jadi salah jalan
Tapi kalau dilarang
Bikin gegeran siang malam
Ampun, ampun …!

LAMPU BERUBAH



ADEGAN DUA

AULA SEBUAH SMU. SIANG.
PARA SISWI / SISWA SEDANG ESKUL MENARI. MEREKA BERGERAK TANPA PENGHAYATAN. IBU WIWIK MEMBERI PENGARAHAN.


IBU WIWIK :
Coba perhatikan semua. Irna, Audi, Lala, semua tenang dulu sebentar.

( SETELAH SEMUA TENANG )


Perhatikan ya. Menari itu bukan asal bergerak. Tapi bergeraklah dengan perasaan, dengan emosi atau greget. Tanpa dibarengi perasaan, tarian kalian tidak akan menarik. Hambar, kosong. Seperti robot ! Dan penonton akan cepat bosan, lalu pulang. Menyedihkan. Tontonan yang ditinggalkan penonton sebelum waktunya adalah tontonan yang sangat menyedihkan. Sekarang coba lagi dari awal. Coba pakai musik. Ibu mau ke toilet. Irna, pimpin teman-teman, ya. ( PERGI )

IRNA :
Baik, bu. Yuk, teman-teman. Langsung ya ?

LALA :
Istirahat dulu dong.

AUDI :
Heeh, BT nih.

YANG LAIN :
Ya. Pegel juga ya ?

AUDI :
Neyesel juga milih tari tradisi. Mana gerakannya lambaaattt … jawa banget deh !

YANG LAIN :
Ember …

IRNA :
Siapa yang dulu ngotot milih tari tradisi ?

AUDI :
Eh, bukan gue lagi. Keputusan bersama kan ?

LALA :
Ya. Tapi provokatornya kamu. Lala bilang modern dance aja. eh, kamu ngotot.

AUDI :
Gara-gara ibuku juga sih. Tradisi, tradisi aja, supaya kamu kenal tradisi. Tahunya pegeeelll. Gerakannya lambaaatttt … pantes Marni nggak mau ikut.

( MARNI MENDADAK MUNCUL )

MARNI :
Heh, latihan yang bener. Jangan mengeluh.

SEMUA :
Eh, nongol dia.

LALA :
Heh, katanya masih mogok sekolah. Kok nongol ?

MARNI :
Aku cuma mampir, habis beli cat.

AUDI :
Mau ngecat rumah ? Wah, mau hajatan rupanya ? Orang tua Anto mau melamar ?

MARNI :
Gila ! Tapi betul teman-teman, aku punya hajatan. Kalian harus datang, ya ?

IRNA :
Acara apa dong, yang jelas ?

MARNI :
Datang saja, pokoknya seru. Ini acara kejutan, jadi sengaja tidak pakai penjelasan. Datang dan bawa makanan apa saja, kueh kek, rujak kek. Apa saja, soalnya aku nggak sempat masak. Kabarkan ke yang lain ya ? Dah .. ( PERGI )

AUDI :
Acara apa sih ?

SEMUA :
Mana tahu.

LAMPU BERUBAH


ADEGAN TIGA

DI SEBUAH TEMPAT. MALAM.
ANTO SENDIRIAN, HATINYA GUNDAH.


ANTO : ( MENYANYI )
… DUDUDUDU … DUDU .. DUDUDU .. DU …
HUHU .. HUHU . HUHU … YEHE .. HEHE ……

SIAPA BILANG CINTA INDAH UNTUK DIKENANG
DUDUDU … DUDU .. DUDU .. DUDU …
YEYEYEYEY … YEY .. YEY .. YEYE ….

( CEPI, DATANG DIAM-DIAM. NIMBRUNG NYANYI )

UNTUK DIKENANG SIAPA BILANG CINTA INDAH
CINTA INDAH SIAPA BILANG UNTUK DIKENANG
DIKENANG UNTUK SIAPA CINTA INDAH BILANG

CEPI : ( MENYANYI )
SIAPA SANGKA, CINTA MARNI BIKIN PATAH HATI
SIAPA SANGKA, CINTA MARNI DILARANG PAK MARJUKI

ANTO :
Setan kamu !

CEPI :
Tenang kawan, tenang. Harap tenang. Semua aman terkendali, karena ada Cepi. Kamu ingat kan ? Bayu, Agus, Edo, Tyas, Audi, Lala, Irna, semua pernah punya masalah dalam urusan cinta. Tapi begitu Cepi datang, semua masalah selesai. Jadi harap sabar, tenang.

ANTO :
Memang siapa yang ribut ?

CEPI :
Sekarang aku sedang berpikir, bagaimana supaya ayah Marni bisa menerima kamu. Tapi sebelumnya dengar kataku. Ini penting dan perlu diketahui semua orang. Ini ilmu kuno, tapi manjur. Sayang orang sering melupakan. Begini, dalam hidup ini ada dua hal yang harus diingat: sukses atau gagal. Menang atau kalah. Untung atau buntung. Senang atau sedih. Bahagia atau sengsara. Dalam urusan cinta, juga hanya ada dua kemungkinan: diterima atau ditolak. Jadi tenanglah.

ANTO :
Memang siapa yang ribut ?

CEPI :
Kalau cinta diterima, kita memang bahagia. Tapi sebetulnya ada sejuta resiko menunggu. Kamu harus apel setiap malam Minggu, harus datang tepat waktu, harus berpikir baju dan parfum apa yang pantas dipakai, punya uang saku, dan hadiah apa yang pantas diberikan pada saat si dia merayakan ulang tahun.

ANTO :
Memang siapa yang bikin aturan begitu ?

CEPI :
Itu baru tahap-tahap awal. Tahap berikutnya, lebih repot. Kamu harus datang silaturahmi pada kakek-neneknya, pada para om dan tentenya waktu mereka hajatan, harus datang waktu sepupu-sepupu dia kawin, atau ultah dan semacamnya.

ANTO :
Siapa yang bikin aturan begitu ?

CEPI :
Pada tahap yang paling serius, waktu kamu sudah nikah dengan dia misalnya, kamu akan dibilang orang paling sombong dalam keluarga mereka, hanya gara-gara tidak datang waktu mereka bikin acara arisan keluarga. Bayangkan, arisan keluarga, acara paling membosankan di dunia pun kamu harus datang. Itulah resiko kalau cinta kita diterima seorang gadis. Jadi ditolak, sebetulnya lebih bagus.

( ANTO TERTAWA )


CEPI :
Kenapa tertawa ?

ANTO :
Kamu penyitir yang hebat.

CEPI :
Maksudnya ?

ANTO :
Kamu menyitir buku “ Enaknya Hidup Membujang ” kan ?

CEPI :
Kok tahu ?

ANTO :
Yang nulis buku itu pamanku. Aku sudah baca sebelum buku itu dicetak. Aku pikir cuma aku yang hafal luar kepala, ternyata kamu lebih hafal lagi. Kapan kamu baca buku itu, tadi siang ya ?

CEPI :
Bukan. Tadi sebelum ke sini.

ANTO :
Pantes, hafal sampai titik komanya. Tapi maaf Cepi, aku tidak sepakat dengan buku itu. Ogah aku jomblo seumur hidup. Aku betul-betul sayang sama Marni, dan ingin suatu saat hidup bersamanya. Bisa tidak bisa, harus bisa. Apa pun rintangan yang menghadang, akan kuterjang. ( PERGI )

CEPI :
Anto, tunggu. Anto ! Busyet, Romeo sekali.
( MENYUSUL ANTO )

LAMPU BERUBAH


ADEGAN EMPAT

RUMAH MARJUKI. SIANG
IRNA, AUDI, LALA DAN BEBERAPA TEMAN MARNI DATANG.
MEREKA SEMUA LANGSUNG MENGAGUMI LUKISAN MARNI.
MARJUKI MENEMUI MEREKA, MARNI TIDAK DI RUMAH.

MARJUKI :
Silahkan, silahkan masuk semua.

SEMUA :
Terimakasih …

AUDI :
Marni pergi jam berapa, om ?

MARJUKI :
Sekitar jam 8 mungkin. Buru-buru rupanya, malah tidak pamit. Kapan Marni menyampaikan undangan dan bilang ada hajatan ?

AUDI :
Kemarin. Marni mampir ke sekolah.

IRNA :
Marni bilang, acara kejutan. Jadi tidak pakai penjelasan acaranya apa.

LALA :
Ya. Keliatannya kemaren dia buru-buru sekali. Habis beli cat dan banyak pekerjaan di rumah. Dia juga pesan supaya kami bawa makanan. Marni tidak akan sempat masak katanya. Ini om, kami bawa jajan pasar.

MARJUKI :
O, begitu ya ? Ya .. ya.. Terimakasih .. terimakasih. Mungkin yang Marni maksud acara kejutan ya ini, lukisan-lukisan yang memenuhi rumah ini. Sebab setahu saya tidak ada kejutan lain. Kami pun tidak punya hajatan apa-apa. Jadi silahkan menikmati lukisan-lukisan ini.

( SEMUA LANGSUNG MENGAGUMI LUKISAN MARNI )

AUDI :
Ini semua Marni yang melukis om ?

MARJUKI :
Ya, Marni semua.

IRNA :
Luar biasa. Sangat berbakat.

LALA :
Fantastis !

IRNA :
Di mana Marni belajar melukis om ? Setahu saya, di sekolah Marni tidak pernah belajar.

MARJUKI :
Saya juga kurang tahu. Sejak kanak-kanak Marni lebih tertarik menari atau menyanyi.

AUDI :
Apa ini yang dikerjakan Marni selama seminggu lebih tidak masuk sekolah ?

MARJUKI :
Marni mengerjakan ini hanya sehari semalam.

SEMUA :
Oh … luar biasa.

IRNA :
Sangat luar biasa ! ( BEBERAPA SAAT DIAM )
Om, ada apa sebetulnya dengan Marni ?

LALA :
Apa dia sedang jatuh cinta dan ...

AUDI :
.. .dan om melarangnya ?

MARJUKI :
Saya tidak pernah melarang. Saya hanya meminta Marni memilih pemuda yang tepat dan jangan pacaran sembarang waktu. Jangan sampai pacaran mengganggu jam belajar. Itu kan tuntutan umum setiap orang tua ?

IRNA :
Mungkin cara om meminta pada Marni terlalu keras, dan …

LALA :
.. dan Marni terluka hatinya.

IRNA :
Ya, terluka hatinya. Lihat om, lihat semua lukisan itu. Saya bisa menangkap, luka hati yang sangat, sangat …

AUDI :
… sangat dalam ….

IRNA :
Maaf om, sebagai orang tua om tentu lebih tahu bagaimana menyayangi anak. Tapi sebagai anak, kami-kamilah yang lebih tahu apa yang kami butuhkan dari orang tua. ( PADA AUDI ) Bukan begitu ?

MARJUKI :
Mungkin begitu …

AUDI :
Lihat om, lihat lukisan yang sebelah sini.

MARJUKI :
Ya, saya lihat.

AUDI :
Om lihat warna putih yang menggumpal seperti awan ?

MARJUKI :
Ya.

AUDI :
Apa yang om rasakan waktu melihat gumpalan warna putih itu ?

MARJUKI : ( BINGUNG )
Ee … e ..

AUDI :
Saya merasakan hati pelukisnya yang tengah kosong, hilang harapan, hampa.

LALA :
Mungkin, waktu Marni melukis itu, darahnya tengah berhenti mengalir, karena kepedihan yang sangat.

IRNA :
Bisa jadi hati Marni serasa terbang ke awan, sebab bumi tempatnya berpijak tidak memberi harapan apa-apa.

AUDI :
Om lihat, warna hitam di lantai sebelah sini ?

MARJUKI :
Yang mirip gua karang bolong ?

AUDI :
Ya. Apa yang timbul dalam imajinasi om memandang lukisan ini ?

MARJUKI : ( BINGUNG )
Ya .. ada semacam ..

IRNA :
Saya merasakan masa depan yang suram, gelap ..

LALA :
Seperti masuk sumur tanpa dasar.

AUDI :
Persis !

IRNA :
Mungkin sebaiknya om bicara dengan Marni, tanyakan apa yang terjadi. Semua lukisan ini adalah isyarat yang sangat jelas, hati Marni sedang kacau. Mungkin ada keinginan terpendam yang tidak kesampaian. Kalau saya jadi om, saya akan kabulkan apa pun keinginan Marni.

LALA :
Ya, om harus bicara dan mengabulkan keinginannya.

IRNA & AUDI :
Harus.

MARJUKI : ( RAGU-RAGU )
Ya, ya, soal bicara dengan Marni saya rasa itu usulan yang baik. Dan saya sudah sering mencoba. Tapi kalau soal mengabulkan keinginan Marni, harus saya timbang-timbang dulu. Dan, maaf ya, anu, saya ada rapat RT di kelurahan. Saya sudah terlambat. Saya kan ketua RT paling senior di kampung ini, jadi malu kalau terlambat. Apa kalian mau menunggu Marni pulang, atau bagaimana ?

AUDI : ( BINGUNG )
Mungkin …

IRNA : ( BINGUNG JUGA )
Mungkin sebaiknya kami pulang.

LALA :
Ya. Nanti kami datang lagi kapan-kapan.

YANG LAIN :
Salam buat Marni ya om.

IRNA :
Sampaikan pada Marni, kami gembira sekaligus sedih atas acara kejutan ini.

MARJUKI :
Ya, ya … saya sampikan nanti.

( TEMAN-TEMAN MARNI PERGI )

MARJUKI :
Kurang ajar. Berani-beraninya kasih nasehat sama saya. Apa hak mereka menyuruh saya menuruti apa saja kemauan anak saya ? Sok pintar. Aku susah payah membiayai anakku, aku punya hak atas masa depan anakku. Ini pasti akal-akalannya si Marni sama si Anto.

MARNI : ( MUNCUL DARI DALAM )
Jangan menuduh sembarangan, ayah. Aku tidak tahu apa-apa. Apa lagi Anto. Semua yang mereka lakukan tadi, adalah isnisiatif mereka sendiri. Aku sudah mencegah tapi mereka ngotot. Itu sebabnya aku pergi.

MARJUKI :
Mereka datang atas undanganmu kan ?

MARNI :
Aku memang mengundang mereka, tapi sekedar untuk ngobrol dan pamitan. Aku mau jadi TKI ke luar negeri. Itu protesku selanjutnya pada ayah. Dan aku akan terus protes sampai ayah mengijinkan aku pacaran sama Anto.

MARJUKI :
O, begitu ? Jadi kamu pikir dengan protes keras ayah akan mengijinkan ?

MARNI :
Tentu ada syarat lain. Aku harus mandiri. Dengan bekerja aku punya uang. Dengan uang aku bisa menentukan masa depanku sendiri. Selamanya anak akan kalah suara, kalau anak masih tergantung sama uang orang tua.

MARJUKI :
Stop Marni ! Itu pikiran yang dangkal.

MARNI :
Kita tidak perlu berdebat ayah. Aku pergi dulu, banyak urusan. ( PERGI )

MARJUKI :
Marni … ( mengejar marni )

LAMPU PADAM


ADEGAN LIMA

SEBUAH TEMPAT. MALAM.
ANTO SEDANG DIBUJUK CEPI UNTUK SEGERA MENEMUI MARNI


CEPI :
Aku serius Anto. Kamu harus ke rumah Marni. Kamu akan menyesal kalau Marni keburu pergi.

ANTO :
Kalau memang mau pergi masa dia tidak kasih tahu aku ?

CEPI :
Mungkin belum sempat kasih tahu.

ANTO :
Dari mana kamu dapat berita itu ?

CEPI :
Irna, Audi, Lala, semua sudah tahu.

ANTO :
Kalau dia sempat kasih tahu semua orang masa saya tidak dikasih tahu ?

CEPI :
Mungkin belum sempat, makanya datang supaya tahu. Cari berita, jangan pasif.

ANTO :
Barangkali memang sengaja tidak mau kasih tahu. Sudah tidak peduli sama aku.

CEPI :
Aku tahu sifat Marni. Tidak mungkin dia begitu.

ANTO :
Nyatanya dia begitu.

CEPI :
Tidak mungkin Anto. Aku yakin ini soal waktu. Mungkin dia menunggu waktu yang tepat untuk bicara sama kamu. Kalian kan lama tidak saling ketemu. Biasanya kamu datang ke rumah Marni, sekarang tidak. Biasanya kalian jalan bareng, sekarang tidak. Marni juga lama tidak masuk sekolah.

ANTO :
Memang tidak bisa telpon ?

CEPI :
Telpon ke mana ? Kamu HP tidak ada, di rumah jarang.

ANTO :
Jelas, dia sudah berubah. Tidak sayang aku lagi.

CEPI :
Dari pada mengambil kesimpulan buru-buru dan salah, lebih baik kamu buru-buru ke rumah Marni dan semuanya jadi jelas. Tidak ada yang salah terima, tidak ada yang sakit hati. Ayo, kita ke sana. Aku siap menemani.

ANTO :
Kalau ayahnya mengusir kita bagimana ? Aku trauma pernah diusir.

CEPI :
Diusir kita pergi. Dimarahi kita diam. Disuguhi kita makan.

ANTO :
Kamu bisa bilang begitu, coba kamu jadi aku.

CEPI :
Kalau aku jadi kamu, tidak akan pernah diusir. Malah ayah Marni yang akan kubikin mencari-cari aku.

ANTO :
Bagaimana caranya ?

CEPI :
Anak gadisnya kita buntingin !

ANTO :
Ngaco !

CEPI :
Ayo berangkat. Ambil motormu dong.

ANTO :
Jalan kaki saja. Knalpotnya tambah bocor, berisik sekali. Ayah Marni paling benci mendengar bunyi motorku.

CEPI :
Ya sudah. Ayo !

ANTO :
Kamu jalan di depan, aku di belakang.

CEPI :
Aduh. Begitu amat. Seberapa trauma sih ?

( CEPI JALAN, ANTO MENGIKUTI DI BELAKANGNYA )

ANTO : ( BERHENTI )
Tunggu Cepi. Bagaimana kalau Marni tidak mau menemui kita ?

CEPI :
Gampang, ingat saja nasehat buku “ Enaknya Hidup Membujang ”. Oke ?

ANTO :
Tidak. Lebih baik aku pulang. ( PERGI )

CEPI :
Ampun … Anto, Anto ! Kenapa kamu jadi pengecut begitu sih ? Anto ! Ampuuunn.

( ANTO TERUS JALAN, CEPI MENGIKUTI )

LAMPU BERUBAH


ADEGAN ENAM

TAMAN DEKAT SEKOLAH. SORE.
MARNI DIBUJUK TEMAN-TEMANNYA SUPAYA JANGAN PERGI.

INTRO MUSIK

AUDI :
Jangan Marni, jangan pergi. Pergi tidak akan menyelesaikan masalah.

IRNA :
Justru kamu akan bikin masalah baru.

LALA :
Jadi TKI itu tidak gampang Marni. Kamu akan banyak kesulitan.

IRNA :
Sebaiknya kamu segera masuk sekolah. Sebentar lagi kita ujian, tahun depan kita harus kuliah. Lupakan keinginan konyol itu.

SEMUA :
Lupakan … Marni !

MARNI : ( MENYANYI )
AKU HARUS PERGI
RUMAH TAK LAGI MEMBERIKU KEDAMAIAN
SEBAB AKU DAN AYAH TAK PERNAH SEPAHAM
CINTA PEMUDA YANG KUDAMBAKAN
SELALU LEPAS DARI GENGGAMAN

AUDI :
Bersabarlah, Marni. Kita masih banyak kesempatan. Waktu berjalan, sikap ayahmu pasti berubah.

IRNA :
Orang seusia kita selalu diangap masih kanak-kanak. Dianggap belum waktunya pacaran.

LALA :
Memang menjengkelkan, tapi di mana-mana selalu begitu.

MARNI : ( MENYANYI )
AKU TAK MAU BEGITU
MASA DEPANKU ADALAH MILIKKU
URUSAN CINTA HARUS KITA YANG MENENTUKAN


IRNA :
Tapi ayahmu bilang tidak melarangmu pacaran. Dia hanya minta kamu memilih pemuda yang tepat, dan jangan sampai pacaran mengganggu belajar.

MARNI : ( MENYANYI )
ITU SAMA DENGAN MELARANG

Ayahku bahkan pernah mengusir Anto. Gara-garanya sangat sepele. Suara berisik knalpot motor Anto yang bocor. Padahal ada banyak suara knalpot motor yang lebih berisik lewat di depan rumah. Itu tidak adil.

AUDI :
Tapi semua pacar-pacar kita pernah ada masalah dengan orang tua kita. Semua pernah diperlakukan tidak adil. Hubungan kalian pasti akan membaik.

MARNI :
Ketidakadilan harus diperjuangkan, kawan. Sebab ia tidak datang dari langit. Hubungan bisa saja membaik, tapi pasti ada prinsip dan hak-hak yang dilanggar. Ada yang menindas dan tertindas. Dan itu tidak baik.

LALA :
Tapi kami tetap tidak rela kamu pergi Marni. Apa lagi pergi ke luar negeri untuk jadi TKI.

IRNA :
Ya. Omonganmu yang pintar tadi membuktikan kamu tidak pantas jadi TKI. Kamu harus lulus SMU dan kuliah.

MARNI :
Soal ke luar negeri dan jadi TKI, bisa jadi aku memang asal bicara. Yang jelas aku harus pergi dari rumah. Mungkin itu protes yang mempan buat ayahku.

AUDI :
Itu lebih baik Marni. Kamu bisa tinggal di rumahku. Soal biaya sekolah, jangan kuatir. Ayahku pasti mau bantu.

LALA :
Ayahku juga pasti mau bantu. Tapi kamu harus tinggal bergiliran di rumah kami bertiga dong, supaya adil.

IRNA :
Ya. Aku setuju.

AUDI :
Kalau kamu tidak ke luar negeri, pacaran sama Anto tetap berjalan lancar. Hidup backstreet !

MARNI :
Tunggu. Kalian jangan salah ngerti. Aku pergi dari rumah bukan semata-mata protes. Tapi juga bermaksud mandiri. Supaya aku tidak tergantung siapa-siapa. Supaya aku merdeka menentukan masa depan. Tinggal di rumah kalian jelas bukan pilihan yang tepat. Aku tetap jadi tanggungan orang.

AUDI :
Itu tidak masalah Marni. Kami ikhlas membantumu. Itulah gunanya sahabat.

LALA :
Yang penting kamu tetap bisa sekolah.

MARNI :
Prioritas utamaku sekarang cari kerja supaya bisa membiayai hidupku sendiri. Sekolah aku pikirkan belakangan. Soal pacaran dengan Anto, aku sendiri tidak yakin tetap bisa jalan. Sejak diusir ayahku, dia tidak pernah muncul lagi. Dia ternyata pengecut. Tapi terimakasih atas iktikad baik kalian. Selamat sore, aku pergi dulu. Ada perlu. ( PERGI )

IRNA :
Marni, tunggu. Marni !

LALA & AUDI :
Marniii …

AUDI :
Bagaimana sih dia ?

IRNA :
Kok kepala batu banget ?

LALA :
Memang kepala batu dari sononya.

( CEPI MUNCUL BERGEGAS )

CEPI :
He, lihat Marni ?

AUDI :
Baru pergi.

CEPI :
Anto ?

AUDI :
Nggak. Sudah lama nggak lihat Anto. Bukannya dia jarang masuk sekarang ?

CEPI :
Memang.

IRNA :
Ada apa ?

CEPI :
Mungkin cuma Anto yang bisa membujuk Marni tidak kabur ke luar negeri. Kemaren aku bicara sama Anto supaya dia datang menemui Marni, tapi gagal. Malah Anto ngambek. Merasa tidak dipamiti. Memang Marni belum pamit sama Anto, ya ?.

IRNA :
Kelihatannya begitu. Marni juga ngambek karena Anto tidak pernah datang lagi sejak dimarahi ayahnya.

CEPI :
Begitu ? Wah, tambah ruwet dong. Terus bagimana ini ?

IRNA :
Bagaimana, bagaimana ? Kita juga tidak tahu bagaimana.
( MENDADAK TERFIKIR ) Cepi, bagaimana kalau kita bagi tugas ? Begini, coba temui Marni …

CEPI :
Saya tadi ke rumah dia, tapi tidak ada …

LALA :
Tadi dia di sini …

IRNA :
Temui Marni, bujuk supaya ketemuan sama Anto. Saya, kami bertiga ini, membujuk Anto supaya ketemuan sama Marni. Bagaimana ?

CEPI :
Tapi Anto sudah dibilangin juga bandel.

IRNA :
Kamu jangan ikutan bandel. Kita berbagi tugas, setuju ? Oke ?

CEPI :
Oke.

LAMPU BERUBAH.


ADEGAN TUJUH

TAMAN YANG SAMA, BEBERAPA HARI KEMUDIAN. SORE.
MARNI BERTEMU ANTO.
MARNI SUDAH LAMA MENUNGGU, DUDUK DIAM-DIAM.
ANTO DATANG KEMUDIAN, JUGA DIAM-DIAM.


MARNI :
Aku kira tidak datang …

ANTO :
Aku kira kamu juga tidak datang …

( BEBERAPA SAAT ANTO SALAH TINGKAH. MAU DUDUK DI SEBELAH MARNI TAPI RAGU. AKHIRNYA IA DUDUK JUGA, TAPI AGAK JAUH. SUASANANYA SUNGGUH KAKU )

ANTO :
Kamu mau pergi untuk menghindari aku kan ?

MARNI :
Kamu tidak pernah datang ke rumah lagi, kenapa ?

ANTO :
Supaya ayahmu tenang, karena tidak ada suara knalpot motor yang berisik.

MARNI :
Bijaksana sekali …

ANTO :
Aku harus tahu diri. Aku kan cuma tukang ojek dan sopir tembak. Jangan kata pacaran sama kamu, datang ke rumahmu pun aku tidak pantas.

MARNI :
Oo … jadi begitu cara berpikirmu ? Kalau begitu kamu lebih cocok jadi anak ayahku, dan memang tidak pantas jadi pacarku. Maaf … selamat tinggal ! ( PERGI )

ANTO : ( KAGET )
Marni .. Marni …

( MARNI BALIK LAGI )

MARNI :
Maaf, saya tidak ada urusan sama tukang ojek. ( MAU PERGI LAGI TAPI ANTO MENAHANNYA )

ANTO :
Maaf Marni, aku tidak bermaksud membuat kamu marah.

MARNI :
Kamu sudah membuat aku marah.

ANTO :
Maaf. Aku tidak akan membuat kamu marah lagi. Maaf.

MARNI :
Katakan dengan jujur, kenapa lama tidak datang ? ( LAMA TIDAK MENJAWAB ) Katakan ! Kamu takut sama ayahku ? Aku benci orang yang pengecut Anto. Aku yakin kamu juga benci orang semacam itu. Jadi salahkan dirimu sendiri, jangan menyalahkan aku. Aku mau pergi dari rumah, tujuanku jelas. Aku protes keras pada ayahku karena dia berlaku tidak adil pada kita. Jelas ?

ANTO :
Kamu betul, aku pengecut..

MARNI :
Bagus kalau kamu sadar. Tapi kenapa harus berlaku pengecut ? Kamu tidak salah apa-apa sama ayahku. Pacaran juga bukan kejahatan. Yang penting kita tahu batas.

ANTO :
Ya. Tapi mungkin ayahmu betul. Kamu harus memilih pemuda yang tepat. Dan itu bukan aku.

MARNI :
Stop ! Jangan mulai lagi Anto. Selain benci pengecut, aku juga benci orang rendah diri. Dulu kamu begitu percaya diri dengan semua yang kamu kerjakan. Kamu punya cita-cita dan berjuang keras untuk meraihnya. Itu kelebihan kamu. Itu juga yamg membuat aku … sayang … sama kamu. Jadi tolong jangan berubah.

ANTO :
Kamu .. betul-betul sayang sama aku ?

MARNI : ( MALU )
Ah, pakai nanya lagi.

ANTO :
Tapi nilaiku jeblok. Aku banyak narik dan bolos sekolah. Aku kuatir tidak lulus.

MARNI :
Belum terlambat untuk mengejar ketinggalan.

ANTO :
Biaya kuliah makin mahal, apa aku sanggup ?

MARNI :
Pasti sanggup. Kamu pekerja keras. Kalau perlu kamu bisa kerja yang lain, yang penghasilannya lebih banyak.

ANTO :
Tapi ngojek pekerjaan bersejarah, Marni. Itu kan yang mempertemukan kita ?

MARNI :
Ya. Suara knalpot motormu yang berisik membuat aku selalu menengok setiap kamu lewat di depan rumah.

ANTO :
Ya. Dan kamu bilang pada teman-temanmu, aku tukang ojek paling keren.

MARNI :
Yang jelas kamu berbeda. Tukang ojek lain kalau nunggu penumpang main gaple, kamu bikin PR. Tukang ojek lain selalu siap dengan uang kembalian, kamu tidak. Tukang ojek lain siap menerima uang tip, kamu malu-malu.

ANTO :
Sekarang aku tidak malu, supaya cicilan motor cepat lunas.

MARNI :
Eh, berapa utangku ?

ANTO :
Utang apa ?

MARNI :
Langganan ngojek sama kamu.

ANTO :
Simpan saja uangmu. Aku lagi tidak butuh.

MARNI :
Yang kamu butuh apa dong ?

ANTO :
Pakai tanya lagi. Kita kan lama nggak ketemu ? Marni. ( MEMEGANG TANGAN MARNI )

MARNI : ( MALU )
Apa sih ?

ANTO :
Soal pergi ke luar negeri, kamu tidak sungguh-sungguh kan ?

MARNI :
Tidak tahu. Yang jelas, aku harus pergi dari rumah. Aku tidak tahan, ayahku betul-betul kelewatan. Tidak adil. ( MENANGIS ) Aku harus protes. Harus ! Sampai ..

ANTO :
Setuju, boleh saja protes. Tapi kan bisa dengan cara lain. Pergi dari rumah, bukan cara yang tepat. Nanti semuanya jadi kacau.

( MARNI TERUS MENANGIS. ANTO MENENANGKAN )

Tunggu, tenang dulu. Tenang Marni. Dengar. ( MARNI DIAM )
Bagaimanapun, rumah adalah tempat terbaik untuk memulai segala rencana, segala cita-cita. Dan orang tua, segalak apa pun, tetap sayang sama anak.

MARNI :
Sok tahu, ah !

ANTO :
Aku tidak sok tahu, Marni. Tapi memang tahu. Kamu juga tahu ayahmu sayang sama kamu. Kamu hanya sedang emosi.

MARNI :
Terus aku harus bagaimana ? Apa usulmu ?

ANTO :
Kamu janji tidak akan pergi ?

MARNI :
Ya. Asal kamu tetap ke rumah seperti biasa.

ANTO :
Janji kembali masuk sekolah ?

MARNI :
Ya. Janji.

ANTO :
Oke. Aku punya usul untuk kamu. Ayo, kita bicara di tempat lain.

( MEREKA PERGI )


LAMPU BERUBAH



ADEGAN DELAPAN

RUMAH MARJUKI. MALAM.
CEPI DATANG KE RUMAH MARJUKI UNTUK MENYAMPAIKAN PESAN MARNI.


MARJUKI :
Ya ampun, jadi Marni betul-betul mau pergi ke luar negeri ? Aku pikir cuma gertak.

CEPI :
Rupanya begitu, om. Saya juga tidak menyangka Marni sungguh-sungguh.

MARJUKI :
Terus di mana Marni sekarang ? Kapan berangkatnya ?

CEPI :
Saya juga tidak tahu. Dia cuma bilang sekarang ada di tempat penampungan. Saya tanya bolak-balik di mana alamatnya, dia tetap tidak mau menjawab.

MARJUKI :
Tapi apa secepat itu prosesnya ? Diterima jadi TKI bukannya prosesnya panjang ?

CEPI :
Itu juga pernah saya tanya. Dia bilang, “ semua bisa diatur ” asal ada uang.

MARJUKI :
Dari mana Marni dapat uang ?

CEPI :
Ya dari uang gaji Marni yang dipotong tiap bulan nanti. “ Semua dibiayai sama agen ”, begitu Marni bilang.

MARJUKI :
Apa nama agennya ? Di mana alamatnya ?

CEPI :
Marni tidak sebut-sebut om. Dia hanya minta tolong saya supaya mengambil beberapa baju yang ketinggalan.

MARJUKI :
Ya ampun, Marni .. Marni. Apa sebegitu besar marahmu sama ayah, sampai-sampai harus pergi keluar negeri jadi TKI ? Tidak pamit lagi. Coba nak Cepi pikir, apa pantas ?

CEPI :
Kalau ditanya pantas atau tidak, jelas tidak pantas. Tapi kelihatannya, Marni memang sangat marah sama om. Tapi terus-terang, sebagai teman, saya tidak setuju Marni pergi. Marni sebentar lagi ujian dan tahun depan harus kuliah. Setelah lulus kuliah, terserah mau ke mana dan jadi apa. Jadi TKI ke luar negeri pun tidak masalah. Itu bukan hal yang jelek. Menyelesaikan kuliah, lebih aman buat masa depan Marni.

MARJUKI :
Ah, itu baru pikiran sehat. Terus, teruskan nak …

CEPI :
Maaf om, saya tidak bisa lama. Marni memerlukan baju yang saya ambil.

MARJUKI :
Kapan Marni mau ambil baju-baju itu ? Di mana kalian janjian ketemu ?

CEPI :
Maaf om, saya tidak boleh bilang. Itu pesan Marni.

MARJUKI :
Tolonglah nak Cepi, sebutkan. Saya harus ketemu Marni sebelum dia pergi. Tolong, saya mohon sekali. Please …

CEPI :
Sekali lagi, maaf om. Saya tidak bisa melanggar janji.

MARJUKI :
Please …

CEPI :
Maaf ommm …. Saya tidak bisa. ( MENATAP MARJUKI BEBERAPA SAAT )
Tapi, kalau om bersedia kerjasama dengan saya, kita sebetulnya bisa membatalkan Marni pergi. Seperti saya bilang tadi, saya tidak setuju Marni pergi.

MARJUKI :
Membatalkan Marni pergi ? Bagaimana caranya ? Jelas saya setuju.

CEPI :
Tapi jangan sampai dia tahu. Ini rahasia antara kita. Om Setuju ?

MARJUKI :
Setuju. Saya bisa pegang janji. Bagaimana caranya ?

CEPI :
Tunggu dulu. Saya mau tanya, tolong jawab dengan jujur Apa sebetulnya yang membuat Marni marah sama om ?

MARJUKI :
Saya melarang Marni pacaran sama Anto.

CEPI :
Kenapa ?

MARJUKI :
Saya tidak tahu persis. Saya merasa, si Anto sebetulnya anak baik. Jadi, saya tidak sungguh-sungguh melarang. Tapi Marni keburu protes keras. Merasa tidak didengar omongannya, saya jadi tambah jengkel.

CEPI :
Saya lihat Marni begitu juga. Makin dilarang, makin menentang. Intinya sama: ingin didengar suaranya.

MARJUKI :
Begitu ?

CEPI :
Begitu.

MARJUKI :
Jadi bagaimana caranya supaya Marni tidak jadi pergi ?

CEPI :
Turuti saja kemauannya. Toh om sudah yakin Anto anak baik.

MARJUKI :
Nak Cepi bisa jamin 100% Marni batal pergi ?

CEPI :
Saya harus ketemu Marni dulu.

MARJUKI :
Kalau begitu temui Marni, segera. Katakan, saya akan ijinkan Marni pacaran sama Anto. Sesudah itu, ajak mereka berdua ke sini supaya mendengar langsung dari saya.

CEPI :
Om Marjuki bisa pegang janji ?

MARJUKI :
Bisa. Saya jamin !

CEPI :
Baik. Kalau begitu saya jamin 100% Marni batal pergi. Permisi dulu om, saya harus cari Marni dan Anto sekarang juga. Saya akan kabarkan berita gembira ini.

( IRNA, AUDI, LALA DAN BEBERAPA TEMAN MARNI YANG LAIN MENDADAK MUNCUL )

IRNA :
Tunggu Cepi ! Maaf om Marjuki, kami mendengar semua pembicaraan ini. Kami ikut gembira. Tapi itu tidak cukup. Harus ada jaminan tertulis bahwa om Marjuki akan menepati janji.

CEPI :
Tidak Irna, aku percaya orang tua bijaksana ini.

AUDI & LALA :
Perlu dong !

( ANTO MUNCUL )

ANTO :
Tidak, tidak perlu. Cepi betul. Saya juga percaya om Marjuki akan menepati janji. Ini kan bukan urusan jual beli tanah atau semacamnya. Tapi urusan anak dan orang tua. Jangan repot-repot. Janji secara lisan sudah cukup.

IRNA :
Tapi …

MARJUKI :
Nak Anto betul, jangan repot-repot. Makin kita repot, makin lama Marni di penampungan TKI. Kasihan dia. Lebih baik kita cari Marni sekarang. Apa kalian ada yang tahu alamatnya ?

( MARNI MUNCUL DARI ARAH DALAM )

MARNI :
Marni sudah di sini ayah. Tidak usah dicari.

MARJUKI : ( KAGET )
Marni ? Ah, kemarilah kamu nak. Ayah sangat kuatir ada apa-apa dengan kamu.

MARNI :
Jangan kuatir ayah, Anto menjaga aku. Kalau bukan karena dia, aku pasti jadi TKI sungguhan.

MARJUKI :
Syukur .. syukur kalau begitu. Terima kasih nak Anto.

ANTO :
Marni melebih-lebihkan om.

MARNI :
Anto meyakinkan aku begitu rupa, segalak apa pun, ayah tetap sayang aku. Dan rumah adalah tempat terbaik menyusun rencana dan cita-cita.

MARJUKI :
Bagus. Kamu menemukan pemuda yang tepat anakku. Dan kamu tidak tinggal di tempat penampungan bukan ?

MARNI :
Tidak.

IRNA, AUDI & LALA :
Di rumah kami om. Kami bertiga.

MARJUKI :
Jadi siapa yang mengatur nak Cepi datang ke mari dan main sandiwara di depan saya ?

ANTO :
Saya om. Sayalah komadan semua sandiwara malam ini. Sebagai komandan saya tidak akan lari. Saya siap diadili.

MARJUKI :
Bagus. Itu komandan yang baik. Anda siap saya tuntut di depan penghulu menikahi anak saya ?

ANTO :
Sekarang ?

IRNA & YANG LAIN :
Huuuu …

MARJUKI :
Nanti, setelah lulus kuliah dong.

ANTO :
Marni, siap jadi anggota Dharma Wanita ?

MARNI : ( MALU )
Idih, masa harus dibahas sekarang ? Sudah malem lagi. Kayaknya durasinya sudah lewat deh. Stage manager mana sih ? Stage manager !

YANG LAIN :
Stage manager !

CEPI :
Dia nggak tahu stage manager. Tahunya menejer panggung. Menejer panggung !

MENEJER PANGGUNG :
Ya, ya …

MARNI :
Durasinya sudah lewat belum ?

MENEJER PANGGUNG :
Sudah lewat dari tadi.

MARJUKI :
Bukannya ngingetin.

MENEJER PANGGUNG :
Habis situ ngomong melulu …

MARJUKI :
Ee, malah marah sama saya. Saya tokoh lho, tokoh ini !

MENEJER PANGGUNG :
Biar tokoh kalau ngaco dimarahin.

ANTO : ( TERTAWA ) ( BICARA PADA PENONTON )
Baiklah penonton sekalian, kelihatannya sudah waktunya bagi kita untuk berpisah. Lakon sudah tamat, “ pesan sponsor ” mudah-mudahan tidak salah alamat. Dan marilah kita sama-sama beristirahat.


PENUTUP

( ANTO MENGGANDENG MARNI DAN MENYANYI BERSAMA )

ANTO : ( MENYANYI )
CINTA ADALAH ANUGERAH ALAM
ANUGERAH SANG PENCIPTA
JANGAN COBA DIKEKANG
APALAGI DILARANG

MARNI : ( MENYANYI )
BIARKAN CINTA TUMBUH
MENGIKUTI ATURAN ALAM
BIARKAN ANAK MERDEKA
MEMILIH JALAN

SEMUA : ( MENYANYI )
TUGAS ORANG TUA
HANYA PENGGEMBALA
PENUNJUK JALAN YANG BIJAKSANA
MEMAKSAKAN KEHENDAK
BUKAN SIKAP BIJAK

LAMPU PADAM PERLAHAN


LAKON SELESAI


Depok, Mei 2004

Teriimakasih banyak, jika sebelum mementaskan naskah ini memberitahukan pada penulis.
Selamat berkarya !

BIODATA SINGKAT
Budi Ros.
Lahir di Banjarnegara ( Banyumas ), 6 Januari 1959.
Menamatkan Sekolah Dasar hingga SLTA di daerah kelahirannya.
Mulai tahun 1985 hingga sekarang ( 2004 ) bergabung dengan Teater Koma mendalami tiga bidang pilihan: penulisan, seni peran, dan penyutradaraan. Tahun 1989, sempat menjadi mahasiswa IKJ jursan teater.
Selama 9 tahun tinggal di sanggar Teater Koma di bilangan Setiabudi ( 1986 – 1994 ). 10 Juli 1994 menikah dengan Erna N Nursilowati, asal Semarang.
Sejak itu tinggal di Depok, dikaruniai seorang putri, Sekar Dewantari ( lahir 1996 ).
“ Racun kesenian ” diserap sejak kanak-kanak. Sastro Mihardjo, sang ayah, sering mengajak nonton Wayang Kulit semalaman hingga paginya sering bolos sekolah. Selain Wayang Kulit, Wayang Orang dan Ketoprak seolah jadi tontonan wajib. Pasalnya, sang ayah sering “ nimbrung main ” setiap ada Ketoprak atau Wayang orang keliling mentas di kampung.
Tahun 2004, naskah dramanya berjudul FESTIVAL TOPENG mendapat penghargaan dalam sayembara penulisan naskah drama Dewan Kesenian Jakarta.

Alamat :
Perumahan Puri Anggrek Mas
Jl. Anggrek VI C, Blok E 1 No. 2
Depok Barat 16434.
Telpon/fax : (021) 77883525 – HP : 08161949863

Kamis, 05 Januari 2023

LEGENDA KIAYI BERUMBUNG - Agus Suharjoko, S.Sn.


 
Di daerah Madura, khususnya wilayah kabupaten Sumenep masih banyak kita temukan Foklore atau cerita rakyat yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Namun karena sumber cerita rakyat berupa data tertulis hampir tidak ada, maka kami mencoba mencari nara sumber yang masih ingat tentang cerita rakyat tersebut. Salah satu foklore yang masih dikenal ialah Legenda Kyai Barumbung tepatnya di daerah Banasare kecamatan Rubaru kabupaten Sumenep, dengan kesaktiannya dan keulamaannya mempunyai seorang santri berupa seekor kera yang mempunyai akal dan kecerdasan seperti layaknya manusia. Dengan foklore mengenai Kyai Barumbung inilah kami mencoba mengangkat kembali cerita rakyat tersebut ke dalam bentuk garapan teater yang digarap sesuai dengan unsur-unsur tradisinya.

Foklore dalam perkembangannya tidak lepas dari perkembangan kesenian tradisional, baik teater tradisional maupun sastra lisan. Dan sementara ini perkembangan teater tradisional khususnya di Madura sudah mengalami penurunan intensitas apresiasi kepada masyarakat, sehingga nilai-nilai tradisi yang menjadi muatan lokal sudah hampir menipis karena perkembangan budaya global (industri) yang masuk keruang-ruang pribadi tanpa mampu difilter. Apalagi di daerah perkotaan nilai-nilai tradisi sudah bisa dikatakan kalah dengan arus budaya industri yang menjadi trend baru bagi gaya hidup kalangan generasi muda khususnya pelajar.

Kami merasa gelisah karena para siswa sudah kehilangan akar budayanya, kearifan local sudah digantikan dengan kearifan globalisasi. Maka untuk itu kami mencoba menggarap wilayah seni tradisi untuk dilakukan revitalisasi agar para siswa dapat menikmati, melakukan dan belajar seni tradisional ke dalam bentuk kemasan kekinian. Ini diharapkan agar seni tradisi tidak kehilangan penyangga budayanya tetapi mampu eksis ditengah-tengah arus budaya global (industri) dan juga berkenan masuk ke wilayah kaum muda (siswa).

Topeng Dhalang salah satu bentuk teater tradisional yang sampai sekarang masih mampu mempertahankan hidupnya walaupun intensitas pertunjukannya sudah megap-megap (alias koma). Wayang kulit yang pernah berkembang ditengah-tengah masyarakat Sumenep, saat ini sudah punah dan menjadi salah satu benda budaya yang meramaikan koleksi museum. Tetembangan dan karawitan sudah menjadi media ekspresi yang langkah ditengah-tengah dentuman musik modern ditangan pelajar (kaum muda), cerita Ramayana dan Mahabarata sudah menjadi buku antik dan digantikan dengan cerita Harry Potter sebagai bahan bacaan anak muda saat ini. Nah dengan berbagai fenomena yang kami dapatkan, maka kami mencoba menawarkan kembali melalui karya seni pertunjukan ini untuk menggarap kembali kekayaan tradisi untuk dijadikan kemasan kekinian agar siswa mengenal kembali kekayaan tradisi kita.

Dengan mengkolaborasi kembali unsur seni teater tradisional (ludruk), seni musik, sastra lisan, tetembangan, karawitan dan tarian ke dalam kemasan seni pertunjukan merupakan sebuah usaha untuk memperkenalkan kembali kepada masyarakat saat ini yang ditelan oleh arus globalisasi.

Hal inilah yang melatarbelakangi penciptaan karya teater dalam format seni pertunjukan dengan judul “LEGENDA KYAI BARUMBUNG” .

(Agus Suharjoko, S.Sn)


PARA PETANI PUTUS ASA KARENA LAHAN PERTANIANNYA GERSANG DAN TAK DAPAT DITUMBUHI TANAMAN APAPUN.

Petani A :
Bagaimana ini?! Lahan semuanya tandus, gersang dan tak dapat ditumbuhi apapun. Sementara sumur tidak ada lagi airnya.

Petani B :
Iya ya... terus bagaimana dengan panen kita. Pasti dimusim ini kita akan gagal panen lagi. Mana kita harus membayar upeti kepada penguasa.

Petani 3 :

Ayo kita bekerja lebih giat, siapa tahu kita masih bisa mendapatkan hasil walaupun tidak sesuai dengan harapan kita.

Petani 4 :
Iya.... ya.... dan kita pasrah saja dengan keadaan seperti ini.

Petani A :
Iya mau bagaimana lagi, penguasa itu memang tidak pernah mau tahu tentang kesulitan kita.

Petani B :
Iya yang mereka mau hanyalah, upeti dan upeti dari kita.

Kyai Barumbung mendengarkan keluhan penduduk, akhirnya dengan meminta pertolongan Yang Maha Kuasa didapatkannya sumber air.

Kyai Barumbung :
Assalamualaikum...

Semuanya :
Walaikum salam

Kyai Barumbung :
Sedang apa kalian ?! Kok tidak bekerja. Apa yang sedang kalian alami dengan tanaman kalian ?!

Petani A :
Ini pak... coba bapak lihat... lahan tandus...tanaman tak lagi bisa tumbuh dengan subur dan sementara air tak lagi dapat kita temukan...

Petani B :

Lalu bagaimana kami nanti bisa panen, sementara penguasa maunya hanya meminta dan meminta upeti dari kami....

Petani 3 – 4 :

Kami sudah tidak kuat lagi pak menanggung beban hidup dan penderitaan ini. Tapi bagaimana lagi? Kami hanyalah rakyat kecil dan menggantungkan hidup ini dari hasil bercocok tanam kami, lalu apa jadinya kalau begini...

Lalu para petani pulang, sementara Kyai Berumbung memohon petunjuk pada Allah SWT. Dan terjadilah ke ajaiban, Kyai Barumbung menemukan sumber air.

Kyai Barumbung :
Alhamdulillah...ternyata Allah SWT memberikan apa yang diharapkan oleh penduduk...

Petani 5 :

Assalamualaikum ....

Kyai Barumbung :
Walaikumsalam... ada apa ini ?!

Petani 5 :

Alhamdulillah Kyai telah memberi kami sumber air untuk penduduk desa di sini, terima kasih kyai...

Kyai Berumbung :

Jangan berterima kasih kepada saya, bersyukurlah kepada Allah SWT... Assalamualaikum..

Petani 5 :
Walaikumsalam...Weh...para penduduk semua, ini ada air...

Para petani saling berucap syukur dan sumber mata air itu diberi nama : SUMBER BERUMBUNG

Aktivitas petani menyiram tanaman dan petani bercocok tanam di ladang.

Suasana panggung :
- Orang-orangan sawah bergerak ritmis karena angin.
- Musik (kotekan sawah)
- Petani lagi cangkruk di bawah orang-orangan sawah
- Empat petani masuk (dua dari kiri dan dua dari pemusik)
-Kera lewat


Petani 3 :
Sungguh bersyukur, panen melimpah berkat sumber berumbung. Namun getirnya hidup ini kita tidak pernah menikmati hasilnya karena harus diserahkan sebagai upeti. Kapan kita bisa menikmati hasil panen dari tanah dan keringat kita sendiri... dasar penguasa..Eit kenapa aku bicara sendiri ya?

Petani A :
Ada apa pak ? kok kedengarannya bapak bicara sendiri...Ya memang beginilah nasib kita, nasib rakyat kecil yang selalu kalah oleh penguasa.

Petani 3 :

Iya ini bu... tapi kenapa ibu ke ladang sendirian, kok suaminya gak ikut serta ? hehehe... maaf cuman nanyak.

Petani A :
Ya beginilah pak nasib saya, sudah 3 tahun ditinggal suami..

Petani 3 :

Oh jadi ibu janda toh ?

Petani A :

Iya pak saya sudah menjanda, memangnya kenapa pak ?

Petani 3 :

Ya ndak apa-apa bu, saya cuman pengen meringankan beban ibu, boleh kan ? tapi ngomong-ngomong, sakit apa almarhum suami ibu ?

Petani A :

Ya beginilah memang nasib rakyat kecil, suami meninggal bukan karena sakit, tapi dianiaya oleh penguasa karena mempertahankan harga dirinya, harga diri orang Madura.

Petani 3 :

Oh maaf kalau begitu, sudah mengganggu ketenangan sampeyan..

Kera tiba-tiba menyelinap di balik tanaman timun. Orang-orang pada mengusirnya.


Petani A :
”sebentar lagi kita akan panen, semoga panen kita kali ini utuh kita nikmati, tidak seperti dulu yang kerap kali dicuri oleh para penyamun, huh............

Petani B :

”kamu benar, bertahun-tahun sejak penguasa lalim itu menjadi penguasa disini, bukannya kemakmuran yang kita dapatkan, mana harus berhadapan dengan pencuri, belum lagi musti menyerahkan upeti pada mereka, nasib.........nasib........!

- Musik suasana berubah

Aktivitas Berhenti saat kedatangan kyai berumbung.

- Dari balik pemusik berdiri kyai berumbung sambil melihat-lihat suasana sawah.
- Melangkah mendekati para petani

Kyai berumbung :

”Assalamualaikum”

Para petani :

”wa’alaikum salam”

Kyai :

”bagaimana kabar kalian dan keluarga kalian semua?”

Petani A :

”kabar kami dan keluarga kami tidaklah begitu baik kyai, setiap kali menghadapi masa panen, kami selalu dihantui keresahan,apalagi beberapa tahun terakhir ini hasil panen kami tidak bisa kami nikmati sendiri”

Kyai :

”astaghfirullah....memangnya apa yang telah terjadi selama ini dengan kalian?”

Petani B :
”begini kyai, hasil panen kami sebenarnya sangatlah melimpah, namun semenjak penguasa lalim itu berkuasa, situasi desa kami tidak aman, perampokan, penindasan, pemerasan bahkan pencurian atas harta benda kami telah merajalela, kami tidak bisa berbuat banyak, karena nyawa taruhannya.”

Kyai :
”Masya Allah, sungguh tak berprikemanusiaan mereka, bertingkah seperti binatang, begini, kalian harus berusaha keluar dari masalah ini segera, bekali diri kalian dengan ilmu dan kemampuan membeladiri, lalu sertai dengan doa pada Tuhan.

- Kyai barumbung pamit terus keluar menuju pemusik
- Para petani berlatih silat
- Sementara di belakang panggung 2 orang membawa keranjang (upeti) lewat begitu saja dengan rasa ketakutan.
- Para petani merespon
- Para petani menuju tempat pemusik
- Kera masuk panggung
- Kyai Barumbung masuk panggung dan duduk di kanan panggung
-Para Petani berwudhuk untuk mendengarkan wejangan kyai berumbung.
- Petani Masuk panggung
- Membuka paccak sambil membungkukkan tubuhnya
- Lalu duduk di panggung kiri


Kyai :
”Saudara-saudaraku, hidup ini tidak seindah dan tak semudah yang kita impikan, rintangan, cobaan, hambatan, datang silih berganti selama nafas masih dikandung badan, selama itu pulalah kita hendaknya terus menerus memohon perlindungan dan kekuatan pada Tuhan untuk bisa melalui itu semua, jangan berdalih bahwa kita pasrah pada ketentuan Tuhan padahal kita sebenarnya putus asa.

Kyai Berumbung bertutur tentang penindasan oleh penguasa di Madura.

Kyai :

”Saya masih ingat ketika dulu bangsa kita dikuasai oleh penguasa yang lebih jahat dari penguasa sekarang, kala itu rakyat selalu menjadi sasaran kesewenang-wenangan sang penguasa yang hidup dengan menghambur-hamburkan upeti yang kami bayar tiap saat, padahal mereka menyaksikan rakyatnya menderita kelaparan, bahkan disetiap harinya banyak mayat-mayat yang berserakan bagai guguran dedaunan di musim gugur, tangisan bayi-bayi malang yang tersebar di penjuru sudut jalan terus memekakkan telinga bagi mereka yang mendengarnya, dan yang menyedihkan lagi mereka menyuruh kami membuat masakan yang enak dan banyak disaat kami dililit sakit yang teramat sangat karena harus menahan lapar.........

Petani 3 :
”Maaf kyai,apakah waktu itu tidak ada orang yang melawan kedholiman penguasa yang rakus itu?”

Kyai :

”Tentu ada saudaraku, setiap kali ada orang yang menentang peguasa, sekejap itu pulalah penguasa berupaya dengan segala cara untuk memberangusnya, mulai dari menyuap dengan segala bujukan sampai melenyapkan orang tersebut tanpa bekas.

Petani 4 :
”Lalu bagaimana dengan nasib kami sekarang, tolonglah berikan kami jalan keluarnya.......”

Kyai Berumbung lagi berdialog dengan para santri/petani mengenai upeti masyarakat yang harus diserahkan kepada penguasa dan keresahan masyarakat tentang pencurian yang merajalelah akibat dari besarnya upeti yang harus diserahkan kepada penguasa. Sampai-sampai timun pun dicurinya.

Kyai :
”Apa yang bisa saya perbuat untuk meringankan penderitaan kalian?”

Petani 5 :
”Kyai Barumbung yang kami ta’dzimi, kami masih bisa hidup sampai sekarang karena nekad mengais makanan yang kami dapatkan dari tumbuh-tumbuhan yang masih tersisa di ladang kami, walau hasil panen kami berkecukupan tapi semuanya harus kami serahkan pada penguasa sebagai upeti, anggaplah upeti itu untuk membeli sisa umur kami, dan yang lebih memprihatinkan lagi, tanaman timun yang kami jadikan hasil sampingan itupun raib dicuri tanpa ampun, kalaupun tersisa hanya tinggal batangnya saja.

Tarian para petani

Para petani (santri) menghadap Kyai Berumbung untuk mendengarkan petuah.


Kyai :
”Assalamualaikum Wr.Wb.”

Para petani :
”Waalaikum salam Wr.Wb.”

Kyai :
”Alhamdulillah wa syukurilah, kita masih dalam lindungan Allah SWT, walau kita sedang diuji oleh Tuhan dan dalam kondisi yang menurut kasat mata sangat menyedihkan sesungguhnya merekalah para peguasa beserta antek-anteknya yang kelak jauh lebih menderita di hari pembalasan. Dunia ini hanya tempat persinggahan sementara, maka gunakanlah waktu sebaik-baiknya untuk memperbaiki hidup, dengan ilmu dan ikhtiar.

Dua orang masuk (penderitaan rakyat akibat penguasa lalim) dengan dianiaya oleh penguasa.

Pembawa Upeti 1 :
(menangis dengan ketidakberdayaan)
”Assalamualaikum.......”

Kyai :
”Waalaikum salam, kenapa kalian? Ada apa? Tolong ambilkan minum buat mereka.........sebut nama Tuhannmu.......tenangkan diri kalian.......baiklah ceritakan......

Pembawa Upeti 1 :
”begini kyai, barusan kami diseret paksa mengelilingi sawah kami sendiri kerena upeti yang kami serahkan berkurang dari semestinya, kami sudah jujur mengutarakan penyebabnya bahwa tanaman timun kami banyak yang busuk gara-gara kami tidak rutin merawatnya....”

Pembawa Upeti 2 :
”itu terjadi karena beberapa hari terakhir ini kami sakit, kami benar-benar tidak mampu lagi mengurusi sawah kami, jangankan berjalan, berdiripun saja kami sudah tidak sanggup, tapi mereka tidak mau tahu yang penting menurut mereka upeti tetap harus dibayar seperti biasanya, kami sudah tidak sanggup lagi menerima penderitaan ini, apa yang musti kami perbuat?”

Kyai barumbung mendekati santrinya (hewan Kera) dan menyuruhnya untuk menjaga lahan timun disekitar wilayahnya.

Kyai :

”wahai muridku, kesinilah.......mulai nanti malam kau kuberi tugas untuk menjaga timun-timun mereka jangan sampai hilang dicuri orang, kalau kamu gagal, mati itu jauh lebih baik buatmu. Assalamu’alaikum...

Para santri :

Walaikumsalam...
(penuh keheranan, bahkan 2 orang yang lagi menunggu jawaban dari kyai hanya bisa melotot tanda tak mengerti)

Adegan kera mewarnai timun

Santri petani laporan kepada kyai Barumbung sudah tidak ada lagi pencurian timun dan masyarakat sekarang sudah tidak resah lagi. Dan ajaibnya timun yang dulunya warnanya hijau sekarang berubah menjadi timun putih.

Kyai :
”Assalamualaikum Wr.Wb. bagaimana kabar kalian sekarang?”

Santri :
”Waalaikum salam Wr.Wb. Alhamdulillah kabar kami jauh lebih baik kyai, sejak kera milik kyai menjaga sawah kami sejak itu pulalah tanaman timun kami tidak dicuri lagi, kami minta maaf karena telah berburuk sangka waktu kyai seolah-olah tidak memberikan jalan keluar pada saudara kami waktu itu, ternyata kyai sangatlah bijaksana dalam menyelesaikan masalah kami......sekali lagi kami minta maaf kyai..............

Kyai : (tersenyum tipis)
”Kalian patut bersyukur pada Allah SWT, saya hanya perantara untuk menyampaikan pelajaran hidup pada kalian, tidak ada satupun ciptaan Tuhan yang sia-sia, termasuk hewan kera ini, dia menggunakan anugerah Tuhan berupa naluri/akal dalam menyelesaikan masalah, apalagi kalian manusia yang Tuhan ciptakan jauh lebih sempurna dan komplit dalam menyelesaikan setiap permasalahan hidup, tidakkah kalian menyadari hal itu, maka bangkitlah wahai saudara-saudaraku, gunakan segenap kemampuan dan seluruh anugerah Tuhan itu sesuai dengan situasi dan kondisi yang sedang kita alami, bersyukur bukan sekedar dengan ucapan tetapi menggunakan anugerah Tuhan sebagaimana mestinya untuk kemaslahatan dalam hidup. Assalamu’alaikum Wr.Wb.

PETUGAS PENGUMPUL UPETI MASUK NAMUN DIHALANGI OLEH KERA.

PARA PENARI KETAKUTAN DAN MULAI MELAKUKAN DOA AGAR DIBERI KEKUATAN OLEH TUHAN DAN DILANJUTKAN DENGAN TARI RONJANGAN.

SEMUA MENGHADAP KYAI BARUMBUNG DAN PUJI SYUKUR SEGALA BENTUK PENINDASAN BISA TERATASI DAN BERKAT KERA PUTIH SANTRI KYAI BARUMBUNG PANEN TIMUN DAN PALAWIJA LAINNYA MELIMPAH HINGGA MENJADIKAN MASYAKAT MAKMUR GEMAH RIPA LOH JINAWI.

ADUH UJANG - Jhoni Habibie



Sinopsis:
Mengenal lawan jenis dari sejak lama dari dua orang lawan jenis, terkadang dapat menimbulkan rasa yang lebih dari sekedar teman. Tapi, rasa yang sering disebut dengan cinta itu tak mudah untuk didapatkan dan dipertahankan keduanya. Kisah cinta antara Ujang dan Euis mendapat halangan dari Emi. Emi yang seorang gadis kaya anak dari juragan Broto yang sangat ingin mendapatkan Ujang semakin mempersulit kebersamaan Euis dan Ujang. Namun ternyata, Ujang dan Euis dapat mempertahankan cinta mereka walaupun si Abah yang banyak utang berniat menjodohkan Ujag dengan Emi. Cinta yang telah terajut lama tidak dapat dikalahkan dengan harta yang melimpah


TOKOH-TOKOH:
Ujang :
Laki-laki umur 21 tahun, ganteng, sederhana, ramah, lugu, pendidikan SMA, nurut, lahir dan besra di desa, teguh pendirian.

Euis :
Perempuan umur 18 tahun, lumayan cantik, ramah, sederhana, sebatang kara, hidup bersama nenek, pemalu, perhatian, baik (pacar Ujang) kegiatan les menjahit, bantu nenek di sawah.

Samsul:
(teman kecil Ujang), umur 21 tahun, gaul perlente, sok modern, egois, sombong, suka menghalalkan segala cara.

Emi :
perempuan berumur 18 tahun, gadis desa gaul, cerewet, manja, GR, caper, kaya, apa maunya harus dicapai

Abah :
laki-laki umur 55 tahun, bapaknya Ujang, buruh tani, sederhana, keras, idealis, pendidikan SD.

Broto :

laki-laki umur 50 tahun, bapaknya Emi, juragannya abah, kaya, lahir dan besra di Solo, sombong, sayang anak

Ibu/emak:
ibunya Ujang, umur 45 tahun, sakit-sakitan, sabar.


LATAR SETTING:

DI TENGAH SAWAH, ZAMAN SEKARANG ADA GUBUK BAMBU, ORANG-ORANGAN SAWAH, PADI YANG MENGUNING, RERUMPUTAN HIJAU, TUMPUKAN JERAMI, BUNGA YANG BERMEKARAN, EDI AN KADANG PENGUSIR BURUNG YANG BERTEMPAT DI SEBUAH DESA DI DAERAH BANDUNG BERADAT SUNDA.


I


SUASANA PAGI, UDARA SEGAR, ANGIN SEMILIR, BURUNG BERKICAU, RUMPUT BERGOYANG, TERDENGAR ALUN MUSIK SUNDA, MUSIK NGASET.

TERLIHAT UJANG SEDANG MENIKMATI SUASANA DESA DI SEKITARNYA. BAPAKNYA SEDANG SIBUK DENGAN SAWAHNYA, UJANG MASIH MENIUP SERULINGNYA, KEMUDIAN BAPAKNYA BERHENTI UNTUK BERISTIRAHAT SAMBIL MENYANYIKAN TEMBANG SUNDA YANG SERING DINYANYIKAN WAKTU MASIH KECIL.


UJANG :
Abah teh masih ingat tembang itu? Ujang jadi ingat masa kecil dulu!

ABAH :
Ujang, ujang!!

UJANG :
Aya naon teh abah!

ABAH :
perasaan baru kemaren ya kamu masih netek sama emak. E... tau-tau sekarang udah besar, udah perjaka.

UJANG :
ya... abah teh kunaon kayak nggak pernah liat Ujang aja, tiap hari kan ketemu, masak iya ujang netek lagi sama emak.

ABAH :
ujang! Abah teh kepengen lihat kamu sukses, jadi orang, punya masa depan, jangan sampai kayak abahmu ini, SD saja nggak lulus, bisanya Cuma nyangkul, hidup pas-pasan Cuma buat makan.

UJANG :
abah! Kita teh mesti bersyukur. Kan masih banyak orang lain yang hidupnya lebih susah dari kita.

ABAH :
iya ujang! Tapi kamu kan tau sendiri kehidupan kita sekarang, berapa kali panen kita gagal, mana abah punya banyak utang lagi sama juragan Broto, ditambah lagi ibumu sakit-sakitan

UJANG :
ujang kan bisa bantu dari hasil ngeles. Ujang juga masih punya tabungan sedikit.

ABAH :
uang hasil ngeles kamu itu berapa? Apa yang bisa kamu harapkan dari lulusan SMA? Sekarang saja jadi sarjana banyak yang nganggur
(jeda)

ABAH :
sebenarnya abah teh pengen ngomong sama kamu!

UJANG :
ngomong aja atuh bah, ujang kan anak abah!

ABAH :
abah berencana menjodohkan kamu dengan Emi.

UJANG :
siapa abah???

ABAH :
emi... emi!

UJANG :
maksud abah, katemi anaknya juragan broto?

ABAH :
iya, katemi, kamu kan tau katemi suka sama kamu, lagi pula abah punya banyak hutang dengan juragan broto.

UJANG :
tapi ujang kan masih muda, belum punya pikiran untuk menikah

ABAH :
emang kamu nunggu sampai ubanan?! Abah dulu nikahin amakmu masih lima belas tahun, sampai sekarang baik-baik aja

UJANG :
itu kan dulu abah, sekarang zaman sudah berubah, nggak bisa disamakan atuh abah!

ABAH :
tapi abah sudah membicarakannya dengan juragan Broto, dan mereka sudah setuju!

UJANG :
pokoknya ujang masih ingin ngrawat abah, ngrawat emak!!

ABAH :
kamu tuh ya, susah kalau dibilangin, nggak pernah dengar apa kata orang tua.

TIBA-TIBA EUIS DATANG DENGAN MEMBAWA RANTANG BERISI MAKANAN UNTUK UJANG.

EUIS :
assalamualaikum!

UJANG&ABAH :
walaikumsalam!

UJANG :
eh.... nyi Euis, dari mana? Kumaha atuh, damang?

EUIS :
alhamdulilah, damang akang. Akang kumaha, damang? Euis habis dari warung.

UJANG :
pokoknya kalau nyi euis damang, akang mah juga damang atuh.

EUIS :
aaah, akang bisa aja!

ABAH :
ehm...ehm!!!
(batuk dibuat-buat)
Jang, jangan lama-lama disini, cepat pulang! Di rumah masih banyak kerjaan. Kasihan emakmu sendirian di rumah, jangan lupa nanti kalau pulang beli obat buat emakmu
( abah meninggalkan sawah, pulang).
Abah pulang dulu, cepat pulang!

UJANG :
iya, hati-hati di jalan abah!

EUIS :
oh iya akang, ini euis bawain makanan kesukaan akang, pisang rebus.

UJANG :
eleh-eleh euis, pakai ngrepotin segala, tau aja kalau akang suka pisang rebus, nuhun atuh! Akang makan yah

EUIS :
mangga atuh

UJANG :
nyi euis nggak makan?

EUIS :
euis mah sudah kenyang, biar akang saja

EUIS :
gimana akang? Enak?

UJANG :
pokoknya mah kalau yang bikin euis, pasti enak

EUIS :
akang bisa aja
(jeda)
kang!!

UJANG :
aya naon euis, ngomong aja!

EUIS :
nggak enak ah, nggak enak ngomongnya, euis malu.

UJANG :
nggak papa, ngomong aja terus terang!

EUIS :
itu
(menunjuk ada makanan nyepret)

UJANG :
oh iya, saking enaknya jadi nggak ngrasa

(Euis&ujang tertawa bersama, tersenyum simpul, saling mencuru pandang.)

UJANG :
euis.... kamu cantik sekali

EUIS :
aaah, gombal!

UJANG :
ye.... euis, bener akang nggak bohong. Kalau kamu jadi bunga, biarlah akang jadi tangkainya

EUIS (mencubit malu)

UJANG :
kalau euis jadi bulan, biarkan akang jadi bintangnya

EUIS (semakin tersipu)

UJANG :
kalau akang jadi superman, nyi euis jadi apa?

EUIS :
jadi lex lutor!
(mengejek manja)

UJANG :
lho kok jadi lex lutor sih, harusnya kan jadi lois

EUIS :
habis akang godain euis terus sih!
( dalam hati senang)

UJANG :
neng geulis, kulitmu putih halus, selembut salju, matamu indah, sebening embun, hatimu baik, parasmu seindah semesta, siapa sih yang punya?

EUIS :
yang punya ya abah sama emak atuh!
Udah ah, jangan ngrayu terus. Euis kan jadi malu. Akang juga ganteng kok, mana baik lagi.

UJANG (menyanyikan lagu bersama euis)

UJANG :
euis, seandainya kita bisa seperti ini terus...

(tanpa terasa hari sudah sore, terdengar adzan asar)

EUIS :
euis harus pulang akang, sudah sore, euis harus pulang bantu nenek jaga warung

UJANG :
abang anter ya!

EUIS :
nggak usah akang! Nggak enak dilihat orang, lagian akang harus pulang kan?

UJANG :
oiya nanti malam ada rapat pemuda di rumah pak RT, Eis datang ya ,biar kita bisa ketemu lagi

EIS :
Insyalloh akang, Eis pulamg dulu, punten atuh!

UJANG :
mangga Neng.

UJANG PUN BERGEGAS BERSIAP-SIAP UNTUK PULANG,TIBA-TIBA SAMSUL DATANG, TEMAN KECIL UJANG YANG BARU PULANG DARI JAKARTA.


SAMSUL :
Hey Jang ! (mengagetkan)

UJANG :
MasyaAlloh. (terkejut)

SAMSU :
Lho lupa ya ma gua?

UJANG :
siapa atuh?

SAMSUL :
Temen lo! Dulu kita kan sering mandi bareng di kali , nyari belut bareng , gua juga sering nemenin lo ngangon kambing.

UJANG :
O ….Samsul , kumaha atuh , damang ? wah sekarang kau lain , kelihatan gaul , gimana kabarnya Jakarta? O….ya duduk dulu Sul!

SAMSUL :
Enak aja loe manggil gue Sal sul sal sul , panggil gua Sam . lo kayaknya gak berubah ya ? begini-begini aja, gak ada maju-majunya, kaya gua dong sekaramgguasukses di Jakarta.

UJANG :
eleh-eleh…. Aku gak nyangkakamu bisa sukses juga ei , padahaldulu kahkan bodo , SMP aja gak lulus .

SAMSUL :
Biar gua bodo gua cerdik , gak kaya lo pinter bloon .

UJANG :
Ye…… siapa bilang gua bloon .

SAMSUL :
Ya iya lah . buktinya hudup lo begini-begini aja, gak ada peningkatan , mendingan lo ikut gue ke kota, kita kerja bareng, ditanggung hidup bakal makmur

UJANG :
Ujang teh lebih seneng hidup di desa , biarpun pas-pasan tapi jadi damai , di kota jadi sumpek .

SAMSUL :
Sebentar ada telepon
(suara tlp berbunyi).
Halo…. Hey fren ada apa ? ah tenang aja ditanggung beres barangnya dah gua siapin , besuk gue anter di tempat biasa …….. iya tapi ini barang bagus, harganya juga laen dong! Oke deh sampai ketemu besok Ujang : dari siapa Sam ?

SAMSUL :
Biasa urusan bisnis .

UJANG :
Wah hebat ei kau sekarang .

SAMSUL :
makanya lo ikut gue .

UJANG :
ya nanti Ujang pikir-pikir dulu deh

SAMSUL :
eh.....jang ngomong2 gimana kabarnya Aisyah ? masih cantik gak ? aku kan dulu naksir dia .

UJANG :
Maksudnya teh Nyi Eis , ya dia masih sama seperti dulu .

SAMSUL
Gua jadi inget , dulu guasering ngintip dia mandi dikali ,

UJANG :
Emang kamu sekarang masih sering ngintip orang mandi ?

SAMSUL :
Sekarang gua gak ngintip lagi , tapi langsung masuk langsung praktek .

UJANG :
ye.........itu mah gak boleh, dilarang agama .

SAMSUL :
Lagak lo kaya ustad aja...ni guakasih lo (mengeluarkan kartu nama ) bila lo berhubah pikiran hubungin gua .

UJANG :
Samuel Rizal Antonio, nama kamu gaul amat>

SAMSUL :
ya kita kan hadus mengikuti perkembangan Zaman .

UJANG :
Wah sudah hampir malam aku harus pulang .

SAMSUL :
kalo gitu bareng, dah lama gua gak kerumah lo . gimana kabar nyokap bokap lo baik-baik saja kan ?

UJANG :
siapa nyokap bokap ? kambing gua ?

(mereka pulang bareng)

SAMSUL :
Muke gile, goblok amat lo, kualat lo entar, masak bapak ibu lo samain ma kambing .

UJANG :
Oh.... bilang dong, kabad abah baik kalo ibu agak sedikit sakit sekarang .


II

KEESOKAN HARINYA SEPERTI BIASA ABAH UJANG MENGGARAP SAWAHNYA, KEMUDIAN DATANG JURAGAN BROTO DAN EMI MEMBAWA BUNGKUSAN.

EMI :
punten abah!

ABAH :
mangga atuh, eh juragan, tumben-tumbenan datang kemari ada apa atuh?

BROTO :
ni mau lihat sawah, bagaimana ada kemajuan tidak?

ABAH :
ya beginilah, lagi paceklik.

EMI :
abah ni emi bawakan makanan buat abah dan ujang. Spesial deh pokoknya, jarang-jarang lho emi bawain makanan buat orang laen. Biansanya juga emi makan sendiri. Oh iya, Ujang ke mana ya? kok gak kelihatan, emi kan dah lama nggak ketemu akang, Emi kan kangen! Gimana ya kabarnya? Pasti deh tambah cakep. Emi mggak sabar pengen ketemu akang, emi kan juga habis dari salon, pasti deh akang seneng liat emi. Iya nggak bah?

ABAH :
iya, ujang di rumah lagi bantuin ibu, bentar lagi juga kemari.

BROTO :
oh ya, ini ada oleh-oleh, kemarin saya baru pulang dari solo

ABAH :
apa nih? Nuhun atuh, ngrepotin segala

BROTO :
ah Cuma batik, kebetulan kemarin mampir di pasar klewer. Gimana kabarnya keluargamu?

ABAH :
ya, emaknya ujang masih sering sakit-sakitan, panen juga sering gagal juragan!

BROTO:
ya sudahlah, tidak usah terlalu dipikirkan, namanya orang hidup itu kadang di atas kadang di bawah. Iya tho?

ABAH :
perasaan teh darti dulu sampe sekarang saya di bawah terus. ehm... mangga atuh duduk dulu (mempersilahkan duduk).

EMI :
abah, disini kok panas banget ya? Nggak ada AC apa? Nanti kalau emi jadi hitam gimana? Nanti kang ujang nggak suka sama emi lagi gimana coba? Emi kan jadi sedih!

ABAH :
ya namamya juga di sawah neng, mana ada AC nya, lagian neng emi tetep cantik kok!

EMI :
makasih.jujur banget sih!

ABAH :
ngomong-ngomong ada angin apa nih? Tumben-tumbenan datang kemari? Ada masalah apa?

BROTO :
begini abah, saya lihat abah ini hidupnya susah. Sebagai orang yang baik, saya ingin membantu abah. Ya, biar taraf hidupnya membaik. Abah nggak mau kan hidupnya susah terus?

ABAH :
maksudnya apa teh? saya nggak ngerti

BROTO :
ya seperti yang pernah kita bicarakan dulu, ujang kan emi kan udah gede, udah pantas berkeluarga. Iya tho? Nah, maka dari itu saya bermaksud mau menjodohkan mereka secepatnya.

ABAH :
secepat itu juragan?

BROTO :
ya, untuk apa lama-lama? Lebih cepat kan lebih baik, bukan begitu emi?

EMI :
sip lah!

BROTO :
udah, nggak usah dipikir lagi. Mau hidup senang kok dipikir susah!

ABAH :
kalau saya teh setuju-setuju saja! Tinggal gimananya ujang. Emang neng emi setuju?

EMI :
neng sih nurut kata bapak saja gimana baiknya.

ABAH :
kalau begitu baiklah, nanti saya akan bicarakan dengan ujang.

BROTO :
nah begitu tho dari tadi. Itu namanya cerdas! kalau gitu tolong abah atur aja. Urusan biaya nggak usah kawatir
(melihat jam) 
Berhubung saya ada keperluan, saya mau pamit dulu. Saya tunggu perkembangannya, pareng abah!

ABAH :
mangga atuh! Hati-hati di jalan

BROTO :
emi, bapak tinggal dulu ya!

EMI :
oke deh!

PAK BROTO MENINGGALKAN ABAH DAN EMI


III

EMI :
mangga atuh abah dimakan kuenya! Sengaja emi bawain buat abah dan ujang. Pasti abah belum pernah kan makan kue kayak gini, makanya gaul dikit dong abah! Jangan Cuma makan jagung melulu, ntar giginya rontok gimana coba? Mangga dimakan atuh bah, kok diem aja sih?

ABAH :
neng emi emang baik pisan, pasti beruntung sekali lelaki yang bisa mendapatkan emi

EMI :
sebenernya sih banyak cowok yang suka sama emi. Tapi semuanya emi cuekin. Emi mah sukanya Cuma sama kang ujang.

ABAH :
yee....kamu teh ada-ada aja!

EMI :
abah, ujang kok belum dateng-dateng ya? Emi kan lama-lama jadi bete ningguinnya, emang di rumah lagi ngapain sih? Nggak tau apa kalau aku di sini. Di sms atuh abah, suruh cepat kemari, ditungguin neng geulis gitu!

ABAH :
mau sms pakai apa neng, pakai kentongan? tau tuh, biasanya jam segini udah datang

EMI :
bah, sebenarnya perasaan ujang gimana sih sama emi? Masa iya ada cowok yang nggak suka sama emi, buta kali ya? Pasti kang ujang udah nggak sabar pengen ketemu sama emi, kan udah lama banget nggak ketemu, kalau ketemu biar tak cubit, gemes aku! Gimana abah, jawab dong!

ABAH :
kalau abah perhatikan mah ujang juga ada hati hati sama emi

EMI :
yang bener atuh bah (terlihat senang)

ABAH :
ye...masak abah bohong

EMI :
bah, kalu nanti emi jadi kawin sama ujang, sawah yang ada di sini bakal emi asih sama abah!

ABAH :
yang bener atuh neng?

EMI :
ye...masak emi bohong!

ABAH :
neng mah suka niru dialog abah!

EMI :
abah juga, kayak maen drama aja!

ABAH :
abah dulu teh sebenarnya punya cita-cita jadi bintang film, tapi karena bisanya Cuma nyangkul, ya beginilah!

EMI :
itu, ujang datang bah!

UJANG :
pagi abah! Pagi emi!

ABAH :
pagi ujang, wah panjang umur kamu jang, baru aja kita ngomongin kamu. Silakan kalian ngobrol-ngobrol, abah ada kerjaan di runah, lagian emakmu sendirian di rumah

UJANG :
abah...
(mengharap agar abah jangan pergi)

ABAH :
udah, kerjaan di rumah biar abah yang urus, kamu temenin emi
(abah pergi meninggalkan ujang dan emi)

(suasana hening sesaat)

EMI :
eh akang tau nggak sih, kemarin teh emi habis jalan-jalan ke mal terus emi lihat ada kalung bagus banget, emi suka terus emi beli deh! Gimana bagus nggak akang? Hanrganya mahal lho! Akang mau dibeliin apa? Bilang aja nggak papa kok! Nanti kalau emi pergi ke mal emi beliin deh! kang ujang kok diem aja sih? Ngomong apa gitu, cerita-cerita!

UJANG :
emang mau cerita apa?

EMI :
ya cerita apa aja, oh iya kang, ni emi bawain kue buat akang. Enak lho! Kalau akang suka, nanti emi beliin lagi deh!

UJANG :
makasih nyi, ujang baru aja makan

EMI :
dimakan atuh akang! Sedikit aja, dicoba dulu kalau udah nyoba pasti deh ketagihan pengen lagi!

UJANG :
makasih nyi (tidak berminat)

EMI :
kang ujang keringatan, pasti capek ya? Sini biar aku kipasin. O kasian pasti capek deh, jalan dari rumah ke sini kan jauh, mana panas lagi, nanti kalau kulit akang kebakar gimana coba? Harusnya pakai payung gitu! Sini biar emi kipasin, pasti gerah kan?

UJANG :
nggak usah nyi! Udah biasa

(emi duduk mendekati ujang, ujang menjauh)

EMI :
kang ujang teh kenapa? Nggak suka, nggak sayang, nggak cinta sama emi? Bilang aja terus terang nggak papa. Ayo bilang!

UJANG :
bukan gitu nyi, nggak enka dilihat orang.

EMI :
di sini kan nggak ada orang

UJANG :
kalau gitu nyi siapa?

EMI :
ye.... kang ujang sukanya gitu. (diam memikirkan sesuatu)
kang ada ular (berbohong sambil mendekati ujang)

UJANG :
mana atuh nyi (mencari)

EMI :
tadi lari kesitu, ularnya item, panjang, mana gede lagi!

UJANG :
nggak ada atuh nyi

EMI :
emi takut (semakin mendekati ujang, ujang jadi rikuh)

(tiba-tiba euis muncul dengan membawa rantang, dan melihat ujang dan emi sedang berduaan, euis pergi dengan rasa kecewa)

UJANG :
euis tunggu!! (berlari mengejar euis, sambil memegang tangannya)

EUIS : (euis berontak)
euis nggak nyangka, ternyata akang teh buaya!

(kembali berlari, ujang memegang tangannya lagi)

UJANG :
denger dulu euis, akang bisa jelasin!

EUIS :
nggak ada yang perlu dijelasin. Semuanya sudah jelas!

UJANG :
ini teh nggak seperti yang euis kira!

EUIS :
sudahlah kang! Nggak usah peduliin euis! Euis emang nggak pantas sama akang.

(euis berlari lagi, ujang menarik tangannya)
(tiba-tiba muncul samsul)

SAMSUL : (menarik tangan emiyang dipegang ujang)
ooo...ternyata gaya loe kayak ustadz, sok alim, ternyata loe bajingan juga.

UJANG :
sul, tolong jangan ikut campur, ini urusan kami berdua

SAMSUL :
nggal bisa, ini sudah jadi urusan gue! Sudah euism laki-laki kayak begitu mah jangan diharepin, masih ada laki-laki yang lebih canggih

UJANG :
sul, kamu jangan cari gara-gara!

SAMSUL :
emangnya loe mau apa, mau nantangin gue!
(sambil mendorong ujang)
Coba kalu berani. Dasar, pengecut loe!

UJANG :
kalau bukan teman aku kecil, udah ku hajar kau!

SAMSUL :
hajar aja! (samsul mendorong-dorong ujang) ayo hajar, ayo!

(perkelahian pun terjadi. Euis dan emi mencoba melerai, akhirnya pertikaian pun berhenti) (ujang dan samsul saling melotot, emi membawa samsul pergi)


SAMSUL :
bajingan loe, kalau loe laki-laki, gue tunggu loe di lapangan entar malam!

( tinggal ujang dan euis, mereka saling diam dengan rasa sedih dan kecewa)

EUIS :
akang teh nggak apa-apa?

UJANG :
nggak apa-apa nyi

(euis pergi meninggalkan ujang dengan rasa kecewa dan kasihan)


UJANG :
nyi.....nyi euis....nyi......nyi euis!!!

BLACK OUT


IV

KEESOKAN HARINYA, UJANG DUDUK SENDIRI DI GUBUK SAMBIL MENIUP SERULINGNYA DENGAN RASA SEDIH, KEMUDIAN IBUNYA MEMBAWAKAN MAKANAN.


UJANG :
aduh emak, kenapa kemari, emak kan sedang sakit

EMAK :
emak bosen di ruanh terus. Ini emak bawakan kamu makanan buat ujang

UJANG :
emak seharusnya istirahat di ruanh, nanti sakitnya tambah parah lagi. Kumaha, ujang kan khawatir!

EMAK :
ini kan sudah kewajiban emak untuk ngerawat anak

UJANG :
ujang kan udah besar mak, harusnya ujang yang ngerawat emak, apalagi emak kan sedang sakit

EMAK :
emak mah udah biasa sakit. Jadinya nggak ngerasa lagi. Ujang nggak usah terlalu mengkhawatirkan keadaan emak, keadaan ujang sendiri gimana, kok sepertinya lagi banyak pikiran?

UJANG :
ujang lagi sedih mak. Emak kan tau ujang dan euis saling mencintai sejak kecil. Tapi abah mak, selalu saja maksa ujang biar mau kawin sama katemi. Ujang kan nggak cinta sama katemi. Ujang hanya cinta euis. Tapi ujang juga nggak ingin ngecewain abah. Ujang harus gimana mak?

EMAK :
kalau emak mah apa yang anggap ujang baik aja. Kalau ujang bahagia, emak juga bahagia

UJANG :
dari dulu mah Cuma emak yang bisa ngertiin ujang

EMAK : (batuk-batuk terlihat masih sakit)

UJANG :
tuh kan, sakitnya lambuh lagi, emak sebaiknya istirahat, jangan capek-capek!

EMAK :
jang, rasanya umur emak udah nggak panjang lagi. Emak udah capek. Bila nanti emak udah nggak ada...

UJANG : (langsung dipotong ujang)
mak, jangan katak gitu, urusan umur mah ditentuin sama yang di atas. Kita harus berusaha.

EMAK :
jang, kamu sekarang teh udah gede, dah dewasa yah? Waktu kecil teh kamu sukanya manja, SMP aja masih minta disuapin, tidur dikelonin, pipis aja minta dianterin.

UJANG :
ah emak, ujang kan jadi malu

EMAK :
emak masih ingat, saat ulang tahun kamu yang ke-10, kamu pengen banget dibeliin baju superman, sampai nangis-nangis terus. Kamu itu kan kalau apa maunya nggak bisa nggak, emak terus jadi bingung mau belinya di mana. Lagian mau beli pakai apa, saat itu emak lagi nggak punya uang. Tapi kamu tetep ngotot terus pengen dibeliin. Akhirnya emak bikin sendiri dari baju abahmu kemudian emak kecilin, emak jahit sendiri, sayapnya emak ambilin dari taplak meja yang bikin emak bingung, masak cawetnya ada di luar? Tapi akhirnya jadi juga. Wah ujang teh seneng banget, sampai-sampai kemana-mana pakai baju itu terus. Mau emak cuci aja sampai nggak boleh, tidur aja masih kamu pakai, kalau inget waktu itu mak jadi suka senyum-senyum sendiri

UJANG :
ujang juga masih inget mak. Sampai sekarang bajunya masih ujang simpen di lemari. (dari kejauhan terdengar suara abah, dengan geram memanggil nama ujang)

ABAH :
ujang...ujang...ujang!!

UJANG :
aya naon teh abah, kok teriak-teriak?

ABAH :
heh ujang, barusan abah denger, katanya kemarem kamu habis bertengkar sana emi gara-gara euis, apa itu bener?

UJANG :
siapa yang bilang abah?

ABAH :
udah jawab aja, bener atau tidak?

UJANG :
kalau bener emang kenapa abah?

ABAH :
dasar anak tidak tau diuntung. Kamu kan tau juragan broto itu berjasa besar pada keluarga kita. Dia yang ngasih abah kerja, dia yang bantu pengobatan emakmu, dia juga yang biayain sekolah kamu. Kalau bukan karena juragan broto, mungkin kita sudah terlantar di jalan, harusnya kamu tahu itu!

UJANG :
iya, Ujang tau itu, Ujang ngerti! Tapi Ujang nggak cinta sama Emi. Ujang hanya cinta Euis

ABAH :
mikir atuh Ujang mikir! Apa yang bisa kamu harapkan dari Euis, apa?

UJANG :
Euis baik abah! Euis tidak sombong, Euis cinta sama Ujang, Ujang juga cinta sama Euis

ABAH :
makan tuh cinta, emang kamu bisa hidup dengan cinta? Cinta bisa bikin kamu kenyang? Kamu teh harus mikir masa depan

UJANG :
sudahlah abah, abah nggak bisa maksa perasaan Ujang, Ujang tetap cinta sama Euis, lagian Ujang tau, abah menjodohkan Ujang dengan Emi untuk melunasi hutang-hutang abah, iya kan?

ABAH :
kurang ajar kamu! sudah berani sama orang tua ya? (hendak memukul)

EMAK :
sudah...sudah! Emak nggak ingin lihat Abah dan Ujang bertengkar. Emak ingin hidup tenang, emak sudah cukup menderita, jangan kalian tambah lagi abah! Biarkan ujang tentukan sendiri pilihannya, urusan rejeki, Allah sudah mengaturnya! Ujang, emak pengen lihat kamu sukses dengan hasil keringat kamu sendiri. Emak percaya kelak kamu bisa jadi orang berguna bagi bangsa dan agama!

DARI JAUH PAK BROTO DAN EMI DATANG DENGAN WAJAH BERANG


BROTO :
Selamat pagi, Abah!

ABAH :
Eee juragan, Emi! Mangga atuh!

BROTO :
Sudahlah Abah, nggak usah basa-basi, Abah kan udah janji sanggup untuk menyakinkan Ujang supaya menikah dengan Emi, anak saya, mana buktinya? Pokoknya kalau Abah tidak menepati janji, maka Abah harus membayar utang Abah kepada saya, kalau tidak rumah dan seluruh kekayaan Abah akan saya sita, bagaimana Abah?

UJANG :
Hei Pak Broto! Pak Broto nggak bisa seenkanya maksa orang. Pak Broto pikir dengan harta bisa melakukan apa saja? Pak Broto salah. Bagi Ujang mah lebih baik miskin daripada kaya tapi nggak punya hati.

EMI :
Hei Kang Ujang! Kang Ujang teh nggak tahu diri, udah miskin sombong lagi. Kang ujang harus sadar siapa Akang? Akang pikir hanya Akang laki-laki di dunia ini, sok kecakepan!

ABAH :
pak Broto, saya minta maaf. Saya nggak bisa maksa poerasaan Ujang, tapi saya juga belum mampu untuk membayar hutang-hutang saya. Saya minta pengertian dari juragan.

BROTO :
Pokoknya saya tidak mau tahu. Saya kasih waktu satu bulan, bila Abah tidak melunasi hutang Abah, maka maafkanlah saya.

ABAH :
tapi saya harus membayar dengan apa juragan?

BROTO :
Itu urusan Abah, saya nggak mau tahu!

UJANG :
Ternyata masih ada sekarang ini manusia berhati binatang.

BROTO :
Apa maksud kamu Ujang berkata seperti itu? Kamu mau bilang kalau saya ini binatang?

UJANG :
Lha Juragan ini binatang atau tidak ?

BROTO :
Lha tentu saja tidak!

UJANG :
Ya sudah kalau gitu!

BORTO :
Baik, kalau itu mau kalian, terserah, kalian tanggung sendiri akibatnya. Dasar keluarga tidak tahu diuntung, dikasih hati malah ngrogoh tai! Ayo Emi, kita pergi dari sini! Selamat siang!

BROTO DAN EMI MENINGGALKAN SAWAH


ABAH :
Bagaimana ini teh, Abah harus bayar dengan apa?

UJANG :
Kita berdoa saja! Kita serahkan sama Allah, Allah pasti ngasih jalan kalau kita berusaha.

KEESOKAN HARINYA, ABAH DAN EMAK DI SAWAH.


ABAH :
Gimana keadaan Emak sekarang? Udah membaik?

EMAK :
Alhamdulillah, udah mendingan.

ABAH :
Syukur deh kalau gitu, Abah teh masih bingung, Abah mau bayar hutang dengan apa? Kita mau makan apa nanti, sawah ini kan miliknya Pak Broto, Abah mau kerja apa lagi.

EMAK :
Bah, jangan terlalu dopikirkan! Kita serahkan saja sama yang Maha Kuasa!

ABAH :
Nggak dipikirin bagaimana? Ini menyangkut hidup kita, Mak. Apa Allah tidak mendengar doa kita ya Mak?

EMAK :
Huss sembarangan! Abah nggak boleh ngomong kayak gitu! Kita teh mesti sabar, Allah pasti menolong orang yang sabar.

ABAH :
Sabar! Sabar! Sampai kapan? Sampai kita mti kelaparan?

EMAK :
Istighfar Abah, nyebut! Nyebut! Abah teh udah dirasuki setan. Jangan sampai kefakiran ini bikin kita jadi kafir! Ini cobaan berat buat kita Abah! Kita harus tabah dan tawakal atuh!

ABAH :
Astaghdirullahaladzim! Emak bener, Abah khilaf. Pikiran Abah sedang kalut. Ya Allah, ampuni dosa hamba ini ya Allah! Berilah kami petunjuk, jadikan kami ini orang-orang yang sabar dan berilah kami ini kekuatan untuk menghadapi cobaan darimu Ya Allah!

DARI JAUH TERDENGAR SUARA UJANG


UJANG :
Abah! Emak!

ABAH :
Ada apa Ujang? Kaya diuber-uber setan gitu?

EMAK :
Minum dulu teh, tarik nafas dulu! Bilang ada apa?

UJANG :
Begini Mak, Bah, Ujang teh ada kabar gembira.

ABAH :
Kabar gembira apa? Kambing kita beranak lagi?

UJANG :
Yee bukan Abah!

ABAH :
Ya lalu apa?

UJANG :
Nich coba Abah lihat! (menyodorkan surat)

ABAH :
Ujang ini gimana sich, Abah kan nggak bisa baca atuh!

UJANG :
Oo iya Ujang lupa! Begini Mak, Bah, Ujang kan punya tabungan di bank. Nah, Ujang menang undian. Ujang dapet hadiah 1 milyar Mak, Bah.

ABAH & EMAK :
yang bener atuh jang!

UJANG :
ya bener atuh, coba dibaca! Pokoknya, hutang-hutang abah akan lunas semuanya, abah dan emak juga bisa naik haji, abah bisa beli sawah,ujang bisa nerusin kuliah.

EMAK :
bah, uang 1 milyar itu berapa ya..........?????

ABAH :
ye........ mana abah tau.......yang jelas banyak, liatnya abah belum pernah apalagi megang.

UJANG :
euis............tunggu akang euis........akang akan segera melamarmu, akang datang euis!!!

BLACK OUT


UJANG DAN EUIS DUDUK BERDUA DISAWAH. UJANG SAMBIL MENIUP SERULINGNYA.


EUIS :
akang, ngga ngerasa ya sudah satu tahun kita menikah. kang, rasanya waktu cepat berlalu ya, euis sayang sekali sama akang.

UJANG :
akang juga sayang sekali sama euis, bagi akang mah hanya euis seorang yang ada di hati.

EUIS :
ah.......akang masih saja suka merayu..........

UJANG :
euis........masih saja cantik seperti dulu.

EUIS :
ah..........akang....................

UJANG :
euis......

EUIS :
ya akang,

UJANG :
akang sekarang teh rasanya bahagia sekali, kalau diingat-ingat mah dulu teh susah sekali, akang ngga nyangka sekarang.

EUIS :
kita teh musti bersukur, ini semuakan karna kehendak Allah,lagian biar akang miskin ato kaya euis tetep cinta sama akang. Ngomong-ngomong teh gimana kabarnya si samsul temen akang kecil dulu yang sekarang di jakarta?

UJANG :
denger-denger sih dia sekarang di penjara ternyata dia di jakarta pengedar narkoba. Sebenarnya akang kasihan sama dia kok bisa-bisanya dia melakukan hal sekeji itu, semoga saja ia bertobat kembali kejalan yang benar.

EUIS :
kalo kabarnya emi dan pak broto gimana?

UJANG :
mereka teh sekarang pindah ke solo, sudahlah euis....tidak usah ngurusin orang lain yang penting mah kita bisa hidup rukun saling menghormati, hidup berdampingan dengan damai, perbedaan mah jangan kita jadikan alasan untuk berpecah belah, dengan perbedaan harusnya kita kan salong menguatkan. Betul tidak?

EUIS :
Akang mah ngomongnya kayak pejabat aja! Kang, Euis teh Euis teh pengen makan buah mangga muda.

UJANG :
kok tumben-tumbenan Euis pengen makan mangga muda?

EUIS :
yang pengen mah bukan Euis Akang!

UJANG :
lalu siapa atuh, kalau bukan Euis?

EUIS :
yang pengen mah ini,...

MENUNJUK PERUT


UJANG :
maksudnya Euis teh hamil, jadi sebentar lagi akang mau jadi bapak?

EUIS (mengangguk, sambil tersenyum)

UJANG :
Euis, Akang teh bahagia sekali

MELONCAT-LONCAT GEMBIRA

EUIA :
Euis juga Akang!

(suasana hening, mereka saling memandang denagn tersenyum, wajah mereka semakin mendekat)

Ah....Akang nggak enak dilihat orang, di rumah aja

UJANG :
kalau gitu ayo kita pulang, sekalian kita beritahu Abah dan Emak tentang kabar gembira ini, mereka pasti gembira karena akan menjadi kakek dan nenek

UJANG DAN EUIS BERES-BERES LALU BERSAMA MELANGKAH PULANG. BLACK OUT PERLAHAN-LAHAN. ENDING

RAHWANA - Abdul Mukhid



REPORTOAR PEMBUKA
(Adegan penculikan Shinta oleh Rahwana di hutan. Improvisasi)

BABAK SATU

ADEGAN 1

(Kerajaan Alengka waktu senja. Di bagian taman sari. Taman Asyoka yang sudah masyhur namanya. Terlihat para dayang melayani Shinta. Rahwana sedang bercengkerama dengan Sinta. Rahwana tidak digambarkan sebagai tokoh raksasa yang jelek, tapi sebagai seorang yang gagah dan wajah lumayan tampan. Taman sari itu adalah sebuah taman sari yang sangat indah. Tokoh dayang-dayang boleh ada boleh tidak)

RAHWANA: (Kepada dayang-dayang) 
Kalian boleh pergi.

(Para dayang memberi hormat, lalu pergi. Tinggal Rahwana dan Shinta berdua)

RAHWANA: 
Kau tahu kenapa aku membawamu kemari?

SHINTA: (Pura-pura tidak tahu) 
Tidak.

RAHWANA: 
Bahkan aku bisa melihat kepura-puraan di matamu. (Shinta diam saja. Sedikit salah tingkah) Apakah kau sudah melupakan gemuruh perasaan yang ada di dada kita?

SHINTA: 
Tentu saja tidak, Kanda Rahwana. Tapi, saling mencintai bukan harus memiliki, kan? Aku kira itu adalah hukum alam yang tidak terbantahkan lagi. Bukankah kau sendiri pernah berkata begitu?

RAHWANA: 
Lantas kenapa aku tidak boleh memilikimu?

SHINTA: 
Ini sudah takdir Sang Mahatunggal, Kakang.

RAHWANA: (Dengan agak kesal) 
Oh ya? Apakah juga takdirNya bahwa engkau harus menikah dengan Rama?

SHINTA: (Terdiam sejenak. Mencoba mengatasi perasaannya sendiri. Lalu dengan berat berkata) 
Tampaknya memang begitu, Kakang.

Hening sesaat

SHINTA: 
Dengarlah, Kakang. Aku yakin, Kakang sudah tahu perasaanku tanpa harus aku katakan. Tapi sekali lagi Kakang, ini memang sudah takdir. Ini perintah dari guru sejatiku. Bukankah Kakang juga punya cita-cita untuk bertemu dengan Sang Sejati? Inilah jalannya, Kakang. Kita harus menyingkirkan segala perasaan cinta duniawi yang berlebihan. Aku adalah bagian dari dunia ini, dan Kakang diberi ujian untuk tidak mengikatkan diri padaku. Begitu pula dengan aku.

RAHWANA: 
Tapi aku ingin memandang wajahNya lewat wajahmu. Aku ingin mencintai diriNya yang ada dalam dirimu sekaligus yang meliputimu.(Gusar) Tidak. Tidak. Pasti ini semua karena Rama. Kenapa? Apa kau terpikat dengan ketampanannya? Rayuannya? Kekayaannya? Dengar Sinta, aku memang tak punya apa-apa. Tapi lihat betapa makmur negeri ini. Memang istana ini bukan punyaku. Rumahku hanyalah sekedar untuk tempat berbakti pada kepada Sang Mahasuci. Baik. Apa kau menginginkan kekayaan dan kemewahan? Ketampanan dan kata-kata manis? Kau bisa mendapatkan apa pun yang kau inginkan, Adinda. (Pause) Asal bukan Rama.

SHINTA: (Mulai mencucurkan airmata) 
Tidak, Kakang. Kenapa Kakang tidak percaya juga bahwa ini adalah takdir yang harus kita jalani.

RAHWANA: (emosional) 
Takdir, Shinta? Dengar, aku akan mengejar para dewata ke langit kalau itu memang takdir. Tidak, Shinta. Aku tidak bisa terima ini. Kalau memang ini adalah takdir seperti yang kau katakan, aku akan mengubahnya!

SHINTA 
terduduk dan menangis sejadi-jadinya.


ADEGAN 2


(Suasana sekitar berubah. Seperti ada guncangan dahsyat sebentar, lalu tenang kembali. SHINTA mematung. Sementara RAHWANA tampak kebingungan. Lalu terdengar suara dari SHINTA tapi dengan warna suara yang berbeda.)

SHINTA: 
Mendekatlah kemari, Rahwana. (RAHWANA tampak kebingungan mencari sumber suara. Lalu mengarahkan pandangan ke arah SHINTA. RAHWANA masih ragu) Iya, kemari!

Rahwana mendekat.

SHINTA: 
Tataplah wajahku baik-baik. (RAHWANA menatap wajah SHINTA dalam-dalam) Kau tahu siapa aku kan, Rahwana?

RAHWANA: (menjatuhkan tubuhnya ke lantai untuk menyembah) 
Aduh, ampuni hamba Guru Sejati..Mata hati hamba ternyata masih buta.

SHINTA: 
Bangkitlah, dan dengarkan baik-baik apa yang akan aku katakan ini.

RAHWANA bangkit dan mendengarkan dengan seksama.

SHINTA: 
Rahwana, semua yang dikatakan Shinta tadi adalah benar adanya. Ini memang takdir yang harus kalian jalani. Ini baru batu awal ujian yang harus kalian tempuhi untuk menjadi manusia sejati, sejati-jatinya manusia. Manusia yang bukan sekedar perwujudan darah dan daging, tapi sebagai ciptaan Sang Mahatunggal yang kelak juga harus kembali kepada Sang Hyang Tunggal.

RAHWANA: 
Hamba mengerti, Guru.

SHINTA: 
Nah, Rahwana. Kenapa kalian harus diuji? Barangkali karena perasaan duniawi yang mulai mengikat kalian. Cinta yang merebak dalam hati kalian telah menjelma menjadi sesuatu yang melebihi kecintaan kepada Hyang Tunggal. Dia ingin memperingatkan kalian untuk tidak menganggap segala yang ada di dunia ini sebagai sesuatu yang kekal. Dia tidak ingin kalian lupa pada tujuan sejati kalian. Ingatlah, rasa ingin memiliki dunia ini hanya akan mengantarkan kalian pada kesengsaraan. Kau boleh mencari dan memiliki apa yang ada di dunia ini, tapi jangan sekali-kali kau mengikatkan hatimu padanya.

RAHWANA: 
Hamba mengerti, Guru. Hamba telah melakukan kelailaian.

SHINTA: 
Bagus, kalau kau mengerti. Ada satu hal lagi yang ingin aku sampaikan. Rahwana, peperangan tidak akan terelakkan lagi. Sebagai manusia, berusahalah untuk mencegah perang ini, meski pada akhirnya bala tentara Rama akan menyerang negeri Alengka apapun yang jadi penyebabnya. Kau tidak perlu merasa bersalah. Ini memang peringatan bagi bangsamu yang lupa akan kemakmuran yang sudah dilimpahkan Sang Mahamurah. Banyak diantara rakyat dan pejabatmu yang melakukan berbagai tindak adharma. Mereka saling merampas dan mencuri, menghardik dan mencaci, memakan benda-benda yang bukan hak mereka atau yang dilarang oleh Sang Pencipta. Ini memang harus diterima bangsamu. Ini akan menjadi pertanda bagi siapa saja yang melupakan kasihNya, mengabaikan nikmatNya dan menantang kuasaNya.Nah, bersamadilah untuk mensucikan dirimu sambil menunggu Rama mengantarmu ke haribaan Sang Sejati. Selain itu Anakku, fitnah akan tersebar tentangmu setelah ini. Bersabarlah. Orang-orang akan memfitnahmu sebagai raja yang lalim dan manusia tak beradab. Mereka akan menjulukimu sebagai Dasamuka yang memiliki sepuluh macam keinginan. Sekali lagi, bersabarlah. Itu memang sudah menjadi konsekuensimu karena menginginkan Shinta. Jika kau berhasil mengalahkan keinginanmu terhadap Shinta dan melawan segala hasratmu untuk menyalahkan takdir, engkau akan mencapai derajat yang amat tinggi di Mata Hyang Widi, Anakku.

RAHWANA: 
Hamba mengerti, terima kasih Guru. Hamba akan laksanakan segala petunjuk Guru.

(Terjadi keguncangan lagi. SHINTA seperti terbangun dari tidur sementara RAHWANA tampak tenang.)


ADEGAN 3

SHINTA: (Setelah kembali kesadarannya sebagai Shinta) 
Kanda Rahwana? Kanda tidak apa-apa.

RAHWANA: 
Tidak, Dinda.

Keduanya bangkit.

RAHWANA: 
Sebentar, Dinda. Ada yang mengintip kita. (Tidak jelas ke arah mana) Keluarlah, Hanuman. Aku tahu kau mengintip kami sedari tadi.

Tiba-tiba muncul HANUMAN

HANUMAN: (Bersimpuh untuk menyembah) 
Sembah sujud hamba, Paduka Raja!

RAHWANA: (Tertawa kecil) 
Ayolah, tidak usah begitu. Bukankah kita sudah sama-sama tahu. Tidak usah memanggilku dengan sebutan "Paduka Raja". Yang ada di depanmu ini Rahwana, seorang manusia yang sedang bergulat mencari kesejatian. Jangan pandang mahkota yang kukenakan, duhai Kera Putih.

HANUMAN: 
Baiklah, Rahwana.

RAHWANA: 
Kau tahu semuanya kan, Hanuman?

HANUMAN: (Sedikit terkejut) 
Ya. Tapi bagaimana kau tahu kalau aku mengintip, padahal….

RAHWANA: 
Ha…ha…ha. Hanuman, aku tahu kau memiliki kesaktian yang luar biasa. Mata biasa tidak akan bisa menangkap kehadiranmu. Ketahuilah Hanuman, sebenarnya aku tidak hanya mengetahui kehadiranmu, tapi juga apa yang ada di pikiranmu.

HANUMAN: 
Maafkan aku Rahwana, jika aku meremehkan kemampuanmu. Aku tahu kau juga seorang raja yang sakti pilih tanding. Tapi mengapa kau biarkan saja aku, kalau engkau memang tahu?

RAHWANA: 
Aku ingin engkau menjadi saksi apa yang sebenarnya terjadi. Aku ingin engkau menjadi saksi cinta sejatiku kepada Shinta, meski orang akan mengira bahwa kecintaanku tak lebih karena nafsu belaka. Aku ingin kau tahu, bahwa akhirnya aku mau melepaskan segala ikatan dengan dunia ini. (RAHWANA menghela napas dalam-dalam) Dengar Hanuman, seandainya aku mau menggunakan seluruh kekuatanku, aku mampu menghancurkan Rama beserta seluruh bala tentaranya. Tapi tidak Hanuman, aku tak mau menjadi budak nafsu pribadiku.

HANUMAN: 
Aku mengerti, Rahwana.

RAHWANA: 
Hanuman!

HANUMAN: 
Iya, Rahwana.

RAHWANA: 
Aku minta jangan kau sebarkan apa yang sudah kita bicarakan ini. Mereka tidak akan mengerti. Dan lagi, itu akan merusak tatanan takdir yang harusnya aku terima dengan tulus.

HANUMAN: 
Aku mengerti.

RAHWANA: 
Berjanjilah, Hanuman.

HANUMAN: 
Aku berjanji.

RAHWANA: 
Sebaiknya kau segera pergi dari sini. Kumbakarna sudah menunggu kematiannya lewat tanganmu. Dia akan sangat bahagia bisa mati di tanganmu.

HANUMAN 
Terlihat mulai menitikkan air mata demikian pula dengan SHINTA.

RAHWANA: 
Jangan, Hanuman. Jangan bersedih atas takdir yang akan aku jalani. Kematian bukanlah akhir, ia merupakan awal kebahagiaanku bersama Sang Sejati. Pergilah cepat. Jangan sampai ada orang yang melihat dan mendengar percakapan kita ini.

HANUMAN: 
Baiklah, aku pergi. (Kepada SHINTA) Hamba pergi, Tuan Puteri. Percayalah, saya akan selalu berada di belakang Tuan Puteri.

SHINTA: (Dengan sesenggukan) 
Pergilah, Kera Kesatria. Jangan khawatirkan aku.

HANUMAN keluar.


ADEGAN 4

RAHWANA: (Kepada SHINTA) 
Kenapa menangis, Shinta? Bukankah kau yang mengingatkanku untuk bersabar?

SHINTA: 
Aku tidak bisa menahan kerapuhanku sebagai manusia, Kakanda.

RAHWANA: 
Kalau begitu, doakan saja aku supaya termasuk orang-orang yang sabar.

SHINTA: 
Tentu saja, Kanda Rahwana.

RAHWANA: 
Aku juga akan selalu mendoakanmu, karena yang akan kau alami sesudah ini bukannya lebih ringan dariku. Kesucianmu akan diragukan oleh Rama.

SHINTA: 
Aku sudah siap. Bahkan dibakar di atas api suci pun aku tak akan mengelak.

RAHWANA: 
Sekarang tinggalkan aku, Shinta. Beristirahatlah kau di kamar istana yang sudah aku siapkan.Aku ingin samadi. Tapi sebelum itu panggilkan Wibisana sebelum dia pergi menemui Rama. Ada pesan yang ingin kusampaikan.

SHINTA keluar.


ADEGAN 5

RAHWANA: 
Datanglah, duhai Sang Maut. Telah lama kunanti diriMu. Biarlah dunia ini menjadi milik mereka yang terpedaya. Biarlah kesejatian cintaku lebur ke haribaan Sang Maha Kasih.

Hening sesaat. RAHWANA mengambil sikap duduk bersila. WIBISANA masuk.

WIBISANA: 
Kakang memanggilku.

RAHWANA: 
Oh, Wibisana. Mendekatlah kemari.

WIBISANA mendekat.

WIBISANA: 
Apakah ini soal keberpihakanku kepada Rama, Kanda Prabu?

RAHWANA: (Tersenyum) 
Bukan. Aku sangat menghargai pilihanmu berperang di pihak Rama. Cuma, sebelum kamu berangkat aku ingin menitipkan pesan.

WIBISANA: 
Pesan? Kepada Rama?

RAHWANA: 
Ya. Katakan kepada Rama, aku akan memberikan Shinta dengan suka rela jika dia memintanya kepadaku dengan baik-baik.

WIBISANA: 
Aku tidak yakin Rama akan mempercayai isi pesan Kanda.

RAHWANA: 
Apapun jawabannya. Sampaikan saja, pesanku.

WIBISANA: 
Baik, Kanda. (PAUSE) Dengar Kanda, bagaimanapun aku tetap menyayangi Kanda Rahwana. Tapi banyak pandangan kita yang berbeda. Di samping itu, soalnya adalah bahwa Rama adalah guruku.

RAHWANA: 
Aku mengerti, Adhi. Sudahlah, jangan sentimentil begitu. Pergilah kau layaknya seorang kesatria. Jangan kecewakan Kakandamu sebagai kesatria.

WIBISANA: 
Baiklah Kanda Prabu, saya pergi.

WIBISANA pergi. RAHWANA memulai samadinya.

Lampu padam/Layar Turun



BABAK DUA

ADEGAN 1


Siang hari keesokan harinya. Rahwana masih tenggelam dalam samadinya. Sementara pertempuran sengit tengah berlangsung. Penggambaran pertempuran bisa lewat siluet di layar. Terserah kreatifitas sutradara. Sesudah penggambaran pertempuran, ada dua orang mentri kepercayaan menghadap Rahwana yang sedang samadi, dan membangunkan samadinya.

MENTRI 1: 
Maafkan hamba, jika mengganggu Samadi, Paduka.

RAHWANA: 
Silahkan, Paman.

MENTRI 2: 
Ada berita buruk yang hendak kami sampaikan, Gusti.

RAHWANA: (Menarik napas) 
Hm…ini tentang Kumbakarna, kan?

MENTRI 1: 
Betul, Gusti.

RAHWANA: 
Aku sudah tahu.

Kedua mentri berpandangan dengan perasaan heran.

RAHWANA: 
Aku tahu, Kumbakarna dipotong kepalanya oleh Hanuman. Lalu kepala itu ditanam di atas bukit. (Tersenyum) Bukan Paman. Ini bukan berita buruk. Ini Sudah lama dinantikan Kumbakarna. Bahkan sebelum berangkat ke medan laga, dia meminta kalungan bunga telasih yang menjadi simbol bahwa dia ingin melepaskan ikatan dari keduniawian.

MENTRI 1 & 2: 
Hamba mengerti, Gusti.

RAHWANA: 
Ketahuilah Paman-Pamanku yang setia. Kekalahan Alengka ini memang sudah suatu keniscayaan. Darah yang mengalir di sungai-sungai adalah batu peringatan bagi siapa saja yang terlalu mengagungkan kemakmuran dan kejayaan duniawi. Maka dari itu Paman, jangan sekali-kali mengikatkan diri pada dunia. Jangan sekali-kali terbujuk oleh kesementaraan. Kalian boleh memiliki perhiasaan dan kekayaan duniawi, tapi hendaklah ingat bahwa semua itu hanyalah mimpi. Ingat itu baik-baik.

MENTRI 1 & 2: 
Hamba, Gusti.

RAHWANA: Nah, sekarang pergilah kalian. Tidak usah mengkhawatirkan aku. Pergi dan selamatkan diri dan keluarga kalian.

MENTRI 1 & 2: 
Tapi Gusti…

RAHWANA: 
Sudahlah. Pergilah kalian. Aku tak butuh perlindungan. Saatku memang sudah tiba. Aku sudah melihat para bidadari menyiapkan permadani di Nirwanaloka. Pergilah, sebelum kalian dicincang oleh bala tentara Rama Wijaya.

MENTRI 1 & 2: 
Kami akan selalu mematuhi perintah, Paduka.

Tiba-tiba masuk seorang PRAJURITt dengan tergopoh-gopoh.

PRAJURIT: 
Sembah sujud hamba, Paduka.

RAHWANA: 
Ada apa, Prajurit?

PRAJURIT: 
Pasukan Rama Wijaya mulai menggempur pintu gerbang, Paduka. Sebentar lagi mereka akan memasuki halaman kerajaan.

RAHWANA: 
Berjuanglah terus kalian dengan gagah berani. Jangan sisakan satu prajurit pun di Istana. Aku tidak membutuhkan perlindungan kalian. Tunjukkan pada Rama dan dunia bahwa bangsa Alengka bukan bangsa yang kerdil dan mau saja tunduk di bawah kaki Rama Wijaya. Pergi dan sampaikan pesanku ini kepada seluruh prajurit.

PRAJURIT: 
Baik Gusti, hamba mohon diri.

PRAJURIT 
keluar.

RAHWANA: 
Nah, mentri-mentri yang setia. Pergilah kalian. Kejayaan Alengka sudah berakhir. Pergi dan ingat-ingat selalu apa yang telah aku pesankan kepada kalian.

MENTRI 1: 
Baik, Gusti. Kami mohon diri.

KEDUA MENTRI keluar.


ADEGAN 2

RAHWANA: Oh keindahan yang menipu, sebentar lagi aku akan segera meninggalkanmu. Meninggalkanmu untuk bertemu dengan keindahan sejati. Oh, istana yang dibangun oleh keringat berjuta manusia. Leburlah kau menjadi batu-batu. Jadilah kalian kenangan bahwa pernah ada sebuah bangsa yang berjaya, tapi harus menemui kehancurannya dikarenakan kesombongan dan ketamakan manusia. Oh Rama, datanglah Mautku. Aku siap menyambutmu.

Masuk SHINTA


SHINTA: 
Kanda Rahwana.

RAHWANA: 
Dinda Shinta, kenapa kau kemari? Bukankah sebaiknya kau beristirahat?

SHINTA: 
Aku tidak bisa memejamkan mataku. Aku tidak kuasa membayangkan kengerian ini. Aku tidak pernah membayangkan bahwa pada akhirnya kita harus berpisah. Bagaimanapun juga aku tetap manusia biasa, Kakang.

RAHWANA: 
Oh Dewi Kesucian! Aku juga bisa merasakan apa yang menjalar di aliran darahmu. Di dalam darahku juga mengalir kepedihan yang sama. Tapi dengarlah wahai lambang kesucian yang akan diabadikan manusia sepanjang masa! Pada hakikatnya kita tidak pernah berpisah. Bukankah kita berasal dari nafas yang sama? Bukanlah badan ini hanya perwujudan semu belaka? Bukankah kita ini hanyalah anak-anak sungai yang pada akhirnya mengalir di samudra yang sama? Jika semua orang mampu memahami ini, niscaya tidak akan ada kedukaan dalam batinnya. Tidak akan ada tetes airmata yang sanggup melunturkan keteguhannya.

SHINTA: 
Tapi…kenapa, kenapa kita harus menanggung semua fitnah ini? Mengapa harus kita harus menjadi sasaran panah-panah kecurigaan hati manusia?

RAHWANA: 
Dengarlah wahai Shinta Suci. Tidak ada duka atau bahagia. Semua itu hanyalah batu-batu ujian untuk menguji kesejatian cinta kita kepada Sang Mahasuci.

SHINTA: 
Syukurlah, kalau Kanda sudah memahami semuanya!

RAHWANA: 
Sang Penguasa Jagat telah menyampaikan pemahaman itu lewat dirimu, Adinda. Maka, hapuslah airmatamu dan hadapilah Sang Nasib bagaikan menyambut kicauan burung di pagi hari.


ADEGAN 3


HANUMAN datang dengan tergesa. RAHWANA dan SHINTA terkejut.

HANUMAN: 
Rahwana.

RAHWANA: 
Hanuman? Bukankah kau seharusnya ada di medan laga?

HANUMAN: 
Aku ingin memberi penghormatan terakhir padamu. Bala tentara Ayodya beserta pasukan kera sudah semakin dekat dengan istana.

RAHWANA: 
Terima kasih, Hanuman. Aku sudah siap menyambut mautku. (PAUSE) Dengar Hanuman, aku ingin mengungkapkan sebuah rahasia. Hanya kita bertiga yang boleh mengetahuinya.

HANUMAN: 
Apa itu Rahwana?

RAHWANA: 
Kau tahu, aku tidak mungkin dibunuh dengan senjata apapun. Maka dari itu, katakan pada bala tentara Ayodya msupun pasukan wanara dari Gua Kiskenda, aku hanya mau bertarung dengan Rama. Hanya dengan Rama. Suruh saja mundur Anila, Anggada bahkan Leksmana sekalipun.

Hening sesaat

RAHWANA: 
Aku akan melayani Rama untuk bertarung. Bila aku sudah melihat Sang Yamadipati, Sang Maut Penjemputku, maka aku akan melakukan tyaga. Aku akan matiraga. Akan kulepaskan sendiri nyawaku dan menyerahkannya pada Si Pencabut Nyawa. Maka sampaikanlah kepada Rama, agar dia melepaskan senjata pamungkas Bhramastra ketika aku mengambil sikap samadi yang tak lain sebenarnya adalah sikap tyaga. Inilah satu-satunya pilihan untuk menjaga kehormatannya di mata bangsa-bangsa seluruh jagat raya ini.

HANUMAN: 
Baik Rahwana, aku akan berusaha menyampaikannya dengan tanpa membuka rahasia ini.

RAHWANA: 
Nah Hanuman, jangan terlalu lama di sini. Pergilah wahai kesatria sakti mandraguna yang menjadi saksi segala jaman. Jangan lupa kau bawa serta Shinta sebagai lambang baktimu pada Rama dan Negeri Ayodya.

HANUMAN: 
Baiklah Rahwana, tampaknya kita memang harus berpisah. Meski aku tak pernah membayangkan kita akan berpisah dengan cara seperti ini. (Kepada SHINTA) Mari ikut hamba, Baginda Puteri.

SHINTA: 
Selamat tinggal Kanda Rahwana! Semoga kita akan berjumpa lagi.

RAHWANA: 
Kita pasti akan bertemu lagi. Pergilah kalian secepatnya, agar lakon ini akan berjalan sebagaimana mestinya. Selanjutnya, biar takdir yang menjalankan tugasnya.

RAHWANA dan SHINTA pergi.


ADEGAN 4

(Adegan pertempuran. Bisa hanya bunyi atau visual. Sementara RAHWANA mulai menyiapkan zirah perangnya. Pasukan Ayodya semakin mendekat.)


RAMA : (Off stage) 
Keluarlah Rahwana. Aku menantangmu bertempur!

RAHWANA: 
Aku tidak bersembunyi. Aku menunggumu di sini.

RAMA dan LEKSMANA masuk.

RAHWANA: 
Selamat datang Raja Ayodya.Selamat datang Leskmana Mari segera bertarung!

RAMA seperti hendak mengatakan sesuatu.

RAHWANA: 
Tidak usah mengatakan apa-apa Rama. Aku sudah tahu segala yang ingin kau katakan. Tidak perlu menceramahiku soal dharma ataupun Astha Bhrata. Aku sudah tahu semuanya.

LEKSMANA: 
Biar aku saja yang menghadapinya, Kakang!

RAMA: 
Aku saja Adhi. Ini urusan Kakang.

RAHWANA: 
Ha…ha…ha…Kalian boleh maju bersama-sama. Aku tidak gentar.Ha…ha…ha! Jadi kau bertempur hanya untuk seorang wanita, Rama. Kau korbankan ribuan orang hanya untuk itu. Tapi tak apa. Ayo kita mulai!

RAMA dan RAHWANA mulai bertarung. Mereka mengeluarkan berbagai kesaktiannya. Begitu melihat RAMA terdesak, LEKSMANA ikut membantu. Terjadi pertarungan sengit sampai akhirnya RAHWANA mengambil posisi samadi dan RAMA mengeluarkan senjata pamungkas. RAHWANA gugur. Semuanya berkumpul, HANUMAN, WIBISANA, SHINTA masuk.

RAMA: (Kepada dua orang Prajuritnya) 
Kuburlah dia sebagai penghormatan dan peringatan.

Dua orang PRAJURIT menutup tubuh RAHWANA dengan kain lalu membawanya keluar panggung. Tapi tak berapa lama mereka kembali.

RAMA: 
Kenapa kalian kembali?

PRAJURIT 1: 
Tubuh Rahwana hilang Gusti!

RAMA: 
Apa? (Semua orang terkejut) Kalau begitu… HANUMAN, cari batu besar dan tanamkan di sini!

HANUMAN: 
Baik Gusti Prabu.

HANUMAN segera pergi mencari batu besar dan meletakkannya di tengah panggung.

RAMA: 
Dengar semua! Kalau ada yang bertanya tentang mayat Rahwana! Katakan tubuhnya sudah hancur dan diperabukan di sini! Batu ini adalah tanda peringatannya!


TAMAT

Malang, 28-29 Juni 2003